Showing posts with label Bom Boston. Show all posts
Showing posts with label Bom Boston. Show all posts

23.6.15

TERORISME adalah

Sebuah Niat, sebuah Makar, sebuah AWAL...

Sesuatu "harus dibuat dan harus dilakukan" untuk lebih "mempertegas" sehingga "keputusan" bisa dibuat...
Sebuah Fitnah Akbar(?) yang melibatkan hampir seluruh manusia di atas muka bumi ini...

Sebuah "konspirasi", siapa yang "nyerang" dan siapa yang "diserang"...
Perkataan George W. Bush pasca (Fitnah Akbar) serangan WTC 911:
"...Menjauh dari semua kesalahan, semua bangsa dan semua wilayah, kini ada keputusan untuk dibuat, kalian bersama KAMI atau kalian bersama TERORIS?"
WTC 911 Part #1


WTC 911 Part #2


Dari tayangan video di atas, jelas sudah siapa yang dimaksud KAMI dan siapa yang diposisikan sebagai TERORIS "musuh bersama" oleh George W. Bush...


Follower...
"We get big bucks!"



Sebuah Ilustrasi..?
Kafirun yang telah tertipu, "tahu percis dan memperolok!"
Munafikun: "Wah... kesempatan nih!"  
Fasiqun: tidak (mau) tahu dan turut tertipu...


Cara Densus88 dalam menjalankan "proyek" GWOT:
  • "Pemerintah" mempunyai INTEL di akun-akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau akun (account) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita-cita mati syahid atau yang sering memposting berita berita jihad.
  • Setelah target ditemukan maka akun intel DENSUS88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi, maka mereka akan memulai bertanya-tanya berada dimana alamat rumahnya sambil diiringi perbincangan tentang penegakan syariat di indonesia kalau semua lancar maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia.
  • Bagi yang akunnya sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya, si intel akan langsung menjadikan dia target dengan mengutus orang yang mengaku sebagai "perindu syahid".
  • Setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban DENSUS88 ini akan langsung diberi latihan militer, atau langsung dipersenjatai.
  • Setelah itu calon korban ini di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi DENSUS88 untuk menyerbu (kita tahu, rata-rata semua penyergapan TERORIS adalah rumah kontrakan)
  • Setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan-bahan peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan, biasanya intel-intel tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom (namun bagi DENSUS88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya).
  • Perlu diketahui bahwa para calon korban ini diberi senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama (agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru DENSUS88 bisa langsung menembak mati korban dengan alasan melakukan perlawanan saat mau ditangkap.
  • Setelah semua siap maka akan terjadilah DRAMA penggerebekan TERORIS, dan akan di siarkan biasanya secara LIVE di tv nasional yang sudah diberi tahu sebelumnya.
  • Saat penggrebekan terjadi, biasanya akan terjadi kontak senjata, itu dikarenakan sang calon korban ini sudah didoktrin untuk membenci Pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama DENSUS88 sehingga saat mereka tahu bahwa yang datang densus88 para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan DENSUS88 adalah mati syahid.
  • Perlu diketahui bahwa yang direkrut para intel ini adalah anak-anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita-cita mati syahid, namun tanpa sadar mereka telah dikelabui untuk menjadi "tumbal" DENSUS88 agar terus exist selain itu juga sebagai cara untuk meminimalisir para pejuang khilafah di indonesia.
  • Anggota/Regu DENSUS 88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan "skenario" ini, untuk menjaga kerahasiaan operasi, mereka hanya tahu bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris atau jaringan Al-Qaida.
  • Si korban akan langsung ditembak mati di tempat tanpa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya. Adapun yang tertangkap masih hidup, mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar kalau yang merekrut mereka ini adalah intel DENSUS88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid (Red-mujahidin buatan densus).

Selain untuk memandulkan pergerakan para aktivis dakwah Islam dan jihad fi sabilillah, menurut Mbai, kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), penggerebekan "Operasi Tangkap Mati" teroris adalah berita seksi yang digunakan untuk mengalihkan isu yang sedang berkembang. Penggerebekan terduga teroris sudah di setup sejak lama (baca: dijebak, didanai, disulut semangatnya, dan diprovokasi untuk membuat makar, lalu akhirnya ditangkap) dan eksekusinya tinggal menunggu moment (baca: order) yang tepat.


Terkait...

The REAL TERRORISM?


WHAT'S WRONG WITH ISLAM? 
International...
[HATE!] ROHINGYA...
mirip BOSNIA, AMBON, POSO dan...

Di "MEDIA"? 
...tidak ada informasi kecuali "sebaliknya"!
it's not just oil...
National...
  • Penghapusan kalimat "kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" dalam rumusan Dasar Negara... Indonesia Sekuler
  • "Isu" DI TII
  • Upaya pendistorsian jejak-jejak sejarah perjuangan para pahalawan dan ulama Muslim dalam perjuangan melawan PENJAJAH dan pergerakan kemerdekaan Indonesia.
  • Nasib umat Islam di tangan Jendral-jendral "nasionalis" pada masa ORBA... Tragedi Cicendo Bandung, Tanjung Priuk...
  • "Kasus Jilbab" jadi masalah serius di tahun 80-an. Larangan pemakain jilbab bagi siswi-siswi di sekolah-sekolah negeri. 
  • Upaya pengkerdilan dan pengkotak-kotakan Al Islam sehingga i s l a m tidak sampai menjadi ISLAM di NKRI ini.
  • Interferensi partai penguasa pada masa ORBA terhadap Islam yang melahirkan "kotak" baru dalam Islam...
    Interferensi "Beringin Kuning"
  • Interferensi intelijen terhadap Islam yang menghasilkan lembaga pendidikan "Islam" (pesantren) versi mereka...
    Islam di mata mereka: "(tidak) Toleran dan (tidak) Damai"
  • Tragedi Ambon, Poso...
  • Pencitraan Islam di media-media nasional(is)...
  • ...


Ayeuna...
...tidaklah sama orang yang "buta"
dengan orang yang melihat!
  • BE SMART..! Jangan terpancing apalagi sampai turut tertipu!
  • "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu" (Q2.120)
  • "Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, pasti akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar" (Q8.73)
  • "Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya" (Q3.54)
  • "Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai"(Q9.32)
  • Shabar dan atau Syukur! ...Hanya ada 2 pilihan bagi kita yang dianggap "teroris".
  • Syurga ada harganya! ...“Neraka itu dihijab (dikelilingi) dengan syahwat, sedangkan Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan (dibenci)” (HR Bukhari) 
  • Bahagia tidak bisa diukur dengan materi...
  • ... 
  • KITA SEDANG MENEMPUH TAQDIR (NIAT) MASING-MASING YANG TELAH ALLAH AZZA WA JALLA -SANG PENCIPTA KEHIDUPAN TETAPKAN... Sang Pencipta Kehidupan: "...kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka!"

Wallahu 'alamu! 

SUMBER

22.6.15

RADIKALISME adalah

Sebuah Niat, sebuah Makar, sebuah AWAL...

Sesuatu "harus dibuat dan harus dilakukan" untuk lebih "mempertegas" sehingga "keputusan" bisa dibuat...
Sebuah Fitnah Akbar(?) yang melibatkan hampir seluruh manusia di atas muka bumi ini...

Sebuah "konspirasi", siapa yang "nyerang" dan siapa yang "diserang"...
Perkataan George W. Bush pasca (Fitnah Akbar) serangan WTC 911:
"...Menjauh dari semua kesalahan, semua bangsa dan semua wilayah, kini ada keputusan untuk dibuat, kalian bersama KAMI atau kalian bersama TERORIS?"
WTC 911 Part #1


WTC 911 Part #2


Dari tayangan video di atas, jelas sudah siapa yang dimaksud KAMI dan siapa yang diposisikan sebagai TERORIS "musuh bersama" oleh George W. Bush...


Follower...
"We get big bucks!"



Sebuah Ilustrasi..?
Kafirun yang telah tertipu, "tahu percis dan memperolok!"
Munafikun: "Wah... kesempatan nih!"  
Fasiqun: tidak (mau) tahu dan turut tertipu...


Cara Densus88 dalam menjalankan "proyek" GWOT:
  • "Pemerintah" mempunyai INTEL di akun-akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau akun (account) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita-cita mati syahid atau yang sering memposting berita berita jihad.
  • Setelah target ditemukan maka akun intel DENSUS88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi, maka mereka akan memulai bertanya-tanya berada dimana alamat rumahnya sambil diiringi perbincangan tentang penegakan syariat di indonesia kalau semua lancar maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia.
  • Bagi yang akunnya sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya, si intel akan langsung menjadikan dia target dengan mengutus orang yang mengaku sebagai "perindu syahid".
  • Setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban DENSUS88 ini akan langsung diberi latihan militer, atau langsung dipersenjatai.
  • Setelah itu calon korban ini di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi DENSUS88 untuk menyerbu (kita tahu, rata-rata semua penyergapan TERORIS adalah rumah kontrakan)
  • Setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan-bahan peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan, biasanya intel-intel tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom (namun bagi DENSUS88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya).
  • Perlu diketahui bahwa para calon korban ini diberi senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama (agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru DENSUS88 bisa langsung menembak mati korban dengan alasan melakukan perlawanan saat mau ditangkap.
  • Setelah semua siap maka akan terjadilah DRAMA penggerebekan TERORIS, dan akan di siarkan biasanya secara LIVE di tv nasional yang sudah diberi tahu sebelumnya.
  • Saat penggrebekan terjadi, biasanya akan terjadi kontak senjata, itu dikarenakan sang calon korban ini sudah didoktrin untuk membenci Pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama DENSUS88 sehingga saat mereka tahu bahwa yang datang densus88 para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan DENSUS88 adalah mati syahid.
  • Perlu diketahui bahwa yang direkrut para intel ini adalah anak-anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita-cita mati syahid, namun tanpa sadar mereka telah dikelabui untuk menjadi "tumbal" DENSUS88 agar terus exist selain itu juga sebagai cara untuk meminimalisir para pejuang khilafah di indonesia.
  • Anggota/Regu DENSUS 88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan "skenario" ini, untuk menjaga kerahasiaan operasi, mereka hanya tahu bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris atau jaringan Al-Qaida.
  • Si korban akan langsung ditembak mati di tempat tanpa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya. Adapun yang tertangkap masih hidup, mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar kalau yang merekrut mereka ini adalah intel DENSUS88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid (Red-mujahidin buatan densus).

Selain untuk memandulkan pergerakan para aktivis dakwah Islam dan jihad fi sabilillah, menurut Mbai, kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), penggerebekan "Operasi Tangkap Mati" teroris adalah berita seksi yang digunakan untuk mengalihkan isu yang sedang berkembang. Penggerebekan terduga teroris sudah di setup sejak lama (baca: dijebak, didanai, disulut semangatnya, dan diprovokasi untuk membuat makar, lalu akhirnya ditangkap) dan eksekusinya tinggal menunggu moment (baca: order) yang tepat.


Terkait...

The REAL TERRORISM?


WHAT'S WRONG WITH ISLAM? 
International...
[HATE!] ROHINGYA...
mirip BOSNIA, AMBON, POSO dan...

Di "MEDIA"? 
...tidak ada informasi kecuali "sebaliknya"!
it's not just oil...
National...
  • Penghapusan kalimat "kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" dalam rumusan Dasar Negara... Indonesia Sekuler
  • "Isu" DI TII
  • Upaya pendistorsian jejak-jejak sejarah perjuangan para pahalawan dan ulama Muslim dalam perjuangan melawan PENJAJAH dan pergerakan kemerdekaan Indonesia.
  • Nasib umat Islam di tangan Jendral-jendral "nasionalis" pada masa ORBA... Tragedi Cicendo Bandung, Tanjung Priuk...
  • "Kasus Jilbab" jadi masalah serius di tahun 80-an. Larangan pemakain jilbab bagi siswi-siswi di sekolah-sekolah negeri. 
  • Upaya pengkerdilan dan pengkotak-kotakan Al Islam sehingga i s l a m tidak sampai menjadi ISLAM di NKRI ini.
  • Interferensi partai penguasa pada masa ORBA terhadap Islam yang melahirkan "kotak" baru dalam Islam...
    Interferensi "Beringin Kuning"
  • Interferensi intelijen terhadap Islam yang menghasilkan lembaga pendidikan "Islam" (pesantren) versi mereka...
    Islam di mata mereka: "(tidak) Toleran dan (tidak) Damai"
  • Tragedi Ambon, Poso...
  • Pencitraan Islam di media-media nasional(is)...
  • ...


Ayeuna...
...tidaklah sama orang yang "buta"
dengan orang yang melihat!
  • BE SMART..! Jangan terpancing apalagi sampai turut tertipu!
  • "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu" (Q2.120)
  • "Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, pasti akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar" (Q8.73)
  • "Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya" (Q3.54)
  • "Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai"(Q9.32)
  • Shabar dan atau Syukur! ...Hanya ada 2 pilihan bagi kita yang dianggap "teroris".
  • Syurga ada harganya! ...“Neraka itu dihijab (dikelilingi) dengan syahwat, sedangkan Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan (dibenci)” (HR Bukhari) 
  • Bahagia tidak bisa diukur dengan materi...
  • ... 
  • KITA SEDANG MENEMPUH TAQDIR (NIAT) MASING-MASING YANG TELAH ALLAH AZZA WA JALLA -SANG PENCIPTA KEHIDUPAN TETAPKAN... Sang Pencipta Kehidupan: "...kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka!"

Wallahu 'alamu! 

SUMBER

13.5.15

Amerika Dinilai Menipu Dunia Soal Tewasnya Usamah bin Laden

Menurut Hersh, jasad Bin Ladin juga tak dimakamkam di laut seperti yang selama ini diklaim Pemerintah AS. Jasad Bin Ladin, klaim Hersh, sebenarnya dimakamkan Pemerintah AS di wilayah Afganistan.

Seymour Hersh: Amerika Menipu Dunia Soal Usamah Bin Ladin
Hidayatullah.com–Seorang wartawan AS pemenang hadiah Pulitzer, Seymour Hersh, membuat tudingan menghebohkan terkait operasi militer AS yang menewaskan pemimpin Al-Qaidah, Usamah bin Ladin.

Dalam sebuah pernyataan terbaru Hersh mengatakan Amerika Serikat (AS) menipu dunia soal kematian Bin Ladin sehingga pemerintahan Presiden Barack Obama bisa mengklaim kemenangan perang melawan Al-Qaidah. Hersh menuding, Pemerintah AS sebenarnya sudah mengetahui posisi Bin Ladin, yang diyakini sebagai dalang selangan 11 September di New York, di kota Abottabad, Pakistan.

Tudingan itu dilontarkan Seymour Hersh yang juga dikenal jurnalis investigasi ini bukan sekadar sensasi, laporan investigasi soal kebohongannya ini juga dimuat dalam The London Review Books.
Menurut Hersh, Bin Ladin selama bertahun-tahun tinggal di sebuah rumah besar yang berlokasi tak jauh dari sebuah akademi militer Pakistan. Abottabad memang dikenal sebagai kota militer Pakistan.

Dinas Intelijen AS (CIA) mengetahui posisi Bin Ladin setelah seorang pejabat tinggi intelijen Pakistan memberikan informasi itu kepada CIA dengan harapan mendapatkan hadiah uang sebesar 25 juta dollar AS.

Berdasarkan investigasinya, Hersh menyebut pemerintahan Obama sudah melakukan negosiasi dengan Pemerintah Pakistan dan dinas intelijen negeri itu, ISI, sebelum menyerbu kediaman Bin Ladin di Abottabad.

Namun, pemerintahan Obama menyatakan operasi penyerbuan ke Abottabad itu adalah sebuah operasi infiltrasi rahasia.

Dengan mengutip seorang sumber anonim, Hersh mengatakan, ISI mematikan aliran listrik ke kediaman Bin Ladin sebelum pasukan elite Navy SEAL menyerbu rumah itu demi mencegah intervensi militer Pakistan.

Menurut sejumlah laporan yang dikutip Hersh, tak ada baku tembak dalam penggerebekan itu dan satu-satunya peluru yang dilepaskan adalah yang memutus nyawa Usamah bin Ladin.

Presiden Obama menyembunyikan kebenaran di balik operasi ini menjelang pemilihan demi meningkatkan popularitas pemerintahannya. Demikian klaim Hersh.

Menurut Hersh, jasad Bin Ladin juga tak dimakamkam di laut seperti yang selama ini diklaim Pemerintah AS. Jasad Bin Ladin, klaim Hersh, sebenarnya dimakamkan Pemerintah AS di wilayah Afganistan.

Hersh menambahkan, saat berpidato memberikan kabar kematian Bin Ladin kepada rakyat Amerika, sebenarnya pidato Obama itu disusun secara terburu-buru.

“Rangkaian pernyataan yang tak akurat ini kemudian menciptakan kekacauan pada pekan-pekan selanjutnya,” kata Hersh dalam artikelnya.

“(Tentara Pakistan) diperintahkan untuk meninggalkan kawasan di dekat kediaman Bin Ladin begitu mendengar suara helikopter AS mendekat,” kata Hersh.

“Kota itu dalam keadaan gelap. Listrik dipadamkan atas perintah ISI, beberapa jam sebelum penggerebekan terjadi,” ujar Hersh.

“Faktanya, telah terdapat kesepakatan antara Pemerintah Pakistan dan tak ada pembicaraan soal hal-hal yang harus diungkap jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” lanjut Hersh.

Pencitraan Obama

Selain kebohongan dalam proses penggerebekan yang menewaskan Bin Ladin itu, sumber Hersh juga meragukan klaim Pemerintah AS yang menyebut telah menemukan dokumen-dokumen penting di kediaman Bin Ladin.

“Gedung Putih harus memberi kesan bahwa Bin Ladin masih penting dalam hal operasi. Jika tidak, mengapa harus membunuhnya?” ujar sumber itu.

“Sebuah cerita palsu dibuat bahwa terdapat jaringan kurir yang datang dan pergi membawa perintah dalam USB. Semua hanya untuk memberi citra bahwa Bin Ladin masih penting,” tambah sumber tersebut.

“Pasukan SEAL seharusnya menyadari adanya skema besar politik ini. Bin Ladin sangat bernilai bagi para politisi. Dia menjadi semacam aset pekerjaan,” kata sang sumber.

Serangkaian kebohongan, kesalahan pernyataan, dan pengkhianatan yang sengaja diciptakan ini, menurut sang sumber, memicu reaksi balasan yang tak terelakkan.

“Kerja sama dengan Pakistan mengalami kemunduran hingga empat tahun sebab negeri itu membutuhkan waktu untuk kembali memercayai AS, khususnya dalam hubungan militer untuk melawan terorisme, sementara terorisme terus tumbuh di seluruh dunia,” ujar sang sumber.

“Mereka (Pakistan) merasa Obama telah berkhianat. Pakistan kini kembali bekerja sama dengan AS karena munculnya ancaman ISIS,” lanjut sumber itu.

Seorang konsultan operasi komando khusus yang juga dikutip Hersh mengatakan, pembunuhan Bin Ladin merupakan sebuah teater politik yang dirancang agar prestasi pemerintahan Obama di bidang militer terlihat cemerlang. Sejauh ini, Gedung Putih belum menanggapi tudingan Hersh lewat artikelnya tersebut.

Namun Gedung Putih menepis laporan Seymour Hersh ini.

“Terlalu banyak banyak fakta tidak akurat dan pernyataan tidak berdasar dalam laporan tersebut,” ujar juru bicara Gedung Putih, Ned Price dikutip CNN.*


Seymour Hersh Kembali Ungkap Fakta Terbaru Soal Kematian Osama Bin Laden

Eramuslim.com – Setelah membongkar kebohongan pemerintahan Barack Obama mengenai operasi militer AS terhadap Osama Bin Laden pada hari Minggu (10/05) kemarin, kini wartawan senior Amerika kembali mengungkapkan fakta baru mengenai pemimpin Al Qaeda tersebut.

Dalam fakta terbarunya Seymour Hersh mengatakan bahwa sebenarnya keberadaan Osama Bin Laden dikota Abbottabad berada dibawah penahanan dinas intelijen Pakistan sejak tahun 2006 lalu,

“Amerika telah berbohong dengan menyebut Osama sebagai buronan dalam penggerebekan peristiwa berdarah tersebut,” ujaranya seperti dilansir kantor berita Anatolia.

“Saya memiliki bukti dari sumber terpercaya mengenai adanya penghianatan sejumlah petugas dinas intelejen Pakistan mengenai keberadaan Osama bin Laden dengan uang sejumlah 25 juta dolar AS kepada CIA,” tambah Seymour Hersh.

“Mereka (petugas intelejen Pakistan) sengaja meninggalkan keberadaan Osama bersama keluarganya sendirian disaat hari peristiwa berlangsung,” ungkap Seymour Hersh.

Selain itu dalam tulisan terbarunya Seymour Hersh juga membantah bahwa Osama telah dibunuh dan dibuang jasadnya di tengah laut. Menurutnya tubuh Osama dimasukan ke dalam kantong mayat, dan kemudian dilempar dari helikopter di atas pegunungan Hindu Kush. (Rassd/Ram)

6.11.14

Dinasti Bush Kembali Masuk di Panggung Politik Amerika?

Dalam pidatonya yang terkenal di depan Kongres Amerika, Bush mengatakan, “Kalian bersama kami atau bersama mereka para teroris”

George P. Bush (kiri) bersama pamannnya mantan presiden AS George W. Bush (tengah) dan ayahandanya mantan gubernur Florida Jeb Bush
Hidayatullah.com–Dinasti politik Bush mendapat anggota junior yang baru, George P. Bush, yang sukses memenangi Pilkada di Texas untuk mendapatkan posisi penting di negara bagian itu sebagai Land Commissioner.

Bush berusia 38 tahun ini tak lain adalah keponakan mantan presiden George W. Bush, cucunda mantan presiden George H. W. Bush, dan anak mantan gubernnur Florida yang disebut-sebut calon presiden Jeb Bush.

Bush memenangi kursi Land Commissioner (setingkat bupati di Indonesia) yang mengepalai bidang pertanahan dan pengawasan hak menambang minyak dan gas di Texas.

Media lokal memproyeksikan bahwa Bush junior memenangi sekitar 60 persen suara melewati lawan-lawannya.

Pengacara sebuah perusahaan energi ini adalah orang pertama dalam dinasi politik Bush setelah Senator Connecticut Prescott Bush yang sukses pada kesempatan pertamaPemilu yang diikutinya.

Kendati nama Bush sensitif di pelataran nasional, namun dalam politik Texas nama masih laku. George W. Bush menjadi gubernur negara bagian ini sebelum menjadi Presiden AS pada 2001.

Bush muda mampu mengumpulkan jutaan dolar AS untuk kampanyenya sehingga menembus rekor terbanyak untuk penggalangan dana guna memperebutkan pos yang biasanya tak banyak diperhatikan orang ini.

Ibunda George P. Bush berasal dari Meksiko dan dia sendiri fasih berbicara Bahasa Spanyol yang menjadikan dia calon yang menarik bagi warga Latino Texas.

Bush muda ini juga punya pengalaman militer karena pernah menjadi perwira pada pasukan cadangan Angkatan Laut AS.

Sebagai Land Commissioner, Bush akan mengawasi aliran pendapatan besar dari sektor minyak dan gas yang selama ini membiayai sekolah-sekolah negeri di Texas, demikian dikutip Antara dari AFP.

Seperti diketahui, nama Bush masih menggoreskan luka mendalam khususnya di dunia Islam.

Tiga belas tahun lalu, tepatnya pasca ledakan 11 September 2011 di gedung WTC, George W Bush mengumumkan perang melawan terorisme secara menyeluruh.

Dalam pidatonya yang terkenal di depan Kongres Amerika, Bush mengatakan, “Kalian bersama kami atau bersama mereka para teroris.”

Pidato Bush itulah yang dianggap sebagai titik awal dari peperangan Amerika melawan terorisme, yang ujungnya banyak menjadikan umat Islam seluruh dunia sebagai korban.

Tahun 2001 juga, dia memerintahkan invasi ke Afganistan dengan alasan melumpuhkan kekuatan Taliban dan al-Qaidah. Maret 2003, Bush juga memerintahkan penyeranganan ke Iraq dengan alasan Iraq telah melanggar Resolusi PBB no. 1441 mengenai senjata pemusnah massal, namun usai perang digelar tuduhan tak terbukti.

Faktanya setelah Saddam Hussein digulingkan, Bush bertekad memimpin AS untuk menegakkan demokrasi di Timur Tengah hingga penguasaan aset dan lahan-lahan minyak. Bahkan hingga kini situasi di Iraq dan Timur Tengah semakin tidak stabil.*

29.9.14

Jabhah Nusra: Perang AS di Irak dan Suriah adalah Perang Terhadap Islam

Serangan udara pasukan koalisi terhadap ISIS dan Jabhah Nusra serta milisi Islam lainnya di Suriah yang diluncurkan sejak hari Selasa (23/09) kemarin, dianggap pasukan revolusioner Suriah sebagai perang terhadap Islam.

Dalam rekaman video yang diterbitkan hari Sabtu (27/09) kemarin, jubir Jabhah Nusra Abu Firas Suriy, menyatakan “Ini bukanlah perang terhadap Jabhah Nusra ataupun ISIS, Ini adalah perang terhadap Islam.”

Sedikitnya 19 warga sipil tewas akibat serangan udara pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika. (Almasryalyoum/Ram)

31.8.14

Ada Upaya Kriminalisasi Jihad dan Khilafah dalam Isu ISIS

FENOMENA Daulah Islamiyah Iraq wa Syam (DAIS) atau di Indonesia sering disingkat ISIS atau ISIL merebak keman-mana. Semua orang bahkan ikut ‘keranjingan’ sampai apapun berbau ISIS seolah menjadi korban.

Belum lama ini, tepatnya Selasa (19/08/2014) Ade Puji Kusmanto (31), warga Terlangu, Brebes, Jawa Tengah, diamankan aparat Polsek Adiwerna, Tegal, lantaran memakai kaus hitam berlengan panjang ISIS.

Firman Hidayat, penjual es keliling di Kecamatan Beji, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, diamankan aparat Polres Depok di kediamannya, Jumat (22/08/2014) dinihari hanya karena laporan masyarakat memasang bendera ISIS di dinding rumahnya.

Juga kasus yang menimpa Achwan Jema’in takmir masjid Hibbaturrahman dan pengelola Islamic Center Balongbendo digerebek warga dengan tuduhan ISIS. Mantan Pengurus Muhammadiyah Balong Bendo Sidiarjo tahun 2002 ini bahkan tak bisa lagi mengelola masjid dan Islamic Centre karena tekanan warga.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Hidayatullah.com mewawancarai pemerhati Kontra Terorisme, Direktur CIIA (The community Of Ideological Islamic Analyst) dan pengasuh Majelis al Bayan, Harits Abu Ulya [HAU]

Apa yang Anda tentang ketahui dengan fenomena ISIS?

Memahami fenemena ISIS harus runtut, tidak boleh sepotong-sepotong.

Sebelum menjadi ISIS, tahun 2006 organisasi itu bernama Dulah Islam Iraq atau Islamic State for Iraq (ISI), kemudian berkembang menjadi Daulah Islam Iraq wa Syam (DAIS) atau juga disingkat ISIS/ISIL yang wilayahnya membentang dari Iraq dan Syam (Suriah). Belakangan telah memproklamirkan diri menjadi Khilafah Islamiyah pada 29 Juni 2014/1 Ramadlan 1435H.

Fenomena ini kemudian direspon beragam di kawasan wilayah kelahirannya, termasuk bagi dunia Barat begitupun dinegeri Indonesia.

ISIS adalah salah satu tadzim jihad yang hadir dan lahir di tengah imperialisme Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di dunia Islam khususnya Iraq. Basis awalnya di wilayah Iraq, di periode tahun 2004 para mujahidin berfusi dalam sebuah dewan Syuro Mujahidin, kemudian di tahun 2006 berubah menjadi ISI (Islamic State off Iraq /Daulah Islam Iraq), dan di saat revolusi Suriah pecah para mujahidin ISI ini masuk ke Suriah terlibat dalam aksi melawan rezim dukungan Syiah Bashar al Asaad.

Keberhasilan mereka menguasai sebagian wilayah Iraq kemudian di Suriah mengokupasi beberapa kota dan daerah akhirnya di tahun 2013 mereka mengumunkan diri menjadi ISIS (Daulah Islam Iraq wa Syam /Islamic State Off Iraq and Syam).Kemudian di akhir bulan Juni 2014 mereka mendeklarasikan Islamic State (Khilafah). Pengumunan Khilafah oleh ISIS melahirkan sikap pro dan kontra dikalangan para mujahidin, ini tampak diwakili oleh para senior ulama mujahidin di Timur Tengah yang menolak Khilafah Islam ala ISIS. Baik yang pro maupun yang kontra sama-sama memiliki hujah yang menjadi pijakan. Dan ini adalah pekerjaan rumah (PR) bagi para qiyadah tandzim jihad di sana untuk menyelesaikan.

Apa sebenarnya latar belakang lahirnya organisasi ini?

ISIS lahir karena kerinduan umat Islam akan wujudnya Khilafah seperti dalam Nubuwah menjadi stimulan kuat munculnya apresiasi terhadap fenomena ISIS dengan Khilafahnya. Di samping faktor kondisi politik domestik yang carut marut makin membuat Khilafah-ISIS seperti setetes “embun” di musim kering kerontang bagi sebagian muslim.

Menurut saya, kerinduan ini wajar saja dan sunatullah. Cuma fenomena ini menjadi problem baru dalam kehidupan sosial politik umat Islam Indonesia ketika pemerintah resmi melalui Menkopolhukam menyatakan larangannya terhadap paham ISIS.

Apa masalahnya?

Menurut saya ini keputusan prematur yang tidak kuat pijakan yuridisnya dan terlalu dipaksakan hanya dengan delik ISIS adalah kelompok teroris seperti yang di kumandangkan oleh Amerika Serikat (AS). Dengan begitu, WNI yang berafiliasi terhadap ISIS seolah berpotensi melakukan tindakan yang mengancam keamanan Indonesia.

Di samping alasan politik ideologinya adalah, paham ISIS bertentangan dengan Pancasila dan konsep NKRI. Saya berharap umat Islam, khususnya para tokoh dan ulamanya bisa bijak proporsional dan tidak mudah terprovokasi. Karena keputusan pemerintah jelas-jelas melahirkan keresahan di tengah umat Islam dan berpotensi lahirnya benturan di lapangan antar umat Islam sendiri, padahal sejatinya masalah ISIS masih dalam zona perdebatan.

Kita harus belajar bijak, karenanya kebencian seseorang kepada suatu kaum atau kelompok jangan sampai menjadikan dirinya tidak bisa bersikap adil terhadapnya.

Mengapa isu ini tiba-tiba dibesar-besarkan? Adakah agenda tersembunyi?

ISIS hadir di ruang publik Indonesia secara masif sebulan pasca deklarasi Khilafah Islam di Iraq. Semua media menghantam ISIS dengan deskripsi sangat menyudutkan. Intinya ISIS diadili oleh hampir semua media dengan membentuk persepsi publik; ISIS adalah entitas yang berbahaya dan pemahaman yang sesat.

Menariknya, isu ini berkembamg pasca putusan KPU hasil Pilpres Indonesia dan sebelum putusan kisruh Pilpres di MK (Mahkamah Konstitusi). Saya melihat ISIS dimunculkan sebagai usaha pengalihan atas kisruh Pilpres yang berpotensi kuat munculnya ganguan keamanan. Atau bahkan bisa untuk menutupi isu-isu krusial lain yang menyentuh para elit penguasa.

Adakah ini mainan kelompok tertentu?

Banyak kelompok kepentingan bermain di isu ISIS. Baik dari para “suporter” ISIS di Indonesia, institusi dan pejabat politik yang terkait dengan bidang politik keamanan, bahkan dibalik itu semua ada tangan-tangan yang mewakili kepentingan imperialisme global juga ikut nimbrung.

Point yang tidak kalah penting, kita bisa membaca bagaimana Amerika Serikat (AS) punya nafsu untuk membuat konflik Islam di Indonesia. Ini terkait upaya rebalancing power-nya AS di kawasan Asia Timur Jauh. Karena itu Amerika lebih condong dan mendukung salah satu calon presiden yang dianggap flamboyan tapi memiliki potensi konfliknya besar dengan adanya faksi internal pendukungnya dari kalangan nasionalis, Kristen, Sosialis-Komunis yang bisa menekan Islam.

Apa targetnya?

Targetnya umat Islam pecah, dan tidak bisa menjadi pelopor persatuan umat Islam se-dunia. Dan kekuatan politik umat Islam bisa tereduksi karena disibukkan dengan pertarungan antar kelompok mereka sendiri. Lebih dari itu, melalui isu ISIS juga ada upaya kriminalisasi terhadap kewajiban mulia umat Islam bernama jihad dan Khilafah Islam.

Dengan demikian, potensi ancaman dalam perspektif status quo bisa dalam kendali. Dan sangat mungkin, momentum kali ini akan digunakan untuk melarang ideologi apapun berbau Khilafah berkembang di Indonesia. Sebab saya melihat Badan Penanggulangan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus bergerak melakukan penggalangan untuk hal tersebut meski ada resistensi di masyarakat.

Seberapa besar potensi umat Islam Indonesia tertarik kepada ISIS?

Isu ISIS dengan Khilafahnya menurut saya segmented. Artinya, menjadi perhatian serius di kalangan pergerakan Islam lebih dominan, tapi tidak untuk kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia.

Masyarakat menjadi heboh karena media secara massif mengekspos, dan akhirnya mereka tersesat dalam belantara opini dan perdebatan tanpa tahu ujung akar dan pangkalnya.

Dari paparan Anda, munculnya ISIS bukan barang baru, Artinya pemerintah Indonesia (khususnya intelijen) pasti sudah lama tahu?

Kalau pemerintah tidak tahu berarti semua institusi intelijen yang dimiliki tidur. Mereka tahu, dan terus memonitor perkembangan politik di dunia Islam lebih-lebih paska Arab Spring menggeliat. Bahkan mereka mencoba menerka, adakah relevansi Khilafah ISIS dengan kondisi keamanan Indonesia paska Pilpres.

Tokoh-tokoh dibalik ISIS di Indonesia dikenal tokoh yang tak mengakar dalam gerakan Islam di Indonesia, benarkah?

Inilah yang saya heran, terlepas dari perdebatan benar tidaknya ISIS dengan paham yang dimilikinya, pemerintah khususnya BNPT yang membidani urusan terorisme sangat tahu sumber utama berkembangnya para suporter ISIS di Indonesia.

Tapi terkesan ada pembiaran dengan beragam alasan. Tapi sekarang BNPT paling getol melakukan penggalangan untuk mempersoalkan eksistensi suporter ISIS di Indonesia. Saya melihat ada muslihat yang dimainkan di balik isu ISIS oleh orang-orang opurtunis.

Bukankah sebelum ini kita juga pernah mengenal Abdul Haris, orang dekat Ustad Abubakar Ba’asyir yang akhirnya diketahui orang intel yang di “tanam” dan kini keberadaannya tidak jelas setelah ABB di tangkap?

Itulah. Dalam perjuangan Islam tidak cukup hanya bermodal semangat, di luar pemahaman akidah yang lurus, kedalaman memahami syariat juga butuh pemahaman terhadap siyasah agar tidak menjadi obyek mainan pihak-pihak yang ingin hancurkan perjuangan dan gerakan Islam.

Kejahilan dan sikap emosional dalam langkah perjuangan hanya akan menghasilkan kondisi yang kontra produktif bagi kepentingan umat Islam. Ini harus menjadi pelajaran bagi umat Islam.*

14.8.14

DDII: Kehadiran ISIS bisa Mengkaburkan tujuan Khilafah

Hidayatullah.com—Kehadiran gerakan Daulah Islamiyah Iraq wa Syam (ISIS/ISIL) dinilah bisa mengaburkan tujuan sesungguhnya khilafah Islam.

Di sisi lain, kehadirannya bisa menjadi fitnah, apalagi munculnya pernyataan Menlu Amerika Serikat (AS) Hilary Clinton dan Snowden yang sempat mengatakan ISIS bentukan AS, demikian disampaikan Pengurus Biro Luar Negeri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Zubaedi.

Saya membuka setelah Snowden dan Hilary Clinton membukanya, ujar Zubaidi di dalam acara “Mengukur Bahaya ISIS di Indonesia” di DPP Partai Bulan Bintang, Sabtu (16/08/2014), di Jakarta.

Sebelum media massa Indonesia ramai memberitakan masalah ini, Zubaidi mengaku sudah melihat pernyataan ulama-ulama Ahlu Sunnah di Timur Tengah atas masalah ini. Salah satu ulama Ahli Sunnah itu ialah Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi.

Menurut Qaradhawi dikutip Zubaidi, pendirian ISIS adalah ilegal dan tidak sesuai dengan syariat Islam yang sesungguhnya.

Dalam kasus ISIS yang mengklaim telah mendirikan khilafah, banyak ulama-ulama yang berkompeten tidak diikutsertakan. Serta meninggalkan para mujahid yang sesungguhnya.

Pendirian khilafah aneh. Mujahidin di lapangan pun ditinggalkan,” ucapnya.

Sementara itu Direktur An-Nashr Institute Munarman,SH menilai isu ISIS yang gaungnya hanya ramai di Indonesia justru dimanfaatkan dan ditunggangi oleh kepentingan pihak-pihak tertentu.*

11.8.14

Fitnah ISIS: Antara Alihan Isu, Hororisasi Ide Khilafah Serta Blunder Politik Bagi Musuh Islam

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H. Advokat, Aktivis Hizbut Tahrir Kota Bekasi.

Pasca dideklarasikannya Khilafah oleh kelompok milisi bersenjata yang menamakan dirinya ISIS (The Islamic State of Iraq and Sham/ Daulah Islam Irak dan Syam) pada 29 Juni 2014 (bertepatan 01 Ramadhan 1435 H), berbagai kalangan aktivis dakwah dan pejuang Islam diberbagai belahan negeri mengalami dinamika yang luar biasa, terutama di dunia jejaring sosial. Atas pertanyaan berbagai pihak, amir hizb asy Syaikh Ato’ Bin Khalil Abu ar Rusytoh memberikan tanggapan khusus mengenai proklamasi Khilafah tersebut. (www: hizbut tahrir.or.id/2014/08/05/politik-proklamasi-tegaknya-al-khilafah-oleh-isis/)

Hizbut tahrir sendiri memandang bahwa Khilafah yang dideklarasikan ISIS adalah Khilafah yang tidak syar’i karena tidak memenuhi 4 (empat) syarat yang harus wujud pada sebuah Wilayah yang menegakan Daulah Khilafah, yaitu:
  • Pertama, kekuasaan wilayah tersebut bersifat independen, hanya bersandar kepada kaum Muslim, bukan kepada negara Kafir, atau di bawah cengkraman kaum Kafir.
  • Kedua, keamanan kaum Muslim di wilayah itu di tangan Islam, bukan keamanan Kufur, dimana perlindungan terhadap ancaman dari dalam maupun luar, merupakan perlindungan Islam bersumber dari kekuatan kaum Muslim sebagai kekuatan Islam murni.
  • Ketiga, memulai seketika dengan menerapkan Islam secara total, revolusioner dan menyeluruh, serta siap mengemban dakwah Islam.
  • Keempat, Khalifah yang dibai’at harus memenuhi syarat pengangkatan Khilafah (Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu), sekalipun belum memenuhi syarat keutamaan. Sebab, yang menjadi patokan adalah syarat in’iqad (pengangkatan).

ISIS: Penglihan Isu, Dalam dan Luar Negeri

Patut diketahui, isu ISIS sebelumnya isu biasa saja dan hanya ramai menjadi pembicaraan di kalangan terbatas dan media yang terbatas pula. ISIS berubah menjadi isu sentral yang di blow-up seluruh media Nasional, baik cetak dan elektronik hampir bersamaan dengan adanya berbagai isu politik yang melingkupinya. ISIS mendeklarasikan Khilafah setelah sebelumnya menamakan diri sebagai Daulah Islam di Irak dan Suriah pada tanggal pada 29 Juni 2014 (bertepatan 01 Ramadhan 1435 H). Namun media Nasional baru mulai ramai memberitakannya setelah setelah terjadi isu-isu besar yang sebelumnya menyita perhatian publik Indonesia, baik isu nasional maupun internasional. Isu sentral internasional di seantero jagat dunia setelah memasuki Ramadhan sampai Idul Fitri bahkan hingga saat ini adalah isu penyerangan Israel ke Gaza. Termasuk juga isu peperangan antara berbagai kelompok jihadi melawan Rezim Syiah Nushairiyah Bashar Asyad, juga isu nasib kaum muslimin di Irak dan Afganistan yang sedang dirundung malapetakan perang yang tidak berkesudahan.

Adapun isu di dalam negeri yang paling menonjol adalah kebijakan (baca: ketidakbijakan) kenaikan tarif dasar listrik per 1 Juli 2014, kebijakan pengendalian BBM (Baca: pengurangan BBM untuk Rakyat) dan tentu saja peluang terjadinya chaos pasca pengumuman putusan hakim oleh Mahkamah Konstitusi atas adanya Gugatan Capres Prabowo mengenai adanya kecurangan dalam pelaksanaan Pemilu Pilpres 2014.

Pemberitaan deklarasi Khilafah oleh ISIS dengan segala pernak-perniknya praktis menenggelamkan pemberitaan tentang serangan Israel ke Gaza, kebiadaban Rezim Bashar Asyad, penderitaan kaum muslimin di berbagai belahan Dunia termasuk di dalam negeri seperti isu kenaikan TDL, pengendalian BBM bersubsidi dan gonjang-ganjing sengketa Pemilu. Penenggelaman semua pemberitaan tersebut memberikan dampak pada konteks agitasi dan arus utama perhatian umat. Sebelumnya, isu Gaza menjadi isu yang menyatukan kaum muslimin, memperjelas watak barat yang ambigu, mengkonfirmasi hakekat penguasa-penguasa negeri islam sebagai penguasa antek (Mesir, Arab Saudi, Iran, Turki, Indonesia) yang tidak melakukan tindakan apapun yang berarti selain kecaman demi kecaman.

Adapun untuk konteks nasional, praktis isu ISIS mengalihkan perhatian umat terhadap aktivitas pendzaliman secara terstruktur dan masif yang dilakukan oleh penguasa yang secara sadar dan sengaja menambah beban hidup rakyatnya dengan kebijakan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), pengurangan konsumsi BBM untuk rakyat bahkan rencana melakukan penyesuaian harga BBM (baca: Kenaikan harga BBM).

Kubu Prabowo-hatta juga tidak ketinggalan ketiban getahnya, pemberitaan ISIS nyaris menenggelamkan pemberitaan proses hukum adanya dugaan pelanggaran pemilu yang sedang disidangkan di Mahkamah Konstitusi. Hal ini jelas akan menghambat maksimalisasi penguatan kohesi internal bagi pendukung Prabowo-Hatta sekaligus menghambat upaya agitasi kepada publik untuk ikut bersama berempati dan memberikan dukungan politik kepada kubu Prabowo-Hatta. Tentu saja hal yang demikian sangat menguntungkan bagi rival politik Prabowo-Hatta.

ISIS: Hororisasi Khilafah dan Para Pengembannya

Hanya saja yang patut untuk dijadikan perhatian utama dan serius bagi setiap pengemban dakwah adalah dampak dari pemberitaan ISIS yang berimplikasi pada upaya Kriminalisasi dan Monsterisasi ide-ide Islam (syariah dan Khilafah) serta simbol-simbol islam (bendera Tauhid, al Liwa dan Ar Roya). Narasi yang hendak dibentuk oleh “orang-orang dibalik isu ISIS” adalah upaya-upaya yang terstruktur dan masif untuk merusak islam dan umatnya dengan cara mengarahkan opini publik untuk menjauhkan umat islam dari ide-ide islam dan symbol-simbolnya. Upaya-upaya mengasosiasikan aktivitas berbagai gerakan islam yang berjuang menegakan Khilafah dengan ISIS nampak jelas, meskipun metodenya tidak sama dengan metode perjuangan ISIS.

Opini yang hendak dibentuk adalah bahwa ISIS adalah gerakan Teroris, setiap gerakan yang memiliki kesamaan tujuan perjuangan dengan ISIS juga gerakan Teroris. Dampak dari “Generalisasi Isu Teroris” tersebut mengajak umat untuk menjauhi setiap gerakan atau kelompok yang membawa ide-ide dan simbol-simbol yang menyerupai atau sama dengan ide-ide dan simbol-simbol yang diusung ISIS. Ini adalah pisau bermata dua untuk mengiris ISIS disatu sisi dan mencincang setiap gerakan atau kelompok yang memperjuangkan tegaknya Khilafah di sisi yang lain. Dalah bahasa yang lain, satu kali tepuk dua lalat mati, satu kali kayuh dua tiga pulau terlewati.

Dampak dari pemberitaan Fitnah ISIS ini lagi-lagi juga memakan korban. Belum lama ini di bekasi, ketua harian Jamaah Anshoru Tauhid (JAT) ditangkap di Bekasi oleh Densus88 (www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/08/10/32134/teroristainment-isis-ustadz-afif-abdul-majid-ditangkap-densus88-di-bekasi/). Tidak menutup kemungkinan diduga akan terjadi tindakan pengulangan berupa penyalahgunaan wewenang atau tindakan yang melampaui kewenangan dengan adanya pembunuhan diluar proses hukum (Ekstra Yudisial Killing) oleh Densus88 kepada terduga Teroris saat penangkapan atau penggerebekan sebagaimana kasus yang lainnya. Densus88 yang merupakan bagian dari Penyelidik dan Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia telah mengambil kewenangan Jaksa selaku penuntut umum yang memiliki kewenangan eksekutorial berdasarkan putusan hakim. BNPT sendiri dengan Narasi dan Opini publik yang dibentuk dengan dukungan penuh media-media sekuler disinyalir seolah telah beralih profesi menjadi Hakim yang memegang Palu Vonis Keadilan. Apa yang disampaikan BNPT ke Media seolah-olah menjadi putusan yang memiliki kekuatan eksekutorial sehingga dapat dijadikan dalil (Baca: Dalih) bagi Densus88 yang telah berubah fungsi dari Penyelidik dan Penyidik menjadi Jaksa Eksekusi untuk melakukan pembunuhan (baca: pembantaian) kepada para Terduga Teroris.

Target akhirnya adalah hendak menjauhkan aktivis pengemban dakwah dari islam dan umat. Umat selaku pemegang kekuasaan riil digiring opininya untuk menjauhi bahkan takut kepada pejuang penegak Khilafah. Umat juga diajak menjauhi dan membenci simbol-simbol islam, padahal simbol tersebut merupakan manifestasi akidah seorang muslim. Pada saat yang sama, perjuangan politik untuk menegakan Khilafah pengembannya juga berusaha untuk ditarik dan dicabut dari akar perjuangannya, yaitu syariah dan Khilafah. Hambatan, tantangan dan gangguan bahkan fitnah-fitnah keji terhadap syariah dan Khilafah -jika pengemban dakwah tidak istiqomah dan kokoh dalam mengemban amanah- akan tercerabut dan terlempar jauh dari islam, sementara “Jurang yang menganga dalam politik sekuler demokrasi” telah disediakan untuk kanalisasi yang akan menjadi lubang ancaman untuk mengubur semangat dan cita-cita perjuangan penegakan Khilafah.

Blunder Politik

Allah SWT telah menurunkan Agama ini Allah pula –dengan segala kekuasaannya- yang akan menjaganya. Makar dan tipu daya yang dibuat oleh orang-orang kafir dan munafik tidak akan merubah sedikitpun melainkan menambah keikhlasan dan keistiqomahan pejuang penegak Khilafah serta mengantarkannya pada pertolongan Allah dan kemenangan. Setelah isu ISIS digulirkan, khalayak banyak yang memperbincangkan Khilafah terlepas dengan berbagai dinamikanya, baik yang pro dan yang kontra. Opini umum tentang Khilafah semakin menguat, bahkan seluruh komponen umat termasuk ulama rujukan umat yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia bahu membahu turun tangan untuk membela syariah dan khilafah dari proses kriminalisasi dan monsterisasi.

Para pengemban dakwah syariah dan Khilafah semakin dekat dengan umat karena banyaknya umat yang menginginkan penjelasan yang menyeluruh atau setidakya penjelasan yang cukup seputar isu ISIS dan Khilafah. Berbagai diskusi dengan Metode Bil Hikmah wal Maidhoh Hasanah mampu memberikan pencerahan kepada umat untuk melakukan pemilahan antara ISIS disatu sisi dan Khilafah disisi yang lain. Jika ada seorang muslim yang mencuri yang salah adalah individunya, bukan islamnya. Termasuk terjadinya kesalahan, penyelewengan bahkan penyimpangan proses perjuangan penegakan Khilafah oleh ISIS tidak serta merta meruntuhkan ide Khilafah yang agung yang merupakan tujuan, harapan, cita-cita serta solusi bagi seluruh problematika yang dihadapi umat islam bahkan Khilafah akan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Tentu saja kondisi ini harus disambut oleh segenap komponen aktivis pejuang penegak syariah dan khilafah dengan cara meningkatkan amal dan melipat gandakan keikhlasan untuk semakin massif mendatangi pintu-pintu umat sampai umat benar-benar membukakan pintu atau aktivis pejuang penegak syariah dan khilafah harus membukanya dengan paksa, sampai tidak ada satupun rumah setiap muslim ketika dibuka melainkan didalamnya telah ada syariah dan Khilafah. Allahu Akbar! 


Silahkan baca...

6.8.14

ISIS, Intelijen dan Perang antar Jenderal

Pemerintah RI memanfaatkannya untuk kepentingan proyek War on Terrorism melalui BNPT dengan landasan filosofis yang sama sebagaimana yang dianut Barat!

Oleh: Abu Nisa  

SUNGGUH luar biasa opini tentang menyoroti DAIS (Daulah Islamiyah Iraq wa Syam) atau  ISIS/ISIL. Entah apa yang menyebabkan kasus ISIS ini memunculkan tanggapan statemen dari berbagai pihak.

Mulai dari SBY, Panglima TNI, Kapolri, Kemenko Polhukam, Kemenkum HAM, Kemenkominfo, Kemenag, BNPT,  Dirjen Pemasyarakatan, Deputi Bidang Kerjasama Internasional, tokoh masyarakat, akademisi, pengamat, dan lain-lain. Hingga SBY mengadakan sidang kabinet dengan agenda secara khusus menyikapi masifnya dukungan atas ISIS di Indonesia. Dan sidang kabinet itu menghasilkan keputusan politik yang disampaikan melalui Menko Polhukam bahwa ideologi ISIS dinyatakan dilarang.

Tidak bisa dipungkiri, opini tentang ISIS seolah mengalihkan sementara opini tentang kebiadaban Israel di Gaza Palestina dan laporan dugaan manipulasi data secara sistematis atas hasil Pilpres oleh kubu Prabowo-Hatta.

Opini ISIS yang tiba-tiba ditanggapi berbagai kalangan dalam kurun beberapa hari ini  setidaknya menyisakan pertanyaan besar;

Pertama, ada momentum besar yang memicu kriminalisasi terhadap mereka yang mendukung ISIS justru terjadi di dalam penjara.

Adalah Ustadz Abubakar Ba’asyir yang selamanya ini didorong sebagai ikon “teroris” di Indonesia melakukan baiat atas ISIS di penjara pasir putih Nusakambangan. Belakangan tiba-tiba semuanya merasa kebakaran jenggot. Statement Amir Syamsuddin sebagai Menkum HAM untuk memecat kepala penjara. Termasuk pengakuan Dirjen Kemasyarakatan bahwa telah terjadi pembaiatan Ustadz ABB konon di bawah tekanan di dalam penjara. Tentu ini sesuatu yang naif.

Pertanyaan besarnya, kenapa peristiwa pembaiatan itu tetap berlangsung dan berjalan lancar? Dan seolah-olah peristiwa itu menjadi momentum legitimasi untuk membenarkan keberadaan dukungan atas ISIS berjalan masif di negeri ini.

Termasuk juga peristiwa pembaiatan sejumlah aktivis islam dengan acara yang khas di sebuah hotel kawasan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta tempat yang lain seperti di Bima, Solo, Makassar. Serta beberapa rencana baiat di beberapa tempat yang lain di Malang dan Sidoarjo.

Semuanya menunjukkan bahwa terlalu lugu untuk mengatakan bahwa tidak mungkin intelijen Indonesia tidak mengetahui peristiwa ini.

Anehnya belakangan fenomena dukungan atas ISIS itu justru diblow-up dengan skala besar oleh berbagai media seperti layaknya infotainment.

Hari Rabu, 6 Agustus 2014 ini di Makassar, tepatnya di Studio Mini Harian Fajar, Graha Pena Fajar lantai 4, bahkan ada acara terkait masalah ini dengan menghadirkan pembicara antara lain: Ansyaad Mbai (Ketua BNPT), Prof Dr H Abd Rahim Yunus, MA, (MUI dan FKUB Sulsel), Prof. Dr H M Arifin Hamid, SH, MH (FKPT BNPT Sulsel), dan Ir Moh Kemal Shodiq (Ketua DPD Hizbut Tahrir Indonesia Sulsel) dengan moderator Drs. H. Waspada Santing, M.Sos.I, M.HI dengan tema: “Double Warning Antisipasi ISIS”, jam 13.00-15.00 WITA.

Padahal deklarasi dukungannya telah dilakukan sejak tanggal 29 Juni atau sebulan yang lalu.

Kedua, jika benar yang disampaikan oleh Snowden seorang mantan pegawai di National Inteligent AS yang menyatakan bahwa AS dan Inggris ada di belakang ISIS, maka hal ini membuktikan bahwa target opini internasional terhadap kemunculan ISIS adalah untuk menciptakan black-campaign terhadap para mujahidin sekaligus terhadap syariat dan khilafah yang diperjuangkannya.

Dengan kata lain, inilah strategi radikalisasi terhadap kelompok Islam sekaligus deradikalisasi. Setelah diradikalisasi maka kemudian distigmatisasi. Sedangkan deradikalisasinya dalam bentuk upaya adu domba dan islamophobia yang berujung pada krisis keyakinan kaum Muslimin terhadap ajarannya sendiri terutama tentang jihad.

Dalam konteks Indonesia, maka pemerintah RI memanfaatkannya untuk kepentingan proyek war on terrorism melalui BNPT dengan landasan filosofis yang sama sebagaimana yang dianut Barat.

Lebih aneh lagi, mengapa kasus ini di blow-up saat penetapan presiden wakil presiden beserta kabinet yang disusun pasca keputusan gugatan hasil Pilpres ke MK oleh kubu Prabowo-Hatta? Ada apa gerangan?

Ketiga, atribut-atribut ISIS tidak luput dianggap sebagai barang bukti kasus terorisme.

Padahal, atribut bendera dengan kalimat “Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasullullah” adalah atribut milik semua kaum Muslim, yang siapa saja berhak menggunakan dan mengklaim, tak hanya ISIS yang hanya segelintir.

Sejak blow-up mendadak ISIS, rupanya ada rencana untuk membreidel sekaligus melarang keberadaan bendera  berkalimat “Laa Ilaha Illallah” seolah itu  sebagai representasi ISIS.

Momentum ini bisa ditengarai sebagai titik tolak “kriminalisasi” terhadap simbol-simbol perjuangan pada kelompok-kelompok Islam secara keseluruhan.

Keempat, setelah gagal menjerat kelompok-kelompok Islam yang dianggap radikal terutama yang memilih menggunakan jalan jihad melalui pintu legislasi secara langsung misalnya UU Ormas, rupanya dukungan atas ISIS adalah momentum untuk menjerat, membubarkan, mengkriminalisasi sekaligus mem “black campaign” nya.

Kelima, momentum dukungan atas ISIS menjadi peristiwa yang memperkuat legal aspect untuk apa yang dianggap sebagai tindak terorisme.

Implementasi UU Kewarganegaraan No 12 tahun 2006 dan wacana amandemen/revisi terhadap UU Terorisme yang disampaikan oleh Deputi Kerjasama Internasional Harry Purwanto tidak saja mengandung substansi penindakan hukum atas aksi teror fisik namun juga pada aksi teror lisan.

Dengan dalih agar mencakup secara menyeluruh mengenai aktivitas terorisme. Diantaranya tindakan menyebar kebencian (hate speech) termasuk mengikuti pelatihan militer di Indonesia  maupun luar negeri. Atau menjadikan digital evidence sebagai barang bukti, karena selama ini dianggap baru menjadi petunjuk untuk pembuktian. Nampaknya UU Terorisme No 15/1973 dikehendaki bukan saja mampu menjerat tindakan teror fisik namun juga mampu menindak apa yang dianggap sebagai bentuk teror lisan. Kita membayangkan betapa banyak klaim penindakan hukum atas syiar Islam karena termasuk dalam kategori menyebar kebencian (hate speech) jika amandemen UU Terorisme ini berhasil dilakukan. Bahkan bisa juga dijerat dengan UU Intelijen dan UU Darurat berkaitan dengan ancaman terhadap keamanan nasional.

Keenam, momentum ISIS mengaburkan Perang antar Jenderal

Beberapa pertanyaan besar seputar fenomena opini masif dukungan atas ISIS menyiratkan sebuah ganjalan pertanyaan lebih besar lagi ada apa sebenarnya di balik fenomena opini dukungan atas ISIS?

Di tengah mulai tergambarnya adanya indikasi rekayasa permainan manipulasi suara Pilpres secara sistemik, tak bisa ditutup di balik ini antara “peperangan konflik kepentingan” antar jendral dan antar elit dengan melibatkan tim rekayasa politik –bahkan tim cyber—dalam pelaksanaan Pilpres yang dituding penuh kecurangan.

Tak bisa ditutupi, sesungguhnya perang kepentingan Pilpres tahun 2014 adalah “perang intelijen” dan “perang antar jenderal” ambisius yang ingin berpolitik. Tak perlu disebut satu-persatu mereka. Tinggal baca kliping koran, akan nampak siapa lawan siapa, antara Timses Capres Jokowi dan Prabowo. Ujungnya adalah para “jenderal-jenderal ambisius”.

Sesungguhnya ISIS sendiri tak mungkin begitu berpengaruh besar bagi umat Islam di Indonesia. Mengingat mayoritas ormas-ormas Islam di Indonesia memiliki akar kuat yang tak mudah goyah. Hanya saja, mencari sasaran korban pada ISIS adalah cara mudah mengkaburkan pandangan masyarakat, atas keterlibatan dan intrik-intrik politik yang semrawut di Indonesia.

Akhirnya fenomena opini ISIS yang ujungnya bisa dibaca pada “kriminalisasi” segala hal berbau syariah, tak bisa serta-merta dibaca benar-benar murni sebagai peristiwa alamiah semata.  Terlalu sederhana jika kasus ini dilepas begitu saja dari peran intelijen  yang dalam banyak kasus dalam sejarah di negeri ini kaya dengan intrik politik dan rekayasa dalam usaha-usaha melemahkan gerakan Islam. Wallahu a’lam bis showab.*

Pemerhati kontra intelijen


Silahkan baca...

4.8.14

Wawancara Harist Abu Ulya: "ISIS, Antara Khilafah & Jebakan Intel"

JAKARTA (voa-islam.com) - Islamophobia dimana-mana. Tim Redaksi Voa-islam.com bergerak aktif untuk menindaklanjuti banyaknya serangan (atau lebih tepatnya bombardir) isu kepada ISIS (Islamic State Iraq & Syam) yang kini bermetamorfosa menjadi Islamic State (IS) atau Daulah Islam dengan pendirian Khilafah Islamiyah.

Tim Redaksi Voa-Islam mencoba menyelamatkan makna 'Khilafah Islam' yang hendak dikriminalisasikan berbagai pihak, baik kafir nashara, aliran sesat syiah yang mendompleng agenda BNPT dan Densus 88 hingga timses Jokowi yang tiba-tiba ikut campur mengurusi ISIS daripada Gaza di Palestina.
Khilafah Islam yang hendak dikriminalisasikan berbagai pihak, baik kafir nashara, aliran sesat syiah yang mendompleng agenda BNPT dan Densus88 hingga Timses Jokowi
Apakah ini pengalihan isu?

Untuk mencari benang merah soal ISIS dan yang terkait dengan Khalifah Islam, pada 3 Agustus 2014 tim Redaksi Voa-Islam mewawancarai Ustadz Harist Abu Ulya Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) soal berkembangnya #teroristainment dan pemberangusan makna Khilafah Islam yang hendak dikriminalisasikan pasca kasus-kasus terorisme yang dibentuk BNPT sudah mulai 'masuk angin' dan kehilangan objek penderitanya.

Berikut laporan hasil wawancara kami kepada Ustadz Harist Abu Ulya dari CIIA

Apa pendapat Anda tentang pendukung ISIS/IS di Indonesia?
Saya ingin katakan kepada mereka pendukung ISIS/IS di Indonesia; alangkah eloknya jika dukungan dan optimisme terhadap ISIS/IS dan masa depannya itu di artikulasikan dalam sikap yang bijak dan proporsional. Hindarilah debat kusir, apa untungnya jika optimisme itu harus berselendang celaan, cacian, bahkan sampai pada tingkat pengkafiran terhadap siapapapun yang bersebrangan dengan sikap dan pendapatnya. Nalar sehat akan mengedepankan “suguhan” yang baik kepada umat, agar umat makin empati dan turut serta mendukung apa yang mereka dukung. Menghargai pihak lain yang berbeda sikap, itu juga sikap yang diajarkan para ulama’ mujahid yang mukhlis. Sikap berbeda tentu karena ada hujjah yang melandasinya.Karena perihal Khilafah bukan seperti pembicaraan bab sederhana tentang sah atau batalnya wudlu’. Khilafah ini menyangkut soal nasib hidup dan matinya umat Islam semua. Jangan sampai euforia membuat telinga disumpal, tidak mau mendengar nasehat apapun seraya mengenakan “kaca mata kuda” melangkah dengan kajahilan. Jika mengedepankan emosional dan loyalitas membabi buta kepada sebuah pilihan saya yakin hal tersebut akan melahirkan sikap dan kondisi yang kontra produktif!
Siapa mereka?
Yang saya tahu mereka dari beragam person. Ada yang bergabung dalam sebuah tandzim gerakan dan juga ada yang tidak bergabung di sebuah tandzim. Begitu juga ada dari aktifis yang bergabung dalam sebuah forum-forum kecil maupun yang bergabung dalam sebuah ormas lalu keluar dari ormas tersebut kemudian berafiliasi kepada komunitas pro ISIS/IS.
Apakah mereka dipelihara oleh inelijen RI?
Yang pasti, kelompok Islamis di Indonesia eksistensi antara "dicintai dan dibenci”. Dibenci karena dianggap ancaman potensial terhadap tatanan politik demokrasi yang carut marut. "Dicintai” karena dibutuhkan untuk menjadi penyeimbang dari keberlangsungan politik demokrasi yang di agung-agungkan. Disamping mereka kerap dibutuhkan menjadi “tumbal” kepentingan oleh orang dan kelompok opurtunis yang duduk di ragam jabatan dan kekuasaan. Bahkan kaum Islamis adalah obyek dari proyek politik imperialisme skala global dan regional. Karenanya, isu-isu sensitif terkait geliat kelompok Islamis juga menjadi perhatian kalangan dan institusi Intelijen. Oleh karena itu, penggalangan pasti dilakukan terhadap kelompok Islamis dengan beragam strategi, target minimalnya “dibawah kendali” rezim.
Ustadzz Abu Bakar Baasyir dikabarkan ikut berbaiat dan digolongkan sebagai ISISER, kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Dari informasi yang saya dalami memang benar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir memberikan dukungan bahkan baiat kepada Khalifah al Bagdady yang dideklarasikan oleh ISIS. Beliau selama ini mendekam dibalik Lapas Pasir Putih-Nusa Kambangan, dan beliau dikelilingi oleh napi “teroris” yang pro ISIS. Bersama beliau ada seorang yang bernama Abu Yusuf, Abu Irhaby dan Anton, bisa dikatakan mereka ini 24 jam berinteraksi dengan beliau. Belum lagi seorang Aman Abdurrahman dari Lapas Kembang Kuning-Nusa Kambangan via telpon rutin komunikasi dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Sikap dan pemahaman seseorang bergantung dari maklumat (informasi) yang ia serap. Nah, ini soal intensitas dan volume komunikasi yang di introdusir kepada Ustadz Abu oleh orang seperti Abu Yusuf, Abu Irhaby dan Aman Abdurrahman lebih dominan dan banyak memberikan pengaruh mindset serta sikap seorang Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Ustadz Abu di satu sisi sebagai pimpinan JAT, tapi tidak mendapatkan informasi yang lebih dari organ JATdibanding informasi yang datang dari orang diluar JAT. Bahkan dalam konteks gerakan yang saya baca, sadar atau tidak akhirnya JAT tidak lagi mampu mempertahankan perfomanya sebagaimana mestinya. Karena pimpinannya dalam kondisi “dipangku” pihak lain diluar JAT. Dan semua proses ini secara tidak langsung mengalir dalam sebuah “karpet merah” pembiaran oleh pihak BNPT, Densus88 dan pihak Dirjen Lapas. Karena kuncinya disini adalah komunikasi dan informasi, sejatinya tidak susah bagi Densus88 dengan teknologi “cyber crime”nya untuk merontokkan semua situs-situs didunia maya yang menjadi sumber informasi. Dan tidak susah juga untuk melarang dan menutup semua akses informasi dan komunikasi dari dan ke semua lapas khusus bagi napi “teroris”. Jadi semua bukan faktor kebetulan dan tiba-tiba. Sadar atau tidak, sebenarnya ada yang sedang menikmati “permainan”.
Apakah bergabungnya Ustadz ABB dengan ISISER ini adalah hasil penggalangan dalam operasi intelijen?
Sekali lagi, pilihan Ustadz Abu untuk berbaiat kepada Khalifah al Bagdady bukan sebuah kebetulan. Karena ada proses panjang sebelumnya. Dari data-data empirik yang saya dapatkan terlihat bagaimana sebuah pengkondisian “hight pressure” yang ending-nya membuat Ustadz Abu inheren dengan para pendukung ISIS baik yang ada dalam Lapas maupun yang diluar Lapas. Jauh hari tentang kemungkinan Ustadz Abu dengan JAT-nya seperti keadaan sekarang sudah saya ingatkan kepada beberapa qiyadah JAT. Posisi JAT menjadi target operasi intelijen, dengan target dibubarkan atau dibuat seperti macan ompong.

Atau sebaliknya jika perlu diradikalkan sekalian supaya mudah dikriminalkan untuk kepentingan proyek kontra terorisme oleh BNPT dan Densus88. Semua proyek penindakan orang yang dituduh teroris banyak dikaitkan dengan JAT. Dan bahkan para pimpinan JAT banyak masuk penjara, tapi semua itu tidak berpengaruh kepada eksistensi JAT.

Nah, strategi yang soft ternyata lebih manjur untuk melemahkan JAT. Yaitu, langkah “menarik” Ustadz Abu dari JAT atau membawa Ustadz Abu bersama gerbong JAT nya untuk lebih “radikal” dengan akidah takfiriyah bahkan kalau perlu mampu menjadikan Ustadz Abu mengambil sikap yang bisa memberikan legitimasi terhadap kepentingan pendukung ISIS. Dengan begitu BNPT seperti saat ini bisa berkoar-koar bahwa benar adanya jaringan teroris global di Indonesia. ISIS/IS di indonesia bobot isu dan impact-nya akan berbeda jika Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang menjadi pendukungnya jika dibandingkan hanya seorang Aman Abdurrahman, intelijen saya rasa paham hal tersebut.

Jadi efek dominonya luar biasa, baik tehadap eksistensi JAT, posisi Ustadz Abu dan secara umum terhadap masa depan pergerakan Islam di Indonesia yang mereka konsen dalam penegakkan syariat dan Khilafah. Pihak intelijen akan mengelola sesuai dengan blue print management konflik dalam konteks politik keamanan di indonesia.
Intelijen di Indonesia ada banyak, elemen mana yang memainkan ini, BIN, BAIS atau BNPT?
Saya lihat baik BIN maupun BAIS demikian juga Intelkam POLRI terus memonitori soal Khilafah dan ISIS. Di masing-masing institusi Intelijen ada bagian khusus dengan deputi, direktur dan satgas serta agen dibawahnya sesuai bidangnya bekerja siang dan malam untuk itu. Kalau anda mau tahu siapa yang paling berperan memainkan masalah ini, lihatlah siapa yang paling getol membangun retorika publik dalam isu ini? Jajaran BNPT bersindikasi dengan intelijen Densus88 banyak punya kepentingan dengan isu ini.
Ada isu BNPT menyiapkan bom bagi ISISER untuk diledakkan menjelang keputusan MK tentang kecurangan Pilpres. Seberapa jauh kebenaran isu tersebut?
Masyarakat perlu tahu, Pilpres menyisakan masalah di antara dua kubu. Dan potensi gangguan keamanan paling tinggi adalah dari masing-masing pihak pendukung capres yang tidak puas dengan hasil pilpres yang diumumkan KPU dan keputusan MK kedepan. Di sisi lain sebenarnya para pemangku kebijakan dibidang politik keamanan butuh “prestasi” yang bisa di banggakan didepan Presiden baru. Jaminan keamanan terhadap proses Pilpres dari awal hingga dilantiknya Presiden baru, menjadi pertaruhan bagi jabatan dan kepentingan opurtunis mereka saat ini. Jadi ada upaya penggalangan terhadap semua kubu capres baik yang menang maupun yang kalah agar tidak melakukan gerakan kontraproduktif terhadap keamanan.
Namun disisi lain, saya juga melihat momentum saat ini bagi semua kubu juga butuh “kambing hitam” sebagai respon terhadap kisruhnya Pilpres. Bisa jadi memanfaatkan kelompok Islamis
Namun disisi lain, saya juga melihat momentum saat ini bagi semua kubu juga butuh “kambing hitam” sebagai respon terhadap kisruhnya pilpres. Bisa jadi memanfaatkan kelompok Islamis untuk melakukan aksi sebagai pengalihan kisruh hasil pilpres.

BNPT bukan tidak mungkin dalam kondisi sekarang ingin memancing di air keruh. Mau ambil banyak keuntungan dengan isu Khilafah dan ISIS sepanjang waktu sebelum pelantikan Presiden. Bukan tidak mungkin langkah-langkah intelijen gelap terjadi untuk melegitimiasi “narasi ancaman” dimana BNPT sudah menabuh sinyal sebelumnya. Dan menjadi seperti dalam pepatah “ayam berkotek tanda ia bertelur”. Waspadalah!
Demikian hasil wawancara kami dengan Ustadzz Harist Abu Ulya dari CIIA. Waspadalah, para pendukung ISIS akan mengalami ujian dan jebakan yang banyak. Be Wise and Beware Bro! [ajaf/adivammar/voa-islam.com]