Showing posts with label Islamphobia. Show all posts
Showing posts with label Islamphobia. Show all posts

29.10.15

Islam adalah MASALAH...

...bagi Iblis dan Para Pengikutnya dari Golongan Jin dan Manusia!




"Kubu Syiah" Mendesak Indonesia Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Arab Saudi. ...Lantas Naik Haji & Umroh ke Karbalah & Teheran?


"Mereka Mencintaimu ketika Mereka Lemah
Mereka Membunuhmu ketika Kalian Lemah"
#SyiahBukanIslam!
Media BBC Indonesia blow-up demonstrasi yang dilakukan massa Pro Syiah-Iran di Indoensia Senin (4/1) kemarin dengan tuntutan mendesak pemerintah Republik Indonesia untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi menyusul hukuman mati atas tokoh Syiah Nimr al-Nimr. 

Tokoh Syiah Nimr Al-Nimr dihukum mati karena "membahayakan" negara Saudi. Nimr Al-Nimr aktif memprovokasi akan membentuk negara Syiah di wilayah Qatif bagian timur Saudi.

Demo yang dilakukan beberapa gelintir orang ini bahkan dibuatkan berita dengan disertai 10 foto-foto demonstrasi. 

Wuihhh niat banget menjadikannya sebagai isu besar dunia.

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160104_indonesia_demo_arab_saudi



4.10.15

Aung San Suu Kyi Coret Seluruh Kandidat Politisi Muslim

Eramuslim.com – Aung San Suu Kyi, tokoh oposisi Myanmar dan peraih Nobel Perdamaian, ternyata tidak seharum namanya. Perempuan yang bersuamikan orang Inggris ini telah mencoret seluruh politisi Muslim dari daftar kendidat yang akan bertarung dalam pemilu parlemen Myanmar. Win Htein, asisten Suu Kyi, mengatakan Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) mengatakan banyak kandidat Muslim memenuhi syarat tapi harus dikeluarkan dari daftar pencalonan dengan alasan politis.

Kami tidak bisa memilih mereka,” ujar Htein kepada UCA News. “Kandidat Muslim juga menyadari situasi ini.

Kelompok ultra-nasional Buddha menolak pencalonan kandidat Muslim dalam pemilu parlemen. Biksu ekstermis terus berkampanye dan menggalang dukungan, seraya mengancam akan memboikot pemilu.

USDP, partai yang berkuasa, sama sekali tidak punya kandidat Muslim. Padahal, banyak pengamat menilai pemilu parlemen ini adalah ujian bagi Myanmar, bagaimana demokrasi berjalan di negara itu.

Jika kami menempatkan kandidat Muslim, Ma Ba Tha mengarahkan telunjuk kepada kami dan mengerahkan massa,” ujar Htein. Ma Ba Tha adalah organisasi Perlindungan Ras dan Agama, yang terus menyuarakan anti-Muslim. Mereka menuduh NLD sebagai partai yang didukung ‘islamis.

Komisi Pemilihan Umum Myanmar juga mendiskualifikasi puluhan Muslim yang dicalonkan, atas dasar kewarga-negaraan. Padahal, banyak dari mereka mengikuti pemilu sebelumnya. Kedubes negara-negara Barat di Myanmar memperingatkan politisi negeri itu untuk tidak menggunakan agama sebagai alat pemecah jajak pendapat.(ts)


 "HAM hanya berlaku bagi Non Muslim"

2.10.15

[Berita Foto] Menolak Lepas Cadar, Zionis Tembak Mati Gadis Palestina

Zionis menyeret dengan cara menarik kakinya hingga kerudung (jilbabnya) terlepas karena bergesekan dengan tanah

Hidayatullah.comInnalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiun, Hadil Hashlamon (18 Tahun), gadis Palestina akhirnya gugur ditembak oleh tentara penjajah Israel, dengan alasan menolak melepas cadarnya dan membuka isi tasnya.

Hadil Hashlamon yang kala itu hanya mau membuka kerudungnya di hadapan tentara wanita penjajah justru ditembak tentara Yahudi di perbatasan militer Jalan Syuhada, Barat Kota Kholil, dengan beberapa butir peluru tajam pada Selasa (22/09/2015) sore.

Hadil Hashlamon yang kala itu hanya mau membuka
kerudungnya di hadapan tentara wanita [Al Jazeera]
Video yang dirilis Al-Jazeera memperlihatkan jasad Hadil Hashlamon tergeletak kaku di atas tanah, kemudian Zionis menyeret dengan cara menarik kakinya hingga kerudung (jilbabnya) terlepas karena bergesekan dengan tanah.

Tidak cukup satu peluru saja bagi Zioinis untuk memaksa Hadil Hashlamon membuka cadar dan memperlihatkan isi tasnya. Bahkan serentet tembakan peluru tajam dilepaskan menyerang nya,” terang keterangan Al-Jazeera.

[kiri] Jasad Hadil Hashlamon tergeletak kaku di atas tanah, [kanan] Zionis lalu menyeretnya dengan keji.
Dokter Walid Hashlamon, bapak dari korban mengatakan tentang kejadian yang menimpa anak gadisnya itu.

Zionis semangaja ingin membunuh anak saya. Dan mereka lakukan itu dengan sangat keji,” tegasnya.

Di Hari Arafah ini, mari kita adukan di hadapan Allah agar melindungi Muslim Palestina dan Masjidil Aqsha, serta kehancuran penjajah Israel.*/M Rizqy Utama

11.9.15

Tragedi Tanjung Priok 1984: Musibah dalam Musibah Umat Islam


(jejakislam.net) - Rezim Orde Baru meninggalkan bekas luka hingga kini bagi umat Islam. Pada akhir 60-an menjelang awal 70-an rezim ini mulai menekan umat Islam demi panggung pemilu, maka selepas pemilu 1971, rezim orba mulai menampakkan wajah sebenarnya, termasuk pada umat Islam di Indonesia.[1]

Berbagai tekanan mulai dilancarkan kepada umat Islam. Setelah menolak memberikan izin bagi para tokoh-tokoh Masyumi untuk berpolitik, rezim ini juga menekan kaum Nahdiyin di tanah air. NU yang beroposisi pada rezim orde baru, serta kencang mengkritik Soeharto dan kabinetnya, ditekan keras. Kebijakan-kebijakan orde baru terhadap umat Islam memang pantas dikritik, bahkan ditentang. Mulai dari RUU Perkawinan yang mengesampingkan Syariat Islam, rencana rezim Orba untuk mengakomodir aliran kepercayaan sejajar dengan agama, persoalan P4 hingga upaya orde baru untuk membungkam politik umat Islam lewat mengasingkan para tokoh Masyumi dari politik, seperti terhadap M. Natsir, Moh. Roem yang tak diizinkan menjadi ketua Parmusi, hingga peleburan partai-partai Islam menjadi satu partai yaitu Partai Persatuan Pembangungan (PPP).[2]

Umat Islam saat itu benar-benar dipinggirkan aspirasinya. Tak mengherankan, karena Suharto saat itu memilih orang-orang terdekatnya dari kalangan bukan Islam, termasuk kejawen. Ali Moertopo dan Hoemardani yang berada dalam lingkaran kekuasaan Orde Baru memaksimalkan pengaruhnya melalui "think-thank" Centre for Strategic and International Studies (CSIS).[3]

Upaya rezim Orde Baru yang menyatukan partai Islam dalam satu partai justru menjadi blunder ketika Partai Persatuan Pembangunan (PPP) malah mendulang suara di pemilu 1977. Golkar yang sempat terancam kalah ketika itu, membuat Suharto memikirkan kembali kebijakan untuk menghadang peran umat Islam dalam politk kala itu. Isu-isu seperti ekstrim kanan, ‘Komando Jihad’ menjadi hembusan permainan intelejen yang dihembuskan untuk mendiskreditkan geraakan umat Islam. Mantan Menteri Agama yang juga tokoh NU, KH Saifuddin Zuhri pun mengkritik isu-isu ‘Komando Jihad’ yang dihembuskan rezim Orde Baru,

Bagaimanapun, secara sepintas lalu, isyu ‘Komando Jihad’ bisa dikesankan untuk ditujukan kepada Ummat Islam, sekurang-kurangnya kepada golongan yang dikatagorikan ‘ekstrim.’ Kitapun tidak lebih tahu, siapa golongan ‘ekstrim’ tersebut. Apakah yang anti Orde Baru? Yang anti Pancasila? Yang anti UUD 45? Yang anti Pembangunan? Yang anti musyawarah?[4]

Aksi-aksi protes umat Islam baik terhadap kebijakan orde Baru semakin menghebat kala Suharto menentukan Pancasila sebagai asas tunggal. Polemik asas tunggal Pancasila semakin menghebat di masyarakat dan ormas-ormas Islam. Penolakan-penolakan terhadap Pancasila sebagai asas tunggal juga menggema di masjid-masjid. Gelombang penentangan umat Islam terhadap rezim orde baru memang tampak menguat. Namun tak ada yang menyangka, Suharto dan rezim Orba akan melakukan suatu kekejian yang luar biasa terhadap umat Islam. Kekejian yang kelak kita akan mengenangnya sebagai Tragedi Tanjung Priok.

Tanjung Priok, salah satu wilayah dengan pemukiman padat di Jakarta, menjadi saksi kekejian rezim Orde Baru terhadap umat Islam. Awal mula kejadian ini, ketika tanggal 8 September 1984, seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa), bernama Hermanu, memasuki Mushola As-Sa’adah di Gang IV Koja, Tanjung Priok. Menurut kesaksian masyarakat ia masuk masjid tanpa melepas sepatu (meski Hermanu sendiri kelak membantahnya). Di sana, ia keberatan dengan sebuah pamflet yang tertempel di dinding yang menurutnya mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan). Padahal pamflet tersebut hanya pengumuman pengajian rutin biasa. Menurut Hermanu, ia kemudian memakai air selokan yang hitam itu untuk melepas pamflet yang melekat dengan kuat di papan pengumuman. Namun menurut kesaksian ia menyiram pamflet tersebut dengan air selokan.[5]

Keesokan harinya, kejadian di mushola tersebut menjadi pembicaraan warga. Namun tak ada penyelesaian dari aparat terhadap masalah ini. Tanggal 10 September 1984, Hermanu dan rekannya, diketahui keberadaannya oleh jemaah As-Sa’adah, yaitu Syarifudin Rambe dan Syofwan. Kemudian terjadi perdebatan diantara mereka. Mereka kemudian melakukan pembicaraan di Pos RW 05. Ketika pembicaraan tengah berlangsung, tiba-tiba massa di luar sudah ramai. Menurut Hermanu, saat itu, massa berusaha menyerang dirinya. Namun karena tak dapat menggapai dirinya, massa di luar yang tak terkait dengan masalah ini kemudian merusak dan membakar sepeda motor Koramil. Anggota Polres kemudian datang dan menangkap empat orang, yaitu Syofwan, Syarifudin Rambe, Ahmad Sahi dan Mohammad Noor, yang dituduh membakar motor tersebut. Mohammad Noor sendiri membantah telah membakar motor tersebut, ia mengaku hanya memukul motor tersebut.[6] Anehnya, aksi-aksi provokatif Hermanu malah tidak ditindaklanjuti oleh aparat.

Tanggal 11 September, warga meminta tokoh masyarakat setempat, Amir Biki untuk meminta aparat membebaskan keempat orang yang ditangkap. Amir Biki, muslim yang taat, dan ditokohkan oleh masyarakat Tanjung Priok, memang menjadi orang yang biasa berhubungan dengan pihak militer (pemerintah). Amir Biki juga mengenal H.M.A. Sampurna, yaitu Asintel (Asisten Intel) Kodam Jaya. H.M.A. Sampurna mengaku dihubungi Amir Biki untuk membebaskan keempat orang tersebut yang ditahan di Polres atau Kodim. Namun permintaan tersebut ditampik oleh H.M.A. Sampurna.[7]

Tanggal 12 September, sebuah pengajian besar, yang memang sudah direncanakan jauh-jauh hari diadakan di Jalan Sindang, lorong 102. Pengajian itu sendiri memang dihadiri oleh Amir Biki, namun ia bukan orang yang direncanakan untuk berceramah di pengajian tersebut, karena Amir Biki memang bukan mubaligh. Pengajian tersebut diisi oleh beberapa ustadz, yaitu, Syarifin Maloko, Salim Kadar, M Nasir (bukan M. Natsir tokoh Masyumi dan DDII), dan Ratono.[8]

Acara pengajian yang dimulai pukul 20.00 itu kemudian berujung memanas. Masyarakat yang masih tak puas dengan penyelesaian kejadian di As-Sa’adah. Pukul 22.30, Amir Biki kemudian didaulat untuk berbicara di atas panggung.Di depan jama’ah yang berjumlah ribuan, Amir Biki mengajak jama’ah untuk menuntut pembebasan keempat orang yang ditangkap. Ia kemudian berkata, “Kita tunggu sampai jam 23.00 WIB, apabila keempat orang ini tidak dibebaskan juga, maka kita semua ke Kodim! Malam ini akan ada banjir darah. Karena saya tahu moncong senjata TNI telah diarahkan ke kepala saya!” Perkataan Amir Biki berhenti sejenak, kemudian dilanjutkan dengan, “Apabila saya meninggal malam ini, saya minta kepada jamaah untuk mengusung jenazah saya keliling Jakarta!” Amir Biki juga mengingatkan, “Jangan mengecewakan saya, saya peringatkan bahwa yang membuat kegaduhan itu bukan jamaah kita,” serunya.[9]

Ia kemudian memimpin massa untuk menuju ke Kodim. Namun tujuannya bukan untuk melawan aparat, apalagi memberontak. Amir Biki mengatakan pada kawannya Husain Safe saat itu, ketika Husein menolak ikut jika tujuan mereka untuk memberontak. “Bukan untuk itu, dan saya minta jangan ada yang melawan aparat karena itu bukan tujuan kita!”, tegas Amir Biki.[10]

Massa pun bergerak menuju Kodim. Di jalan mereka bertakbir, sambil membawa bendera hijau bertuliskan kalimat Tauhid. Tidak ada aksi anarkis sepanjang jalan. Namun belum sampai Kodim, persis di depan gerja di samping Mapolres Jakarta Utara, massa terhenti. Mereka dihadang aparat tentara, yang jumlahnya tak banyak saat itu, hanya belasan orang. Barisan massa di depan berhenti, namun mereka terdesak untuk maju oleh massa yang ada di belakang. Saat rombongan yang berada di depan barisan berusaha menahan massa untuk berhenti, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan. Massa pun panik, berhamburan. Tembakan kemudian terus menyusul, senapan menyalak menghujani massa, tanpa henti 10 hingga 15 menit.[11] Orang-orang bertumbangan, berteriak, Allaahu Akbar-Allaahu Akbar menggema. Husain Safe yang saat itu berada di barisan depan mengisahkan kejadian brutal tersebut,

Detik-detik berlalu begitu mencekam. Tak lama kemudian aparat-aparat yang menembak bergerak mundur agak jauh dari saya sambil terus menembak. Mereka mencoba melihat lebih jauh ke belakang, ke arah rombongan lain yang menuju kami. Ternyata itu adalah rombongan Amir Biki. Saya dengar ada yang berteriak bahwa itu adalah Amir Biki. Disusul lagi teriakan dari anggota pasukan lainnya, “Habisi saja!![12]

Amir Biki pun tumbang. Begitu pula massa lainnya. Mayat-mayat bergelimpangan di antara orang-orang yang terkapar terluka, di jalan dan di selokan. Tentara terus memburu massa dalam kegelapan akibat lampu dimatikan secara serentak. Kelak diketahui, lampu-lampu itu padam akibat dimatikan langsung dari pusat oleh PLN. Tentara memburu siapa saja. Orang yang lari ditembak hingga rubuh. Orang-orang yang tiarap dilindas truk tentara yang datang sekonyong-konyong. Orang-orang yang bersembunyi di selokan mendengar jelas jeritan-jeritan orang terlindas dan suara tulang remuk. Mereka terus menembaki bahkan dari atas truk. Setelah 10 hingga 15 menit, tembakan-tembakan kemudian berhenti.[13]

Aparat itu memeriksa siapapun yang tergeletak. Mencari yang masih hidup. Beberapa orang yang terluka namun masih hidup, berpura-pura mati. Termasuk Yusron Zaenuri. Ia berpura-pura mati. Mayat-mayat kemudian ditumpuk dan dilempar ke atas truk. Yusron Zaenuri, dilempar ke truk bertumpuk-tumpuk dengan mayat. Dua mobil truk besar penuh dengan mayat. Tak lama kemudian datang ambulans dan mobil pemadam kebakaran, membersihkan jalan dari genangan darah. Ratusan orang menjadi korban. Namun, pemerintah memberikan versi berbeda. Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani yang meninjau lokasi tak lama setelah peristiwa keji tersebut menyatakan hanya sembilan yang tewas dan 53 luka-luka. Menurut versi Pemerintah, massa bertindak anarkis, meski para korban yang bersaksi menolak pernyataan tersebut.. L.B. Moerdani beserta Pangdam Jaya Mayjen Try Sutrisno juga mengunjungi RSPAD, lokasi tempat korban luka-luka dirawat seadanya.[14]

LB Moerdani dan Try Sutrisno memberikan keterangan mengenai peristiwa Tanjung Priok. Sumber foto: Pusat Studi dan Pengembangan Informasi (PSPI). 1998. Tanjung Priok Berdarah Tanggung Jawab Siapa? Kumpulan Fakta dan Data. Jakarta: Gema Insani Press
Umat Islam, beserta para tokoh masyarakat mengecam peristiwa tersebut. Para tokoh Islam seperti Syafrudin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Anwar Harjono, AM Fatwa hingga tokoh nasional seperti Hoegeng, Ali Sadikin, HR Dharsono menandatangani Lembar Putih 22 yang berisi keprihatinan tentang pernyataan sepihak dari pemerintah. Lembar Putih 22 juga mengeluarkan kronologis dan fakta berbeda dari versi pemerintah. Mereka menyebut keterangan sepihak pemerintah sebagai “musibah dalam musibah.”[15]

Peristiwa ini memang tak hanya musibah dalam musibah, tetapi juga musibah berlanjut musibah. Kekejian aparat rezim Orde Baru tak hanya puas dengan membantai umat Islam di lokasi tetapi dilanjutkan dengan penyiksaan terhadap orang-orang yang terluka. Selepas diobati seadanya di rumah sakit, mereka kemudian ditahan tanpa ada proses yang legal. Penangkapan-penangkapan juga berlanjut selepas tragedi tersebut. Baik yang benar-benar ada di lokasi saat kejadian ataupun orang yang tak tahu menahu tentang peristiwa tersebut. Mereka dipaksa untuk mengakui pernyataan palsu. Penyiksaan demi penyiksaan menjadi rmakanan sehari-hari para tahanan. Mereka diperlakukan lebih buruk daripada binatang. Syaiful Hadi salah seorang yang ditahan menceritakan kisah pilu yang mereka alami.

Dalam tubuh tanpa dibalut pakaian itu, kami disiksa di atas kerikil tajam. Kami dipaksa berguling-guling di atas kerikil itu, sementara tentara memukuli dengan tongkat dan menendangi dengan sepatu lars. Dari mulut mereka terlontar hinaan yang menyakitkan. “Dasar PKI! Anak gerombolan GPK!” hardik mereka. Kami cuma mampu mengucap, “Allahu Akbar!” Namun setiap kami mengucap kalimat takbir itu, mereka selalu melontarkan ejekan yang amat menyakitkan hati. “Di sini tidak ada Tuhan,” bentak mereka. Astaghfirullah! Hati seperti berkeping-keping. Sementara tubuh saya dan teman-teman tak henti-hentinya mengeluarkan darah. Darah segar mengucur dari kepala sampai kaki.”[16]

Ada pula kisah yang amat pedih dialami Aminatun, salah seorang tahanan perempuan. Ia mengalami penyiksaan dan pelecehan di tahanan. Aminatun yang ditahan meninggalkan anak-anaknya, kemudian dipaksa menyaksikan kakak dan teman-temannya dipukuli, diestrum dan ditelanjangi di depan dirinya. Ia pun tak lepas dari penyiksaan. Oleh aparat perempuan, jilbabnya dirobek dan ia diancam akan ditelanjangi. Ia pun dilain kesempatan akhirnya ditelanjangi oleh dua aparat perempuan. Ia dipaksa untuk mengakui terlibat pengajian di Tanjung Priok.[17]

Puluhan orang ditangkap dan siksa aparat selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Orang-orang yang wafat menjadi korban tak pernah jelas dimana mereka dikuburkan? Banyak keluarga, ayah, ibu, anak mencari anggota keluarga mereka. Tak pernah ada kejelasan. Nasib keluarga mereka. Bahkan ada yang dianggap telah meninggal, namun ternyata kembali lagi, dengan cedera akibat penyiksaan sekian lama.[18]

Pengamanan oleh tentara di Tanjung Priok. Sumber foto: Pusat Studi dan Pengembangan Informasi (PSPI). 1998. Tanjung Priok Berdarah Tanggung Jawab Siapa? Kumpulan Fakta dan Data. Jakarta: Gema Insani Press
Penangkapan dan penyiksaan tak hanya menyeret orang-orang kecil yang ikut dalam demonstrasi kala itu atau korban salah tangkap, tetapi juga menyeret para mubaligh dan aktivis Islam. AM Fatwa, penandatangan Lembar Putih turut ditangkap dan divonis berat begitu pula Letjen HR Dharsono, Salim Kadir, Prof. Oesmany Al Hamidi yang sudah sepuh dan Abdul Qadir Djaelani. Mereka rata-rata menerima vonis 18 hingga 20 tahun. Mereka dianggap sebagai dalang dan provokator peristiwa Tanjung Priok. Peradilan yang mereka jalani pun peradilan ‘sesat’ di bawah kendali oleh pemerintah.[19]

Peristiwa Tanjung Priok memang menjadi palu godam untuk menghantam umat Islam yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru. Upaya pemerintah yang terutama hendak memaksakan Pancasila sebagai asas tunggal menimbulkan reaksi keras dari umat Islam. Peristiwa Tanjung Priok benar-benar memukul umat Islam. Setelah peristiwa ini, penerapan Pancasila sebagai asas tunggal tak lagi menemui kendala berarti. Namun bagi yang memperhatikan peristiwa ini dengan seksama, pasti akan mencium bau busuk operasi intelejen dalam peristiwa Tanjung Priok. Berbagai faktor mencurigakan, misalnya insiden provokasi oleh Babinsa di mushola As-Sa’adah. Lalu aparat juga condong mendiamkan warga yang tersulut emosinya. Ceramah-ceramah di wilayah itu memang semakin memanas menjelang tanggal 12 September 1984.[20] Tokoh umat Islam, Muhammad Natsir, sudah mengingatkan para da’i dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) untuk tidak melakukan khotbah di daerah Tanjung Priok karena situasinya semakin mencurigakan.[21] Ceramah-ceramah menolak asas tunggal memang semakin keras bergema di sana. Mustahil aparat tidak mengetahui hal ini. Bukan kebiasaan aparat di rezim Orde Baru untuk mendiamkan ceramah-ceramah yang kritis terhadap pemerintah.

Kecurigaan lain juga muncul melihat kesiapan aparat ketika menghadang massa demonstran. Aparat yang belasan orang, dihadapkan pada massa yang berjumlah setidaknya 1.500 orang. Reaksi aparat yang membabi buta menghujani massa yang tertib dengan tembakan juga amat tidak wajar. Turut menjadi pertanyaan adalah, mengapa lampu-lampu kala itu dipadamkan secara total dengan mematikan aliran listrik dari PLN secara tiba-tiba dan serentak?[22] Massa dalam kegelapan tentu saja lebih mudah dikacaukan dan hinggapi rasa panik serta ketidakjelasan melihat peristiwa..Namun yang paling menimbulkan kecurigaan adalah berkumpulnya aparat (tentara) di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Mengkok Sukapura Cilincing, pukul 21.00, hanya beberapa jam sebelum kejadian pukul 23.00. Aparat terlihat mengamankan lokasi pemakaman umum tersebut. Kelak, para korban dimakamkan di TPU tersebut, beberapa jam setelah kejadian tanpa diketahui keluarga korban. Fakta ini baru diketahui setelah para korban yang menjadi aktivis untuk menuntut keadilan peristiwa Tanjung Priok, menggali makam di sana dan menemukan tulang belulang korban pada tahun 1998.[23]

Tak pelak, nama Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani dan Pangdam Jaya kala itu, MayJen Try Sutrisno acapkali disebut sebagai pihak yang bertanggung jawab dibalik peristiwa tragis Tanjung Priok.[24] Terutama kepada Benny Moerdani yang tindak tanduknya menunjukkan penentangannya kepada umat Islam. Bukan barang baru, tekanan terhadap umat Islam disalurkan lewat operasi-operasi intelejen semacam isu ‘Komando Jihad’ dan lainnya. Namun hingga kini, tak ada satu pun aparat yang diadili atas peristiwa ini, meski Komnas Ham telah menganggap peristiwa Tanjung Priok sebagai pelanggaran HAM berat.

Bagi umat Islam generasi saat ini setidaknya kita dapat memahami bagaimana perjuangan umat Islam di masa lalu dalam membela kepentingan agamanya, menentang rezim brutal Orde Baru di bawah Soeharto.

Piye kabare? Isih penak jamanku Tho?” Dor! Dor! Dor!

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa

[1] Ismail, Faisal. 1995. Islam, Politics and Ideology in Indonesia: A Study of The Process of Muslim Acceptance of The Pancasila. Tesis. Institute Islamic Studies, McGill University.
[2] Hakim, Sudarnoto Abdul. 1993. The Partai Persatuan Pembangunan: The Political Journey of Islam Under Indonesia’s New Order (1973-1987). Tesis. Institute of Islamic Studies, McGill University.
[3] Jenkins, David. 2010. Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim militer Indonesia 1975-1983. Jakarta: Komunitas Bambu.
[4] KH Saifuddin Zuhri. Isyu “Komando Jihad” dan “Negara Islam” dalam Unsur Politik dalam Da’wa. Al Ma’arif: Bandung, 1982.
[5] Pusat Studi dan Pengembangan Informasi (PSPI). 1998. Tanjung Priok Berdarah Tanggung Jawab Siapa? Kumpulan Fakta dan Data. Jakarta: Gema Insani Press
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] Ibid
[9] S.D., Subhan dan Gunawan, F.X. Rudy (ed). 2004. Mereka Bilang Di Sini Tidak Ada Tuhan: Suara Korban Tragedi Priok. Jakarta: Gagas Media dan Kontras.
[10] Ibid
[11] Pusat Studi dan Pengembangan Informasi (PSPI). 1998
[12] Ibid
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Ibid
[16] S.D., Subhan dan Gunawan, F.X. Rudy (ed). 2004.
[17] Ibid
[18] Ibid
[19] Pusat Studi dan Pengembangan Informasi (PSPI). 1998
[20] S.D., Subhan dan Gunawan, F.X. Rudy (ed). 2004.
[21] Fatwa, A.M. 1999. Dari Mimbar ke Penjara: Suara Nurani Pencari Keadilan dan Kebebasan. Bandung: Mizan
[22] S.D., Subhan dan Gunawan, F.X. Rudy (ed). 2004.
[23] Ibid
[24] Pusat Studi dan Pengembangan Informasi (PSPI). 1998

http://voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2015/09/14/39210/tragedi-tanjung-priok-1984-musibah-dalam-umat-islam/

10.9.15

Pemerintah Malaysia Kembali Temukan Kuburan Massal Muslim Rohingya

Eramuslim – Minggu 23 Agustus 2015, aparat berwenang Malaysia kembali mengumumkan penemuan kuburan massal di dekat perbatasan dengan Thailand, yang diyakini sebagai korban perdagangan manusia.

Dalam keterangan apara berwenang Malaysia menyatakan bahwa kuburan berisi lebih dari 20 orang Muslim Rohingya ditemukan pada hari Sabtu (22/08) di wilayah Gabat perbatasan Malaysia-Thailand, seperti dilansir kantor berita Reuters.

Pihak berwenang meyakini bahwa para korban adalah warga Muslim asal Myanmar dan Bangladesh, yang melarikan diri dari konflik di negaranya dan biasa disebut sebagai manusia perahu.

Sementara itu di hari yang sama aparat berwenang Myanmar kembali menemukan 24 mayat Muslim Rohingya yang diduga sebagai korban perdagangan di daerah Bukit Wang, dekat dengan perbatasan Myanmar-Malaysia-Thailand.

Kasus Muslim Rohingya menjadi kasus kemanusiaan terbesar yang dihadapi negara-negara Muslim Asia Tenggara di tahun 2015 ini.

Tercatat Indonesia, Malaysia, dan Brunei belum dapat berbuat banyak menyelesaikan konflik Muslim Rohingya, yang di usir dan tidak di akui oleh pemerintah Budha Myanmar. (Skynewsarabia/Ram)

Presiden Myanmar Setujui UU ‘Berbau’ Anti-Muslim

Myanmar berlakukan UU yang menerapkan hukuman bagi mereka yang memiliki lebih dari satu istri atau hidup dengan pasangan bukan merupakan istri atau suami mereka.

Hidayatullah.com–Presiden Myanmar hari Senin (31/8/2015) menyetujui empat rancangan undang-undang yang dianggap kontroversial. RUU ini diusung oleh umat Buddha radikal, sehingga dikecam oleh kelompok-kelompok HAM karena bertujuan mendiskriminasi minoritas Muslim di negara tersebut.

Myanmar yang melakukan pemilihan nasional pertamanya pada 8 November 2011, setelah lebih dari dua dekade dikuasai militer dan kemudian menyerahkan kepemimpinan dan membuka politik dan ekonomi mereka, telah menyaksikan tumbuhnya kebencian terhadap Muslim.

Presiden Thein Sein menyetujui UU Monogami, setelah diloloskan oleh parlemen pada 21 Agustus, kata Zaw Htay, seorang pejabat senior di kantor presiden kepada Reuters. Undang-undang tersebut dikirimkan kembali ke parlemen untuk diperiksa ulang sebelum ditandatangani.

Undang-undang tersebut menerapkan hukuman bagi mereka yang memiliki lebih dari satu istri atau hidup dengan pasangan yang bukan merupakan istri atau suami mereka.

Pemerintah mengelak tuduhan Undang-undang tersebut ditujukan pada Muslim, yang diperkirakan 5 persen dari populasi negara tersebut, yang beberapa di antaranya melakukan poligami.

Presiden juga menandatangani dua undang-undang lainnya, yang membatasi pindah agama dan pernikahan beda agama pada 26 Agustus, kata Zaw Htay.

Langkah-langkah tersebut adalah bagian dari empat “Hukum Perlindungan Ras dan Agama” yang diprakarsai oleh Komite Perlindungan Kewarganegaraan dan Agama, atau Ma Ba Tha.

Undang-undang tersebut berbahaya bagi Myanmar, kata seorang pejabat Human Rights Watch yang berbasis di New York.

Mereka menciptakan potensi diskriminasi dengan landasan keagamaan dan menimbulkan kemungkinan ketegangan umum yang serius,” kata Phil Robertson, wakil direktur divisi Asia, Human Rights Watch, seperti diberitakan VOA.

Undang-undang ini kini telah disetujui, dan kekhawatiran yang muncul adalah bagaimana undang-undang ini diterapkan dan ditegakkan.

Pada bulan Mei, Presiden menandatangani RUU pengendalian jumlah penduduk yang didukung oleh Ma Ba Tha, yang memaksa perempuan untuk memberikan jarak waktu tiga tahun sebelum melahirkan kembali.

Kelompok yang dipimpin oleh biara menyebarkan sentimen anti-Muslim, yang mereka tuduh berusaha mengambil alih Myanmar dan mengalahkan mayoritas Buddha.

Ratusan orang tewas dalam kekerasan agama di Myanmar. Pada tahun 2012, satu insiden di negara bagian Rakhine berujung pada 140.000 orang pergi mengungsi, dan sebagian besar adalah anggota minoritas Muslim Rohingya yang kewarganegaraannya tidak diakui.*

9.9.15

Amerika yang Menanam Bom, Eropa yang Memanen Aliran Pengungsi dan Imigran

Eramuslim – Sebuah lembaga peneliti asal Kanada menyatakan bahwa derasnya arus pengungsi yang kini membanjiri negara-negara Eropa disebabkan oleh ambisi perang yang dilancarkan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dalam laporan pengamata Global Research yang diterbitkan pada akhir pekan kemarin menyatakan, “Dahulu ditahun 2011 perang AS di Libya untuk menggulingkan Muammar Gaddafi telah mengakibatkan masuknya gelombang pengungsi asal Libya ke negara-negara Eropa. Dan kini hal itu terulang kembali di Suriah.”

Global Research melanjutkan, “Tidak hanya di Timur Tengah, dukungan AS terhadap operasi militer pemerintah Ukraina untuk memerangi kelompok teroris pro-Rusia juga menyebabkan perpindahan warga Ukraina ke Eropa.”

Menurut lembaga pemantau peta politik di dunia internasional menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak pernah belajar dari kegagalan 9700 serangan udara di Libya pada tahun 2011 lalu, yang kini menjadikan Libya sebagai negara gagal di kawasan utara Afrika. (Rassd/Ram)


Uni Eropa Menjadi Rumah Masa Depan Bagi Bangsa Arab dan Muslim?

BRUSSEL (voa-islam.com) - Tak pernah terpikirkan oleh siapapun, Uni Eropa yang begitu menggelegak phobia terhadap Islam, bahkan media-media sayap kanan, sangat rasis dan terus mengkapanyekan sikap phobia, tiba-tiba sekarang Uni Eropa, dan para pemiimpin dan rakyatnya bisa menerima ratusan ribu pengungsi dari Arab, terutama Suriah.

Tak kedengaran lagi suara-suara negatif dan menentang terhadap kehadiran para imigran dari pengunsi Arab, yang sekarang ini membanjiiri Uni Eropa. Semua mengucapkan 'welcome' dengan penuh rasa kemanusiaan. Begitu Uni Eropa. Tak kurang Perdana Menteri Jerman Angela Merkel yang menjadi pahlawan bagi para pengungsi, dan bersedia menampung ratusan ribu para pengungsi. Sungguh sangat luar biasa.

Presiden Komisi Eropa, Jean Claude Juncker, mengatakan Uni Eropa menghadapi tantangan berat dengan kedatangan para pengungsi.

Dalam pidato di depan para anggota Parlemen Eropa, hari Rabu (09/09), Juncker mendesak negara-negara anggota untuk menerima kenyataan bahwa Eropa dipandang sebaga tempat perlindungan yang aman sekaligus sebagai simbol harapan bagi para pengungsi.

Ia mengusulkan agar tambahan 160.000 pencari suaka ditempatkan di seluruh negara anggota Uni Eropa dengan sistem kuota mengikat.

Sebelumnya mengemuka usul pembagian penempatan pengungsi ke negara anggota yang kemudian ditentang sejumlah negara.

Proposal Juncker menurut rencana akan dibahas oleh para menteri Uni Eropa hari Senin (14/09).

Menanggapi seruan presiden Komisi Eropa, Kanselir Jerman, Angela Merkel, menegaskan negara-negara anggota Uni Eropa mestinya langsung menyepakati kuota mengikat tanpa membatasi jumlah pengungsi yang akan diambil.

Sikap AustraliaDengan kata lain Merkel mengatakan usul Juncker adalah permintaan minimum dan Uni Eropa harus menerima lebih banyak pengungsi.

Sementara itu Perdana Menteri Republik Ceko, Bohuslav Sobotka, mengatakan Uni Eropa tidak harus memfokuskan diri pada rencana-rencana baru, tapi menerapkan saja perjanjian di masa lalu soal pengungsi dan pencari suaka.

Dalam perkembangan terkait, pemerintah Australia mengatakan akan menampung tambahan 12.000 pengungsi dari Suriah dan Irak.

Perdana Menteri Tony Abbott mengatakan kelompok minoritas yang mengalami penindasan, yang saat ini mencari perlindungan di Lebanon, Yordania, dan Turki, akan mendapatkan prioritas.

Para pengungsi ini akan diterima dan menetap di Australia mulai akhir tahun


Robert Fisk: Serangan "Teror" di Barat Adalah Akibat Zalimnya Mereka di Dunia Arab

Eramuslim – Penulis sekaligus peneliti urusan Timur Tengah asal Inggris, Robert Fisk, menyatakan bahwa serangan teror yang terjadi di Eropa dalam kurun waktu 1 tahun ini adalah akibat dari kedzholiman Barat terhadap Timur Tengah.

Pernyataan ini dituliskan Fisk dalam artikel terbitannya di surat kabar The Independent Inggris pada hari Minggu (22/11) kemarin.

Apa yang terjadi di Eropa saat ini adalah akibat kebodohan Barat dan penolakan mereka untuk memahami ketidakadilan yang dilakukan di Timur Tengah,” tulis Robert Fisk dalam artikelnya.

Berhentilah wahai pemuda,” nukil Fisk dari nasehat mantan Presiden AS, Dwight D. Eisenhower, kepada mantan Perdana Menteri Inggris, Anthony Eden, ketika memutuskan mengakhiri perang Inggris di Mesir pada tahun 1956.

Fisk melanjutkan, “Dan saat ini sudah saatnya kita mengulangi perkataan mantan Presiden Dwight D. Eisenhower kepada setiap pemimpin, politisi, dan sejarawan bodoh yang menganggap mereka adalah pemimpin perang abadi.

11.8.15

NKRI: Bendera Tauhid Ditangkap, Bendera Zionis-Israel Dibiarkan

Eramuslim.com – Ustadz Syamsudin Uba mengisahkan bagaimana dirinya bersama dua orang ikhwan yang sempat ditangkap oleh aparat TNI dan Polri.

Imron, rekan Ustadz Syamsudin Uba, ditangkap hanya lantaran mengecat rumahnya dengan bendera tauhid.

“Salah seorang dari kami yang ditangkap, namanya Imron, rumahnya ditulisi kalimat tauhid, lalu dikepung oleh TNI dan Polisi lalu dibawa ke Polda NTT. Padahal itu rumah pribadi. Aparat menuduh itu bendara ISIS, lalu dibantah bahwa itu adalah bendera tauhid,” kata Ustadz Syamsudin Uba saat ditemui usai mengikuti aksi dama Parade Tauhid Bekasi di GOR Kota Bekasi, Jawa Barat (9/8).

Begitu sigap aparat menangkap Imron yang mengecat rumahnya dengan bendera tauhid dan dituding terkait ISIS.

Sementara di sisi lain, bendera Zionis Israel, negara teroris yang menjajah umat Islam Palestina dan tak mempunyai hubungan diplomatik dengan dengan Indonesia, bertebaran di NTT maupun di Papua, tapi dibiarkan aparat begitu saja.

“Dia bersama kami di Polda selama lima hari, hanya gara-gara menuliskan kalimat tauhid di rumahnya. Tetapi di Papua, di Kupang dan di Alor, bendera Zionis itu menempel di mobil-mobil,” ujarnya.

Hal itulah yang dipertanyakan Ustadz Syamsudin Uba kepada para penyidik yang menangkapnya kala itu.

“Kenapa mereka yang memasang bendera-bendera Zionis di Kupang dan di Alor itu tidak ditangkap? Tapi kami sebagai umat Islam yang berakidah, memasang bendera tauhid, kami malah ditangkap? Kami pertanyakan kepada aparat seperti itu,” tuturnya.

Menurutnya, pembiaran bertebarnya simbol dan bendera Zionis Israel oleh aparat TNI/Polri dan penangkapan para aktivis Islam yang memasang bendera tauhid, bukan lagi sekedar sikap diskriminatif.

“Ini bukan lagi diskriminasi, tetapi ini adalah cara mereka untuk mematikan orang-orang yang bertauhid. Buktinya, kami ceramah dengan materi seperti itu, lalu dituding sebagai anggota ISIS, ini berita palsu!” tandasnya.(rz/panjimas)

Minyak, emas, perak dan tembaga sudah diberikan...
Ayo... siapa yang peduli NKRI?
Ini mah ngarang saja, kalau saja Indonesia diserang oleh Amerika dan terjadi perang di NKRI ini, komponen bangsa yang mana yang akan membela NKRI?


Aneh, Jokowi Tidak Tersinggung dengan Banyaknya Bendera Zionis-Israel Berkibaran di Papua!

Eramuslim.com – Tragedi Tolikara membuka mata kita, betapa wilayah Indonesia yang bernama Tolikara Papua marak dengan berbagai simbol atribut bendera Zionis-Israel. Ini bukan hanya terjadi di Tolikara namun juga di daerah-daerah pedalaman lain di Papua.

Setelah Tim Pencari Fakta yang dibentuk Komite Umat untuk Tolikara berkunjung langsung ke Tolikara melakukan investigasi, fakta-fakta baru mengemuka, Diantaranya maraknya simbol negara Israel. Warga Tolikara menyampaikan mereka “dipaksa” mengecat rumah/kios mereka dengan simbol Israel. Kalau tidak mau maka mereka kena denda Rp 500 ribu.

DPR sudah bersuara. Ketua Komisi I DPR RI yang menangani urusan Luar Negeri, Mahfudz Siddiq, meminta pemerintah menyelidiki penyebab banyaknya simbol-simbol Zionis-Israel di Tolikara. Ia juga meminta pemerintah membersihkan Tolikara dari unsur-unsur asing yang mengganggu keamanan masyarakat.

Harus juga diselidiki mengapa banyak lambang tersebut di sana,” kata Mahfudz lewat pesan singkat kepada Republika, Sabtu (25/7). Mahfudz mengatakan, secara politik hal ini melanggar. Ini lantaran, sambungnya, Indonesia tidak menjalin hubungan kerja sama dengan Israel. Ia meminta pemerintah membersihkan Tolikara dari unsur-unsur asing yang bisa mengganggu kedamaian dan keamanan masyarakat. Termasuk, membersihkan lambang-lambang Israel. Kerja sama, lanjutnya, perlu dilakukan oleh jajaran aparat Pemda, Polri, dengan dibantu TNI dan BIN (Badan Intelijen Negara).

Namun sampai saat ini belum ada suara pernyataan dari Presiden RI Yth. Bapak Joko Widodo terkait maraknya simbol-simbol Israel di wilayah RI. Orang yang satu ini masih saja diam bagai perawan yang akan dipinang.

Aneh. Kepala Negara berdaulat bernama Indonesia malah membiarkan dan tidak merasa tersinggung dengan maraknya lambang dan simbol negara asing ‘bebas berkeliaran’ di negara yang dipimpinnya. Maka jangan salahkan rakyat jika rakyat mengangap orang ini bukanlah Kepala Negara, tapi sekadar Puppet Aseng dan Asing. Apalagi, simbol dan bendera yang beredar itu adalah simbol dan bendera dari negara penjajah yang ditentang oleh Konstitusi NKRI yaitu UUD 1945.

Lantas kemana saja TNI? Mengapa TNI tidak juga bergerak membersihkan semua anasir teroris dan begundal Zionis-Israel di NKRI? Kasihan sekali Pak Dirman dan semua pejuang kemerdekaan jika kemerdekaan yang dihasilkan dari darah dan keringat mereka akhirnya dikhianati penerusnya sendiri. (rz)

25.7.15

Larangan Perayaan Idul Fitri & Pemakaian Jilbab serta Pembakaran Masjid oleh Massa Gereja Injili di Wamena Papua

Eramuslim.com – Suasana Iedul Fitri 1436H yang khusyu’ di Kabupaten Tolikara Papua berubah jadi bencana. Saat umat Islam sedang melaksanakan shalat Idul Fitri pagi (17/7) sekitar pukul 07.00 WIT, massa dari GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) wilayah Toli tiba-tiba menyerbu jamaah dan membakar masjid.

Laporan dari sumber di Papua, ada 10 orang yang terluka serta belasan kios dan rumah warga Muslim terbakar habis.

Penyerbuan oleh massa GIDI disinyalir karena ada larangan bagi umat Islam di Kabupaten Tolikara untuk merayakan/shalat Iedul Fitri. GIDI beralasan karena tanggal tersebut bertepatan dengan adanya kegiatan GIDI tingkat internasional. GIDI sudah membuat surat pemberitahuan larangan Iedul Fitri dan juga larangan memakai jilbab bagi muslimat.

Berikut kutipan SURAT LARANGAN GIDI yang redaksi dapatkan dari viral social media.



Kronologi Pembakaran Masjid di Wamena oleh Teroris Kristen Tolikara

Di "media" ini adalah praktek KEKERASAN!
Berikut kronologi kejadian provokasi, teror dan aksi pembakaran serta perusakan Masjid di Tolikara Wamena, Papua oleh sekelompok teroris Kristen Gereja Injili:
  • Tanggal 11 Juli 2015, surat selebaran yang mengatasnamakan jemaat GIDI yang berisi “GIDI wilayah Toli, selalu melarang agama lain dan Gereja Denominasi lain untuk mendirikan tempat-tempat ibadah di Kabupaten Tolikara” dan melarang berlangsungnya kegiatan ibadah shalat Ied umat Islam di kabupaten Tolikara yang ditandatangani oleh Pendeta Mathen Jingga S.Th.Ma & Pendeta Nayus Wenda S.Th.
  • Pukul 07.00 WIT, saat jamaah muslim akan memulai kegiatan shalat Ied di lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga, Pdt. Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (KoorLap) yang menggunakan megaphone berorasi dan menghimbau kepada jamaah shalat Ied untuk tidak melaksanakan ibadah shalat Ied di Tolikara.
  • Pukul 07.05 WIT, saat shalat Ied memasuki takbir ke-7, massa yang dikoordinir oleh Pendeta Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (KoorLap) mulai berdatangan dan melakukan aksi pelemparan batu dari bandara Karubaga dan luar lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga yang meminta secara paksa untuk membubarkan kegiatan Shalat Ied dan mengakibatkan kepanikan jamaah shalat Ied yang sedang melaksanakan shalat.
  • Pukul 07.10 WIT, massa pimpinan Pdt. Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (KoorLap) mulai melakukakan aksi pelemparan batu dan perusakan kios-kios yang berada dekat dengan masjid Baitul Muttaqin.
  • Pukul 07.20 WIT, aparat keamanan berusaha membubarkan massa dengan mengeluarkan tembakan namun massa semakin bertambah dan melakukan pelemparan batu kepadan aparat keamanan.
  • Pukul 07.052 WIT, massa yang merasa terancam dengan tembakan peringatan dari aparat keamanan melakukan aksi pembakaran kios yang berada didekat masjid milik bapak Sarno yang bertujuan agar api bisa merembet ke masjid Baitul Muttaqin.
  • Pukul 08.30 WIT, api yang sudah membesar merambat kebagian kios yang lain dan menjalar ke bagian masjid.
  • Pukul 08.53 WIT, bangunan kios-kios dan masjid habis terbakar.
  • Pukul 09.10 WIT, massa dari Pdt. Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (KoorLap) berkumpul di ujung bandara karubaga untuk bersiaga.
Allhumma sallimna wa sallimhum...


Andai Saja Muslim Pelakunya!

Di "media" yang dibakar adalah MUSHALA!
"Andai saja" kasus Tolikara adalah kasus pembakaran Gereja yang dilakukan oleh oknum Muslim, maka tentu akan lain "suasana" dan pemberitaanya.
  • Penggiat HAM akan bersuara lantang.
  • "Media-media" terutama TV akan terus memberitakan kejadian tersebut dengan running-text -nya yang tiada henti menampilkan kalimat-kalimat... “TERORIS bakar Gereja” "TERORIS masih bercokol di NKRI" atau menayangkan Acara Khusus dengan tema-tema seperti “Gerejaku Menangis” "Papua Berduka" dst...
  • Kepolisian akan langsung menerjunkan pasukan Densus88 untuk memburu sang TERORIS plus "media" yang setia mendampinginya.
  • BNPT dengan Arsjad Mbay-nya akan sibuk tampil di TV seraya mengatakan jika TERORIS wajib diberangus.
  • Presiden dan wakil presiden akan turun langsung melihat puing-puing Gereja yang terbakar dan menjenguk para pengungsi Kristen yang ketakutan di pengungsian.
  • Para pemimpin dunia akan melayangkan surat simpati.
  • Dan sebagainya dan sebagainya...
(Simbol) Israel sangat populer di Tolikara? -Foto: Hidayatullah.com

Siapa yang "bermain" dalam tragedi ini?
  • ...
  • ...
  • Persis tragedi Ambon?
  • Q2.120!

Kami (Muslim) dan Mereka

Kami (Muslim) tidaklah BUTA dan TULI dalam memahami semua ini.
Juga kami tidaklah BISU tapi kami memang tidak mempunyai "media" untuk membela diri dan membela saudara-saudara kami yang tertindas dan teraniaya di negeri ini juga di negeri-negeri sana... Palestina, Irak, Afghanistan, Pakistan, Mesir, Suriah, Yaman, Libya, Sudan, China (Xinjiang), Myanmar (Rohingya) dst...
Kami tidaklah tertipu tapi mereka-lah yang telah TERTIPU oleh kehidupan dunia ini. 

Dunia memang SURGA bagi mereka dan PENJARA bagi kami.
Kami bukan tidak ingin "memiliki" dunia tapi kami tidak ingin tertipu olehnya.
Konon! Mereka telah terbebas dari dosa dan mendapat jaminan syurga yang AGUNG, tapi mengapa mereka masih tetap saja "menginginkan" dunia yang HINA ini (Aneh???) sehingga tak sedikit dari hak kami di dunia ini mereka ambil, rampas dan rampok. 

Biarlah Allah azza wajalla saja yang menjadi penolong dan pelindung kami. Dan kami tidak pernah kecewa dengan pertolongan dan perlindungan-Nya.

►Q61.8. "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya."

►►Q3.186. “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar (melihat) dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu berSHABAR dan berTAQWA, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

Sambut Rabbi Zionis-Israel, GIDI Tolikara Paksa Warga Cat Rumah dan Kios dengan Bendera Israel atau Didenda 500 Ribu

Eramuslim.com – Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) mengenakan sanksi denda Rp 500 ribu bagi warga Tolikara jika tidak mengecat kediamannya dengan bendera Israel.

“Kami didenda Rp 500 ribu jika tidak cat kios, itu kami punya kios,” kata seorang pedagang asal Bone, Agil Paweloi (34), saat ditemui Republika di tempat pengungsian di Tolikara, Papua, Jumat (24/7) dini hari.

Agil menuturkan pengecatan ruko, rumah, dan trotoar jalan diwajibkan dengan warna biru dan putih. Dalam kegiatan itu, lanjutnya, pihak GIDI menjelaskan kepada warga bahwa instruksi pengecatan tersebut dalam rangka menyambut kedatangan pendeta dari Israel.

Berdasarkan spanduk yang dipampang di halaman kantor Pusat GIDI di Jayapura, acara seminar KKR Internasional DIGI yang berlangsung pada 15 Juli-19 Juli di Kabupaten Tolikara dihadiri pendeta asal Israel, yakni Benjamin Berger.

Tidak hanya penduduk Muslim, seluruh masyarakat Tolikara ikut diwajibkan mengecat rumah mereka dengan warna bendera Israel. Pantauan Republika ruas jalan dan ruko-ruko pedagang dicat berwarna biru putih. “Saya ikut cat saja daripada harus bayar Rp 500 ribu,” ujarnya.(rz/republika)

MUI Sulut Benarkan Ada Teror Kepala Babi di Lahan Pembangunan Masjid

Eramuslim.com – Wakil Ketua MUI Sulawesi Utara, Taufik Pasiak membenarkan adanya peristiwa penanaman kepala babi di lokasi pembangunan masjid di kota Bitung, Sulawesi Utara.

“Peristiwa terjadi beberapa waktu yang lalu berkaitan dengan pendirian masjid. Ada pihak yang kita tidak tahu siapa dan dari pihak mana yang kemudian melakukan teror atau intimidasi dengan cara itu,” kata Taufik Pasiak kepada ROL, Senin (20/7).

Taufik mengungkap, penemuan kepala babi di lokasi pembangunan masjid terjadi sekitar seminggu yang lalu, Sabtu (11/7). Kejadian bermula saat ada rencana pendirian masjid di satu tempat.

Menurut informasi yang didapatnya, pendirian masjid itu sudah memenuhi unsur-unsur yang disyaratkan, kecuali adanya satu dua pihak yang merasa tidak sepakat dengan pendirian masjid,

Taufik mengakui sempat ada penolakan-penolakan dari pihak tertentu. Kemudian, diberikanlah intimidasi dengan penanaman kepala babi di lokasi pembangunan sehingga masjid tidak bisa dibangun. Masyarakat akhirnya melaporkan peristiwa itu ke pihak kepolisian.

Menurut Taufik, akibat peristiwa itu sempat muncul ketegangan. Karena itu, kata Taufik, diadakan pertemuan dengan kelompok Muslim di Bitung, serta Kapolda dan Gubernur Sulut di Manado.

“Ketegangan ini sudah cukup lama berlangsung di daerah Bitung. Mungkin karena situasi negara yang sedang mengalami hal seperti ini di Papua, jadi tensinya agak sedikit naik. Tapi, sejak kemarin sampai hari ini situasi sudah kondusif. Sudah ada upaya dari pihak pemerintah dan masyarakat untuk meredam,” tegas Taufik.(rz/ROL)

12.7.15

PBB Cemaskan Nasib Muslim Uighur yang Dikembalikan ke Cina

Eramuslim.com – PBB mengkhawatirkan nasib lebih 100 Muslim Uighur yang dideportasi Thailand ke Tiongkok, dan menyeru Beijing untuk memastikan keselamatan mereka.

Rupert Colville, dari Komisi Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (UNHRC), dalam konferensi pers di Jenewa mengatakan prihatin atas masa depan 109 — termasuk 20 Muslimah Uighur — yang dipaksa kembali ke Tiongkok oleh pemerintah Thailand.

Kami menyeru pemerintah Tiongkok memastikan mereka diperlakukan layaknya manusia,” ujar Colville.

Sebanyak 109 Muslim Uighur itu adalah bagian dari 350 yang ditahan di berbagai fasilitas penahanan imigrasi Thailand sejak 2014.

Mereka ditangkap ketika mencoba melakukan perjalanan ke Turki. Ankara membuka pintu untuk mereka, tapi hanya 172 yang diijinkan mencapai Turki pada akhir Juni 2015.

Kuat dugaan Beijing akan membantai, atau setidaknya mengintimidasi, mereka habis-habisan karena mencoba lari dari penindasan di Tiongkok.

Saat ini sekitar 60 orang masih berada di tahanan imigrasi di Thailand, dengan nasib belum jelas. Beijing menghendaki mereka juga dipulangkan. Turki berusaha mendapatkan mereka.

Kami juga mendesak Thailand memantau kepulangan mereka ke Tiongkok, untuk memastikan semua diperlakukan sesuai standar hak asasi manusia internasional,” kata Colville.

Populasi Muslim Uighur di Turkestan Timur mencapai 45 persen. Beijing berusaha mendepopulasi mereka, dengan mengerahkan pemukim dari Suku Han.

Beijing juga menindas mereka secara budaya dan agama, dengan melarang Muslim Uighur berpuasa saat ramadan, mengenakan janggut, dan berpakaian seperti Muslim.(rz)

26.6.15

Inilah 5 Unsur Tindakan Disebut Gerakan Genoside

Seorang pria berjalan di sisa bagian masjid yang dibakar di Kota Meiktila, bagian tengah Myanmar usah kerusuhan tahun 2013
Hidayatullah.com– Komisioner Subkomisi Pemantauan dan Penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Dr. Manager Nasution MA, menyatakan bahwa ada lima unsur, suatu tindakan itu bisa dikatakan sebagai gerakan genoside.

“Pertama, apakah ada pembunuhan. Kedua, apakah ada penderitaan fisik atau mental yang cukup berat. Ketiga, apakah negara membuat situasi pembiaran kepada warganya. Keempat, apakah negara membatasi batasan kelahiran secara paksa. Dan kelima, pemindahan anak-anak dari satu tempat ke tempat lain secara paksa,” papar Manager saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema “Nasib Pengungsi Rohingya di Aceh dan Solusinya” di Restoran Bumbu Desa, Jalan Cikini Raya No.72 Jakarta, Rabu (24/06/2015) sore.

Manager mengatakan bahwa komnas HAM sedang mengkaji tindakan yang dilakukan pemerintah Myanmar dan Ashin Wirathu, apakah bisa dinilai sebagai sebuah gerakan genoside atau tidak. Sebab, komnas HAM memiliki domain untuk menilai dan memberikan rekomendasi mengenai hal itu.

Selain itu, lanjut Manager, komnas HAM juga akan memanfaatkan status Indonesia yang dianggap sebagai kakak tertua di wilayah negara-negara ASEAN.

Kita tahu Indonesia dianggap sebagai kakak tertua di ASEAN, maka apa yang dilakukan pemerintah Indonesia tentu akan sangat dipertimbangkan oleh negara-negara ASEAN,” imbuh Manager.

Maka, menurut Manager, dengan keuntungan hubungan sejarah (sebagai kakak tertua di wilayah ASEAN,red) itulah, komnas HAM akan mendorong pemerintah Indonesia untuk memaksa Myanmar supaya menghentikan kejahatan kemanusiaan, menyelesaikan persoalan internal, dan meminta pemerintah Myanmar mempertimbangkan kasus Ashin Wirathu yang secara terbuka dinilai melakukan gerakan genoside.

Kita akan terus meningkatkan dukungan kepada pemerintah Indonesia untuk mendesak Myanmar menyelesaikan masalah pengungsi Rohingya. Masalah terhadap muslim Rohinya ini harus segera diselesaikan, sebab jika tidak cepat selesai justru akan mempengaruhi kondisi di Indonesia dan negara lainnya yang terkenan dampaknya,” pungkas Manager.*

24.6.15

CINAisasi, Naga Gantikan Garuda di Logo HUT Jakarta 488

JAKARTA (voa-islam.com) - Haiyyaaa, logo HUT Jakarta 488 kini tak lagi menggambarkan elang bondol, elang berwarna coklat dan berkepala putih di Kepulauan Seribu, yang oleh Gubernur Ali Sadikin telah ditetapkan sebagai maskot DKI Jakarta.

Kini, di usia Jakarta 488 tahun dibawah pimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kepala naga telah 'sah' dan dilegalkan menggantikan posisi Elang Bondol bahkan Garuda, dalam logo ulang tahun ibukota Jakarta tersebut.

Elang bondol sebelumnya digunakan sebagai simbol Jakarta dan nampak dalam logo angkutan Busway Transjakrta, namun kini Chinaisasi menjadi gamblang dengan disahkannya secara resmi gambar Kepala Naga sebagai logo HUT DKI ke 488 ini.

Lihat saja tanggapan Seknas Boemi Poetera yang juga ikut angkat bicara soal logo yang ditanggapi masyarakat. "Efek kepala naga (logo HUT ke-488 DKI) itu tidak main-main. Mesti segera disikapi, karena menyangkut sejarah dan falsafah bangsa kita," ulas Sekretaris Nasional (Seknas) Serikat Boemi Poetera, Ir. H. Abdullah Rasyid, ME., di Jakarta, Selasa (23/6/2015).

Seperti diketahui, Pemprov DKI meluncurkan logo yang menunjukkan usia Kota Jakarta saat ini, berikut gambaran dinamika dan visi pembangunannya. Gambar Kepala Naga diposisikan memuncaki logo tersebut sekaligus seakan menggantikan posisi Garuda.

"Ini bukan kebetulan! Kepala Naga memang dipersiapkan untuk mengubur semangat, bahkan falsafah yang diwariskan pendiri bangsa kita," ungkap Rasyid. Untuk itu dia mempertanyakan kesengajaan Pemrov DKI Jakarta menghilangkan simbol Garuda dan mengganti dengan Kepala Naga.

Tokoh muda asal Kota Medan ini pun menegaskan, tidak ada korelasi sama sekali antara "Kepala Naga" dengan Republik Indonesia. Sementara, sebagai ibukota negara, DKI Jakarta merupakan simbol kedaulatan dan wajah bangsa.

"Coba kita renungkan, apa jadinya bila Kepala Naga terus-terusan ditonjolkan di Jakarta? Akan jadi apa Burung Garuda lambang negara kita?" sentak Rasyid bernada tinggi, sembari mengingatkan Ahok bahwa Partai Gerindra -yang mengusungnya dalam Pilkada DKI- juga berlambang Garuda.

Andai pun Ahok berdalih bahwa maskot Jakarta bukanlah Garuda, lanjut Rasyid, tetaplah Kepala Naga tidak pantas menjadi ornamen pada logo dimaksud. Akan lebih tepat bila posisi itu ditempati Elang Bondol, elang berwarna coklat dan berkepala putih di Kepulauan Seribu, yang oleh Gubernur Ali Sadikin telah ditetapkan sebagai maskot DKI.

Lebih jauh Rasyid mengingatkan, logo HUT ke-488 DKI telah menunjukkan siapa sebenarnya sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dia sendiri telah merekam berbagai fenomena yang mengiringi kemunculan Ahok hingga menjadi pengendali Ibukota.

"Sejak dirinya berproses menjadi Bupati Belitung, hingga sekarang Gubernur DKI, ada sebuah sistem dengan kekuatan yang tidak alamiah ikut menopangnya. Mudah-mudahan kita semua segera tersadar dan terus merapatkan barisan," tukas Rasyid. [ris/rojul/teropongsenayan]

23.6.15

TERORISME adalah

Sebuah Niat, sebuah Makar, sebuah AWAL...

Sesuatu "harus dibuat dan harus dilakukan" untuk lebih "mempertegas" sehingga "keputusan" bisa dibuat...
Sebuah Fitnah Akbar(?) yang melibatkan hampir seluruh manusia di atas muka bumi ini...

Sebuah "konspirasi", siapa yang "nyerang" dan siapa yang "diserang"...
Perkataan George W. Bush pasca (Fitnah Akbar) serangan WTC 911:
"...Menjauh dari semua kesalahan, semua bangsa dan semua wilayah, kini ada keputusan untuk dibuat, kalian bersama KAMI atau kalian bersama TERORIS?"
WTC 911 Part #1


WTC 911 Part #2


Dari tayangan video di atas, jelas sudah siapa yang dimaksud KAMI dan siapa yang diposisikan sebagai TERORIS "musuh bersama" oleh George W. Bush...


Follower...
"We get big bucks!"



Sebuah Ilustrasi..?
Kafirun yang telah tertipu, "tahu percis dan memperolok!"
Munafikun: "Wah... kesempatan nih!"  
Fasiqun: tidak (mau) tahu dan turut tertipu...


Cara Densus88 dalam menjalankan "proyek" GWOT:
  • "Pemerintah" mempunyai INTEL di akun-akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau akun (account) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita-cita mati syahid atau yang sering memposting berita berita jihad.
  • Setelah target ditemukan maka akun intel DENSUS88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi, maka mereka akan memulai bertanya-tanya berada dimana alamat rumahnya sambil diiringi perbincangan tentang penegakan syariat di indonesia kalau semua lancar maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia.
  • Bagi yang akunnya sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya, si intel akan langsung menjadikan dia target dengan mengutus orang yang mengaku sebagai "perindu syahid".
  • Setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban DENSUS88 ini akan langsung diberi latihan militer, atau langsung dipersenjatai.
  • Setelah itu calon korban ini di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi DENSUS88 untuk menyerbu (kita tahu, rata-rata semua penyergapan TERORIS adalah rumah kontrakan)
  • Setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan-bahan peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan, biasanya intel-intel tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom (namun bagi DENSUS88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya).
  • Perlu diketahui bahwa para calon korban ini diberi senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama (agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru DENSUS88 bisa langsung menembak mati korban dengan alasan melakukan perlawanan saat mau ditangkap.
  • Setelah semua siap maka akan terjadilah DRAMA penggerebekan TERORIS, dan akan di siarkan biasanya secara LIVE di tv nasional yang sudah diberi tahu sebelumnya.
  • Saat penggrebekan terjadi, biasanya akan terjadi kontak senjata, itu dikarenakan sang calon korban ini sudah didoktrin untuk membenci Pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama DENSUS88 sehingga saat mereka tahu bahwa yang datang densus88 para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan DENSUS88 adalah mati syahid.
  • Perlu diketahui bahwa yang direkrut para intel ini adalah anak-anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita-cita mati syahid, namun tanpa sadar mereka telah dikelabui untuk menjadi "tumbal" DENSUS88 agar terus exist selain itu juga sebagai cara untuk meminimalisir para pejuang khilafah di indonesia.
  • Anggota/Regu DENSUS 88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan "skenario" ini, untuk menjaga kerahasiaan operasi, mereka hanya tahu bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris atau jaringan Al-Qaida.
  • Si korban akan langsung ditembak mati di tempat tanpa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya. Adapun yang tertangkap masih hidup, mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar kalau yang merekrut mereka ini adalah intel DENSUS88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid (Red-mujahidin buatan densus).

Selain untuk memandulkan pergerakan para aktivis dakwah Islam dan jihad fi sabilillah, menurut Mbai, kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), penggerebekan "Operasi Tangkap Mati" teroris adalah berita seksi yang digunakan untuk mengalihkan isu yang sedang berkembang. Penggerebekan terduga teroris sudah di setup sejak lama (baca: dijebak, didanai, disulut semangatnya, dan diprovokasi untuk membuat makar, lalu akhirnya ditangkap) dan eksekusinya tinggal menunggu moment (baca: order) yang tepat.


Terkait...

The REAL TERRORISM?


WHAT'S WRONG WITH ISLAM? 
International...
[HATE!] ROHINGYA...
mirip BOSNIA, AMBON, POSO dan...

Di "MEDIA"? 
...tidak ada informasi kecuali "sebaliknya"!
it's not just oil...
National...
  • Penghapusan kalimat "kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" dalam rumusan Dasar Negara... Indonesia Sekuler
  • "Isu" DI TII
  • Upaya pendistorsian jejak-jejak sejarah perjuangan para pahalawan dan ulama Muslim dalam perjuangan melawan PENJAJAH dan pergerakan kemerdekaan Indonesia.
  • Nasib umat Islam di tangan Jendral-jendral "nasionalis" pada masa ORBA... Tragedi Cicendo Bandung, Tanjung Priuk...
  • "Kasus Jilbab" jadi masalah serius di tahun 80-an. Larangan pemakain jilbab bagi siswi-siswi di sekolah-sekolah negeri. 
  • Upaya pengkerdilan dan pengkotak-kotakan Al Islam sehingga i s l a m tidak sampai menjadi ISLAM di NKRI ini.
  • Interferensi partai penguasa pada masa ORBA terhadap Islam yang melahirkan "kotak" baru dalam Islam...
    Interferensi "Beringin Kuning"
  • Interferensi intelijen terhadap Islam yang menghasilkan lembaga pendidikan "Islam" (pesantren) versi mereka...
    Islam di mata mereka: "(tidak) Toleran dan (tidak) Damai"
  • Tragedi Ambon, Poso...
  • Pencitraan Islam di media-media nasional(is)...
  • ...


Ayeuna...
...tidaklah sama orang yang "buta"
dengan orang yang melihat!
  • BE SMART..! Jangan terpancing apalagi sampai turut tertipu!
  • "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu" (Q2.120)
  • "Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, pasti akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar" (Q8.73)
  • "Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya" (Q3.54)
  • "Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai"(Q9.32)
  • Shabar dan atau Syukur! ...Hanya ada 2 pilihan bagi kita yang dianggap "teroris".
  • Syurga ada harganya! ...“Neraka itu dihijab (dikelilingi) dengan syahwat, sedangkan Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan (dibenci)” (HR Bukhari) 
  • Bahagia tidak bisa diukur dengan materi...
  • ... 
  • KITA SEDANG MENEMPUH TAQDIR (NIAT) MASING-MASING YANG TELAH ALLAH AZZA WA JALLA -SANG PENCIPTA KEHIDUPAN TETAPKAN... Sang Pencipta Kehidupan: "...kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka!"

Wallahu 'alamu! 

SUMBER