Showing posts with label Vaksin. Show all posts
Showing posts with label Vaksin. Show all posts

11.5.21

PERINGATAN PARA DOKTER MENGENAI VAKSIN CUVID-19!

 [tks https://www.facebook.com/shinta.tinneke]

“Saya ingin mengingatkan orang-orang bahwa kesehatan tidak datang dari menyuntikkan racun ke dalam tubuh kita. Ini lebih tentang menyadari apa artinya menjadi manusia dan mengikuti hari demi hari dengan sepenuh hati.” – Dr. Tom Cowan, USA

“Saya harus menunjukkan bahwa vaksin covid-19 tidak aman. Dan tidak ada pandemi global. Selama hampir 20 tahun, industri farmasi telah berupaya mengembangkan vaksin korona. Gagal. Karena percobaan pada hewan menunjukkan efek samping yang serius - terutama penyakit sistem autoimun. Kami juga telah melihat penyakit/gangguan ini pada beberapa pasien covid-19. Dengan alasan "pandemi global", industri farmasi diberi izin untuk melewatkan pengujian pada hewan. Ini berarti bahwa kita sekarang sedang diujicoba sebagaimana hewan percobaan ini. Dan kita bisa menderita efek samping yang serius.” – Dr. Hilde De Smet, Belgium

“Saya berdiri di sini untuk memberi tahu Anda bahwa tidak ada yang namanya pandemi global. Kami menggunakan tes PCR yang tidak dirancang untuk mendiagnosis infeksi apa pun. Rumah sakit dan dokter dibayar untuk mendiagnosis covid. Sebaliknya, itu menunjukkan bahwa kami memiliki semakin banyak hasil tes positif palsu. Secara pribadi, saya tidak akan pernah disuntik dengan vaksin - dan saya tidak akan merekomendasikan vaksin ini kepada pasien saya. Vaksin ini merupakan percobaan pada spesies manusia. Mereka menggunakan RNA dan DNA sintetis yang dimodifikasi. Belum pernah sebelumnya percobaan seperti itu dilakukan pada spesies manusia. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami setelah vaksinasi. Ini adalah panggilan alarm saya kepada dunia.” – Dr. Carrie Madej, USA

“Vaksin covid-19 belum terbukti efektif. Ini termasuk teknologi baru yang saat ini sedang diuji pada ribuan orang setiap bulan. Silakan lakukan riset sendiri. Apa yang kita miliki sekarang bukanlah pandemi medis yang nyata. Angka kematian di Norwegia tidak lebih tinggi dari tahun-tahun normal.” – Dr. Nils R Fosse, Norway

“Vaksin covid-19 belum terbukti aman atau efektif. Kami percaya bahwa sangat gegabah dan tidak perlu untuk memperkenalkan vaksin baru ini dan memvaksinasi jutaan orang dengan itu. Ada bukti bahwa vaksin memiliki efek samping yang serius seperti kemandulan, gangguan/penyakit autoimun, dan kanker.” – Dr. Elizabeth Evans, England

“Virus korona tidak separah yang diberitahukan kepada kami. Kami dapat mengobati gejala Covid-19 dengan sangat sukses dengan vitamin C dan D, yang merupakan obat-obatan yang aman. Oleh karena itu, penguncian dan tindakan seperti social distancing dan persyaratan masker tidak diperlukan. Sama seperti vaksin tidak diperlukan.” – Professor Dolores Cahill, Ireland

“Tidak ada bukti bahwa vaksin korona aman atau efektif. Tidak ada keadaan darurat medis. Corona adalah pandemi palsu. Virus corona sebanding dengan flu musiman normal dalam hal bahaya, penyebaran, dan kematian. Dan saya hanya bisa dengan marah menentang tindakan tidak proporsional yang diambil oleh pemerintah kita. Semuanya telah diatur untuk membuat Anda panik, lalu memvaksinasi Anda. Kami tidak tahu seperti apa efek jangka panjang dari vaksin ini. Vaksin dapat mengubah DNA mereka - yang tidak dapat dikembalikan dan tidak dapat diperbaiki untuk semua generasi mendatang. Ini adalah eksperimen tentang kemanusiaan. Saya tidak akan pernah memvaksinasi diri saya sendiri dengannya, saya juga tidak akan memvaksinasi pasien atau orang yang saya cintai dengannya. Kami bukan hewan laboratorium. Ada nanoteknologi dalam vaksin ini. Nanobots dikembangkan untuk tujuan militer. Dan ada bukti kuat bahwa vaksin ini bisa mengubah mereka menjadi boneka yang bisa diatur. Dengan bantuan ponsel cerdas pribadi Anda yang terhubung ke 5G dan kecerdasan buatan. Anda bisa kehilangan semua yang mendefinisikan Anda sebagai pribadi/manusia.” – Dr. Johan Denis, Belgium

“Vaksin menggeser sistem kekebalan Anda ke arah pembentukan antibodi dan menjauhi imunitas bawaan / seluler yang merupakan tempat perlindungan sebenarnya. Jadi, vaksin membuat seseorang lebih mudah terserang penyakit. Hal ini dibuktikan dalam studi yang membandingkan tingkat penyakit pada anak-anak yang divaksinasi dan yang tidak. Nilai p sangat kecil, yang berarti tidak ada kemungkinan ini acak.” – Dr. Paul Thomas and Dr. James Lyons - Weiler

Sumber:
https://www.virus-hoax.com/doctors-warning-about-the-covid-19-vaccines-
https://www.virus-hoax.com/vaccinated-v--unvaccinated---dr-thomas---dr-lyons-weiler

27.10.20

Nasib Penyeru KEBENARAN?

SUARA KEBENARAN DARI ALIANSI DOKTER DUNIA

Video ini di-banned oleh Youtube juga Google Drive & dianggap hoax oleh media-media mainstream karena alasan kecil yang sebenarnya sangat explainable... "virus corona tidak mematikan!".



https://acu2020.org/english-versions/

https://www.newsbreak.com/topics/heiko-sch%C3%B6ning


LINKS

15.9.20

Follow Unfollow

Harus Tahu tentang Follow Unfollow (klik!)




 
REALITA VAKSIN

Melacak sejarah vaksin modern, mungkin kita bisa memulai dari Flexner Bersaudara. Bos mereka, Rockefeller, awal abad ke-20 membiayai beberapa saudara ini, yang salah satunya kemudian bergerak dalam penelitian vaksin untuk disuntikkan ke tubuh manusia.
Propaganda bahwa vaksin bermanfaat bagi kesehatan dan bisa mencegah penyakit kemudian disebarkan lewat berbagai universitas dan sekolah, yang juga dilakukan oleh salah satu Flexner Brothers ini.
Karena pentingnya isu ini, saya tidak berani mengklaim 100% benar mengenai bahaya vaksin. Anda harus melakukan research sendiri mengenai masalah ini. Keselamatan anak-anak Anda adalah berada di tangan Anda sendiri.

Berikut sebuah artikel yang saya terjemahkan untuk Anda, semoga bisa membantu Anda memulai memikirkan masalah ini...



MENGAPA ANDA HARUS MENGHINDARI VAKSIN?

Oleh: Dr. James Howenstine, MD
"Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan."

- Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional -
Vaksin cacar dipercayai bisa memberikan imunisasi kepada masyarakat terhadap cacar. Pada saat vaksin ini diluncurkan, sebenarnya kasus cacar sudah sedang menurun. Jepang mewajibkan suntikan vaksin pada 1872. Pada 1892, ada 165.774 kasus cacar dengan 29.979 berakhir dengan kematian walaupun adanya program vaksin.

Pemaksaan vaksin cacar, di mana orang yang menolak bisa diperkarakan secara hukum, dilakukan di Inggris tahun 1867. Dalam 4 tahun, 97.5% masyarakat usia 2 sampai 50 tahun telah divaksinasi. Setahun kemudian Inggris merasakan epidemik cacar terburuknya dalam sejarah dengan 44.840 kematian. Antara tahun 1871 - 1880 kasus cacar naik dari 28 menjadi 46 per 100.000 orang. Vaksin cacar tidak berhasil.

Kebanyakan dari sukses program vaksinasi sebenarnya datang dari perbaikan kesehatan publik lewat kualitas air bersih dan sanitasi, kepadatan hunian yang berkurang, nutrisi yang lebih baik, dan perbaikan standar hidup. Secara umum kasus berbagai penyakit sudah menurun sebelum vaksin penyakit itu ditemukan. Di Inggris, kasus polio telah menurun 82% sebelum vaksin polio diperkenalkan pada 1956. Pada awal 1900-an, seorang dokter yang sangat cerdas, Dr. W.B. Clarke, mengatakan, "Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya."

Ada sebuah kepercayaan di masyarakat bahwa kita tidak seharusnya mengkritik vaksin karena nantinya publik akan menolak melakukannya. Hal ini valid hanya bila manfaat dari vaksin jauh lebih besar dari resikonya. Apakah vaksin benar-benar mencegah penyakit? Pertanyaan penting ini tampaknya tidak benar-benar dipelajari oleh masyarakat. Vaksin sangatlah menguntungkan bagi perusahaan farmasi dan legislasi di Amerika telah memberikan perkecualian kepada mereka, bahwa mereka bebas dari tuntutan hukum bila tidak menuliskan reaksi/efek vaksin yang cukup umum terjadi. Pada tahun 1975 Jerman menghentikan vaksinasi pertusis (batuk). Hari ini kurang dari 10% anak-anak Jerman divaksinasi terhadap pertusis. Kasus pertusis tetap menurun sekalipun lebih sedikit anak-anak yang divaksinasi dibanding sebelumnya.

Kasus campak terjadi di sekolah dengan tingkat vaksinasi lebih dari 98% di seluruh bagian Amerika termasuk area yang sebelumnya tidak mengenal campak. Seiring meningkatnya tingkat imunisasi, campak menjadi penyakit yang terjadi hanya pada orang-orang yang telah divaksinasi. Wabah campak terjadi di sekolah yang 100% anak-anaknya telah mendapatkan vaksinasi sebelumnya. Di Inggris, kasus campak menurun 97% sebelum program vaksinasi dilakukan.

Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia dimana pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal. Pertusis tetap menjadi endemik di Belanda di mana selama 20 tahun 96% anak-anak telah mendapatkan 3 suntikan pertusis sebelum umur 12 bulan. Setelah dimulainya vaksinasi dipteri di Inggris dan Wales tahun 1894, kasus kematian dipteri naik 20% pada 15 tahun kemudian. Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus. Berlanjutnya penyakit pada anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi membuktikan bahwa imunitas seumur hidup paska vaksinasi sebenarnya tidak terjadi. Proses suntikan partikel viral ke dalam darah ini sebenarnya tidak menyediakan jalan yang jelas untuk mengeliminasi substansi ini.

Mengapa Vaksin Gagal Melindungi terhadap Penyakit?

Walene James, pengarang buku Immunization: the Reality Behind The Myth, mengatakan respon inflamatori penuh diperlukan untuk menciptakan kekebalan nyata. Sebelum introduksi vaksin cacar dan gondok, kasus cacar dan gondok yang menimpa anak-anak adalah kasus tidak berbahaya. Vaksin "mengecoh" tubuh sehingga tubuh kita tidak menghasilkan respon inflamatory terhadap virus yang diinjeksi. SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) naik dari 0.55 per 1000 orang di 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota. Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 - 4 bulan, waktu di mana vaksin mulai diberikan kepada bayi. 85% kasus SIDS terjadi di 6 bulan pertama bayi. Persentase kasus SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992. Naikan kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena perbaikan sanitasi dan kemajuan medikal kecuali SIDS. Kasus kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan kepada balita naik secara meyakinkan menjadi 36 per anak.

Dr. W. Torch berhasil mendokumentasikan 12 kasus kematian pada anak-anak yang terjadi dalam 3,5 - 19 jam paska imunisasi DPT. Dia kemudian juga melaporkan 11 kasus kematian SIDS dan satu yang hampir mati 24 jam paska injeksi DPT. Saat dia mempelajari 70 kasus kematian SIDS, 2/3 korban adalah mereka yang baru divaksinasi mulai dari 1,5 hari sampai 3 minggu sebelumnya. Tidak ada satu kematianpun yang dihubungkan dengan vaksin. Vaksin adalah hal yang mulia dan tidak ada pemberitaan negatif apapun mengenai mereka di media utama karena mereka begitu menguntungkan bagi perusahaan farmasi.

Ada alasan yang valid untuk percaya bahwa vaksin bukan saja tak berguna dalam mencegah penyakit, tetapi mereka juga kontraproduktif karena melukai sistem kekebalan yang meningkatkan resiko kanker, penyakit kekebalan tubuh, dan SIDS yang menyebabkan cacat dan kematian.

Apakah Vaksin Steril?

Dr. Robert Strecker mengklaim bahwa Departemen Pertahanan (DOD) diberikan 10 juta dolar pada 1969 untuk menciptakan virus AIDS yang akan digunakan sebagai senjata pengurangan populasi terhadap orang kulit hitam. Dengan menggunakan hukum kebebasan informasi, Dr. Strecker berhasil mempelajari bahwa DOD mendapatkan dana dari Konggres untuk melakukan penelitian untuk menhancurkan kekebalan tubuh lewat virus. Setelah diproduksi, vaksinnya diberikan di 2 lokasi.

Vaksin cacar yang mengandung HIV diberikan kepada 100 juta penduduk Afrika tahun 1977. Lebih dari 2000 pria homoseksual kulit putih di New York juga diberikan vaksin hepatitis B yang mengandung HIV pada 1978. Vaksin tersebut diberikan di Central Darah kota New York. Vaksin hepatitis yang mengandung HIV juga diberikan kepada pria homoseks lainnya di kota San Fransisco, Los Angeles, St. Louis, Houston, dan Chicago pada 1978 dan 1979. Instansi Kesehatan Publik Amerika melaporkan bahwa kasus AIDS terbanyak terjadi di 6 kota tersebut. Saat sebuah virus memasuki sebuah komunitas, butuh 20 tahun sebelum jumlah kasusnya berganda. Bila cerita karangan bahwa gigitan monyet hijau menyebabkan epidemik HIV, maka dugaan gigitan monyet yang terjadi 1940-an seharusnya sudah menyebabkan puncak insiden HIV pada 1960-an yang mana HIV belum eksis sama sekali di Afrika. WHO memulai vaksinasi cacar di Afrika tahun 1977 yang menargetkan populasi perkotaan dan menghindari pedesaan. Bila gigitan monyet hijau yang benar-benar menyebabkan HIV, maka insiden HIV di pedesaan seharusnya lebih tinggi daripada perkotaan. Namun, kebalikannyalah yang terjadi.

Pada 1954 Dr. Bernice Eddy (bakteriologis) menemukan bahwa virus monyet hidup dalam keadaan steril akan menginaktifasikan vaksin polio yang dikembangkan oleh Dr. Jonas Salk. Penemuan ini tidak diterima baik oleh NIH dan Dr. Eddy kemudian diturunkan pangkatnya. Kemudian, Dr. Eddy, bekerja bersama Sarah Stewart, menemukan virus SE polyoma. Virus ini cukup penting karena dia menyebabkan kanker pada setiap binatang yang menerimanya. Vaksin panas kuning (yellow fever) sebelumnya ditemukan mengandung virus leukimia avian (burung). Kemudian Dr. Hilleman mengisolasi virus SV 40 dari vaksin polio Salk dan Sabin. Mereka mengandung 40 virus berbeda. Tetapi mereka tidak pernah berhasil menghilangkan virus-virus tersebut dari vaksin polio.

Virus SV 40 menyebabkan penyakit yang berbahaya. Mereka telah diidentifikasi dalam 43% kasus non-hodgekin lymphoma, 36% tumor otak, 18% sample darah sehat, dan 22% sample sperma sehat, mesothiolomas dan penyakit lainnya. Pada saat hal ini ditemukan SV 40 telah diinjeksi ke 10 juta penduduk yang menerima vaksin polio. Pencernaan lambung menginaktivasi sejumlah SV 40 dalam vaksin Sabin. Walaupun demikian, isolasi vaksin polio Sabin dalam 38 kasus Guillan Barre Syndrome (GBS) di Brasil menyimpulkan bahwa jumlah yang signifikan bis diinfeksi dari vaksin ini. Semua 38 dari pasien ini telah menerima vaksin polio Sabin beberapa bulan sampai tahun sebelum munculnya GBS.

Insiden non-hodgkin lymphoma secara "misterius" berganda sejak 1970-an. Dr. John Martin, profesor patalogi di Universitas Southern California, dipekerjakan oleh cabang Viral Oncology di Biro Biologi (FDA) dri 1976 sampai 1980. Saat bekerja di sana dia menemukan bahwa DNA luar negeri dalam vaksin polio hidup orimune lederle mengandung kontaminasi serius. Dia melaporkan kepada atasannya dan kemudian malahan disuruh untuk berhenti mengecek karena bukan pekerjaannya untuk meneliti itu.

Percobaan vaksin lederle menunjukkan bahwa pimpinan di atas tidak peduli akan bahaya dari vaksin. Infeksi pada binatang masih menjadi masalah yang tak terselesaikan pada manufaktur vaksin. Club of Rome yang berpengaruh besar secara tertulis bahkan menyatakan bahwa populasi dunia terlalu besar dan perlu untuk dikurangi sebesar 90%. Artinya dari 6 milyar sekarang perlu dikurangi menjadi 500 - 600 juta orang. Menciptakan kelaparan dan perang dan pembantaian seperti yang di Afrika, dan penyakit buatan seperti HIV, Ebola, Marburg, dan mungkin juga virus Nil Barat dan SARS tentu saja bisa membantu mengurangi populasi. Grup elit lainnya (Trilateral, Bildergers) juga telah menyatakan hal yang sama.

Perusahaan yang ditunjuk untuk membuat vaksin cacar di Inggris sudah dalam masalah besar di Amerika karena kualitas operasionalnya yang buruk. Bagaimana bisa performa mereka kemudian menjadi bagus setelah datang ke Inggris? Bila memang ada grup-grup berpengaruh besar yang bertekad mengurangi populasi dunia, cara apa lagi yang lebih cerdik selain menginjeksi orang-orang dengan vaksin yang bisa menyebabkan kanker? Orang yang menerima vaksin tidak akan pernah curiga vaksin yang dia terima 10 - 15 tahun sebelumnya menyebabkan dia terkena penyakit kanker.

Bahaya Lainnya dari Vaksin
 
Pada 4 Maret 1977, dalam majalah Science, Jonas dan Darrel Salk memperingatkan, "Vaksin virus hidup terhadap flu dan polio bisa memproduksi penyakit yang seharusnya dia cegah." Virus hidup terhadap campak dan gondok bisa menyebabkan efek samping seperti kerusakan otak. Vaksin flu babi dipaksakan kepada publik Amerika walaupun tidak pernah ada kasus flu babi pada manusia. Petani juga menolak vaksin itu karena membunuh ternak-ternak mereka. Dalam beberapa bulan sejak penggunaan vaksin ini telah terjadi banyak gangguan serius (GBS).

Sebuah artikel di Washington Post tanggal 26 Januari 1988 menyebutkan bahwa semua kasus polio sejak 1979 disebabkan oleh vaksin polio. Harusnya situasi ini bisa menghentikan penggunaan vaksin, tetapi tetap saja vaksin diberikan. Vaksin adalah arus profit yang hebat tanpa resiko bagi perusahaan obat karena sekarang gangguan akibat vaksin akan direkompensasikan oleh pemerintah (pembayar pajak). Terus naikknya pengguna vaksin diikuti dengan terus naiknya penyakit kekebalan (rheumatoid arthritis, subacute lupus erythematosus, psoriasis, sclerosis, asthma) pada anak-anak. Walaupun memang ada yang disebabkan oleh faktor pembawaan genetik, tetapi kebanyakan adalah akibat partikel protein luar, mercury, aluminium, formaldehyde dan bahan-bahan beracun lainnya di vaksin.

Pada 1999, vaksin rotavirus direkomendasikan oelh Pusat Pengendalian Penyakit untuk semua anak-anak. Saat dijalankan, beberapa anak meninggal dan sejumlah yang lain mengalami gangguan lainnya. Percobaan pra penjualan menunjukkan insiden intussusception meningkat 30 kali lipat tetapi tetap saja vaksin ini dipasarkan tanpa menuliskan peringatan di dalamnya. Vaksin anak-anak sering kali tidak dipelajari keracunannya karena penelitian ini bisa membuat vaksin tersebut tidak jadi digunakan.

Dalam studi yang besar di Australia ditemukan bahwa resiko mendapatkan encephalitis dari vaksin pertusis adalah 5 kali lipat lebih besar daripada mendapatkannya secara alamiah.

Vaksin menyebabkan Diabetes Melitus Type 1

Dr. John Classen menerbitkan 29 artikel mengenai diabetes akibat vaksin. Setidaknya 8 dari 10 anak-anak dengan diabetes type 1 adalah akibat vaksinasi. Anak-anak ini bisa saja terbebas dari cacar, gondok, atau batuk, tetapi mereka mendapatkan yang jauh lebih buruk: penyakit yang akan mengurangi umur mereka 10 - 15 tahun dan sisa kehidupan dalam perawatan. Dr. Classen telah menunjukkannya di Finlandia, introduksi vaksin hemophilus type B menyebabkan 3 kali lipat diabetes type 1 dan sejumlah kematian dan kerusakan otak lainnya.

In New Zealand, insiden diabetes type 1 pada anak-anak meningkat 61% setelah program vaksinasi agresif hepatitis B. Peningkatan yang serupa juga terjadi di Inggris, Italy, Swedia, dan Denmark paska program imunisasi hepatitis B.

Substansi Beracun Diperlukan untuk Membuat Vaksin

Vaksin mengandung substansi berbahaya yang diperlukan untuk mencegah infeksi dan meningkatkan performa vaksin. Seperti merkuri, formaldehyde, dan aluminium. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah anak austik meningkat dari antara 200 - 500 % di setiap negara bagian di Amerika.

Di Amerika, injeksi vaksin telah meningkat dari 10 menjadi 36 jenis dalam 25 tahun terakhir. Dalam periode ini, anak-anak yang menderita gangguan belajar dan perhatian terus meningkat. Sejumlah memang mungkin disebabkan karena pengguanan kokain oleh ibu mereka, tetapi kemungkinan vaksinlah penyebab utamanya. Sejumlah vaksin mengandung aluminium.

Hampir semua vaksin mengandung aluminium dan merkuri. Metal ini memiliki pengaruh yang penting dalam penyakit Alzheimer. Seorang pakar pada Konferensi Vaksin Internasional 1997 menunjukkan bahwa orang yang menerima 5 atau lebih vaksin flu memiliki kemungkinan terkena Alzheimer 10 kali lipat lebih besar dibanding orang yang mendaptkan injeksi 2 kali atau kurang. Saat kita menerima injeksi vaksin, kita sebenarnya sedang bermain Russian Roulette. Kita bukan hanya terekspos aluminium, merkuri, formaldehyde, dan protein asing lainnya, tetapi juga virus simian 40 dan virus-virus berbahaya lainnya yang bisa menyebabkan kanker, leukimia, dan gangguan lainnya.

Konggres telah memproteksi manufaktur dari tuntutan hukum, jadi vaksin-vaksin berbahaya meningkatkan profit perusahaan obat tanpa resiko bagi mereka.

Kebijakan pemerintah mewajibkan vaksinasi anak-anak sebelum memasuki sekolah diambil tanpa bukti akan efisiensi dan keamanan vaksin itu sendiri. Tidak ada bukti vaksin bekerja dan tidak ada penelitian akan keamanan penggunaan mereka. Pendapat saya adalah ada bukti dalam jumlah besar bahwa vaksin itu berbahaya dan satu-satunya alasan mereka eksis adalah karena profit luar biasa bagi perusahaan farmasi.


[https://pohonbodhi.blogspot.com/2009/01/mengenai-vaksin.html]

8.9.20

Robert F. Kennedy Jr.: Bill Gates Kendalikan Jurnalisme Global, Sebarkan Ketakutan Soal Covid-19 Salah Satu Operasinya

Eramuslim.com – Kita perlu jernih dalam menghubungkan satu narasi dengan narasi yang lain atau satu peristiwa dengan peristiwa yang lain terkait Covid-19. Sebagaimana yang pernah penulih nyatakan bahwa persebaran COVID-19 adalah semacam sebuah operasi yang direncanakan dengan cermat. Tidak ada yang spontan atau kebetulan. Resesi ekonomi dirancang pada tingkat nasional dan global. Pada gilirannya, krisis ini juga terintegrasi ke dalam perencanaan militer dan intelijen AS-NATO. Semua ini dimaksudkan tidak hanya pada pelemahan Cina, Rusia dan Iran, tetapi juga terhadap upaya destabilisasi struktur ekonomi Uni Eropa (UE). Lebih lanjut lihat juga ulasan penulis, Covid-19 dan Kejahatan Geopolitik.

Bahkan, sebagaimana disinggung oleh Robert F. Kennedy Jr., sebuah Tinjauan Jurnalisme Columbia (Columbia Jurnalism Review) mengungkapkan bahwa untuk mengendalikan jurnalisme global, Bill Gates telah mengelontorkan lebih dari $250 juta ke media-media arus utama (mainstream) dunia seperti BBC, NPR, NBC, Al Jazeera, ProPublica, Jurnal Nasional, The Guardian, New York Times, Univision, Medium, the Financial Times, The Atlantic, Texas Tribune, Gannett, Washington Monthly, Le Monde, Center for Investigative Reporting, Pulitzer Center, National Press Foundation, International Center for Journalists, dan sejumlah kelompok lainnya. Untuk menyembunyikan pengaruhnya, Gates juga menyalurkan jumlah yang tidak diketahui melalui dana hibah untuk kontrak ke outlet pers lainnya.

Menurut Kennedy Jr., Gates berhasil mengendalikan opini publik melalui suap yang ia gelontorkan, terutama selama pandemi Covid-19. Hal ini dibuktikan dengan pemberitaan media yang terus-menerus dan mempromosikan Bill Gates sebagai pakar kesehatan masyarakat — terlepas dari jam terbang atau pengalamannya di bidang medis.

Bahkan, Gates juga mendanai pasukan pemeriksa fakta independen termasuk Poynter Institute dan Gannett — yang menggunakan platform pengecekan fakta mereka untuk “membungkam para pengkritik” dan “menyanggah”nya sebagai “teori konspirasi palsu” dan “informasi yang salah”, tuduhan yang telah diperjuangkan Gates dan berinvestasi dalam chip biometrik, sistem identifikasi vaksin, pengawasan satelit, dan vaksin Covid.

Hadiah media Gates, kata penulis CJR Tim Schwab, berarti bahwa “pelaporan kritis tentang Gates Foundation jarang terjadi”. Yayasan Bill dan Melinda Gates menolak beberapa permintaan wawancara dari CJR dan menolak untuk mengungkapkan berapa banyak uang yang telah disalurkan kepada jurnalis.

Pada tahun 2007, LA Times menerbitkan satu-satunya investigasi kritis di Gates Foundation, yang mengungkap kepemilikan Gates di perusahaan yang merugikan orang-orang yang diklaim oleh yayasannya untuk membantu, seperti industri yang terkait dengan pekerja anak.

Reporter utama Charles Piller, berkata, “Mereka tidak mau menjawab pertanyaan dan cukup banyak menolak untuk menanggapi dengan cara apa pun…

Investigasi menunjukkan bagaimana pendanaan kesehatan global Gates telah mengarahkan agenda bantuan dunia menuju tujuan pribadi Gates (vaksin dan tanaman transgenik) dan jauh dari masalah seperti kesiapsiagaan darurat untuk menanggapi wabah penyakit, seperti krisis Ebola. "Mereka menghindari pertanyaan kami dan berusaha merongrong liputan kami,” kata jurnalis lepas Alex Park setelah menyelidiki upaya vaksin polio dari Gates Foundation.

Sebagaimana yang pernah penulis ungkap sebelumnya, persebaran Covid-19 juga berkaitan dengan dijalankannya tahap baru dalam evolusi kapitalisme global sedang berlangsung. Sistem “Tata Kelola Global” yang dikendalikan oleh kepentingan finansial yang kuat termasuk yayasan korporasi dan lembaga think tank Washington mengawasi pengambilan keputusan di tingkat nasional dan global. Pemerintah nasional menjadi bawahan “Tata Kelola Global”.

Konsep Pemerintah Dunia diangkat oleh mendiang David Rockefeller pada Pertemuan Bilderberger, Baden Jerman, Juni 1991, yang menyatakan “Kami berterima kasih kepada Washington Post, The New York Times, Time Magazine dan publikasi besar lainnya yang direkturnya telah menghadiri pertemuan kami dan menghormati janji kebijaksanaan mereka selama hampir 40 tahun. … Mustahil bagi kita untuk mengembangkan rencana kita bagi dunia jika kita menjadi sasaran sorotan publisitas selama tahun-tahun itu. Tetapi, dunia sekarang lebih canggih dan siap untuk berbaris menuju pemerintahan dunia. Kedaulatan supranasional dari elite intelektual dan bankir dunia tentunya lebih disukai daripada penentuan nasib sendiri secara nasional yang dipraktikkan di abad-abad lalu.” (dikutip oleh Aspen Times, 15 Agustus 2011)

Dalam Memoirsnya David Rockefeller lebih lanjut menyatakan: “Sebagian bahkan percaya kami adalah bagian dari komplotan rahasia yang bekerja melawan kepentingan terbaik Amerika Serikat, mencirikan keluarga saya dan saya sebagai para ‘internasionalis’ dan berkonspirasi dengan yang lain di seluruh dunia untuk membangun struktur politik dan ekonomi global yang lebih terintegrasi, satu dunia jika Anda mau. Jika itu tuduhannya, saya bersalah, dan saya bangga karenanya.”

Skenario Tata Kelola Global memaksakan agenda totaliter melalui rekayasa sosial dan kepatuhan ekonomi. Ini merupakan perpanjangan dari kerangka kebijakan neoliberal yang dikenakan pada negara-negara berkembang dan maju. Hal ini bisa dalam bentuk penghapusan hak menentukan nasib (bangsa) sendiri dan membangun nexus rezim pro-AS di seluruh dunia yang dikendalikan oleh “kedaulatan supranasional” (Pemerintah Dunia) yang terdiri dari lembaga keuangan terkemuka, miliarder dan yayasan filantropi mereka, termasuk Bill & Melinda Gates Foundation.(end)

Sudarto Murtaufiq, peneliti senior Global Future Intitute (GFI)


5.9.20

COVID-19, Wabah atau Fitnah?

Lockdown?
(Full) Lockdown di India.



Social Distancing?
Hukum Shalat Berjamaah dengan Jarak Antara Jamaah 1-2 Meter?



Masker & Face Shield?



Dunia Pendidikan Mati Suri?
Jaringan Internet, Gadget & Kuota menjadi masalah dalam sistem pembelajaran Dalam Jaringan (Daring).

Anak-anak Daring... Orang Tua Darting...



Pasar Tradisional?
  • Koq gak ngaruh ya?


https://international.sindonews.com/read/1497/44/imf-proyeksikan-resesi-ekonomi-di-afrika-pada-2020-akibat-covid-19-1586880298



DID YOU KNOW? Q3.54?




OBAT COVID-19?



Wallahu'alam!
#CoronaV #FollowUnFollow #DajjalPrepare? #ThePowerOfMoney #TheShowMustGoOn!

Tentang Covid-19?






Salam Covid-19! 😁

23.8.20

Korban Covid-19?

PLANDEMIC?
Gov. & Media?
Profesional (incl. dokter) & Pejabat Public?
 
BENER GA SIH?
Korban meninggal karena "COVID-19" banyak dari kalangan PROFESIONAL (termasuk dokter) & PEJABAT PUBLIK? Adapun korban meninggal dari kalangan rakyat biasa, mereka hanya dijadikan SEOLAH-OLAH KORBAN COVID-19?
Korban meninggal akibat FLU BURUNG (DULU) berasal dari keluarga "orang berada" yang tinggal di daerah BSD Tangerang, bukan dari kalangan rakyat biasa atau pedagang unggas di pasar tradisional.


#Arsip









Direktur WHO: Vaksin Bukanlah Akhir dari COVID-19 (???)
 



(KLIK!) WAJIB BACA WAJIB TAHU!???


NGACO SEMUA!?
Bi idznillah... wallahu'alam 
 
 
 
 
Unfollow?

 

=== ADA DATA INI ======================================================





 

DAN INI...

Bukti error "penanganan medis pasien Cuvid-19" selama ini, pasien meninggal gara-gara interaksi antar obat & alat yang malah membunuhnya. (Pasien sudah sesak tapi dibiarkan dengan alasan, "Oh, inikan sesuai dengan standar operasional yang sudah ditentukan. (oleh WHO?)"

Semua memang sengaja didesain sedemikian rupa oleh para aktor intelektual di balik layar yang menjalankan skenario ini secara terstruktur, sistematis & masif. DAN hal ini juga dimanfaatkan oleh fihak2 tertentu untuk kepentingan tertentu. Mereka "dibunuh" satu per satu secara tidak langsung (termasuk para pemuka agama) untuk meyakinkan kepada publik bahwa Cuvid-19 itu memang mematikan!

 

[Download] https://drive.google.com/file/d/1BW2bo3p9r09dlciupBuYZ-lihRdBQ5Po/view

 

 



7.5.20

Realita (Bisnis) Covid-19?

Habis GWOT Terbitlah COVID?
Bisnis GWOT Sebelumnya...

Closing Bisnis GWOT?
Ilustrasinya masih...
MUST READ:
Antara WTC-911 dan COVID-19



And, The Show (Bussines) Must Go On...

MAHAL & NGACO?
Inilah yang Membuat Rapid Test dst Menjadi Mahal? "Mahar"?


Dan "Kami"-pun Ingin Turut Berbisnis dan Mendapat Bagian?
NGACO!?


Dan Pandemi (Bisnis Covid-19) Harus Terus Berlanjut?
WHO-IDI-Aa Gym


Baca-baca yang Lainnya...
Bill Gates?



NWO Ready?


>>> FOLLOW UNFOLLOW?

Wallahu'alamu

14.5.15

Ikut Vaksinasi atau Tidak, Terserah Anda (?)

Eramuslim.com- Perdebatan apakah perlu ikut atau tidak perlu ikut Vaksinasi kini telah menjadi polemik berkepanjangan. Para pakar kesehatan pun terbelah menjadi dua kutub, anti dan pro. Masing-masing kubu memiliki pemahaman dan pengetahuannya masing-masing.

Kubu yang Pro Vaksinasi (disingkat “PV”) mengeluarkan data-data dan semua keterangan medis dan ilmiah yang hamper seluruhnya bersandar dari badan kesehatan dunia WHO dan lembaga-lembaga kesehatan resmi.

Sedangkan Kubu Yang Anti Vaksinasi (disingkat “AV”) juga mengeluarkan data-data dan semua keterangan dari berbagai literatur penelitian, fakta di lapangan, dan lembaga-lembaga yang kebanyakan anti WHO.”Kita semua tahu siapa yang ada di belakang WHO itu,” demikian salah satu keyakinannya.

Terlepas dari keyakinan kedua kubu tersebut, penulis hanya memaparkan beberapa pengalaman penulis sendiri yang terjadi terkait masalah tersebut, dan ini benar-benar terjadi. Semua orang dan kisah yang penulis kemukakan di sini adalah nyata. Mohon maaf jika tidak bisa diungkap jatidirinya karena mereka semua masih aktif bekerja dengan badan-badan The New World Order, seperti WHO dan sebagainya.

Sikap akhir terserah Anda semua, apakah tetap mengikut pada AV atau PV. Janganlah sekali-kali memaksakan kehendak, karena kesadaran tidak akan bisa muncul dari pemaksaan.

Kisah Pertama: Pertemuan dengan Seorang Doktor Terkemuka Singapura

Akhir Maret 2015, saya diundang bertemu dengan seorang tokoh dunia kedokteran Asia, seorang Doktor elit Singapura, spesialis, yang pernah menjadi dokter kepresidenan Filipina, Singapura, dan pernah ditawar menjadi dokter pribadi Raja Kartel Opium di Kamboja-Vietnam tapi dia menolak. Namanya sangat familiar di Google. Saya mendapat kesempatan langka diundang bertemu dengannya lewat seorang perantara, adik kandung seorang artis papan atas Indonesia yang memiliki darah Eropa.

Novel “CODEX: Kosnpirasi Jahat di atas Meja Makan Kita” yang membahas tentang Codex Alimentarius–program resmi PBB lewat Henry Kissinger di mana obat-obatan dan bahan makanan dijadikan senjata pembunuh massal–di mana salah satu bagiannya mengungkap tentang konspirasi seputar vaksinasi dan zat-zat aditif lainnya, terkait dengan Georgia Guidestone di Berkeley, menjadi “tali” yang mempertemukan kami.

Saya bertemu dengannya selama sekitar satu jam di sebuah tempat rendezvous di kawasan elit Jakarta Selatan, sore hari sebelum dia berangkat ke Bandara Soetta untuk kembali ke Singapura.

Singkat cerita dia menyatakan jika di Singapura, vaksinasi sudah menjadi barang yang wajib, dan banyak hal dalam kehidupan seorang anak hanya bisa diakses jika melampirkan bukti jika dirinya sudah menerima vaksinasi.

Padahal saya tahu jika vaksinasi itu buruk bagi ketahanan tubuhnya kelak. Tuhan telah menciptakan manusia dengan sangat sempurna, dan sebab itu manusia tidak lagi memerlukan zat-zat tambahan ketika dia lahir dan tumbuh. Kita hanya perlu menjaga tubuh ini dengan mengkonsumsi bahan-bahan makanan yang baik bagi kesehatan,” ujarnya dalam bahasa Inggris dengan logat Cina.

Celakanya, di negeri saya, hal itu wajib. Sebagai dokter di sana, saya mau tak mau harus melakukan hal itu (vaksinasi). Ada pertentangan batin disini. Akhirnya saya mengambil satu jalan kompromis, pada setiap pasien yang datang minta vaksinasi, saya suntikan saja vitamin ke tubuhnya, dan ampul vaksinnya saya buang. Di lembar keterangan yang tersedia saya tulis jika pasien saya ini sudah menerima vaksin ini dan itu. Beres kan?” ujarnya sambil tertawa.

Vaksin itu jahat. Dia melemahkan tubuh manusia yang sebenarnya sudah sangat sempurna ini. Di negara-negara maju sudah banyak yang melarang vaksinasi, atau melakukan vaksinasi secara sangat selektif. Hanya di Negara-negara terkebelakang saja yang massif dengan program vaksinasinya. Dan banyak yang tidak tahu jika vaksin yang ada di negara maju itu berbeda secara konten dengan vaksin yang diberikan ke negara-negara miskin dan terkebelakang. Jadi ada dua jenis vaksin di sini, dan banyak yang tidak paham dengan hal ini.

Dokter spesialis yang wajah dan perawakannya terlihat masih muda dibandingkan usianya yang sudah lumayan ini mengaku membiasakan hidup dengan hanya mengkonsumsi bahan-bahan makanan organik dan segar.

Saya menghindari mengkonsumsi makanan-makanan instan, dalam kemasan, MSG, dan sebagainya. Kepada anak-anak saya juga demikian. Kita sekarang ini dibombardir iklan-iklan menyesatkan tentang kehidupan yang serba praktis dan mudah, makanan cepat saji, dan sebagainya, tapi itu semua sesungguhnya racun bagi tubuh. Dewasa ini memang sedikit repot untuk bisa hidup sehat, namun apa salahnya jika kita benar-benar ingin hidup lebih panjang. Saya pribadi biasa mengkonsumsi jahe mentah, apalagi jahe biru, itu jahe langka tapi sangat bagus bagi kesehatan…

Banyak hal yang dikemukakan pakar ini sampai tak terasa waktu semakin sore dan dia harus mengejar pesawat untuk kembali ke negaranya. Sambil melihat jam dia bertanya pada adik selebritis papan atas Indonesia yang menjadi penghubung saya dan dia, “Apakah cukup waktu untuk menembus kemacetan Jakarta menuju Bandara Soetta?”

Akhirnya karena waktu yang sudah sangat sempit, tidak mungkin bisa dengan jalan darat, dia pun memilih untuk naik ke atas gedung, menuju helikopter yang sudah siap mengantarnya ke Bandara Soetta. Dengan sangat ramah dia menyalami kami dan berdoa semoga suatu hari kelak kita bisa bertemu kembali.

Kisah Kedua: Pesan Singkat Chef Terkenal yang Harus Direnungkan

Beberapa bulan lalu, sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk ke dalam ponsel. Isinya sebuah pertanyaan sederhana namun menyentak kesadaran.

Sejak kapan di Indonesia ada program nasional vaksinasi?

Karena saya tahu, saya menjawab, “Sejak awal tahun 1970-an…

Tidak lama kemudian jawaban dari Chef sahabat saya itu tampil di layar ponsel, “Sejak itulah, usia harapan hidup orang Indonesia menjadi lebih singkat.

Deg!

Benar juga. Di era bapak dan ibu kita hidup, usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata mampu mencapai seratusan tahun, atau paling tidak delapan puluh tahun. Orang Indonesia dahulu kuat-kuat, dan mampu berjalan puluhan kilometer walau usianya sudah tidak lagi muda.

Sekarang, usia harapan hidup orang Indonesia semakin cepat. Banyak teman-teman kita yang baru mencapai usia 40-50 sudah dijemput maut. Banyak orang-orang muda yang sudah mengidap penyakit ini dan itu. Bahkan sudah banyak usia 30-40an yang sudah menderita stroke atau jantung.

Kelompok Pro-Vaksinasi pasti memiliki alibi sendiri soal ini. Biarlah. Tapi apa yang chef sahabat saya utarakan tadi sungguh-sungguh menyentak kesadaran. Apalagi isterinya bekerja untuk badan PBB yang menelurkan Codex Alimentarius Program, di mana Kissinger pernah berkata di depan umum jika dia lewat badan PBB tersebut akan menjadikan obat-obatan, vitamin, makanan, dan sebagainya sebagai senjata pembunuh massal. Dalam artian, segala obat dan makanan akan disusupi oleh agen-agen penyakit agar manusia semakin lemah dan usia harapan hidupnya pun akan semakin singkat.

April kemarin, kami bertemu lagi di sebuah mal di pingiran Jakarta. Sekali lagi dia bercerita soal vaksinasi. Chef yang lama tinggal di Amerika itu menyatakan jika dirinya tahu jika vaksin yang ada di Amerika dan Eropa, serta negara-negara maju lainnya, itu ada yang sungguh-sungguh membuat badan kebal terhadap beberapa jenis penyakit. Namun vaksin yang disebar ke negara-negara terkebelakang seperti Indonesia, beda.

Ada dua jenis vaksin yang diproduksi. Yang pertama yang berkualitas bagus dipakai di negara-negara maju, sedangkan yang dikirim ke negara-negara terkebelakang itu racun sebenarnya, untuk melemahkan penduduknya,” ujarnya.

Ya, pelemahan dan pemusnahan sebagian penduduk dunia, memang bukan isapan jempol. Hanya mereka yang kurang membaca, tidak kritis, dan hidup di dalam tempurung kelapa, yang menyatakan program jahat ini cuma teori konspirasi kosong yang tidak ada buktinya.

Kisah Ketiga: Anak Bungsu yang Sungguh Sehat dan Kuat Tanpa Vaksin Apa Pun.

Seorang sahabat lagi, pengusaha muda yang tinggal di kompleks perumahan elit di pinggiran ibukota, memiliki beberapa orang anak. Semua anaknya, kecuali yang bungsu, divaksin semasa kecil. Sedangkan si bungsu, sengaja tidak diberi vaksin apa pun sejak lahir.

Subhanallah, perbedaannya sungguh nyata! Anak-anak saya yang pertama dan adik-adiknya itu sejak kecil langganan rumah sakit. Pilek atau batuk sedikit saja langsung menjadi parah dan bahkan harus dirawat di rumah sakit. Dokter-dokternya menjadi teman akrab anak-anak saya tersebut. Mereka mudah sekali terserang penyakit dan jika sudah sakit maka akan berkepanjangan…

Beda sekali dengan si bungsu. Anak saya yang bungsu ini sama sekali tidak diberi vaksin. Hal ini menuai kontroversi di keluarga karena beberapa saudara saya ada yang berprofesi sebagai dokter yang Pro Vaksinasi. Anak bungsu saya ini hanya diberi suplemen madu, habbatusauda, dan herbal lainnya. Ternyata si bungsu ini sungguh kuat ketahanan tubuhnya. Dia tidak mudah sakit. Dan kalau pun pilek, maka itu cuma sebentar dan akan hilang jika diberi madu dan istirahat yang cukup. Ini sangat berbeda dengan kakak-kakaknya.

Apakah dengan kasus ini saudara-saudara yang dokter menjadi sadar dan akhirnya meralat pandangannya soal vaksin?” tanya saya.

Dia menggeleng dan tertawa, “Tidak juga. Mereka masih saja berpandangan jika vaksin itu perlu. Sungguh hebat memang sistem pendidikan globalis ini sehingga apa-apa yang ditanamkan ke dalam otak anak didik bisa terpatri dengan sangat kuat…

Nah, tiga kisah ini saja dulu yang saya paparkan. Masih ada kisah-kisah lainnya sesungguhnya. Namun biarlah cukup disini. Sekarang terserah kepada kita semua, apakah akan tetap mendukung program vaksinisasi atau tidak. Semuaya tergantung pada masing-masing individu. (rz)


Must Read!