16.3.15

Eks Penasehat KPK: "Koruptor Harusnya Dihukum Mati, Bukan Dikasih Remisi!"

Eramuslim.com – Tak ada habisnya kekonyolan yang ditampilkan rezim Jokowi. Teranyar, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM), Yasonna Laoly berencana memberikan remisi atau keringanan hukuman pada narapidana (napi) korupsi, narkoba dan teroris. Langkah ini dinilai mundur dari upaya pemberantasan korupsi jaman Presiden SBY.

Pak SBY dulu sudah diperketat (remisi koruptor) tapi sekarang malah diperlonggar. Seharusnya Pak Jokowi bersuara lebih keras,” kata dosen hukum tindak pidana pencucian uang Trisakti Yenti Ganarsih di Bincang Senator di kafe Brewerkz, Senayan City, Jakarta Pusat,(15/3).

Menurutnya, wacana pemberian remisi itu akan menjadi preseden buruk untuk Presiden Jokowi. Ia akan dinilai melanggar janji kampanyenya untuk memberantas korupsi.

Mantan Penasihat KPK Abdullah Hehamahua mengatakan remisi tak perlu diberikan pada terpidana narkoba. Jika alasannya karena hak asasi manusia, menurutnya harusnya saat akan korupsi, pejabat tersebut harusnya memikirkan HAM orang lain.

Karena kejahatan luar biasa. Organisasi juga luar biasa. Maka perlu amandemen KUHP. Ini tidak melanggar HAM. Ketika mencuri uang rakyat, dia tidak memperhatikan HAM rakyat,”‎ kata Abdullah.

Abdullah bahkan mengatakan seharusnya koruptor dihukum mati agar memberi efek jera bagi pejabat lainnya. “Kalau di Islam, orang yang mencuri dihukum potong tangan. Karena itu saya usulkan hukuman mati harus diberlakulkan bagi para koruptor,” ucapnya.

Persoalan remisi untuk koruptor ini mendapat kritik dari penggiat korupsi. Rencana pemberian remisi ini dinilai sebagai langkah pelemahan KPK pasca kasus Cicak vs Buaya jilid 4.(rz/FN)

15.3.15

Direktur CIA: "AS Tidak Ingin Rezim Assad Jatuh"

Eramuslim – “Amerika Serikat tidak ingin melihat kematian rezim Suriah karena bisa membuka pintu ekstremis Islam untuk merebut kekuasaan,” kata Direktur CIA John Brennan, Jumat.

Dengan munculnya Daulah Islam di Irak dan Suriah dan kelompok militan lainnya, Washington memiliki alasan untuk khawatir tentang siapa yang mungkin menggantikan Presiden Bashar al-Assad jika pemerintahnya jatuh,” Kata direktur CIA.

Berbicara di sebuah acara di Dewan Hubungan Luar Negeri, ia mengatakan bahwa “unsur-unsur ekstremis” termasuk kelompok Daulah Islam dan al-Qaeda adalah “Penguasa sekarang” di beberapa bagian Suriah.

Hal terakhir yang kami ingin lakukan adalah menghambat mereka untuk masuk berbaris ke Damaskus.”

Itulah mengapa penting untuk meningkatkan kekuatan-kekuatan dalam oposisi Suriah yang tidak ekstrimis,” tambahnya.

Militer AS mendanai pelatihan dan mempersenjatai pasukan pemberontak “Moderat” Suriah .

Tak satu pun dari kami, Rusia, Amerika Serikat, koalisi, dan negara-negara regional, ingin melihat runtuhnya lembaga pemerintah dan politik di Damaskus,” kata Brennan. (Arby/Dz)

13.3.15

Syiah Iran Incar Palestina dan Lebanon, Setelah Kuasai Irak, Suriah dan Yaman

Eramuslim – Komandan Korps Pengawal Revolusi Iran, Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari, menyatakan bahwa pemerintah teheran akan mendukung perjuangan rakyat Libanon dan Palestina sama seperti medukung pemerintah Irak dan Suriah.

Pernyataan ini dilontarkan Mayjen Mohammad Ali Jafari dalam rapat pertemuan dengan para perwira tinggi militer Iran yang diselenggarakan di ibukota Teheran pada hari Rabu (11/03) kemarin.

Dalam rapat tersebut, Mayjen Mohammad Ali mengatakan “Menjaga revolusi Iran berarti mempertahankan peran negara Syiah tersebut dalam kancah internasional, baik di bidang keamanan, militer, budaya dan hegemoni kawasan.”

Menurutnya pengaruh revolusi Iran telah memasuki fase baru dengan diterimanya pesan revolusi Syiah kepada pemuda di Eropa dan Amerika Utara.

Perlu diketahui Iran kini berperan aktif dengan mengutus langsung Mayjen Qasem Soleimani yang menjabat komandan pasukan elit Garda Revolusi “al Quds Force”, untuk memimpin perang merebutkan kota Tikrit dari tangan mujahidin Negara Islam. (Ahbarak/Ram)


Wow... Ternyata Pasukan Irak Didominasi oleh Milisi Syiah Iran

Eramuslim – Video perayaan milisi Syiah yang berhasil merebut sebagian besar kota Tikrit di Irak, dari tangan mujahidin Negara Islam menjadi perbincangan hangat warga Timur Tengah di dunia maya.

Dalam rekaman video berdurasi hampir 2 menit tersebut nampak sejumlah milisi Syiah dan pasukan pemerintah bersama merayakan keberhasilan merebut alun-alun kota Tikrit dari mujahidin negara Islam.

Nampak milisi dan sejumlah pasukan pemerintah menurunkan lambang bendera Negara Islam dari alun-alun kota, dan beberapa dari bendera tersebut dibuang di tanah serta dibakar, sementara milisi yang lain menjaga dan meneriakkan slogan-slogan Syiah.

Sebelumnya Jenderal Martin Dempsey dalam rapat dengar pendapat dengan Kongres AS pada hari Rabu (11/03) kemarin menyebut sekitar 20 ribu milisi Syiah bentukan Iran ikut membantu pasukan pemerintah Irak merebut kota Tikrit sejak awal bulan Maret lalu.

Iran bahkan mengirimkan Mayjen Qasem Soleimani, yang menjabat komandan pasukan elit Garda Revolusi Iran “al Quds Force”, untuk memimpin dan mengawasi jalannya operasi militer tersebut. (Rassd/Ram)

Berikut rekaman video:

7.3.15

Ulama Digantikan oleh Pemimpin yang Bodoh, Sesat dan Menyesatkan

Hadis berikut ini menyebutkan bahwa pada masa-masa terakhir dunia, urusan masyarakat muslim akan jatuh ke tangan orang-orang yang benar-benar bodoh dan tidak mempunyai pemahaman tentang agama Islam.

Abdullah ibn Amr ibn al Ash meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صحيح البخاري ٩٨: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
قَالَ الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ
Shahih Bukhari: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. Berkata Al Firabri, telah menceritakan kepada kami ‘Abbas berkata, telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hisyam seperti ini juga.

Ramalan tersebut telah terbukti, karena orang-orang Islam dewasa ini telah mengangkat pemimpin yang hanya tahu kulit luar Islam, tetapi tidak mengerti praktek dan inti Islam. Misalnya, seringkali seorang pengusaha, dokter, atau insinyur diangkat menjadi imam masjid. Para profesional itu tidak mempunyai latar belakang pendidikan Islam, mereka tidak mempelajari quran dan hadits secara mendalam. Mereka memang diperbolehkan bertindak sebagai Imam sholat di Masjid bila memang tidak ada orang yang memiliki kriteria yang mumpuni, namun bila mereka mengakui dirinya ataupun diakui masyarakatnya sebagai Ustadz, Ulama ataupun penceramah, yang dapat memberikan fatwa atas masalah tertentu, maka berarti mereka telah melampaui batas kewenangannya dan dapat membawa potensi kerusakan serius pada masyarakat muslim.

Pemimpin masyarakat muslim semacam itu akan mengubah Masjid menjadi arena untuk memperebutkan dominasi sosial, bukan sebagai tempat untuk meningkatkah kehidupan keagamaan dan spiritual.

Imam As-Syafi’i berkata, “Seseorang tidak diperkenankan memberi fatwa kecuali dia mengetahui Al Qur’an secara lengkap, termasuk ayat ayat yang telah dihapus, dan ayat ayat yang menghapusnya, dan ayat yang mirip satu sama lain, dan apakah surah itu diturunkan di Mekah atau di Madinah. Dia harus mengetahui seluruh koleksi hadits Nabi, baik yang asli maupun yang palsu. Dia harus memahami bahasa Arab pada masa Nabi beserta tata bahasa dan keistimewaannya, serta mengetahui puisi puisi arab. Disamping itu dia harus mengetahui kebudayaan berbagai masyarakat yang tinggal di berbagai tempat. Jika seseorang memiliki seluruh pengetahuan itu dalam dirinya, maka ia boleh berpendapat bahwa ini halal ini haram. Jika tidak, maka ia tidak punya hak untuk mengeluarkan fatwa"

Contohlah juga Umar bin Khattab, bila ia ingin memberikan keputusan atas suatu masalah maka ia kumpulkan dahulu seluruh sahabat yang terlibat dalam perang Badar (sekitar 313 sahabat) untuk menemukan jawabannya.

Sayangnya, orang-orang zaman sekarang terlalu cepat mengeluarkan aturan yang didasarkan atas analisis mereka sendiri. dan juga para pemimpin Islam dewasa ini, alih-alih menggunakan masjid untuk meningkatkan kebaikan dan keselamatan jiwa manusia di akherat kelak, mereka justru membicarakan persoalan dunia dan kenikmatannya.

Lebih parah lagi di zaman internet ini, dan ini kejadian nyata! Ada seorang anak laki-laki yang hanya berusia 18 tahun bertindak sebagai ulama besar yang dapat mengeluarkan fatwa, dan ia menuliskan dalam blognya , dan dengan mudahnya ia katakan “anda salah, anda termasuk orang kafir!” lalu banyak orang orang mengajukan pertanyaan besar kepadanya, dan sambil banyak orang pula yang merespon dan mengetik jawabannya sambil mengemukakan pendapat pribadi mereka yang tidak didasari oleh keilmuan. Bahkan banyak pula orang orang yang membacanya dan kemudian mengkopi apa yang ditulis oleh anak anak muda itu, untuk dijadikan landasan hukumnya. Jadilah seperti yang dikatakan nabi,” Mereka sesat dan menyesatkan.”

-Syeikh Muhammad Hisyam Kabbani in Approach of Amargeddon-

4.3.15

Mengkonsumsi Kacang Tanah Kurangi Risiko Penyakit Kardiovaskuler

Kacang tanah mengandung gizi tinggi, lemak tak jenuh, serat, vitamin, anti-oksidan, dan dapat meningkatkan kesehatan jantung, dengan mengkonsuminya sekitar 30 gram setiap minggu.

MAKAN kacang, dalam jumlah kecil, dapat mengurangi risiko kematian dan penyakit kardiovaskular, kata hasil penelitian.

Laporan ini mengkompilasi penelitian dari orang-orang berbagai ras, termasuk Kaukasia, Afrika- Amerika, dan Asia. Semua dari latar belakang berpenghasilan rendah.

Para peneliti menemukan, mengkonsumsi kacang secara teratur mengurangi kematian di kalangan pria dan wanita dari semua kelompok. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa makan kacang –yang relatif terjangkau– dapat menjadi cara murah dan bergizi untuk mengurangi angka kematian dan penyakit kardiovaskular di seluruh dunia.

Penelitian ini, yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association dan Internal Medicine, melibatkan lebih dari 70.000 masyarakat Kaukasia dan kulit hitam di Amerika Serikat, dan 130.000 orang China di Shanghai.

“Kami menemukan bahwa mengkonsumsi kacang terkait dengan berkurangnya total mortalitas dan mortalitas penyakit kardiovaskular dalam masyarakat berpenghasilan rendah yang didominasi penduduk kulit hitam dan putih di AS, dan di antara laki-laki dan perempuan China yang tinggal di Shanghai,” kata peneliti senior Xiao-Ou Shu, Wakil Direktur Global Health di Vanderbilt-Ingram Cancer Center (VICC), seperti dilansir Free Malaysia Today, Selasa (3/3/2015).

Ada penurunan risiko kematian total antara 17 hingga 21 persen dari peserta penelitian. Sedang risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular berkurang antara 23 dan 38 persen.

Tapi anggota tim peneliti William Blot memperingatkan, karena data itu dari observasi studi epidemiologi dan tidak acak uji klinis, “kita tidak bisa yakin bahwa kacang merupakan faktor utama yang dapat mengurangi kematian dalam penelitian ini.”

“Tetapi temuan dari studi baru ini, bagaimana pun, memperkuat penelitian sebelumnya, menunjukkan manfaat kesehatan dari makan kacang-kacangan, dan dengan demikian cukup menggembirakan,” tambah Blot, yang juga Wakil Direktur Pengawasan Pencegahan Kanker dan Populasi di VICC.

Kacang tanah merupakan makanan murah dan banyak tersedia dibanding jenis kacang lainnya, serta dimakan oleh banyak kalangan di seluruh dunia.

Kacang mengandung gizi tinggi, lemak tak jenuh, serat, vitamin, anti-oksidan, dan dapat meningkatkan kesehatan jantung, dengan mengkonsuminya sekitar 30 gram setiap minggu.

“Hasil penelitian menunjukkan, kacang merupakan bagian dari diet seimbang yang bermanfaat,” kata Peter Weissberg, Direktur British Heart Foundation, yang tidak berpartisipasi dalam penelitian ini.

“Data memang tidak menunjukkan bahwa semakin banyak kacang yang Anda makan, semakin rendah risiko serangan jantung fatal. Karenanya orang jangan mengkonsumsi kacang dalam jumlah besar, khususnya kacang asin, dengan harapan melindungi dari penyakit jantung,” tambahnya.

Penelitian sebelumnya telah difokuskan pada masyarakat kulit putih kelas atas.

Para peserta dalam studi ini diamati antara lima sampai 12 tahun.*

Ratusan Orang di Peshawar Dipenjara karena Anaknya Tidak Divaksinasi Polio

Orangtua yang menjadi target tidak akan ditahan jika mereka setuju untuk memvaksinasi anak-anaknya.

Polisi bersenjata mengawal petugas pelaksana
vaksinasi polio di Pakistan.
Hidayatullah.com—Ratusan orangtua di wilayah barat daya Pakistan telah ditangkap dan dijebloskan ke penjara, karena menolak memberikan anaknya vaksinasi polio.

Feroz Shah, seorang jurubicara pemerintah distrik di Peshawar, mengatakan 471 orang di kota dan desa sekitar telah dipenjarakan atas instruksi dari permerintah dengan tuduhan membahayakan keamanan publik.

Orangtua yang menjadi target tidak akan ditahan jika mereka setuju untuk memvaksinasi anak-anaknya, kata Shakirullah Khan, seorang polisi senior di Peshawar.

“Ini merupakan tindakan drastis pertama yang pernah diambil,” kata Shah dikutip The Guardian Senin (2/3/2015).

“Ini menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam membasmi polio,” imbuhnya.

Bersama dengan Afghanistan dan Nigeria, Pakistan menghadapi endemi polio dan negara itu tahun lalu melaporkan banyak terjadi kasus polio. [?]

Pada bulan Januari, pemerintah menargetkan sekitar 35 juta anak di seluruh negeri mendapatkan vaksinasi. Oleh karena petugas pelaksana vaksinasi sering mendapatkan serangan dari warga yang menentang program itu, strategi keamanan baru juga telah diterapkan untuk melindungi mereka.*

2.3.15

Perampokan Besar-besaran terhadap Negara, Mega Skandal BLBI Rp.650 Triliun


JAKARTA (voa-isla.com) - Berbicara tentang skandal BLBI kita harus melihat secara komperhensif agar fair. Yaitu mulai dari awal terjadinya krisis moneter thn 97.Dari situ kita akan melihat betapa bangsa ini telah dirampok secara licik dan habis2an baik oleh asing maupun oleh anak2 bangsa sendiri.

Skandal BLBI adalah perampokan terbesar sejak republik ini berdiri. Bahkan hingga saat ini rakyat masih harus membayar cicilannya.Menurut @RamliRizal kita masih harus membayar cicilan sebesar 60T/tahun hingga 20 tahun kedepan akibat perampokan besar2an ini

Jadi masalah BLBI dan segala penyelewengan atasnya masih sangat relevan utk diusut. Sebab hingga saat ini kita masih dibebani cicilannya., Kejahatan seputar BLBI ini sesungguhnya sangat rumit dan canggih, tapi bisa disederhanakan kira2 seperti ini:Saat krisis moneter melanda negeri ini, pemerintah memutuskan menyelamatkan bank-bank agar tidak berguguran.

Pada kenyataannya bank-bank yang diselamatkan dgn guyuran dana besar2an ini tidak hanya bermasalah karena krismon saja. Tetapi juga sejak awal sudah bermasalah karena kenakalan pemiliknya. Jadi mereka justru mengambil manfaat dari krismon itu sendiri. Tidak cukup sampai disitu, kucuran dana uang rakyat ternyata diselewengkan oleh bank2 tersbut utk keperluan lain diluar penanganan krisis.

Masih belum puas merampok uang rakyat, setelah menyelewengkan dana BLBI mereka berkelit tidak mau membayar kewajibannya. Sebagai gantinya para konglomerat ini menyerahkan aset yang nilainya jauh dibawah hutang mereka pada negara untuk dijual. Makin menjijikkan ulah mereka ketika aset2 tersebut ternyata akhirnya mereka beli sendiri melalui anak2 perusahaan mereka di luar negeri.

Dan harga belinya pun jauh dibawah harga pasar. Contohnya yg terjadi pada BCA, dimana dijual dgn harga obral dgn nilai total hanya 10T. Padahal saat itu BCA punya tagihan kpd Pemerintah sebesar Rp. 60 T, dan ketika BCA dijual sudah punya laba ditahan sebesar Rp. 4 triliun. Bagaimana semua kekonyolan itu bisa terjadi? Jawabnya adalah karena terjadi perselingkuhan dan pengkhianatan dari berbagai pihak. Mulai dari para konglomerat nakal, Pemerintah, DPR, Kejaksaan, IMF, BI, dll. Mereka bersatu menelikung bangsanya sendiri.

Lalu seberapa besar kerugian negara atas pengkhianatan ini? Bandingkan saja kerugian akibat Century 6,7 T sementara BLBI 600 T lebih! Lalu siapa yang harus disalahkan dan dimintai pertanggungan jawab? Untuk itu kita harus mengulang kembali kronologinynya sejak awal. Berikut adalah poin-poin penting kronologis terciptanya skandal BLBI tersebut.

1 September 1997, BI menurunkan suku bunga SBI sebanyak tiga kali. Berkembang isu di masyarakat mengenai bebrp bank besar yg mengalami. Kalah kliring dan rugi dlm transaksi valas. Kepercayaan masyarakat terhadap bank nasional mulai goyah. Terjadi rush kecil-kecilan. 3 September 1997, Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan serta Produksi dan Distribusi berlangsung di Bina Graha.

Hasil pertemuan: pemerintah akan membantu bank sehat yang mengalami kesulitan likuiditas, sedangkan bank yang ”sakit” akan dimerger atau dilikuidasi. Belakangan, kredit ini disebut bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). 1 November 1997, 16 bank dilikuidasi.

Terjadilah rush besar-besaran akibat kepanikan luar biasa 27 Desember 1997, Presiden menyetujui saran direksi BI utk mengganti saldo debit bank dgn SBPU agar tidak banyak bank yg tutup. Mei 1998, BLBI yg dikucurkan pada 23 bank mencapai Rp 164 T, dana penjaminan antarbank Rp 54 T, dan biaya rekapitalisasi Rp 103 T.

Penerima terbesar hanya empat bank, yakni BDNI Rp 37,039 T, BCA Rp 26,596 T, Bank Danamon Rp 23,046 T, dan BUN Rp 12,067 T. 4 Juni 1998, Pemerintah diminta membayar seluruh tagihan kredit perdagangan (L/C) bank-bank dalam negeri oleh Kesepakatan Frankfurt.

Ini merupakan syarat agar L/C yg diterbitkan bank dlm negeri bs diterima di dunia internasional. Pemerintah terpaksa memakai dana BLBI 18 T. 21 Agustus 1998, Pemerintah memberikan tenggat pelunasan BLBI dalam tempo sebulan. Bila itu dilanggar, ancaman pidana menunggu.

Tenggat berlalu begitu saja. Para konglomerat tdk menggubris ancaman pemerintah. Jangankan pidana, sanksi administratif pun tak terdengar. 26 September 1998, Pemerintah mengalah. Menteri Keuangan menyatakan pemerintah mengubah pengembalian BLBI dari sebulan menjadi lima tahun. 27 September 1998, Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita meralat dari 5 tahun menjadi setahun. Pelunasan BLBI harus tunai dalam tempo setahun.

18 Oktober 1998, IMF mulai ikut campur. Hubert Neiss melayangkan surat keberatan. Meminta pelunasan kembali menjadi lima tahun. 10 November 1998, Akhirnya pengembalian BLBI ditetapkan 4 tahun. Tahun pertama 27 persen, sisanya dikembalikan dalam tiga tahun.

8 Januari 1999, Pemerintah terbitkan surat utang Rp 64,5 triliun sbg tambahan dana yg dikeluarkan BI atas tagihan bank yg dialihkan ke BPPN. 6 Februari 1999, BI dan Menkeu membuat perjanjian pengalihan hak tagih (on cessie) BLBI dari BI kpd pemerintah senilai Rp 144,53 triliun.

Dengan ini maka resmi beban yang harusnya ditanggung para konglomerat nakal tersebut dialihkan menjadi beban rakyat Indonesia. 9 Februari 1999, Ketua BPKP Soedarjono mengungkapkan adanya penyelewengan dana BLBI oleh para bank penerima. Potensi kerugian negara sebesar Rp 138,44 triliun (95,78%) dari total dana BLBI yang sudah disalurkan.

1 September-7 Desember 1999, BPK mengaudit neraca BI dan menemukan bahwa jumlah BLBI yg dapat dialihkan ke pemerintah hanya Rp 75 triliun, Sedangkan Rp 89 triliun tidak dapat dipertangggungjawabkan. BPK menyatakan disclaimer laporan keuangan BI.

26 Oktober 2000, Jaksa agung menunda proses hukum terhadap 21 obligor agar mereka punya kesempatan melunasi dana BLBI. 3 Januari 2001, 2 Deputi BI Aulia Pohan dan Iwan G Prawiranata ditingkatkan berkasnya ke penyidikan krn penyalahgunaan dana BLBI. 10 Maret 2001, Pemilik BUN Kaharuddin Ongko ditahan Kejaksaan Agung atas tuduhan penyelewengan dana BLBI.

22 Maret 2001, Pemilik Bank Modern, Samandikun Hartono ditahan Kejaksaan Agung atas tuduhan penyelewengan dana BLBI. 9 April 2001, Dirut BDNI Sjamsul Nursalim yang bersatus tersangka penyelewengan dana BLBI dicekal Kejaksaan Agung.

29 Maret 2001, Kejagung mencekal mantan ketua Tim Likuidasi Bank Industri (Jusup Kartadibrata), Presider Bank Aspac (Setiawan Harjono). 30 April 2001, Kejagung membebaskan David Nusawijaya, tersangka penyelewengan BLBI.

Abimantrono anwar/dbs/voa-islam.com - See more at: http://www.voa-islam.com/read/intelligent/2015/02/28/35927/perampokan-besarbesaran-terhadap-negara-mega-skandal-blbi-rp-650-triliun/

1.3.15

Soal Syiah, FPI Dorong Indonesia Ikuti Jejak Malaysia

Hasil kongres umat Islam yang menyatakan Indonesia adalah negeri Muslim yang berakidah Ahlus Sunnah

Hidayatullah.com–Ahmad Sobri Lubis, Wakil Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) meminta pemerintah Indonesia untuk mengikuti jejak pemerintah Malaysia dalam penanganan masalah Syiah.

Malaysia lebih maju dari Indonesia soal ketegasannya kepada Syiah. Malaysia melarang Syiah dengan penegasan Malaysia sebagai negeri Muslim yang berakidah ahlus sunnah dan berfikih Syafi’i. Nah, ini patut juga ditiru Indonesia,” kata Sobri dalam tablig akbar Majelis Taqarrub Ilallah di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq Jakarta Timur, Sabtu (28/2/2015) pagi.

Di Indonesia, jelas Sobri, Syiah belum dianggap persoalan serius oleh pemerintah. Padahal rentetan konflik Suni-Syiah di Indonesia semakin banyak terjadi di Indonesia.

Konflik Suni-Syiah jangan dianggap kecil, ini bisa melebar kemana-mana. Bagaimana sekarang ini umat Islam bisa mendorong pemerintah untuk bersikap tegas Syiah,” ungkap Sobri.

Menurut Sobri, penegasan Indonesia sebagai negeri Ahlus Sunnah merupakan hasil rekomendasi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) 2015 di Yogyakarta belum lama ini.

Ini sesuai dengan hasil kongres umat Islam yang menyatakan Indonesia adalah negeri Muslim yang berakidah Ahlus Sunnah. Dengan penegasan ciri khas ini, maka Syiah harus hormat dan tidak menyebarkan pahamnya di Indonesia yang berstatus negara ahlus sunnah,” kata Sobri.

Di balik Jatuhnya Khilafah Turki Ustmaniyah Terakhir

Oleh: Aidil Faqih

Pada bulan Rajab di samping Isra’ dan Mi’rajnya Nabi Muhammad Saw ada peristiwa penting yang takkan dilupakan oleh kaum Muslim, yakni dihapuskannya sistem Khilafah oleh pengkhianat kaum Muslim, Mustafa Kemal Atartuk. Inilah tragedi yang menjadi awal kelamnya kehidupan kaum Muslim.

Ada beberapa faktor penyebab utama kemunduran Negara Khilafah saat itu, diantaranya: konspirasi negara-negara kafir imperialis, pengkhianatan penjabat tinggi negara, adanya ide-ide dan isme-isme rusak (Nasionalisme, Patriotisme, Demokrasi dan HAM) yang mempengaruhi pemikiran kaum muda di Turki dan wilayah Khilafah lainnya, terhentinya ijtihad, upaya memasukkan Undang-undang barat dalam konstitusi Negara Khilafah, penghancuran aqidah Islam melalui serangan misionaris Kristen (pendeta-pendeta yang berjuang memurtadkan orang-orang Islam). Puncaknya, pada tanggal 3 Maret 1924 (28 Rajab 1342 H), agen Inggris keturunan Yahudi Dunamah bernama Mustafa Kemal Pasha menyatakan dibubarkannya Negara Khilafah Islamiyah yang berpusat di Istambul, dan kemudian menggantinya dengan sistem Republik dengan asasnya Sekular-Demokrasi serta memindahkan ibukota Turki dari Istambul ke Ankara.

Sultan Abdul Hamid dan Yahudi

Pada masa pemerintahan Khalifah Sultan Abdul Hamid II, Pemimpin Zionis Internasional bernama Theodore Herzl melalui sahabatnya yang dekat dengan keluarga istana meminta kepada Khalifah untuk memberikan tanah Palestina kepada orang-orang Yahudi. Dan jika diizinkan menduduki Palestina, orang-orang Yahudi akan menyelesaikan utang-utang Negara Khilafah. Namun apa yang terjadi Khalifah Sultan Abdul Hamid II menolak dengan tegas, melalui suratnya:

Nasehatilah temanmu Herzl agar dia tidak mengambil langkah-langkah baru mengenai masalah ini, sebab saya tidak bisa mundur dari tanah suci ini (Palestina) walaupun hanya sejengkal. Sebab tanah ini bukanlah milik saya. Dia milik bangsa dan rakyat saya. Nenek moyang saya telah berjuang demi mendapatkan tanah ini. Mereka telah menyiraminya dengan titisan darah demi mendapat tanah ini. Maka biarkanlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka. Jika negeriku hancur lebur, maka sangat mungkin mendapatkan negeri Palestina tanpa ada balasan apapun. Namun patut diingat, bahwa hendaklah penghancuran itu dimulai dari tubuh dan raga kami. Namun tentunya saya juga tidak akan menerima, raga saya dirusak binasa sepanjang hayat masih dikandung badan”.

Demikianlah, Herzl gagal merayu Sultan Abdul Hamid II untuk menduduki tanah Palestina. Padahal waktu itu utang Negara Khilafah mencapai 20 juta Lira.

Setelah gagal merayu Sultan Abdul Hamid II, Zionisme Internasional kemudian memulai dengan menggerakkan media-media internasional untuk menjatuhkan Khalifah. Setelah itu, mereka menyatukan musuh-musuh Sultan Abdul Hamid II yang tumbuh dan bercampur baur dalam masyarakat Utsmani. Kita dapatkan para pengikut demokrasi dan mereka yang diperalat kaum demokrat, melakukan rencana yang sangat teratur dan menyerang. Mereka menguasai jaringan bisnis dunia, media-media Eropa, sehingga sangat mungkin bagi mereka untuk membentuk pandangan umum tentang pentingnya memecat Sultan Abdul Hamid II dari jabatannya sebagai seorang Khalifah.

Konspirasi Kolonialis Eropa untuk Menghapuskan Sistem Khilafah

Pada tanggal 31 Maret 1909, Zionis Internasional melakukan konspirasi, yaitu peristiwa tragis yang menimbulkan goncangan hebat. Peristiwa tersebut terjadi di kota Istambul, dimana telah terjadi pembunuhan berdarah yang menimbulkan korban jiwa. Dan kemudian mereka menuduh Sultan Abdul Hamid II terlibat dalam peristiwa tersebut. Peristiwa tersebut juga membuat orang-orang Yahudi Eropa dari Organisasi Persatuan dan Pembangunan (nama lain dari Gerakan Turki Muda pimpinan Mustafa Kemal) memasuki Istambul untuk melakukan acara penurunan baiat di pusat kota menuntut pemecatan Sultan Abdul Hamid II dari jabatannya sebagai seorang Khalifah. Dengan dukungan media-media di Turki dan Eropa, mereka menuduh Sultan merencanakan terjadinya peristiwa 31 Maret tersebut, membakar mushaf-mushaf Al-Qur`an, pemboros, penumpah darah, dan zhalim. Agar niat busuk tersebut berhasil, para revolusionir bentukan Yahudi melakukan tekanan kepada mufti Islam Muhammad Zhiyaudin untuk mengeluarkan fatwa pemecatan. Pada hari selasa 27 April 1909, sebanyak 240 anggota Majelis A`yan (tokoh-tokoh masyarakat yang ditunjuk) mengadakan pertemuan bersama dan menetapkan pemecatan Sultan Abdul Hamid II. Namun sebagian anggota menolak menerima draft tersebut, diantaranya sekretaris fatwa Nuri Affandi yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Namun atas usulan dan desakan dari Organisasi Persatuan dan Pembangunan, akhirnya dibentuklah panitia untuk menyampaikan keputusan pemecatan Khalifah kaum muslimin, panitia tersebut terdiri dari: Immanuel Qarashu (seorang Yahudi asal Spanyol), Aaram (Anggota Majelis Perwakilan yang berasal dari Armenia), As`ad Thuathani (Utusan Albania), Arif Hikmat (anggota Majelis `Ayan, asal Irak Karajabani). Kemudian melalui mereka dilakukan (pemberitahuan) pemecatan Sultan Abdul Hamid II sebagai Khalifah, dan pada saat bersamaan Sultan Abdul Hamid berkata kepada mereka, ”Sesungguhnya ini tak lebih dari perbuatan orang-orang Yahudi yang mengancam Khilafah, lalu apa maksud kalian membawa orang ini (Emmanuel) datang ke hadapanku?”.

Setelah Sultan Abdul Hamid II diturunkan dari jabatannya, kemudian beliau dibuang ke Salonika (wilayah Kekhilafahan Turki yang berbatasan dengan Yunani).

Orang-orang Yahudi dan Freemasonry mengangkat hari penjatuhan Sultan Abdul Hamid II sebagai hari raya mereka. Mereka meluapkan kegembiraan dengan mengadakan demonstrasi di jalan-jalan pusat kota Istambul, Turki Utsmani. Setelah diturunkan dari jabatannya, Sultan Muhammad Rasyad menggantikan beliau sebagai Khalifah kaum muslimin.

Pada hari Senin tanggal 3 Maret 1924, dunia dikejutkan oleh berita bahwa Mustafa Kemal di Turki secara resmi telah menghapus Khilafah. Pada malam itu Abdul Majid II, Khalifah terakhir kaum muslimin, dipaksa untuk mengemas kopernya yang berisi pakaian dan uang ke dalam kendaraannya dan diasingkan dari Turki, dan tidak pernah kembali. Dengan cara itulah pemerintahan Islam yang berusia 1342 tahun berakhir. Kisah berikut adalah sekelumit sejarah dari tindakan-tindakan kekuatan kolonialis dengan pertama kali menyebarkan benih perpecahan diantara kaum muslimin dengan menanamkan nasionalisme dan akhirnya mengatur penghancuran Daulah Khilafah melalui agen-agen pengkhianatnya… (Bersambung)

Tidak berapa lama kemudian, muncullah hakikat sebenarnya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Kristen dan lebih khusus lagi Inggris. Mereka melihat, bahwa penghancuran Khilafah bukanlah perkara yang mudah, kecuali dengan cara membuat pahlawan boneka (proxy) dan menggambarkan opini umum tentang sosoknya yang besar dan keramat. Dan mereka mengusulkan nama Musthafa Kemal agar menjadi sumber harapan dan sumber penghormatan di kalangan perwira tentara dan rakyat Utsmani.

Mereka membuat beberapa sandiwara peperangan untuk mengangkat (mengorbitkan) nama Musthafa Kemal sebagai pahlawan. Mereka bertempur tetapi tidak ada peluru dan meriam yang ditembakkan pihak sekutu. Musthafa Kemal berhasil mendesak pasukan sekutu mundur dari wilayah Turki. Kemenangan sandiwara ini disambut oleh rakyat Turki dan menyanjung nama Musthafa Kemal serta menganggapnya sebagai pahlawan penyelamat. Inggris mempublikasikan kemenangan (sandiwara) Musthafa Kemal secara besar-besaran. Atas kemenangan ini Musthafa Kemal mengatakan di hadapan publik: ”Semua rencana tidak akan dilakukan kecuali untuk melindungi kesultanan dan Khilafah serta membebaskan Sultan dan negeri ini dari perbudakan negara asing”. Di sisi lain Duta Besar Inggris mengeluarkan beberapa pernyataan yang ditujukan kepada bangsa Turki supaya mematuhi khalifahnya, seolah-olah mereka berdiri dipihak Sultan dan bermusuhan dengan Musthafa Kemal. Maka bertambahlah kebencian terhadap Khalifah dan bertambahlah kecintaan terhadap pahlawan (boneka) yang memerangi sekutu.

Kebusukan rencana Musthafa Kemal mulai terbongkar pada tahun 1341 H/ 1923 M, Organisasi Nasional Turki pimpinan Mustafa Kemal mengumumkan berdirinya Republik Turki yang beribukota di Ankara dan dia terpilih sebagai presiden pertamanya, peristiwa ini membuat posisi Khalifah Sultan Muhammad Wahidudin terancam, kemudian dia melarikan diri ke Malta dengan kapal Inggris. Awalnya Musthafa Kemal berpura-pura tetap menjaga eksistensi Sistem Khilafah dengan menunjuk Sultan Abdul Majid II menggantikan Sultan Muhammad Wahidudin.

Namun pada tanggal 27 Rajab 1342 H bertepatan dengan 3 Maret 1924 M, Musthafa Kemal memanggil semua pendiri Organisasi Persatuan dan Pembangunan, dia yakin bahwa tidak ada seorangpun yang berani menentang dirinya. Di hadapan anggota, dia mengusulkan untuk membuat projek pembubaran Khilafah yang dia sebut sebagai `bisul abad pertengahan`. Akhirnya pada pertemuan tersebut Sistem Kekhilafahan Islam dibubarkan. Pada keesokan harinya, Khalifah Sultan Abdul Majid II dan keluarga Ustmani diusir dari Ibukota Istambul, hartanya disita, dan Musthafa Kemal mengganti sekolah-sekolah Islam dengan sekolah sekuler dibawah kementrian pendidikan. Hal itu dilakukan untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan pimpinan delegasi Inggris, Lord Curzon pada saat perjanjian Lausanne tanggal 23 Juli 1923.

Setelah khilafah Islam dibubarkan dan pasukan Inggris ditarik dari wilayah Turki. Menteri luar negeri Inggris, Curzon dipanggil Senat Inggris untuk mempertanggungjawabkan perihal penarikan pasukan Inggris dari wilayah Turki, dihadapan anggota Senat Curzon berkata, ”Utama persoalannya adalah bahwa Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit kembali, karena kita telah berhasil menghancurkan dua kekuatan spiritualnya, yaitu Khilafah dan Islam”.

Beberapa bulan setelah penghancuran Khilafah tanggal 24 Juli 1924, kemerdekaan Turki secara resmi diakui dengan penandatanganan Traktat Lausanne. Inggris dan sekutu-sekutunya menarik semua pasukannya dari Turki yang ditempatkan sejak akhir PD I. Sebagai reaksi dari hal ini, dilakukan protes pada Menlu Lord Curzon di House of Common karena Inggris mengakui kemerdekaan Turki. Lord Currzon menjawab, “Situasinya sekarang adalah Turki telah mati dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan moralnya, khilafah dan Islam.”

Sebagaimana diakui oleh Lord Curzon, Inggris bersama dengan Perancis memainkan peran penting dalam membagi-bagi tanah kaum muslimin diantara mereka. Rencana mereka melawan Khilafah bukanlah karena Khilafah berpihak pada Jerman pada PD I. Rencana ini telah dibuat ratusan tahun yang lalu yang akhirnya berbuah ketika Khilafah Usmani dengan cepat mulai merosot di pertengahan abad ke 18.

Usaha yang pertama untuk menghancurkan persatuan Islam terjadi pada abad ke 11 ketika Paus Urbanus II melancarkan Perang Salib I untuk menduduki Al-Quds. Setelah 200 tahun pendudukan, akhirnya pasukan salib dikalahkan di tangan Salahudin Ayyubi. Di abad ke 15 Konstantinopel ditaklukan dan benteng terakhir Kekaisaran Byzantium itupun dikalahkan. Lalu pada abad ke 16 Daulah Islam menyapu seluruh bagian selatan dan timur Eropa dengan membawa Islam kepada bangsa-bangsa itu. Akibatnya jutaan orang Albania, Yugoslavia, Bulgaria dan negara-negara lain memeluk Islam. Setelah pengepungan Wina tahun 1529 Eropa membentuk Aliansi untuk menghentikan expansi Khilafah di Eropa. Pada titik itulah terlihat bangkitnya permusuhan pasukan Salib terhadap Islam dan Khilafah, dan dibuatlah rencana-rencana berkaitan dengan ‘Masalah Ketimuran’ seperti yang sudah diketahui.

Count Henri Decastri, seorang pengarang Perancis menulis dalam bukunya yang berjudul Islam tahun 1896:

Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh kaum muslimin jika mereka mendengar cerita-cerita di abad pertengahan dan mengerti apa yang biasa dikatakan oleh ahli pidato Kristen dalam hymne-hymne mereka; semua hymne kami bahkan hymne yang muncul sebelum abad ke 12 berasal dari konsep yang merupakan akibat dari Perang Salib, hymne-hymne itu dipenuhi oleh kebencian kepada kaum muslimin dikarenakan ketidakpedulian mereka terhadap agamanya. Akibat dari hymne dan nyanyian itu, kebencian terhadap agama itu tertancap di benak mereka, dan kekeliruan ide menjadi berakar, yang beberapa diantaranya masih terbawa hingga saat ini. Tiap orang menganggap muslim sebagai orang musyrik, tidak beriman, pemuja berhala dan murtad.

Setelah kekalahan mereka, pasukan Salib menyadari bahwa kekuatan Islam dan keyakinannya adalah Akidah Islam. Sepanjang kaum muslimin berkomitmen dengan kuat pada Islam dan al-Qur’an, Khilafah tidak akan pernah hancur. Inilah sebabnya di akhir abad ke 16, mereka mendirikan pusat misionaris pertama di Malta dan membuat markasnya untuk melancarkan serangan misionarisnya terhadap Dunia Islam. Inilah awal masuknya kebudayaan Barat ke Dunia Islam yang dilakukan para misionaris Inggris, Perancis dan Amerika… (Bersambung)

Para misionaris itu bekerja dengan berkedok lembaga-lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Awalnya akibat dari tindakan itu hanya kecil saja. Tapi selama abad ke 18 dan 19 ketika kemunduran Khilafah mulai muncul, mereka mampu mengeksplotasi kelemahan negara dan menyebarkan konsep-konsep yang jahat kepada masyarakat. Di abad 19, Beirut menjadi pusat aktivitas misionaris. Selama masa itu, para misionaris mengeksploitasi perselisihan dalam negeri diantara orang Kristen dan Druze dan kemudian antara Kristen dan Muslim, dengan Inggris berpihak pada Druze sementara Perancis berpihak pada Kristen Maronit. Selama masa itu para misionaris itu memiliki dua agenda utama: (1) Memisahkan Orang Arab dari Khilafah Usmani; (2) Membuat kaum muslimin merasa terasing dari ikatan Islam

Tahun 1875 ‘Persekutuan Rahasia’ dibentuk di Beirut dalam usaha untuk mendorong nasionalisme Arab diantara rakyat. Melalui pernyataan-pernyataan dan selebaran-selebaran, persekutuan itu menyerukan kemerdekaan politik orang Arab, khususnya mereka yang tinggal di Syria dan Libanon. Dalam literaturnya, mereka berulangkali menuduh Turki merebut Khilafah Islam dari orang Arab, melanggar Syariah, dan mengkhianati Agama Islam.

Hal ini memunculkan benih-benih nasionalisme yang akhirnya berbuah pada tahun 1916 ketika Inggris memerintahkan seorang agennya Sharif Hussein dari Mekkah untuk melancarkan Pemberontakan Arab terhadap Khilafah Usmani. Pemberontakan ini sukses dalam membagi tanah Arab dari Khilafah dan kemudian menempatkan tanah itu di bawah mandat Inggris dan Perancis.

Di saat yang sama, nasionalisme mulai dikobarkan diantara orang Turki. Gerakan Turki Muda didirikan tahun 1889 berdasarkan nasionalisme Turki dan dapat berkuasa tahun 1908 setelah mengusir Khalifah Abdul Hamid II. Pengkhianat Mustafa Kamal yang menghapus Kekhalifahan adalah anggota Turki Muda. Inilah alasanya mengapa Kemal kemudian berkata:

Bukankah karena Khilafah, Islam dan ulama yang menyebabkan para petani Turki berperang hingga mati selama lima abad? Sudah waktunya Turki mengurus urusannya sendiri dan mengabaikan orang India dan orang Arab. Turki harus melepaskan dirinya untuk memimpin kaum muslimin.”

Di samping aktivitas yang dilakukan oleh misionaris Inggris dan Perancis, bersama dengan Rusia mulai dilakukan penjajahan langsung di banyak bagian Dunia Islam. Ini dimulai selama pertengahan abad 18 ketika tahun 1768 Catherine II dari Rusia berperang dengan Khilafah dan dengan sukses dapat menduduki wilayah di Selatan Ukraina, Kaukasus Utara, dan Crimea yang kemudian dijadikan bagian dari Kekaisaran Rusia. Perancis menyerang Mesir dan Inggris mulai menduduki India. Di Abad ke 19 Perancis menduduki Afrika Utara dan Inggris menduduki Mesir, Sudan, dan India. Sedikit demi sedikit wilayah Khilafah menjadi berkurang hingga akhir PD I ketika apa yang tersisa hanyalah Turki, yang diduduki oleh pasukan sekutu di bawah perintah Jendral Inggris yang bernama Charles Harrington.


Pemecahan tanah Khilafah dilakukan dalam sebuah perjanjian rahasia yang dilakukan antara Inggris dan Perancis tahun 1916. Perjanjian itu adalah Perjanjian Sykes-Picot. Rencana ini dibuat diantara diplomat Perancis bernama François Georges-Picot dan penasehat diplomat Inggris Mark Sykes. Di bawah perjanjian itu, Inggris mendapat kontrol atas Jordania, Irak dan wilayah kecil di sekitar Haifa. Perancis diberikan kontrol atas Turki wilayah Selatan-Timur, Irak bagian Utara, Syria dan Libanon. Kekuatan Barat itu bebas memutuskan garis perbatasan di dalam wilayah Khilafah itu. Peta Timur Tengah saat ini adalah garis-garis yang dibuat Sykes dan Picot dengan memakai sebuah penggaris di atas tanah yang dulunya adalah wilayah Khilafah.

Tahun-tahun berlanjutnya kehancuran Khilafah, Inggris memainkan peranan kunci dengan cara memelihara agennya Mustafa Kamal. Melalui sejumlah manuver politik dengan bantuan Inggris, Mustafa Kamal mampu menjadikan dirinya berkuasa di Turki. Tahun 1922, Konperensi Lausanne diorganisir oleh Menlu Inggris Lord Curzon untuk mendiskusikan kemerdekaan Turki. Turki pada saat itu adalah di bawah pendudukan pasukan sekutu dengan institusi Khilafah yang hanya tinggal nama. Selama konperensi itu Lord Curzon menetapkan empat kondisi sebelum mengakui kemerdekaan Turki. Kondisi-kondisi itu adalah: (1) Penghapusan total Khilafah; (2) Pengusiran Khalifah ke luar perbatasan; (3) Perampasan asset-aset Khilafah; (4) Pernyataan bahwa Turki menjadi sebuah Negara Sekuler

Suksesnya Konperensi itu terletak pada pemenuhan keempat kondisi itu. Namun, dengan tekanan asing yang sedemikian itupun, banyak kaum muslimin di dalam negeri Turki masih mengharapkan Khilafah, yang telah melayani Islam sedemikan baiknya selama beberapa abad dan tidak pernah terbayangkan bahwa Khilafah bisa terhapus. Karena itu, Lurd Curzon gagal untuk memastikan kondisi-kondisi ini dan konperensi itu berakhir dengan kegagalan. Namun, dengan liciknya Lord Curzon atas nama Inggris tidak menyerah. Pada tanggal 3 Maret 1924 Mustafa Kemal memakai kekuatan bersenjata dan menteror lawan-lawan politiknya sehingga mampu menekan melalui Undang-undang Penghapusan Khilafah yang memungkingkan terhapusnya institusi Khilafah.

Untuk kekuatan kolonialis, penghancuran Khilafah tidaklah cukup. Mereka ingin memastikan bahwa Khilafah tidak pernah bangkit lagi dalam diri kaum Muslimin. Lord Curzon berkata:

Kita harus mengakhiri apapun yang akan membawa persatuan Islam diantara anak-anak kaum muslimin. Sebagaimana yang kita telah sukses laksanakan dalam mengakhiri Khilafah, maka kita harus memastikan bahwa tidak pernah ada lagi bangkitnya persatuan kaum muslimin, apakah itu persatuan intelektual dan budaya.

Karena itu, mereka meberikan sejumlah rintangan dalam usaha menegakkan kembali Khilafah seperti:
  1. Pengenalan konsep-konsep non-Islam di Dunia Islam seperti patriotisme, nasionalisme, sosialisme dan sekularisme dan mendorong gerakan politik kolonialis yang berdasarkan ide-ide ini.
  2. Kehadiran kurikulum pendidikan yang dibuat oleh kekuatan penjajah, yang masih tetap bercokol selama 80 tahun, yang membuat mayoritas kaum muda yang lulus dan ingin meneruskan pendidikannya ke arah yang bertentangan dengan Islam.
  3. Jeratan ekonomi di Dunia Islam oleh pemerintahan Barat dan perusahaan-perusahaannya dimana masyarakat hidup dalam kemiskinan yang menghinakan dan dipaksa untuk terfokus hanya pada bagaimana menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya dan tidak peduli dengan peran sesungguhnya dari para penjajah itu.
  4. Warisan yang disengaja untuk memecah Dunia Islam yang berkisar pada garis perbatasan yang senantiasa diperdebatkan sehingga kaum muslimin akan tetap terlibat dalam masalah-masalah sepele.
  5. Pendirian organisasi-organisasi seperti Liga Arab dan kemudian Organisasi Konperensi Islam (OKI) yang menipiskan ikatan Islam, dan terus melanjutkan adanya perpecahan di Dunia Islam sementara tetap gagal dalam memecahkan tiap masalah atau isu yang muncul.
  6. Pemaksaan berdirinya Negara asing, Israel, di jantung Dunia Islam yang menjadi pemicu serangan kekuatan Barat atas kaum muslimin yang tidak bisa mempertahankan diri sementara mereka terus menghidupkan mitos rasa rendah diri kaum muslimin.
  7. Kehadiran penguasa-penguasa zalim di Dunia Islam yang kesetiaanya adalah pada tuannya yakni negara-negara Barat; yang menindas dan menyiksa umat Islam; mereka bukanlah dari umat dan membenci umat sebagaimana umat membenci mereka.
Wahai saudaraku, kita tahu bahwa orang-orang kafir seperti Yahudi dan Nasrani akan selalu memusuhi kaum muslimin. Mereka menyukai apa-apa yang menyusahkan kita dan mereka akan selalu melakukan konspirasi untuk berusaha memecah belah dan memusnahkan kaum muslimin. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan pernah ridha sampai kamu masuk dalam golongan mereka”. (QS Al Baqarah:120)

Sudah saatnya kita membangun ukhuwah Islamiyah dan menghadapi musuh bersama, yaitu orang-orang kafir dan munafik yang selalu menghina Islam dan kaum muslimin. Dan memfokuskan pada pandangan urgensi penegakkan Khilafah dan Syariah untuk menjadikannya pandangan umum ditengah-tengah masyarakat (bukan dengan Demokrasi, diskriminasi gender, HAM, dll).

Saudaraku, khilafah pasti akan tegak dengan atau tanpa kita. Karena ini merupakan janji Rasulullah SAW:

…Sesungguhnya akan ada Khilafah yang mengikuti metode kenabian” (HR.Ahmad)

Tinggal kita memilih, apakah kita menjadi orang yang berjuang terhadap penegakan Khilafah dan Syariah, atau kita menjadi orang yang setuju terhadap penegakkan Khilafah dan syariah ketika Khilafah sudah tegak.

Sesungguhnya beruntunglah bagi yang menegakkanya.
Rugilah bagi mereka yang hanya duduk diam menyaksikannya.
Tetapi akan celakalah mereka yang menghalanginya.

Wallaahu a’lam bi Showab
Sumber: khilafah fighters/syabab.com


Bacalah: