27.3.10

Saksi: Tersangka Ditembak dari Jarak Dekat

Di lantai berbahan semen, tampak bekas tembakan peluru sebanyak 5 titik. Jarak masing-masinga hanya beberapa centimeter

Hidayatullah.com--Salah satu saksi yang sempat menyaksikan ditembaknya tersangka terorisme di Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang, Selasa (9/3) lalu, mengatakan, tersangka ditembak oleh Detasemen 88 Antiteror (Densus) di bagian dada.

Rosiana, orang yang menyaksikan aksi tersebut, memaparkan bahwa korban terkapar persis berada di pelataran rumahnya dan tembakan dilakukan dalam jarak sangat dekat.

"Dekat, di tembak di dada. Orangnya kelihatan masih muda, “ katanya, saat ditemui di rumahnya.

Saat kejadian tersebut, Rosiana mengaku sedang berada di rumahnya. Sedangkan satu tersangka yang sudah terkapar tak berdaya (yang sebelumnya diduga perempuan karena memakai cadar), berada persis di teras rumahnya yang berlantai semen. Sedangkan yang diduga Dulmatin, tergeletak di pinggir jalan dengan motornya.

Ketika Hidayatullah.com mencoba membuka penutup bekas pantulan peluru yang berada di rumah Rosiana tersebut, terlihat korban ditembak dalam jarak yang sangat dekat.

"Itu (lantai semen, red) yang ditembus peluru. Kemarin darahnya tercecer di sini. saya sempat panik," cerita Rosiana, sambil menunjuk 5 titik lubang hasil tembakan Densus 88 yang menembus tubuh tersangka tersebut.

Menurut cerita Rosiana, polisi yang mengeksekusi tersangka ada 2 orang. Tersangka langsung tewas di tempat. [ain/www.hidayatullah.com]

Warga Diminta Tak Tersulut Pencitraan Media

Media dalam pemberitaannya kerap mencitrakan simbol agama, seperti pengajian, jenggot, cadar, jilbab, dengan aksi terorisme. Masyarakat meminta media adil dan berimbang

Hidayatullah.com--Ketua RT 02/05 Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang, Hermawan, yang letak rumahnya tidak jauh dari TKP terbunuhnya tersangka “teroris” oleh Densus-88, resah dengan pemberitaan media massa yang dinilainya kurang berimbang.

Kepada hidayatullah.com di lokasi, ia mengaku pernah melihat pengajian yang kerap digelar di rumah Fauzi. Tapi menurut Hermawan, itu pengajian biasa, dan hal itu tidak bisa langsung dikatakan sebagai gerakan penyelundupan gerakan terorisme, meski dia juga tidak menampik jika kemungkinan itu tetap ada.

"Saya melihat pengajian biasa. Pada waktu sholat mereka juga ikut berjamaah di masjid kompleks. Mereka menegur dan menyapa, tidak ada yang mencurigakan," kata Hermawan.

Hermawan mengimbau warganya untuk tidak ikut tersulut pola pikirnya dengan stigmatisasi pada pemberitaan di media yang kerap mengaitkan simbol agama Islam, seperti pengajian, jilbab, sorban, cadar, jenggot, dan semacamnya, dengan gerakan terorisme.

"Seperti jilbab, kan keharusan untuk perempuan. Jenggot, sunah untuk laki-laki. Saya sendiri kalau ada tumbuh jenggot, saya pelihara. Jadi harus tetap berimbang menilai. Islam tidak mengajarkan kekerasan," tukas Hermawan.

Selain itu, Hermawan juga meminta kepada warga agar tidak asal-asalan memilih tempat belajar agama dan mengaji. Ia meminta agar masyarakat tidak mudah percaya kepada orang yang tidak dikenal dan tidak diketahui latar belakangnya.

"Ngajilah kepada guru yang sudah dikenal baik," ujarnya. [ain/www.hidayatullah.com]

Siapa yang Teroris?


Semula stigma teroris itu disandangkan kepada kelompok MERAH, kelompok Marxis, kelompok kiri yang meresahkan kapitalis. Kini stigma teroris disandangkan kepada kelompok Islam yang meresahkan kapitalis.

Organisasi teroris ekstrim kiri Italia, Brigade MERAH (Brigate Rossa) diresmikan berdirinya pada 1970. Pendirinya Renato Curcio dengan membentuk kelompok diskusi berhaluan kiri. Kelompok teroris sayap kiri Jerman Barat, Sempalan Tentara MERAH (Rote Armen Fraktion), Baader-Meinhof berdiri pada 1968. Pemimpinnya Andrea Baader (1943-1977) dan Ulrike Meinhof (1934-19986).

Organisasi Pembebasan Palestina (Munazzarat at-Tahrir Filistiniyah), PLO berdiri pada 1964, bertujuan menciptakan negara Palestina yang sekuler dan demokrasi, dengan usaha menyingkirkan Israel. Tentara MERAH Jepang (Sekigunbu) dibentuk pada 21 Oktober 1961 oleh mahasiswa Universitas Kyoto dan Universitas Meiji. Dipimpin oleh Tokaya Shiomi dan Fusako Shigenobu.

Teroris legendaries dari Venezuela, Illich Ramirez Sanchez yang popular disebut Carlos adalah orang kaya. Carlos pernah kuliah di Moskwa. Ia meninggalkan kemewahan, mati-matian berkiprah dalam dunia terorisme. Begitu juga latar belakang anggota kelompok Baader-Meinhof di Jerman Barat, Brigate Rose di Italia, atau Sekigun di Jepang.

Para analis seperti Anthony Storr menyatakan, pelaku teror umumnya penderita psikopat agresif, yang kehilangan nurani, kejam dan sadistis. Kelompok psikopat agressif bisa melakukan teror sekedar untuk terror, terror qua terror, menciptakan sensasi dengan kekejaman. Kaum anarkis, nilistis, dan revolusisoner melakukan teror untuk mengubah tatanan dunia yang penuh ketimpangan dan ketidakadilan.

Penganjur utamanya adalah tokoh Rusia dari abad ke-19, Mikhail Bakunin. Mereka ingin menghancurkan dunia yang ada dan menggantinya dengan tatanan baru yang penuh keadilan (Kompas, Sabtu, 18 Juni 2009, hal 3, “Teror Puncak Kekerasan”).

Filosof Barat, Joseph Pierre Proudhon mencetuskan revolusi kiri dengan kredonya “Destruam et aedificabo. Hancurkan lalu bangun” (SABILI, No.01, Th.X, 25 Juli 2002, hal 35, “Saatnya Revolusi Islam”).

Menurut Tan Malaka, revolusi itu hanya bisa timbul pada saat krisis, pada saat adanya pertentangan, pertempuran, pergolakan antara Orde Yang-Lama yang tak sanggup lagi mengatur, dan Orde Yang-Baru, yang sudah sanggup berkorban sebesar-besarnya (“Dari Penjara ke Penjara”, III, 1948:34).

Pelaku jihad (be a good Moslem or die as syuhada) dipandang sebagai orang-orang bodoh yang sudah dicuci otaknya, mengalami brainwashing, sehingga mudah percaya akan iming-iming bidadari di surga (Simak pandangan sinis dari orientalis Amerika Serikat, Washington Irving, yang sangat benci terhadap Islam, yang dijadikan acuan, dalam “Sejarah Hidup Muhammad” Muhammad Husein Haekal, terbitan Tintamas, Jakarta, 1984:693).

Pelaku terror itu sekuler, sangat kejam dan berani, sekaligus juga pengecut. Pelaku teror tak kenal Tuhan, akhirat dan moral. Pelaku terror takut mati. Pelaku jihad syahid) kenal Allah, akhirat dan akhlaq Pelaku jihad (syahid) siap mati. Pembunuh ada yang ahli surga dan ada pula yang ahli neraka. Begitu pula korban pembunuhan ada yang ahli surga dan ada pula yang ahli neraka.

Ada yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka. “Jika ada dua orang muslim berhadapan dengan pedang masing-masing, maka yang membunuh dan yang dibunuh keduanya dalam neraka”. Sesungguhnya yang terbunuh juga berniat akan membunuh lawannya (HR Bukhari, Muslim, dalam “al-Lukluk wal Marjan” Muhammad Fuad Abdul Baqy, hadis no.1238, “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, Pasal “Niat Iklas”.

Ada yang membunuh dan yang terbunuh masuk surga. “Allah tertawa pada kedua oang, yang satu membunuh yang lain dan keduanya masuk surga. Yang pertama berperang fi sabilillah lalu terbunuh, kemudian yang membunuh diberi tobat oleh Allah, lalu berjihad, sehingga terbunuh mati syahid” (HR Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah, idem, hadis no.1834, idem).

Pertumpahan darah merupakan fenomena (alam dan sosial) yang diprogramkan Allah sejak awal (simak QS 2:30). “Allah telah mentakdirkan dan apa yang dikehendakiNya” (HR Muslim dari Abi Hurairah, dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi). “Allah menghendaki, tak ada kekuatan selain dengan Allah” (QS 18:39).

Mayoritas teroris yang tetangkap polisi berasal dari Jawa, “besar dan matang” dalam lingkungan Jawa. Mereka akan ngamuk jika terus-menerus didesak dan diinjak. Ini salah satu karakter dari Werkuduro (Bima), Pandawa Lima.

Mereka sudah tak punya pilihan "ngalah dan ngalih". Satu-satunya pilihan, mereka harus "ngamuk", perang habis-habisan melawan AS, dengan melakukan pengeboman bunuh diri (suicide bombing). Bagi mereka, penjajah Rusia dan Amerika adalah orang kafir yang harus diperangi.

Penjajah Amerika sangat kuat dan punya "outlet-outlet ekonomi dan budaya". Outlet-outlet ini harus dihancurkan. Bagi mereka, Islam itu harus tegak dengan label Islam lengkap dengan atributnya (H Bambang Pranowo : “Orang Jawa Jadi Teroris”, Seputar Indonesia, Sabtu, 23 Juni 2007, hal 6).

Hewan, sekecil apapun, bila kehidupannya terancam, akan melakukan tindakan perlawanan apa pun yang bisa ia lakukan. Manusia pun, bila kehidupannya terancam akan melakukan tindakan perlawanan apa pun yang bisa ia lakukan.

Mereka-mereka yang diklasifikasikan, dikategorikan sebagai teroris, sebagai pelaku teror bom, karena diteror, diintimidasi, diuber-uber, dikejar-kejar terus menerus, akan melakukan tindakan perlawanan apa pun yang bisa ia lakukan. Teror bom, bom bunuh diri hanyalah salah satu aksi perlawanan yang ia lakukan, karena kehidupannya sudah sangat kritis, sangat terancam kelangsungannya.

Keras lawan keras, teror kontra teror tidak akan menyelesaikan masalah. Kutuk-mengutuk pun tak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan memperparah keadaan. Kekerasan melahirkan kekerasan (Yudi Latif : “Terorisme : Anak kandung Kekerasan”, Koran Tempo, Sabtu,, 12 Agustus 2003, hal 6).

Teror bom bisa diamati, dibaca dengan menggunakan kacamata, disiplin ilmu yang dimiliki untuk memahami sikon masyaraat. Dilihat dengan kacamata psikologi politik, maka teror bom membawa pesan, bahwa masyarakat sedang dalam kondisi sakit. Dalam masyarakat subur ketidakadilan, ketimpangan, kesenjangan dalam segala sektor kehidupan (IPOLEKSOSBUD) (Simak Y F La Kahja : “Membaca Pesan Politis Teror Bom Bali II”, Kompas, Sabtu, 8 Oktober 2005, hal 38).

Jika ingin menyelesaikan aksi terror cari dulu akar masalahnya. Setelah diketahui apa akar masalahnya baru dicarikan solusi penanganannya. Kalau akar masalah teroris adalah karena idiologi maka selesaikanlah dengan idiologi. Kalau masalahnya karena ketidakadilan maka selesaikanlah soal ketidakadilan.

Kalau masalahnya soal kemiskinan maka selesaikanlah dengan soal kemiskinan. Akar masaah justru karena umat Islam telah diperlakukan tidak adil dimana-mana (Imran : “Terorisme dan Akar Masalah”, Buletin Jum’at Asy-Syams, Bekasi, No.9, 28 Agustus 2009, hal 3).

Model pencegahan teroris menurut mantan Komandan Densus 88, Suryadarma Salim adalah dengan memperlakukan mereka sebagai warganegara (Tayangan TvOne, Rabu, 22 Juli 2009, 0700-0800, 2000-2100). Diperlukan penegakan keadilan dan HAM. Memberikan mereka pekerjaan, kata AM Hendrprioyono, mantan intelijen.

Kombes Petrus Reinhard Golose mengemukakan bahwa untuk mengantisipasi teroris dengan melakukan Radikalisasi Terorisme secara holisstik (menyeluruh), inter-disiplin (lintas sektoral), bukan secara parsial (setengah-setengah) TvOne, Jum’at, 21 Agustus 2009, 0630-0700).

Menurut para purnawirawan TNI AD, masalah penyelesaian terorisme haruslah secara lintas sektoral (Kilas Berita Liputan 6 SCTV, Kamis, 6 Agustus 2009, 12.00).

Dulu diisukan komunis merupakan bahaya laten. Kini diisukan Islam Wahabi merupakan biang teroris (Simak pernyataan AM Hendropriyono, dalam wawancara dengan Karni Ilyas d TvOne, pada Rabu, malam Keis, 29 Juli 2009).

Karena mereka yang dicap sebagai teroris itu kebanyakan merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki Solo, maka kini kembali giliran Ustadz Abu Bakar Baasyir dijadikan sasaran tembak, di samping Noerdin M Top.

Para ahli dan praktisi ilmu sosial seyogianya urun rembuk menemukan solusi bagaimana caranya agar mereka-mereka yang dituding sebagai dalang teroris tidak lagi terancam kehidupannya, dan segera meninggalkan aktivitasnya yang berhubungan dengan bom-membom.

Para ulama, kiai, ajengan, ustadz, da’i, muballigh secara berjama’ah mengkaji Qur:an dan Hadits, menemukan solusi Islam bagaimana caranya agar mereka-mereka yang dituding sebagai dalang teroris tidak terancam kehidupannya dan segera meninggalkan aktivitasnya yang berhubungan dengan bom-membom.

Seyogianya MUI pro aktif menjelaskan secara rinci tentang masalah jihad, baik secara lisan maupun secara tulisan. Menyusun buku referensi, maraji’, rujukan tentang jihad. Dalam konteks masa kini, sebenarnya siapa saja yang bisa dikategorikan, diklassifikasikan sebagai musuh, lawan Islam dan kaum Muslimin. Dan bagaimana pula seharusnya sikap umat Islam dalam menghadapi musuh, lawan tersebut. Serta bagaimana pula menyikapi pandangan sesama Islam yang berbeda.

Apa yang dinamakan teror oleh George Bush, Tony Blair, John Howard dan pendukungnya adalah aksi kontra teror, aksi menantang, melawan anti terorisme. Aksi anti terorisme ini dilakukan oleh pendukung Palestina Merdeka.

Sedangkan aksi teror dlakukan oleh pendukung Zionisme Israel.Selama tindakan brutal dilakukan oleh Zionis Israel dan pendukngnya terhadap Palestina Merdeka, maka aksi anti terorisme akan tetap dilakukan oleh pendukung Palestina Merdeka.

Aksi anti terror hanya dapat dihentikan, bilamana Amerika Serikat dan sekutunya berhenti mendukung kebrutalan Zionis Israel, tak membiarkan Zionis Israel berbuat semena-mena terhadap Palestina Merdeka.

Aksi anti teror tak dapat dibasmi dengan dengan menyingkirkan Taliban, Al-Qaeda, Osama bin Laden, Hambali, Imam Samudera, Saddam Husein, dan lain-lain. Amerika Serikat dan sekutunya memandang bahwa dengan melenyapkan mereka itu persoalan selesai. Ternyata semakin banyak aksi anti teror ditumpas, semakin marak aksi anti teror. (Asrir Sutanmaradjo)

Catatan:

Selama kaum Muslimin belum memiliki kekuasaan politik secara riil, apa saja yang dilakukan oleh kaum Muslimin, baik secara perorangan (infardiah) dan secara kolektif (berjama’ah) ? Dan apa juga kaum Muslimin melakukan upaya-upaya untuk memiliki kekuasaan politik secara riil ?

Teroris dan Intelijen itu, apakah bagaikan Tom dan Jerry?

10.3.10

“Berawal Error, Berakhir dalam Tauhid” (Must Read!)


Siapa sangka kesalahan komputer adalah jalan pembuka bagi banyak orang untuk memeluk Islam. Kini, ia menghadap sang khaliq dengan membawa tauhid.

Hidayatullah.com--Aminah Assilmi, mungkin sebagian orang ada yang belum mengenalnya. Ia adalah Presiden Internasional Union of Muslim Women, organisasi yang mengukir banyak prestasi di bawah kepemimpinannya. Aminah Assilmi telah meninggalkan saudara-saudaranya seiman pada 6 Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat.

Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Semuanya berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer.

Ia dulu adalah seorang gadis jemaat Southern Baptist--aliran gereja Protestan terbesar di AS, seorang feminis radikal dan jurnalis penyiaran. Ia adalah seorang gadis yang bukan biasa-biasa saja, unggul di sekolah, mendapatkan beasiswa, menjalankan usahanya sendiri, bersaing dengan para profesional dan meraih penghargaan. Semua itu diraihnya ketika masih di bangku kuliah.

Satu hari, sebuah kesalahan komputer terjadi. Siapa sangka, hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan.

Tahun 1975 untuk pertama kali komputer dipergunakan untuk proses pra-registrasi di kampusnya. Sebelum berangkat ke Oklahoma City untuk urusan bisnis, ia mendaftar ikut sebuah kelas dalam bidang terapi rekreasional. Perjalananan pulangnya tertunda, sehingga ia terlambat masuk kelas dua pekan. Mengejar pelajaran yang tertinggal bukan masalah baginya. Yang mengejutkan adalah, komputer mendatanya masuk dalam kelas teater, di mana siswa harus melakukan pertujukan di depan kelas. Ia adalah seorang gadis yang pemalu, jadi sangat panik membayangkan harus beraksi di depan teman-temannya.

Kelas tidak bisa dibatalkan, karena sudah terlambat. Membatalkan kelas juga bukan pilihan, karena sebagai penerima beasiswa nilai F berarti bahaya. Suaminya menyarankan agar Aminah menghadap dosen untuk mencari alternatif dalam kelas pertunjukan. Yakin dengan janji dosen yang akan membantunya, ia pun datang mengikuti kelas selanjutnya.

Tapi betapa terkejutnya ia, karena kelas dipenuhi dengan anak-anak Arab dan 'para penunggang unta'. Tak sanggup, ia pun pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak masuk kelas lagi. Tidak mungkin baginya untuk berada di tengah-tengah orang Arab. "Tidak mungkin saya duduk di kelas yang penuh dengan orang kafir!"

Suaminya tenang seperti biasa. Menurutnya, tuhan mereka pasti punya suatu rencana. Terlebih ada beasiswa yang jadi taruhannya.

Dua hari Aminah mengurung diri untuk berpikir, hingga akhirnya ia berkesimpulan mungkin itu adalah petunjuk dari tuhan, agar ia membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen.

Jadilah ia memiliki misi yang harus ditunaikan. Di kelas ia terus mendiskusikan ajaran Kristen dengan teman-teman Arab-nya. "Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika tidak menerima Yesus sebagai penyelamat. Mereka sangat sopan, tapi tidak pindah agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di tiang salib untuk menghapus dosa-dosa mereka."

Mereka masih juga belum berpaling, jadi diputuskannya untuk melakukan hal lain. "Saya memutuskan membaca kitab mereka, untuk menunjukkan bahwa Islam agama yang salah dan Muhammad bukan seorang nabi."

Atas permintaannya, salah seorang di antara mereka memberikan Al-Quran dan sebuah buku tentang Islam. Aminah lantas melakukan penelitian selama satu setengah tahun. Ia membaca Quran hingga tamat beserta lima belas buku Islam lainnya. Selama itu dia membuat catatan dan keberatan atas beberapa hal, yang akan digunakannya untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama yang salah.

Namun secara tidak sadar, ia perlahan berubah menjadi seseorang yang berbeda, dan suaminya memperhatikan hal itu. "Saya berubah, sedikit, tapi cukup membuat dirinya terusik. Biasanya kami pergi ke bar tiap Jumat dan Sabtu atau ke pesta. Dan saya tidak lagi mau pergi. Saya menjadi lebih pendiam dan menjauh."

Melihat perubahan yang terjadi, suaminya menyangka ia selingkuh, karena "bagi pria itulah yang membuat seorang wanita berubah." Puncaknya, ia diminta untuk meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen yang berbeda.

"Pertama kali saya mulai mempelajari Islam, saya tidak berharap menemukan sesuatu yang saya perlukan atau inginkan untuk mengubah kehidupan pribadi. Tidak saya ketahui bahwa Islam akan mengubah kehidupan saya. Tidak ada orang yang pernah bisa meyakinkan bahwa akhirnya saya akan merasa damai dan mendapat curahan kasih sayang dan kebahagiaan karena Islam."

Ia terus mempelajari Islam, sambil tetap menjadi seorang Kristen yang taat.

Satu hari ada yang mengetuk pintu. Seorang pria dengan 'pakaian tidur dan taplak meja kotak-kotak merah di kepala' berdiri hadapannya. Namanya Abdul-Aziz Al-Syeikh, ia ditemani tiga orang pria lain yang berpakaian serupa.

Ia merasa sangat terhina karena pria-pria muslim itu datang dengan mengenakan 'baju tidur'. Lebih terkejut lagi ketika Al-Syeikh bilang dirinya ingin masuk Islam. Dijawabnya bahwa ia adalah seorang wanita Kristen yang taat dan tidak berencana sama sekali untuk menjadi muslim. Meskipun demikian, ia ingin bertanya tentang beberapa hal.

Aminah mempersilakan mereka masuk. Ia bertanya dan membuat catatan. "Saya tidak akan pernah melupakan namanya," katanya, seraya menyatakan bahwa Abdul-Aziz ternyata seorang yang sangat sabar dan lemah lembut perilakunya.

"Ia sangat sabar dan mendiskusikan setiap pertanyaan dengan saya. Ia tidak pernah membuat saya merasa konyol atau menyatakan bahwa pertanyaan saya bodoh."

"Dia bilang bahwa Allah menyuruh kita untuk mencari ilmu dan bertanya adalah salah satu jalan untuk meraihnya. Ketika ia menjelaskan sesuatu, rasanya seperti menyaksikan sekuntum mawar mengembang, lembar demi lembar hingga merekah sempurna. Ketika saya katakan tidak setuju atas sesuatu beserta alasannya, ia selalu berkata bahwa saya benar dalam satu hal. Lantas ia mengajak saya mengorek lebih dalam dari berbagai perspektif sehingga benar-benar paham."

Akhirnya pada 21 Mei 1977, gadis jemaat gereja Southern Baptist ini menyatakan, "Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya."

Perjalanan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seperti halnya mualaf lain, bukanlah perkara yang mudah. Aminah kehilangan segala yang dicintainya. Ia kehilangan hampir seluruh temannya, karena dianggap 'tidak menyenangkan lagi'. Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara yang akan segera padam. Saudara perempuannya yang ahli jiwa mengira ia gila. Ayahnya yang lemah lembut mengokang senjata dan siap untuk membunuhnya.

Tak lama kemudian ia pun mengenakan hijab. Pada hari yang sama ia kehilangan pekerjaannya.

Lengkap sudah. Ia hidup tanpa ayah, ibu, saudara, teman dan pekerjaan.

Jika dulu ia hanya hidup terpisah dengan suami, kini perceraian di depan mata. Di pengadilan ia harus membuat keputusan pahit dalam hidupnya; melepaskan Islam dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya atau tetap memegang Islam dan harus meninggalkan anak-anak.

"Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya." Bertambah pedih karena dokter telah memvonisnya tidak akan lagi bisa memiliki anak akibat komplikasi yang dideritanya.

"Saya berdoa melebihi dari yang biasanya ... Saya tahu, tidak ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan Allah. Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah."

Ia memutuskan melepaskan anak-anaknya, sepasang putra-putri kecilnya.

Mungkin udara Colorado terlalu tipis untuk sebuah keadilan, atau mungkin Allah mempunyai rencana lain yang lebih besar. Aminah balik melawan, ia mengangkat kasusnya ke media. Meskipun ia tidak mendapatkan hak asuh atas anaknya kembali, tapi perubahan besar dalam hukum di Colorado terjadi. Seseorang tidak lagi bisa ditolak hak asuhnya dengan alasan agama yang dianutnya.

Sungguh Allah Maha Pengasih, ia diberikan anugerah untuk mengukir sejarah dalam Islam. Ke mana pun ia pergi, banyak orang tersentuh dengan kata-katanya yang indah dan perilaku Islami setelah dirinya memeluk Islam.

Setelah memeluk Islam, ia berubah menjadi seseorang yang berbeda, jauh lebih baik. Begitu baiknya sehingga keluarga, teman dan kerabat yang dulu memusuhinya, mulai menghargai tindak-tanduknya dan agama yang membuatnya berubah elok sedemikian rupa.

Dalam berbagai kesempatan ia mengirim kartu ucapan untuk mereka, yang ditulisi kalimat-kalimat bijak dari ayat Al-Quran atau hadist, tanpa menyebutkan sumbernya. Beberapa waktu kemudian ia pun menuai benih yang ditanam.

Orang pertama yang menerima Islam adalah neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah masuk Islam sang nenek pun meninggal dunia.

"Pada hari ia mengucapkan syahadat, seluruh dosanya diampuni, dan amal-amal baiknya tetap dicatat. Sejenak setelah memeluk Islam ia meninggal dunia, saya tahu buku catatan amalnya berat di sisi kebaikan. Itu membuat saya dipenuhi suka cita!"

Selanjutnya yang menerima Islam adalah orang yang dulu ingin membunuhnya, ayah. Keislaman sang ayah mengingatkan dirinya pada kisah Umar bin Khattab.

Dua tahun setelah Aminah memeluk Islam, ibunya menelepon dan sangat menghargai keyakinannya yang baru. Dan ia berharap Aminah akan tetap memeluknya.

Beberapa tahun kemudian ibu meneleponnya lagi dan bertanya apa yang harus dilakukan seseorang jika ingin menjadi Muslim. Aminah menjawab bahwa ia harus percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya.

"Kalau itu semua orang bodoh juga tahu. Tapi apa yang harus dilakukannya?" tanya ibunya lagi.

Dikatakan oleh Aminah, bahwa jika ibunya sudah percaya berarti ia sudah Muslim.

Ibunya lantas berkata, "OK .... baiklah. Tapi jangan bilang-bilang ayahmu dulu."

Ibunya tidak tahu bahwa suaminya (ayah tiri Aminah) telah menjadi muslim beberapa pekan sebelumnya. Dengan demikian mereka tinggal bersama selama beberapa tahun tanpa saling mengetahui bahwa pasangannya telah memeluk Islam.

Saudara perempuannya yang dulu berjuang memasukkan Aminah ke rumah sakit jiwa, akhirnya memeluk Islam.

Putra Aminah beranjak dewasa. Memasuki usia 21 tahun ia menelepon sang ibu dan berkata ingin menjadi muslim.

Enam belas tahun setelah perceraian, mantan suaminya juga memeluk Islam. Katanya, selama enam belas tahun ia mengamati Aminah dan ingin agar putri mereka memeluk agama yang sama seperti ibunya. Pria itu datang menemui dan meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya. Ia adalah pria yang sangat baik dan Aminah telah memaafkannya sejak dulu.

Mungkin hadiah terbesar baginya adalah apa yang ia terima selanjutnya. Aminah menikah dengan orang lain, dan meskipun dokter telah menyatakan ia tidak bisa punya anak lagi, Allah ternyata menganugerahinya seorang putra yang rupawan.

Jika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seseorang, maka siapa yang bisa mencegahnya? Maka putranya ia beri nama Barakah.

Ia yang dulu kehilangan pekerjaan, kini menjadi Presiden Persatuan Wanita Muslim Internasional. Ia berhasil melobi Kantor Pos Amerika Serikat untuk membuat perangko Idul Fitri dan berjuang agar hari raya itu menjadi hari libur nasional AS.

Pengorbanan yang yang dulu diberikan Aminah demi mempertahankan Islam seakan sudah terbalas.

"Kita semua pasti mati. Saya yakin bahwa kepedihan yang saya alami mengandung berkah."

Aminah pernah bercerita tentang seorang temannya penderita kanker yang meninggal pada pada usia 20-an, Kareem Al-Misawee. "Tak lama sebelum ia wafat, ia mengatakan kepada saya bahwa Allah benar-benar Maha Penyayang. Ia dalam penderitaan yang luar bisa dan memancarkan cinta Allah. Dia bilang, 'Allah berkehendak agar saya memasuki surga dengan buku catatan yang bersih'. Kematiannya membuat saya merenung. Ia mengajarkan saya tentang kasih sayang dan ampunan Allah."

Dan kini, Aminah Assilmi menyusul orang-orang yang dicintainya serta meninggalkan semua yang dikasihinya. Termasuk putranya yang dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari New York untuk mengabarkan pesan tentang Islam. Selamat jalan Aminah. [ di/mm/www.hidayatullah.com]

This message may contain confidential and/or proprietary information of Garuda Maintenance Facility Aero Asia, PT., and /or their affiliated companies. This message is intended only for use of the named addressee(s). If you are not named addressee or receive this message in error you may not disclose, copy, distribute or use this information for any purpose.

9.3.10

Negara Mesti Perhatikan Syariat Islam

Pemerintah jangan lupa, penduduk terbesar di negeri ini umat Islam. Sudah seharusnya pemerintah memperhatikan syariat Islam.


Hidayatullah.com –Terdapatnya persoalan di Indonesia seperti penyelewengan dana bailout Bank Century, RUU Zakat, sampai pada tuntutan LSM yang menghendaki UU No 1 PNPS 1965 tidak diberlakukan lagi, berkaitan minimnya pemahaman sebagian besar umat Islam terhadap syariat.

Menurut pakar fikih Dr. Ahmad Zain Najah, akibat ketidakpahaman terhadap syariat, akhirnya direspon secara berbeda oleh umat Islam sendiri. Hal ini menjadikan umat Islam terbelah dalam dua kubu yang saling berhadapan, antara pro dan kontra.

Meski demikian, ia mengingatkan pada pemerintah harus bertanggung jawab dan mestinya mempelajari syariat Islam secara baik dan benar, khususnya mengenai praktik dalam hidup umat Islam yang harus sesuai dengan syariat Islam.

“Kita bukan tidak setuju dengan upaya pemerintah yang menghendaki terciptanya kehidupan yang tertib, damai, dan sejahtera. Malah kita sangat mendukung. Akan tetapi hendaknya aturan-aturan yang akan diberlakukan, apalagi yang menyangkut hidup umat Islam, hendaknya sesuai dengan syariat Islam,” kata Zain An-Najah dalam diskusi di kantor Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) di Jakarta, Sabtu (6/3).

Terkait dengan masalah kontroversi RUU Nikah Siri, peneliti INSISTS itu berharap agar pemerintah berpikir secara jernih, komprehensif dengan niat menciptakan kemaslahatan di muka bumi ini dengan menghargai dan menghormati syariat Islam. Dengan menghormati syariat Islam, dipastikan negara tidak akan timbul apa-apa. Daripada sikap membenci syariat Islam, namun menimbulkan malapetaka.

“Bagaimana mungkin syariat Islam dibenci. Syariat ini pasti sesuai dengan fitrah manusia. Islam itu adil. Bandingkan dengan kondisi wanita sebelum datang Islam, wanita dianggap tak lebih dari makhluk pemuas seks laki-laki yang sering disamakan dengan binatang. Anehnya sekarang, nikah siri mau dipidana sementara perzinaan dan prostitusi justru dilegalkan,” ucapnya.

Menurut pakar fikih lulusan Univeritas Al Azhar, Mesir ini, munculnya RUU Nikah Siri yang hendak memidanakan para pelakunya, dinilai tidak objektif sebab hanya didasarkan pada fakta yang ditemukan pada oknum saja.

“Tidak semua pelaku nikah siri tidak bertanggungjawab. Dan, secara hukum, nikah siri halal dalam Islam. Kalau mau mempidana, ya pidanakan saja pelaku nikah siri yang tidak bertanggungjawab kepada istri dan anak-anaknya, atau istri-istrinya. Serta para suami yang memang berbuat dholim. Bukan syariatnya yang dilarang,” ujarnya.

Menurutnya, jika mau lihat kekurangan, semua ada kekurangan, tak terkecuali apa yang ditetapkan pemerintah di buku nikah.

Ia mencontohkan seorang suami telah mentalak istrinya tiga kali, tapi ia tidak melapor dan bahkan sudah menikah dengan orang lain. Meski secara syariah dia sudah cerai, dalam beberapa kasus, ada sebagian yang diam-diam masih tetap berhubungan intim tetapi tak bisa dijerat pidana. Alasannya, masih memiliki buku nikah yang bisa dijadikan pembenaran status.

“Bisa juga suami istri sudah cerai diam-diam, kemudian bertemu dan melakukan hubungan dan kumpul kebo, misalnya, itu juga tidak bisa dijerat secara hukum,” imbuhnya. [imam/www.hidayattullah.com]

Terorisme Berakar Dari Zionisme

Manusia yang masih memiliki akal sehat (common sense), pasti akan bertanya-tanya dengan penuh rasa ingin tahu, mengapa orang-orang Yahudi, tak pernah henti-hentinya menumpahkan darah umat manusia. Kapan saja dan di mana saja. Bukan hanya di Palestina dan Timur Tengah. Tapi seantero jagad, setiap terjadi perang, dan kekejaman, pasti dibelakangnya ada tangan-tangan Yahudi.

Perang di Timur Tengah, semenanjung Arabia, yang terus menggelegak, bahkan kalau diurut ke belakang, terbunuhnya para sahabat, tak terlepas tangan-tangan jahat Yahudi. Di era sekarang ini, hancurnya Palestina, Iraq, Afghanistan, Balkan, dan kehidupan carut-marut secara global, kerusakan moral, ekonomi, dan budaya hedonis, semuanya adalah rekayasa Yahudi. Orang-orang Yahudi, yang menggunakan ideologi Zionisme, terus melakukan langkah-langkah penghancuran terhadap kehidupan umat manusia, sampai umat manusia itu menjadi budak orang-orang Yahudi.

Karena itu, kekerasan itu sudah melekat dan menjadi ideologi mereka. Prinsip-prinsip kekerasan dan kekejaman,yang menggunakan cara-cara teror itu, termaktub dalam agama Yahudi, seperti dijelaskan dalam kitab Taurat, versi Yahudi, antara lain, “Ketika kita mendekati kota untuk memeranginya, maka kita ditawari perdamaian. Maka sesungguhnya bila kamu merespon dengan positif hal itu, maka segala sesuatu terbuka bagimu. Dan setiap bangsa yang ada di sana menjadi pihak dapat dimanfaatkan dan diperbudak. Dan bila mereka tidak menyerah dan kamu berperang dengannya, maka kepunglah. Bila Tuhan menolongmu, maka bunuhlah setiap orang laki-laki dengan kekejaman pedang. Adapun, wanita, anak-anak, binatang ternak, dan setiap apa yang ada di kota semua menjadi harta rampasanmu. Dan kamu menghapuskan kezaliman musuh-musuhmu yang diberikan oleh Tuhanmu. Demikianlah kamu berlaku terhadap semua kota yang jauh sekali darimu yang bukan kota mereka, kecuali mereka yang ada disisni, hingga sampai ke kota bangsa-bangsa lain, yang diberikan Tuhanmu kepadamu yang tidak diberikankepada siapapun sebelum kamu”.

Orang-orang Yahudi menerapkan ayat Taurat dengan sangat kejam dan biadab. Seperti yang pernah terjadi pembumi hangusan kota Jericho, dan melakukan pembantaian selulruh penduduknya, tak ada yang tersisa oleh kekejaman orang-orang Yahudi. Peristiwa pembantaian terjadi dalam peristiwa Dir Yasin, yang mengakibatkan penduduk di perkampungan Arab dibabat habis, tanpa peduli, dan itu tejadi di tahun 1948. Awal berdirinya negara Israel. Sepanjang sejarah orang-orang Yahudi itu, tangannya selalu berlumuran darah, yang tak pernah kering. Pembantaian di kamp Palestina Chabra dan Satila (Lebanon), tahun l982, yang membunuhi ribuan orang Palestina, bersama-sama dengan milisi Kristen, saat Ariel Sharon menjadi menteri perthanan.

Pokoknya Yahudi selalu menyulut perang dari satu tempat ke tempat lainnya. Semuanya kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu, mempunyai konsep yang sifatnya fundamental yang bersumber dari kitab Taurat. Konsep ini pula yang mengilhami Zionisme yang terus melakukan kerusakan atas kehidupan umat manusia.

Mereka dengan kitab Taurat itu mempunyai legalitas untuk memperlakukan dan bertindak apa saja terhadap orang-orang diluar kelompok Yahudi. Jadi pembantaian yang ada sekarang di Palestina mempunyai akar sejarah dan bermuara dari ajaran agama Yahudi, yang bersumber dari kitab Taurat.

Sebelumnya Israel melakukan agresi militer ke Gaza, semua pasukan Israel mendapatkan indoktrinasi dari para Rabbi mereka, yang melarang tentara dan pasukan Israel untuk memiliki belas kasihan terhadap musuh-musuh mereka, yaitu rakyat Palestina, yang ada di Gaza. Orang tua, anak-anak dan perempuan, tidak boleh dikasihani mereka semua harus dibunuh. Seperti yang dikatakan oleh Rabbi Elizar, yang memberikan semangat kepada tentara Israel, sebelum mereka masuk ke Gaza.

Taurat versi Yahudi itu, banyak mempromosikan kekejaman dan kekerasan serta teror, dan mengarahkan agar orang-orang Yahudi itu bertindak dengan biadab, seperti pembumi hangusan, pembantaian massal, dan penghancuran secara total, bahkan ‘mengharuskan untuk menggunakan metode yang palking brutal dan kejam dengan mengajak untuk membantai anak-anak kecil, menghancurkan rumah-rumah penduduk, dan menganiaya kaum wanita. Sekalipun wanita itu sedang hamil.

Sejarah peperangan yang berlangsung di Gaza, menunjukkan fakta-fakta itu, di mana mayoritas yang menjadi korban adalah anak-anak kecil yang tidak berdosa, dan wanita, serta bangunan-bangunan yang ada. Itulah kebiadaban orang-orang Yahudi. Tindakan mereka mendapatkan legitimasi dari agama mereka, yang bersumber dari kitab Taurat. Wallahu’alam.

Penghargaan Terhadap Menkeu Untungkan Asing

Pakar ekonomi Hendri Saparini tak sulit memahami penghargaan dunia terhadap Menkeu Sri Mulyani. Menurutnya, kebijakan Menkeu memang sangat menguntungkan asing.

Hidayatullah.com--Penghargaan dunia internasional, khususnya komunitas bisnis, terhadap Menkeu Sri Mulyani tak sulit dipahami. Komunitas internasional memberikan penghargaan (award) karena kebijakan Menkeu selama ini menguntungkan asing, terutama investor di sektor keuangan.

"Dibanding prestasi Menkeu China, kinerja Sri Mulyani dalam mendongkrak perekonomian relatif jauh tertinggal. Tapi, karena tidak menguntungkan pihak asing, maka prestasi gemilang Menkeu China tak mendapat ganjaran komunitas internasional. Jadi, ukurannya, kebijakan yang dibuat benar-benar menguntungkan pihak asing," kata Managing Econit Advisory Group Hendri Saparini saat dihubungi di Jakarta, kemarin, terkait kabar yang menyebutkan bahwa majalah Asiamoney--majalah keuangan yang berbasis di Hong Kong-- dalam waktu dekat menganugerahkan penghargaan kepada Menkeu Sri Mulyani.

Menurut Hendri Saparini, di sektor keuangan kebijakan Menkeu Sri Mulyani selama ini sangat menguntungkan investor asing. Ini tercermin dari besaran bunga obligasi atau surat utang negara yang berkisar 13-18 persen. "Negara-negara yang ekonominya lebih maju dari Indonesia saja menerbitkan surat utang kepada dunia internasional dengan bunga tertinggi 1 persen. Jika Indonesia berani bayar 13-18 persen, apa itu bukan fantastis," ujarnya.

Hendri mengingatkan, dibanding China atau India, pertumbuhan perekonomian Indonesia relatif jauh tertinggal. Namun, pertumbuhan ekonomi China maupun India lebih didorong kompetisi sektor riil, bukan hot money seperti Indonesia, lewat high cost debet obligasi bersuku bunga tinggi.

Karena itu, menurut Hendri, kinerja Menkeu India dan China tidak dilirik dunia internasional untuk diganjar penghargaan. "Ya, karena berbeda dengan Menkeu kita, kebijakan Menkeu India dan China tidak membuat investor bisa meraup keuntungan besar," katanya.

Karena itu pula, Hendri menambahkan, penghargaan komunitas internasional terhadap Menkeu Sri Mulyani sulit dikatakan prestisius.

Bahkan penghargaan itu tak layak dibanggakan. Justru karena dari sudut kepentingan nasional, kebijakan Menkeu mengerek bunga obligasi tinggi-tinggi jelas merugikan keuangan negara.

Sebelum ini, sejumlah penghargaan tingkat internasional sudah pula dianugerahkan kepada Menkeu Sri Mulyani. Pada 2006, misalnya, Majalah Emerging Market menganugerahkan penghargaan Finance Minister of the Year 2006 atas keberhasilannya mengelola ekonomi nasional tumbuh sebagai emerging market. Masih pada tahun itu juga, gelar yang persis sama juga diberikan oleh Majalah Euromoney.

Dua tahun kemudian, Euromoney kembali menganugerahi Menkeu Sri Mulyani penghargaan. Kali ini berupa gelar Finance Minister of the Year serta Minister Contribution to Finance Award. Kedua penghargaan tersebut diberikan karena Sri Mulyani dinilai gigih membawa ekonomi nasional tetap tumbuh di tengah gejolak ekonomi global pada tahun 2008.

Selain itu, pemberian penghargaan dari lembaga internasional itu tidak mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk apabila yang bersangkutan tengah menjadi sorotan publik di dalam negerinya, seperti dalam kasus Bank Century.

"Tentunya mereka tidak peduli kalau Menteri Keuangan di negara tersebut sedang tersandung kasus atau tidak, yang penting mereka mendapatkan keuntungan besar, dan itu pastinya tidak bisa mereka dapatkan jika berinvestasi di China atau India," katanya.

Namun, menurut Hendri, jika penghargaan kepada Sri Mulyani diberikan dari masyarakat Indonesia, hal itu tentunya menjadi tanda tanya besar. Ini mengingat selama ini belum terlihat kinerja Sri Mulyani yang berpihak pada kesejahteraan rakyat dan dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Jadi, bagi publik di dalam negeri, penghargaan yang diterima itu tidak bermakna sama sekali karena memang selama ini masyarakat sama sekali tidak merasakan adanya kebijakan yang berpihak kepada pelaku usaha di dalam negeri. Justru kebijakan pemerintah selama ini dengan membuka keran perdagangan bebas, mencerminkan ketidakpedulian pemerintah," katanya.

Dalam kesempatan terpisah, ekonom Fuad Bawazier, kemarin, mengatakan, dirinya tidak mengetahui ihwal pemberian penghargaan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Dalam pandangannya, pemberian penghargaan yang biasa dilakukan oleh lembaga-lembaga seperti, Euromoney dan Asian Marketing, merupakan sebuah bisnis belaka. Bahkan, dia menilai, jangan terlalu memandang terburu-buru terhadap berita yang belum jelas kebenarannya itu.

"Jangan terburu-burulah. Seolah-olah investor international akan resah. Ini hanyalah merupakan murahan saja," tuturnya.

Meski begitu, dia tidak mengelak jika kabar yang menyebutkan bahwa lembaga-lembaga, seperti Euromoney dan Asian Marketing, akan kembali memberikan penghargaan (award). Biasanya lembaga-lembaga tersebut memberikan penghargaannya dilakukan setiap tahun sekali.

Tapi, lagi-lagi Fuad juga mempertanyakan tentang kualitas dasar penilaian terhadap Sri Mulyani jika akan diberikan penghargaan oleh Euromoney dan Asian Marketing.

Dalam penilaiannya, bisa saja penghargaan yang dilakukan adalah didasarkan atas bisnis semata-mata. "Mungkin ada take and give," ujarnya.

Dia berpendapat, penilaian yang diberikan lembaga-lembaga tersebut harus memiliki kualitas yang tidak bisa diragukan kebenarannya. Apalagi, saat ini Sri Mulyani Indrawati tersangkut dengan masalah dana talangan Bank Century.

Bahkan, dia menilai, bisa saja hal-hal seperti itu dilakukan untuk menciptakan bisnis semata, dengan memperlihatkan iklan-iklan. [suka/www.hidayatullah.com]

Dr Warih Andan:“Media Massa Melahirkan Generasi Rendah Diri”

Media banyak mempengaruhi persepsi remaja tentang gaya hidup. Media juga menggiring mereka dengan gaya hidup yang menyebabkan mudah stres.

Hidayatullah.com--Tahun 2009, fenomena bunuh diri –khususnya melompat dari gedung-gedung tinggi—tiba-tiba marak. Setidaknya ada lima kasus, terjadi di Jakarta dan Surabaya.

Secara bilangan memang ‘cuma’ lima, tapi karena menyangkut nyawa manusia, apalagi itu dilakukan dengan cara bunuh diri, maka fenomena itu sungguh sangat mengejutkan.

Pertanyaannya adalah mengapa mereka begitu mudah mengambil jalan pintas?

Menjawab pertanyaan itu, Hidayatullah.com mewawancarai Dr. Warih Andan Puspitosari, M.Sc, SpKJ, Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang juga seorang psikiater ini.

“Banyak remaja menjadi korban gaya hidup,” ujar lulusan Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini. Apa maksudnya? Simak wawancaranya.

Beberapa waktu lalu, selama dua pekan, ada lima kasus bunuh diri di Jakarta, belum di Surabaya dan beberapa kota lain. Ini fenomena apa?

Sebagian besar (95 persen) kasus bunuh diri dilakukan oleh orang yang mengalami “gangguan jiwa”. Saya rasa ini adalah masalah kesehatan jiwa.

Bukankah mereka orang-orang yang sehat?


Gangguan jiwa tidak hanya gila. Gangguan jiwa ditandai dengan adanya perubahan dalam pemikiran, perasaan atau perilaku seseorang. Orang sering berpendapat bahwa gangguan jiwa identik dengan gila. Padahal tidak. Istilah gila yang dipakai oleh masyarakat kita adalah merupakan gangguan jiwa berat (skizofrenia). Kasusnya hanya 1-3 persen dari populasi penduduk.

Memang ada berapa jenis gangguan jiwa yang dikenal di dunia?

Banyak. Ada gangguan jiwa berat atau biasa disebut dengan gangguan psikotik. Di mana seseorang terganggu daya nilainya terhadap realitas. Ini yang biasa disebut dengan gila. Bicara sendiri, senyum sendiri, marah-marah tanpa sebab, berperilaku aneh, mungkin karena adanya halusinasi.

Kedua, ganguan suasana perasaan (mood). Sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, tak bertenaga, nafsu makan turun, sulit tidur, sulit konsentrasi, pesimis, rendah diri sampai putus asa dan depresi.

Ketiga, gangguan kecemasan. Ditandai perasaan khawatir/cemas yang berlebihan, jantung berdebar-debar, keringat dingin, sulit tidur, gelisah, sulit untuk tenang, seringkali juga dengan keluhan fisik.

Keempat, gangguan mental organik, yaitu gangguan jiwa yang disebabkan oleh penyakit fisik, misalnya tumor otak, trauma kepala, gagal ginjal, dan lain-lain. Juga bisa disebabkan karena penyalahgunaan Napza. Masih ada banyak gangguan-gangguan jiwa lainnya. Yang jelas, gangguan jiwa tidak mesti harus gila.

Berarti banyak masyarakat kita mengalami gangguan jiwa?


Sebenarnya begitu. Tapi kalau pengertian gangguan jiwa disebut gila, wah, bisa ngamuk mereka. Jadi, harus dipahamkan bahwa gangguan jiwa tidak mesti gila. Dalam Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan tahun 2007, dibagi dalam dua istilah. Pertama, gangguan jiwa berat dan kedua, gangguan mental emosional. Gangguan mental emosional yang dipakai untuk mewadahi gangguan jiwa seperti depresi dan cemas. Angka gangguan jiwa berat berkisar 2 persen, sedangkan gangguan mental emosional sekitar 15 persen. Jadi lumayan tinggi.

Angka 15 persen sangat mengerikan. Jika jumlah penduduk Muslim 250 juta jiwa, maka 10 persen saja sudah 25 juta jiwa...

Ya. Makanya kesehatan jiwa sangat penting untuk diprioritaskan. Tidak ada kesehatan yang sesungguhnya tanpa kesehatan jiwa. Manusia adalah makhluk holistik, di mana terkandung unsur biologis, psikologis (jiwa), sosial, kultural dan spiritual. Jadi semua unsur akan saling mempengaruhi.

Kenapa banyak masyarakat mengalami gangguan jiwa?

Penyebab gangguan jiwa multifaktorial (banyak faktor). Di antaranya faktor genetik, faktor lingkungan (stresor), faktor kematangan kepribadian (ketahanan mental) seseorang. Makanya tidak semua orang yang menghadapi masalah yang sama, akan mengalami gangguan yang sama.

Tapi mengapa banyak kasus depresi dan bunuh diri menghinggapi kalangan remaja?

Zaman sekarang stresor psikososial makin banyak: persaingan hidup, kesulitan ekonomi, tuntutan kebutuhan yang makin meningkat dan konflik makin beragam. Umumnya, banyak kalangan remaja menjadi korban gaya hidup. Depresi karena faktor ini termasuk tinggi. Banyak remaja merasa rendah diri di kala semua temannya hidup wah, sementara kenyataannya mereka tidak mampu.

Menurut Anda, adakah sesuatu yang kurang pada mereka?


Pasti. Terutama masalah lingkungan dan keluarga. Bagaimanapun keluarga adalah tempat pertama dan paling utama bagi perkembangan kepribadian anak. Dari sana anak belajar melihat, mengamati, merasakan, dan mencontoh apa yang terjadi di sekitarnya. Jadi, sebenarnya jika di rumah hubungan keluarga berjalan baik, anak bisa belajar menanggulangi streor.

Hanya saja, kadangkala orangtua tanpa sengaja membuat anak-anak tumbuh menjadi dependent (tergantung). Misalnya orangtua yang over-protectiv, otoriter, mudah mendikte, menyebabkan anak-anak mereka tidak berani berpendapat dan berdialog. Juga orangtua yang menuntut anak-anak mereka harus berprestasi, suka membanding-bandingkan, suka mencelanya dan kurang memberi motivasi. Hal-hal seperti itu bisa membuat ia lebih mudah tertekan, kurang percaya diri, dan mudah depresi. Di situlah pentingnya kematangan kepribadian, dukungan positif orangtua, teman sebaya, guru, keluarga lain, dan orang-orang sekitarnya.

Selain kehangatan dalam keluarga, apa yang membuat anak agar dapat tumbuh tanpa masalah?


Pemahaman dan pengamalan agama. Dalam Islam, ada konsep sabar, ikhlas, ridha, dan ujian. Jika ia menghadapi sesuatu, ia akan ridha, karena ia menganggap sedang diuji. Karena itulah ia harus sabar. Seorang Mukmin dituntut harus tawakal, ikhlas, sabar dan syukur. Nah, soal hasil, apa pun itu urusan Allah.

Orang Mukmin diwajibkan ikhtiar, namun harus yakin bahwa di sana ada qadha dan qadar, apa pun hasilnya. Jika itu tertanam dan diyakini dalam hati kaum Muslim, kecil kemungkinan ia akan depresi. Orang mukmin juga diajarkan zikir. “Dengan berzikir, kalian akan menjadi tenang”. Islam melarang umatnya berputusa asa. Islam mengatur hubungan dan pergaulan. Mengharamkan obat-orang terlarang atau Napza. Jadi sebenarnya, Islam itu sudah mengatur umatnya agar terhindar dari kecemasan, depresi, dan berbagai bentuk jenis penyakit jiwa.

Selain yang kita bicarakan tadi, faktor apalagi yang memicu kaum remaja mudah depresi dan cemas?


Media massa. Media sangat mempengaruhi persepsi mereka tentang gaya hidup. Media menggiring mereka dengan gaya hidup baru. Media menggiring mereka mengidolakan gaya hidup artis, model atau bintang film. Hidup serba mewah, pakaian gaul, nongkrong di mall, HP bermerk, pacaran, ikut Valentine’s, ikut gank, itulah gambaran mereka sebagai remaja masa kini dan remaja yang ideal.

Mereka berusaha diet dan menurunkan berat badan karena media memberikan citra body-image bahwa menjadi seksi harus kurus. Jangan kaget jika banyak remaja menjadi rendah diri jika tak mengikuti trend gaya hidup seperti ini. Mereka merasa aneh, tersisih jika menikah tanpa pacaran atau merasa jomblo. Di sinilah awal mereka menjadi mudah cemas dan berpikir pendek. Media seharusnya menjadi sarana edukasi generasi muda, namun faktanya tidak. [Cholis Akbar/www.hidayatullah.com]