16.8.10

Feminis Sejati, Bisa Berbagi Suami!

Feminis sejati tidak mencela perilaku poligami, itulah yang dialami Asiila Rasool. Berbagi suami selama 18 tahun

Hidayatullah.com--Asiila Rasool adalah perempuan berusia 53 tahun, seorang pelaku homeschooling, bidan dan penulis. Ia menikah, memiliki keluarga besar dan mempunyai misi menegakkan ajaran-ajaran sunnah Nabi yang telah banyak ditinggalkan umat Islam.

Pertengahan Juli 2010 lalu melalui Altmuslimah, ia mencoba berbagi rasa tentang kehidupan poligami dan feminisme. Berikut kutipannya yang ditulis dengan bahasa tutur.

***

Saya telah berbagi suami selama 18 tahun. Saya pernah menikah secara monogami maupun poligami. Dari keduanya, saya lebih suka pernikahan poligami.

Pandangan bahwa berbagi suami merupakan sesuatu yang tidak bermoral, merendahkan, dan merupakan bencana atau malapetaka bagi paling tidak salah satu pihak sehingga menimbulkan pederitaan dan kesusahan sepanjang hidupnya, dianggap sebagai fakta tak terbantahkan oleh mereka yang meyakini bahwa perkawinan monogami adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan.

Sayangnya, kebanyakan umat Islam sekarang, menerima pendapat yang demikian itu.

Saya sangat yakin bahwa perempuan akan berkembang maju dengan pesat jika mereka tidak terlalu terpaku dengan pemikiran bahwa berbagi suami dengan perempuan lain merupakan sebuah penghinaan atas feminisme.

Kenyataanya, saya katakan bahwa jika seseorang ingin melihat feminisme yang sebenarnya dilakukan, mereka akan menemukannya di rumahtangga poligami yang kooperatif dan penuh cinta! Bahkan lebih jauh saya katakan: oleh karena betapa potensialnya keuntungan yang didapat keluarga dengan lebih dari satu istri, poligami harus dimasukkan dalam piagam HAM perempuan.

Bagi saya, feminisme artinya 'pro-perempuan'. Saya menanggap diri sendiri sebagai seorang feminis, ketika saya masih bersekolah dan kuliah dulu. Dan saya yakin bahwa pekerjaan yang sama harus mendapat upah yang sama tanpa melihat jenis kelamin. Saya juga percaya akan adanya kesalahan dalam budaya, seperti sunat bagi perempuan dan membunuh atas dasar kehormatan, yang semuanya itu merupakan bentuk penindasan.

Namun saya melepas label feminis itu dari aborsi, lesbianisme, ketidakmampuan wanita Eropa menerima perbedaan budaya dari wanita non-Eropa, generalisasi atas pria dan maskulinitas sebagai antifeminisme dan menyamakannya dengan feminisme.

Sebut seorang misoginis (pembenci wanita) sebagai seorang misoginis. Tapi, perlu diingat bahwa tidak semua laki-laki menindas perempuan. Banyak diantara mereka, meskipun tidak semuanya, yang memiliki cinta dan penghormatan yang begitu besar kepada kita 'mahluk yang memiliki rahim'.

Menurut saya, gerakan feminisme mengambil jalan yang salah ketika mereka keliru mengenali bahwa feminis yang sebenarnya adalah merangkul feminitas mereka. Bahwa perempuan tidak harus 'seperti' laki-laki agar bisa berdiri sejajar dengan mereka. Dan bahwa sifat saling ketergantungan antar jenis kelamin merupakan sesuatu yang seharus dihargai dan bukannya dinafikan.

Dalam pandangan saya, feminis yang ideal itu mencintai dan menghormati sifat-sifat kemanusiaan; baik laki-laki maupun perempuan. Dia tidak menghapus kenyataan bahwa kebanyakan laki-laki itu sifatnya cenderung untuk berpoligini (memiliki banyak pasangan). Dan tidak pula ia mencela perilaku poligini itu sebagai perbuatan yang tidak bermoral atau tidak beradat.

Kebanyakan wanita tidak bisa memberikan hati dan perasaan mereka kepada lebih dari satu pria, sementara pria bisa mencintai sekaligus berkomitmen kepada lebih dari satu wanita pada waktu yang sama.

Seorang feminis yang percaya diri itu adalah yang sadar bahwa sifat alami suaminya yang cenderung untuk berpoligini tidak akan merusak harga dirinya. Ia memiliki empati kepada perempuan lain yang ingin menikah tapi belum bisa, karena berbagai alasan belum menemukan seorang laki-laki bujang yang bisa diajak berumahtangga.

Jadi, ketika seorang istri baru memasuki kehidupan pasangan tersebut, tidakkah muncul rasa cemburu dari dalam hati masing-masing wanita yang menjadi istri itu? Perasaan cemburu biasanya ada dan dianggap sebagai reaksi 'alami' yang dimunculkan oleh semua wanita yang menjalaninya. Yang mana hal itu dianggap sebagai 'bukti nyata' dari perasaan cinta seorang istri atas suaminya.

Saya menyatakan tidak setuju dengan pendapat tersebut. Kecemburuan, hanya menunjukkan perasaan ketidakamanan seorang wanita, yang mungkin sangat tergantung pada diri wanita itu sendiri dan hubungannya dengan suaminya. Cemburu dalam hal ini bisa dibilang 'normal' jika memenuhi harapan dan kenyataannya didukung oleh masyarakat. Tapi, tidak selalu berarti bersifat 'alami', karena banyak perempuan yang tidak merasa cemburu jika berbagi suami dengan perempuan lain.

Kecembuaruan adalah produk dari perasaan ketidakamanan dan persaingan.

Kebanyakan feminis akan setuju dengan Nabi Muhammad Shalallahu'alai Wa Sallam yang memperingatkan kita agar tidak meninggikan mahar atas anak gadis kita. Dengan kata lain, kita tidak seharusnya mengajarkan untuk menghargai diri mereka berdasarkan kecantikan atau materi. Jika kita mengajarkan yang demikian, maka hanya akan menambah persaingan tidak alami di kalangan perempuan dan menumpulkan kemampuan mereka untuk menyadari apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya.

Berdasarkan sebuah ayat dalam surat Al-Falaq, saya menentang pemahanan yang mengatakan bahwa perempuan 'berhak' untuk cemburu. Surat Al-Falaq mengajarkan kita untuk berlindung pada Allah dari perasaan dengki terhadap orang lain dan berlindung dari perasaan cemburu (iri) yang bersemayam dalam hati. Peringatan itu jelas menunjukkan bahwa sifat ini dapat merusak dan perasaan tersebut harus dikendalikan. Semuanya itu membutuhkan perubahan baik dalam pemikiran dan tingkahlaku.

Saya tidak bisa menyangkal bahwa telah beribu-ribu tahun 'cemburu' dipandang sebagai bagian dari kehidupan manusia, bahwa seorang wanita pasti harus berperang melawan perasaan cemburunya jika ia mencurigai ada wanita lain yang jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan suaminya. Tapi seharusnya masyarakat tidak membenarkan cemburu itu sebagai respon yang natural, dan tidak juga membuat para wanita merasa bersalah karena memberekan reksi cemburu kepada wanita lain. Masyarakat jusru seharusnya menasihati dan mendukung wanita itu untuk mengatasi penyakit spiritualnya tersebut.

Perempuan adalah mahluk yang sangat penyayang. Jika dia mau, dia bisa dengan sangat nyaman membagi suaminya dengan perempuan lain. Apakah perempuan moderen tidak menghargai waktu 'cuti', untuk sedikit meluangkan waktu merindukan dan mengharap-harap kedatangan suaminya tercinta? Dia tahu di mana suaminya berada dan dengan siapa. Dengan berbagi suami, ia bisa merasakan dunia bujang dan sekaligus dunia rumahtangga. Jika para wanita saling menghormati, saling menyukai dan bahkan saling menyayangi, maka sebuah ikatan persaudaraan yang sangat kuat akan terbina.

Saya pernah bertemu dengan tiga wanita muslim yang menikahi seorang pria yang sama. Ketiga-tiganya mengatakan, ketika mereka tidak merindukan suaminya, mereka sangat merindukan persaudaraan sebagai sesama istri.

Ingatlah hal ini, bahwa Allah Maha Adil dan Ia memperbolehkan poligami.

Tidak selamanya bahwa poligini itu tidak adil. Sayangnya, justru inilah yang banyak ditemui dalam rumahtangga poligami yang ada sekarang, setidaknya sampai para wanita bisa mengatasi tekanan sosial yang mendesak mereka agar tidak menyukai perkawinan tersebut dan para pria bisa berlaku adil.

Keadaan yang menyedihkan ini, menunjukkan betapa jauh sudah muslim laki-laki dan perempuan terpisah dari fitrah agama kita. Betapa kita telah lupa bagaimana cara berperilaku terhadap sesama, dan betapa kita telah kehilangan pemahaman atas nilai-nilai keluarga Islami.

"Berapa banyak karunia Allah yang akan terus kita pungkiri?"[di/atlm/hidayatullah.com]

Siapa Bersungguh-sungguh, Ia Mendapatkannya

"Man Jadda Wa Jada.” (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya)
Hidayatullah.com--Kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan, boleh jadi, justru kemiskinanlah yang menjadi ‘cambuk’ penyemangat untuk menggapai cita-cita yang tinggi. Itulah yang dilakukan oleh Hadi beberapa puluhan tahun silam. Tak pingin terpuruk terus menerus dalam hal ekonomi, membuat Hadi nekat untuk terus melanjutkan sekolah, seklaipun hasratnya tersebut bertentangan dengan kehendak kedua orang tuanya. Ia menyadari, bahwa, hanya ilmulah yang mampu mengangkat derajat keluarganya, khususnya, dirinya sendiri dari ketidakberdayaan hidup, terutama masalah ekonomi, “Nabi kan pernah bersabda, bahwa barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka ilmulah kuncinya” ujar Hadi menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad.

“Siapa yang akan membiayai sekolahmu? Wong makan saja kita sulit. Sudahlah, bantu saja bapak ngaret atau nyari kayu di hutan, ndak usah mikirin sekolah”. Demikianlah jawaban yang diterima Hadi, ketika ia menuturkan keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi lagi.

Waktu itu, Hadi baru lulus SD. Sekalipun dapat balasan yang negatif dari orangtua, tidak membuat Hadi uring-uringan. Dia faham, bahwa kondisilah yang menyebabkan mereka memiliki pemikiran demikian. sebab itu, dia menjelaskan kepada kedua orang tuanya, soal biaya sekolah, dia tidak akan membebani mereka, ”Saya akan mencari uang sendiri untuk biaya sekolah. Yang terpenting, ibu dan bapak mengizinkan saya sekolah,” tegas Hadi waktu itu, yang kemudian dikabulkan oleh ibu dan bapaknya.

Dari segi finansial, memang, waktu itu, keluarga Hadi tergolong keluarga papa. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja, mereka masih kelepotan. Hampir setiap hari, yang menjadi menu utama mereka adalah nasih putih dan sepotong tempe atau ikan asin, ”kalau lauknya ikan asin, semuanya harus habis, hatta kepala dan tulang-tulangnya. Kalau tidak, ibu akan marah. Dibilang mubadzir” kenang Hadi.

Karena itu, nyaris masa kanak-kanaknya digunakan untuk membantu orang tua menyari kayu atau merumput di hutan. Setiap sepulang sekolah, dia langsung tancap gas untuk menunaikan tugas-tugas tersebut, tak peduli panasnya terik sinar matahari atau derasnya guyuran hujan. Jadi, bisa dibilang, sejak dini, Hadi telah terlatih untuk hidup mandiri. Sebab itu, senyum sumringah nampak di wajahnya, ketika orang tuanya mengabulkan permohonannya untuk melanjutkan studi, sekalipun harus berjuang sendiri.

Merantau

Tidak lama setelah itu, Hadi kecilpun mulai menyusun rencana. Dia putuskan untuk melanjutkan sekolah di salah satu sekolah Islam yang berlokasi di kota Surabaya. Padahal, daerah kelahirannya itu Lamongan. Jarak antar keduanya (Lamongan-Surabaya) ± 90 km.

Tidak berapa lama setibanya di kota pahlawan tersebut, Hadi langsung bergerak untuk mencari biaya hidup. Berbagai macam pekerjaan pernah dilakoni, salah satunya adalah sebagai sales roti. Jangan dibayangkan, dalam mengedarkan barang-barangnya, Hadi menggunakan sepedah motor, sehingga mempermudah jarak tempuh. Tidak sama sekali. Dia menggunakan sepedah pancal. Hampir setiap hari, Hadi harus menempuh berkilo-kilo meter perjalanan dengan mengayuh sepedah untuk menjajakan jualannya.

Selain tekun bekerja, ada kelebihan lain yang dimiliki Hadi. Dia mampu membaca peluang bisnis. Dan keistimewaan inilah yang kemudian hari, menyebabkannya menjadi orang sukses. Pernah suatu hari, kenangnya, dia menghadap kepala sekolah, untuk mengajukan diri menjadi fasilitator dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekolah/guru. –misal- pembuatan seragam guru. Bagai kejatuhan buah duren, sang-kepala sekolah pun mengabulkan. Dan dari sini, penghasilan Hadi mulai bertambah. Bahkan, meskipun tidak banyak, dia mampu mengirimi keluarganya uang, untuk belanja atau sebagai tambahan biaya sekolah adik-adiknya.

Siswa Berprestasi

Hadi bukanlah tipe anak yang hanya piawai dalam mencari ma’isyah (kehidupan). Dalam hal intelektualitas, dia juga tidak ketinggalan. Terbukti, hampir setiap semesteran, nilainya selalu yang terbaik, sehingga berhak mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah. Terang saja, kondisi demikian sedikit-banyak telah meringankan biaya hidupnya.

Selesai mengetaskan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Hadi langsung melanjutkan sutidanya (SMA) di almamater yang sama. Prestasi-prestasi akademis, terus dia peroleh, sehingga nyaris dia tidak pernah membayar uang sekolah.

Terakhir beasiswa dia dapatkan ketika dirinya dinyatakan lulus di salah satu Universitas Negeri ternama di kota yang sama, Surabaya. Hal ni diberikan pihak sekolah untuk jangka waktu satu semester kepadanya, sebagai bentuk apresiasi, karena Hadi merupakan alumnus pertama sekolah tersebut yang mampu lulus di universitas negeri,”sebelumnya tidak pernah ada yang lulus”, paparnya.

Ada kenangan yang tak terlupakan oleh Hadi, ketika dia dinyatakan lulus SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasis Baru) di universitas tersebut. Perasaan senang dan bingung, bahagia dan sedih bercampur aduk mengiringi kesuksesannya. Betapa tidak, sebagai calon mahasiswa, tentu dia bangga dengan kekeberhasilannya. Akan tetapi, di lain pihak, dia juga dibingungkan dengan biaya kuliah yang pastinya tidak sedikit.

Di tengah kekalutannya tersebut, Hadi memutuskan untuk berkonsultasi dengan pihak keluarga, terutama kepada sang-ayah dan ibu. Mendengar tuturan dari buah hatinya, air mata sang-ibu tak terbendung, membasahi kedua pipinya. Dengan suara agak tertahan oleh isakan tangis bahagia, perempuan tersebut menyerahkan sesuatu pada Hadi, ”Ini maskawin ibu. Ambillah untuk biaya kuliahmu,” tuturnya yang membuat Hadi agak merinding mendengarnya, yang kemudian juga mencucurkan air mata. Pada awalnya, pemberian tersebut ditolak oleh Hadi, namun, karena melihat begitu kerasnya keinginan bundanya tersebut, Hadipun mengambilnya sebagai bekal untuk kuliah.

Emas tersebut kemudia dijual oleh Hadi. Sebagian untuk biaya kuliah dan biaya hidupnya, sebagian lagi, untuk membuka bisnis warung kecil-kecilan. Setelah menyelesaikan studinya, yang memang fokus mengambil jurusan ekonomi, Hadi langsung terjun kelapangan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh.

Bisnis di area pelabuhan adalah incarannya. Hal itu dipilih, karena dia yakin bahwa pelabuhan merupakan pusat dari kegiatan ekonomi, ”Di sinilah (pelabuhan), seluruh barang-barang ekspor/impor mangkal untuk pertama kali, sebelum diedarkan ke seluruh daerah/negara. Peluang ini yang saya tangkap”. terangnya menuturkan alasannya. Berkat keuletan Hadi, tak ayal, dari tahun ke tahun bisnisnya terus berkembang. Bahkan, kini Hadi telah menjadi salah satu milioder. Dia telah memiliki ratusan kayawan/karyawati. Bisnisnyapun telah melebar ke penyewaan villa, butik, apotik, dan lain-lain. Bahkan, relasi bisnisnya pun tidak lagi seputar Indonesia, namun, telah melebar ke beberapa negara, salah satunya adalah China.
Memang benar apa yang dikatakan pepatah Arab, "Man Jadda Wa Jada.” (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya). [Robin S/hidayatullah.com]

Bahrain: Pengeras Suara Masjid Hanya Boleh untuk Adzan

Bahrain memperbaharui larangan penggunaan pengeras suara luar di Masjid selama shalat, mengakhiri perdebatan panjang bertahun-tahun masalah agama sensitif di kerajaan tersebut.

Keputusan itu dibuat oleh Departemen Waqaf Sunni Bahrain dari Departemen Urusan Islam, yang mengatakan bahwa pengeras suara yang suaranya menggelegar dari masjid tidak boleh digunakan untuk apapun selain panggilan untuk shalat atau adzan.

Otoritas keagamaan menggunakan pesan teks SMS untuk menginstruksikan semua muadzin, untuk menghormati larangan tersebut, namun mengatakan langkah ini hanya satu peraturan dan pelanggaran hanya dilakukan jika keluhan diterima masyakat.

"Berdoa adalah antara manusia dan Allah, dan tidak ada perlu membuat shalat doa seseorang didengar oleh orang-orang yang berjalan di jalan-jalan dan di pasar," kata Muhammad Ali al-Sitri, Penasehat kerajaan Urusan otoritas Legislatif.

Anggota Parlemen Hamad al-Mahindi menentang larangan tersebut dan berkata, "Harus ada suatu manifestasi dari ritual Allah selama bulan suci Ramadhan ini."

"Ada orang yang ingin mendengar doa-doa melalui pengeras suara," tambah al-Mahindi.(fq/aby)

Koran AS: Serial TV Alihkan Perhatian Umat Islam Terhadap Ramadhan

Surat kabar AS Los Angeles Times, melaporkan adanya persaingan antara saluran televisi Mesir untuk menarik sejumlah besar pemirsa televisi, dengan berlomba-lomba menampilkan berbagai serial TV, baik itu sinetron Ramadhan, serial sejarah, sosial maupun keagamaan bahkan komedi - yang diharapkan dari kesemuanya itu akan menambah pendapatan dari iklan yang masuk - dan banyak ulama yang menyatakan banyaknya program serial televisi itu bisa mengalihkan banyak umat Islam terhadap kinerja beribadah di bulan suci Ramadhan.

Surat kabar itu menambahkan bahwa sejak awal Ramadhan pada hari Rabu lalu, saluran TV satelit telah menampilkan hampir 48 serial televisi.

Statistik dari "Uni Research Centre" menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan musim iklan di televisi Mesir, pada tahun lalu saja untuk biaya iklan tercatat sebesar 146 juta dolar AS selama bulan suci Ramadhan, namun tahun ini telah mengalami peningkatan menjadi 62%, lebih dari bulan-bulan lainnya sepanjang tahun.

Surat kabar itu mengatakan jutaan orang Mesir mengikuti dan menonton sinetron setelah sahur. Ketua perusahaan Grup iklan TBWA untuk wilayah Afrika dan Timur Tengah, serta daerah Mediterania mengatakan: "Mesir adalah salah satu pasar yang paling cepat berkembang untuk pertumbuhan iklan di dunia ".

Banyak ulama Mesir telah mengkritik dengan maraknya serial televisi seperti sinetron, acara komedi dan sejenisnya di saluran-saluran televisi Mesir, dengan menekankan bahwa selama bulan suci Ramadhan sebaiknya umat Islam lebih berkonsentrasi untuk beribadah daripada menghabiskan waktu di depan televisi.

Tidak berbeda dengan Mesir, Indonesia mungkin lebih parah. Jam-jam saatnya umat Islam seharunya banyak beristighfar menjelang sahur, televisi-televisi di Indonesia berlomba-lomba menampilkan para pelawak dan banci untuk menemani umat Islam beribadah. naudzubillah min dzalik.(fq/imo)

Hukum Melaksanakan Shalat Malam setelah Pelaksanaan Shalat Witir

Assalamu'alaikum wr wb..

Salam ustad, semoga selalu diberkahi Allah swt.

Pada saat shalat tarawih dalam bulan ramadhan, biasanya diikuti dengan shalat witir, pertanyaannya bagaimana jika malamnya atau sebelum sahur saya melakukan shalat tahajud lagi? padahal shalat witir adalah penutup shalat.

Saya juga pernah dengar kalau ingin shalat tahajud lagi, witirnya harus digenapkan terlebih dahulu, itu bagaimana? dan apa niat shalatnya?

Terima kasih ustad..

Jazakallah khairan

Ridho

Ridho

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Ridho yang dimuliakan Allah swt

Permasalahan seperti ini kerap kali ditanyakan sebagian kaum muslimin. Hal demikian didasarkan pada riwayat Tirmidzi dari Qais bin Thalq bin Ali dari ayahnya dia berkata, saya mendengar Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada dua kali witir dalam satu malam." Juga apa yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir."

Al Lajnah ad Daimah didalam fatwanya No. 11271 mengatakan :

1. Barangsiapa yang tidur dalam keadaan telah melaksanakan witir kemudian dia bangun malam untuk tahajjud maka shalatlah apa yang ditetapkan terhadapnya namun tidak usah mengulangi witir, sebagai pelaksanaan terhadap larangan Nabi saw tentang tidak ada dua witir dalam satu malam.

2. Barangsiapa yang tidur dan belum melaksanakan witir namun berniat bangun di akhir malam dan dirinya memiliki kesanggupan untuk melakukannya maka hendaklah dia melaksanakan shalat witir di akhir malamnya, inilah yang paling utama karena saat itu adalah waktu turunnya Allah swt dan mengamalkan hadits ,”Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir." Hadits ini menunjukkan keutamaan dan tidak ada pertentangan dengan hadits Abu Hurairoh,” Kekasihku memberiku tiga wasiat; puasa tiga hari pada setiap bulan, shalat dluha dan tidak tidur sebelum aku shalat witir." Karena hal ini (hadits Abu Hurairoh) adalah hak orang yang tidak memiliki kesanggupan didalam dirinya untuk bangun di akhir malam.

Terdapat riwayat bahwa Nabi saw melaksanakan shalat witir pada awal, pertengahan dan akhir malam.” Hal ini menunjukkan bahwa malam seluruhnya adalah waktu untuk melaksanakan shalat witir. Sabda Rasulullah saw,” Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia melakukan witir di awal malam. Dan barangsiapa yang berharap mampu bangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan (oleh para malaikat) dan hal itu adalah lebih afdhal (utama).

3. Barangsiapa yang tidur dan belum melaksanakan shalat witir sedangkan dirinya berniat bangun di akhir malam namun dirinya dikalahkan oleh tidurnya maka disyariatkan baginya untuk mengqodho shalat witir pada waktu dhuha dan menggenapkannya dengan satu rakaat,”Apabila Rasulullah saw ketinggalan shalat malam karena sakit atau lainnya, maka beliau melaksanakan shalat pada siangnya sebanyak dua belas rakaat." (HR. Muslim)

Wallahu A’lam

PKS Dukung Wanita Jadi Kepala Daerah

Keputusan PKS untuk mengusung wanita sebagai pemimpin sudah dapat persetujuan dari Dewan Syariah Pusat PKS
Hidayatullah.com--Partai Keadilan Sejahtera untuk pertama kalinya mendukung wanita sebagai wali kota dalam pencalonan pemilihan kepala Daerah Tangerang Selatan, Banten. Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tangerang Selatan Ruhamaben, Sabtu, mengatakan, pengusungan wanita dalam Pilkada kali ini merupakan hasil kesepakatan dan persetujuan oleh Dewan Syariah Pusat PKS.
Ia menambahkan pengusungan tersebut sifatnya hanya tingkat daerah bukan nasional, maka pengusungan wanita sebagai pemimpin tidak menjadi masalah.
"Keputusan PKS untuk mengusung wanita sebagai pemimpin sudah dapat persetujuan dari Dewan Syariah Pusat PKS. Jadi, itu yang menjadi pegangan kita untuk mengusung Airin sebagai bakal calon wali kota Tangerang Selatan," kata Ruhamaben usai acara deklarasi pasangan Airin-Benyamin Davnie di gedung Puspiptek Serpong.
Ruhamaben yang juga Wakil Ketua DPRD Tangerang Selatan menambahkan, meskipun pendukungan wanita sebagai kepala daerah ini baru pertama kali dilakukan, namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi PKS sendiri.
Sebab, PKS sebelumnya telah melakukan penjaringan internal dan eksternal untuk maju dalam Pilkada Tangerang Selatan. Namun, nama Airin mencuat dan lebih dikenal masyarakat sehingga menjadi alasan PKS untuk mendukung Airin yang berpasangan dengan Benyamin Davnie.

"Airin memang bukan kader dari PKS, tetapi kita melihat Airin sudah dikenal publik. Jadi, dukungan publik yang akan memilih Airin lebih besar," paparnya.

Mengenai kontrak politik sendiri. Ruhamaben menuturkan, PKS sudah membuat kesepakatan kontrak bila Airin terpilih menjadi wali kota nanti, yakni menciptakan pemerintahan yang bersih, peningkatan pelayanan publik dan memajukan bidang pendidikan serta mendukung dakwah Islam yang digalakkan PKS di Tangerang Selatan.

"Airin juga harus mendukung dakwah yang dilakukan PKS di Tangerang Selatan," bebernya.

Airin yang berpasangan dengan Benyamin Davnie mendapat dukungan delapan Parpol yakni Partai Demokrat, PKS, Golkar, PDI-P, PKB, PDS, PKPI, PPDI.

Airin Rachmi Diany merupakan adik ipar dari Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Airin sebelumnya juga pernah diusung PKS dalam Pilkada Kabupaten Tangerang tahun 2007 lalu sebagai wakil Bupati berpasangan dengan Jazuli Juwaeni.

Sedangkan Benyamin Davnie merupakan Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang yang juga pernah ikut dalam Pemilihan Gubernur tahun 2006, berpasangan dengan Trya Sjam`un. Namun, ketika itu, benyamin kalah dari lawannya Ratu Atut Chosiyah yang berpasangan dengan Masduki. [ant/hidayatullah.com]

Segala Cita-Cita Berakhir di Ritz Carlton


Segala cita-cita PKS berakhir di Hotel The Ritz Calrton. Partai PKS tidak lagi menjadi partai dakwah, yang memiliki jargon 'bersih, peduli, dan profesional', dan kemudian berubah menjadi partai 'terbuka', yang dioreintasikan bagi semua golongan.

Di tempat yang sangat ekslusif, dan hanya dapat dikunjungi oleh kalangan terbatas, di The Ritz Carlton itu, teka-teki tentang kepemimpinan, sasaran, arah, kebijakan, langkah masa depan yang akan dituju Partai PKS, semuanya menjadi 'clear'. Semuanya sudah terekpresikan dalam Munas II itu.

Dari kepemimpinan tidak ada perubahan tetap wajah-wajah lama, termasuk Ketua Majelis Syuro, yaitu tetap Hilmi Aminuddin. Sasaran yang ingin diraih PKS menjadi partai tiga besar di pemilu 2014. Arah yang dituju PKS menjadi partai terbuka, inklusif, dan mewadahi semuanya golongan dan agama di Indonesia. Tidak eksklusif. Artinya PKS akan menjadi wadah semua golongan dan agama, melepaskan diri dari jati dirinya sebagai partai dakwah, yang membawa cita-cita dan prinsip-prinsip yang ingin menegakkan Islam. Adapun kebijakan PKS tetap menjadi 'backbone' (tulang punggung) pemerintahan SBY, dan sekarang mengarah lebih dekat dengan AS. Itulah kesimpulan Munas II PKS, yang baru usai.

PKS yang baru saja selesai melaksanakan Munas II, di Hotel The Ritz Carlton dengan biaya Rp 10 miliar, di mana sebelumnya telah melangsungkan musyawarah Majelis Syura, yang berlangsung medio Mei, di hotel mewah JW Marriott, Kuningan. Pertemuan di JW.Marriot menandai berakhirnya anggota Majelis Syuro, periode 2005-2010, dan sekaligus melantik anggaota Majelis Syuro yang baru, periode 2010-2015.

Dengan disyahkannya anggota Majelis Syuro yang baru itu, selanjutnya dilangsungkan pemilihan Ketua Majelis Syuro, dan pengukuhan presiden partai, pengukuhan ketua MPP (Majelis Pertimbangan Partai), pengukuhan ketua DSP (Dewan Syariah Pusat), dan pengukuhan Ketua Majelis Syuro, Hilmi Aminuddin. Semuanya hanya tinggal 'ketok palu'. Berjalan dengan lancar, dan tidak ada 'dissent' (perbedaan), setuju secara aklamasi.

Barangkali inilah sebuah pesta politik luar biasa bagi sebuah partai politik Islam yang selama ini mengusung nilai-nilai da’wah berupa kejujuran, kesederhanaan dan kebersahajaan. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, PKS yang awal berdirinya menggunakan prinsip “al-hizbu huwal jama'ah, wal jama'ah hiyal hizb" (partai adalah jama'ah, dan jama'ah adalah partai), di mana PKS yang hakikatnya representasi Jamaah Ikhwan itu, kini telah mengambil jalan baru, yang ingin dicitrakan lebih inklusif, dan tidak eksklusif, kemudian memilih sebagai partai : terbuka.

Ketua Majelis Syuro Hilmi Aminuddin, menegaskan, inklusifitas yang dibangun PKS saat ini sebagai bagian dari konsekuensi pelaksanaan ajaran Islam. Ajaran Islam, kata Hilmi, harus menerima pluralitas sebagai kesadaran positif mendorong dinamika kehidupan. "Inklusif ini bukan taktik atau strategi, tapi pelaksanaan ajaran Islam yang hakiki", tegasnya. Hilmi Aminuddin, menambahkan, bahwa cita-cita untuk menjadikan PKS sebagai partai terbuka, sejatinya sudah sejak Munas di Bali tahun 2008.

Pernyataan yang lebih ambisius, secara ekplisit disampaikan oleh Sekjen PKS Anis Matta, yang menyatakan, "Kami harus mengadakan lompatan besar untuk masuk menjadi tiga besar pada pemilu 2014”, ujar Anis Matta. “Parpol Islam harus tidak lagi menampilkan citra yang kaku, eksklusif dan ideologis, melainkan justru tampil segar, ringan, pluralis", tegasnya.

"Isu 'Negara Islam' dan 'Piagam Jakarta' tak mampu menguatkan identifikasi pemilih muslim kepada parpol Islam. Perubahan substansial harus dilakukan parpol Islam”, tambah Fahri Hamzah, Wakil Sekjen PKS.

PKS memang bertekad melakukan perubahan mendasar dalam gerakan politiknya ke depan, dengan mulai membuka diri sebagai partai politik yang lebih terbuka dari berbagai kalangan. Hal itu terlihat dari sikap PKS yang ingin merangkul non-muslim, bukan saja sebagai anggota partai atau anggota legislatif, tetapi juga pengurus partai dari DPC hingga DPP. Ini terkait dengan langkah kebijakan yang menginginkan PKS menjadi partai tiga besar.

“Apapun agamanya (Yahudi, Nashara, Hindu, Budha) sepanjang memiliki garis perjuangan yang sama, adalah warga PKS”, kata Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq menjelang pembukaan Munas. Dia tidak menampik ada rencana perubahan AD/ART PKS terkait dengan pengakomodasian kalangan non-muslim untuk menjadi pengurus dan pimpinan PKS di setiap level struktural partai.

Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Burhanuddin Muhtadi, menilai sikap PKS yang mengakomodasi kalangan non-muslim sebagai strategi meraih suara lebih besar pada pemilu 2014, “Itu bagian dari strategi PKS untuk memperbesar ceruk pemilih,” katanya.

Untuk menunjang pencapaian target tersebut, PKS menginginkan agar koalisinya dengan pemerintah tetap terjaga dan solid hingga Pemilu 2014 mendatang. “Bapak Presiden SBY, bagi kami kebersamaan dalam koalisi ini bukan sekedar agenda program politik kami, tetapi itu merupakan aqidah kami, iman kami,” tegas Ketua Majelis Syura PKS, Hilmi Aminuddin. “Kalimat itu masih tetap berkobar. Dalam dua masa jabatan SBY itu, kami tetap berkomitmen melanjutkan koalisi permanen dengan SBY,” ujarnya.

Hilmi mengakui banyak pihak yang berusaha mengganggu hubungan PKS dengan SBY. “Banyak yang iri, mengapa utadz Hilmi gampang sekali mondar-mandir ke Cikeas. Tetapi percayalah Pak SBY, bahwa koalisi PKS adalah koalisi dengan Soesilo Bambang Yudhoyono.” kata Hilmi Aminuddin, yang disambut tepuk tangan gemuruh peserta Munas. “Koalisi ini adalah backbone (tulang punggung), apabila patah, maka kaki tidak bisa digerakkan, tangan lunglai, dan kepala terkulai.” tegas Ketua Majelis Syuro.

Dalam pembukaan Munas yang dibuka oleh Presiden SBY dan dihadiri para menteri kabinet, para elit partai politik dan Duta Besar negara sahabat, yaitu Amerika Serikat, Australia dan Jerman, Presiden SBY menasihati Presiden PKS yang mengeluh dengan banyaknya kritikan terhadap PKS sembari mengutip pernyataan Presiden Amerika, Abraham Lincoln, “Apabila besok pagi Presiden Amerika bisa berjalan di atas air, niscaya rakyat Amerika akan berkomentar, “Itu kan karena Presiden tidak bisa berenang”; agar Pak Luthfi sabar dan terus bekerja keras. “Anda belum setahun dikritik. Sedang saya sudah lebih dari lima setengah tahun dikritik”, ujar SBY.

Dalam Sidang Majelis Syura PKS, Rabu (6 Juni), dengan agenda amandemen anggaran dasar/ anggaran rumah tangga (AD/ART) terjadi perdebatan terkait dengan usulan melegal-formalkan keanggotaan dan kepengurusan non-muslim dalam PKS.

Sidang yang berjalan lambat lantaran masih ada anggota Majelis Syura yang keberatan dengan usulan keanggotaan non-muslim. Mereka khawatir pembukaan ruang bagi kalangan non-muslim akan berimbas terhadap basis massa PKS yang berasal dari kalangan Muslim. Namun, pada sidang sesi ke-2 sekitar pukul 23.00, “Semua anggota Majelis Syura akhirnya sepakat melegal-formalkan non-muslim dalam keanggotaan/kepengurusan PKS.” jelas Mahfud Shiddiq, salah seorang panitia Munas II PKS.

Nampaknya, PKS untuk mencapai ambisi politiknya menjadi partai tiga besar dalam pemilu 2014, melakukan 'double cover' dalam berpolitik. Partai PKS menjadikan Presiden SBY bukan hanya sebagai 'patron'nya, tetapi juga menjadikan SBY sebagai 'midholah' (pelindung) politiknya, agar PKS terus dapat melaksanakan tujuan-tujuan politiknya, mencapai pusat kekuasaan.

Apakah dengan dukungan PKS sebagai 'backbone' pemerintahan SBY, PKS harus mengorbankan kasus Bank Century? Padahal, PKS yang sangat berapi-api, ketika membahas kasus bail out Bank Century, dan menghasilkan keputusan opsi C di dalam Paripurna DPR. Tapi, sesudah Menkeu Sri Mulyani mengundurkan dari jabatannya, dan menjadi Managing Direktur Bank Dunia, kemudian terbentuknya Setgab, yang dipimpin Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie, PKS menyetujui kasus Century di tutup. Melalui sebuah kesepakatan antara anggota koalisi, akhirnya mereka menandatangi sebuah fakta, yang PKS di wakili Sekjen PKS, Anis Matta menandatangani penutupan kasus Century. Padahal, jutaan rakyat Indonesia mengharapkan adanya penegakkan hukum. Tetapi, segalanya berakhir dengan adanya dukungan PKS kepada Presiden SBY, kasus Century menjadi bagian masa lalu. Ini sebuah ironi.

Pendekatan PKS kepada AS juga termasuk bagian dari langkah politiknya untuk memudahkan menuju ke pusat kekuasaan. PKS masih merasa tidak cukup dengan dukungan politik dari SBY, yang sebenarnya juga pro-Barat (AS), dan lima tahun ke depan SBYakan berakhir, maka partai yang sebelumnya sebagai partai dakwah ini, bukan hanya melakukan komunikasi politik, tetapi juga mungkin negosiasi politik dengan AS.

Dikalangan elite politik PKS masih memiliki paradigma tidak ada kekuasaan baru di negara Dunia Ketiga yang tanpa restu dari Washington. Mungkin ini adalah sebuah 'common sense' dari elite PKS, karena paradigma yang masih melekat dalam 'mindset' mereka, di mana AS masih digambarkan sebagai 'adi daya' (super power). Kehadiran Dubes AS Cameron Hume, di arena Munas, sebagai sinyal akan adanya langkah-langkah ke arah 'mutual trust' antara PKS dengan AS.

Pandangan elite PKS, sebelum mereka mengelola kekuasaan di masa depan, mereka berpendapat harus ada semacam 'guarantee' (jaminan), yang sifatnya dukungan politik dari AS. Dengan dukungan politik dari AS, maka PKS akan mampu mengelola negara secara efektif.

Memang, faktanya banyak rejim di negara-negara Dunia Ketiga, yang tidak sejalan dengan ideologi, kepentingan, dan kebijakan luar negeri AS, nasibnya menjadi malang, di turunkan. Belajar sejarah politik dan kondisi global inilah, PKS mencoba melakukan 'preparing' (persiapan) dalam menapaki jalan menuju kekuasaan. Pendekatan politik dengan AS, sebagai pandangan yang memang keharusan bagi elite PKS, karena AS di mata mereka sebagai kekuatan yang mempunyai pengaruh politik secara global.

Padahal, segalanya telah berubah, dan AS tidak lagi menjadi kekuatan 'adi daya' (super power), dan sekarang semakin melemah. AS memiliki utang luar negeri 360 persen dari total PDB nya. AS mengalami defisit anggaran (APBN) yang lebh dari $ 1 triliun dolar. AS juga mengalami defisit perdagangan dengan negaranya mitranya. AS dihentakkan oleh resesi ekonomi, yang sampai sekarang belum pulih. AS harus memikul beban biaya militernya di luar negeri, seperti di Irak, Afghanistan, Jepang, dan Uni Eropa. Tanda-tanda kebangkrutan AS sudah sangat nampak.

Tapi, mengapa elite PKS masih mengharapkan dukungan politik, bukan hanya dari Presiden SBY, tetapi juga dari AS, yang notabene sudah mengalami kebangkrutan? AS tidak lagi menjadi 'adi daya' (super power) tunggal, dan sekarang muncul konfigurasi politik baru, atau munculnya regionalisme baru di berbagai kawasan. AS sudah mulai ditinggalkan sekutu-kutunya.

Mengapa PKS melakukan pragmatisme politik, yang dilakukan bukan hanya menjadikan SBY sebagai patron politiknya, tetapi juga pelindungnya, dan sekaligus ingin mendapatkan 'guarentee dari AS, yang masih dalam 'mindset' para pemimpin PKS dapat menjadi jaminan untuk mencapai tujuan politik di masa depan? Langkah-langkah yang sekarang diambil oleh elite PKS itu sebenarnya, tidaklah selamanya menguntungkan karena mengabaikan nilai-nilai prinsip. “Walau petinggi PKS membantah partainya pragmatis, selama beberapa tahun terakhir, PKS memang lebih pragmatis dalam berpolitik. Sama seperti semua partai lainnya karena tujuannya sama, yaitu untuk berkuasa”, kata seorang pengamat politik.

Dalam survei Litbang Kompas, 16 Jnui, terungkap bahwa PKS ternyata merupakan partai yang “Paling Tidak Konsisten” dalam sikap politiknya di DPR dibanding partai-partai koalisi pemerintah lainnya. Kalau survei ini benar, berarti pernyataan Ketua Majelis Syura PKS, Hilmi Aminuddin, di depan Presiden SBY dan ribuan peserta Munas, apakah bisa dipertanyakan?

Apakah dengan dukungan politik SBY dan AS, di masa depan PKS akan menjadi patai tiga besar? Sehingga, harus melakukan pragmatisme politik, dan mengubah esensinya partai, seperti sekarang menjadi partai terbuka? Sebuah langkah penuh dengan 'gambling', karena hanya terobsesi dengan kekuasaan, sementara prinsip-prinsip dalam berpolitik, sebagai partai dakwah ditanggalkannya.

Mestinya, para elite PKS tidak harus menjadikan SBY sebagai 'midholah'nya, dan mencari jaminan politik dari Washington. Cukup dengan kerja keras dengan membela seluruh kepentingan rakyat, elite politiknya hidup dengan jujur, bersih, peduli, bersahaja, tidak bergaya kosmopolitan, yang tidak sesuai dengan kondisi rakyat Indonesia yang ada. Cara ini lebih masuk akal untuk menapaki jalan menuju kekuasaan.

Tapi, segalanya telah berlalu, dan hanya dapat mengucapkan 'say good bye to PKS'. Mohammad Fatih. Wallahu'alam.

27.7.10

Penipuan Ilmiah dibalik Foto Kirlian (Aura)?

Pemanfaatan Aura atau energi keghoiban yang juga kadang di istilahkan dengan prana, chi, ki, manna, ruah, energi Ilahi atau karomah dari luar tubuh yang kita serap untuk memperoleh tenaga dalam dari hasil doa, sugesti, daya visualisasi dibarengi gerak tubuh dan olah pernapasan harus kita koreksi kebenarannya.

Aura menurut konsep New Age Movement adalah medan energi yang pada hakekatnya merupakan nafas hidup yang bersifat ilahi (micro cosmos) yang sehakekat dengan sumbernya (macro cosmos) yaitu nafas alam semesta (pantheisme/mistik). Memang foto Kirlian yang dikembangkan oleh dua peneliti Rusia bernama Semyon & Valentina Kirlian yang menemukan sistem pemotretan yang kemudian dikaitkan dengan nama mereka. Dalam fotografi ini, film standar diletakkan diantara generator tegangan tinggi dan obyek yang akan difoto (misalnya tangan).

Melalui penyaluran muatan rendah selama satu sampai dua menit terbentuklah bayangan di film tersebut. Apakah gambaran foto tersebut identik dengan Aura? Penelitian tidak menunjukkan ini terbukti, sebab simpul-simpul yang terlihat pada foto cahaya Kirlian tubuh tidak identik dengan simpul-simpul pusat energi yang ada dalam kepercayaan pengobatan gerakan zaman baru (7 Cakra dipercayai dalam Yoga). Memang benar bahwa dari kulit keluar panas badan yang diimbulkan oleh kegiatan mekanisme tubuh, tetapi itu berbeda dengan konsep Aura sebagai badan wadag dalam kebatinan.

Sekarang ini sudah ada yang berusaha untuk bisa membuktikan atau mengklaim eksistensi energi keghoiban, melihat aura bahkan roh dengan menggunakan peralatan modern seperti dengan menggunakan foto aura atau foto kirlian.

Di Jakarta pada lantai satu pertokoan Grand ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, ada toko bertuliskan “Xing Passion Reflexiology & Aromatherapy“. Toko itu milik Tom Suhalim yang mempunyai Aura Video Station yang dibeli dari Jerman seharga sekitar US$ 25.000 (dengan kurs sekarang sekitar Rp 226 juta). Harga tersebut untuk satu paket software lengkap dengan beberapa peranti tambahan, seperti kartu PC dan kamera. Cara penggunaannya tubuh seseorang harus menghadap ke arah kamera di atas layar monitor, lalu seluruh ujung jari dimasukkan ke sebuah alat berbentuk seperti telapak tangan. Alat tersebut terbuat dari logam dan langsung terhubung ke PC.

Setelah software Aura Video Station diaktifkan, wajah dan aura yang melingkupinya langsung terlihat. Tidak hanya itu, chakra yang ada dalam diri seseorang pun tampil.Apakah benar suatu hakikat bahwa Aura Video Station bisa membuktikan bahwa yang nampak pada layar monitor adalah aura atau lapisan tubuh bahkan chakra-chakra manusia?

Sesungguhnya kajian ilmu pengetahuan metafisika sekarang ini mengenai lapisan tubuh halus atau aura tubuh, sinar energi adalah asumsi lama tentang teori sinar yang telah dibantah oleh Albert Einstein dengan teori relatifitasnya, sebagaimana diungkapkan oleh Dr.Abdul Muhsin Shalih. Dr.Abdul Muhsin Shalih dalam bukunya Al-Insan al-Hair baina al-Ilm al-Khurafah dengan argumentasi ilmiah dengan dilengkapi dengan foto mengungkapkan bahwa perkiraan berhasilnya foto kirlian atau foto aura dalam memotret atau melihat tubuh eterik atau roh adalah kesalahan atau bentuk penipuan ilmah.

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa sinar bias yang nampak dalam foto kirlian adalah hasil alami proses pengaruh elektrik terhadap film.Sinar bias ini timbul karena bagian tubuh orang itu berada dalam lapangan electro magnetik yang berfrekuensi 2 megacycle atau potential difference ukuran 500 volt.Foto semacam ini telah ditemukan 60 tahun yang lalu,hasil statik electrik yang objeknya diletakkan di bawah pengaruh daya electro magnetik atau gelombang-gelombang radiasi yang mempengaruhinya agar timbul loncatan-loncatan gelombang. Pada saat gelombang-gelombang ini bertabrakan dengan film sensitif dari jenis tertentu, film itu terpengaruh sehingga akan nampak sesuatu seakan-akan bercampur dengan bias cahaya.

Selain itu timbulnya bias cahaya atau sinar yang bisa berbeda warna dan intensitasnya tidak lain diakibatkan karena perbedaan panas tubuh yang dapat berfluktuasi pada keadaan fisiologis tubuh (jika marah atau stres maka tubuh akan lebih panas atau jika takut atau sedih tubuh akan lebih dingin sebab mengeluarkan keringat dingin. Dapat juga karena keadaan situasi lingkungan) atau pengaruh perbedaan daya radiasi electro magnetik. Namun pada kenyataannya dikultuskan dan dikeramatkan dianggap sebagai roh, aura, lapisan tubuh bahkan energi Reiki, Prana atau tenaga dalam.

Selain itu, kepercayaan mistik-pantheisme beranggapan bahwa manusia setiap saat mengeluarkan sinar bio-elektrik dari simpul-simpul sistem saraf perifer yang terdapat di permukaan kulit dan dari titik-titik simpul/bukaan saraf tertentu (titik akupunktur) pada alur saraf sumsum tulang belakangnya yang disebut cakra. Titik-titik ini dapat mengeluarkan sinar yang kuat maupun lemah tergantung pengembangannya oleh manusia tersebut. Energi bio-listrik tersebut dipercaya semula tidur di tulang ekor (Cakra Muladhara) dan melalui rangsangan dengan teknik pernapasan Kundalini bergerak melalui 7 cakra menuju ke otak (Sahasrara Cakra). Bila energi itu sudah mencapai ke otak maka kepala itu akan memancarkan sinar, dan sinar yang menyelimuti tubuh orang itu disebut Aura.

Ada anggapan bahwa ‘medan energi’ atau yang disebut ‘aura’ dalam penyembuhan/kesehatan holistik itu dianggap terbukti dengan penemuan fotografi ‘Kirlian.’ Pada tahun 1940 peneliti Rusia bernama Semyon & Valentina Kirlian menemukan sistem pemotretan yang kemudian dikaitkan dengan nama mereka. Dalam fotografi ini, film standar diletakkan diantara generator tegangan tinggi dan obyek yang akan difoto (misalnya tangan). Melalui penyaluran muatan rendah selama satu sampai dua menit terbentuklah bayangan di film tersebut.[1]

Hasil fotografi Kirlian menunjukkan bahwa dari permukaan tangan yang difoto terpancar aliran sinar yang menakjubkan seakan-akan ada bunga api keluar dari kulit. Pada foto-foto manusia, sinar berwarna warni itu berubah dalam ukuran dan intensitasnya tergantung kondisi mental orang yang difoto. Banyak yang menyimpulkan foto itu tidak lain hanya merupakan gambaran dari perubahan fisiologis yang berlanggsung dipermukaan kulit yang terbaca foto seperti misalnya variasi kelembaban kulit, penampilan temperatur atau kondisi listrik yang berubah-ubah pada permukaan kulit, tetapi bagi para penganut ‘mistik-pantheistik’ fotografi Kirlian lalu dianggap menunjukkan adanya aura energi dalam tubuh manusia.

Sekalipun beberapa ahli mencoba mencocok-cocokan lokasi titik-titik konsentrasi sinar pada fotografi itu yang dianggap sebagai reaksi listrik dalam tubuh dengan titik-titik akupunktur banyak juga yang menolak. Thelma Moss, ahli jiwa medis UCLA, banyak melakukan penelitian pada metoda fotografi Kirlian dan menemukan banyak sekali titik-titik yang tidak sama dengan titik-titik dalam akupunktur, bahkan dokter Felix Mann yang merupakan spesialis akupunktur yang terkenal di Inggeris kemudian melepaskan keyakinan mengenai kebenaran ilmiah akupunktur. Ia sekarang menganggap bahwa interaksi kompleks antara kulit, otot, dan organ dalam, semuanya diantarkan oleh sistem saraf yang juga kompleks bertanggung jawab atas akibat terjadinya tusukan jarum.

“Beberapa peneliti mengklaim adanya kekurangan ketahanan elektris kulit yang disebut titik-titik akupunktur. Untuk banyak tahun saya sudah mencoba membuktikan hal ini pada pasien maupun mayat. Saya menemukan adanya ribuan daerah besar dan kecil yang ketahanannya rendah, beberapa diantaranya sama dengan titik-titik akupunktur, tetapi kebanyakan tidak … Setiap kali elektroda yang aktip disalurkan ke kulit ketahanan listriknya berkurang, dan kalau ini dilakukan beberapa kali, seseorang memperoleh titik akupunkturnya sendiri.” [2]

Dari beberapa pengamatan di atas, kelihatannya memang ada sistem lain dalam tubuh yang berbeda dengan sistem saraf, sistem saluran darah, sitem pernafasan, dan sistem pencernaan, yang belum diketahui tetapi dapat berfungsi sebagai sarana pengobatan. Tabib-tabib Cina kuno melalui pengalaman sehari-hari mereka rupanya melihat ada titik-titik tertentu dalam tubuh manusia yang bisa mendatangkan dampak pengobatan tertentu, kemudian mereka mendasarkan diri pada kepercayaan animisme dan kebatinan tentang ‘energi semesta’ yang juga dipercaya sama dengan ‘energi’ dalam tubuh manusia, kemudian mencoba mendesain suatu sistem (meridian) yang menunjukkan keterkaitan antar titik dengan penyakit-penyakit.

Namun, sampai sekarang ilmu kedokteran termasuk ilmu kedokteran nuklir tidak bisa menghasilkan bukti kebenaran yang mendukung sistem meridian Cina dengan faham cakranya itu sekalipun ada titik-titik (tidak semua) yang bisa menghasilkan efek pengobatan. Koosnadi Saputra yang menulis desertasi mengenai Akupunktur dan penelitian nuklir di UNAIR mengemukakan bahwa sekalipun ada beberapa titik akupunktur (accupoints) yang sudah diketahui memiliki kemiripan dengan penemuan kedokteran mengenai titik-titik picuan (trigger points), sebagian besar titik-titik yang dipercayai oleh akupunktur tidak sama dengan trigger-points yang ditemukan dalam kedokteran.

Dari kesimpulan ini dapat diketahui bahwa masih terlalu pagi untuk menjadikan foto Kirlian sebagai bukti konsep Aura dengan Cakranya karena foto Kirlian menunjukkan adanya sinar yang dikeluarkan tubuh yang sifat-sifatnya banyak berbeda dengan konsep sinar cakra dalam kepercayaan mistik-pantheisme, dan sekalipun ilmu kedokteran modern sudah menunjukkan adanya beberapa titik akupunktur yang memberi efek rangsangan, kenyataannya banyak titik-titik lainnya tidak memiliki efek sama sekali kecuali menimbulkan sugesti perendahan rasa sakit tetapi bukan sakit itu sendiri.

Kenyataannya, foto kirlian ini banyak digunakan untuk mencoba melihat aura atau energi tenaga dalam.Akan tetapi para ilmuan meninggalkannya puluhan tahun yang lalu dan membiarkan para propagandis penikmat ilmu metafisika itu melantur untuk melegalkan pemahaman dan prilaku syiriknya.[3]

Saya (penulis) telah melihat adanya foto aura yang menggunakan komputer yang di pasang kamera video yang diklaim bisa melihat aura tubuh. Di klaim bahwa sesungguhnya adanya penampakan cahaya-cahaya di sekeliling tubuh itu adalah aura bahkan ditambah lagi adanya gerakan cahaya yang berputar di bagian tubuh tertentu yang dikatakan inilah chakra tubuh. Dengan sangat yakin dari bantahan yang diungkapkan Dr.Abdul Muhsin Shalih dapat saya simpulkan foto aura hanyalah sebuah program software biasa yang sengaja dirancang untuk menampakkan suatu bentuk chakra, aura bahkan dikatakan sebagai sinar tenaga dalam dan bukan menampakkan hakikat chakra atau aura yang sebenarnya.

[1] Kirlian Photography, dalam Paul C. Reisser, New Age Medicine, h. 75-78
[2] Accupuncture, Vintage, NY, h.5
[3] Penjelasan langkap lihat buku“Memanggl roh dan menaklukkan jin”karangan Syaikh Majdi Muhammad Asy-Syahawi

TQ... http://metafisis.wordpress.com/2009/07/27/penipuan-ilmiah-dibalik-foto-kirlian-aura/

20.7.10

Syeikh Al-Sudais: Dunia Jangan Takut dengan Islam

Dalam khutbah Jumatnya, Syeikh Al-Sudais berpesan agar muslim di Barat menjadi duta Islam

Hidayatullah.com--Imam Masjidil Haram Syeikh Abdul Rahman Al-Sudais dalam kunjungannya ke Masjid Tauhidul Islam di Blackburn, Inggris menyampaikan kepada dunia agar tidak takut dengan Islam dan muslim.

Seruan itu dikemukakannya saat menyampaikan khutbah Jumat (15/7) di masjid terbesar di Lanchashire yang baru selesai dibangun.

Dalam khutbahnya ia mengatakan, "Islam datang untuk melindungi kepentingan manusia, mencegah kemunkaran dan membangun jembatan dengan semua komunitas. Ia menyampaikan pesan besar tentang kebaikan dan toleransi."

Imam Mekah itu juga meminta agar muslim yang tinggal di negara-negara Barat bisa mematuhi hukum yang ada di negara tersebut. "Anda harus menjadi bagian positif dan konstruktif dalam masyarakat tempat Anda tinggal, dan tidak membiarkan diri sendiri terlibat dalam tindakan yang membahayakan stabilitas dan keamanan," ujar Syeikh sebagaimana dikutip Arab News (18/7).

Menurut Syeikh, muslim harus belajar dari Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam yang dulu biasa mengunjungi Yahudi tetangganya. "Ketika Rasul wafat baju besinya masih disimpan seorang Yahudi sebagai jaminan."

Menjalin hubungan baik dengan non-muslim "merupakan cara yang terbaik untuk menarik mereka ke dalam Islam," demikian tambahnya.

Singkatnya, muslim harus menjadi duta bagi Islam, menjunjung tinggi nilai-nilai Islam ketika berhubungan dengan sesama muslim atau non-muslim, serta menjauhi perilaku-perilaku korup dan tidak adil.

Syeikh juga berharap, masjid baru yang dibangun selama 6 tahun itu bisa menjadi sumber kebaikan, cahaya dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Masjid Tauhidul Islam kini menjadi masjid terbesar di wilayah Lancashire. Pembangunannya menelan biaya 3,5 juta pound (5,37 juta dollar). Keluarga kerajaan Qatar memberikan sumbangan awal sebesar 1,5 juta pound untuk membangun pondasinya. Di tempat yang sama awalnya berdiri sebuah masjid yang lebih kecil yang dibangun pada tahun 1960an.

Lord Adam Patel, salah satu tokoh Islam Inggris yang juga menjadi pimpinan masjid, menekankan pentingnya peran masjid di abad ke-21. "Peran masjid sama pentingnya dengan ketika zaman Rasulullah Muhammad shalallahu'alaihi wasallam. Misi kami adalah menjadi center of excellence untuk pembelajaran dan penerapan Islam, menjadi petunjuk bagi bagi muslim dan umat agama lain yang ingin mendapatkan pengetahuan lebih banyak dan memahami Islam," ujarnya. [di/an/hidayatullah.com]