Sahabat Smart Voa Islam,
Korea Selatan negeri ginseng yang sedang mendunia, lewat K-Pop dan teknologinya Korea Selatan merancang kiblat baru di kancah permusikan. Setelah berhasil menduniakan K-Pop, ternyata Apple juga dibuatnya gigit jari melihat kemajuan teknologi Korsel, Samsung yang saat ini tengah nge-
In seperti dilansir harian
The Wall Street Journal memberitakan iklan Samsung pada final Superbowl, harian tersebut mengatakan bahwa Apple sudah kalah keren dibanding Samsung dalam hal pemasaran. Dalam dokumen rencana strategi Samsung pada 2011, prioritas Samsung adalah mengalahkan Apple dalam segala hal.
Semua yang dilakukan Samsung harus dalam konteks mengalahkan Apple. Namun siapa sangka di tengah pencapaian teknologi dan budayanya masyarakat Korea Selatan mengalami kerapuhan Organisasi Kesehatan Dunia atau
World Health Organization (WHO) telah merilis data statistik tingkat kasus bunuh diri dunia pada Kamis 4 September 2014 dan menepatkan Korea Selatan di posisi ke 3 dunia.
Hal tersebut dipicu banyak hal, diantaranya tekanan untuk sukses di Korea sangat tinggi. Bagi seorang pekerja, sukses berarti bekerja di salah satu perusahaan konglomerasi besar seperti Samsung atau Hyundai atau yang diberi istilah
chaebol dan untuk mencapai karir dan reputasi tinggi mereka harus membuktikan diri sebagai pekerja keras, Walaupun harus mengesampingkan kepentingan pribadi serta keluarga.
Untuk artis mereka terlalu menjadikan sudut pandang orang menjadi rujukan dalam bersikap, seperti konsep cantik yaitu orang berkulit putih, hidung mancung, wajah membentuh huruf V dan jidat sedikit jenong, sehingga akibatnya anak muda yang tidak memenuhi standar tersebut memilih jalan
instan operasi plastik, karena wajah cantik di Korea Selatan lebih di dihargai orang dan memudahkan seseorang mencari pekerjaan, sehingga para orangtua menganjurkan anaknya opreasi, tak heran Korsel menjadi
destination wisata opresi plastik yang popular.
Kesalahan Pradigma Berfikir
Negara Korsel menganut sistem sekuler memisahkan agama dari kehidupan manusia, negara tidak mengajurkan setiap orang untuk menganut agama, akibatnya orang Korsel banyak atheis, hal tersebut tidaklah dilarang, ketika seseorang mempunyai permasalahan mereka tidak mempunyai pegangan kuat, terlebih mereka mempunyai pandangan hidup yang salah terhadap konsep kebahagian, mereka mengukur kebahagian dari materi, sebarapa cantikkah dirimu? Berapa banyak jumlah hartamu?seberapa suksekah pekerjaanmu? Sehingga hidup mereka dibanyangi tantangan dan targetan yang sama sekali tidak ada ujungnya, iklim seperti ini rawan membuat mereka depresi akhirnya bunuh diri, tak bisa dipungkiri kepercayaan pada rekarnasi juga menambah suram permasalahan, rekarnasi menyakini jika mati atau bunuh diri mereka akan lahir kembali menjadi orang lain yang lebih baik, surga dan neraka tidak ada dalam jangkaun berfikir mereka.
Islam Agama yang Sempurna
Dari sekian konsep kehidupan hanya islamlah yang memberikan pandangan dan aturan secara sempurna, setiap manusia Allah ciptakan tentulah dengan seperangkat aturan, yang mana aturan tersebut semata-mata Allah hadirkan untuk kebaikan manusia.
Islam memang mengakui adanya kebutuhan manusia akan materi, hanya saja tidak islam tidak menjadikan materi sebagai tujuan manusia hidup di dunia, akan tetapi tidaklah aku ciptan jin dan manusia semata-mata beribadah dan menyembah Allah, islam memberikan pandangan hakiki tentang kebahagian yang lebih jauh menentram hati yaitu, Aqidah yang mendorong motivasi seseorang untuk senantiasa beramal
shalih melakukan aktifitas sesuai dengan aturan Allah, contoh kecilnya seorang ayah dituntut bekerja dan mencari untuk memenuhi nafkah keluarga, namun kontek mencari uang tersebut tidaklah asal mendapat uang dan pekerjaan, tapi bagiamana seorang ayah mencari pekerjaaan yang
halal.
Keridhoaan Allah-lah yang menjadi sumber kebahagian seeorang, apalah artinya jika bergelimbang harta tapi harta tersebut dicari dengan cara yang salah, tentulah Allah tidak akan ridho, begitun pun konsep cantik, islam tidak pernah memandang manusia dari fisiknya, sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholehah, wanita yang selalu taat pada kepada Allah Swt. Ironi menang, dibalik kerapuhannya umat islam masih ada saja yang mengidolakan dan mengelu-elukan budaya K-Pop padahal sejatinya mereka tidak pantas dibanggakan.
Walluhu’Alam.
Oleh
Anastasia
Alumni Pendidikan Bahasa Jerman UPI Bandung
Inilah Jalan Hidup Seorang Mukmin
Dalam keyakinan orang Jepang, bunuh diri ketika merasa gagal,
adalah cara mati yang terpuji dan terhormat sebagai seorang kesatria
Oleh:
Dr. Achmad Yani, Lc, Med.
MANUSIA adilahirkan sebagai bayi, menyusu kepada ibunya, tumbuh menjadi
anak-anak yang manja dan sibuk dengan segala macam alat permainannya.
Lalu ia menjadi remaja dengan segala macam kegiatannya, mulai dari
sekolah, belajar, nongkrong, jalan-jalan, dengerin musik, pacaran,
tawuran, nonton film, jajan, dan lain sebagainya.
Memasuki masa dewasa, ia mulai disibukkan dengan urusan pekerjaan,
mencari pengahasilan, mengurusi keluarga, anak dan istri. Setelah itu
akhirnya menua, manjadi kakek atau nenek, kemudian mati.
Apakah dengan kematian itu berarti semuanya telah selesai? Jika belum
selesai, lantas apa sebenarnya tujuan hidup kita di dunia ini?
Memahami Hakekat Hidup
Pemahaman terhadap tujuan hidup ini sangat penting, karena tujuan itulah
yang akan menentukan kemana arah perjalan ini akan ditempuh. Ibarat
tujuannnya adalah Jakarta, jika dari Surabaya, maka berarti kita harus
berjalan ke arah barat.Begitu juga jika tujuannya adalah Bali, maka
berarti kita harus berjalan ke arah timur.
Memahami hakekat tujuan hidup ini menjadi sangat penting, sebab jika
pemahaman itu salah, maka bisa dipastikan prilakunya pasti juga salah.
Orang Jepang contohnya, menurut falsafah mereka, hakekat kehidupan ini
adalah untuk menunggu kematian.Bagi mereka, jika Anda merasa sudah tidak
ada lagi peluang untuk sukses, maka lebih baik mati secepatnya dan
tidak ada artinya menunggu di dunia ini lebih lama. Silahkan bunuh diri
saja, itu lebih baik dari pada anda menjadi orang yang gagal dalam
hidup.
Dalam keyakinan orang Jepang, bunuh diri ketika merasa gagal, adalah
cara mati yang terpuji dan terhormat sebagai seorang kesatria yang
secara jantan mengakui kegagalannya, dan memilih untuk mengakhiri hidup
secepatnya. Ini bisa dilihat daridata yang ada, sampai hari ini minimal
70 orang perhari mati bunuh diri di Jepang, sehingga Jepang menjadi
negara nomer satu di dunia untuk jumlah bunuh diri terbanyak.
Sangat ironis, Negara yang begitu maju, canggih dalam teknologi, yang
produksi mobilnya dipakai di seluruh dunia: Toyota, Mitsubishi,
Daihatsu, Honda, Suzuki, dan lain-lainnya, ternyata menjadi Negara yang
jumlah bunuh dirinya terbesar di seluruh dunia. Kanapa itu bisa terjadi,
tidak lain adalah disebabkan pemahaman mereka tentang hakekat kehidupan
ini.
Sedangkan orang Barat, mereka memahami hakekat kehidupan ini sebagai
kesempatan untuk menikmati kehidupan sebelum ajal menjemput.
Itulah sebabnya, menjadi cita-cita hampir semua orang barat untuk bisa
melancong ke berbagai penjuru dunia, yang tidak lain tujuannya adalah
untuk sepenuhnya bisa menikmati keindahan hidup di dunia. Banyak yang
menyangka bahwa semua turis dari barat itu adalah orang kaya.Tidak,
justru sebagian besar mereka adalah orang-orang yang ekonominya
biasa-biasa saja.Memang ada juga yang kaya raya, namun sebagian besar
adalah orang biasa.Kebanyakan dari mereka adalah orang kelas menengah
kebawah yang telah bertahun-tahun bekerja, atau bahkan berpuluh-puluh
tahun. Uang hasil bekerja itu kemudian ditabung, sekian lama mereka
menabung, kemudian uang itu mereka habiskan untuk melancong ke berbagai
penjuru dunia selama setahun, dua tahun, atau bahkan lima tahun, dan
seterusnya.
Trend melancong dalam waktu yang lama sudah menjadi gaya hidup sebagian
besar orang barat. Kenapa bisa begitu, jawabannya adalah disebabkan
pemahaman mereka dalam memakanai hakekat kehidupan.Bagi mereeka, hidup
ini adalah kesempatan untuk menikmatinya, sebelum kita dijemput oleh
kematian.Nikmatilah hidupmu sepenuhnya, sebelum engkau meninggakan
dunia.Dan cara menikmati hidup yang paling istimewa untuk mereka adalah
dengan melancong ke berbagai penjuru dunia dalam waktu yang lama, tidak
perlu kerja, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, tidak ada yang
menyuruh, tidak ada yang memberi tekanan, tidak ada kewajiban untuk
kerja, rapat, ngajar, dan segala macam kegiatan lainnya, yang kesemuanya
itu dirasakan sebagai tekanan dalam menjalani kehidupan.
Kemudian kita sebagai orang mukmin, apa makna hakekat kehidupan ini
untuk kita? Apakah hidup ini hanya untuk menikmati makanan yang
lezat-lezat? Jika itu pemahaman kita, lalu apa beda kita dengan sapi
yang seumur hidupnya hanya makan dan makan. Jika urusan makan, tentu
sapi lebih hebat dari kita, sebab sapi sepanjang hidupnya adalah untuk
mengunyah makanan. Sedangkan manusia, setelah menikmati makanan satu
piring, maka dia pun sudah merasa kenyang, dan sudah tidak sanggup lagi
menyantap makananan yang lainnya.
Adakah hidup kita hanyalah untuk menikmati wanita cantik dan menyalurkan
nafsu biologis semata? Jika urusan pemuasan kebutuhan biologis, maka
ayam jauh lebih hebat dari kita, sebab ayam mampu melakukan hubungan
biologis sehari lebih dari 20 kali.Sedangkan kita?Kemampuan dan kekuatan
kita kalah jauh dibandingkan ayam.
Ataukah hidup kita ini hanya untuk jalan-jalan dan menikmati
pemandangan? Jika itu tujuannya, tentu burung elang yang bisa terbang
tinggi di udara jauh lebih hebat dari kita. Tiap hari ia terbang tinggi
dan menimkati pemandangan yang begitu indah dari atas ketinggian,
terbang jauh kemana ia suka.
JADI apa sebenarnya tujuan hidup kita? Apakah kita dilahirkan, tumbuh
jadi anak-anak, remaja, dewasa, kemudian menua, dan akhirnya mati…
Adakah dengan itu berarti hidup kita telah selesai?
Allah berfirman dalam Al-Quran:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan
kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan
kepada Kami?” (QS Al-Mu’minuun: 115)
Sesungguhnya jawaban dari pertanyaan ini adalah dalam firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyat: 56)
Ayat tersebut diatas merupakan petunjuk dari Allah
Subhanahu Wata’ala
kepada manusia tentang tujuan diciptakannya di muka bumi ini. Sebagai
manusia, kita memang perlu makan, minum, tidur, bekerja, menikah,
istirahat, pakaian, tempat tinggal, alat transportasi, harta, dan lain
sebagainya. Namun kesemuanya itu bukanlah tujuan, melainkan itu hanyalah
alat untuk kita beribadah kepada Allah
Subhanahu Wata’ala.
Makna ibadah dalam islam sangatlah luas, semua aktivitas yang dilakukan
manuasia bisa bernilai ibadah, sejak dari bangun tidur, sampai tidur
lagi, bahkan tidur itu sendiri, juga bernilai ibadah. Ibadah dalam islam
bukan hanya berbentuk sholat, puasa, haji, baca al-Quran, melainkan
semua aktivitas manusia bisa bernilai ibadah.
Ketika kita bangun tidur, kemudian kita ke kamar mandi untuk buang air
kecil, kita niatkan itu sebagai ibadah, menjaga kesehatan, merawat
anugerah Allah berupa badan, sebab kalau air kencing ditahan itu bisa
menyebabkan penyakit, dengan niat yang seperti maka buang air kecil
itupun bernilai ibadah.
Dilanjutkan berwudlu dan kemudian sholat, ini juga ibadah. Setelah itu
kita sarapan, diniatkan agar badan kita ada energy sebagai bekal ibadah,
maka sarapan kita itupun bernilai Ibadah.
Kemudian kita mandi pagi, gosok gigi, dan membersihkan badan, diniatkan
untuk menjaga kesegaran badan, biar tidak bau, dan tidak menganggu orang
disekitar kita, maka ini pun bernilai ibadah.Begitu juga ketika kita
pergi ke tempat kerja, kita niatkan mencari rizki yang halal, untuk diri
sendiri dan keluarga, maka sejak pagi sampai sore kita bekerja, selama
itulah pahala ibadah terus mengalir.
Semua aktitas yang sifatnya duniawi seperti ke pasar, ke kampus, ke
kantor, ke sawah, dan lain sebagainya,itu semua bisa bernilai ibadah
jika kita betul dalam meniatkannya. Namun jika kita salah niat, maka
semua aktivitas itu hanyalah bernilai amalan dunia saja, dan tidak ada
pahalanya di akhirat.
Tidak penting bagi seorang mukmin apakan dia menjadi kaya atau misikin,
pejabat atau rakyat, bos atau kuli, atasan ataupun bawahan, sebab bagi
seorang mukmin, apapun situasinya, bagaimanapun keadaannya, semuanya
adalah kesempatan untuk beribadah.
Jika dia miskin dan sabar dengan kekurangannnya, maka kemiskinan adalah
keberkahan baginya, sebab kesabaran menjalani kehidupan dengan serba
kekurangan mendatangkan pahala untuknya. Jika dia kaya, itu juga
kesempatan baginya untuk beribadah, mensyukuri kekayaan yang diberikan,
banyak berzakat dan bersedekah, menolong siapa saja yang memerlukan,
maka dengan begitu kekayaan adalah keberkahan untuknya, sebab harta yang
dimiliki menjadi sumber pahala.
Rasulullah bersabda:
عَجَبًا لأَمْرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ ليسَ ذلكَ
لأَحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ
وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا لهُ) رواهُ مُسْلِمٌ
“
Alangkah mengagumkan kehidupan seorang mukmin, sungguh segala
urusannya mendatangkan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan yang seperti
itu hanya ada dalam kehidupan seorang mukmin.Ketika dia mendapatkan
kesenangan, maka diapun bersyukur, dan itu mendatangkan kebaikan
untuknya (pahala).Begitu juga ketika dia sedang ditimpa kesusahan, maka
dia pun bersabar, dan itu pun mendatangkan kebaikan untuknya (pahala).” [HR Muslim]
Wallahu A’lam.
Penulis adalah Dosen di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM)