Showing posts with label Holocaust. Show all posts
Showing posts with label Holocaust. Show all posts

17.11.15

Berpendapat Holocaust Tidak Ada, Nenek Usia 87 Tahun Ini Dibui

Menurut wanita tua itu Holocaust adalah kebohongan terbesar dalam sejarah

Hidayatullah.com—Berpendapat bahwa peristiwa Holocaust –pembantaian orang-orang Yahudi di Jerman– itu tidak ada, seorang nenek berusia 87 tahun dihukum penjara selama 10 bulan oleh sebuah pengadilan di kota Hamburg, Jerman.

Dilansir Deutsche Welle Jumat (13/11/2015), Ursula Haverbeck mengatakan dalam persidangan hari Kamis lalu bahwa kamp konsentrasi yang menurut cerita menjadi tempat pembantaian 1,25 juta penghuni penjara antara tahun 1940 dan 1945 hanyalah “sekedar kepercayaan saja”, bukan kejadian nyata.

Wanita tua yang dijuluki media di Jerman dengan “Nazi-Oma” (nenek Nazi) itu kabarnya sebelum ini telah memiliki catatan kriminal berupa dua denda, serta hukuman percobaan dalam kasus hasutan untuk memberontak melawan pemerintah.

Warga kota Vlotho, sebelah barat Jerman, itu pernah menjabat sebagai ketua sebuah pusat pelatihan kelompok kanan-jauh, yang ditutup tahun 2008 karena dituduh menyebarkan propaganda Nazi.

Nenek Haverbeck diciduk aparat dan diajukan ke meja hijau setelah pada bulan April lalu mengatakan bahwa “Holocaust adalah kebohongan terbesar dan yang paling lama berkelanjutan (dipercayai, red) dalam sejarah.” Hal itu dikatakannya saat berunjuk rasa di luar gedung pengadilan di mana mantan anggota pasukan elit Nazi Oskar Groning, 94, diadili.

Ya, memang benar saya mengatakan hal itu,” kata Haverbeck di depan persidangannya tanpa menunjukkan rasa penyesalan. Wanita itu kemudian menantang pengadilan untuk membuktikan bahwa Auschwitz benar-benar sebuah kamp kematian.

Menanggapi pernyataan Haverbeck, hakim Bjoern Joensson berkata, “Tak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak dapat menerima fakta.

Tak perlu bagi saya untuk membuktikan kepadamu bahwa bumi itu bulat,” kata hakim menambahkan.

Hakim Joensson berpendapat wanita itu menghabiskan umurnya untuk menyebarkan omong kosong.

Para aktivis kanan-jauh yang berbondong-bondong datang hari Kamis lalu, untuk memberikan dukungan kepada nenek Haverbeck, menuntut agar mereka diperbolehkan masuk ke ruang persidangan.

Ketika Haverbeck digiring keluar usai menjalani sidang, mereka memberikan tepukan tangan sebagai dukungan kepada wanita tua itu.

Meskipun banyak orang Eropa yang meyakini isu Holocaust hanyalah taktik dari orang-orang Yahudi agar mendapatkan kompensasi perang (mendapat "tanah" di Palestina, ted), sejumlah negara Eropa memiliki peraturan perundangan yang mengkriminalkan orang-orang yang berpendapat bahwa Holocaust itu tidak pernah terjadi, sementara pada saat yang sama pemerintah mereka mengklaim negaranya mengakui kebebasan berpendapat dan berekspresi.*

28.10.15

Benyamin Netanyahu Pidato Kontroversial, Sudutkan Muslim Terlibat Holocaust

Hidayatullah.com–Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memancing kontroversi hari Rabu (21/10/2015), beberapa jam sebelum mengunjungi Jerman, dengan mengatakan mantan syeikh Muslim di Yerussalem, kota yang kini dicaplok Israel meyakinkan Hitler untuk memusnahkan orang Yahudi.

Dalam sebuah pidato yang disampaikan kepada “Kongres Zionis ke 37” pada Selasa, Netanyahu menyebutkan sejumlah serangan yang dilakukan kaum Muslim terhadap orang Yahudi di Palestina selama tahun 1920-an, yang ia sebut akibat hasutan Mufti Yerusalem, Haji Amin Al-Husseini.

Menurut Netanyahu, Husseini terbang ke Berlin untuk mengunjungi Hitler pada tahun 1941 dan dalam pertemuan tersebut mempengaruhi keputusan pemimpin Nazi itu untuk meluncurkan kampanye pemusnahan kaum Yahudi.

“Hitler tidak mau menghabisi Yahudi saat itu, (melainkan) ia ingin mengusir Yahudi, dan Haji Amin Al-Husseini mendatangi Hitler dan bilang, ‘Jika kau mengusir mereka, mereka semua akan datang ke sini.’

“Jadi apa yang harus kulakukan terhadap mereka?” ucap Netanyahu menirukan ucapan Hitler ke mufti yang kemudian menjawab, “Bakar mereka,” ujarnya dikutip Reuters.

Netanyahu, yang ayahnya dikenal ahli sejarah terkemuka, dengan cepat mendapat serangan kalangan politisi oposisi dan para ahli sejarah Holocaust yang menyatakan ia telah mendistorsi sejarah.

Para pakar holocaust ini mencatat pertemuan antara Husseini dan Hitler terjadi pada 28 November 1941.

Dua tahun sebelumnya, pada Januari 1939, Hitler telah menyampaikan keinginannya untuk memusnahkan ras Yahudi pada Reichstag (parlemen Nazi Jerman).

Pejabat Palestina mengatakan Netanyahu terlihat melepaskan Hitler dari tuduhan pembunuhan 6 juta Yahudi untuk menaruh kesalahan kepada umat Muslim. Twitter pun dipenuhi gelombang kritik.

“Hari yang menyedihkan dalam sejarah ketika pemimpin pemerintah Israel sangat membenci tetangganya sampai ia berkeinginan membebaskan dari tuduhan atas penjahat perang paling terkenal dalam sejarah, Adolf Hitler, pada pembunuhan 6 juta orang Yahudi,” kata Sekretaris Umum Palestine Liberation Organisation Saeb Erekat.

“Netanyahu harus berhenti memanfaatkan tragedi kemanusiaan imi untuk mencetak poin bagi akhir politiknya,” ucap Erekat, kepala negosiator Palestina dengan Israel.

Sementara Menteri Pertahanan Israel, Moshe Yaalon, mengatakan si Perdana Menteri itu telah salah paham.

“Sebenarnya memang bukan (Husseini) yang menemukan ‘Solusi Terakhir’,” kata Yaalon kepada Radio Israel. “Itu adalah gagasan kejam Hitler sendiri.”

Tidak jelas sumber mana yang diandalkan Netanyahu terhadap tanggapannya. Sebuah buku yang terbit pada tahun 1947 “The Mufti of Jerusalem” dan sebuah laporan koran jaman itu mengatakan mantan wakil Hitler memberikan kesaksian pada pengadilan kejahatan perang Nuremberg bahwa Husseini telah menyusun rencana dengan pemimpin Nazi untuk membersihkan Eropa dari kaum Yahudi.

Husseini dituduh atas kejahatan perang tapi tak pernah muncul dalam proses pengadilan dan kemudian ia meninggal di Kairo.

Dina Porat, professor di Tel Aviv University dan kepala sejarawan Yad Vashem mengatakan, bahwa mufti yang disebut pertama kali oleh Hitler atas ide untuk membunuh dan membakar orang Yahudi itu tidak benar.

“Ide untuk menyingkirkan Yahudi dari dunia adalah tema utama ideologi Hitler, jauh sebelum ia bertemu dengan mufti,” ujarnya kepada Radio Israel.

Porat dan yang lainnya menekankan bahwa pembunuhan orang-orang Yahudi dimulai sejak Juni 1941. Meski si mufti ingin “Solusi Terakhir” itu diperluas, dia bukanlah orang yang pertama menggagas ide tersebut.

“Tapi, menurut pendapat saya, mengatakan bahwa mufti tersebut yang memberikan idenya kepada Hitler adalah salah,” tambah Porat.*


Jerman Sangkal Netanyahu: “Kejahatan Holocoust Murni Tanggungjawab Kami!

Eramuslim.com – Pemerintah Jerman pada hari Rabu (21/10) mengatakan bahwa tanggung jawab kejahatan Holocaust yang dilakukan Nazi menjadi tanggung jawab di pundak Jerman.

Sebelumnya PM Zionis Benjamin Netanyahu menuduh bahwa mendiang mantan Mufti al Quds Haji Amin Husaini adalah yang bertanggung jawab atas peristiwa Holocaust dan mengatakan bahwa Amin Husaini adalah orang yang meyakinkan pemimpin Nazi Adolf Hilter untuk membersihkan Yahudi.

Jurubicara Pemerintah Jerman, Steffen Seibert, mengatakan bahwa semua orang Jerman tahu sejarah kejahatan pembersihan etnis yang dilakukan oleh orang-orang Nazi dan yang menyebabkan disintegrasi peradaban, yaitu Holocaust Nazi.

Pejabat Jerman ini berpendapat, tidak ada alasan untuk merubah pandangan orang Jerman terhadap sejatah ini dengan cara apapun. Dia mengakui bahwa tanggung jawab kejahatan kemanusiaan ini adalah tanggunng jawab Jerman. Jadi, apa yang dikatakan Netanyahu tidak berdasar sama sekali. (ts/infopalestina)

5.9.14

Data yang Tidak Boleh Dilupakan... Eropa dan Kemal Attarturk: "Hancurkan Setiap Aktifitas yang Inginkan Khilafah Islam!"

TURKI adalah “The sick man” (Lelaki yang sakit), demikianlah gambaran yang kami pelajari di sekolah dahulu. Dan Eropa hendak membagi-bagi warisan “the sick man” dengan maksud menampakkan kelemahan Islam.

Turki yang mewakili kebesaran Islam digambarkan oleh mereka sebagai sosok yang rapuh bagaikan laki-laki yang sakit. Pada saat itu Mustapha Kamal menjadi salah seorang panglima pasukan Turki di di Palestina. Dia mengadakan persekongkolan dengan Allenby, panglima pasukan Inggris. Allenby menawarkan misi rahasia kepada Attaturk yaitu ”Jika kamu mau membantu kami memukul mundur pasukan turki, maka akan kami serahkan Turki kepadamu sesudah negara tersebut kami kalahkan."

Dan sungguh Mustafa Kamal membuka pintu masuk Palestina kepada tentara Inggris yang dipimpin Allenby masuk melalui daerah penjagaannya. Lalu dengan mudah pasukan Allenby menggempur pertahanan belakang pasukan keempat Turki. Dan Pada tanggal 17 September 1917M mereka dapat memasuki kota Al Quds. Dalam pertempuran tersebut mereka berhasil menawan 100.000 tentara turki. Maka setelah kemenangan Allenby , ia berkata dengan puas, ”sekarang berakhir perang salib.”

Inggris benar-benar menepati janjinya kepada Mustafa Khamal. Sesudah Turki jatuh dan tentara Sekutu berhasil menguasai Istambul, Inggris menyerahkan turki kepada Musthafa Kamal, melalui perundingan “Luzon” antara kedua belah pihak yang berlangsung selama 3 bulan sejak November 1922 sd Februari 1923.Pihak Inggris diwakili oleh Lord Ccrizon Menteri Luar Negeri sedangkan dari pihak turki adalah Ismail Inonu pembantu Musthafa Kamal.

Ada empat syarat yang diajukan pihak Inggris kepada wakil Turki dalam perundingan ini:
  1. Harus bersedia menjatuhkan khilafah.
  2. Usaha apapun yang bermaksud menegakkan kembali Khilafah harus ditumpas
  3. Harus bersedia mengambil undang-undang eropa untuk menggantikan undang-undang Islam
  4. Harus bersedia memerangi syiar-syiar Islam
Ismat Inonu menanda tanganinya dan kemudian Inggris menyerahkan turki kepada musthafa Kamal. Musthafa Kamal seterusnya berhasil menjadi presiden Turki. Lalu dia menjalankan persyaratan yang diajukan oleh Inggris kepadanya. Tak ragu lagi tokoh pengkhianat ini “membabat “ Islam dengan melarang penduduk turki mengenakan pakaian muslim di pasar-pasar, para polisi merobek-robek baju Muslim yang dikenakan rakyat turki dan melepas paksa burdah yang dikenakan wanita muslim. Melarang percakapan,membaca dan menulis dalam bahasa arab, melarang warga Turki pergi haji dan umrah ke Makkah, melarang para pegawai pemerintah melaksanakan sholat berjamaah, merubah mesjid Aya Shofia masjid terbesasr dan terindah di turki menjadi gedung Museum , memaksa penduduk turki memakai topi ala eropa dan melarang memakai tarbusyi (songkok) dan surban turki, melarang pemakaian hithah dan ighal jenis ikat kepala yang menjadi ciri bangsa Arab.

Selain kerusakan besar yang dbuat Musthafa tersebut seperti di atas..maka Inggris membuat berbagai sandiwara perang yang menaikkan nama Musthafa Kamal dimana ia diposisikan sebagai penyelamat bagi bangsa Turki. Bersama pasukannya menggempur tentara Yunani. Tentara sekutu diam dan tidak mengeluarkan reaksi apapun. Jadi nyatalah bahwa ini hanya sandiwara belaka.

Musthafa Kamal tampil bak’ pahlawan, ia berhasil membuat rakyatnya menganggap ia sukses memukul mundur musuh yang hendak melakukan agresi ke wilayah Turki. Setelah khilafah jatuh pada tanggal 3 Maret 1942 M, orang-orang eropa mengatakan, ”Ada satu masalah penting yang tidak mungkin kami diamkan dan abaikan dalam kondisi yang bagaimanapun jua. Yakni upaya kaum musllimin menegakkan kembali kekhilafan Islam. Rintisan apapun atau kelompok manapun yang mengajak umat Islam untuk menegakkan kembali kekhilafahan Islam di permukaan bumi harus ditumpas habis..!" (Lr/beberapa sumber)

14.7.14

Pembantaian Kristen terhadap Kaum Muslimin yang Mengerikan

Mirip di Ambon, Poso, Bosnia, Palestina dan... dan...
Isunya menebar kasih. Propagandanya mengajak pada cinta. Namun pada kenyataannya, ajaran Kristen yang telah lama disesatkan Yahudi ini, lebih sering mengajarkan kebencian bahkan pembantaian. Korbannya, siapa lagi kalau bukan kaum muslimin.

Seakan memanfaatkan kondisi umat Islam yang tengah lemah tak berdaya, semua bangsa dari kulit putih hingga kulit hitam, dari mata biru hingga mata sipit, seakan tak kenal lelah membunuhi umat Islam satu persatu. Mereka tahu, Mesir yang akan menjadi embrio khilafah dengan kebangkitan Ikhwanul Muslimin, sekarang telah punah setelah agen-agen Freemasonry Internasional dan anggota Zionis menguasai Mesir kembali. Saudi, Negara-negara Teluk, Malasyia, Indonesia sibuk dengan agenda-agenda korupsi. Di sisi lain, umat Islam di negeri-negeri damai dicekoki ajaran toleransi, HAM, namun umat Islam dibiarkan tidak boleh berkuasa.

Tengoklah tragedi pembantaian muslim Afrika. Di tengah hari cinta kasih yang mereka propagandakan, setelah direstui pihak gereja dan diizinkan militer serta kepolisian Afrika Tengah, kaum Kristen membunuhi satu persatu umat Islam. Pertanyaannya, apa gerangan yang akan terjadi jika ada seorang Kristen mati oleh seorang muslim? Dunia akan heboh! Gereja akan mendentingkan lonceng-lonceng emergensi. AS-Eropa akan menyerang secara militer, bahkan paling minimal melakukan embargo.

Di titik ini, saya kebingungan bila masih ada da'i yang mempermasalahkan Pemilu demokrasi, apalagi mengajak umat untuk Golput dan menyerahkan tampuk kekuasaan kepada non Islam. Alasannya, partai-partai Islam (PBB-PKS-PPP) memiliki caleg non Islam, lalu percuma umat memilih juga. Suatu pemahaman yang absurd dan tidak mendasarkan pada kajian realitas (fiqh waqi'). Memang ada caleg non Islam dalam tubuh partai Islam, namun mereka tunduk pada kebijakan partai Islam. Lain halnya dengan partai-partai yang jelas sekuler. Mereka sangat dominan bahkan menjadi pengurus teras dan donatur partai-partai.

Saya yakin berdasarkan Al-Qur'an surat Al-Baqarah 120, pembantaian umat Islam di Indonesia oleh minoritas Syi'ah-Ahmadiyah-Kristen tinggal menunggu waktu. Saat umat Islam tak lagi berdaya, dan kekuasaan ekonomi-sosial-politik dikuasai penguasa Non Islam cs. Maka umat Islam siap-siap digorok, dibakar, dikubur hidup-hidup. Semua asset akan disita dan direbut. Saat itu, kita akan mengungsi kemana? Maka Pemilu 2014, umat Islam harus bangkit. Pilih partai Islam (PKS-PBB-PPP). Bila ada yang salah, awasi dan ingatkan bersama-sama. Jangan hanya marah-marah di belakang. Lalu putus asa dan mengajak umat Islam untuk Golput!

Komentaku (Mahrus Ali): 

Solusinya hanya pada ayat ini:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya..." (QS An Anfal 60)

Mereka itu takut mati dan senang hidup di dunia sebagaimana ayat:

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ 

"Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan" (QS Al Baqarah 96)

Jangan jadi teroris, itu upaya peorangan bukan upaya rakyat banyak yang mukminin, boleh ditiru upaya mujahidin syiria yang mukmin untuk menegakkan sariat dan meruntuhkan hukum warisan penjajah, untuk kemakmuran bangsa di bawah naungan hukum Allah bukan penderitaan mereka terus di bawah naungan hukum kufur. Hal ini juga untuk membentuk pejabat yang amanah takut kapada Allah bukan aparat yang penghianat dan berani pada Allah.

http://mantankyainu.blogspot.com/2014/02/pembantaian-muslimin-yang-mengerikan.html

4.3.14

Dr. Raghib As-Sirjani: Jangan Sembarangan Baca Buku Sejarah!

Lihat dulu siapa penulisnya. Kalau penulis baru, ditanyakan apakah orang tersebut punya kapasitas menulis sejarah.

Hidayatullah.com– Cendekiawan dan penulis buku-buku terkenal asal Mesir Dr. Raghib As-Sirjani mewanti-wanti umat Islam agar tak sembarangan membaca buku sejarah. Sebab, telah terjadi distorsi sejarah umat Islam melalui buku-buku.

Imbauan ini disampaikan Raghib dalam acara talk show “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia” gelaran penerbit Pustaka Al-Kautsar di panggung utama 13th Islamic Book Fair (IBF) 2014/1435 H, Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (1/3/2014).

Di antara pengrusakan sejarah Islam tersebut, menurutnya, misalnya banyak cerita dusta tentang Aisyah radhiallahu’anha.

Diperlukan cara yang tepat menghadapi pengrusakan tersebut. As-Sirjani melontarkan tiga cara, pertama, menanamkan pentingnya penulisan sejarah.

Kedua, kita jangan membaca sembarangan kitab sejarah, tapi lihat dulu siapa penulisnya. Kalau penulis lama oke lah kita bisa mengetahui. Adapun kalau penulis baru, kita tanyakan apakah orang tersebut punya kapasitas,” pesan As-Sirjani di depan pengunjung IBF, melalui penerjemahnya Abduh Zulfidar Akaha, Lc.

Ketiga, dibutuhkan orang-orang yang khusu dalam sejarah Islam. Inilah, menurut As-Sirjani, yang merupakan semacam kesalahan ulama zaman dulu dimana mereka kurang mengasah para pemuda-pemudi untuk menulis sejarah.

As-Sirjani pun mempersilahkan para hadirin menunjungi website islamicstory.com. Di situs tersebut ditulis sejarah-sejarah berdasarkan sumber yang sudah diteliti.

Dalam dialog salah seorang hadirin bertanya, apa penyebab kemunduran umat Islam pada masa lampau. As-Sirjani menjawab, penyebabnya karena semangat berislam kaum Muslimin pada masa itu menurun.

As-Sirjani mengatakan, ketika Barat menjajah negara-negara Islam, yang dicuri tidak hanya kekayaan alam dan sejenisnya. Tetapi, mereka juga mengubah cara berpikir umat Islam saat itu. Sehingga, ketika umat Islam hendak maju, justru meniru tata-cara Barat.

As-Sirjani juga mencaritakan cerita-cerita tentang penjajahan Barat terhadap umat Islam, di mana mereka membumihanguskan perpustakaan Islam. Oleh karena itu, imbuhnya, umat Islam saat ini harus bangkit.

Kita harus kembali pada al-Qur’an dan Sunnah, kembali semangat menuntut ilmu. Kita tidak akan baik kecuali dengan cara orang generasi pertama menjadi baik,” pesan As-Sirjani.*


Resensi Buku: Sejarah Selalu Dibuat Sesuai Keinginan Penguasa, Inilah Untold History-nya

Ketika Gajah Mada Menyerbu pulau – pulau di seantero Nusantara, maka oleh para penguasa negeri ini yang memang selalu dari jawa, dia disebut sebagai pemersatu bangsa. Padahal dalam kacamata orang melayu, kalimantan, dan celebes, dia dianggap sebagai agressor.

Atau siapa sesungguhnya Fatahillah? tepatkah dia disebut sebagai pahlawannya orang betawi, padahal saat menyerbu Batavia, dia bersama pasukannya membumihanguskan kampung asli warga betawi hingga orang orang Betawi mengungsi ke daerah pedalaman. Sisa dakwah Fatahillah di betawi pun tidak pernah berhasil ditemukan.

Tahukah Anda jika jenderal Sudirman selalu mengutip ayat ayat jihad dalam tiap surat perintahnya? Tahukah Anda jika Aceh telah berdaulat sebagai satu negara jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia ini lahir? Tahukah Anda jika CIA belepotan darah dalam peristiwa 1 Oktober 1965? Tahukah Anda jika Jenderal Suharto membangun Orde Baru di atas genangan darah jutaan rakyat Indonesia, tanpa diprotes sebagai pelanggaran HAM oleh Barat? Tahukah Anda kenapa negeri yang kaya raya ini bisa menjadi miskin dan diambang kehancuran seperti sekarang ini?

Sejarah yang sejak kita duduk di bangku sekolah hingga hari ini ternyata masih banyak yang merupakan He-Story, alias penuturan para pemenang, bukan History atau Sejarah itu sendiri. Gerakan reformasi pun tidak pernah menyentuh barang sedikitpun penulisan sejarah yang sama sekali tidak adil ini. Lantas, bagaimanakah kita, umat Islam, harus bersikap?

No ISBN: 9-771978-509703
Isi: 123 Halaman (Full Color)
Ukuran: 17,5 x 25,5cm
Penerbit: Eramuslim
Berat: 350 gr
Harga Awal: Rp50.000
Harga Diskon: Rp40.000
Pembelian lebih dari 10 eksemplar, harga satuan menjadi Rp30.000
Untuk pemesanan hubungi atau sms ke: 085811922988 email: marketing@eramuslim.com

28.4.13

Kasus Bom Boston Semakin Aneh, Banyak Kepalsuan dan Kebohongan FBI Mulai Terungkap

Ibu Tsarnaev bersaudara, Zubeidat Tsarnaeva, mengidentifikasi orang yang terekam dalam sebuah video penangkapan polisi AS sebagai anak sulungnya, Tamerlan Tsarnaev, laporan CNN.

Video itu jelas menunjukkan bagaimana seorang pemuda, yang ditelanjangi, dimasukkan ke mobil polisi, lansir KC pada Jumat (26/4/2013).

Banyak blogger yang memposting video ini bertanya: “Mengapa Tamerlan Tsarnaev dibunuh setelah ia ditangkap dan sudah berada di tangan polisi?

Sementara itu, pemerintah AS berusaha untuk mengklaim bahwa pemuda yang terlihat dalam video itu bukan Tamerlan, tetapi orang lain yang ditangkap, tapi kemudian dibebaskan lagi.

Namun, Zubeidat dengan yakin membantah klaim pemerintah tersebut. Ia meyakini bahwa pemuda itu adalah anaknya, “Anak saya ada di video itu. Ia masih hidup. Apa yang mereka lakukan padanya setelah itu!

KC menyajikan wawancara sebuah koran Rusia, Izvestia, kepada Zubeidat Tsarnaeva:

- Perwakilan badan-badan intelijen AS mengunjungi Dagestan, informasi apa yang mereka coba dapatkan dari Anda?
Itu hanya interogasi biasa. Kalian tahu, ibu dan anak… dalam hal apapun, ada hubungan, sehingga mereka ingin tahu apa yang ia lakukan, ke mana ia pergi, di mana dan apa yang ia katakan, dll. Mereka ingin mengetahui informasi tersebut.
- Apakah mereka berperilaku baik kepada Anda?
Mereka sangat rapi, sangat baik, sangat sopan, sangat simpatik. Saya tidak mengeluh tentang sikap mereka terhadap saya.
- Anda memiliki dua paspor dan kewarganegaraan ganda. Apakah sekarang Anda tidak takut untuk pergi ke Amerika?
Saya tidak takut akan apa pun. Mereka merenggut nyawa salah satu putra saya, putra kedua saya di rumah sakit – tidak diketahui apakah ia selamat atau tidak. Mengapa saya harus takut? Apa yang akan mereka lakukan – membunuh saya? Biarkan mereka membunuh saya! Dan untuk apa mereka ingin membunuh saya – karena saya telah kehilangan dua anak saya? Karena fakta bahwa mereka telah melarang saya menemui dua anak saya? Dzhokhar, Insya Allah, akan hidup. Apakah ia sehat, saya ragu. Tapi Tamerlan sudah pergi, Kalian tahu. Jika mereka mencurigainya mengenai sesuatu, mereka bisa saja menangkapnya hidup-hidup, mengapa harus menembak mereka?
- Sebuah klip di mana orang yang mirip seperti Tamerlan dimasukkan ke dalam mobil polisi, dari mana asalnya?
Ini bukan hanya satu klip, ada beberapa. Dan dalam sekejap, beberapa “menghilang”. Tapi kami menyimpannya, kami sempat menyimpan dua diantaranya, karena kami menyadari bahwa semuanya bisa dihilangkan. Mereka mencoba untuk membuktikan kepada saya bahwa itu bukan Tamerlan. Tapi saya ibunya. Seorang ibu tidak bisa tertipu! Siapapun bisa ditipu, tetapi seorang ibu tidak.

Saya mengenal anak-anak saya, saya tahu tubuh anak saya, saya tahu setiap titik pada tubuh anak saya. Yang ada di video, itu Tamerlan. Ia dipindahkan dari satu mobil dan dimasukkan ke mobil yang lain, begitulah. Saya hanya mendengar teriakan: Angkat tangan! – Keluar dengan angkat tangan! Dan berjalan seperti ini… telanjang! Tidak ada sabuk peledak yang ia kenakan, seperti yang mereka klaim.

Setelah mereka mengumumkan bahwa mereka telah membunuh seorang “teroris”, mereka menunjukkan jasadnya. Saya melihat dan meyakininya, itu anak saya, ia masih hidup sebelumnya dan ditangkap dengan telanjang! Pemuda itu, saya yakini adalah anak saya! Apakah Kalian mengerti?
- Dan apa yang FBI katakan tentang video ini?
Mereka tidak mengatakan apa-apa. Orang-orang yang mendatangi kami, mereka tidak mengatakan apa-apa, mereka datang dari kedutaan Moskow. Tetapi mereka yang di Amerika, mereka mengatakan itu bukan Tamerlan…

Pada hari berikutnya saya melihat foto jasad orang yang mereka bunuh di koran, saya langsung tahu bahwa itu adalah anak saya yang masih hidup pada saat penangkapannya. Permainan apa ini? Apakah anak-anak saya terlibat dalam pemboman? Dalam permainan apa? Dalam jenis kekotoran apa? Dalam pertunjukan apa?
- Dan paman, yang tinggal di Amerika, ia datang untuk mengidentifikasi tubuh Tamerlan
Paman pergi ke sana, tapi tanpa istri atau orang tuanya, mereka tidak menyerahkan jenazahnya. Untuk mengidentifikasi jasadnya – bukanlah masalah. Siapapun bisa! Ini bukanlah hal sulit atau ia bukanlah anak laki-laki biasa. Ia seperti Hercules – ia memiliki tubuh seperti itu. Dan tidak mungkin sulit untuk mengidentifikasi dirinya diantara ribuan atau jutaan tubuh lainnya!
- Jasad siapa kemudian yang diperlihatkan? Dan di mana Tamerlan?
Jadi saya katakan kepada kalian, itu adalah tubuh yang sama, itu adalah tubuhnya. Pada satu hari anak saya masih hidup, dan pada hari berikutnya saya melihat lubang-lubang pada tubuhnya! Itu adalah jasad anak saya!
- Dan mereka menulis bahwa ia mengenakan sabuk bom …

Mereka menulis bahwa ia memiliki sebuah sabuk [bom], tetapi mereka tidak repot-repot membuat “sabuk” itu sendiri untuk membenarkan apa yang mereka tulis. Ketika anak saya ditangkap, apakah ia mengenakan sabuk [bom]? Tidak. Saya hanya ingin tahu siapa yang membuat lelucon itu, dan mengapa? Jika ia terlibat dalam “serangan teroris”, jika ia tewas dalam tembak-menembak, ia seharusnya telah mati. Ia tidak akan mungkin dipindahkan dari satu mobil ke mobil yang lain. Mengapa ia kemudian dimasukkan dari satu mobil ke mobil lain, kan? Mengapa, kemudian, hal ini terjadi? Dimana logikanya?

- Mungkin seseorang harus cepat menutup kasus pemboman Boston dan menemukan penyebabnya
Dan mereka lakukannya. Saya selalu berpikir bahwa anak-anak saya akan aman di Amerika. Tetapi negara itu menjadi negara di mana anak saya tewas. Saya ingin tahu apa yang terjadi.
(arrahmah/eramuslim/Dz)

Ibrah dari Kisah Yusuf AS, Fakta itu Bisa Dibuat dan Dipalsukan, Masih Percaya Amerika dan Medianya?

Para Nabi, sejak Nabi Adam as. sampai Nabi dan Rasul terakhir yang diutus Allah swt kepada umat manusia, yakni Nabi Muhammad saw, perilaku Nabi dan Rasul tersebut merupakan suri tauladan yang mesti dijadikan panutan bagi setiap insan manusia.

Terlebih lagi bagi umat islam, kisah dan perjalanan para Nabi dan Rosul yang diutus Allah swt ke muka bumi merupakan ibroh (pelajaran) yang sangat penting untuk dijadikan pegangan hidup, agar dalam menjalani kehidupan didunia ini, bisa selaras dengan apa yang sudah Allah swt perintahkan. Baik ibroh dari segi kehidupan para Nabi dan Rosul, maupun ibroh dari segi amaliyah peribadatannya kepada Allah swt.

Meskipun dalam Al Qur’an disebutkan bahwasanya suri tauladan yang sangat ditekankan oleh Allah untuk umat islam contoh itu adalah kisah hidup Nabi Ibrohim as. dan Nabi Muhammad saw, akan tetapi hal itu bukanlah menjadi penghalang dan alasan untuk manusia tidak melihat bagaimana kisah hidup Nabi dan Rosul lainnya, agar bisa kita ambil ibrohnya.

Salah satu Nabi yang patut kita jadikan ibroh dan contoh untuk kita ikuti didalam menjalankan kehidupan yaitu kisah hidup Nabi Yusuf as. Cerita hidup Nabi Yusuf as. yang paling masyhur (terkenal) dan sering di ingat oleh khalayak umum biasanya kisah dimana Nabi Yusuf as. digoda oleh Zulaikha, istrinya Raja Mesir bernama Qithfir.

Tetapi, sebetulnya ada salah satu kisah hidup Nabi Yusuf as. yang harusnya juga kita ambil ibroh, dan hal ini seakan-akan dilupakan oleh umat islam. Kisah itu adalah ketika Nabi Yusuf as. hendak dibuang dan di masukkan kedalam sumur oleh saudara-saudaranya. Dan kisah ini, kemudian diabadikan oleh Allah swt didalam Al Qur’an surat Yusuf (surat ke-12 di dalam Al Qur’an) ayat 7 sampai 19.

Kisah hidup Nabi Yusuf as. yang seharusnya bisa dijadikan ibroh bagi kaum muslimin yaitu ketika Nabi Yusuf as. akan dibuang dan bahkan diantara saudaranya ada yang berniat untuk membunuhnya. Sebuah ibroh yang jika dilihat dari waqi’iyah (kondisi) zaman dulu, sebetulnya sangat sesuai dengan realita sekarang ini.

Saat ini, masyarakat dan khususnya umat islam selalu disuguhi dengan “sebuah fakta” dari setiap kejadian yang menimpa umat islam -dalam hal ini yaitu kasus terorisme-, akan tetapi hakikatnya hal tersebut merupakan sebuah fakta yang direkayasa atau dibuat-buat oleh kelompok tertentu yang tidak suka dengan islam.

Kisah tersebut dimulai ketika Nabi Ya’qub as. melihat ada sesuatu yang beda dari diri anaknya yang bernama Yusuf dibandingkan dengan anak-anaknya yang lain. Perbedaan yang dilihat Nabi Ya’qub as. yang merupakan putra dari Nabi Ishaq as. ini pada diri Yusuf yaitu khususnya kebaikan akhlaq yang terpancar pada diri Yusuf. Dari sesuatu yang beda itulah, kemudian menimbulkan rasa cinta dan perlakuan yang istimewa Nabi Ya’qub as. kepada Yusuf.

Dengan perlakuan berbeda yang ditunjukkan Nabi Ya’qub as. kepada Yusuf itulah, akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial dikalangan putra-putra Nabi Ya’qub lainnya. Kecemburuan sosial yang dirasakan anak-anaknya Nabi Ya’qub kepada Yusuf itu yang kemudian menciptakan niat jahat dan tipu daya atau makar anak-anaknya Nabi Yaqub as. kepada Yusuf yang merupakan saudaranya sendiri.

Akhirnya, mereka-pun bermusyawarah dan bersepakat, bagaimana caranya untuk menyingkirkan Yusuf dari kehidupan mereka, agar ayah mereka yakni Nabi Ya’qub as. kembali menyayangi mereka, memberi harta pada mereka, dan memberikan perhatian manis yang dulu pernah diberikan kepada mereka sebelum kehadiran Yusuf.

Diantara mereka (anak-anaknya Nabi Ya’qub as.), kemudian ada yang usul agar Yusuf dibunuh saja, akan tetapi ada pula diantara mereka yang tidak setuju dengan usul tersebut, dan lebih memilih untuk membuang Yusuf ketempat yang jauh yang tujuan utamanya yakni menghindarkan Yusuf dari kehiduoan mereka dan ayah mereka, yakni Nabi Ya’qub as.

Berjalannya waktu, mereka-pun akhirnya dengan mantab dan sesegera mungkin menjalankan “misi dan niat jahatnya” untuk membuang Yusuf. Ketika itu, mereka punya ide atau rencana untuk mengajak Yusuf bermain-main menggembala kambing. Setelah berhasil membujuk Yusuf, mereka lalu meminta ijin kepada Nabi Ya’qub as. untuk mengajak Yusuf bermain dengan mereka.

Meski dalam diri Nabi Ya’qub as. waktu itu ada perasaan khawatir, tapi karena cerdiknya rekayasa dan bujuk rayu anak-anaknya yang meyakinkan itu, akhirnya Nabi Ya’qub as. mengijinkan anak-anaknya untuk mengajak Yusuf bermain bersama mereka.

Itupun hasil rekayasa pula dia (saudara-saudaranya Yusuf-red) kepada ayahnya, meminta ijin untuk bermain menggembalakan kambing-kambingnya, mengajak Yusuf yang masih kecil saat itu. Tentu, orang tuanya juga khawatir, awalnya tidak mengijinkan. Tetapi rekayasa mereka (saudara-saudaranya Yusuf-red), dengan mengatakan kami akan menjaga mati-matian, masak kami sepuluh orang tidak berani kalau mengahadapi binatang buas, itu rekayasa yang mereka buat”, setelah anak-anak Nabi Yaqub as. lainnya berhasil membujuk Yusuf dan meminta ijin kepada Nabi Ya’qub as. untuk mengajak Yusuf bermain, mereka lantas mengerjakan niat jahatnya untuk mencelakai Yusuf dengan cara memasukkannya kedalam sumur.

Dan sesudah dicemplungkan (dimasukkan-red) kedalam sumur, lalu dia menyembelih binatang, bajunya Yusuf itu diolesi dengan bidamin kadzib kalau Al Qur’an menyebutkan, dengan darah palsu, darah binatang. Untuk apa hal itu, untuk merekayasa, sebagai fakta, jadi fakta itu bisa dibuat”.

Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan”.

Makar mereka tidak cukup hanya disitu saja, setelah “sukses” mencelakai Yusuf, mereka-pun harus memutar otak agar ayah mereka (Nabi Ya’qub as.) tidak menyalahkan mereka atas kejahatan yang barusan mereka perbuat. Akhirnya mereka membuat tipu daya lainnya dengan mengatakan bahwa Yusuf telah tewas dimakan binatang buas

Sebagai fakta yang nantinya ditunjukkan kepada ayahnya, bahwa Yusuf benar-benar telah dimakan binatang buas. Lalu dibuatlah, fakta itu, fakta palsu”...

Agar sandiwara mereka seolah-olah itu betul dan benar adanya, kemudian dibumbui-lah kisah tersebut dengan datangnya mereka kepada Nabi Ya’qub as. sambil menangis tersedu-sedu dan dengan membawa baju gamis Yusuf yang sudah dilumuri darah palsu dari binatang yang mereka sembelih.

Dengan pulang dalam keadaan menangis kepada ayahnya, minta maaf. Kalau Yusuf itu menjadi makanan serigala, ini bajunya berdarah-darah. Ketika kami sedang menggembalakan, lalu dia diterkam, ini bekas bajunya berdarah-darah”, jelasnya.

Akan tetapi sebagai utusan Allah, Nabi Ya’qub as. lantas tidak percaya begitu saja dengan apa yang diceritakan anak-anaknya tersebut. Nabi Ya’qub as. tetap menaruh curiga kepada putra-putranya itu, atas “tragedi” yang telah menimpa anak kesayangan Nabi Ya’qub yakni Yusuf.

Orang tuanya, tentu karena ayahnya itu Nabi, nggak mungkin percaya begitu saja kepada fakta yang dibuat-buat, fakta buatan. Yah, akhirnya Nabi Ya’qub berkata; ‘aku akan bersabar dengan musibah ini. Karena dia (Nabi Ya’qub-red) yakin, wamakaruu wamakarallah wallahu khoirul maakiriin...”.

Dari kisah ini tentunya bisa kita ambil ibroh (pelajaran), bahwasanya setiap berita yang datang kepada kita, khususnya bagi umat islam, berita tersebut harus kita filter dan seleksi betul sebelum kita mempercayainya dan kita sebarkan. Sebab, apa yang kita ucapkan itu tentunya akan ada efeknya dikemudian hari, baik kepada diri kita maupun pada orang yang bersangkutan.

Kemudian, ibroh kedua yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Yusuf as. tersebut dan yang menjadi penekanan dari kisah itu adalah, setiap peristiwa atau kejadian yang pada hakikatnya merupakan sebuah kejadian yang benar-benar terjadi, belum tentu alur cerita atau kronologi dari kejadian tersebut itu betul-betul sesuai dengan fakta yang terjadi di TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Sebab, sebagaimana kisah Nabi Yusuf as. seperti diatas, ternyata sebuah kejadian yang sudah terjadi, faktanya bisa saja di buat-buat dan di dramatisir. Bisa saja hal ini bertujuan untuk menutup-nutupi kejadian yang sesungguhnya telah terjadi, atau ada makar atau rencana jahat lainnya yang hendak dijalankan.

Faktanya dalam kisah yang menimpa Nabi Yusuf as. itu, beliau telah dicelakai oleh saudara-saudaranya dengan cara menceburkannya kedalam sumur. Tapi kisah dan “fakta” yang dibeberkan kepada Nabi Yaqub as. itu bahwa Yusuf telah dimakan binatang buas dan bukti dari hal itu yakni baju gamis Yusuf berlumuran darah, meskipun darah tersebut adalah darah binatang, jadi ini sisi Rekayasa atau Dramatisasinya.

Maka, kaum muslimin harus selalu waspada dengan setiap kejadian yang sedang menimpa kaum muslimin, dalam hal ini mungkin saja dalam kasus “terorisme” dan juga kabar yang disajikan oleh orang-orang kafir. Sebab, orang-orang kafir tidak akan pernah berhenti untuk membuat makar kepada kaum muslimin.

Makar itu ada dua, makarnya manusia dan makarnya Allah. Makarnya manusia itu mesti jahat, tetapi makarnya Allah adalah untuk menumpas kejahatan itu dan berujung dengan kebaikan bagi manusia”.

Sedang hangat hangatnya, kita disuguhkan sebuah peristiwa Bom Boston, semua media asing maupun medialokal sebagai Follower-nya di Indonesia memberitakan kisah Bom Boston seirama dengan nyanyian dan dongeng yang dihembuskan oleh media Amerika. Lagi lagi umat Islam tertuduh…

Benarkah kisah yang terjadi sesuai dengan alur cerita yang dihembuskan AS, 2 buah bom meledak dan pada akhirnya mereka menjadi pahlawan karena berhasil meringkus pelakunya dalam waktu cepat, dan pelakunya adalah 2 anak muda, anehnya mereka tidak tertawan dan bisa bicara, ke 2 tersangka tersebut salah satunya tewas terbunuh karena terlindas oleh mobil yang dikemudikan oleh adiknya sendiri, dan yang adiknya tidak bisa bicara karena tenggorokannya di tembak sendiri oleh yang bersangkutan? suatu alasan yang aneh. dan mereka berdua dikaitkan dengan militan Chechnya , yang mereka sebut juga militas Islam itu adalah jaringan Teroris, padahal negeri Chechnya ingin memerdekakan dari kekuasaan Rusia yang kafir, pejuang negara yang dijajah disebut oleh mereka sebagai teroris militan islam…suatu yang tidak masuk di akal, pejuang kemerdekaan disebut sebagai penjahat.

Amerika adalah suatu negeri yang sudah berulang kali mendustai umat islam dan merekayasa opini masyarakat dunia. Tak bisa lagi menyebut satu persatu tragedi yang telah direkayasa , karena sudah terlalu banyak mereka lakukan makar terhadap umat Islam.

Berdasarkan Kisah Yusuf AS, masih percayakah Anda terhadap cerita dan berita yang berasal dari Amerika dan serdadu medianya?

(Waf/FAI/Dz)

11.2.13

Tujuan Akhir Zionisme Mendirikan Kerajaan Daud dan Sulaeman

Koalisi antara fundamentalis sayap kanan di Israel, Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Benyamin Netanyahu dengan Partai Yisrael Beiteneu yang dipimpin Menlu Avigdor Lieberman, serta semakin populernya sayap kanan di mata rakyat Israel, ini menandakan kecenderungan rakyat Israel memiliki pandangan yang sama dengan para pemimpin sayap kanan, yang memiliki cita-cita ingin membangun Israel Raya.

Tak aneh bila Israel terus menolak langkah-langkah perdamaian yang didorong oleh AS, yang sebenarnya sudah sangat menguntungkan bagi kepentingan masa depan Israel. Gagasan dua negara Palestina-Israel, yang digagas oleh AS itu, tak mempengaruhi pemimpin Israel, khususnya sayap kanan, yang sekarang berkuasa. Netanyahu menolak mentah-mentah gagasan dua negara itu. Gagasan dua negara itu, hanyalah akan menjadi malapetaka bagi keamanan Israel.

Hakikatnya politik Zionis itu, tak lain, bangkitnya kembali entitas Yahudi, yang diaspora (terpencar-pencar) di seluruh dunia, dan menyatu kembali ke dalam satu bangsa, dan hidup di tanah yang ‘dijanjikan’, Palestina. Gerakan Zionisme itu meniru gaya penjajahan Barat secara politis. Selama beberapa dekade gerakan Zionisme itu, belajar dan berkhidmat kepada Barat dan mewujudkan kepentingan-kepentingan bersama antara keduanya. Maka, sangatlah wajar, bila sekarang terjadi apa yang disebut dengan ‘mutualisma simbiosa’ antara Zionisme dengan Barat.

Gerakan Zionisme itu mempunyai tujuan akhir yang hendak diwujudkan, dan bukan hanya ingin mendirikan negara Israel Raya, tetapi mempunyai tujuan yang lebih luas diantaranya:
  1. Gerakan Zionisme mempunyai tujuan akhir mendirikan Kerajaan Nabi Dawud dan Sulaiman, yang menjadi sebuah mitos dikalangan masyarakat Yahudi, dan dibangun oleh kalangan Zionis, yang sangat aktif secara politik dan ideologi.
  2. Melakukan penguasaan sumbe daya ekonomi dan sumber daya alam vital guna menunjang gerakan, terutama bagi membangun negara yang menjadi ‘Kerajaan’ Nabi Dawud dan Sulaeman.
  3. Menanamkan doktrin Zionisme kepada seluruh orang-orang Yahudi di seluruh dunia, tentang doktrin tanah yang dijanjikan, Palistina, dan menjadi hak mutlak bagi mereka. Karena itu, tak ada entitas lainnya, yang mempunyai hak hidup di wilayah itu.
  4. Karakter hubungan saling berkaitan antara politik dan ekonomi itu, sudah menjadi ideologi Zionisme yang mapan, dan sangat mempengaruhi dalam setiap gerak dan langkah, yang mereka lakukan. Karena itu, setiap gerakan Zionisme berusaha melakukan penguasaan terhadap setiap pemerintahan di dunia, dan menguasai ekonomi mereka.
  5. Menciptakan langkah-langkah strategis, yang tujuan melemahkan perjuangan bangsa Arab dan Islam dalam menghadapi Zionis-Israel dengan politik adu-domba (divide at impera), dan menanamkan sekulerisme, yang menghilangkan fanatisme terhadap agama (Islam), dan mendorong agar paham pluralisme itu menjadi ideologi. Dengan cara itulah gerakan-gerakan yang menentang Zionisme akan menjadi lemah. Karena masyarakat muslim sudah tidak lagi memiliki keyakinan terhadp agama mereka.
Gerakan Zionisme ini berdiri kokoh diatas landasan yang substansial, bahwa Yahudi itu bukan sekedar konsep agama, melain juga negara yang didukung dengan ideologi menjajah melalui cara penguasaan, baik secara politik, ekonomi, yang ditopang dengan ideologi. Inilah hakekat Zionisme yang ada ini.

Tak bakal lahir Palestina yang merdeka, hanya mengandalkan belas kasihan Israel, seperti apa yang sudah dilakukan Mahmud Abbas dan Organisasi Al-Fatah sekarang, yang benar-benar mengabdi kepada Israel. Tak juga dengan perundingan dan perdamaian yang akan menghasilkan sebuah cita-cita kemerdekaan, karena Israel tak menginginkan Palestina menjadi sebuah entitas politik yang eksis dan berdaulat. Israel hanyalah menginginkan Palestina itu, sebagai sebuah bangsa kelas dua, yang hidupanya tergantung oleh belas kasihan Israel.

Inti sari konsep Zionisme itu, tak lain, adalah sikap panatisme dan ortodok, yang sangat mendalam, yang tidak mungkin akan berubah. Mereka memiliki gambaran yang ideal tentang negara, yang membentang dari Sungi Nil (Mesir) sampai Sungai Eufrat (Irak). Inilah yang menjadi bentuk kerajaan Nabi Dawud dan Sulaimen, di era Benyamin Netanyahu sekarang ini.

Apakah konsep Zionisme yang membangun kerajaan Dawud dan Sulaiman itu sudah terwujud? Secara teritori (wilayah) negara mungkin belum. Tetapi, secara substansi (hakekat), sejatinya negara-negara tetangga Israel itu sudah menjadi wilayah negara Israel. Karena, negara-negara di sekeliling Israel itu, sudah mengabdi kepada kepentingan Israel. Mereka tidak merupakan sebuah negara yang berdaulat yang dapat menentukan kebijakannya secara bebas.

Kasus yang sangat kasat mata, seperti ketika Israel menyerang Gaza, tak ada satupun, negara Arab di sekelilingnya yang berani menentang Israel, tapi yang ada justru mereka mendukung tindakan agresi Israel ke wilayah Gaza, yang bertujuan untuk menumpas ‘teroris’ Hamas. Para pemimpin Arab, seperti Presiden Mesir Hosni Mubarak, Raja Arab Saudi Abdullah, Raja Jordania Abullah, dan Presiden Suriah Bashar Assad, dan Presiden Lebanon Rafiq Hariri, mereka membiarkan rakyat Palestina dihancurkan oleh Israel.

Jadi Kerajaan Dawud dan Sulaeman hakikatnya sudah berdiri di tanah Arab, yang membujur dari sungai Nil (Mesir) sampai ke sungai Eufrat (Iraq). Meskipun, wilayah itu masih mempunyai pemerintahan, presiden, raja, tapi semuanya mengabdi kepada Zionis Israel. (m/berbagai sumber)

29.1.13

PBB Tetapkan Hari Peringatan Holokos Internasional

Para pengunjung Yahudi Ultra-Orthodox mengamati bendera Nazi yang dipasang di museum sejarah Holokos Yad Vashem di Yerusalem, 25 Januari 2013 (REUTERS/Amir Cohen). Majelis Umum PBB menetapkan tangal 27 Januari sebagai Hari Peringatan Holokos Internasional.

Majelis Umum PBB telah menetapkan, 27 Januari  – tanggal pembebasan kamp Konsentrasi dan Pembantaian Auschwitz-Birkenau oleh pasukan Soviet pada 1945 – sebagai Hari Peringatan Holokos Internasional.

Dalam sebuah pernyataan pers, Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE), mendesak untuk memperbaharui usaha-usaha memerangi intoleransi dengan menegaskan pentingnya  pendidikan mengenai hak-hak manusia.

OSCE mendesak negara-negara anggota untuk mengembangkan program-program pendidikan yang  menanamkan kenangan holokos pada generasi masa depan untuk mencegah terulangnya aasi genosida.

http://www.voaindonesia.com/content/pbb-tetapkan-hari-peringatan-holokos-internasional/1591735.html


Baca juga:

27.11.12

Yahudi, Bangsa Pelanggar Janji!

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

RABU (21/11/2012) kemarin, menandai Gerakan Perjuangan Islam Harakatul Muqawwamah al-Islamiyyah (Hamas) berhasil membuat ‘takluk’ Zionis-Israel dengan sebuah perjanjian gencatan senhata di Kairo, sesudah perang selama 8 hari yang diawali dengan pembunuhan pemimpin mujahidin Hamas Ahmad al-Ja’bari.

Negosiasi dilaksanakan di Kairo dengan mediasi pemerintahan Mesir dibawah Mursy melahirkan perjanjian yang efektif diberlakukan pada pukul 21 waktu setempat -atau pukul 01 WIB atau Kamis (22/11/2012) WIB.

Di antara teks kesepakatan gencatan senjata tersebut adalah: Pertama; Israel akan menghentikan semua tindakan permusuhan (hostilities) di daratan, laut dan udara Jalur Gaza, termasuk invasi-invasi dan penargetan individu-individunya. Kedua, semua faksi Palestina akan menghentikan semua tindakan permusuhan dari Jalur Gaza terhadap Israel, termasuk serangan roket dan semua serangan di sepanjang perbatasan. Ketiga, adanya pembukaan perbatasan-perbatasan dan difasilitasinya perpindahan/pergerakan orang dan barang dan dihentikannya pembatasan-pembatasan terhadap warga serta pentargetan warga di kawasan perbatasan. Prosedur pelaksanaan (kesepakatan ini) akan dilaksanakan dalam 24 jam sesudah dimulainya gencatan senjata.

Sesungguhnya jika dicermati secara jeli, perjanjian ini secara tidak langsung menunjukkan sudah tidak adanya “blokade” yang selama ini merupakan sangat memberatkan warga Gaza. Hanya saja, apakah kesepakatan seperti ini berlangsung selamanya atau hanya sementara? Masalahnya, sejarah sudah membuktikan, bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang dikenal suka berhianat dan suka mengingkari perjanjian.

Nabinya saja dikhianati.

Beberapa jam adanya perjanjian senjata antara Hamas dengan Zionis-Israel, tentara Israel masih melanggar kesepakatan dengan menembak petani Palestina. Sejatinya tidak ada yang mengherankan. Itulah watak asli Israel alias Yahudi: bangsa yang suka melanggar janji dan mengkhianati kesepakatan. Bahkan kepada nabi mereka, Mūsā, mereka terbiasa mempermainkan perjanjian dengan Allah (Qs. al-Baqarah (2): 62). Kalau bukan karena rahmat Allah atas mereka, niscaya mereka telah binasa (Qs. al-Baqarah (2): 64). Itu sebabnya bangsa Yahudi banyak sekali mendapat siksa, karena cepat sekali mengingkari janji-janjinya kepada Allah. Maka dalam Al-Qur’an mereka dicap sebagai al-maghḍūb ‘alaihim: bangsa dan kaum yang dimurkai oleh Allah. (Lihat, Imam Jalāl al-Dīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn Muḥammad al-Maḥallī & Imam Jalāl al-Dīn ‘Abd al-Raḥmān ibn Abī Bakr al-Suyūṭī, Tafsīr al-Jalālain, ed. Muḥammad Dzulkifli Zain al-Dīn al-Waṭanī (Jakarta: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, 1432 H/2011 M), hlm. 18).

Kejadian yang paling mendalam yang harus dikenang umat Islam sepanjang seajrah adalah kasus di al-Madīnah al-Munawwarah sendiri. Ketika kaum Yahudi melanggar perjanjian yang mereka sepakati dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Di mana mereka dilindungi Rasulullah dan sepakat untuk tidak saling membantu musuh yang akan menyerang kota al-Madīnah. Namun perjanjian itu rupanya dikhianati. Mereka bersekongkol dengan Bangsa Quraisy di Makkah untuk menyerang kota al-Madīnah dan menghancurkan umat Islam dari belakang.

Peristiwa pengkhianatan mereka ini direkam oleh sejarah dalam Perang Khandaq (Perang Aḥzāb), yang terjadi pada tahun ke-5 Hijrah. Perang Aḥzāb ini memberikan pelajaran penting kepada Rasulullah bahwa Bangsa Yahudi sebagai manusia yang tak pernah jujur memegang janji-janjinya kepada sabda nabi Mūsā.

Karena pelanggaran janji itu lah kemudian Rasulullah menghukum mati Bangsa Yahudi laki-laki dewasa, sedangkan anak-anak dan perempuan diusir keluar dari kota al-Madīnah. (Lihat, Syekh Muṣṭafā al-Marāghī, 76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an, Penyunting: Muhammad Thalib (Solo: Pustaka Mantiq, 1991), hlm. 36, 37).

Oleh karenanya, umat Islam harus senantiasa ekstra hati-hati ketika berhadapan dengan Yahudi, bangsa yang suka melanggar janji dan pengkhianat kesepakatan. Dan ini sudah terjadi sepanjang sejarah kehidupan mereka di dunia ini. Dan, sejarah seperti ini terus berulang sampai dunia ini diakhiri oleh Allah swt. dengan kiamat.

Tidak usah dipercaya!

Mantan presiden Amerika, Benyamin Franklin sudah sejak menegaskan meramalkan bahwa bangsa Yahudi tidak layak dipercaya, karena sangat berbahaya. Kata Franklin:
“Di sana ada bahaya besar yang mengancam Amerika. Bahaya itu adalah orang-orang Yahudi. Di bumi mana pun Yahudi itu berdiam, mereka selalu menurunkan tingkat moral kejujuran dalam dunia komersial. Mereka hidup mengisolasi diri dan berusaha mencekik leher keuangan penduduk pribumi, seperti yang terjadi di Portugal dan Spanyol.

Sejak lebih dari 1700 tahun, orang Yahudi mengeluhkan nasib yang mereka alami, karena mereka telah diusir dari bumi pertiwi. Perlu diketahui, wahai saudara sekalian, seandainya dunia berbudaya sekarang memberi mereka tanah Palestina, mereka akan segera mencari berbagai alasan untuk tidak kembali ke sana. Mengapa? Mereka tidak lain adalah binatang vampire (hantu yang mengisap darah manusia).”
Franklin juga menyatakan, “Aku ingatkan Anda sekalian. Kalau Anda tidak menyingkirkan orang Yahudi dari Amerika untuk selamanya, maka anak cucuk dan cicit kalian akan memanggil-manggil nama kalian dari atas liang kubur kalian. Pikiran yang ada di benak orang Yahudi tidak sama seperti yang ada pada orang Amerika. Meskipun mereka hidup bersama kita selama beberapa generasi, mereka tidak akan berubah sebagaimana macan tutul tidak bisa mengubah warna tutul kulitnya. Mereka akan menghapus institusi kita. Oleh karena itu, mereka harus disingkirkan dengan kekuatan konstitusi.” (Kutipan dari ‘Jurnal Charles Pinsky, South Carolina berkenaan dengan Rencana Undang-undang 1789’ mengenai pernyataan Benyamin Franklin tentang imigrasi Yahudi). (Lihat, William G. Car, Yahudi Menggenggam Dunia, Terj. Mustolah Maufur (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993), hlm. 30, 31).

Itu lah karakter Yahudi. Mereka ibarat vampire, pengisap darah manusia. Jika dalam dunia tumbuhan, bangsa Yahudi adalah ‘benalu’: hidup menumpang tapi merusak dan merugikan, bahkan mematikan indung tempat dia tinggal. Dan dalam masalah keamanan mereka ibarat ‘duri dalam daging’. Sementara dalam masalah politik mereka adalah bangsa yang ‘pragmatis’ alias mau menang sendiri. (Mengenai politik pragmatis Israel, lihat Adian Husaini, "Mau Memang Sendiri: Israel Sang Teroris yang Pragmatis?" (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002).

Untuk itu, umat Islam tidak boleh percaya sedikit pun kepada bangsa Yahudi. Apalagi bekerjasama dalam bidang apa pun, tidak boleh terjadi. Bahanya begitu laten dalam politik, ekonomi, kebudayaan, masyarakat maupun militer. (Lihat, Muhsin Anbataani, "Mengapa Kita Tidak Berdamai Saja dengan Yahudi?" Terj. Salim Basyarahil (Jakarta: Gema Insani Press, 1412 H/1991 M). Dan tentunya, pengaruh Israel sangat jelas dalam mind-set dan perusakan worldview (pandangan-hidup), yaitu millah (Qs. 2: 120).

Dapat dibayangkan, Israel yang bukan penduduk asli Palestina saja dapat menjanjang bangsa Palestina. Maka dalih apapun yang digunakan kaum Zionis bahwa Palestina adalah Tanah-Airnya mutlak salah. Sejak purbakala, wilayah Palestina adalah Tanah-Airnya rakyat Filistine, atau bangsa Palestina sekarang.

Dalam puluhan tahun perdebatan di PBB, dalih kaum Zionis Internasional tentang hak-historis atas Palestina berdasarkan Kitab Injil Kuno, sudah terbantah dengan meyakinkan. Prof. Henry Cattan, seorang ahli sejarah dan hukum internasional kelahiran Jerusalem, dalam bukunya "Palestine, the Arabs and Israel: The Search for Justice" (1969), menegaskan secara ilmiah dan objektif, bahwa orang-orang Israel bukan penduduk asli Palestina. Sejak eksodus orang-orang Israel dari Mesir pada abad ke-12 SM, mereka sebenarnya menyebut wilayah Palestina. Kemudian mereka mengembara terus-menerus ke mana-mana, sampai ke abad ke-18 dan 19. Terutama ke Eropa Timur, Eropa Tengah dan Eropa Barat; dan menjadi orang Barat sama sekali. (Lihat, Roeslan Abdulgani, “Kata Pengantar”, dalam Paul Findley, "Mereka Berani Bicara: Menggugat Dominasi Lobi Yahudi", Terj. Hamid Basyaib (Bandung: Mizan, cet. III, 1412 H/1992 M), hlm. 13).

Intinya, kaum Muslimin – bahkan seluruh dunia – tidak pantas untuk percaya kepada bangsa Yahudi. Namun penting pula dicatat bahwa kebohongan dan pengkhiatan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi bukan tanpa dukungan. Lobinya begitu kuat dan berpengaruh di Inggris, Prancis, Amerika Serikat bahkan negara komunis seperti Uni Sovyet. Pengaruhnya juga begitu hebat dalam PBB, FAO, UNESCO, IMF, dan organisasi penting lainnya. (Fuad ibn Sayyid Abdurrahman Ar-Rifa’i, "Yahudi dalam Informasi dan Organisasi", Terj. Moh. Hamdan Usman Abu Fa’iz (Jakarta: Gema Insani Press, cet. II, 1422 H/2002 M).

Penting kiranya kita untuk bercermin kepada sejarah. Sejarah kemanusiaan yang penuh dengan berbagai bentuk pengkhianatan dan pelanggaran bangsa Yahudi. Sejarah yang tidak boleh dilupakan oleh siapa pun yang mengaku beriman kepada Kitabullah, Al-Qur’an. Karena Allah telah mengabarkan di dalamnya bahwa Yahudi memang bangsa pengkhianat dan pelanggar janji. Bukan saja janji kepada manusia, janji mereka kepada Allah pun dikhianati. Fa‘tabirū yā ulil-abṣār!*

Penulis adalah pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara. Penulis buku “Salah Paham tentang Islam: Dialog Teologis Muslim-Kristen di Dunia Maya” (2012)

5.11.12

(Yahudi Zionis) Lebih Parah dari Apartheid

Mantan Tentara Zionis Bicara 
(Yahudi Zionis) Lebih Parah dari Apartheid

Hidayatullah.com—Sebagian Yahudi mengatakan bahwa mereka tidak setuju dengan berdirinya negara Zionis Israel. Alasannya, mereka percaya negara Yahudi hanya akan berdiri jika Messiah telah datang. Namun benarkah klaim itu?

Jika melihat bagaimana kemarahan mereka saat disuruh keluar oleh pemerintah Zionis dari pemukiman Yahudi di Gaza –menjelang diterapkannya blokade atas wilayah pesisir itu– tentu kita tidak akan mudah mempercayai klaim tersebut. Terlebih, seperti telah dikemukakan di awal, upaya mereka untuk menguasai wilayah Palestina sudah dilakukan sejak pemerintahan Islam berkuasa di sana. Dan jika memang mereka tidak menginginkan negara sendiri, tentu orang-orang Yahudi yang menetap di berbagai negara, tidak akan berbondong-bondong mendatangi wilayah Palestina. Dan Yahudi yang tidak pindah ke Israel, tidak akan memberikan dukungan moral dan finansial dari luar negeri.

Meskipun hanya segelintir, ada juga orang Yahudi yang muak dengan apa yang dilakukan oleh saudara Yahudi mereka. Ia menjuluki dirinya sebagai "self-hating Jew", orang Yahudi yang membenci dirinya sendiri. Salah satunya adalah Gilad Atzmon, mantan anggota militer Israel Defence Force (IDF), penulis buku tentang zionisme "The Wandering Who?" (Siapa yang Tersesat?).

Dalam bukunya Atzmon menceritakan, di masa-masa awal kehidupannya ia sangat percaya dengan keunggulan bangsa Yahudi di atas bangsa-bangsa lainnya. Ia percaya bahwa Yahudi memang orang-orang yang terpilih, sama seperti pemikiran kakeknya –yang disebutnya sebagai seorang veteran Zionis teroris– dan Yahudi lainnya.

Ia menganggap orang Palestina, yang mencuci kendaraan, membangun rumah-rumah, menjaga toko dan bahkan membersihkan kotoran orang-orang Yahudi dengan upah minim, meskipun ada namun dianggap tidak ada.

Kecintaannya memainkan alat musik saxophone dan jenis musik jazz, yang umumnya dimainkan oleh orang-orang kulit hitam di Amerika, sedikit banyak membuka matanya akan eksistensi ras selain Yahudi. Perasaan lembut yang terasah oleh jazz itu terbawa hingga Atzmon masuk wajib militer di IDF pada usia 17 tahun.

Saat ditugaskan di Libanon, Atzmon mengamati para tawanan Palestina. Orang-orang itu kelihatan berbeda dengan orang Palestina yang tinggal di Al-Quds. Mereka yang dilihatnya di Ansar, kelihatan marah. Mereka tidak merasa sebagai orang yang kalah, sebab mereka adalah para pejuang kemerdekaan.

Saat melintasi pembatas kawat berduri dengan mengenakan seragam tentara Zionis sambil mengamati para tawanan di kamp konsetrasi itu, tiba-tiba Atzmon merasa seperti seorang Nazi dan para tawanan itu adalah orang Yahudi. Meskipun demikian, perlu waktu bertahun-tahun baginya, untuk menghilangkan pengaruh indoktrinasi Yahudi-sentris yang diterimanya sejak kecil.

Setelah berpikir sekitar 10 tahun, dengan penuh kesadaran pria kelahiran Tel Aviv tahun 1963 itu kemudian pergi menjauhi Israel menuju London untuk kuliah dan berkarir sebagai musisi. Dari sana pula lulusan filsafat itu aktif menulis dan mengkritik zionisme.

Menurut Atzmon, Yahudi dibagi tiga. Pertama, orang-orang yang menganut agama Yahudi. Kedua, mereka yang menganggap dirinya manusia dan kebetulan memiliki darah Yahudi. Ketiga, mereka yang menaruh keyahudiannya di atas semua bangsa dan golongan.

Kelompok pertama dan kedua tidak berbahaya, kata Atzmon. Namun, kelompok ketiga itulah yang sangat merusak. Mereka orang-orang Zionis.

Zionisme bukan sekadar gerakan kolonialisme yang mengincar Palestina, seperti yang dikatakan oleh sejumlah sarjana. Zionisme sebenarnya gerakan global yang dikompori oleh solidaritas kesukuan yang unik.

Orang Yahudi sangat bangga dengan keyahudiannya. Namun, pada saat yang sama mereka akan merasa terhina jika dipanggil dengan sebutan 'Jew'. Istilah Jew (Yahudi dalam bahasa Inggris) kerap dilarang dipergunakan di forum-forum di dunia maya, karena dianggap sebagai istilah tabu.

Israel adalah negara Yahudi. Dan keyahudian mereka adalah ideologi etno-sentris yang didorong oleh ekslusivitas, eksepsionalisme, dan supremasi rasial.

Membela Kepentingan Zionisme

Dari sudut pandang Zionis, tidak ada yang dinamakan Yahudi Kanada atau semisalnya. Yang ada adalah Yahudi yang tinggal di Kanada. Dan tujuan utama zionisme adalah melayani kepentingan negara Yahudi, Israel.

Oleh karena itu, orang-orang Yahudi yang memiliki jabatan tinggi di berbagai negara, seperti Paul Wolfowitz (pernah menjabat Presiden Bank Dunia dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia), Rahm Emmanuel (menjabat Gubernur Chicago dan Kepala Staf Gedung Putih dalam pemerintahan Obama), Lord Levy (politisi Partai Buruh dan menduduki kursi di majelis tinggi parlemen Inggris, teman dekat mantan perdana menteri Tony Blair) dan David Aaronovitch (wartawan, penyiar, penulis dengan segudang pengalaman di berbagai perusahaan media seperti BBC, The Times, Guardian, The Observer, dan lainnya), mereka tetap bertahan di posisi mereka dan tidak pindah ke Israel. Sebab, keberadaan mereka yang dekat dengan pusat kekuasaan di berbagai negara, lebih efektif untuk membela kepentingan zionisme.

Zionis memiliki sifat parasit. Mereka sangat paham bahwa kelangsungan hidupnya tergantung pada kerjasama dengan pihak-pihak yang memiliki kekuatan. Termasuk dengan pemilik tanah yang mereka jajah, tentunya dengan memberikan sedikit bantuan kepada mereka. Israel seperti kanker yang menggerogoti wilayah jajahannya.

Atzmon sepakat dengan Farid Esack, seorang sarjana Afrika Selatan, penulis dan aktivis politik yang dikenal menentang apartheid. Dalam surat terbukanya untuk rakyat Palestina, Esack menulis, "Israel bukan sebuah apartheid, bahkan ia lebih parah dari itu."

Holocaust merupakan "agama baru" yang dilahirkan oleh zionisme, yang kemudian melahirkan "tuhan-tuhan kecil" di kalangan Yahudi. Ada Alan Greenspan yang dianggap sebagai “tuhan perekonomian”, Abe Fox sebagai “tuhan yang memerangi fitnah” atas Yahudi, Milton Friedman “tuhan pasar bebas”, Lord Levy “tuhan yang piawai menggalang dana untuk zionisme”, serta AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) yang merupakan Olimpus-nya Amerika. AIPAC merupakan tempat para pejabat politik yang terpilih di Amerika Serikat meminta belas kasihan, tempat pengampunan para goyim (non-Yahudi) dan juga tempat meminta uang tunai.

Goyim menurut orang Yahudi, adalah orang selain Yahudi yang dilahirkan untuk melayani mereka. Presiden AS Barack Obama, bisa disebut sebagai salah satu contoh goyim yang senantiasa berhubungan erat dengan AIPAC.

Dalam artikelnya berjudul "Zionist Being Swept Away by the Changing Tide", yang membahas tentang meningkatnya kesadaran orang akan bahaya zionisme dan kemarahan orang-orang Yahudi terhadap bukunya "The Wandering Who?", Atzmon mengaku mendapat banyak gangguan dari Zionis. Mulai dari tekanan untuk menarik bukunya, menghambat distribusi hingga membakar bukunya. Bahkan konser musiknya pun berusaha digagalkan.

Namun Atzmon menilai, semakin Zionis menekan dirinya, hal itu menunjukkan kebenaran tulisannya tentang politik zionisme. Dan semakin buruk taktik Zionis, semakin banyak orang yang akan berpihak kepadanya.

Di bagian akhir artikelnya itu, Atzmon menulis, "Cukup sudah. Kami tidak ingin mendengar lagi tentang anti-Semit, holocaust, dan betapa hebatnya penderitaan orang-orang Yahudi. Hal yang seharusnya mendapatkan perhatian adalah masalah Islamophobia dan bencana yang menimpa bangsa Palestina."

28.9.12

Holocaus dan UU Penodaan Agama

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri
Berikut mengenai holocaus (holocaust). Holocaus, mengutip Wikipedia Bahasa Indonesia, didefinisikan sebagai penganiayaan dan pemusnahan (genosida) orang Eropa keturunan Yahudi secara sistematis yang disponsori negara Jerman Nazi dan sekutunya, dipimpin Adolf Hitler, antara 1933-1945. Disebutkan, sekitar enam juta orang Yahudi meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Perinciannya, satu juta anak-anak, dua juta wanita, dan tiga juta laki-laki.

Namun, banyak pihak yang hingga kini masih memperdebatkan, baik jumlah korban tewas maupun definisi dan peristiwa holocaus itu sendiri. Ada yang mengatakan, holocaus seharusnya tidak hanya mengenai bangsa Yahudi, tapi juga bangsa-bangsa lain yang menjadi korban pembunuhan Nazi Hitler. Misalnya, orang-orang Romania, Polandia, Rusia, dan bangsa-bangsa lainnya. Jumlah mereka semuanya diperkirakan mencapai 11 hingga 17 juta jiwa. Mereka tewas dalam kamp-kamp Nazi menjelang dan selama Perang Dunia II.

Pertanyaan lainnya, benarkah Hitler pernah memerintahkan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi itu sendiri. Karena, untuk membunuh massal enam juta orang tentu membutuhkan dana yang sangat besar. Padahal, saat itu Nazi Jermah sedang menghadapi perang besar yang juga membutuhkan biaya sangat besar pula.

Berikutnya, bila benar Hitler menginstruksikan pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang Yahudi, lalu untuk tujuan apa. Adakah orang-orang Yahudi dianggap ancaman besar bagi eksistensi bangsa Nazi Jerman, padahal saat itu mereka tidak mempunyai negara dan apalagi militer yang kuat. Kalau begitu, holocaus itu mitos atau benar-benar ada?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu biarlah para sejarawan yang akan membuktikannya. Yang jelas, holocaus kini telah dimanfaatkan sedemikian rupa oleh bangsa Israel, terutama oleh para tokoh dan pimpinan kaum zionis. Mereka menjadikan tragedi holocaus sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional agar jatuh kasihan dan iba. Bahwa, mereka adalah bangsa yang terzalimi. Bahwa, mereka adalah bangsa yang perlu dibantu dan didukung, termasuk pendirian negara Israel meskipun harus menduduki tanah air bangsa Palestina.

Apa yang saya sampaikan mengenai holocaus di atas sebenarnya bukanlah fokus dari tulisan ini. Yang saya ingin garis bawahi adalah sebegitu besar pengaruh lobi Yahudi sehingga mereka telah berhasil mendesak negara-negara Barat agar mempunyai undang-undang tentang holocaus yang disebut UU Gitto. Yakni, siapa pun yang menolak tragedi holocaus (Holocaust Denial) akan dianggap sebagai anti-Yahudi (anti-Semit) dan akan diganjar dengan hukuman penjara dan denda. Selain AS, minimal 10 negara Eropa kini mempunyai UU tersebut, antara lain Prancis, Polandia, Austria, Swiss, Belgia, Romania, dan Jerman.

Sejumlah ilmuwan, mengutip berbagai sumber, telah menjadi korban dari undang-undang tersebut. Seorang peneliti asal Australia, Fredick Toban, diganjar enam bulan penjara ketika menolak peristiwa holocaus. Kata Toban, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan holocaus.”

Ilmuwan lain yang jadi korban UU Gitto adalah Robert Forison. “Sampai saat ini mereka tidak dapat menjawab argumentasi kita atas kebenaran tragedi holocaus, melainkan menyerang kita dengan menyeret ke pengadilan, menindak, dan menyiksa,” ujar Forison yang berkewarganegaraan Prancis dan Inggris ini.

Forison diberhentikan dari mengajar di Universitas Lion pada 1978 akibat mempertanyakan holocaus dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata?”. “Kami para penentang holocaus tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka melarang buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Ernes Zundel dan almarhum Roger Garaudy adalah contoh lain ilmuwan yang menjadi korban dari UU tentang holocaus. Garaudy, warga Prancis, pernah diseret ke pengadilan ketika menerbitkan buku Mitos-Mitos Pembangunan Politik Israel yang antara lain mempertanyakan kebenaran tragedi holocaus.

Zundel adalah penelitik asal Jerman. Sebelum hijrah ke AS, ia bermukim di Kanada. Namun, akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa pindah ke AS. Di Negeri Paman Sam ini, Zundel terus diburu dan kemudian ditangkap. Ia lalu diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang adanya holocaus.

Saya tidak sedang mempersoalkan undang-undang tentang holocaus. Yang sedang saya gugat adalah mengapa negara-negara Barat tidak menerapkan undang-undang antipenodaan dan pelecehan terhadap agama, agama apa pun, seperti halnya mereka mempunyai undang-undang Holocaust Denial? Bahwa siapa pun yang menghina, melecehkan, dan menodai suatu agama, dapat dikenai sanksi sebagaimana mereka yang tidak mengakui adanya holocaus.

Karena, selama tidak ada undang-undang yang melarang pelecehan terhadap suatu agama, bisa dipastikan peristiwa film “the Innocence of Muslims”, kartun yang melecehkan Islam, dan hal-hal lain yang menghina agama akan muncul dan muncul lagi. Bisa dipastikan pula protes besar-besaran akan berlangsung di berbagai negara. Kalau sudah begitu, korbannya bukan hanya beberapa orang yang meninggal dunia, tapi juga terganggunya hubungan antara umat Islam dan Barat yang bisa saja justru mempersubur adanya terorisme internasional.

Jangan hanya lantaran alasan demokrasi dan kebebasan berekspresi, orang lalu bisa sebebas-bebasnya berbuat semaunya, termasuk menodai, melecehkan, dan menghina suatu agama.

2.9.12

R.A. Kartini dalam Konspirasi Yahudi


Tradisi surat-menyurat merupakan tradisi manusia modern pada abad ke-19 dan ke-20. Dari surat-menyurat itulah, peradaban Eropa dirakit hingga begitu hebatnya. Tradisi surat-menyurat menjadikan sebuah peradaban maju menggapai spirit pengetahuan. Itulah yang telah dilakukan Kartini untuk menunjukkan eksistensi kemodernannya. Kartini tak pernah menulis buku, tetapi dia selalu berkorepondensi bersama para bangsawan cerdik yang memberikan informasi dan pengetahuan yang besar terhadap Kartini. Tak disangka, arsip surat-menyurat yang tersimpan itu diterbitkan. Nama Kartini kemudian menjadi perbincangan besar yang membuatnya sebagai tokoh perempuan yang dikagumi pada zamannya, bahkan sampai sekarang.

Ketekunan Kartini dalam surat-menyurat inilah yang mengantarkannya dikenal banyak kalangan pejabat Belanda. Sebagai anak seorang Bupati Jepara, Kartini tentu mendapat perhatian serius dari pejabat Belanda sehingga surat-suratnya membuat Kartini juga harus terlibat dalam konspirasi penjajah yang sedang mencari celah dalam menaklukkan Nusantara. Dari sinilah, Kartini sebenarnya tidak sadar bahwa tradisi surat-menyuratnya justru dimanfaatkan Belanda dalam rangka politik konspirasi. Inilah yang coba diurai penulis buku bertajuk Kartini Mati Dibunuh: Membongkar Hubungan Kartini dan Freemason.

Sejak kecil, Kartini sudah bergaul banyak dengan orang Eropa. Ini karena sejak kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elite orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Pergaulan semasa belia tentu tak banyak membekas, tetapi sosok Kartini sebagai anak bupati mendapatkan perhatian dari Belanda. Makanya ketika sudah remaja, Kartini kemudian dikenalkan dengan JH Abendanon (Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan, Hindia Belanda) dan istrinya Ny Abendanon Mandri (wanita berdarah Puerto Riko-Yahudi).

Ny Abendanon sebenarnya yang berperan sangat krusial dalam korespondensi dengan Kartini. Ny Abendanon ditugasi pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi gerak-gerik Kartini. Otak di balik semua gerakan Hindia Belanda ini adalah seorang orientalis bernama Snouck Hurgronje, penasihat pemerintahan Hindia Belanda. Snouck dikenal sebagai orang cerdas yang menyukseskan agenda penjajahan Belanda di Indonesia, khususnya yang mengatur strategi kolonialisasi dalam menaklukkan umat Islam. Bukan saja Ny Abendanon yang ditugaskan Snouck, melainkan juga beberapa tokoh, antara lain Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminirme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).

Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah HH Van Kol (orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), KF Holle (seorang humanis), Tuan HH Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny MCE Ovink Soer, EC Abendanon (anak JH Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengkritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.

Hubungan akrab ini memang diciptakan oleh Snouck untuk membentuk Kartini sebagai sosok feminis yang akrab dengan pemikiran Barat. Kartini selalu mendapatkan buku baru dari teman korespondensinya. Tak salah kemudian kalau Kartini berpikir begitu progresif, melampaui kebudayaan Jawa-nya. Bahkan, Kartini masuk dalam pola pemikiran teosofi yang digerakkan kaum Yahudi dalam membangun jejaring konspirasi global. Snouck menginginkan agar Kartini menjadi tokoh perempuan yang tercerahkan lewat pemikiran Barat, bukan dari akar budayanya sendiri. Dengan begitu, maka Belanda seolah berjasa dalam pembentukan nalar anak bangsa. Ini wajar karena saat itu Belanda sedang menjalankan program politik etis.

Jejaring yang dibangun Snouck itulah jejaring Yahudi yang juga terlibat dalam kelompok rahasia bernama Freemason; sebuah aliran misterius kaum Yahudi yang memandang baik dan buruk dari nuraninya sendiri. Freemason merupakan aliran misterius yang tidak bisa terlacak. Yang tahu adalah para anggotanya sendiri. Dalam novel-novel karya Dan Brown dan Orhan Pamuk, Freemason banyak dikupas sebagai gerakan misterius yang mengguncang peradaban Barat. Freemason inilah yang merepotkan jejaring global dalam membangun perdamaian karena anggota Freemason selalu menebarkan virus misterius yang sulit dimengerti.

Pengaruh konspirasi Yahudi terlihat jelas dalam surat-surat Kartini. Lihat saja suratnya kepada EC Abendanon, 15 Agustus 1902, "Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia." Surat ini hampir sama dengan surat Kartini kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902, "Kebaikan dan Tuhan adalah satu." Surat ini jelas mengindikasikan Kartini masuk dalam jaringan pemikiran teosofi Freemason.

Dari surat-surat inilah, apakah konspirasi Yahudi-Freemason juga menikam Kartini pada usia mudanya sehingga ia meninggal sesaat setelah melahirkan? Pertanyaan ini masih digantung oleh penulis sehingga pembaca diajak mengembara mencari sendiri. Yang pasti, Snocuk memang mengagendakan untuk "menjebak" perempuan bernama Kartini untuk menenggelamkan tokoh perempuan Indonesia yang lain, seperti Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Dewi Sartika, dan Rohana Kudus. Kartini sejatinya ingin bersama-sama kaum perempuan Indonesia berjuang memberdayakan kaum hawa, tetapi Snouck tak ingin gemuruh gerakan perempuan membuat Belanda panik dengan kekuasaannya.

Sumber: yasirmaster.blogspot.com

27.7.12

Hening Cipta untuk Atlet Israel di Olimpiade Ditolak

Hidayatullah.com—Permintaan satu menit mengheningkan cipta untuk mengenang para atlet Israel yang menjadi koran pembunuhan di Munich 40 tahun lalu telah ditolak penyelenggara Komite Internasional Olimpiade (ICO).

Para janda atlet Israel yang tewas tahun 1972 saat penyelenggaraan Olimpiade Munich, sudah tiba di London untuk mendesak pihak penyelenggar memenuhi tuntutan mereka.

Ankie Spitzer, salah satu janda yang tergabung dalam rombangan itu, menemui Ketua ICO Jacques Rogge pada hari Rabu kemarin untuk menyerahkan petisi mereka, lansir Euronews (26/7/2012).

“(Petisi) itu ditandatangani oleh 106.000 orang hanya dalam waktu singkat. Orang dari seluruh dunia, dari 155 negara yakin bahwa harus ada satu menit mengheningkan cipta untuk mengenang 11 korban di Munich,” kata Spitzer.

Olympic ZION
Amerika Serikat, Jerman dan Israel mendesak hal serupa. Namun, ICO bersikukuh pembukaan Olimpiade bukan waktu yang tepat untuk melakukan peringatan tahunan peristiwa tersebut.

Dalam jumpa pers, Direktur Komunikasi ICO Marc Adams menjelaskan bahwa ICO sudah memeperingati peristiwa tersebut pda hari Senin lalu di sebuah desa. Pekan depan juga akan ada acara peringatan di Guildhall, London.

Namun para janda tersebut bersikukuh ingin peringatan dilakukan saat pembukaan Olimpiade London. Mereka mengajak para penonton agar hening sejenak saat acara pembukaan Olimpiada berlansung pada hari Jumat (27/7/2012), sebagai bentuk protes.*

26.7.12

Holocaust, Fiksi Zionisme

Perang Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar. Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang tewas dan cidera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu Hitler.

Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan.

Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.

Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun. (lihat situsnya di www.alfredlilienthal.com)

Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi. Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.

Alasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof. Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Dr. David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.

***

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Pernacis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja. Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua. Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina.

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropagandakan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.