18.4.12

Di Mana Anda, Saat Syeikh Yasin Diroket Zionis?

Hidayatullah.com--Masih ingatkah di mana Anda berada saat Syeikh Ahmad Yasin mati diroket oleh helikopter teroris Israel di suatu pagi tanggal 23 Maret 2004?

Sebuah kematian yang indah. Sayang bila dilupakan. Pendiri Hamas (Harakah Muqawamah Al-Islamiyah) itu baru beberapa detik didorong di atas kursinya, keluar dari Masjid Majmu’ah Al-Islamiyah, sesudah solat Subuh berjama’ah. Masjid itu letaknya sekitar 200 meter dari rumahnya yang terlalu sederhana di kawasan Shabra, kota Gaza.

Betapa indahnya kematian Syeikh Yasin.
Meninggal sesudah sholat Subuh berjama’ah,
yang oleh Rasulullah (Sallallahu ‘alayhi wa sallam)
dijanjikan mendapat jaminan Allah.

Yang setiap satu langkahnya menghapus dosa,
langkah lainnya mengangkat derajatnya.

Yang pahalanya sama dengan semalaman penuh menegakkan sholat.
Yang bacaan sholatnya disaksikan para malaikat.
Yang pahala mengerjakannya
dinilai lebih mahal dari kendaraan yang paling memikat.

Betapa indahnya kematian Syeikh Yasin.
Meninggal karena diroket oleh musuh umat Islam dan musuh Islam.
Yaitu musuh yang sejak tahun 1948 membunuhi,
menyiksa, memenjara, mengusir, menipu, memfitnah,
menteror, memperkosa, merampok jutaan rakyat dan Masjidil Aqsha.
Musuh yang marah kepada orang tua lumpuh ini,
yang bicaranya susah ini,
hanya kerena seruan kalimat Laa ilaaha illa Allah-nya
membangkitkan gelombang Tsunami kesadaraan Tauhid
yang kini tak bisa ditahan-tahan lagi daya hancurnya
atas Angkara Israel.

Betapa indahnya kematian Syeikh Yasin.
Meninggal di jalan Allah.
Seperti Umar yang tanpa pengawal.
Seperti Utsman yang di rumah dan masjidnya bertawakkal.
Seperti ‘Ali yang setia kepada rakyatnya dan tajam akal.

Siang tadi, dengan izin Allah, empat relawan Tim Sahabat Al-Aqsha (SA2Gaza) singgah di rumah Asy-Syahid. Kami mengunjungi kamar tidurnya, ruang kerjanya, melihat isi lemari pakaiannya yang sederhana, dan bercengkerama dengan dengan Ustadz Abdul Ghani Yasin, putranya yang baik hati.

Kami juga dibolehkan menyelempangkan selendang musim dingin berwarna cokelat, berlubang-lubang dan sebagian terbakar, yang dikenakan Syeikh Yasin saat roket-roket penjahat Israel itu menghancurkan tubuhnya.

Kursi rodanya yang hancurpun masih ada. Tersimpan rapi di dalam lemari kaca.

Bukan sedih yang menyelinap di hati, tapi bangga dan berbesar hati.

Bukan saja karena kebun tarbiyah dan jihad Syeikh Yasin kini sedang panen tak henti-henti. Tapi karena hari ini, saat kami singgah di rumahnya yang sangat rapi, bertepatan juga dengan kematian syahid penerusnya dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi.

Semoga generasi selanjutnya istiqamah di jalan ini.*

Keterangan: Sisa-sisa kursi roda Syeikh Yasin yang ditumpanginya saat dibunuh, dan Ust. Abdul Ghani, salah seorang putra Syeikh Ahmad Yasin/Sahabat Al-Aqsha

Tiga Warga Muslim Ditembak Mati Saat Keluar dari Masjid di Thailand Selatan

Sekelompok orang bersenjata menembak dan membunuh tiga warga Muslim saat mereka meninggalkan masjid setelah shalat maghrib di wilayah Thailand selatan, kata polisi, Kamis kemarin (12/4.

Dua pria dan seorang wanita tewas ketika para penyerang menembaki masjid Praow Banna di Pattani, satu dari tiga provinsi selatan yang telah diguncang oleh delapan tahun aksi kekerasan, Rabu malamalu l.

"Mereka masih di dalam kompleks masjid ketika mereka ditembak setelah shalat magrib. Kami tidak tahu motif penembakan, "kata petugas polisi setempat Letnan Parinya Kwankaew.

Lebih dari 5.100 orang telah tewas - baik Muslim dan Buddha - dalam serangan di Pattani, Yala dan Narathiwat sejak kerusuhan meningkat pada Januari 2004, menurut Tonton Deep South yang memonitor aksi kekerasan di wilayah mayoritas muslim Thailand Selatan. (fq/afp)

Baghajati: Skandal Seks Gereja Jadi Alasan Banyaknya Warga Austria yang Masuk Islam

Data resmi menunjukkan adanya pertumbuhan dramatis dalam berpindahnya pemeluk Kristen ke Islam di Austria, bertolak belakang dengan meningkatnya diskriminasi terhadap agama minoritas di negara-negara Eropa yang berbeda.

"Kami melihat bahwa masyarakat memiliki kerinduan spiritual yang mereka merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup mereka, jika tidak ada dimensi, tidak ada cakrawala untuk akhirat, atau di mana saya? Mengapa saya di sini? kata Carla Amina Baghajati, juru bicara Komunitas Islam Austria, kepada Press TV pada hari Jumat pekan lalu.

Mencari kenyamanan dalam ajaran Islam, banyak warga Austria yang masuk Islam di negara berpenduduk mayoritas Katolik.

Namun, setelah terungkapnya skandal pelecehan di gereja Katolik menjadikan hal ini peranan utama dalam eksodus warga Austria untuk masuk Islam.

"Jika gereja kecil dalam keanggotaan, maka akan menjadi lebih kecil dalam pengaruh sosial," kata Michael Pruller, juru bicara Keuskupan Agung, kepada Press TV.

Muslim Austria diperkirakan mencapai 400.000 atau hampir 4 persen dari 8 juta penduduk di negara Eropa tersebut.

Estimasi menunjukkan bahwa hampir setengah juta warga Kristen Austria telah masuk Islam sejak sekitar dua tahun lalu, dengan jumlah konversi semakin berkembang, Press TV mengatakan.

Pada tahun 2007, Muslim Austria telah memperjuangkan kampanye nasional untuk memperkenalkan Nabi dan ajaran-ajarannya untuk rekan senegara mereka.

Kampanye ini bergema setelah diluncurkan oleh Muslim seluruh Eropa sebagai tanggapan terhadap pelecehan kartun Nabi Denmark pada tahun 2005.

Meskipun gelombang anti-Muslim yang tumbuh di seluruh negara Eropa, umat Islam Austria percaya kampanye mereka ini memberi mereka kesempatan yang lebih baik untuk membangun jembatan dengan masyarakat.

"Ketika saya melangkah masuk Islam saya memiliki kesan pribadi bahwa ada langkah maju di diri saya," kata Baghajati kepada Press TV.

"Ini adalah mengapa saya merasa bahwa ada kemungkinan yang baik untuk membangun lebih banyak jembatan di antara warga karena kami berbagi jauh lebih banyak dengan orang pikirkan."(fq/prtv)

Suasana Keagamaan Semakin Tumbuh di Kosovo

Suasana relijiusitas semakin tumbuh di Kosovo sehingga meningkatkan perdebatan panas di negara termuda Eropa yang berpenduduk mayoritas Muslim ini. Tren relijiusitas disebabkan oleh beberapa dampak khususnya pertumbuhan badan-badan amal muslim di negara tersebut.

"Anda lihat lebih banyak perempuan mengenakan jilbab dan lebih banyak orang memanjangjan jenggot," kata Brikena Hoxha dari Inisiatif Stabilitas Kosovo, sebuah lembaga think tank berbasis di Pristina, The Times Irlandia melaporkan pada Kamis kemarin (12/4).

"Ini adalah hal yang baru bagi kami."

Banyak warga Kosovo mengatakan bahwa negara mereka yang baru lahir telah menyebabkan muncul dan meningkatnya arah yang lebih "konservatisme".

Mereka berpendapat bahwa kecenderungan ini bertentangan dengan apa yang mereka gambarkan sebagai "Islam-lite" di negara ini.

"Kami adalah Muslim tapi kami berpikir dengan cara Eropa," kata Xhabir Hamiti, seorang profesor studi Islam dan presiden Majelis Komunitas Islam Kosovo, sebuah badan pengawas resmi yang memilih dan melatih para imam.

Kubu sekuler mengutip adaya upaya oleh Partai Keadilan yang berhaluan Islam pada musim panas lalu yang berusaha mengamandemen konstitusi, yang menyatakan Kosovo adalah negara sekuler, dalam upaya untuk memungkinkan jilbab bisa dipakai di sekolah umum.

"Jilbab di Kosovo bukan merupakan elemen dari identitas kita," kata wakil menteri luar negeri Vlora Citaku kepada BBC pada tahun 2010 dalam membela keputusan pemerintah untuk melarang jilbab di sekolah.

Kelompok sekuler juga mengutip kontroversi atas seruan untuk membangun sebuah masjid besar di ibukota Pristina karena meningkatnya jumlah jamaah di negara ini.

Pristina adalah rumah bagi 22 masjid, tapi kebanyakan terlalu kecil, memaksa para jamaah untuk shalat di jalan-jalan pada hari Jumat.

"Kami tidak melihat Islam sebagai hambatan untuk bergabung dengan Uni Eropa," kata Hamiti.

Albania Muslim lebih dari 95 persen dari dua juta penduduk Kosovo.

Provinsi, yang dijalankan oleh PBB sejak kampanye militer NATO 1999 mengakhiri pembersihan etnis oleh pasukan Serbia, mengumumkan kemerdekaan mereka pada tahun 2008.

Beberapa warga Kosovo melihat atribut kesalehan tumbuh karena dampak maraknya lembaga amal Muslim di negara mereka.

Ada beberapa LSM Muslim yang beroperasi di Kosovo untuk membantu membangun kembali negara itu setelah serangan pemboman NATO terhadap pasukan Serbia pada tahun 1999.

Mereka membantu membangun kembali masjid yang hancur selama perang, serta menawarkan bantuan keuangan kepada anak yatim korban perang.

LSM Muslim juga terlibat dalam proyek-proyek kesehatan dan pendidikan di negara yang baru didirikan tersebut.

Namun kritikus mengatakan bahwa LSM Muslim menggunakan pengaruh mereka untuk menarik warga Kosovo miskin untuk mengikuti ideologi mereka.(fq/oi)

4.4.12

1 Juta Non Muslim AS Akan Berjilbab dalam Dukungan untuk Ibu Muda Irak yang Dibunuh

Satu juta wanita non-Muslim di Amerika Serikat akan memakai jilbab dalam upaya mendukung Shaima Alawadi, seorang imigran Irak yang secara brutal terbunuh di rumahnya pada bulan Maret lalu.

Banyak wanita non-Muslim di Amerika Serikat telah memposting foto-foto diri mereka mengenakan jilbab pada grup "Satu Juta Jilbab untuk Shaima Alawadi," yang merupakan halaman web baru yang dibuat di Facebook.

Halaman Facebook ini kini telah memiliki sekitar 10.000 orang anggota pada 2 April lalu.

Jean Younis, manajer kantor di Gereja Advent Lembah Bonita di National City, California, mengatakan ia akan memakai jilbab untuk mendukung keluarga dan teman-teman Shaima Alawadi pada hari Minggu mendatang, menurut sebuah artikel terbaru yang diterbitkan oleh Washington Post.

"Saya mengharapkan reaksi, tapi itu intinya, "kata Younis.

Manajer kantor gereja berusia 59 tahun ini adalah salah satu dari banyak wanita non-Muslim yang telah menyatakan solidaritasnya terhadap Shaima Alawadi (32 tahun).

Alawadi, ibu muda dari lima anak, ditemukan tak sadarkan diri di rumahnya di El Cajon, California, pada tanggal 21 Maret. Dia meninggal setelah dipukuli dan ditemukan tergeletak dalam genangan darah di samping sebuah catatan yang mengatakan "kembali ke negara anda, anda teroris".

Ada juga demonstrasi "jilbab dan hoodie" di beberapa perguruan tinggi di seluruh Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Gagasan "hoodie" mengacu pada pembunuhan Trayvon Martin, seorang remaja kulit hitam yang ditembak mati oleh seorang relawan pemantau lingkungan di Florida pada 26 Februari lalu.

"Mereka berdua tewas karena cara orang-orang melihat mereka dengan pandangan yang salah," kata Younis.

Trayvon Martin dan Shaima Alawadi bukan hanya sekedar korban kejahatan kebencian di Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir.(fq/prtv)

3.4.12

Dari “Teroris Bali”, BNPT dan Kuda Troya Asing

Oleh: Harits Abu Ulya

DI SAAT suhu politik memanas terkait opsi kenaikan harga BBM oleh pemerintah, publik dibuat terkejut dengan tewasnya 5 orang “teroris” ditangan Densus 88 pada hari minggu (18/3/2012) di dua tempat yang berbeda di Jl Gunung Sapotan Denpasar dan di Jl Danau Poso Sanur Denpasar.


Tindakan Densus 88 ini di benarkan kepala BNPT, Ansyad Mbai  usai rapat bersama Komisi III di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin

"Kami tidak salah tembak dan kelima orang tersebut benar-benar teroris," tegas Ansyaad. (RMOL, 19/3/2012)

5 pelaku jaringan teroris versi BNPT itu adalah Hilman Djajakusumah (32) asal Bandung DPO terduga perampokan CIMB Medan, AG (30) alias Nanang JM warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan. 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jalan Danau Poso.

Alasan kenapa 5 orang itu tewas, dikatakan Boy Rafli Amar Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Senin (18/3/2012), karena saat ditangkap melakukan perlawanan, sehingga terjadi saling baku tembak antara teroris dengan Densus 88 Antiteror Polri.(Liputan6.com,19/3/2012).

Menurut Ansyad dalam Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 tentang BNPT, Satuan Tugas BNPT dalam melaksanakan tugasnya memiliki kewenangan penggunaan kekerasan dengan senjata api. Namun penggunaan senjata api ini merujuk dalam keadaan terpaksa atau dalam pembelaan darurat sesuai pasal 48 dan pasal 49 KUHP. Tapi hingga kini belum ada rumusan terukur dari ahli hukum tentang pembelaan darurat.Wajar kalau alasan Ansyad diangap sangat sumir.

Di waktu hampir bersamaan juga ada satu orang kembali ditangkap Densus di Sumedang dengan tuduhan teroris yang berinisial CTR (Catur) pria asal Purwakarta. Hasil pengembangan paska ditangkapnya 2 orang di Bandung 17 Maret dengan inisial Fadliansyah (CF/26) plus istrinya NRL dan NAT (32). Kalau kelompok Sumedang oleh Densus dicap sebagai jaringan Dulmatin, berbeda dengan kelompok Bali yang tewas dengan cap jaringan Abu Tholut. Densus88 terus bergerak membabi buta, di Tanggerang Selatan dua orang tersungkur dan tewas ditembak, (Jumat,30/03/2012).


Terduga yang tewas bernama Hendra Saputra dan Dede, aparat mengkaitkan keduanya dengan tindak kriminal pembacokan dan penembakan anggota Polres Bekasi beberapa waktu lalu.Dan aparat kali ini memberi label kelompok militan, tidak menyebutnya dengan kelompok teroris.

Benarkah mereka teroris?

Benarkah mereka teroris atau kelompok militan? Seperti pernyataan sepihak dari aparat kepolisian maupun BNPT. Yang pasti tuduhan ini tidak bisa dikonfirmasi lagi kapada korban yang tewas.Atau benar tidaknya mereka hendak fa’i dan hendak meledakkan bom H-1 saat perayaan Nyepi di Bali juga tidak bisa di konfirmasi. Jadi jaringan yang di urai oleh pihak polisi dan BNPT makin kabur.Tidak jelas lagi apakah mereka para perampok, pembacok atau kelompok teroris. Karena faktanya pembuktian terhadap mereka yang tewas di Bali belum pernah marampok.


Jika menurut polisi baru sampai tingkat perencanaan, lantas bagaimana delik pembuktiannya? Apakah hanya karena ada skema atau melintasi money changer lantas di vonis akan merampok.Tentu ini sangat ambigu dan KUHP akan mengantarkan aparat seperti penguasa rimba, karena niat seseorang sekalipun belum terlaksana harus mendapatkan vonis dan hukuman setimpal.

Sebenarnya siapa yang punya otoritas di Indonesia untuk menetapkan seseorang teroris atau bukan? BNPT, Densusnya atau pengadilan dengan UU No 15 tahun 2003-nya?

Kenapa demikian mudah BNPT memvonis seorang itu pasti teroris? Kalau kembali belajar pada kasus perampokan Bank CIMB, jika berangkat dari TKP maka yang terjadi adalah tindak pidana kriminal perampokan. Dan label “teroris” kemudian dilekatkan itu sudah sangat politis. Padahal nilai politisnya ini di paksakan, sehingga banyak ditemukan gap dilapangan antara isu terorisme yang dikemas oleh Mabes Polri dengan fakta-fakta dilapangan yang mengindikasikan bahwa tidak layak sama sekali perampokan di cap sebagai aksi terorisme.Tidak ada kaitanya dengan motif “negara Islam” di balik perampokan, yang lebih dominan karena faktor ekonomi.

Dan sangat naïf kalau pengadilan membawa kasus kriminal ke ranah politik dan seorang dipaksa dengan hukuman berdasarkan UU Terorisme No 15 tahun 2003.

Dan lima orang yang terkapar tewas di Bali kena dampak logika parallel dari BNPT. Karena salah satu di antara mereka adalah DPO “perampok CIMB”, di mana cap kelompok perampok CIMB adalah teroris maka mereka juga di cap teroris, di tambah lagi dengan cerita sepihak versi aparat empat orang sisanya masih terkait dengan jaringan Solo-Tauhid wal Jihad-.


Kalau obyektif berangkat dari TKP, maka benar seperti pernyataan pihak Polda Bali yang berbeda dengan BNPT, Kabid Humas Polda Bali Kombes Hariadi mengatakan, kelima orang yang tewas ditembak datang ke Bali bukanlah teroris. Melainkan murni perampokan. Di sela olah tempat kejadian perkara, baru-baru ini, Hariadi menegaskan, motif para pelaku adalah murni tindakan kriminal perampokan. Mereka bakal beraksi di kawasan Kuta dan Uluwatu.(Liputan6.com, 19/3/2012)

Asing berkepentingan

Saat kisruh jelang kenaikan harga BBM, terorisme sangat mungkin dijadikan sebagai instrument pengalihan isu, sekalipun faktanya tidak begitu “laku” dan “menarik” bagi publik. Masyarakat sudah sangat apatis terkait isu terorisme.Namun di balik itu semua, sangat mungkin masyarakat mempertanyakan bahwa langkah Densus dan BNPT kali ini menyimpan kepentingan yang lebihbesar. Seolah BNPT belum puas dengan proyek kontra terorismenya, telah menewaskan orang-orang yang dicap teroris sudah 56 orang lebih. Dan sekarang ditambah dengan 7 orang, sementara yang mati dengan prosedur pengadilan dalam kasus terorisme hanya Amrozi, Imam Samudra dan Mukhlas. Diluar itu termasuk 7 orang yang baru jelas masuk dalam katagori exstra judicial killing, dan ini pelanggaran serius terhadap HAM. Asas praduga tidak bersalah dilempar ditong sampah, tidak berlaku untuk “teroris”.
Orang hanya baru di duga, disangka berdasarkan laporan awal intelijen atau bahkan hanya karena asumsi bisa tewas ditangan Densus karena alasan utamanya adalah “teroris” atau militan.

Seharusnya kontra-terorisme ala BNPT perlu di evaluasi secara serius, tapi faktanya, DPR melalui komisi III merespon rencana BNPT dengan ajuan anggaran yang totalnya 327 miliar rupiah. BNPT meminta gedung baru senilai Rp 210 miliar dan dapat direalisasikan dalam APBNP 2012.


Selain itu BNPT juga mengusulkan pembuatan pusat latihan antiteror BNPT dengan anggaran Rp 3,9 miliar. Padahal sampai saat ini pemerintah Australia dan Uni Eropa terus membantu Indonesia sejak peristiwa bom Bali (2002). Australia sendiri mengucurkan dana US $ 21.400.000 untuk bantuan selama lima tahun dan bantuan berikutnya terus mengucur untuk kelangsungan sebuah program pendidikan dan pelatihan yang bernama JCLEC (Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation).

Pembentukan JCLEC didasarkan pada kesepakatan antara 25 menteri luar negeri di pertemuan puncak Asia Pasifik yang diselenggarakan pada 5 Februari 2005. Ini sekaligus implementasi dari program UN (PBB), global war on terrorism (GWOT) seperti yang diusung oleh Amerika Serikat. Para pejabat tinggi penegak hukum dilatih di JCLEC yang berpusat di Akpol Semarang, kalau polisi minimal berpangkat AKBP. Kerja sama berkelanjutan dengan New Scotland Yard, EU, Charles Sturt Univercity dalam skema Grant EU Transnational Crime & Criminal Justice Project.

Para perwira diajari kontra terorisme dan transnational crime, hingga saat ini sudah meluluskan lebih dari 1000 orang dan sebagian besar terserap dalam institusi BNPT.Para instruktur mereka sebagian dari CIA, M16, FBI dan polisi unit kontra-terorisme Australia.

Bahkan pasca kunjungan ke Australia untuk studi banding beberapa pekan lalu, BNPT meminta agar DPR segera merevisi UU No 15 Tahun 2003 tentang penangulangan terorisme. Ansyad menginginkan percepatan pembahasan revisi UU Terorisme Nomor 15 Tahun 2003, di mana drafnya sudah masuk ke Kementerian Hukum dan HAM. Diharapkan dengan revisi ini, kewenangan intelijen makin diperkuat untuk mendeteksi aksi terror yang direncanakan jaringan kelompok teroris.


Jadi banyak indikasi bahwa perang melawan terorisme sarat dengan kepentingan asing yang menunggang, dan BNPT menjadi kuda troyanya.* [Hidayatullah.com]

Penulis adalah pemerhati Kontra-terorisme dan Direktur CIIA

Asing Dibalik Kenaikan BBM?

Oleh: Harits Abu Ulya
Direktur CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)

 Pemerintah keukeh dengan opsi kenaikan harga BBM. Dari rapat maraton Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat dengan pemerintah (senin,26/3) akhirnya juga sepakat dengan postur RAPBN-P (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan) dan condon mengurangi subsidi BBM. Terkait kenaikan harga BBM, implikasi legislasinya DPR harus menganulir Pasal 7 Ayat 6 UU Nomer 11 Tahun 2012, karena didalam pasal 7 termaktub larangan kenaikan harga BBM di tahun 2012.

Opsi menaikkan harga BBM, pemerintah mendasari alasan yang kesannya logis tapi hakikatnya sangat debatable.Diantaranya, kenaikan harga minyak dunia mengharuskan perlunya revisi RAPBN, agar pemerintah tidak bangkrut dan ekonomi tidak kolaps. Alasan lain dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat rapat dengan Banggar DPR (26/3), harga bahan bakar minyak (BBM) harus naik karena ada lonjakkan konsumsi. Lonjakan tersebut ini disebabkan harga BBM bersubsidi di Indonesia yang terbilang murah.

Tak pelak keputusan pemerintah menuai reaksi, mulai dari kalangan politisi parlemen juga masyarakat luas. Dari survei LSI terekam 86% lebih masyarakat menolak kenaikan harga BBM. Dan bahkan meningkatkan keresehan publik yang sangat signifikan. Sekalipun pemerintah sudah menyiapkan kebijakan antisipasi kenaikan harga BBM diantaranya program BLSM selama 9 bulan dengan besaran @ Rp 150.000/bulan dan raskin dalam 14 bulan juga tidak otomatis bisa meredam gejolak penolakan. Bahkan sebagian pejabat (Bupati) daerah juga ikut menolak, tercatat Wakil Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Wali Kota Probolinggo HM Buchori, Bupati Bangkalan Jawa Timur Fuad Amin Imron, dan tidak mau ketinggalan Bupati Ponorogo Amin dan Wakil Bupatinya Yuni Widyaningsih bergabung dengan masyarakat dalam aksi penolakan kenaikan BBM. Akhirnya pemerintahan SBY menyiapkan aparat TNI siap on calling membantu Polri mengamankan titik-titik vital dan antisipasi dampak demo yang tidak terduga.

Ada point penting alasan masyarakat resisten atas kenaikan harga BBM, yaitu pemerintah dianggap berbohong dalam beberapa persoalan, diantaranya; pertama; APBN terbebani dengan subsidi BBM. Asumsi pemerintah, kosumsi BBM didalam negeri melebihi kuota yang akhirnya subsidi BBM membengkak menjadi Rp 160 trilyun dari Rp 129,7 trilyun.Dan ini mengharuskan penyesuaian dengan harga pasar internasional.Kedua;Subsidi selama ini dianggap tidak tepat sasaran, artinya premium selama ini lebih banyak digunakan oleh orang-orang kaya.Ketiga; terjadinya penurunan produksi secara alamiah tiap tahunnya sekitar 12%.Karenanya pemerintah mengubah target lifting dalam APBN-P 2012 menjadi 930 ribu barel perhari dari sebelumnya 950 ribu barel perhari (bph).

Sementara point diatas berhadapan dengan sisi paradok dari kenaikan BBM, pertama; Menekan daya beli masyarakat sehingga mereka akan semakin sengsara dan orang msikin akan semakin banyak. Kenaikan BBM dipastikan akan meningkatkan inflasi sekitar 7 % , Kenaikan harga bahan Pokok antara 5 - 10 %, kenaikan biaya transportasi dan distribusi produksi barang anatar 30- 35 %. Bahkan sebelum pemerintah menetapkan kenaikan harga tersebut harga-harga saat ini khususnya kebutuhan pokok telah mengalami lonjakan. Selain itu, kegiatan bisnis khususnya pada UMKM juga akan terpukul akibat membengkaknya biaya produksi sehingga akan mendorong pemangkasan tenaga kerja yang berujung pada peningkatan jumlah penggangguran. Dengan demikian, jumlah penduduk miskin dipastikan akan semakin bertambah karena daya beli mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka akan terpangkas akibat inflasi yang dipicu oleh kenaikan BBM tersebut.

Kedua; BBM selama ini sebagian besar dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah. Hal ini dapat ditunjukkan beberapa indikator antara lain: dari total jumlah kendaraan di Indonesia yang mencapai 53,4 juta (2010), sebanyak 82% merupakan kendaraan roda dua yang nota bene kebanyakan dimiliki oleh kelas menengah bawah.

Ketiga; Kebijakan kenaikan BBM sangat tidak adil. Hal ini anggaran subsidi BBM tanpa skenario kenaikan harga, pada 1 April 2012 akan mencapai Rp178,62 triliun itu dinikmati oleh 230 juta orang. Sementara Pemerintah dengan mudahnya menggelotorkan dana untuk membail-out sektor keuangan dan perbankan yang hanya dinikmati oleh segelintir orang. Pemerintah misalnya setiap tahunnya harus membayar bunga obligasi rekap BLBI sebesar 13,2-14,3 persen yang menyedot anggaran sekitar Rp 60 triliun pada tahun 2008. Padahal obligasi yang baru jatuh tempo pada 2033 tersebut hanya dinikmati oleh sejumlah perbankan pemerintah dan swasta yang sebagian sahamnya kini dikuasai asing.

Keempat; Penyebab membengkaknya subsidi akibat kegagalan pemerintah dalam mengelola energi nasional. Anehnya kegagalan tersebut kemudian ditimpakan kepada rakyat dengan menaikkan harga BBM.

Kelima; Kenaikan harga BBM bersubsidi hanya akan menguntungkan Perusahaan Minyak Asing yang bergerak di sektor hilir dan merugikan Pertamina sebagai BUMN miliki negara

Keenam; Mayoritas pengelolaan migas saat ini dikuasai oleh swasta khususnya pihak asing sehingga pendapatan negara dari migas sangat minim.

Dari total produksi minyak mentah di Indonesia pada 2010 hanya 16 persen yang diproduksi oleh Pertamina. Sisanya dibagi-bagi oleh investor asing dan swasta domestik seperti Chevron (42%) dan Total (10%). Konsekuensinya, dari total produksi minyak mentah yang mencapai 300 juta barel, sebanyak 121 juta atau 40 persen diekpor ke mancanegara. Padahal di saat yang sama Indonesia harus mengimpor 101 juta minyak mentah dari berbagai negara untuk memproduksi BBM dalam negeri. Belum lagi, pemerintah melalui BP Migas justru lebih memprioritaskan untuk memperpanjang kontrak-kontrak pengelolaan ladang minyak kepada pihak swasta ketimbang menyerahkannnya kepada Pertamina.

Asing bermain?

Ada sisi yang seolah terlewatkan oleh publik, kebijakan politik ekonomi pemerintah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari unsur politik global. Jika di runut political-historisnya terbuka tabir interpendensi Indonesia dalam pengelolaan energi. Di mana alur liberalisasi menjadi hulu persoalan yang muncul sekarang. Jika keputusan pemerintah tidak populis dengan menaikkan harga BBM, ini ditengarai karena road map liberalisasi disektor energi harus berjalan sebagaimana keinginan pihak asing melalui beberapa protokoler.

Permainan asing yang kemudian terabsorsi dalam regulasi yang memayungi kebijakan energi Indonesia bisa terlihat dalam banyak indikasi. Dalam sebuah dokumen tertera peran IMF; ”Pada sektor migas, Pemerintah berkomitmen: mengganti UU yang ada dengan kerangka yang lebih modern, melakukan restrukturisasi dan reformasi di tubuh Pertamina, menjamin bahwa kebijakan fiskal dan berbagai regulasi untuk eksplorasi dan produksi tetap kompetitif secara internasional, membiarkan harga domestik mencerminkan harga internasional”. Memorandum of Economic and Financial Policies (LoI IMF, Jan. 2000).

Begitu juga dalam sebuah dokumen termaktub; ".. Pemerintah [Indonesia] berkomitmen penuh untuk mereformasi sektor energi yang dicantumkan pada MEFP 2000. Secara khusus pada bulan September, UU Listrik dan Migas yang baru akan diajukan ke DPR. Menteri Pertambangan & Energi telah menyiapkan rencana jangka menengah untuk menghapus secara bertahap subsidi BBM dan mengubah tarifl listrik sesuai dengan tarif komersil.” Memorandum of Economic and Financial Policies (LoI IMF, July 2001)

Bank Dunia juga menggarisbawahi; (Utang-utang untuk reformasi kebijakan memang merekomendasikan sejumlah langkah seperti privatisasi dan pengurangan subsidi yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi belanja publik…Banyak subsidi khususnya pada BBM cenderung regresif dan merugikan orang miskin ketika subsidi tersebut jatuh ke tangan orang kaya). Indonesia Country Assistance Strategy (World Bank, 2001)

Lebih tegas bagaimana peran Amerika Serikat melalui USAID dalam sebuah dokumen Energy Sector Governance Strengthened (USAID, 2000); USAID intends to obligate a total of $4 million in DA in FY 2001 to strengthen energy sector governance and help create a more efficient and transparent energy sector. USAID advisors play a catalytic role in helping the Government of Indonesia develop and implement key policy, legal and regulatory reforms. …(Pada tahun 2001 USAID bermaksud memberikan bantuan senilai US$ 4juta [Rp 40 miliar] untuk memperkuat pengelolaan sektor energi dan membantu menciptakan sektor energi yang lebih efisien dan transparan. Para penasehat USAID memainkan peran penting dalam membantu pemerintah Indonesia mengembangkan dan menerapkan kebijakan kunci, perubahan UU dan peraturan);

USAID helped draft new oil and gas policy legislation submitted to Parliament in October 2000. The legislation will increase competition and efficiency by reducing the role of the state-owned oil company in exploration and production. (USAID telah membantu pembuatan draft UU MIgas yang diajukan ke DPR pada Oktober 2000. UU tersebut akan meningkatkan kompetisi dan efisiensi dengan mengurangi peran BUMN dalam melakukan eksplorasi dan produksi);

Dampaknya secara politik adalah lahirnya regulasi Migas yang identik dengan keinginan asing, masyarakat bisa melihat dalam UU Migas Nomer 22 tahun 2001 ( Pasal 9: Kegiatan Usaha Hulu dan Kegiatan Usaha Hilir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 angka 1 dan angka 2 dapat dilaksanakan oleh: Badan Usaha Milik Negara; Badan Usaha Milik Daerah; Koperasi; Usaha Kecil; Badan Usaha Swasta. Pasal 10: Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang melakukan Kegiatan Usaha Hulu dilarang melakukan Kegiatan Usaha Hilir.

Badan Usaha yang melakukan Kegiatan Usaha Hilir tidak dapat melakukan Kegiatan Usaha Hulu.Pasal 13: Kepada setiap Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap hanya diberikan 1 (satu) Wilayah Kerja. Dalam hal Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap mengusahakan beberapa Wilayah Kerja, harus dibentuk badan hukum yang terpisah untuk setiap Wilayah Kerja.)

Berdampak

Faktor-faktor kebijakan hulu yang liberal melahirkan dampak yang sistemik dan menjangkau banyak sektor kehidupan masyarakat. Paling tidak, dengan regulasi liberal disektor hulu akan muncul kondisi; Pertamina tidak lagi sebagai Single Player dalam pengelolaan migas sektor hulu. Hilangnya kedaulatan energi migas, tidak ada lagi monopoli hulu–hilir oleh negara, ladang minyak dan gas bumi makin banyak yang dikuasi oleh perusahaan asing.Hasil migas lebih banyak dinikmati oleh pihak asing, dan akhirnya rakyatlah yang dirugikan menjadi korban kebijakan yang tidak proporsional.

Sementara di sektor hilir, upaya liberalisasi seperti yang tertera dalam beberapa dokumen seperti;

UU Migas No. 22 tahun 2001: menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian usaha Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan, dan Niaga secara akuntabel yang diselenggarakan melalui mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat, dan transparan (Pasal 2).

PP No. 31/2003 tentang Pengalihan Bentuk Pertamina Menjadi Persero.
Tujuan utama persero adalah mendapatkan keuntungan (Pasal 2) dan keputusan tertinggi ada pada RUPS. (Tahun 2011 anak Perusahaan Pertamina PT Pertamina Hulu Energy direncanakan akan melakukan Initial Public Offering [IPO] di Bursa Saham)

Perpres No. 5 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional Pasal 3c:
“Penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian, dengan tetap mempertimbangkan bantuan bagi rumah tangga miskin dalam jangka waktu tertentu.”

Regulasi diatas akan melahirkan dampak-dampak riil seperti; Pertamina tidak lagi sebagai Single Seller dalam kegiatan distribusi dan niaga migas. Hilangnya kedaulatan energi migas di sektor hilir. Migas menjadi komoditas komersial semata-mata. Hilangnya hak rakyat menikmati migas miliknya, Asing diuntungkan, menguasai pasar Indonesia, Rakyat dirugikan, harga BBM menjadi mahal.

Maka tujuan utama pemerintah menaikkan harga BBM disinyalir kuat bukan karena untuk mengurangi beban APBN, karena yang membebani adalah pembayaran utang dan bunganya. Juga bukan karena subsidi tidak tepat, karena penerima subsidi kebanyakan adalah menengah ke bawah. Tapi untuk memuluskan liberalisasi Migas di sektor hilir.Dan inilah alasan sebenarnya yang kurang tersingkap dihadapan publik selama ini.Dari sini terlihat aroma kepentingan asing lebih dominan dan hanya untungkan asing bukan untuk rakyat.Namun beribu sayang, pemerintahan SBY terkesan membisu dan menutup telinga atas kritikan rakyat yang mereka ekspresikan dalam berbagai aksi. Tidak salah jika sebagian mahasiswa dengan heroismenya melawan dengan jargon “ganti rezim komprador” dan “tolak penguasa neolib”! [hau/Diolah dari berbagai sumber]

Kitab Suci Melanggar RUU Gender?

Oleh, Henri Shalahuddin, MIRKH

Jika kita sepakat bahwa semua kitab suci adalah Karya Tuhan, berarti tak lama lagi di Indonesia Kekuasaan-Nya segera dibatasi dengan undang-undang. Keadilan-Nya kian dipertanyakan. Bahkan pengikut-Nya bisa dipidanakan gara-gara melanggar UU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). Itu jika komisi VIII DPR RI tetap nekad mengesahkan RUU KKG.

Keadilan Tuhan seperti yang termaktub dalam lembaran-lembaran kitab suci dianggap tidak lagi setara untuk laki-laki dan perempuan, alias bias gender! Apalagi Bab VIII, pasal 67 RUU KKG secara tegas menyebutkan:“Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang memiliki unsur pembedaan, pembatasan, dan/atau pengucilan atas dasar jenis kelamin tertentu”.

Karena Tuhan tidak termasuk dalam kategori “setiap orang”, maka sebagai gantinya adalah semua orang yang mengikuti ajaran Tuhan. Maka siapa saja yang masih saja melaksanakan Ketentuan Tuhan dalam masalah waris, aqiqah, kesaksian, melarang perempuan menjadi khatib jumat, wali nikah, imam shalat bagi makmum laki-laki, dan melarang nikah beda agama maupun sesama jenis berarti telah melanggar Bab VIII, pasal 67 dan Bab III pasal 12, khususnya huruf a dan e yang menyatakan: “Dalam perkawinan, setiap orang berhak: (a) memasuki jenjang perkawinan dan memilih suami atau isteri secara bebas. (e) atas perwalian, pemeliharaan, pengawasan, dan pengangkatan anak”.

Apa yang menjadi Kehendak Tuhan secara umum dinilai telah melenceng dari dasar filosofi, karakteristik, arah dan target RUU KKG seperti yang digariskan dalam Ketentuan Umum, Bab I, pasal 1.

Dalam ketentuan umum, kesetaraan dan keadilan diartikan dengan kesamaan dan persamaan. “Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, berpartisipasi, mengontrol dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang kehidupan. Sedangkan “Keadilan Gender adalah suatu keadaan dan perlakuan yang menggambarkan adanya persamaan hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sebagai individu, anggota keluarga, masyarakat dan warga negara”. (cetak miring untuk kata kesamaan dan persamaan oleh penulis)

Apa saja bentuk “ketidakadilan” dalam kitab suci menurut RUU KKG?

Dalam Bibel terdapat banyak sekali ayat-ayat yang secara tekstual cenderung bertentangan dengan RUU ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal”. (I Timotius 2:9)
  2. “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri”.(I Timotius 2:12)
  3. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”. (I Timotius 2:14)
  4. Wujud kutukan Tuhan terhadap perempuan. “Firman-Nya kepadaperempuanitu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu”. (Kejadian 3:16)
  5. Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (I Korintus 14:34-35);
  6. Sebagai simbol kejahatan "Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: "Babel besar, ibu dariwanita-wanitapelacur dan dari kekejian bumi. Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus". (Wahyu 17:5-6)
  7. “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu”.(Efesus 5:22-24)
  8. Anak perempuan tidak mendapatkan waris kecuali jika tidak ada pewaris lagi dari laki-laki. “Dan kepada orang Israel engkau harus berkata: Apabila seseorang mati dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka haruslah kamu memindahkan hak atas milik pusakanya kepada anaknya yang perempuan”. (Bilangan 27:8)
  9. Seorang istri tidak punya hak waris dari suaminya (bilangan 27:8-11)
  10. Anak perempuan boleh dijual sebagai budak: "Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar" (Keluaran 21:7)
  11. ”Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu”. (pengkhotbah 7:26)

Demikian seperti yang dikuatkan juga oleh P. Hendrik Njiolah, Pr., seorang Penasihat Rohani WKRI DPD Propinsi Sulawesi Selatan dan alumnus Pontificium Institutum Biblicum (Institut Kitab Suci Kepausan) Roma (1987-1991), dalam bukunya "Ideologi Jender dalam Kitab Suci (Suatu Penggalian)".

Tidak hanya Bibel, bahkan al-Qur'an pun akan dipandang sama. Karena banyak ayat-ayat al-Qur'an tidak sejalan dengan RUU ini. Di antaranya seperti berikut:

  1. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya (QS. Al-Baqarah 228)
  2. Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan (QS. An-Nisa’ 11)
  3. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa’ 34)

Lalu apakah dengan banyaknya ketidaksesuaian dengan RUU ini, teks-teks kitab suci itu harus dirombak? Ataukah DPR RI dan Menneg PP akan mempromotori proyek pembuatan tafsir kitab suci versi baru yang sehaluan dengan RUU ini?Kita tunggu bagaimana akal kolektif anggota dewan menghadang Wahyu Tuhan.

RUU KKG Memasung Perempuan

Sebenarnya banyak sekali pasal-pasal dalam RUU KKG ini bertentangan dengan kodrat perempuan. Bahkan mereka juga tidak terlalu membutuhkannya. Biarlah keinginan perempuan berkembang secara alami dan beragam. Pemerintah tidak perlu mengintervensi keinginan perempuan dengan memaksa mereka minimal 30% harus duduk di legislatif, eksekutif, yudikatif dan lembaga pemerintahan lainnya. Pemerintah juga tidak terlalu perlu untuk mengistimewakan keinginan sekelompok perempuan tertentu yang bersifat kasuistik untuk dibuat aturan umum yang mengikat semua warga negara.RUU KKG adalah wujud pemaksaan perempuan untuk tidak menjadi seperti yang mereka kehendaki.

Para pembuat RUU ini seharusnya lebih akomodatif terhadap pilihan wanita, termasuk memperhatikan ambisi para ibu untuk mendidik anak-anaknya. Kata-kata seorang ibu di Melbourne sungguh patut direnungkan bagi kita semua:“Saya mempunyai mimpi untuk diri saya sendiri, tapi saya mempunyai mimpi yang lebih besar untuk anak-anak saya”. Kepada isteri saya, seorang ibu guru juga menceritakan pengalamannya ketika ditanya muridnya: “What is your ambition?”Lalu dia menjawab: “My ambition is to guide my children reach their ambition”.

Memang sungguh tidak mudah mewujudkan mimpi dan ambisi semua perempuan. Karena hal itu memerlukan integritas, kapasitas dan kapabilitas yang sempurna. Namun merupakan suatu kebodohan kaaffah jika pembuat kebijakan hanya mengakomodir kepentingan sebagian kecil kelompok yang tidak mendasarkan pada nilai-nilai kemuliaan perempuan. Sebab kata Ibn al-Qayyim kebodohan adalah memandang baik sesuatu yang mestinya buruk dan menganggap sempurna sesuatu yang mestinya kurang. Sedangkan kebodohan dan keras kepalajika berakumulasi pada diri seseorang akan berakibat jahil murakkab (bodoh kuadrat). Abu Talib al-Makki menjelaskan bahwa mereka inilah “orang-orang yang tidak tahu dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu”. Pastinya kita tidak sedang mengharap bahwa kejahilan kolektif yang murakkab bakal menimpa dewan yang sama-sama kita hormati. Wallahu a’lam bi l-sawab.

Penulis adalah Anggota dewan pendiri Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, peserta Program Kaderisasi Ulama kerjasama DDII dan Baznas, saat ini ia sedang menulis disertasi tentang gender di Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya Kuala Lumpur

Raja Papua yang Suka Berdakwah

Hidayatullah.com--Mulanya ia seorang pendeta. Bermodal ilmu yang ia timba dari pendeta Jostri Ayome selama empat tahun di Jayapura, Papua, ia mulai rajin berceramah di gereja. Ia resmi dilantik menjadi pendeta pada tahun 90-an.

Alasannya menjadi pendeta sederhana saja. Sebagai seorang kepala suku, ia merasa bertanggungjawab menyelamatkan ideologi rakyatnya. “Rakyat harus beragama dan mengenal Tuhan. Jadi, saya harus belajar agama sebagai tanggung jawab tadi,” kata Ismail Saul Yenu, sang pendeta itu.

Banyak yang heran mengapa Yenu menjadi pendeta. Sebab di Papua tak banyak kepala suku bisa merangkap menjadi pendeta.

Yenu tahu, posisinya sebagai kepala suku akan memudahkan nya mengambil hati rakyat untuk masuk Kristen. Dugaannya benar. Banyak warga Papua, baik pendatang maupun penduduk asli, termasuk lima keluarga Muslim, masuk Kristen. Kebanyakan mereka adalah transmigran yang hidup di hutan.

“Waktu itu ada yang sakit dan berhasil saya sembuhkan dengan doa. Karena itu mereka masuk Kristen,” cerita Yenu tentang keluarga Muslim ini. Namun, perjalanan hidup berkata lain. Yenu sang kepala suku mendapat hidayah dan sempat menunaikan ibadah haji. Sepulang dari haji ia disambut oleh rakyatnya dengan teriakan, ”Raja sudah datang ... raja sudah datang!” Uniknya, yang menyambut bukan hanya kaum Muslim saja, tapi banyak juga orang Kristen.

Kesempatan ini tak disia-siakan Yenu. Jika dulu ia rajin berceramah di gereja, maka sekarang ia rajin berdakwah untuk Islam. Banyak yang kepincut hatinya untuk mengucap syahadat lewat dakwah Yenu, termasuk keluarga Muslim yang dulu ia murtadkan. Semua ini ia lakukan untuk menebus tanggungjawab yang dulu salah ia terjemahkan.

Bagaimana lika-liku dakwah sang kepala suku di pulau paling timur Indonesia ini? hidayatullah, menemui pria asli Irian ini di rumahnya di Fakfak, Papua Barat.


Mengapa Anda tertarik dengan Islam?

Meski saya ini dulunya pendeta, tapi diam-diam saya suka mengamati perilaku orang Islam. Saya tertarik melihat orang Islam rajin shalat dan berdoa. Mereka shalat lima kali dalam sehari.

Ini berbeda dengan cara non-Muslim. Mereka hanya berdoa sekali sepekan, atau jika ada acara sembahyang keluarga. Ini menunjukkan kalau orang Islam itu punya Tuhan yang luar biasa. Saya lalu bertanya, mengapa mereka bisa berdoa sedang saya tidak? Dari sinilah saya mulai tertarik dengan Islam.

Apakah Anda punya pengalaman berkesan tentang Islam ketika masih beragama Nasrani?

Ya. Ketika tahun 70-an, di daerah saya ada program ABRI masuk desa yang dipimpin Jenderal M Yusuf. Semua orang berkumpul, mulai dari militer sampai sipil.

Sebagian besar tentara adalah orang Islam. Sedang orang Nasrani kebanyakan sipil.

Ketika apel siaga, Pak Yusuf bertanya, mana orang Islam yang siap membantu rakyat? Serempak orang Islam berdiri, sedang kami orang Nasrani cuma duduk saja.

Lalu Jenderal Yusuf bertanya kepada saya tentang agama yang saya anut. Saya jawab Nasrani. Tapi beliau bilang, ”Dari pada kamu nanti hanya di luar, tak dapat jatah surga, lebih baik ikut begabung dengan mereka (orang Muslim).” Akhirnya entah mengapa saya ikut berdiri juga.

Setelah tertarik dengan Islam, siapa yang membimbing Anda memeluk agama ini?

Saya mencari kebenaran itu sendiri. Saya pernah mencarinya ke Manokwari (Papua Barat), malah diusir dan ditolak. Tapi saya tak marah. Saya kembali mencarinya ke Jakarta. Di Jakarta saya bertemu banyak rekan-rekan sesama Muslim, termasuk Ustadz Fadzlan (M Zaaf Fadzlan Rabbani al-Garamatan, tokoh Papua yang banyak membantu kaum Muslim di daerahnya). Saya banyak dibantu oleh mereka.

Kapan Anda bersyahadat?

Tahun 2002, di Masjid Agung al-Azhar, Kebayoran, Jakarta. Saya dibimbing oleh seorang imam masjid di sana . Esok harinya saya langsung minta dikhitan (sunat). Padahal umur saya sudah 68 tahun. Mana ada di dunia ini orang yang sunat umur 68 tahun kecuali Ismail Yenu. Hehe he.

Bagaimana cerita Anda pergi haji?

Esok hari setelah saya dikhitan, saya telepon Dr Amin Rais (tokoh Muhammadiyah) dan minta dihajikan. Saya juga cerita keadaan masyarakat Irian. Saya katakan bahwa saya tak mampu pulang dan berdakwah di tengah masyarakat Irian jika belum naik haji. Sebab, biasanya masyarakat tak langsung percaya kalau langsung mendakwahi.

Alhasil, Amien Rais menelepon Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), menanyakan apakah ada "lowongan" ke Baitullah. Alhamdulillah, rupanya ada calon haji yang batal berangkat di kloter Asiyah. Kloter ibu-ibu yang berjumlah 240 calon jamaah haji. Meski terasa risih karena harus bergabung dengan ibu-ibu, akhirnya saya jadi diikutkan di kloter tersebut.

Bagaimana perasaan Anda ketika itu?

Saya merenung, mengapa baru beberapa hari menjadi muallaf langsung mendapatkan panggilan agung dari-Nya untuk naik haji? Ini karena kebesaran dan izin Allah semata.

Tiga hari berikutnya saya berangkat haji. Padahal waktu itu bekas khitan saya belum kering betul. Saya pergi ke dokter praktik dan beli kondom.

Sebelum berangkat, seluruh calon haji diperiksa. Rupanya saya ketahuan membawa kondom. Setelah ditanya, saya jawab kalau bekas khitan saya masih basah. Karena tak percaya, saya diperiksa lagi oleh dokter.

Ada kenangan menarik sewaktu naik haji?

Di Arafah, kami berdoa mulai pagi hingga siang hari. Padahal, udara dan cuaca ketika itu sangat panas. Seakan-akan tubuh ini terpanggang teriknya matahari.

Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, ada yang menyiram tubuh saya hingga basah kuyup. Pakaian saya basah semua. Saking basahnya, sampai-sampai saya berdoa sambil menghirup air.

Seketika itu juga saya jadi adem, tak merasa panas lagi. Padahal saat itu jumlah manusia berlapis-lapis. Rasanya tak mungkin kalau ada orang yang datang menyiram saya.

Sewaktu di Masjid al-Haram, ada seorang perempuan besar duduk di sebelah saya. Padahal, jamaah pria tak boleh bercampur dengan jamaah wanita. Saking besarnya, tinggi pinggul wanita itu mencapai bahu saya. Saya merasa ngeri sekali.

Usai berdoa, saya terfikir mau menegur dia. Begitu menoleh, eh, si wanita tadi sudah lenyap entah ke mana. Padahal tubuhnya besar sekali.

Di Masjid Nabawi, suasana sangat padat. Tak ada lagi ruang kosong di dalam masjid. Begitu masuk, rupanya ada tempat lowong yang kira-kira muat untuk dua orang.

Saya jadi heran mengapa tak ada yang melihat tempat tersebut. Padahal sejak tadi jamaah sudah berebutan tempat.

Sementara saya shalat, tiba-tiba ada orang datang dengan jubah yang sangat bagus. Kainnya sangat lembut. Kualitas baju saya kalah jauh dibanding dia. Padahal baju saya juga masih baru, istilahnya baru buka plastik.

Seperti kejadian pertama, begitu saya mau menegur, orang yang dimaksud sudah lenyap entah ke mana.

Apa makna dari semua kejadian tersebut buat Anda?

Keyakinan saya semakin bertambah. Allah SUbhanahu Wata’ala tak akan pernah lalai memantau segala kelakuan hamba-Nya. Keyakinan saya makin mantap jika agama Islam ini benar-benar agama Allah. Kita tak boleh main-main dengan agama ini. Rekan sesama Muslim, termasuk Ustadz Fadzlan (M Zaaf Fadzlan Rabbani al-Garamatan, tokoh Papua yang banyak membantu kaum Muslim di daerahnya). Saya banyak dibantu oleh mereka.

Apa yang Anda lakukan setelah pulang dari Tanah Suci?

Saya tak langsung pulang ke Manokwari, tapi mampir dulu ke Kalimantan Timur selama 14 hari. Saya mengunjungi Balikpapan, Bontang, dan beberapa daerah lain bersama Ustadz Kodiran (orang Yogyakarta yang tinggal di Condet, Jakarta Timur). Kami berdakwah di tempat-tempat itu sekaligus menyaksikan kebesaran Islam.

Bagaimana tanggapan keluarga Anda sepulang dari haji?

Tiba di rumah saya langsung disambut bagai raja oleh masyarakat setempat dengan upacara adat. Saya diminta menginjak 120 buah piring yang ditaruh di jalan menuju rumah.

Apa yang Anda lakukan setelah masuk Islam?

Saya pernah mendatangi gereja saat sang pendeta khutbah. Tanpa tedeng aling-aling, sambil mengenakan gamis dan songkok haji, saya langsung meminta sang pendeta berhenti berkhutbah. Saya ajak mereka semua masuk Islam. Saya berani melakukan itu karena dulu mereka adalah jamaah saya, termasuk lima keluarga murtad yang pernah saya baptis.

Bagaimana tanggapan keluarga setelah Anda menjadi Muslim?

Saya katakan, "Maaf, saya tak seperti dulu lagi. Kalau mama masih suka pake baju singlet atau celana pendek, berarti tak boleh mendekat. Silakan pergi tukar baju dulu. Kepala juga harus ditutup pakai kerudung. Kalau tidak begitu, maaf saja."

Sebelumnya saya telah menyiapkan oleh-oleh pakaian dari Tanah Suci sebanyak 40 pasang. Masing-masing isteri saya mendapat 10 pasang (Yenu memiliki empat isteri). Saya juga minta tolong teman untuk memberi pemahaman Islam kepada para istri saya.

Setelah Anda memeluk Islam, apakah orang-orang yang pernah Anda murtadkan ikut kembali memeluk Islam?

Sebagian besar mereka masuk Islam lagi. Memang ada sebagian kecil yang tetap bertahan (dengan agamanya), namun jumlahnya tak banyak. Malah ada yang beranggapan, waktu masih pendeta saja doa saya dikabulkan oleh Tuhan, apalagi sekarang setelah masuk Islam dan pulang dari Tanah Suci.

Tapi saya katakan kepada mereka bahwa segala sesuatu itu hanya Allah yang mengatur. Manusia cuma bisa berkehendak saja.*