Melacak sejarah vaksin modern, mungkin kita bisa memulai dari Flexner
Bersaudara. Bos mereka, Rockefeller, awal abad ke-20 membiayai beberapa
saudara ini, yang salah satunya kemudian bergerak dalam penelitian
vaksin untuk disuntikkan ke tubuh manusia.
Propaganda
bahwa vaksin bermanfaat bagi kesehatan dan bisa mencegah penyakit
kemudian disebarkan lewat berbagai universitas dan sekolah, yang juga
dilakukan oleh salah satu Flexner Brothers ini.
Karena pentingnya isu ini, saya tidak berani mengklaim 100% benar mengenai bahaya vaksin. Anda harus melakukan
research sendiri mengenai masalah ini. Keselamatan anak-anak Anda adalah berada di tangan Anda sendiri.
Berikut sebuah artikel yang saya terjemahkan untuk Anda, semoga bisa membantu Anda memulai memikirkan masalah ini...
MENGAPA ANDA HARUS MENGHINDARI VAKSIN?
Oleh:
Dr. James Howenstine, MD
"Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan."
- Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional -
Vaksin cacar dipercayai bisa memberikan imunisasi kepada masyarakat
terhadap cacar. Pada saat vaksin ini diluncurkan, sebenarnya kasus cacar
sudah sedang menurun.
Jepang mewajibkan suntikan vaksin pada 1872. Pada 1892, ada 165.774 kasus cacar dengan 29.979 berakhir dengan kematian walaupun adanya program vaksin.
Pemaksaan vaksin cacar, di mana orang yang menolak bisa diperkarakan secara hukum, dilakukan di Inggris tahun 1867.
Dalam 4 tahun, 97.5% masyarakat usia 2 sampai 50 tahun telah
divaksinasi. Setahun kemudian Inggris merasakan epidemik cacar
terburuknya dalam sejarah dengan 44.840 kematian. Antara tahun 1871 -
1880 kasus cacar naik dari 28 menjadi 46 per 100.000 orang. Vaksin cacar
tidak berhasil.
Kebanyakan dari sukses program vaksinasi sebenarnya datang dari
perbaikan kesehatan publik lewat kualitas air bersih dan sanitasi,
kepadatan hunian yang berkurang, nutrisi yang lebih baik, dan perbaikan
standar hidup. Secara umum kasus berbagai penyakit sudah menurun sebelum
vaksin penyakit itu ditemukan.
Di Inggris, kasus polio telah menurun 82% sebelum vaksin polio diperkenalkan pada 1956. Pada awal 1900-an, seorang dokter yang sangat cerdas, Dr. W.B. Clarke, mengatakan, "
Kanker
pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai
diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang
pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi
sebelumnya."
Ada sebuah kepercayaan di masyarakat bahwa kita tidak seharusnya
mengkritik vaksin karena nantinya publik akan menolak melakukannya. Hal
ini
valid hanya bila manfaat dari vaksin jauh lebih besar dari
resikonya. Apakah vaksin benar-benar mencegah penyakit? Pertanyaan
penting ini tampaknya tidak benar-benar dipelajari oleh masyarakat.
Vaksin sangatlah menguntungkan bagi perusahaan farmasi dan legislasi di
Amerika telah memberikan perkecualian kepada mereka, bahwa mereka bebas
dari tuntutan hukum bila tidak menuliskan reaksi/efek vaksin yang cukup
umum terjadi. Pada tahun 1975 Jerman menghentikan vaksinasi pertusis
(batuk). Hari ini kurang dari 10% anak-anak Jerman divaksinasi terhadap
pertusis. Kasus pertusis tetap menurun sekalipun lebih sedikit anak-anak
yang divaksinasi dibanding sebelumnya.
Kasus campak terjadi di sekolah dengan tingkat vaksinasi lebih dari 98%
di seluruh bagian Amerika termasuk area yang sebelumnya tidak mengenal
campak. Seiring meningkatnya tingkat imunisasi, campak menjadi penyakit
yang terjadi hanya pada orang-orang yang telah divaksinasi. Wabah campak
terjadi di sekolah yang 100% anak-anaknya telah mendapatkan vaksinasi
sebelumnya. Di Inggris, kasus campak menurun 97% sebelum program
vaksinasi dilakukan.
Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah
anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan
sejenis juga terjadi di Nova Scotia dimana pertusis telah muncul
sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal. Pertusis tetap menjadi
endemik di Belanda di mana selama 20 tahun 96% anak-anak telah
mendapatkan 3 suntikan pertusis sebelum umur 12 bulan. Setelah
dimulainya vaksinasi dipteri di Inggris dan Wales tahun 1894, kasus
kematian dipteri naik 20% pada 15 tahun kemudian. Jerman mewajibkan
vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus,
di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi,
kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus. Berlanjutnya penyakit pada
anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi membuktikan bahwa imunitas
seumur hidup paska vaksinasi sebenarnya tidak terjadi. Proses suntikan
partikel viral ke dalam darah ini sebenarnya tidak menyediakan jalan
yang jelas untuk mengeliminasi substansi ini.
Mengapa Vaksin Gagal Melindungi terhadap Penyakit?
Walene James, pengarang buku
Immunization: the Reality Behind The Myth, mengatakan
respon inflamatori penuh diperlukan untuk menciptakan kekebalan nyata.
Sebelum introduksi vaksin cacar dan gondok, kasus cacar dan gondok yang
menimpa anak-anak adalah kasus tidak berbahaya. Vaksin "mengecoh" tubuh
sehingga tubuh kita tidak menghasilkan respon
inflamatory terhadap virus yang diinjeksi. SIDS (
Sudden Infant Death Syndrome)
naik dari 0.55 per 1000 orang di 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992
di Olmstead County, Minnesota. Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 - 4
bulan, waktu di mana vaksin mulai diberikan kepada bayi. 85% kasus SIDS
terjadi di 6 bulan pertama bayi. Persentase kasus SIDS telah naik dari
2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992. Naikan
kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak
menurun karena perbaikan sanitasi dan kemajuan medikal kecuali SIDS.
Kasus kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan
kepada balita naik secara meyakinkan menjadi 36 per anak.
Dr. W. Torch berhasil mendokumentasikan 12 kasus kematian pada anak-anak yang terjadi dalam 3,5 - 19 jam paska imunisasi DPT.
Dia kemudian juga melaporkan 11 kasus kematian SIDS dan satu yang
hampir mati 24 jam paska injeksi DPT. Saat dia mempelajari 70 kasus
kematian SIDS, 2/3 korban adalah mereka yang baru divaksinasi mulai dari
1,5 hari sampai 3 minggu sebelumnya. Tidak ada satu kematianpun yang
dihubungkan dengan vaksin. Vaksin adalah hal yang mulia dan tidak ada
pemberitaan negatif apapun mengenai mereka di media utama karena mereka
begitu menguntungkan bagi perusahaan farmasi.
Ada alasan yang valid untuk percaya bahwa vaksin bukan saja tak berguna
dalam mencegah penyakit, tetapi mereka juga kontraproduktif karena
melukai sistem kekebalan yang meningkatkan resiko kanker, penyakit
kekebalan tubuh, dan SIDS yang menyebabkan cacat dan kematian.
Apakah Vaksin Steril?
Dr. Robert Strecker mengklaim bahwa Departemen Pertahanan (DOD)
diberikan 10 juta dolar pada 1969 untuk menciptakan virus AIDS yang akan
digunakan sebagai senjata pengurangan populasi terhadap orang kulit
hitam. Dengan menggunakan hukum kebebasan informasi, Dr. Strecker
berhasil mempelajari bahwa DOD mendapatkan dana dari Konggres untuk
melakukan penelitian untuk menhancurkan kekebalan tubuh lewat virus.
Setelah diproduksi, vaksinnya diberikan di 2 lokasi.
Vaksin cacar yang mengandung HIV diberikan kepada 100 juta
penduduk Afrika tahun 1977. Lebih dari 2000 pria homoseksual kulit putih
di New York juga diberikan vaksin hepatitis B yang mengandung HIV pada
1978. Vaksin tersebut diberikan di Central Darah kota New York. Vaksin
hepatitis yang mengandung HIV juga diberikan kepada pria homoseks
lainnya di kota San Fransisco, Los Angeles, St. Louis, Houston, dan
Chicago pada 1978 dan 1979. Instansi Kesehatan Publik Amerika melaporkan
bahwa kasus AIDS terbanyak terjadi di 6 kota tersebut. Saat sebuah
virus memasuki sebuah komunitas, butuh 20 tahun sebelum jumlah kasusnya
berganda. Bila cerita karangan bahwa gigitan monyet hijau menyebabkan
epidemik HIV, maka dugaan gigitan monyet yang terjadi 1940-an seharusnya
sudah menyebabkan puncak insiden HIV pada 1960-an yang mana HIV belum
eksis sama sekali di Afrika. WHO memulai vaksinasi cacar di Afrika tahun
1977 yang menargetkan populasi perkotaan dan menghindari pedesaan. Bila
gigitan monyet hijau yang benar-benar menyebabkan HIV, maka insiden HIV
di pedesaan seharusnya lebih tinggi daripada perkotaan. Namun,
kebalikannyalah yang terjadi.
Pada 1954 Dr. Bernice Eddy (bakteriologis) menemukan bahwa virus monyet
hidup dalam keadaan steril akan menginaktifasikan vaksin polio yang
dikembangkan oleh Dr. Jonas Salk. Penemuan ini tidak diterima baik oleh
NIH dan Dr. Eddy kemudian diturunkan pangkatnya. Kemudian, Dr. Eddy,
bekerja bersama Sarah Stewart, menemukan virus SE polyoma. Virus ini
cukup penting karena dia menyebabkan kanker pada setiap binatang yang
menerimanya. Vaksin panas kuning (
yellow fever) sebelumnya ditemukan mengandung virus leukimia
avian
(burung). Kemudian Dr. Hilleman mengisolasi virus SV 40 dari vaksin
polio Salk dan Sabin. Mereka mengandung 40 virus berbeda. Tetapi mereka
tidak pernah berhasil menghilangkan virus-virus tersebut dari vaksin
polio.
Virus SV 40 menyebabkan penyakit yang berbahaya. Mereka telah
diidentifikasi dalam 43% kasus non-hodgekin lymphoma, 36% tumor otak,
18% sample darah sehat, dan 22% sample sperma sehat, mesothiolomas dan
penyakit lainnya. Pada saat hal ini ditemukan SV 40 telah diinjeksi ke
10 juta penduduk yang menerima vaksin polio. Pencernaan lambung
menginaktivasi sejumlah SV 40 dalam vaksin Sabin. Walaupun demikian,
isolasi vaksin polio Sabin dalam 38 kasus
Guillan Barre Syndrome
(GBS) di Brasil menyimpulkan bahwa jumlah yang signifikan bis diinfeksi
dari vaksin ini. Semua 38 dari pasien ini telah menerima vaksin polio
Sabin beberapa bulan sampai tahun sebelum munculnya GBS.
Insiden non-hodgkin lymphoma secara "misterius" berganda sejak 1970-an.
Dr. John Martin, profesor patalogi di Universitas Southern California,
dipekerjakan oleh cabang
Viral Oncology di Biro Biologi (FDA) dri 1976 sampai 1980. Saat bekerja di sana dia menemukan bahwa DNA luar negeri dalam vaksin polio hidup
orimune lederle
mengandung kontaminasi serius. Dia melaporkan kepada atasannya dan
kemudian malahan disuruh untuk berhenti mengecek karena bukan
pekerjaannya untuk meneliti itu.
Percobaan vaksin
lederle menunjukkan bahwa pimpinan di atas tidak
peduli akan bahaya dari vaksin. Infeksi pada binatang masih menjadi
masalah yang tak terselesaikan pada manufaktur vaksin.
Club of Rome yang
berpengaruh besar secara tertulis bahkan menyatakan bahwa populasi
dunia terlalu besar dan perlu untuk dikurangi sebesar 90%. Artinya
dari 6 milyar sekarang perlu dikurangi menjadi 500 - 600 juta orang.
Menciptakan kelaparan dan perang dan pembantaian seperti yang di Afrika,
dan penyakit buatan seperti HIV, Ebola, Marburg, dan mungkin juga virus
Nil Barat dan SARS tentu saja bisa membantu mengurangi populasi. Grup
elit lainnya (Trilateral, Bildergers) juga telah menyatakan hal yang
sama.
Perusahaan yang ditunjuk untuk membuat vaksin cacar di Inggris sudah
dalam masalah besar di Amerika karena kualitas operasionalnya yang
buruk. Bagaimana bisa performa mereka kemudian menjadi bagus setelah
datang ke Inggris? Bila memang ada grup-grup berpengaruh besar yang
bertekad mengurangi populasi dunia, cara apa lagi yang lebih cerdik
selain menginjeksi orang-orang dengan vaksin yang bisa menyebabkan
kanker? Orang yang menerima vaksin tidak akan pernah curiga vaksin yang
dia terima 10 - 15 tahun sebelumnya menyebabkan dia terkena penyakit
kanker.
Bahaya Lainnya dari Vaksin
Pada 4 Maret 1977, dalam majalah
Science, Jonas dan Darrel Salk memperingatkan, "
Vaksin virus hidup terhadap flu dan polio bisa memproduksi penyakit yang seharusnya dia cegah."
Virus hidup terhadap campak dan gondok bisa menyebabkan efek samping
seperti kerusakan otak. Vaksin flu babi dipaksakan kepada publik Amerika
walaupun tidak pernah ada kasus flu babi pada manusia. Petani juga
menolak vaksin itu karena membunuh ternak-ternak mereka. Dalam beberapa
bulan sejak penggunaan vaksin ini telah terjadi banyak gangguan serius
(GBS).
Sebuah artikel di
Washington Post tanggal 26 Januari 1988 menyebutkan
bahwa semua kasus polio sejak 1979 disebabkan oleh vaksin polio.
Harusnya situasi ini bisa menghentikan penggunaan vaksin, tetapi tetap
saja vaksin diberikan. Vaksin adalah arus profit yang hebat tanpa resiko
bagi perusahaan obat karena sekarang gangguan akibat vaksin akan
direkompensasikan oleh pemerintah (pembayar pajak). Terus naikknya
pengguna vaksin diikuti dengan terus naiknya penyakit kekebalan (
rheumatoid arthritis, subacute lupus erythematosus, psoriasis, sclerosis, asthma)
pada anak-anak. Walaupun memang ada yang disebabkan oleh faktor
pembawaan genetik, tetapi kebanyakan adalah akibat partikel protein
luar, mercury, aluminium, formaldehyde dan bahan-bahan beracun lainnya
di vaksin.
Pada 1999, vaksin rotavirus direkomendasikan oelh Pusat Pengendalian
Penyakit untuk semua anak-anak. Saat dijalankan, beberapa anak meninggal
dan sejumlah yang lain mengalami gangguan lainnya. Percobaan pra
penjualan menunjukkan insiden
intussusception meningkat 30 kali
lipat tetapi tetap saja vaksin ini dipasarkan tanpa menuliskan
peringatan di dalamnya. Vaksin anak-anak sering kali tidak dipelajari
keracunannya karena penelitian ini bisa membuat vaksin tersebut tidak
jadi digunakan.
Dalam studi yang besar di Australia ditemukan bahwa resiko mendapatkan
encephalitis dari vaksin pertusis adalah 5 kali lipat lebih besar daripada mendapatkannya secara alamiah.
Vaksin menyebabkan Diabetes Melitus Type 1
Dr. John Classen menerbitkan 29 artikel mengenai diabetes akibat vaksin.
Setidaknya 8 dari 10 anak-anak dengan diabetes type 1 adalah akibat
vaksinasi. Anak-anak ini bisa saja terbebas dari cacar, gondok, atau
batuk, tetapi mereka mendapatkan yang jauh lebih buruk: penyakit yang
akan mengurangi umur mereka 10 - 15 tahun dan sisa kehidupan dalam
perawatan. Dr. Classen telah menunjukkannya di Finlandia, introduksi
vaksin hemophilus type B menyebabkan 3 kali lipat diabetes type 1 dan
sejumlah kematian dan kerusakan otak lainnya.
In New Zealand, insiden diabetes type 1 pada anak-anak meningkat 61%
setelah program vaksinasi agresif hepatitis B. Peningkatan yang serupa
juga terjadi di Inggris, Italy, Swedia, dan Denmark paska program
imunisasi hepatitis B.
Substansi Beracun Diperlukan untuk Membuat Vaksin
Vaksin mengandung substansi berbahaya yang diperlukan untuk mencegah infeksi dan meningkatkan performa vaksin. Seperti merkuri,
formaldehyde,
dan aluminium. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah anak austik meningkat
dari antara 200 - 500 % di setiap negara bagian di Amerika.
Di Amerika, injeksi vaksin telah meningkat dari 10 menjadi 36 jenis
dalam 25 tahun terakhir. Dalam periode ini, anak-anak yang menderita
gangguan belajar dan perhatian terus meningkat. Sejumlah memang mungkin
disebabkan karena pengguanan kokain oleh ibu mereka, tetapi kemungkinan
vaksinlah penyebab utamanya. Sejumlah vaksin mengandung aluminium.
Hampir semua vaksin mengandung aluminium dan merkuri. Metal ini memiliki pengaruh yang penting dalam penyakit
Alzheimer.
Seorang pakar pada Konferensi Vaksin Internasional 1997 menunjukkan
bahwa orang yang menerima 5 atau lebih vaksin flu memiliki kemungkinan
terkena Alzheimer 10 kali lipat lebih besar dibanding orang yang
mendaptkan injeksi 2 kali atau kurang. Saat kita menerima injeksi
vaksin, kita sebenarnya sedang bermain Russian Roulette. Kita bukan
hanya terekspos aluminium, merkuri,
formaldehyde, dan protein
asing lainnya, tetapi juga virus simian 40 dan virus-virus berbahaya
lainnya yang bisa menyebabkan kanker, leukimia, dan gangguan lainnya.
Konggres telah memproteksi manufaktur dari tuntutan hukum, jadi
vaksin-vaksin berbahaya meningkatkan profit perusahaan obat tanpa resiko
bagi mereka.
Kebijakan pemerintah mewajibkan vaksinasi anak-anak sebelum memasuki
sekolah diambil tanpa bukti akan efisiensi dan keamanan vaksin itu
sendiri. Tidak ada bukti vaksin bekerja dan tidak ada penelitian akan
keamanan penggunaan mereka. Pendapat saya adalah ada bukti dalam jumlah
besar bahwa vaksin itu berbahaya dan satu-satunya alasan mereka eksis
adalah karena profit luar biasa bagi perusahaan farmasi.