8.11.14

PKS Tak Setuju Usulan Penghilangan Simbol-Simbol Agama di Sekolah Negeri

Jangan sampai dengan dalih menghargai keberagaman, justru mematikan keberagaman itu sendiri 

Hidayatullah.com–Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS), Surahman Hidayat, mengatakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru harus memahami adanya keberagaman, termasuk dalam institusi pendidikan negeri.

Karena itu dirinya tidak setuju dengan usulan adanya kebijakan yang menghilangkan simbol-simbol agama di sekolah milih pemerintah (negeri).

“Masalah keberagaman adalah bagian dari proses pendidikan yang harus disampaikan para guru di sekolah, setiap siswa harus diberikan penyadaran tentang kebhinekaan,” demikian tegas Surahman, Rabu (05/11/2014).

Menurutnya keberagaman yang direfleksikan dalam simbol-simbol merupakan kodrat kehidupan yang majemuk, sekaligus menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Di mana ciri keberagaman adalah dengan adanya bemacam-maca agama, dan masing-masing agama tentu saja memiliki simbol. Dan keinginan menampilkan simbol agama itu sendiri merupakan bagian dari ketaatan kepada agama.

“Dengan adanya usulan yang meminta Kemendikbud untuk mengeluarkan kebijakan menghilangkan simbol agama di sekolah negeri, justru akan menimbulkan reaksi, gejolak bagi agama tertentu, misalnya pemeluk agama Islam, yang mewajibkan siswi Muslimah menggunakan jilbab,” ungkapnya.

“Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru terbentuk, diharapkan mampu mendorong dengan kebijakan sistem pendidikan yang menghadirkan pemahaman, serta kesadaran para siswa tentang arti pentingnya menghargai keragaman beragama, berbudaya dan berbangsa,” jelasnya.

“Jangan sampai dengan dalih menghargai keberagaman, justru mematikan keberagaman itu sendiri, yang terpenting adalah bagaimana dunia pendidikan secara maksimal mengkampanyekan, tentang penghargaan keberagaman itu sendiri,” tutupnya.

Pernyataan Surahman disampaikan terkait adanya usulan penghapusan simbol-simbol agama di sekolah pemerintah dan kasus larangan Muslimah menggunakan jilbab di sekolah negeri oleh seorang kepala dinas pendidikan di Jakarta belum lama ini.*

6.11.14

Aneh, Pemerintah Tak Waspada Perusahaan China International Fund

Ada indikasi CIF datang ke Indonesia tidak terlepas dari misi diplomatik Menlu China yang telah bertemu Jokowi

Pengamat meminta pemerintah membuka hasil MoU dgn China
Hidayatullah.com- Sungguh aneh pemerintah Indonesia saat ini tak mewaspadai perusahaan China International Fund (CIF). Yang terjadi justru melakukan kerjasamadengan perusaan yang disebut sindikasi importir minyak dunia.

“Selain itu, China dikenal juga sebagai bekas dari negara-negara komunis yang memang terkenal sebagai sindikasi importir minyak dunia,” kata Anggota DPR Komisi I, Hanafi Rais kepada hidayatullah.com saat dikonfirmasi untuk menanggapi sikap para menteri yang bungkam saat dimintai keterangan perihal Memorandum of Understanding (MoU) atau kerjasama terkait dengan perkembangan perkeretapian di Indonesia, Selasa (04/11/2014) belum lama ini. [Baca: MoU dengan China Para Menteri Ekonomi Ramai-Ramai Tutup Mulut]

Sebagaimana diketahui MoU tersebut dibuat oleh Kementerian BUMN serta PT KAI dengan Perusahaan China International Fund (CIF) pada Senin (03/11/2014).

“Ada indikasi CIF datang ke Indonesia tidak terlepas dari misi diplomatik Menlu China yang ketemu dengan pemerintah,” ujar Hanafi.

Sementara itu, perihal bungkamnya para menteri saat dimintai keterangan terkait MoU tersebut, Hanafi mengajak masyarakat untuk tetap berkhusnudzon (berpikir positif).

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman di sebuah media mempertanyakan sikap bungkam Menteri BUMN Rini Soemarno dan Ignasius Jonan usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dengan Perusahaan China Internasional Fund (CIF) yang berlangsung tertutup Senin (03/11/2014).*

Dinasti Bush Kembali Masuk di Panggung Politik Amerika?

Dalam pidatonya yang terkenal di depan Kongres Amerika, Bush mengatakan, “Kalian bersama kami atau bersama mereka para teroris”

George P. Bush (kiri) bersama pamannnya mantan presiden AS George W. Bush (tengah) dan ayahandanya mantan gubernur Florida Jeb Bush
Hidayatullah.com–Dinasti politik Bush mendapat anggota junior yang baru, George P. Bush, yang sukses memenangi Pilkada di Texas untuk mendapatkan posisi penting di negara bagian itu sebagai Land Commissioner.

Bush berusia 38 tahun ini tak lain adalah keponakan mantan presiden George W. Bush, cucunda mantan presiden George H. W. Bush, dan anak mantan gubernnur Florida yang disebut-sebut calon presiden Jeb Bush.

Bush memenangi kursi Land Commissioner (setingkat bupati di Indonesia) yang mengepalai bidang pertanahan dan pengawasan hak menambang minyak dan gas di Texas.

Media lokal memproyeksikan bahwa Bush junior memenangi sekitar 60 persen suara melewati lawan-lawannya.

Pengacara sebuah perusahaan energi ini adalah orang pertama dalam dinasi politik Bush setelah Senator Connecticut Prescott Bush yang sukses pada kesempatan pertamaPemilu yang diikutinya.

Kendati nama Bush sensitif di pelataran nasional, namun dalam politik Texas nama masih laku. George W. Bush menjadi gubernur negara bagian ini sebelum menjadi Presiden AS pada 2001.

Bush muda mampu mengumpulkan jutaan dolar AS untuk kampanyenya sehingga menembus rekor terbanyak untuk penggalangan dana guna memperebutkan pos yang biasanya tak banyak diperhatikan orang ini.

Ibunda George P. Bush berasal dari Meksiko dan dia sendiri fasih berbicara Bahasa Spanyol yang menjadikan dia calon yang menarik bagi warga Latino Texas.

Bush muda ini juga punya pengalaman militer karena pernah menjadi perwira pada pasukan cadangan Angkatan Laut AS.

Sebagai Land Commissioner, Bush akan mengawasi aliran pendapatan besar dari sektor minyak dan gas yang selama ini membiayai sekolah-sekolah negeri di Texas, demikian dikutip Antara dari AFP.

Seperti diketahui, nama Bush masih menggoreskan luka mendalam khususnya di dunia Islam.

Tiga belas tahun lalu, tepatnya pasca ledakan 11 September 2011 di gedung WTC, George W Bush mengumumkan perang melawan terorisme secara menyeluruh.

Dalam pidatonya yang terkenal di depan Kongres Amerika, Bush mengatakan, “Kalian bersama kami atau bersama mereka para teroris.”

Pidato Bush itulah yang dianggap sebagai titik awal dari peperangan Amerika melawan terorisme, yang ujungnya banyak menjadikan umat Islam seluruh dunia sebagai korban.

Tahun 2001 juga, dia memerintahkan invasi ke Afganistan dengan alasan melumpuhkan kekuatan Taliban dan al-Qaidah. Maret 2003, Bush juga memerintahkan penyeranganan ke Iraq dengan alasan Iraq telah melanggar Resolusi PBB no. 1441 mengenai senjata pemusnah massal, namun usai perang digelar tuduhan tak terbukti.

Faktanya setelah Saddam Hussein digulingkan, Bush bertekad memimpin AS untuk menegakkan demokrasi di Timur Tengah hingga penguasaan aset dan lahan-lahan minyak. Bahkan hingga kini situasi di Iraq dan Timur Tengah semakin tidak stabil.*

Sepi Jemaat, Keuskupan 'Katolik Roma' New York Akan Tutup 33 Gereja

Hidayatullah.com–Keuskupan Katolik Roma New York berencana menggabungkan 112 paroki menjadi 55 paroki baru tahun ini, yang berakibat pada penutupan tidak kurang dari 33 gereja.

Hal itu diumumkan Kardinal Timothy Dolan, uskup agung New York, pada hari Ahad (1/11/2014) dalam perayaan Hari Semua Orang Kudus.

Penggabungan paroki itu merupakan bagian dari rencana pastoral keuskupan yang dikenal sebagai program “Making All Things New” yang dimulai pada tahun 2010.

Kabar penutupan gereja itu menimbulkan perasaan berat pada diri jemaat yang gerejanya ditutup, lansir Christian Post mengutip laporan wartawan New York Times (4/11/2014).

“Ada isak dan tangis di Holy Rosary Church di East Harlem. Di Sacred Heart di Mount Vernon jemaat berpelukan dalam kesedihan.”

Jemaat Our Lady of Peace di daerah East Side berjanji akan memperjuangkan gereja mereka yang terancam ditutup. Sementara jemaat dari daerah Staten Island hingga Catskills nampak lega karena gerejanya tidak termasuk yang akan ditutup.

Merger dan penutupan puluhan gereja itu, yang dipicu oleh menurunnya jumlah rohaniwan gereja dan jemaat yang rutin datang ke gereja, direncanakan akan rampung pada Agustus tahun 2015.

Secara umum jumlah rohaniwan dan jemaat gereja Katolik di Amerika Serikat terus menurun dalam 40 tahun terakhir, menurut data statistik yang dikumpulkan Universitas Georgetown. Jadi masalah itu sebenarnya tidak dialami oleh keusukupan di New York saja.

Tahun 1970 jumlah rohaniwan Katolik di Amerika Serikat diperkirakan mencapai 59.000 orang. Namun pada tahun 2010 angka itu merosot menjadi 40.000.

Universitas Georgetown memperkirakan, di tahun 1990 terdapat sekitar 19.600 paroki di seluruh Amerika Serikat. Namun saat ini hanya ada kurang dari 17.500, atau angka terkecil dalam kurun 50 tahun terakhir.*

5.11.14

Didemo Umat Islam, Perayaan Asyuro Ijabi di Bandung Dijaga Satgas PDIP

Perayaan Asyuro yang digagas Ikatan Jamaah Ahlu Bait
Indonesia (Ijabi) dan Yayasan Muthahari yang dibina
Jalaluddin Rakhmat di Bandung setidaknya dihadiri
seribuan jamaah
Perayaan Asyuro yang diselenggarakan ormas syiah, Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) tetap digelar di Lucky Square Antapani Bandung walaupun mendapat penolakan dari umat Islam Bandung. Ratusan orang memenuhi Lucky Square Antapani Bandung, pada hari Senin (3/11/2014).

Ketua Dewan Syura Ijabi, Jalaludin Rahmat mengatakan terima kasih kepada satgas PDIP Jabar, Cakra Buana, yang berjaga menjaga perayaan syiah. “Terima kasih kepada Satgas pengaman PDIP yang bergabung bersama kami,” katanya.

Dalam pantauan, para satgas PDIP berjaga di bawah mall, hingga dalam ruangan Aula lantai lima Lucky Square dengan mengenakan baju hitam dan baret merah.

Sementara itu, di luar, dalam aksi Umat Islam menolak ritual syiah, Ketua Dewan Dakwah Islamiyyah Jabar, Ustadz Roinul Balad mengatakan bahwa acara ini merupakan aksi nahi munkar kepada gerakan yang memenuhi kriteria sesat dan perlu diwaspadai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Aksi ini hanya untuk membuat mereka gerah dan tidak nyaman dalam melakukan kemaksiatannya,” ungkap Ustadz Roin. Tergabung puluhan orang menolak diselenggarakannya acara syiah berbungkus tabligh akbar di Bandung.

(mr/alhikmah.co)


Tokoh Katolik dan Ahmadiyah Hadiri Perayaan Asyuro Ijabi di Bandung

Hidayatullah.com—Meski sempat ditolak massa, perayaan ritual Asyuro Syiah yang diselenggarakan Ikatan Jamaah Ahul Bait Indonesia (Ijabi) dan Yayasan Muthahari pimpinan Jalaluddin Rakmat tetap berlangsung.

Acara perayaan kaum Syiah ini bahkan dihadiri oleh tokoh Ahmadiyah dan Katolik. Selain itu juga dihadiri Alawi Nurul Alam Al-Bantani, dari Tim Aswaja Center.

“Saya undang Romo Agus karena ada kaitan antara Husein dan Romo Katolik dulu,” kata Jalaluddin Rakhmat di Bandung, Senin (03/11/2014). Romo Agus dari Keuskupan Bandung. Sementara itu, Ketua Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Eki Subandi pun mengakui beberapa kali hadir dalam acara Syiah.

“Saya tiga kali saya ikut, tahun lalu di Muthahari, kali ini Saya hadir diundang kawan-kawan Ijabi, suatu tanda bahwa walau berbeda tapi kita satu umat,” kata Subandi.

Ia tak lupa menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Jalal di DPR.

“Beliau mewakili kita di Senayan. Semoga ada perubahan positif,” katanya.

Perayaan Asyuro yang digagas Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia (Ijabi) dan Yayasan Muthahari yang dibina Jalaluddin Rakhmat di Bandung setidaknya dihadiri seribuan jamaah yang berasal dari pelbagai wilayah di Jawa Barat, khususnya siswa-siswi dari Sekolah Muthahari, di Lucky Square Bandung.

Beberapa peserta tak hanya berasal dari Bandung namun juga simpatisan Ijabi dari pelbagai wilayah di Jabar seperti Garut, Tasik, Kabupaten Bandung, dll.

Sebelumnya, ratusan massa ormas Islam di Bandung sempat keberatan dan menolak terselenggaranya acara ini. [Baca: Ratusan Massa di Jabar Bubarkan Acara Asyuro Syiah]

Menanggapi hadirnya kehadiran Ahmadiyah dan juga tokoh Katolik, Sekjen Dewan Dakwah Islamiyyah (DDII) Jabar, Roinul Balad mengaku tak merasa aneh.

“Ahmadiyah, Syiah, dan lainnya apa bedanya?” ungkapnya.*/Lesus

1.11.14

Alfian Tanjung: PKI Berhasil Menyusup dalam Depdikbud

Hidayatullah.com- Partai Komunis Indonesia (PKI) atau kini dikenal dengan Komunis Gaya Baru (KGB) sudah berhasil menyusup di dalam internal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Hal tersebut terindikasi dari sebuah fakta yang terungkap di sekolah-sekolah. Dimana materi tentang sejarah G 30 S tanpa PKI sengaja dihilangkan dari mata pelajaran sejarah.

Demikian keterangan yang disampaikan oleh Pengamat Gerakan Partai Komunis di Indonesia, Alfian Tanjung saat menyampaikan orasinya pada acara Deklarasi Nasional Gabungan Masyarakat Penyelamat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Konspirasi Aliran-Aliran Sesat: Syi’ah, Zionis dan Komunis Gaya Baru (KGB) di Ma’had Tahfizhul Quran Al Firqoh An-Najiyah, Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Ahad (26/10/2014) kemarin.

“Ada oknum tertentu yang terindikasi sebagai kader PKI yang menyusup ke Depdikbud untuk mengilangkan materi sejarah G 30 S/PKI dalam mata pelajaran sejarah,” ujar Alfian.

Menurut Alfian, ketiadaan materi tentang sejarah G 30 S/PKI dalam buku sejarah itu dilakukan secara sengaja oleh oknum-oknum tertentu supaya generasi muda tidak paham dan mengerti tentang pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang PKI.

“Tidak hanya dalam ranah pendidikan saja, namun dalam lingkup politik PKI sudah banyak menduduki jabatan penting di dalamnya,” tegas Alfian.*

24.10.14

IPW: Jokowi Jangan Nepotisme dalam Menyusun Kabinet!

Orangs di Sekitar Jkw
JAKARTA (voa-islam.com) - Dalam memilih menteri Kabinet Indonesia Hebat, Presiden Jokowi jangan melupakan atau mengabaikan konsep Revolusi Mental yang dikumandangkannya saat kampanye Pilpres 2014. Esensi dari Revolusi Mental adalah penegakan supremasi hukum, perbaikan birokrasi,
pemberantasan korupsi, bebas kolusi maupun nepotisme, dll.

Sayangnya, Ind Police Watch (IPW) menilai, Jokowi seakan mulai mengabaikan esensi. Revolusi Mental tersebut. Setidaknya hal ini terlihat dari diangkatnya menantu Hendropriyono (Brigjen Andika Perkasa) sebagai Paspampres. Lalu diangkatnya menantu Luhut Panjaitan (Kolonel Inf Maruli Simanjuntak) sebagai Dan Grup A Paspampres.

Hendropriyono dan Luhut adalah tim sukses Jokowi. Sepertinya ada upaya balas jasa yang dilakukan Jokowi terhadap kedua jenderal purnawirawan itu.

Padahal sebelumnya Jokowi menekankan konsep politiknya adalah koalisi
tanpa kompensasi atau balas jasa. IPW berharap ke depan, dalam menyusun kabinetnya, Jokowi konsisten dengan cita-cita Revolusi Mental. Sehingga tidak terjebak pada nepotisme dan upaya balas jasa. Dengan demikian Jokowi bisa membangun kabinet yang profesional. Konsep bekerja untuk bekerja bisa berjalan efektif dan maksimal.

Hanya sikap konsisten pada Revolusi Mental, upaya penegakan supremasi hukum, perbaikan birokrasi, pemberantasan korupsi, pemerintahan bebas kolusi maupun nepotisme, bisa dilakukan dengan tegas dan konsisten. Selama ini penegakan hukum belum berjalan maksimal. Mafia hukum masih bercokol menggerogoti negeri dengan kolusi dan nepotisme.

Jika kabinet dibangun dengan nepotisme dipastikan Jokowi akan ewuh pakewuh dalam mengontrol kinerja menterinya dan penegakan hukum tdk akan pernah berjalan maksimal. Untuk itu IPW berharap Jokowi konsisten dengan Revolusi Mentalnya, terutama dalam penyusunan Kabinet Indonesia Hebat.

Salam,

Neta S Pane
Ketua Presidium Indonesia Police Watch

Amien Rais: Bangsa Akan Hancur Bila Tidak Berani Mengatakan 'La'

JAKARTA (voa-islam.com) - Amin Rais mengatakan, bahwa bangsa yang tidak berani mengatakan ‘La’ (tidak) kepada kezaliman akan hancur. Kalimat tauhid “La ilaaha illa Lallah”, maknanya tidak ada ‘tuhan’ yang layak disembah (diibadahi), ditaati, dan dipuji, selain hanya Allah semata.

Manusia tidak layak disembah, ditaati, dan dipuji oleh sesama manusia. Kalimat tauhid, “La ilaaha illah Lallah”, adalah penolakan atas segala bentuk 'ilah-ilah' (tuhan-tuhan), apapun wujudnya termasuk manusia. Hakikatnya, kalimat tauhid “La ilaaha illah Lallah”, kalimat yang membebaskan perbudakan manusia atas manusia lainnya.

Amin Rais, memberikan contoh, bagaimana bangsa Mesir, ketika berada di bawah kekuasaan Fir’aun yang sangat zalim. Firaun memperbudak bangsanya dengan sangat kejam, bahkan semua anak laki-laki yang lahir, dibunuh. Di Mesir tidak boleh lahir bayi laki-laki. Karena, dikawatirkan akan menganggu dan menjadi ancaman kekuasaannya.

Kekuasaan Fir’aun di topang oleh beberapa tokoh, diantara ada Hamam (ulama), dan Qorun pengusaha. Hamam dan Qorun menjadi penopang kekuasaan Fir’aun. Qorun dahulunya seorang ulama (yahudi). Sangat tamak. Berdoa’a minta kaya, dan dikabulkan menjadi orang yang sangat kaya. Sampai dalam hikayah, kunci gudangnya, sampai harus dipikul oleh beberapa orang. Tapi Qorun sesudah kaya lupa, dan tidak lagi ingat Allah, serta sombong.

Menurut Amin Rais, tokoh seperti Fir’aun yang sudah sangat berkuasa, kemudian menjadi sombong dan takabur, dan bertindak sangat zalim. Fir’aun sampai menyebuti dirinya dengan ‘Ana Rabbukum A’la’ (SayaTuhan Maha Tinggi). Dengan kekuasaan yang ada ditangannya dan luar biasa itu, Fir’aun berani menyebut dirinya sebagai sebagai ‘Ana Rabukumul A’la’.

Datanglah, Musa alaihisalam, dia seorang bayi laki-laki, yang dipungut oleh istri, Fir’aun, dan ketika dewasa menghimpun kekuatan orang-orang yang lemah (Yahudi), yang ditindas oleh Fir’aun. Musa menyelamatkan kaumnya menghadapi kekejian Fir’aun, dan diberikan mukjizat, berupa tongkat.

Dengan tongkatnya Musa menyelamatkan kaumnya, pergi ke Palestina menyeberangi laut Merah, dan ketika Musa memukulkan tongkatnya, laut Merah terbelah. Musa bersama dengan kaumnya selamat menyeberangi laut Merah. Padahal, kaum Nabi Musa sudah putus asa, ketakutan menghadapi bala tentara Fir’aun.

Ketika Fir’aun dan balatentaranya mengejar Musa dan kaumnya, tiba-tiba laut itu menutup, dan menenggelamkan Fir’aun serta balatentaranya. Fir’aun dan belatentaranya punah, akibat kesombonganya.

Menurut Amin Rais, sesudah Musa berhasil menyelamatkan kaumnya itu, kembali kaumnya Musa melakukan penyimpangan. Di mana kaumnya Nabi Musa yang sudah tiba di Palestina itu, menyembah patung sapi emas. Samiri salah satu tokoh dalam kaum Musa itu, mengumpulkan barang-barang yang dibawa lari oleh kaum Nabi Musa, kemudian dibuatnya patung Sapi, dan menjadi sesembahan mereka.

Kaum Nabi Musa tidak lagi menyembah Allah, tapi menyembah patung ‘Sapi’. Ini hanyalah penggambaran selamanya, orientasi orang Yahudi itu, adalah meterialisme. Materialisme yang menjadi tujuan dari kaum Yahudi.

Mengapa Allah mengutuk dan menyuruh memerangi orang kafir musyrik (yahudi dan nasrani), Karena mereka itu, mengatakan Uzair dan Isa sebagai anak tuhan. Peradaban Judeo-Christian yang melahirkan materialisme itu, sekarang menjadi ancaman umat manusia. Sama seperti kaumnya Musa yang menyembah patung Sapi.

Amin Rais, menegaskan, bahwa bagaimana sekarang ini, kekuatan Judeo-Christian (Yahudi dan Nasrani), memecah belah, menghancur-leburkan negara-negara Islam secara terbuka. Amin Rais, menggambarkan perang yang terjadi di Irak, Suriah, Afghanistan, Yaman, Libya, Sudan Selatan, termasuk Mesir, semuanya bagian dari strategi golongan Yahudi dan Nasrani. Mereka berjuang menghancurkan negara-negara Islam.

Amin Rais, menambahkan termasuk terhadap Indonesia menjadi bagian rencana mereka untuk dihancurkan dan dikuasai. Di mana Indonesia negara yang secara geopolitik sangat strategis, memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa, dan jumlah penduduknya 250 juta, merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Menurut Amin Rais, sekalipun cara yang dilakukan terhadap Indonesia tidak seperti terhadap negara Arab, tapi Indonesia akan menuju ke sana, dan akan dijadikan wilayah jajahan. Indonesia tidak akan dibiarkan menjadi negara yang maju, berdaulat secara ekonomi dan politik.

Dibagian lain, menurut Amin Rais, lahirnya kepemimpin baru di Indonesia, yaitu Jokowi, tidak terlepas dari campur tangan dari strategis kekuatan ‘Judeo-Christian’, yang berusaha menjadikan Indonesia sebagai jajahan, dan nantinya tidak membahayakan serta menjadi ancaman bagi masa depan mereka.

Memang, perlahan-lahan nampak dengan jelas, polarisasi dalam pilpres yang lalu. Antara Jokowi dan Prabowo. Polarisasi ini akan terus mengkristal. Bukan semata-mata hanya polarisasi antara Jokowi dan Prabowo. Polarisasi itu, sudah menyangkut masalah ideologi ‘agama’. Ini bisa dilhat dan ditebak antara yang menjadi pendukung Jokowi dan Prabowo.

Bahkan, Amin Rais mengatakan, para penyokong Jokowi itu, disebutnya, diantaranya ‘PKI malam’, 'PKI siang’, anak PKI, PNI ASU (Ali Sastroamidjojo dan Surachman), yang berhaluan kiri (komunis), kelompok sekuler, kalangan konglomerat Cina, dan Kristen-Katolik.

Maka, menurut Amin Rais, bangsa ini harus berani mengatakan ‘La’ (tidak), jika tidak akan hancur. Bangsa yang tidak berani mengatakan tidak kepada penguasa yang lalim, pasti akan hancur. Tidak ada bangsa yang bisa selamat, ketika tidak berani mengatakan ‘La’, melawan kelaliman penguasa, bisa selamat.

Amin Rais, berani mengatakan ‘La’ terhadap Soeharto, saat dia masih berkuasa. Bahkan, saat-saat yang sangat kritis di era Orde Baru, Amin Rais berani mengatakan ‘La’, di rumah DR.Anwar Haryono.

Di mana di rumah DR.Anwar Haryono, berlangsung pertemuan tokoh-tokoh Islam, yang disebut ‘9 Wali’, dan mereka menginginkan agar Amin Rais, melakukan rekonsiliasi dengan Soeharto, karena Soeharto menurut '9 Wali' sudah cenderung kepada Islam. Tapi tokoh Reformasi itu, berani mengatakan ‘La’.

Amin Rais menjadi mata dan hati bangsa Indonesia, dan tetap akan mengatakan kebenaran, walaupun dia hanya seorang diri. Saat semua orang memuja-muji Jokowi, dan menghadiri pelantikannya, justru Amin Rais tetap berada di Yogya, dan tidak ikut memberikan puji-pujian kepada Jokowi. Semoga Amin Rais tetap menjadi hati-nurani bangsa. Wallahu’alam.

mashadi1211@gmail.com

22.10.14

Menjadi Pemalu di Era Global

Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra

APA jadinya jika manusia tidak mempunyai rasa malu? Pastilah kebaikan akan lenyap seiring dengan banyaknya keburukan, karena manusia bebas berbuat sesuai dengan kehendaknya.

Rasa malu tiada lain akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan, karena rasa malu adalah hal positif bagi setiap insan. Karena itu, jika semua manusia tidak malu lagi melakukan kemaksiatan dan tak takut lagi melakukan kejahatan, pastilah kebinasaan dan penderitaan banyak orang.

Hilangnya rasa malu bisa kita temukan di sekeliling kita. Dewasa ini ramai-ramai orang berbuat sesuatu atas nama kebebasan tanpa memperhatikan rasa malu. Sebagai contoh, saat seseorang menyetel televisi atau bermain musik sambil bernyanyi dengan suara kencang hingga suaranya mengganggu tetangganya, perilaku seperti ini semata-mata berdalilkan kebebasan karena televisi, radio, DVD atau alat musik itu milik pribadi dan bukan milik tetangganya. Ia melakukan hal seperti itu seolah sah, meski sudah menganggu dan menyinggung ketenangan tetangga. Padahal, kebebasan kita terbatasi dengan kebebasan orang lain dan tetangga.

Ibnu Kholdun mengatakan: “Kebebasan seseorang bisa menjadi terbatas dengan adanya kebebasan orang lain.”

Bebas belum tentu merdeka, akan tetapi merdeka sudah pasti bebas, maka jadilah orang yang merdeka yaitu orang yang mengerti akan arti kebebasan yang positif. Saat seseorang bersendirian bisa saja ia merasa bebas dan bisa berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya sehingga inilah yang diartikan kebebasan, namum jika sudah bergesekan dengan kebebasan orang lain, maka sifat kebebasan itu menjadi terbatas, artinya kebebasan kita jangan sampai mengganggu kebebasan orang lain, dalam bahasa sederhana yang kita fahami adalah belajar memahami toleransi, orang yang toleran adalah orang yang merdeka dan memerdekakan orang lain.

Jika seseorang mempunyai rasa malu maka hidupnya akan memperhatikan batasan yang berhubungan antara dirinya dan orang lain. Jika ingin berbuat atau melakukan sesuatu maka ia akan melihat dampak yang akan menimpa dirinya dan juga orang lain. Rasa malu inilah yang sejatinya menjadi rem seseorang dalam berprilaku dan bertutur kata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

“Rasa malu itu seluruhnya adalah kebaikan seluruhnya.” [HR Muslim, Abu dawud, Al Haitsami dan Ahmad]

“Tujuh puluh lima cabang, yang utama ialah kalimat La ilaha illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalanan, dan malu itu satu cabang dari iman.” [HR Muslim]

Rasa malu juga merupakan warisan para nabi, “Di antara yang bisa diperoleh manusia dari pesan para nabi terdahulu adalah kalau engkau tidak malu, silakan berbuat sesukamu.” [HR Bukhari]

Jenis Rasa Malu

Dalam Islam dikenal macam-maca rasa malu.

Pertama, malu dari Allah ta’ala:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla malu jika seorang hamba membentangkan kedua tangannya kepada-Nya seraya meminta kebaikan, lalu ditolaknya dengan sia-sia.” [HR Ahmad]

Kedua, malunya Rasulullah:

“Rasulullah itu lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya.” [HR Muslim, Bukhari dan Ibnu Hibban]

Rasa malu yang dimiliki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah rasa malu melakukan kesalahan dan maksiat.

Ketiga, malunya seorang pemuda tampan pada Allah ta’ala:

Firman Allah ta’ala di surat Yusuf ayat 23:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan wanita (Istri Al-Aziz) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tiada akan beruntung.”

Keempat, malu ala gadis desa:

Firman Allah ta’ala di surat Al Qashash ayat 25:

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zhalim itu.”

Kelima, malu kepada orang yang sudah meninggal:
Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Saya masuk ke dalam rumahku di mana Rasulullah Shallallau ‘alaihi wasallam dikubur di dalamnya dan saya melepas baju saya. Saya berkata mereka berdua adalah suami dan ayahku. Ketika Umar dikubur bersama mereka, saya tidak masuk ke rumah kecuali dengan busana tertutup rapat karena malu kepada Umar.” [HR Ahmad]

Keenam, malu yang terpuji:

Dicontohkan wanita kaum Anshar yang tidak terhalang oleh rasa malu untuk mempelajari agama Allah Ta’ala khususnya dalam masalah fiqih kewanitaan dan yang berhubungan dengan keluarga (mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada wanita Anshar).

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertanya tentang masalah agama.” [Shahih al-Bukhari, kitab Ilmu)

Ketujuh, malu yang kurang baik:

Ada sedikit cerita dan ini adalah kisah nyata yang menimpa rekan saya atau mungkin juga pernah menimpa anda atau rekan Anda. Singkat cerita ia pernah mengeluh akan piutang dari temannya yang enggan membayar hingga waktu yang amat lama dan belum ada ucapan "maaf" atau pemberitahuan jika belum mampu melunasi hutang. Sayangnya, ia malu untuk menagih.

Malu tapi malah mengeluh, justru menjadi kurang baik. Rasa malu seperti inilah yang harus dihindarkan. Yang terpenting adalah cara penyampaiannya yang sopan tanpa harus menyinggung perasaan apalagi menyakiti hati si peminjam uang. Toh manusia adalah makhluk berakal yang bisa disentuh dengan bahasa hati dan kelemahlembutan sekeras apapun dia.

Delapan, malu untuk menunda kebaikan dan mencegah kemunkaran

Sejatinya memiliki rasa malu itu bisa mendukung manusia untuk terus berbuat kebaikan dimanapun ia berada, rasa malu senantiasa akan menjadikan manusia terpuji dan mulia.

Adapun untuk konteks kekinian rasa malu itu bisa mendorong: penguasa untuk adil, menteri untuk tunduk pada atasan dan bekerja maksimal, anggota dewan menjadi tauladan bagi rakyat, elit politik bersatu membangun negeri tanpa saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Mau seperti ini akan menjadikan penegak hukum lebih amanah, pegawai lebih disiplin, rakyat bersatu dan turut berperan aktif dalam membangun negeri, orang kaya menjadi lebih peka dan gemar berbagi, pedagang menjadi lebih jujur, wartawan lebih obyektif, dan menjadikan manusia senantiasa berbuat baik

Nah, semoga rasa malu bisa menjadikan kita untuk menyegerakan kebaikan.*

Penulis adalah dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung/UNISBA. Email: a_poetra2@yahoo.com