12.11.13

50 Juta Warga Amerika Dinyatakan Miskin


Badan Biro Sensus Amerika Serikat menyatakan bahwa penduduk miskin di Amerika Serikat sampai bulan September lalu mencapai angka 46,5 juta jiwa, ini adalah jumlah penduduk miskin terbanyak dalam sejarah negara Amerika.

Pemerintah melaporkan bahwa jumlah orang miskin di Amerika Serikat bertambah lebih dari tiga juta dalam kurun waktu satu tahun, seperti yang ditunjukkan oleh data statistik resmi.

Akan tetapi Biro Sensus juga menerbitkan pengukuran alternatif kemiskinan yang didasarkan pada biaya sehari-hari seperti biaya pengobatan di luar asuransi, akan tetapi pengukuran dengan metode ini belum di dapatkan hasil resminya.

Pengukuran alternatif ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kemiskinan yang terjadi di Amerika Serikat. Dalam penghitungan menggunakan metode pengukuran alternative, Badan Biro Sensus Amerika mencatat bahwa 49,7 juta orang hidup dalam kemiskinan tahun 2012 lalu.

Menurut indeks alternatif, California merupakan negara bagian dengan jumlah tertinggi penduduk miskinnya, sedangkan dalam sensus resmi negara bagian Mississippi menjadi negara bagian dengan jumlah penduduk miskin terbanyak. (skynewsarabia/lndk)

6.11.13

Nasehat...

Jangan layani orang yang suka berdebat tanpa batas!

Sebagian pemuda cenderung menyukai perdebatan dan berlarut larut dalam diskusi, hanya karena ingin dikagumi dan ingin mengalahkan pihak lain., atau karena sesuatu yang lain. Menghadapi orang seperti ini, seorang dai harus dapat menyimpulkan pembicaraan bila telah tampak jelas mana “benang putih” dan mana pula “benang hitam” nya , sebab, perdebatan yang tidak menghasilkan kesepakatan dan tanpa kata akhir justru dapat menumbuhkan kebencian dalam jiwa, mengotori dan menutupinya, serta merusak rasa cinta kasih. Selain itu ia hanya akan menguras potensi tanpa faedah, bahkan tidak menyumbangkan kebaikan apa pun bagi dakwah itu sendiri.

Perlu dipahami, sasaran dakwah bukan hanya pada akal, sebab ditengah umat ini terdapat jutaan orang beriman yang awam namun mudah tersentuh hatinya. Karena itu, melayani orang yang suka berdebat tanpa batas adalah kesia-siaan belaka dan membuang buang waktu, padahal waktu adalah kehidupan itu sendiri.
-Abbas Asissiy-

 Hindari mencari ilmu untuk dibangga-banggakan!


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنِ ابْتَغَى الْعِلْمَ لِيُبَاهى بِهِ الْعُلَماَءَ أَوْ يُمَارِى بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ تُقْبِلُ أَفْئِدَةُ النَّاسِ إِلَيْهِ فَإِلَى النَّارِ-الحاكم

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Barang siapa mencari ilmu untuk membangga-banggakan itu kepada para ulama atau untuk mendebat dengannya orang-orang bodoh atau untuk menarik hati manusia padanya, maka ia ke neraka" (Riwayat Al Hakim, dan Dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Al Allamah Al Munawi menjelaskan bahwa bahwa hadits di atas adalah peringatan bagi siapa saja yang mencari ilmu dalam rangka mencari dunia. Imam Adz Dzahabi sendiri menggolongkan berbuatan ini sebagai dosa besar, sebagaimana dijelaskan dalam karya beliau Al Kabair. (Faidh Al Qadir, 6/20)

4.11.13

Kepada Saudariku Para Muslimah, Kami Iri Pada Kalian!

Jeritan Wanita Barat dan Kekagumannya kepada Wanita Muslimah…

Joanna Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon.

Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.

Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim dalam tulisannya bertajuk.

Kepada Saudariku Para Muslimah...

Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa bayi atau anak-anak yang mengelilingi mereka. Aku menyaksikan bahwa meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar kecantikan fisik semata.

Tapi aku tidak bisa memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang paling penting kebahagiaan yang tetap terpancar dari wajah kalian.

Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari kami (perempuan AS) di sini karena kalian menjalani kehidupan yang alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga dibombardir dengan musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.

Perangkap Setan

Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika.

Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami. Kalian dapat menghinda dari bombardir semacam itu jika kalian mau mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari pengaruh jahat mereka.

Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket kebohongan dan penyimpangan realitas.

Hollywood menampilkan seks bebas (free sex) sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui program-program beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum racun mereka.

Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan oleh racun-racun itu.

Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang, puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa keluarga.

Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.

Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi, membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan rakus memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja.

Orang-orang seperti di Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan meyakinkan kaum perempuan agar mau tidak punya banyak anak.

Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang. Orang-orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian sendiri dan kehilangan iman. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi pikiran kalian.

Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu.

Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim lebih “seksi” daripada model pakaian Barat, karena busana itu menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah “misteri” dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah.

Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang bersikap jantan, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari kaum perempuannya.

Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.

Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka mengenakan kerudung.

Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas palsu.

Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah!

Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya.

Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi

Tapi sesungguhnya hal itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.

Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal.

Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras, kebangsaan atau agamanya.

Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang mereka cintai.

Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir dalam pekerjaan, memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa saja yang disukai.

Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan merasa aman untuk mencintai.

Dosa tidak akan memberikan kenikmatan, tapi akan selalu menipu kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak tergantikan seperti kehormatan saya semula.

Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang tertindas. Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa.

Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagian dari kami tidak mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan kami.

Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang.

Keuarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian tahu siapa di balik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu mempengaruhi kalian.

Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah! 

http://www.eramuslim.com/muslimah/kepada-saudariku-para-muslimah-kami-iri-pada-kalian.htm

Baca juga:

31.10.13

Hitam Putih Presiden Soekarno

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal sebagai penakluk perempuan cantik. Menikah sembilan kali dan dengan mudah dan para wanita cantik-pun takluk padanya
SOEKARNO, laki-laki proklamator RI ini kini menjadi banyak idola kawula muda. Buku-buku banyak ditulis memuji-muji kehebatan dia. Mulai dari masa kecilnya, remaja dan dewasanya. Dibukukan tulisan-tulisannya dan di-video-kan pidato-pidatonya. Film-film pun dibuat untuk mempropagandakan kepribadian dan kehebatannya. Benarkah Soekarno manusia yang hebat tidak ada cacat atau justru banyak cacatnya? Tulisan ringkas ini akan mencoba menelaahnya.

Bila ditelusuri Soekarno ternyata pintar bicara tapi ‘miskin’ dalam perbuatan. Pidatonya yang berapi-api memang membakar semangat rakyat. Tapi sikap-sikapnya terutama dalam politik seringkali menjadi blunder, bahkan kepada dirinya. Egonya yang terlalu berlebihan, menjadikan banyak temannya menjadi korban. Nafsunya kepada perempuan seringkali tidak terkendalikan.

Entah berapa orang yang menjadi istri atau pasangannya. Ideologi Islam yang semasa remaja ditanam Tjokroaminoto di Surabaya, seolah ‘hilang lenyap’ tergantikan dengan ideologi Marxisme atau Marhaenisme yang dipahat oleh dosen-dosen Belanda di ITB Bandung.

Kita coba telisik Soekarno mulai dari kasus Piagam Jakarta. Piagam Jakarta yang sudah ditandatangani oleh Soekarno sendiri pada 22 Juni 1945, disepakati akan dibacakan pada proklamasi republik Indonesia, diganti dengan coret-coretan Soekarno. Hal itu terjadi pada subuh hari 17 Agustus 1945, Soekarno mengajak Hatta ke rumah Laksamana Maida untuk mendiskusikan lagi naskah proklamasi yang sudah disepakati Tim Sembilan.

Di rumah itu, selain ada petinggi Jepang juga ada Ahmad Subarjo (Nasionalis Sekuler) sekretaris Laksamana Maida. Dan akhirnya dalam sejarah tercatat Soekarno membacakan proklamasi dengan coretan-coretannya sendiri pada sekitar pukul 10.00, 17 Agustus 1945. Tidak ada dalam perundingan dalam rumah Maida itu tokoh nasionalis Islam. (lihat Jangan Pertentangkan Islam dan Pancasila)

Lebih tragis lagi pada 18 Agustus 1945. Soekarno lewat rapat kilat tidak sampai tiga jam mengganti hal-hal penting yang berkaitan dengan Islam dalam urusan politik. Yakni mengganti hal-hal penting dalam UUD 45. Lewat rapat yang dipimpinnya Soekarno mengganti kata Mukaddimah menjadi pembukaan, kata Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dan kata presiden adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam kata “dan beragama Islam dicoret.

Karena tragedi itu, maka setelah Pemilu 1955, tokoh-tokoh Islam bersatu menuntut pengembalian Piagam Jakarta atau Islam sebagai dasar negara. Karena kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan darah dan keringat mayoritas rakyat yang beragama Islam. Maka diadakanlah penyusunan UUD kembali oleh Majelis Konstituante 1957-1959. Setelah bersidang lebih dari dua tahun, hasilnya mentok. Faksi Nasionalis Islam dengan faksi nasionalis sekuler tidak ada yang menang mutlak.

Soekarno akhirnya membubarkan Majelis Konstituante dengan didukung TNI, dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Yang menarik Soekarno saat itu menerima usulan dari tokoh-tokoh Islam, untuk menampung aspirasi dari nasionalis sekuler dan nasionalis Islam, maka dirumuskanlah salah satu isi dekrit itu adalah : Piagam Jakarta menjiwai UUD 45 dan merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak terpisahkan. Sayangnya meski bunyi dekrit seperti itu, Soekarno tidak menerjemahkannya dalam undang-undang atau peraturan presiden.

Masa Soekarno atau Orde Lama

Bila banyak yang mencela Orde Baru, maka Orde Lama bagi umat Islam terutama tokoh-tokohnya terasa ‘lebih sengsara’. Buya Hamka, ulama besar ini menyampaikan isi hatinya dalam Majalah Panjimas yang diasuhnya. Setelah mengritik mantan Menteri Subandrio –di sidang Mahmilub- yang hingga tuanya tidak mengenal rakaat shalat dan Yusuf Muda Dalam yang tidak mengerti bahwa beristri lebih dari empat dilarang dalam Islam, HAMKA menyatakan:
“Inilah contohnya orang-orang yang memegang kekuasaan negara di masa Orde Lama. Mengaku percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa di bibir, tetapi tidak pernah mendekatkan diri kepada Tuhan menurut agama yang mereka peluk sebagai pusaka dari ayah bundanya.

Sehingga terbaliklah keadaan; orang yang tekun kepada Tuhan; mengerjakan perintah dan menghentikan larangan Tuhan, dipandang anti Pancasila, orang yang taat mengerjakan agama di cap reaksioner atau kontra revolusioner.

“Bersuluh kepada matahari, bergelanggang di mata orang banyak”, bagaimana setiap hari hukum-hukum agama itu dilanggar, didurhakai.

Zina menjadi kemegahan, minuman keras diminum laksana minum air teh saja, uang negara dihamburkan untuk kepentingan pribadi. Tidak ada sedikit juga rupanya rasa takut kapada Tuhan. Karena Tuhan itu hanya untuk penghias pidato, bukan untuk penghias hidup, budi moral dan mental.

Mereka pun melanggar dasar negara yang kedua, yaitu Pri Kemanusiaan. Tengoklah bagaimana sengsaranya rakyat. Tengoklah kelaparan, karena banjir di Solo, karena letusan Gunung Agung di Bali, karena letusan Gunung Kelud, bencana kelaparan di Lombok. Tidak seorang juga diantara mereka itu yang sudi meringankan langkah buat melihat keadaan rakyat yang malang dan sengsara itu…

Peri Kemanusiaan : dalam prakteknya orang-orang yang dicemburui, dibenci dan dipandang akan menghalangi langkah-langkah mereka meneruskan kezaliman itu.

Sampai Sutan Syahrir mati dalam status tahanan. Mereka ditahan, kadang-kadang rumah kediamannya dirampas dan dengan seenaknya didiami oleh khadam-khadam (pembantu) para pembesar itu. Benar-benar berlaku di negeri ini sebagai yang berlaku berates tahun yang laludi zaman kekuasaan raja-raja tidak terbatas, yang nasib malang akan menimpa orang yang dibenci oleh pihak istana. Dan anak istri orang yang ditahan itu dibiarkan melarat.

Alangkah banyaknya paradoks di dalam negara yang berdasar Pancasila di zaman itu. Mobil mewah pejabat meluncur di atas jembatan, sedang dibawahnya tidur orang-orang yang kehabisan tenaga buat hidup. Yang di atas menikmati rasa kemerdekaan, yang di bawah terlempar ke dalam lumpur kehinaan sejak negara merdeka.

Disorak-soraikan amanat penderitaan rakyat. Alangkah seramnya jika dikaji bahwa kata-kata Amanat Penderitaan Rakyat itu diungkapkan oleh pemimpin-pemimpin itu sendiri, padahal merekalah yang mengkhianatinya.

Mereka belum merasa puas kalau belum ada undang-undang untuk menyikat bersih dari masyarakat orang-orang yang dibenci, sedang kesalahan mereka yang terang tidak ada. Lalu diadakan Penetapan Presiden (Pen-Pres) buat menangguk sisa-sisa orang yang dibenci yang masih tinggal, orang-orang yang dipandang masih ada pengaruhnya dalam masyarakat. Dengan “dugaan saja, walaupun tidak ada bukti sama sekali orang bisa dibenamkan ke dalam tahanan. Itulah Pen-Pres No 11 yang terkenal dengan sebutan Undang-Undang Subversif…

Indonesia benar-benar menjadi “Mercusuar” dari kebrobokan. Indonesia diteropong, bahkan di mikroskop oleh bangsa lain, lalu menjadi tertawaan. Tetapi surat-surat kabar yang memuat berita tentang kebrobokan dilarang masuk Indonesia.

Sebentar-sebentar diadakan pidato, rapat raksasa, rapat samudera.

Diobati perut yang lapar dengan pidato, diobat jalan-jalan yang rusak dengan pidato. Rakyat dikerahkan dengan segala macam daya upaya supaya dari subuh sudah berangkat ke tanah lapang mendengarkan pidato.

Perusahaan-perusahaan wajib menutup usahanya dan mengerahkan buruhnya pergi mendengarkan pidato. Produksi menurun karena hari habis untuk mendengarkan pidato…

Berdirilah gedung-gedung monument, patung-patung yang tidak akan dapat mengenyangkan perut rakyat, yang hanya akan ditegahkan (dipertunjukkan) kepada tamu luar negeri, padahal kalau tetamu itu datang, sasaran tustel mereka bukanlah monument dan patung, melainkan rakyat yang tidur di dalam pipa air yang belum dipasang atau mandi telanjang di kali Ciliwung.” ” (lihat Hamka, Dari Hati ke Hati, Pustaka Panjimas,2002, hal. 259-262).
Hamka juga mengritik keras gagasan Nasakom yang digulirkan Soekarno. Karena Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia) tidak mau ikut bergabung dengan pemerintahan Soekarno, maka kedua partai itu dipaksa bubar. Tokoh-tokohnya dipenjarakan tanpa kesalahan yang jelas di pengadilan –termasuk Buya Hamka yang dipenjara lebih dari dua tahun. Maka, kata cendekiawan ulung ini :

“Akhirnya datanglah klimaks dari NASAKOM ini, yaitu peristiwa Lubang Buaya! Inilah akibat dari penyelewengan Pancasila atau Munafik Pancasila itu; yang dipidatokan buat dikhianati. Atau di dalam jiwa sendiri tidak ada, sebab itu menjadi kosong ke tengah udara bebas.

Tetapi Tuhan Allah tidaklah mengizinkan kemunafikan itu berlanjut sehingga lanjutan dari peristiwa Lubang Buaya ialah terbukanya mata rakyat malang yang selama ini hanya dibuat, dinina-bobokkan dengan janji-janji dari mereka yang berkuasa yang sekali-kali tidak sanggup mereka memenuhinya. ABRI (TNI) dan rakyat jelata semuanya bersatu menghadapi Orde Lama yang munafik dan bobrok ini dan setiap yang berhutang musti membayarnya” (Hamka, Dari Hati ke Hari, hal. 265).

Selain HAMKA, mantan Wakil Perdana Menteri RI, Mohammad Roem juga kritis kepada Soekarno. Kritik Roem lain lagi. Menurut Roem, Soekarno kurang jujur menceritakan masa kecilnya yang dipenuhi kemiskinan, kepada penulis biografinya Cindy Adams.

Sebelumnya Roem menyatakan bahwa Soekarno adalah bagaikan buku terbuka. Kata tokoh Masyumi ini:
“Bagi penulis sendiri umpamanya, perjuangan Soekarno sejak ia memimpin PNI 1926 sampai sekarang laksana buku terbuka. Tapi kita ingin tahu juga riwayat hidupnya menurut buku ini (buku Cindy Adams –pen). Keturunan Soekarno tidak tanggung-tanggung! Ibunya Idaju, seorang Bali dari kasta Brahmana keturunan bangsawan. Raja Singaradja terakhir adalah paman ibunya. Ayahnya, Raden Sukemi Sosrodihardjo, keturunan Sultan Kediri. Baikpun dari fihak Ibu ataupun dari fihak ayah, para nenek moyang Soekarno adalah pejuang-pejuang kemerdekaan melawan penjajah Belanda. Salah seorang nenek moyangnya, seorang wanita, berjuang di samping pahlawan besar Pangeran Diponegoro di dalam peperangan tahun 1825-1830, sampai menemui ajalnya.” (Lihat Mohammad Roem, Bunga Rampai Dari Sejarah I, 1977, hal. 167-183).
Roem kemudian mengulas tentang kemungkinan besar ketidakjujuran Soekarno tentang kemiskinannya itu. Roem mengutip biografi Soekarno yang menyatakan: “Aku dilahirkan di tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang keluar dari kran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan yang keterlaluan demikian ini dapat menyebabkan hati kecil di dalam menjadi sedih".

Mengenai hidup dalam “kemiskinan” ini sangat lengkap… Begitu lengkapnya cerita itu, sehingga orang yang tahu keadaan di Indonesia terutama di Pulau Jawa pada waktu itu, dengan angka-angka Soekarno sendiri melihat, bahwa keluarga Raden Sukemi Sosrodihardjo tidak miskin sama sekali.

Dilihat dalam rangka “Gobang Report”, dalam mana orang Indonesia rata-rata hidup dari dua setengah sen setiap hari, maka tiap anggota dari keluarga Raden Sukemi Sosrodihardjo yang terdiri dari empat orang, hidup dari 250 gobang sebulan atau lebih dari 8 gobang sehari.”

Maka, kata Roem: “Tidak masuk akal, seperti yang ia (Soekarno –pen) ceritakan. Kami sangat melarat sehingga hampir tidak dapat makan satu kali dalam sehari.” (Mohammad Roem, hal. 170).

Kritik keras Roem yang lain adalah sikap Soekarno yang merangkul PKI untuk menyingkirkan Masyumi. Syafii Maarif mengutip Roem, dalam bukunya “Islam dan Politik Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin 1959-1965” menyatakan logika revolusi Soekarno ialah menarik garis yang tegas antara sahabat dan musuh revolusi. Kata Syafii: “Pada masa demokrasi terpimpin, jargon politik PKI tentang golongan “Kepala Batu” sudah menyatu dengan jargon politik Soekarno yang juga menilai Masyumi sebagai kekuatan “Kepala Batu” yang merintangi penyelesaian revolusi Indonesia.” Demokrasi Terpimpin ini mulai mengkristal ketika Soekarno pada 20 Maret 1960 membubarkan parlemen hasil pemilihan umum 1955 dan membentuk DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) dimana Masyumi dan PSI tidak diikutsertakan.

Walhasil, sebelum merdeka memang Soekarno adalah seorang pemuda yang mempunyai ide besar dan semangat tinggi melawan penjajah Belanda. Ia pernah dipenjara dan diasingkan pemerintah Belanda saat itu. Tapi pemikirannya sayang setelah dewasa lebih banyak diwarnai Marxisme (sekuler) daripada Islam. Sehingga tahun 1930-an ia berdebat keras di media massa dengan pemuda Natsir tentang bagaimana bentuk negara ke depan. Soekarno menginginkan Indonesia menjadi negara sekuler sebagaimana yang dibentuk Kemal Attaturk. Natsir menginginkan negara yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam, sebagaimana yang diteladankan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Soekarno akhirnya menjadi presiden dengan menerapkan ide-ide sekuler yang diyakininya dan kemudian di periode akhir pemerintahannya menyingkirkan kelompok Natsir Masyumi yang dianggap mengganggu jalan revolusinya.

Natsir memang pernah ikut dalam pemerintahan Soekarno, sebagai Menteri Penerangan dan Perdana Menteri, karena Natsir ingin membaktikan hidupnya memperbaiki atau mengislamkan negeri ini. Tapi ia kemudian berlepas diri dari pemerintahan karena partainya ‘dibubarkan dengan paksa’ oleh presiden pada tahun 1960.

Kini pertarungan ide negara sekuler dan ide negara Islami terus berlangsung di negeri ini. Sebagaimana ide menggulirkan tokoh-tokoh idola. Siapakah yang akan menang?

Wallahu alimun hakim.*

Penulis adalah peneliti Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)

"Media Seringkali Membuat Banyak Orang Salah Idola" -anonim

30.10.13

Ketua Kongres AS: Kami Berterima Kasih Pada Jendral Sisi Karena Gulingkan Pemerintahan Islam

Sikap ambigu pemerintahan Amerika Serikat terhadap kudeta militer yang terjadi di Mesir pada 3 Juli lalu, akhirnya terungkap dalam sebuah rekaman video sidang Kongres Amerika Serikat mengenai permasalahan di Mesir pada hari Selasa (29/10) waktu Amerika Serikat.

Dalam rekaman video tersebut, terungkap Ketua Kongres Amerika Serikat mengucapakan rasa terima kasihnya kepada Jendral Abdel Fatah Sisi, yang berhasil menumbangkan kekuatan islam moderat yang dianggap sebagai Islam Radikal di Timur Tengah.

Selain itu, ia juga mengecam tindakan pemerintah Obama yang memangkas bantuan keuangan dan militer ke Mesir.

Mr Mohamed Morsi berusaha untuk menghancurkan demokrasi di Mesir, kami ucapkan terima kasih kepada Jendral Sisi yang berhasil menumbangkan kelompok islam Radikal ini. Dan kami menyeru pemerintah Amerika tidak boleh menghentikan bantuan ke Mesir,” ujar ketua Kongres AS di depan sidang.

Dia menambahkan, “Kini kita sedang menghadapi ancaman kediktatoran Islam radikal yang akan mempengaruhi rasa aman kita, jika Mesir tidak mencapai hasil yang diinginkan oleh Sisi.” (rassd/lndk)

Berikut link video.

Bagi Muslim Murtad, Pemerintah Spanyol Sahkan Pemberian Hak Istimewa dan Kewarganegaraan Spanyol

Pemerintah Spanyol yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mariano Rajoy, mengesahkan kesepakatan dengan Presiden Konferensi Wali Gereja, Atonio Maria, mengenai pemberian kewarganegaraan Spanyol bagi kaum Muslim yang merubah agama mereka ke ajaran Kristen Katolik.

Menurut kantor berita RNW, kesepakatan yang ditandatangi oleh Menteri Kehakiman Spanyol , Alberto Ruiz Guiardon dengan Presiden Konferensi Waligereja, Antonio Maria Rocco Varela, berisi tentang kemudahan pemberian warga negara Spanyol, serta hak-hak istimewa yang akan didapat seorang Muslim yang jika merubah agamanya menjadi Kristen Katolik.

RNW menambahkan, pemerintah Sanyol memberikan beberapa syarat dan ke istimewaan bagi mereka yang akan memeluk agama Kristen Katolik, diantaranya adalah mereka yang baru keluar agama Islam diharuskan hapal menyanyikan lagu-lagu keagamaan Katolik yang berjudul Perawan Maria dan Yesus kristus.

Sedangkan ke istimewaan kedua berupa mendapat jaminan denda di depan pengadilan yang bernilai tidak melebihi € 600.000, bagi mereka yang masuk kedalam ajaran Katolik. Dan hak yang ketiga adalah hanya membayar pajak sebesar 60 Euro (5 Euro ke negara, dan 55 Euro ke pihak Gereja).

Menanggapi hal tersebut, pemimpin persatuan umat Islam Spanyol, Monia Balhami, mengatakan bahwa perjanjian seperti yang menargetkan murtadnya kaum Muslimin di Spanyol bukanlah hal yang baru, sebelumnya pada tahun 1988 pemerintah Spanyol yang dipimpin oleh Perdana Menteri Felipe González Markiyt, telah melakukan kesepakatan serupa dengan pihak gereja.

Balhami menambahkan akan tetapi pada saat itu kesepakatan antara pemerintah dengan gereja ditujukan bagi orang Yahudi, bukan warga Muslimin.

Nantinya kesepakatan ini dapat mempengaruhi sekitar 70 ribu imigran asal Maroko yang berada di Spanyol, dimana tujuan kesepakatan ini untuk merubah agama umat Muslim dengan imbalan mendapat berbagai kemudahan dan hak istimewa yang diberikan pemerintah Spanyol.

Sedangkan pemerintah Spanyol Spanyol sendiri beranggapan bahwa kesepakatan ini adalah untuk mengurangi permasalahan imigran yang terjadi. (rassd/lndk)

Ahmadiyah dan Fitnah Terhadap Soekarno

Oleh: Artawijaya

Soekarno & Ahmadiyah
"Saya tidak tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang Nabi, dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid," demikian tulis Soekarno
SUATU hari, tersiar kabar bahwa Ir. Soekarno yang sedang berada dalam pembuangan di Endeh, Flores, Nusa Tenggara Timur, masuk menjadi anggota Ahmadiyah. Tak hanya itu, Soekarno yang kemudian menjadi presiden pertama RI itu juga dikabarkan mendirikan cabang Ahmadiyah dan akan menjadi propagandis wilayah Celebes (Sulawesi). Kabar tentang Soekarno itu ditulis di surat kabar Pemandangan. Tentu saja banyak orang bertanya-tanya, benarkah Soekarno menjadi pengikut organisasi pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad?

Atas tersiarnya kabar itu, maka Ustadz A. Hassan, guru utama Persatuan Islam (Persis) yang juga sahabat Soekarno, berkirim surat kepada tokoh nasional tersebut. A. Hassan yang pernah melakukan debat secara terbuka dengan Ahmadiyah di Batavia dan Bandung, terkejut dengan isu tersebut. Karenanya, ia berkirim surat ke Endeh, tempat Soekarno diasingkan. Soekarno yang terkejut dengan kabar miring itu kemudian menjawab lewat telegram bahwa kabar yang beredar tersebut adalah bohong.

Atas fitnah yang beredar itu, maka Soekarno kemudian mengirim surat pembaca kepada redaksi surat kabar Pemandangan. Berikut kutipan surat Soekarno, dengan ejaan yang sudah disesuaikan:
Endeh, 25 Novemver 1936

Yth. Tuan-tuan
Redaksi "Pemandangan" Jakarta

Beberapa hari yang lalu saya mendapat surat "vliegpost" ke Kupang, dari Kupang ke Endeh dengan kapal biasa, dari seorang kawan di Bandung, bahwa "Pemandangan" telah memuat satu entrefilet, bahwa saya telah mendirikan cabang Ahmadiyah dan akan menjadi propagandis Ahmadiyah di bagian Celebes.

Walaupun "Pemandangan" yang memuat kabar itu belum tiba di tangan saya, dus, belum saya baca sendiri—lantaran kapal dari Jawa tiga hari lagi baru datang, maka karena orang yang mengasih kabar kepada saya itu saya percaya, segeralah saya minta kepadanya membantah kabar dari tuan-tuan punya reporter itu.

Saya bukan anggota Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya, apalagi "buat bagian Celebes!" Sedang pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh tidak boleh!

Di Endeh memang saya lebih memperhatikan urusan agama daripada dulu. Di samping saya punya studie sociale wetenschappen, rajin jugalah saya membaca buku-buku agama. Tetapi saya punya keislaman tidaklah terikat satu golongan. Dari Persatuan Islam Bandung saya ada banyak mendapat penerangan, terutama persoon-nya Tuan A. Hassan, adalah sangat membantu kepada penerangan bagi saya itu. Kepada Tuan Hassan dan Persatuan Islam, saya di sini mengucapkan saya punya terima kasih, beribu-ribu terima kasih.

Kepada Ahmadiyah pun saya wajib berterima kasih.

Saya tidak tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang Nabi, dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujaddid. Tapi ada buku-buku keluaran Ahmadiyah yang saya mendapat banyak faedah daripadanya: Moehammad the Prophet dari Muhammad Ali, Inleiding tot Studie van den Heileigen Qoeran, juga dari Muhammad Ali, Het Evangelie van den Daad dari Chawadja Kamaluddin, De Broonen van het Christendom dari idem, dan Islamic Review yang banyak memuat artikelen yang bagus.

Dan Tafsir Qur'an buatan Muhammad Ali, walaupun ada beberapa pasal yang saya tidak setujui di dalamnya, adalah banyak juga menolong kepada penerangan bagi saya. Memang umumnya saya mempelajari Islam itu, tidak dari satu sumber saja, tetapi banyak sumber yang saya datangi dan minum airnya.

Buku-buku Muhammadiyah, buku-buku Persatuan Islam, buku-buku Penyiaran Islam, buku-buku Ahmadiyah, buku-buku dari India dan Mesir, buku-buku dari Inggris dan Jerman, tafsir-tafsir bahasa Belanda dan Inggris, buku-buku dari lawan-lawan Islam (Snouck Hurgronje, Becker, Dozy, Hartman, dls), buku-buku dari orang bukan Islam, tapi yang simpati dengan Islam, semua itu menjadi material bagi saya. Ada beberapa ratus yang saya pelajari itu. Inilah satu-satunya jalan yang memuaskan kepada saya di dalam saya punya studi itu.

Dan wat betreft Ahmadiyah—walaupun beberapa pasal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toh pada umumnya saya setujui mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya streven, seboleh-boleh yang di dalam Qur'an saja dulu, mereka punya systeematische aaneemlijk making van den Islam vijandigen, dls. Buku-buku seperti Het Evangelie van Daad tidak saya asal menyebutnya "brilian", berfaedah sekali bagi semua orang Islam.

Maka oleh karena itulah, saya walaupun ada beberapa pasal dari Ahamadiyah tidak saya setujui, dan malahan saya tolak, misalnya mereka punya "pengeramatan" kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan mereka punya kecintaan kepada imprealisme Inggris! Toh, merasa wajib berterimakasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang saya telah dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasionil, modern, broadmindedness, dan logisch itu.

Bagi bagian fikih, terutama sekali Persatuan Islam-lah yang menjadi saya punya penuntun. Memang Persatuan Islam (Persis, red) adalah sangat sekali tinggi duduknya di dalam saya punya simpati. Kalau umpanya saya mesti menyebutkan cacat Persatuan Islam (Persis, red) maka saya akan katakan: Persatuan Islam itu ada mempunyai neiging kepada sektarianisme.

Alangkah baiknya kalau Persatuan Islam bisa mengenyahkan neiging yang kurang baik ini, kalau memang benar ada neiging itu!

Islam adalah satu agama yang luas, yang menuju kepada persatuan manusia. Agama Islam hanyalah bisa kita pelajari sedalam-dalamnya, kalau kita bisa membukakan semua pintu-pintu budi akal kita bagi semua pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinan yang berhubungan kepadanya, dan yang harus kita saring dengan saringnya Qur'an dan Sunnah Nabi s.a.w

Jikalau benar-benar kita saring kita punya keagamaan itu dengan saringan pusaka ini, dan tidak dengan saringan lain, walau dari imam manapun jua, maka dapatlah kita satu Islam yang tidak berkotoran bid'ah, yang tidak berisi takhayul sedikit juapun, yang tiada "keramat-keramatan", yang tiada kolot dan mesum, yang tidak "handramautisme", yang selamanya up to date, yang rasionil, yang gampang, yang cinta kemajuan kecerdasan dan broadminded, yang hidup, yang levend.

Ingatlah tuan-tuan redaktur yang terhormat, saya punya keterangan yang singkat berhubung dengan kabar kurang benar dari tuan punya reporter, bahwa saya sudah mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandis Ahmadiyah.

Moga-moga cukuplah keterangan yang singkat ini, buat mengasih tahu kepada siapa yang belum tahu, bahwa saya bukan seorang Ahmadi (pengikut Ahmadiyah, red). Tapi hanya seorang pelajar agama yang sudah nyata bukan kolot dan bukan pun seorang pengikut yang taklid saja.

Terima kasih, tuan-tuan redaktur!
Soekarno
Demikianlah surat pembaca yang dikirim oleh Soekarno sebagai hak jawab dari kabar miring tentang dirinya yang difitnah menjadi anggota Ahmadiyah. Surat hak jawab Soekarno ini dimuat ulang di Majalah Al-Lisaan, No.13, 9 Syawal 1355 H/ 23 Desember 1936 M. Majalah Al-Lisaan didirikan oleh A. Hassan dan diterbitkan di Bandung, Jawa Barat. Majalah ini gencar menyerang segala propaganda dusta yang sering disuarakan oleh Ahmadiyah.

Soal mengklaim tokoh yang dianggap masuk Ahmadiyah bukan kali ini saja dilakukan oleh para pengikut nabi palsu tersebut. Menurut A. Hassan, bahkan sebelumnya tokoh Syiria Amir Syakieb Arsalan pun diklaim masuk Ahmadiyah. Persoalannya, Amir Syakib Arsalan datang menghadiri undangan minum teh di rumah propagandis Ahmadiyah di Berlin. Setelah Syaikh Arsalan pulang, Ahmadiyah menebarkan isu bahwa tokoh yang dikenal sebagai penulis buku "Limaadza Taakharal Muslimuna wa limadza Taqaddama Ghairuhum" itu bergabung dalam organisasi mereka. Inilah klaim dusta yang seringkali mereka lakukan.

Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Moh. Natsir Jakarta

Kisah Seorang Wartawati yang Menyamar, Mengenakan Cadar

Sosok perempuan mengenakan baju abaya hitam lengkap dengan cadarnya menjadi pusat perhatian para pengunjung mall Itäkeskus di kota Helsinki, kota terbesar di negara Finlandia. Tak seorang pun tahu bahwa sosok dibalik niqab itu bukan seorang perempuan Muslim betulan tapi seorang wartawati, non-Muslim, dari surat kabar Helsingin Sanomat, salah satu surat kabar terbesar di kawasan Skandinavia.

Nama wartawati itu Katja Kuokkanen. Ia sengaja menyamar menjadi menjadi perempuan Muslim karena ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya mengenakan busana muslim lengkap dengan cadarnya di tengah masyarakat Finlandia yang masih asing dengan agama Islam, bagaimana rasanya ditatap dengan pandangan aneh dan takut dari orang-orang disekitarnya. Kuokkanen menuliskan pengalaman dan perasaannya saat dan setelah mengenakan niqab. Inilah yang ditulisnya …

Niqab dari bahan sifon berwarna hitam kadang melorot dan menutupi kedua mata saya. Suatu ketika saya tersandung dan membentur bahu seorang laki-laki di sebuah toko barang-barang etnik. Laki-laki itu membuat gerakan tangan meminta maaf, tapi dengan sikap tak acuh seperti yang biasa terjadi.

Lalu lelaki itu menengok ke arah saya dan menyadari bahwa saya seorang perempuan yang mengenakan abaya dan cadar, pakaian khas perempuan Muslim. Tiba-tiba laki-laki itu dengan sedikit membungkuk mengulangi lagi permohonan maafnya. Saya mengira dia orang Arab dari dialegnya saat meminta maaf. Saat itu saya merasakah hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya karena diperlakukan dengan begitu hormat oleh orang lain.

Dari toko etnis, saya menuju stasiun metro. Ketika saya naik ke sebuah metro berwarna oranye. Saya menerima reaksi yang tak terduga. Seorang lelaki mabuk berteriak kepada tiga temannya di dalam metro yang padat penumpang.

Hei, lihat itu ada salah satu pemandangan neraka!” teriak lelaki mabuk tadi.

Mendengar teriakan itu, penumpang lain serta merta memalingkan pandangannya, tidak mau melihat ke arah wajah saya yang bercadar. Tapi tiba-tiba seorang perempuan menegur saya, “Barang Anda jatuh,” kata seorang perempuan setengah baya sambil menyerahkan jepit rambut saya yang terjatuh di bangku sebelah.

Saya tidak bisa mengucapkan terima kasih pada perempuan itu, karena kalau saya mengatakan sesuatu, kemungkinan penyamaran saya akan terbongkar.

Lalu, ketika seorang gadis asal Somalia yang bekerja sebagai penjaga toko, membantu saya membetulkan cadar, ia berkata bahwa jarang sekali perempuan Muslim di Helsinki yang mengenakan busana seperti yang saya kenakan. Gadis Somalia itu juga bilang bahwa ia sebisa mungkin menghindari busana warna hitam. Ia menganggap warna hitam sebagai warna yang dramatis dan mengundang pandangan banyak orang.

Kerudung warna-warni yang cerah lebih bagus,” kata gadis itu seraya mengatakan bahwa kaum perempuan Muslim di Finlandia bebas menentukan sendiri untuk menutup bagian mukanya.

Dan di mall Itäkeskus, saya melihat banyak orang yang memandangi saya dengan tatapan aneh bahkan takut. Seorang lelaki muda hampir saja menumpahkan minuman kaleng yang dipegangnya saat melihat saya dengan raut muka panik.

Saya sendiri mulai membiasakan diri mengenakan abaya dan cadar. Saya mulai merasakan pakaian ini sangat nyaman dan hangat, meski saya agak kesulitan untuk melihat sesuatu dengan jelas karena cadar yang saya kenakan.

Kemudian saya memutuskan untuk pergi ke pasar yang dibuka di area parkir di lantai paling atas mall Puhos. Di penyeberangan jalan, saya bertemu dengan seorang perempuan tua asal Somalia yang dengan pelan mengucapkan “Assalamu’alaikum”.

Saya tersentuh mendengar salam itu. Selama ini saya tidak pernah bergaul dengan perempuan Muslim. Dan saya selalu menerima salam seperti itu dalam banyak kesempatan. Setiap Muslimah dari berbagai usia dan dari berbagai etnis, yang mengenakan busana muslimah selalu mengucapkan “Assalmua’alaikum” saat berpapasan dengan saya. Ketika itu saya tidak mengerti apa arti ucapan itu, sampai saya akhirnya tahu bahwa ucapan itu mengandung doa kesejahteraan dan kesalamatan.

Lalu, seorang lelaki yang sedang berdiri di depan sebuah toko memanggil saya. “Hello! Hei! Tunggu!” teriak lelaki tadi. Saya tidak menoleh karena saya pikir seorang perempuan Muslim sangat menjaga kemuliaannya dan tidak akan menjawab panggilan seperti itu.

Beberapa jam setelah berkeliling dengan mengenakan busana abaya dan cadar, saya kembali ke stasiun Metro. Perjalanan saya selanjutnya adalah Kamppi Center.

Selama perjalanan, wartawati itu merenungkan pengalamannya sepanjang hari ini, atas reaksi setiap orang terhadap abaya dan cadar yang dikenakannya dan ia merasakan sendiri bahwa mengenakan abaya dan cadar rasanya tidak seburuk yang orang lain pikirkan. Ia pun tanpa ragu menegaskan, mengenakan abaya dan cadar, “Sama sekali tidak buruk. Jika Anda memakainya, Anda akan merasakan kedamaian.

Kisah ini menjadi ironi di saat negara-negara Eropa ramai-ramai mulai melarang jilbab dan cadar. Seharunya mereka yang memberlakukan larangan itu, membaca kisah wartawati Helsinki ini sehingga tidak perlu ada kebijakan larangan berjilbab atau bercadar yang sejatinya diberlakukan karena sikap Islamofobia masyarakat Barat. (red/helsingin online)

25.10.13

Hai Muslim! Dunia Memang Melelahkan... Ingatlah di Surga... Tiada Kematian, Selalu Muda, Sehat dan Bahagia!

Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah dari rasulullah SAW yang bersabda, “Penyeru memanggil, Sesungguhnya sekarang tibalah saatnya kalian sehat wa alfiat dan tidak menderita sakit selama lamanya. Sekarang tibalah saatnya kalian hidup dan tidak mati selama lamanya. Sekarang tibalah saat bagi kalian tetap muda dan tidak tua selama lamanya. Sekarang tibalah saatnya bagi kalian bersenang senang dan tidak sengsara selama lamanya.” (HR Muslim)

Inilah firman Allah Azza wa Jalla,

Itulah Surga yang diwariskan kepada kalian, disebabkan apa yang dahulu kalian kerjakan." (Al Araf 43)

Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Abdurrahman bin Abu laila dari Shuhaib bahwa Rasulullah SAW bersabda,

Jika penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga dan penghuni Neraka telah masuk ke dalam Neraka, maka penyeru memanggil,”Wahai penghuni Surga ! Sesungguhnya kalian mempunyai janji di sisi Allah ! Penghuni Surga berkata, “ Janji apakah itu? Bukankah Allah telah memberatkan timbangan kami , memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam Surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Setelah itu, tirai terbuka, mereka melihat Allah. Demi Allah, mereka tidak diberi sesuatu yang paling mereka cintai daripada melihat Allah” (HR Muslim)

Dalam shahih Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan hadits dari Nafi’ dari Inu Umar Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Penghuni Surga masuk ke dalam Surga dan penghuni Neraka masuk ke dalam Neraka. Kemudian Penyeru berdiri di antara mereka dan berkata,” Wahai penghuni Surga, sekarang tidak ada lagi kematian, Wahai penghuni Neraka , sekarang tidak ada lagi kematian , semuanya kekal abadi di tempatnya masing masing.” (HR Bukhari)

Seruan tersebut betapa pun disampaikan di tempat antara Surga dan Neraka, tetap saja bisa didengar seluruh penghuni Surga dan Neraka…

- Ibnu Qayyim Al jauziah