Showing posts with label Animasi. Show all posts
Showing posts with label Animasi. Show all posts

28.9.12

Makin Banyak Warga Amerika Tak Percaya Media Massa

Hidayatullah.com--Jajak pendapat yang dilakukan oleh Gallup dan dirilis pada hari Jumat kemarin (21/9/2012) cukup mengejutkan, sebab di Amerika Serikat ketidakkepercayaan orang terhadap media semakin parah, lansir Russia Today.

Berdasarkan jajak pendapat Gallup itu diketahui lebih dari separuh orang Amerika (60 persen) sedikit sekali sampai tidak percaya sama sekali dengan media arus utama.

Pollster dan Gallup menanyai orang Amerika tentang tanggapan mereka atas media massa secara rutin sejak tahun 1990an. Dari analisa data yang mereka dapat dalam dua puluh tahun ini, ternyata masyarakat Amerika yang tidak percaya kepada media massa semakin banyak.

Di tahun 1997 saat pertama kali Gallup menanyai hal yang sama, warga yang tidak percaya media massa arus utama (mainstream) jumlahnya 46 persen. Sedangkan yang percaya atau sangat percaya, ketika itu, mencapai 53 persen.
Sekarang, orang Amerika yang percaya media massa arus utama hanya 40 persen. Sedangkan tahun 2011 kemarin 44 persen, atau lebih tinggi 4 persen dari tahun sekarang.

Hasil jajak pendapat Gallup ini sejalan dengan hasil jajak pendapat yang dilakukan Public Policy Polling untuk Daily Kos dan SEIU belum lama ini. Saat ditanya suka atau tidak suka dengan media politik, sebanyak 78 persen mengatakan sangat bosan sekali dengan jurnalis politik.

Puluhan tahun lalu, media di Amerika Serikat masih dihargai tinggi oleh warganya. Tahun 1970an orang Amerika yang mempercayai media Amerika sebagai sumber berita mereka mencapai 72 persen.

Gallup melakukan jajak pendapat itu pada tanggal 6-9 September 2012 dengan responden acak sebanyak 1.017 orang dewasa dari Amerika Serikat, dengan margin of error 4 persen.*

Yeah but this won't be a problem right. Right!

Sepuluh Ironi Demokrasi


Oleh: Ali Akbar bin Agil

BELAKANGAN ini umat Islam tersulut perasaan iman dan kehormatannya setelah sejumlah orang-orang licik yang tak bertanggungjawab mefilmkan sosok sakral di hatinya, Nabi Muhammad SAW. Belum reda permasalahan ini kini muncul karikatur Nabi di sebuah tabloid asal negeri anggur, Prancis.

Sam Bacile, pembuat film “Innocence of Muslim”, menggambarkan Nabi Muhammad sebagai orang yang haus seks dan pengidap pedofilia. Setelah kontroversi film, hinaan datang dari majalah Charlie Hebdo yang memuat kartun Nabi Muhammad. Bahkan redaktur majalah tersebut berjanji akan terus mengolok-olok Nabi Muhammad hingga suatu saat menjadi suatu yang lumrah seperti diolok-oloknya Yesus atau Paus.

Sejauh ini, sudah hampir 50 orang tewas di seluruh Negara Muslim dalam demo menentang penghinaan atas sosok Nabi. Setiap orang yang masih berada dalam koridor iman wajar apabila marah dan tidak bisa menerima begitu saja sikap yang sangat menyayat hati ini. Dengan dalih demokrasi, kebebasan berekspresi, kebebasan mengeluarkan pendapat dan suara, mereka mati-matian dengan gigih dan kuat pula membela sikap nyinyirnya.

Direktur Penerbit Imtiyaz Surabaya, Rijal Mumazziq Zionis, menulis dalam akun Facebook-nya, “Di Stadion, jika kita meneriakkan suara monyet saat Didier Drogba, Michael Essien dan Eric Abidal menggiring bola, kita akan dihukum karena rasisme! Jika Youssi Benayun menggiring bola dan kita teriakkan Fucking Jewish, kita ditangkap para Steward, diserahkan ke polisi atas tuduhan anti-semit! Tapi jika memparodikan sosok suci dalam sebuah agama, itu namanya “kebebasan berekspresi.””

Demokrasi telah menjadi dewa yang diagungkan. Dengannya, seseorang, sekelompok, atau sebuah negara, boleh-boleh saja mencaci, memaki, menjatuhkan harkat dan martabat. Atas namanya, kebenaran dan kebebasan berekspresi telah termanipulasi.

Betapa demokrasi menjadi senjata ampuh untuk dapat menjatuhkan martabat seorang tokoh dunia yang diakui jasanya dalam perdamaian dunia, tanpa mau mendengar dan mengerti perasaan umatnya. Itulah demokrasi yang konon menjadi sistem terbaik di dunia ini. Padahal, demokrasi merupakan produk pemikiran manusia yang nisbi.

Demokrasi hanya menjadi hiasan bibir semata untuk kepentingan politik dan syahwat ekonomi segelintir negara.

Mereka berteriak demokrasi dengan suara lantang dan menggelegar saat melihat kepentingannya terganggu. Tapi mereka diam seribu bahasa pada saat mereka mengenyahkan umat Islam di Afghanistan, Iraq, Somalia, Bosnia, atas nama demokrasi.

Mereka berkoar-berkoar dengan mulut berbusa bahwa Demokrasi menjamin kesetaraan dan keadilan namun tidak menghargai keyakinan Muslimah dalam mengenakan jilbab, sesuai kewajiban dari agamanya. Demokrasi menginjak-injak fitrah manusia dengan melegalkan perkawinan sesama laki dan perempuan, lokalisasi pelacuran, perjudian, dan mengahalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Bagi negara Barat, demokrasi yang benar adalah demokrasi yang sesuai penafsiran mereka. Karikatur Nabi boleh beredar dengan UU produk manusia di Prancis, namun mereka dengan sigap menjerat setiap orang yang menyoal masalah pembantaian orang Yahudi.

Demokrasi hanya ironi yang menjadi senjata untuk menerkam dan dan menginjak-injak umat Islam. Kalangan penggiat demokarasi bersama-sama dengan penganut sekularisme, liberalisme, dan neokomunisme, menjadikan konsep demokrasi sebagai hammer untuk menggebuk umat Islam.

Bagi Habib Rizieq, Islam dan demokrasi seperti minyak dan air, bagai langit dan bumi, dua hal yang tidak akan mungkin dapat disatukan. Setidaknya ada 10 perbedaan paling prinsip antara sistem Islam dan demokrasi, kata Habib Rizieq dalam karyanya Hancurkan "Liberalisme Tegakkan Syariat Islam" (2011 : 153 -155).

Pertama, sistem Islam bersumber dari Allah Dzat yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-Nya dan keburukan yang bisa menimpanya.

Sementara sistem demokrasi tak lain merupakan produk karya manusia yang sangat lemah dan penuh dengan kesalahan dan kekurangan.

Kedua, demokrasi menjadikan meniscayakan suara terbanyak sebagai hukum, adapun Islam meniscayakan pelaksanaan syariat Islam dengan panduan Al-Qur`an dan Sunnah.

Ketiga, demokrasi memisahkan antara agama dan Negara sementara dalam Islam tidak ada pemisahan antara keduanya.

Keempat, standar kebenaran dalam Islam memakai patokan syariat, beda dengan demokrasi yang menjadikan hawa nafsu manusia dan akal pendeknya sebagai ukurannya.

Kelima, dalam Islam suara yang diambil sebagai pandangan dan masukan lahir dari orang-orang pilihan yang memiliki integritas dan moral bermutu, namun ia tetap menjadi suara manusia bukan suara Tuhan. Dalam demokrasi, suara yang diambil bisa dari mana saja: pahlawan atau pecundang, ulama atau preman, orang awam atau alim, suara mereka sama, dan semuanya dianggap sebagai “suara tuhan.”

Keenam, sisitem demokrasi dapat melahirkan undang-undang halalisasi perkara yang haram dan haramisasi hal yang halal. Beda halnya dengan Islam yang tetap memastikan sesuatu yang haram dan halal tetap berlaku sebagaimana mestinya.

Ketujuh, system telah teruji oleh sejarah sejak masa Nabi Adam, sementara demokrasi baru muncul di abad 17 pasca Revolusi Prancis tahun 1789. Meski datang belakangan dan menjadi sistem yang dianggap paling unggul saat ini, justeru demokrasi semakin menampakkan kelemahan, ketidakadilan, dan kebobrokannya.

Kedelapan, jika ada persamaa antara sistem Islam dan demokrasi, seperti diklaim oleh beberapa pihak, maka hal tersebut tak lain merupakan imitasi dari sistem Islam, sebab system Islam semakin menemukan bentuk sempurnanya di masa kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. dan bukan sebaliknya.

Kesembilan, sistem Islam menjadi sistem yang mengantarkan umat kepada kebaikan dan kesejahteraan, seperti tertera dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 110. Bagaimana dengan demokrasi? Sampai detik ini tak pernah berhasil menjadi sistem terbaik, malah makin terkuak bobrok dan rusaknya.

Kesepuluh, menegakkan system kehidupan berlandaskan Islam merupakan kewajiban agama, sehingga mendapat pahala dan berkah bagi yang melaksanakannya, dan mendatangkan dosa dan murka bagi yang meninggalkannya. Adapun demokrasi tidak termasuk dalam kewajiban agama, bahkan bisa menjerumuskan kepada dosa dan mendatangkan bencana karena banyaknya pertentangangan dengan Islam.*/Penulis adalah Tenaga Edukatif di Pesantren Darut Tauhid Malang

16.9.12

Real VOA (Voice of America) _part S2.








Gambars dari banoosh.com

Lebih dari Seperlima Anak Amerika Hidup Miskin

Hidayatullah.com—Amerika Serikat, negara maju yang mengklaim dirinya sebagai negara adidaya, ternyata menyimpan borok kemiskinan, yang jumlahnya di luar perkiraan para pakar.

Berdasarkan analisa data statistik yang dirilis pekan lalu, diketahui bahwa lebih dari satu dari setiap lima anak di Amerika Serikat hidup dalam kemiskinan.

Para pakar demografi mengkaji angka-angka pada laporan Biro Sensus AS tahun 2011 dan mendapati bahwa kondisi perekonomian negara adidaya itu lebih buruk daripada yang diperkirakan para pakar sebelumnya. Dimana tingkat pengangguran dan kemiskinan di kalangan warga AS masih tetap tinggi.

Julie Zaebst, manajer kebijakan di Greater Philadelphia Coalition Against Hunger, mengatakan kepada Philly Inquirer bahwa angka warga miskin masih tetap berada di level yang tinggi. “Meskipun ekonomi mengalami pemulihan,” kata Zaebst.

Ironisnya, sementara rakyat miskin menderita, kondisi orang-orang kaya di Amerika Serikat lebih baik dari sebelumnya.

Sebanyak 40 persen rakyat kelas bawah tidak mengalami peningkatan pendapatan pada tahun 2011, dibanding satu tahun sebelumnya. Sedangkan orang kaya yang jumlahnya hanya 1 persen dari populasi AS pendapatannya naik 6 persen. Hal ini tentu menambah kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Berdasarkan data terakhir itu, orang muda di AS adalah kelompok yang paling menderita, sementara orang dewasa yang hidup di bawah garis kemiskinan mencapai angka yang cukup signifikan. Jumlah anak-anak yang hidup di bawah garis kemiskinan mencapai 21,9 persen atau lebih dari satu orang dari setiap lima anak Amerika, atau lebih dari seperlima. Sementara orang dewasa di atas 65 tahun yang hidup miskin mencapai 8,7 persen.

Kondisi rata-rata keluarga Amerika berdasarkan data tahun 2011 itu tidak lebih baik dari tahun 2010, bahkan median pendapatan per keluarga 1,5 persen dibanding 2010.

“Tidak diragukan lagi, terkait sejarah panjang kemiskinan sejak kita mulai mengukurnya, ini adalah angka yang sangat buruk,” kata Gary Burtless dari Brooking Institute kepada Kansas City Star.

“Orang bisa bisa mengatakan tidak makan beberapa hari dalam satu bulan, atau hanya makan sedikit dalam satu pekan. Saya tidak pungkiri itu,” imbuh Burtless.

Hanya beberapa hari lalu, Departemen Pertanian AS mengkonfirmasi bahwa rakyat Amerika berjuang mengatasi kelaparan pada tahun 2011 lebih banyak 1,3 juta lebih dibanding tahun 2010. Demikian dilansir Russia Today, Jumat (14/9/2012).*


Jangan dibaca!
Sama dengan di Indonesia, yang kaya makin kaya yang miskin... hasil dari perpaduan yang sempurna antara Demokrasi dan Kapitalisme.

Dalam system Demokrasi, si kaya (kapitalis) dengan kekuatan modalnya bisa dengan leluasa mengontrol dan mengatur setiap lini di negeri yang berdemokrasi ini dari aparat, birokrasi dst.

Kontrol dalam system Demokrasi


1.1.09

Klipingku...


Assalamu'alaikum wr wb,

Sering saya mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi ataupun data yang secara online tidak atau belum bisa diperoleh. Kalaupun mendapati data yang kira-kira saya butuhkan itupun berupa lembaran-lembaran halaman koran ataupun majalah, dan saya simpan di lemari. Alhamdulillah baru kefikiran sekarang untuk men-scan saja lembaran-lembaran tersebut dan kemudian saya simpan secara online sehingga setiap saat dan waktu kala saya butuh data atau informasi tersebut bisa saya buka dengan mudah...


...Terminal Animasi!

GIF Files...




























































JPG & PNG Files..