25.9.14
Istighfar yang Membawa Kemakmuran
Bila istighfar menyuburkan pepohonan, sebaliknya niat buruk bisa menghancurkan tanaman
Oleh: Muhaimin Iqbal
SEBAGAI individu terkadang kita merasa sudah bekerja ekstra keras siang dan malam, tetapi hasil belum seperti yang kita harapkan – kemakmuran belum juga kunjung datang. Dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara-pun demikian, para pemimpin dan wakil rakyat ketika berkampanye selalu menjanjikan kemakmuran ke rakyatnya – lagi-lagi mayoritas janji-tinggal janji – kemakmuran masih jauh panggang dari api. Apa yang salah? Apa ada yang kurang? Kemungkinan besar yang kurang itu adalah istighfar!
Kita sudah bekerja keras tetapi kurang beristighfar, para pemimpin dan wakil rakyat menjanjikan banyak hal tetapi juga tidak mengajak rakyat untuk beristighfar – maka hasilnya ya seperti ini. Sudah 69 tahun merdeka negeri yang subur ijo royo-royo ini masih harus mengimpor begitu banyak makanannya dan masih harus disubsidi energi-nya. Lantas apa hubungannya antara istighfar dan kemakmuran?
Saya menemukan setidaknya di dua tempat di Al-Qur’an di mana perintah beristighfar itu terkait langsung dengan kemakmuran.
Yang pertama di surat Nuh:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً
يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً
“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12)
Yang kedua di surat Hud:
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS: Hud [11]: 61)
Bagi masyarakat yang umumnya petani di negeri agraris ini misalnya, istighfar adalah pupuk yang paling efektif bagi kebun-kebun mereka sebagaimana ayat-ayat tersebut di atas. Mengapa demikian? Para petani ini bila tanamannya berhasil, sering lupa bahwa seolah dialah yang bisa menyuburkan tanamannya.
Para peneliti dan ilmuwannya lebih-lebih lagi, mereka sering merasa – dan bahkan mengklaim hak – atas keberhasilan tanamannya, lupa bahwa hanya Allah lah yang bisa menumbuhkan tanaman-tanaman tersebut sebagaimana disebutkan dalam surat Al-An’am;
إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ذَلِكُمُ اللّهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS: An’am [6] :95)
Juga pada surat An-Naml berikut:
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاء فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَّا كَانَ لَكُمْ أَن تُنبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ
“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS: An Naml [27]: 60)
Bila istighfar menyuburkan pepohonan, sebaliknya niat buruk bisa menghancurkan tanaman. Di surat Nun (68: 17-33) Allah bercerita tentang dua pemilik kebun yang bakhil yang berniat menghalangi orang miskin dari mendapat bagian hasil kebunnya, maka kebun itu dihancurkan oleh Allah menjadi hitam seperti malam yang gulita.
Di surat lain yaitu Surat Al-Kahfi Allah bercerita tentang kebun yang sangat indah – namun kemudian Allah hancurkan karena pemiliknya angkuh dan kafir, tidak berucap Masya Allah, Laa Haula Wala Quwwata Illa Billah ketika memasuki kebunnya.
Jadi bila niat buruk dan kesombongan menghancurkan kebun, istighfar dan niat baik-lah yang bisa menyuburkannya. Niat baik bahkan juga akan mendatangkan hujan khusus bagi pemilik kebun ketika orang lain kekeringan, yang terakhir ini pernah saya tulis enam tahun lalu dalam Prinsip 1/3.
Lalu istighfar seperti apakah yang akan menghadirkan kemakmuran dan pertolonganNya itu? tentunya adalah istighfar yang benar yang terpenuhi syarat dan adabnya. Dr. Yusuf Qaradhawi menguraikan syarat dan adab istighfar itu antara lain sebagai berikut:
Maka cara jitu bagi calon-calon wakil rakyat dan calon pemimpin kedepan agar mereka bisa berjanji memakmurkan rakyat dan kemudian juga bisa menepatinya, isi kampanye yang layak untuk ini hanya lima hal yaitu: 1) mengajak rakyat (dan tentu dirinya sendiri juga) untuk beristigfar banyak-banyak, 2) meluruskan niat yang ikhlas semata untuk Allah apapun yang mereka perjuangkan, 3) menjauhi kebakhilan, kesombongaan dan kekufuran, 4) Mengajak meningkatkan keimanan dan 5) mengajak pada ketakwaan. Dua yang terakhir – yaitu iman dan takwa – adalah jalan untuk dibukanya keberkahan dari langit dan dari bumi (QS 7:96).
InsyaAllah negeri ini bisa makmur, bila para penduduk, wakil rakyat dan para pemimpin – semuanya tahu apa yang harus dilakukan, yaitu mulai dari Istighfar!
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar
Oleh: Muhaimin Iqbal
SEBAGAI individu terkadang kita merasa sudah bekerja ekstra keras siang dan malam, tetapi hasil belum seperti yang kita harapkan – kemakmuran belum juga kunjung datang. Dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara-pun demikian, para pemimpin dan wakil rakyat ketika berkampanye selalu menjanjikan kemakmuran ke rakyatnya – lagi-lagi mayoritas janji-tinggal janji – kemakmuran masih jauh panggang dari api. Apa yang salah? Apa ada yang kurang? Kemungkinan besar yang kurang itu adalah istighfar!
Kita sudah bekerja keras tetapi kurang beristighfar, para pemimpin dan wakil rakyat menjanjikan banyak hal tetapi juga tidak mengajak rakyat untuk beristighfar – maka hasilnya ya seperti ini. Sudah 69 tahun merdeka negeri yang subur ijo royo-royo ini masih harus mengimpor begitu banyak makanannya dan masih harus disubsidi energi-nya. Lantas apa hubungannya antara istighfar dan kemakmuran?
Saya menemukan setidaknya di dua tempat di Al-Qur’an di mana perintah beristighfar itu terkait langsung dengan kemakmuran.
Yang pertama di surat Nuh:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً
يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً
“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12)
Yang kedua di surat Hud:
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS: Hud [11]: 61)
Bagi masyarakat yang umumnya petani di negeri agraris ini misalnya, istighfar adalah pupuk yang paling efektif bagi kebun-kebun mereka sebagaimana ayat-ayat tersebut di atas. Mengapa demikian? Para petani ini bila tanamannya berhasil, sering lupa bahwa seolah dialah yang bisa menyuburkan tanamannya.
Para peneliti dan ilmuwannya lebih-lebih lagi, mereka sering merasa – dan bahkan mengklaim hak – atas keberhasilan tanamannya, lupa bahwa hanya Allah lah yang bisa menumbuhkan tanaman-tanaman tersebut sebagaimana disebutkan dalam surat Al-An’am;
إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ذَلِكُمُ اللّهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS: An’am [6] :95)
Juga pada surat An-Naml berikut:
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاء فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَّا كَانَ لَكُمْ أَن تُنبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ
“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS: An Naml [27]: 60)
Bila istighfar menyuburkan pepohonan, sebaliknya niat buruk bisa menghancurkan tanaman. Di surat Nun (68: 17-33) Allah bercerita tentang dua pemilik kebun yang bakhil yang berniat menghalangi orang miskin dari mendapat bagian hasil kebunnya, maka kebun itu dihancurkan oleh Allah menjadi hitam seperti malam yang gulita.
Di surat lain yaitu Surat Al-Kahfi Allah bercerita tentang kebun yang sangat indah – namun kemudian Allah hancurkan karena pemiliknya angkuh dan kafir, tidak berucap Masya Allah, Laa Haula Wala Quwwata Illa Billah ketika memasuki kebunnya.
Jadi bila niat buruk dan kesombongan menghancurkan kebun, istighfar dan niat baik-lah yang bisa menyuburkannya. Niat baik bahkan juga akan mendatangkan hujan khusus bagi pemilik kebun ketika orang lain kekeringan, yang terakhir ini pernah saya tulis enam tahun lalu dalam Prinsip 1/3.
Lalu istighfar seperti apakah yang akan menghadirkan kemakmuran dan pertolonganNya itu? tentunya adalah istighfar yang benar yang terpenuhi syarat dan adabnya. Dr. Yusuf Qaradhawi menguraikan syarat dan adab istighfar itu antara lain sebagai berikut:
- Niat yang benar dan ikhlas semata ditujukan kepada Allah.
- Kesatuan hati dan lidah ketika beristighfar.
- Dalam kondisi bersuci ketika beristighfar.
- Dalam kondisi takut dan berharap hanya kepada Allah.
- Memilih waktu yang utama, yaitu waktu sahur.
- Istighfar dalam shalat, dalam posisi sujud, sebelum salam atau sesudah salam.
- Beristighfar untuk dirinya sendiri dan bagi seluruh kaum muslimain.
- Beristighfar dengan redaksi yang dicontohkan dalam Al-Qur’an dan dalam As Sunnah. Di Al-Qur’an contoh-contoh itu antara lain ada di Al-A’Raaf 23; Al-Mumtahanah 4-5 ; Ali Imran 147 dan 193 ; dan di surat Al-Hasyr 10.
Maka cara jitu bagi calon-calon wakil rakyat dan calon pemimpin kedepan agar mereka bisa berjanji memakmurkan rakyat dan kemudian juga bisa menepatinya, isi kampanye yang layak untuk ini hanya lima hal yaitu: 1) mengajak rakyat (dan tentu dirinya sendiri juga) untuk beristigfar banyak-banyak, 2) meluruskan niat yang ikhlas semata untuk Allah apapun yang mereka perjuangkan, 3) menjauhi kebakhilan, kesombongaan dan kekufuran, 4) Mengajak meningkatkan keimanan dan 5) mengajak pada ketakwaan. Dua yang terakhir – yaitu iman dan takwa – adalah jalan untuk dibukanya keberkahan dari langit dan dari bumi (QS 7:96).
InsyaAllah negeri ini bisa makmur, bila para penduduk, wakil rakyat dan para pemimpin – semuanya tahu apa yang harus dilakukan, yaitu mulai dari Istighfar!
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar
Dr. M. Kholid Muslih: "Syiah di Berbagai Negara Berpotensi Memberontak!"
Akhir dari gol pergerakan semua kelompok Syi’ah adalah ingin mendapatkan sebuah kekuasaan
Hidayatullah.com—Kasus pemberontakan kelompok Syi’ah al Hautsi (Barat menyebut al Houti) yang tengah menduduki Istana Kepresidenan Yaman dan Universitas al Iman, Yaman harus menjadi perhatian umat Islam di Indonesia, khususnya Ahlus Sunnah.
Syi’ah bukanlah semata-mata sebuah kelompok agama melainkan kelompok politik yang orientasinya ingin menguasai seluruh kekuasaan dimana pun Syi’ah berada, termasuk di Indonesia.
Yang perlu diketahui oleh seluruh umat Islam, Syi’ah di berbagai negara selalu ingin memberontak karena dalam rangka urusan politik mereka.
Demikian keterangan yang disampaikan oleh Dr. M. Kholid Muslih, M.A salah satu pakar Syi’ah dari Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor kepada hidayatullah.com, mengutip pendapat para ulama Mesir terkait pendudukan Syiah di Yaman.
“Orientasi utama Syi’ah adalah politik dan mereka menjadikan imamah sebagai salah satu rukun iman. Bahkan ulama-ulama di Mesir mengklarifikasikan Syi’ah sebagai sebuah kelompok politik bukan kelompok agama,” tegas alumni Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir kepada hidayatullah.com, Selasa (23/09/2014) pagi.
Menurut Kholid, Syi’ah yang saat ini ada di Indonesia dinilai memiliki potensi yang sama dengan Syi’ah al-Hautsi yang kini telah menduduki Istana Kepresidenan Yaman.
Bukan hanya Syi’ah al-Hautsi saja, tetapi juga beberapa kelompok Syi’ah yang berhasil menguasai Iraq dan sebagian wilayah di Libanon. Karena akhir dari gol pergerakan semua kelompok Syi’ah adalah ingin mendapatkan sebuah kekuasaan. Hal itu merupakan proses panjang menurut mereka.
“Pergerakan kelompok Syi’ah akan terus merambah kemana-mana. Sebab kelompok Syi’ah selalu berupaya untuk saling menguatkan dan terus bekerja sama guna mencapai orientasi politik mereka dan demi kepentingan kelompok masing-masing,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui, Muslih menyelesaikan S1 hingga S3 nya di Fakultas Ushûluddin Jurusan Aqidah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Secara khusus, tesis dan disertasinya meneliti masalah gerakan politik Syiah. Tesisnya berjudul “Al-Ittijâh al-Syi’I al-Itsnâ Asyari (al-Qodim wa al-muâ’shir) wa al-In’ikâsâtuhu ‘alâ al-Mujtama’ al-Sunni bi Indûnisia” sedang disertasinya berjudul “Wilâyatu al-Faqîh wa al-tathbîqâtuhâ al-mu’âshirah; Qirâ’ah naqdiyyah lillidhâm al-siyâsi assî’I al-mu’âshir; muqâranan bi al-syûrâ wa al-dimûkrâthiyah.”*/Ahmad Fazeri
Baca juga:
Hidayatullah.com—Kasus pemberontakan kelompok Syi’ah al Hautsi (Barat menyebut al Houti) yang tengah menduduki Istana Kepresidenan Yaman dan Universitas al Iman, Yaman harus menjadi perhatian umat Islam di Indonesia, khususnya Ahlus Sunnah.
Syi’ah bukanlah semata-mata sebuah kelompok agama melainkan kelompok politik yang orientasinya ingin menguasai seluruh kekuasaan dimana pun Syi’ah berada, termasuk di Indonesia.
Yang perlu diketahui oleh seluruh umat Islam, Syi’ah di berbagai negara selalu ingin memberontak karena dalam rangka urusan politik mereka.
Demikian keterangan yang disampaikan oleh Dr. M. Kholid Muslih, M.A salah satu pakar Syi’ah dari Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor kepada hidayatullah.com, mengutip pendapat para ulama Mesir terkait pendudukan Syiah di Yaman.
“Orientasi utama Syi’ah adalah politik dan mereka menjadikan imamah sebagai salah satu rukun iman. Bahkan ulama-ulama di Mesir mengklarifikasikan Syi’ah sebagai sebuah kelompok politik bukan kelompok agama,” tegas alumni Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir kepada hidayatullah.com, Selasa (23/09/2014) pagi.
Menurut Kholid, Syi’ah yang saat ini ada di Indonesia dinilai memiliki potensi yang sama dengan Syi’ah al-Hautsi yang kini telah menduduki Istana Kepresidenan Yaman.
Bukan hanya Syi’ah al-Hautsi saja, tetapi juga beberapa kelompok Syi’ah yang berhasil menguasai Iraq dan sebagian wilayah di Libanon. Karena akhir dari gol pergerakan semua kelompok Syi’ah adalah ingin mendapatkan sebuah kekuasaan. Hal itu merupakan proses panjang menurut mereka.
“Pergerakan kelompok Syi’ah akan terus merambah kemana-mana. Sebab kelompok Syi’ah selalu berupaya untuk saling menguatkan dan terus bekerja sama guna mencapai orientasi politik mereka dan demi kepentingan kelompok masing-masing,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui, Muslih menyelesaikan S1 hingga S3 nya di Fakultas Ushûluddin Jurusan Aqidah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Secara khusus, tesis dan disertasinya meneliti masalah gerakan politik Syiah. Tesisnya berjudul “Al-Ittijâh al-Syi’I al-Itsnâ Asyari (al-Qodim wa al-muâ’shir) wa al-In’ikâsâtuhu ‘alâ al-Mujtama’ al-Sunni bi Indûnisia” sedang disertasinya berjudul “Wilâyatu al-Faqîh wa al-tathbîqâtuhâ al-mu’âshirah; Qirâ’ah naqdiyyah lillidhâm al-siyâsi assî’I al-mu’âshir; muqâranan bi al-syûrâ wa al-dimûkrâthiyah.”*/Ahmad Fazeri
Baca juga:
21.9.14
Universitas Brunei Adakan Konferensi Galakkan Tulisan Arab- Jawi
Tulisan Arab-Jawi telah mulai punah dipakai di Indonesia. Di saat yang sama dua negara tetangga, Brunei Darussallam dan Malaysia justru giat menganjurkan penggunaannya.
Hidayatullah.com—Guna mendukung usaha-usaha pemerintah Kerajaan Brunei Darussalam dan umat Islam dalam penggunaan tulisan Jawi (Arab pegon) dan Arab, Fakultas Bahasa Arab dan Peradaban Islam Universitas Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) menyelenggarakan Konferensi Regional Tulisan Jawi dan Arab selama dua hari mulai hari Rabu kemarin hingga hari (17 – 18 September 2014).
Pembukaan konferensi yang diadakan di Balai Jubilee, UNISSA dan dibuka oleh Menteri Pendidikan, Yang Berhormat Pehin Orang Kaya Seri Kerna Dato Seri Setia (Dr.) Haji Awang Abu Bakar bin Haji Apong.
Dalam pengantarnya, Dekan Fakultas Bahasa Arab dan Peradaban Islam, UNISSA, Dr Abang Haji Hadzmin bin Abang Haji Taha yang juga selaku Ketua Komite Kerja Konferensi Regional Tulisan Jawi dan Arab menjelaskan, tulisan Arab tersebar dan berkembang seiring dengan perkembangan Islam di beberapa negara. Di antaranya beberapa bahasa Asia seperti Farsi, Turki, Urdhu, Melayu, bahasa bagi beberapa warga China dan lain-lain lagi sejak beberapa abad dan telah melalui berbagai perubahan.
“Tulisan Jawi hari ini merupakan hasil usaha para ilmuwan terdahulu melintasi zaman terus berkembang bersama peradaban dan tuntutan perubahan yang membuktikan kekuatan huruf Arab mampu menerima perubahan dan penambahan sesuai perkembangan bahasa,” ujarnya dikutip laman pelitabrunei.gov.bn.
Menurutnya, upaya melestarikan penggunaan tulisan huruf Arab berkelanjutan terutama di Negara Brunei Darussalam yang menyadari tulisan Jawi sebagai warisan peradaban berharga bahkan berusaha mengembangkannya melalui berbagai lembaga pendidikan pemerintah dan lain-lain.
Pada upacara pembukaan keynote disampaikan oleh Direktur Kebudayaan dan Komunikasi Organisasi Pendidikan, Sains dan Kebudayaan Islam (ISESCO), Dr Mustafa Ahmed Ali.
Konferensi dua hari itu akan menyajikan 27 makalah dari para pembicara dalam dan luar negeri di antaranya dari Afghanistan, Yordania, China, Malaysia, Indonesia dan Sudan.
Konferensi diikuti oleh sekitar 200 para pencinta tulisan huruf Arab dan Jawi dari kalangan tenaga akademik, guru-guru, pegawai dan staf pemerintah dan swasta, para siswa dan pribadi.
Antara tujuan konferensi adalah untuk mengenali berbagai tulisan yang menggunakan huruf Arab serta menghargainya, di samping mengenal dan meningkatkan hubungan dan kerjasama antara lembaga dan individu yang menggunakan huruf Arab.
Selain itu, konferensi juga diharap sebagai sharing pengalaman antara berbagai pihak dan rekomendasi ke arah meningkatkan penggunaan tulisan Jawi serta mengetahui metode pengajaran ejaan-ejaan tulisan Arab dan Jawi serta seni khatnya.
Seperti diketahui, tulisan Arab-Jawi telah mulai punah dipakai di Indonesia. Di saat yang sama dua negara tetangga, Brunei Darussallam dan Malaysia justru giat menganjurkan penggunaannya.*
Hidayatullah.com—Guna mendukung usaha-usaha pemerintah Kerajaan Brunei Darussalam dan umat Islam dalam penggunaan tulisan Jawi (Arab pegon) dan Arab, Fakultas Bahasa Arab dan Peradaban Islam Universitas Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) menyelenggarakan Konferensi Regional Tulisan Jawi dan Arab selama dua hari mulai hari Rabu kemarin hingga hari (17 – 18 September 2014).
Pembukaan konferensi yang diadakan di Balai Jubilee, UNISSA dan dibuka oleh Menteri Pendidikan, Yang Berhormat Pehin Orang Kaya Seri Kerna Dato Seri Setia (Dr.) Haji Awang Abu Bakar bin Haji Apong.
Dalam pengantarnya, Dekan Fakultas Bahasa Arab dan Peradaban Islam, UNISSA, Dr Abang Haji Hadzmin bin Abang Haji Taha yang juga selaku Ketua Komite Kerja Konferensi Regional Tulisan Jawi dan Arab menjelaskan, tulisan Arab tersebar dan berkembang seiring dengan perkembangan Islam di beberapa negara. Di antaranya beberapa bahasa Asia seperti Farsi, Turki, Urdhu, Melayu, bahasa bagi beberapa warga China dan lain-lain lagi sejak beberapa abad dan telah melalui berbagai perubahan.
“Tulisan Jawi hari ini merupakan hasil usaha para ilmuwan terdahulu melintasi zaman terus berkembang bersama peradaban dan tuntutan perubahan yang membuktikan kekuatan huruf Arab mampu menerima perubahan dan penambahan sesuai perkembangan bahasa,” ujarnya dikutip laman pelitabrunei.gov.bn.
Menurutnya, upaya melestarikan penggunaan tulisan huruf Arab berkelanjutan terutama di Negara Brunei Darussalam yang menyadari tulisan Jawi sebagai warisan peradaban berharga bahkan berusaha mengembangkannya melalui berbagai lembaga pendidikan pemerintah dan lain-lain.
Pada upacara pembukaan keynote disampaikan oleh Direktur Kebudayaan dan Komunikasi Organisasi Pendidikan, Sains dan Kebudayaan Islam (ISESCO), Dr Mustafa Ahmed Ali.
Konferensi dua hari itu akan menyajikan 27 makalah dari para pembicara dalam dan luar negeri di antaranya dari Afghanistan, Yordania, China, Malaysia, Indonesia dan Sudan.
Konferensi diikuti oleh sekitar 200 para pencinta tulisan huruf Arab dan Jawi dari kalangan tenaga akademik, guru-guru, pegawai dan staf pemerintah dan swasta, para siswa dan pribadi.
Antara tujuan konferensi adalah untuk mengenali berbagai tulisan yang menggunakan huruf Arab serta menghargainya, di samping mengenal dan meningkatkan hubungan dan kerjasama antara lembaga dan individu yang menggunakan huruf Arab.
Selain itu, konferensi juga diharap sebagai sharing pengalaman antara berbagai pihak dan rekomendasi ke arah meningkatkan penggunaan tulisan Jawi serta mengetahui metode pengajaran ejaan-ejaan tulisan Arab dan Jawi serta seni khatnya.
Seperti diketahui, tulisan Arab-Jawi telah mulai punah dipakai di Indonesia. Di saat yang sama dua negara tetangga, Brunei Darussallam dan Malaysia justru giat menganjurkan penggunaannya.*
19.9.14
Amien Rais: Pemilik Modal Kendalikan Media untuk Politik
Pemilik modal juga ikut mengendalikan peran media massa. Sehingga pemilik modal tetap terjaga pengaruhnya bagi pasangan yang dikehendakinya
Hidayatullah.com–Demokrasi saat ini mencerminkan demokrasi pemilik modal. Ini terlihat sebagai contoh saat Pemiliahan Kepala Daerah (Pilkada), di mana pemilik modal campur tangan begitu kuat.
“Demokrasi dibiayai oleh pemilik modal,” ucap Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Dr Amien Rais dalam diskusi ‘RUU Pilkada untuk Kesejahteraan Rakyat’ di hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (17/09/2014) di Jakarta kemarin.
Menurut Amien Rais, keterlibatan pemilik modal acapkali mendikte politik. Selain itu, mantan Ketua MPR tersebut juga mengatakan, pemilik modal juga ikut mengendalikan peran media massa. Sehingga pemilik modal tetap terjaga pengaruhnya bagi pasangan yang dikehendakinya, dan dapat dikontrol.
“Media massa menjadi penjaga kemapanan bagi penguasa pemilik modal,” tegasnya.
Sebab itu, pemimpin yang nanti terpilih adalah pemimpin pesanan.
Amien yang merupakan tokoh Muhammadiyah ini juga mengingatkan agar Koalisi Merah Putih yang telah terbangun agar menjaga kesolidannya. Dan jika ada keluar dari koalisi ini, Amien menilai itu adalah sebagai tindakan tidak cerdas. “Keluar dari Koalisi Merah Putih gabung, adalah tindakan bodoh,” ujarnya mengingatkan.
Amien memberikan pendapatnya mengenai Pilkada tidak langsung adalah salah satu untuk menyelamatkan tujuan-tujuan reformasi.
Amien menyampaikan hal tersebut di depan awak media, pimpinan ICMI, peneliti, elit partai, dan masyarakat lainnya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, kemarin malam Ia berharap agar reformasi tetap berdiri pada tujuan awal, demi kemaslahatan rakyat.*
Hidayatullah.com–Demokrasi saat ini mencerminkan demokrasi pemilik modal. Ini terlihat sebagai contoh saat Pemiliahan Kepala Daerah (Pilkada), di mana pemilik modal campur tangan begitu kuat.
“Demokrasi dibiayai oleh pemilik modal,” ucap Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Dr Amien Rais dalam diskusi ‘RUU Pilkada untuk Kesejahteraan Rakyat’ di hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (17/09/2014) di Jakarta kemarin.
Menurut Amien Rais, keterlibatan pemilik modal acapkali mendikte politik. Selain itu, mantan Ketua MPR tersebut juga mengatakan, pemilik modal juga ikut mengendalikan peran media massa. Sehingga pemilik modal tetap terjaga pengaruhnya bagi pasangan yang dikehendakinya, dan dapat dikontrol.
“Media massa menjadi penjaga kemapanan bagi penguasa pemilik modal,” tegasnya.
Sebab itu, pemimpin yang nanti terpilih adalah pemimpin pesanan.
Amien yang merupakan tokoh Muhammadiyah ini juga mengingatkan agar Koalisi Merah Putih yang telah terbangun agar menjaga kesolidannya. Dan jika ada keluar dari koalisi ini, Amien menilai itu adalah sebagai tindakan tidak cerdas. “Keluar dari Koalisi Merah Putih gabung, adalah tindakan bodoh,” ujarnya mengingatkan.
Amien memberikan pendapatnya mengenai Pilkada tidak langsung adalah salah satu untuk menyelamatkan tujuan-tujuan reformasi.
Amien menyampaikan hal tersebut di depan awak media, pimpinan ICMI, peneliti, elit partai, dan masyarakat lainnya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, kemarin malam Ia berharap agar reformasi tetap berdiri pada tujuan awal, demi kemaslahatan rakyat.*
17.9.14
(Akhir Zaman) Percikan Api Itu Telah Ada
Oleh: Abdul Qodir
Senin, 25 Agustus 2014, Pukul 22.01 WIB saya dapat sms dari adik angkatan,
“Mas, di rumah lagi ribut. Masalah ISIS dan ana kebawa2, untuk syabab di daerah ana kena semua”
Spontan saya langsung menelpon untuk mengklarifikasi. Suara parau dia cukup membuat saya sangat tertekan, dia bertutur bahwa pukul 03.00 dini hari dijemput dari kost oleh ayahnya, kepala desa, tokoh masyarakat untuk diklarifikasi Interpol. “Semua syabab (sebutan pemuda yang mengaji) pemalang kena” ujarnya terbata-bata dan sangat lirih di telepon.
Seketika air mata yang ditahan-tahan malah membuat pikiran panas. Munculah pertanyaan besar: Kali ini begitu se-sensitif inikah bicara Islam?. Saya mengingat-ngingat bagai mana anak ini tingkah lakunya, perangainya, keinginannya. Adakah keterkaitan dengan ISIS dan semacamnya? Atau Al-Qaeda? Teroris? Jauh panggang dari api, saya kehabisan akal untuk mengait-ngaitkannya. Tapi mengapa tiba-tiba ia diciduk? Yang paling menyakitkan adalah sesudahnya bahwa ia dipaksa membuat surat pernyataan untuk tidak melanjutkan kuliahnya dengan alasan dalam masa pengawasan.
Di tempat yang lain ada pedagang es, tukang becak, dan pemuda, yang mengalami hal serupa. Mereka diciduk tanpa alasan yang jelas, kemudian dibebaskan tanpa ucapan apapun dengan beban moral yang sudah tercedrai. Mereka kebingungan dengan kesalahan apa yang telah dilakukannya. Media menyorotnya, melambungkannya, menyimpan dalam kolom di headline news, sehingga ketakutan demi ketakutan yang diciptakan memberikan penegasan bahwa inilah saat-saat kita tak boleh bicara ideologi Islam. Inilah saat di mana kita tidak boleh bermimpi menjalankan kewajiban dalam beragama secara utuh, Inilah saat-saat kita bungkam, diam, dan cemas saja melihat penangkapan demi penangkapan yang tak jelas alasannya.
Di tengah kelelahan mengurai kesemrawutan ini, masih ada juga dikalangan manusia yang tidak jujur dalam berbicara, yang tidak mau membaca berita, yang nyaman dengan ketidakmengertian fakta, kemudian melacur pada media yang tak mereka pahami tujuan-tujuannya. Dengan kebodohannya itu lalu mengolok-ngolok dan berkata: Benarlah apa yang dilakukan densus, terorisme harus dimusnahkan, Islam tidak mengajarkan radikalisme.
Terorisme semodel apakah yang dimaksud? hingga anak lugu pun dianggap teroris? hingga Al-Quran pun dijadikan barang bukti? hingga masyarakat yang tak mengeri apa-apa dibiarkan terhipnotis menganggap keyakinan yang sedang mereka anut adalah kesalahan? hingga masjid-masjid menjadi kosong? hingga telunjuk yang diacungkan saat sholat menjadi gamang untuk tegak? hingga muncul kecemasan yang mendalam? hingga pada akhirnya saya berkesimpulan tak terhinggalah kesintingan ini.
Sedangkan Noam Chomsky saat ini sudah menjadi ibarat nabi bagi orang-orang kiri. Pergerakannya yang terus menghantam Kapitalisme dengan teratur sudah melahirkan anak didiknya masuk di roda pemerintahan. Sosialisme tercium dan ia baik-baik saja.
Di lain kubu Obama selalu bersiap dengan penggenjotan opini yang lebih masif, warisan dari Bush tentang konsep “war on terror” nya sambil sesekali engkang kaki mencomoti kekayaan alam di negara jajahannya.
Demikianlah kesintingan ada di mana-mana. Kalau seandainya ideologi Islam tidak mempunyai suatu kekuatan yang tersembunyi, yang sebenarnya mampu membereskannya, maka Islam tidak akan tumbuh kembali.
Tetapi saat ini kita masih hidup. Saat ini para pengembang ideologi ini masih bisa bicara. Kita tidak buta dan tidak tuli bahwa pasang surut Islam itu mulai nampak ke permukaan. Halangan-halangan yang digembor-gemborkan imperialis barat dan invasi yang mulai dimunculkan bangsa Simpanse memang telah sekuat tenaga mencoba menahannya.
Lalu kedepan apa yang akan terjadi?
Jawabannya sudah diwakili Sayyid Quthb dalah salah satu catatannya:
Pasang itu akan terus naik. Bendungan-bendungan itu akan jebol. Para Simpanse akan dihanyutkan ombak dan gelombang. Di waktu itulah Islam akan sempurna. Bendera Islam akan berkibar tinggi. Islam yang benar.Islam yang mengatur seluruh kehidupan.
Ya, Percikan ini hanyalah akan membuat para pengemban Ideologi ini bersemangat.
@aab_elkarimi | Mahasiswa Universitas Negeri Semarang, Ketua Gema Pembebasan Komsat Unnes
Senin, 25 Agustus 2014, Pukul 22.01 WIB saya dapat sms dari adik angkatan,
“Mas, di rumah lagi ribut. Masalah ISIS dan ana kebawa2, untuk syabab di daerah ana kena semua”
Spontan saya langsung menelpon untuk mengklarifikasi. Suara parau dia cukup membuat saya sangat tertekan, dia bertutur bahwa pukul 03.00 dini hari dijemput dari kost oleh ayahnya, kepala desa, tokoh masyarakat untuk diklarifikasi Interpol. “Semua syabab (sebutan pemuda yang mengaji) pemalang kena” ujarnya terbata-bata dan sangat lirih di telepon.
Seketika air mata yang ditahan-tahan malah membuat pikiran panas. Munculah pertanyaan besar: Kali ini begitu se-sensitif inikah bicara Islam?. Saya mengingat-ngingat bagai mana anak ini tingkah lakunya, perangainya, keinginannya. Adakah keterkaitan dengan ISIS dan semacamnya? Atau Al-Qaeda? Teroris? Jauh panggang dari api, saya kehabisan akal untuk mengait-ngaitkannya. Tapi mengapa tiba-tiba ia diciduk? Yang paling menyakitkan adalah sesudahnya bahwa ia dipaksa membuat surat pernyataan untuk tidak melanjutkan kuliahnya dengan alasan dalam masa pengawasan.
Di tempat yang lain ada pedagang es, tukang becak, dan pemuda, yang mengalami hal serupa. Mereka diciduk tanpa alasan yang jelas, kemudian dibebaskan tanpa ucapan apapun dengan beban moral yang sudah tercedrai. Mereka kebingungan dengan kesalahan apa yang telah dilakukannya. Media menyorotnya, melambungkannya, menyimpan dalam kolom di headline news, sehingga ketakutan demi ketakutan yang diciptakan memberikan penegasan bahwa inilah saat-saat kita tak boleh bicara ideologi Islam. Inilah saat di mana kita tidak boleh bermimpi menjalankan kewajiban dalam beragama secara utuh, Inilah saat-saat kita bungkam, diam, dan cemas saja melihat penangkapan demi penangkapan yang tak jelas alasannya.
Di tengah kelelahan mengurai kesemrawutan ini, masih ada juga dikalangan manusia yang tidak jujur dalam berbicara, yang tidak mau membaca berita, yang nyaman dengan ketidakmengertian fakta, kemudian melacur pada media yang tak mereka pahami tujuan-tujuannya. Dengan kebodohannya itu lalu mengolok-ngolok dan berkata: Benarlah apa yang dilakukan densus, terorisme harus dimusnahkan, Islam tidak mengajarkan radikalisme.
Terorisme semodel apakah yang dimaksud? hingga anak lugu pun dianggap teroris? hingga Al-Quran pun dijadikan barang bukti? hingga masyarakat yang tak mengeri apa-apa dibiarkan terhipnotis menganggap keyakinan yang sedang mereka anut adalah kesalahan? hingga masjid-masjid menjadi kosong? hingga telunjuk yang diacungkan saat sholat menjadi gamang untuk tegak? hingga muncul kecemasan yang mendalam? hingga pada akhirnya saya berkesimpulan tak terhinggalah kesintingan ini.
Sedangkan Noam Chomsky saat ini sudah menjadi ibarat nabi bagi orang-orang kiri. Pergerakannya yang terus menghantam Kapitalisme dengan teratur sudah melahirkan anak didiknya masuk di roda pemerintahan. Sosialisme tercium dan ia baik-baik saja.
Di lain kubu Obama selalu bersiap dengan penggenjotan opini yang lebih masif, warisan dari Bush tentang konsep “war on terror” nya sambil sesekali engkang kaki mencomoti kekayaan alam di negara jajahannya.
Demikianlah kesintingan ada di mana-mana. Kalau seandainya ideologi Islam tidak mempunyai suatu kekuatan yang tersembunyi, yang sebenarnya mampu membereskannya, maka Islam tidak akan tumbuh kembali.
Tetapi saat ini kita masih hidup. Saat ini para pengembang ideologi ini masih bisa bicara. Kita tidak buta dan tidak tuli bahwa pasang surut Islam itu mulai nampak ke permukaan. Halangan-halangan yang digembor-gemborkan imperialis barat dan invasi yang mulai dimunculkan bangsa Simpanse memang telah sekuat tenaga mencoba menahannya.
Lalu kedepan apa yang akan terjadi?
Jawabannya sudah diwakili Sayyid Quthb dalah salah satu catatannya:
Pasang itu akan terus naik. Bendungan-bendungan itu akan jebol. Para Simpanse akan dihanyutkan ombak dan gelombang. Di waktu itulah Islam akan sempurna. Bendera Islam akan berkibar tinggi. Islam yang benar.Islam yang mengatur seluruh kehidupan.
Ya, Percikan ini hanyalah akan membuat para pengemban Ideologi ini bersemangat.
@aab_elkarimi | Mahasiswa Universitas Negeri Semarang, Ketua Gema Pembebasan Komsat Unnes
14.9.14
Kemana Arah Kicau Isu Islamic State (ISIS) Ini Dibawa?
Oleh: Abu Fikri (Aktivis Gerakan Revivalis di Indonesia)
AS dibawah komando Obama hampir mampu menyatukan berbagai negara termasuk Indonesia menjadikan Islamic State atau Daulah Islam yang di Indonesia dibranding dengan label ISIS ini sebagai “common enemy”.
Tanpa mencoba merefleksi bagaimana sejarah panjang peta percaturan politik AS bersama sekutu-sekutunya di berbagai negara. Tulisan ini bukan bermaksud untuk membela IS atau sebaliknya memojokkan AS tetapi sekedar melihat sebuah fenomena dimana IS mampu menjadi magnet yang bisa menyatukan kepentingan AS bersama dengan berbagai negara yang mendukungnya. Berbarengan dengan beragam kejanggalan pemberitaan seputar IS.
Di antaranya Pertama, beberapa keganjilan video pemenggalan 2 warga negara AS yang berhasil diungkap oleh Al Jazeera. Kedua, ditemukannya beberapa jenis persenjataan di tangan IS dari jenis yang dimiliki oleh AS dan Arab Saudi. Dan lain-lain. Desain opini melalui berbagai momentum yang dikaitkan IS mirip dengan peledakan WTC pada peristiwa 9/11. Cuman jika dulu fokus pada satu titik momentum.
Saat ini seluruh momentum yang dikaitkan dengan IS dikompilasi dalam berbagai tayangan video/berita secara sporadis. Semuanya berujung pada sebuah legitimasi pentingnya dilakukan invasi militer. Ingat invasi AS ke Afghanistan dan Irak menggunakan legitimasi perburuan terhadap terduga pelaku pengeboman WTC Usama bin Laden pimpinan Al Qaeda. Belakangan diragukan kebenaran otak pelaku pengeboman WTC adalah Usama Bin Ladin. Maka nampaknya dalam pandangan AS, IS perlu dikonstruksi secara rasional sebagai entitas yang layak sebagai musuh bersama dunia.
Berbeda dengan konstelasi internasional di seputar potitioning IS di mata AS bersama para pendukungnya dengan konstelasi politik nasional yang berkembang di negeri ini. Fenomena IS benar-benar dimanfaatkan secara utuh oleh para pengambil kebijakan negeri ini. Di antaranya bahwa BNPT tahu persis gaya, pola dan target gerakan-gerakan yang dikategorikan sebagai kategori radikal. Baik radikal secara aksi maupun secara pemikiran. Hal itu diperkuat oleh dukungan TNI Polri yang tetap komit bahwa NKRI harga mati. Jika nampak secara formal di banyak kesempatan TNI Polri membuka wacana dialog bagi kelompok-kelompok radikal hal itu sebenarnya dalam kerangka untuk mengembangkan fungsi kontrol dan monitoring. Contoh kasus adalah kedatangan delegasi beberapa ormas Islam saat diterima audiensi pertanyaan yang sering dilontarkan adalah berapa jumlah anggotanya. Beberapa hari yang lalu 10 September 2014, Jendral Moeldoko (Panglima TNI) mengumpulkan semua Ormas Islam di Cilangkap membuat MOU dengan seluruh Ormas Islam (NU dan lain lain) meminta ijin babinsa/intel terbuka untuk masuk ke pesantren-pesantren guna mensosialisasikan bahwa NKRI harga mati dan tangkal seluruh paham radikal untuk merubah NKRI. Di tengah hampir semua ormas islam menyatakan bahwa NKRI harga mati.
Di sisi lain BNPT dengan program deradikalisasinya membuat seluruh instansi larut dalam pusaran isu ISIS sebagai legitimasi. Dan semua kementrian lintas sektoral diinstruksikan agar sinergi mengawal penangkalan terhadap paham radikal di antaranya khilafah dan jihad. Yakni sinergi Kemenlu, Menkoinfokom, Mabes TNI, BNPT, BAIS, Komnas HAM, Pengadilan Tinggi, dan lain-lain. Sementara itu juga ditempuh jalan legal melalui regulasi dengan substansi antara lain ; menjerat aktifitas yang diklaim sebagai menghasut, provokasi, menebar ideologi kebencian, mengajak kekerasan, mengancam kebinekaan melalui RUU BNPT, revisi UU Terorisme dan RUU Paham Radikal.
Selain jalan ilegal melalui rekayasa. Rekayasa untuk menjadikan gerakan islam yang diklaim sebagai radikal pemikiran hanya sebagai "pemanis" dalam pernak pernik Demokrasi. Atau melakukan operasi 5i pada gerakan radikal aksi. Infiltrasi, radikalisasi, aksi, stigmatisasi dan monsterisasi. Mengkotak khilafah dan jihad sebatas wacana pemikiran saja. Menyumbat seluruh saluran yang memungkinkan terjadinya Islam sebagai aturan hidup bernegara dan bermasyarakat. Dengan memantapkan doktrin bela negara sebagai sumpah setia TNI Polri mengawal dan menjaga NKRI.
Secara internasional, akhir Oktober ini PBB meminta sekitar 17 orang disetor sebagai teroris dari Indonesia jika tidak dilaksanakan maka dikenakan sanksi dan lain lain. Dimunculkan juga resolusi PBB untuk membekukan aset dan penyitaan aset sampai tujuh turunan kepada yang diklaim teroris.
Ke arah mana lagi mereka akan berkicau?
Wallahu a’lam bis shawab. - See more at: http://www.voa-islam.com/read/world-analysis/2014/09/14/32837/kemana-arah-kicau-isu-islamic-state-isis-ini-dibawa/#sthash.0rNYtYwo.dpuf
AS dibawah komando Obama hampir mampu menyatukan berbagai negara termasuk Indonesia menjadikan Islamic State atau Daulah Islam yang di Indonesia dibranding dengan label ISIS ini sebagai “common enemy”.
Tanpa mencoba merefleksi bagaimana sejarah panjang peta percaturan politik AS bersama sekutu-sekutunya di berbagai negara. Tulisan ini bukan bermaksud untuk membela IS atau sebaliknya memojokkan AS tetapi sekedar melihat sebuah fenomena dimana IS mampu menjadi magnet yang bisa menyatukan kepentingan AS bersama dengan berbagai negara yang mendukungnya. Berbarengan dengan beragam kejanggalan pemberitaan seputar IS.
Di antaranya Pertama, beberapa keganjilan video pemenggalan 2 warga negara AS yang berhasil diungkap oleh Al Jazeera. Kedua, ditemukannya beberapa jenis persenjataan di tangan IS dari jenis yang dimiliki oleh AS dan Arab Saudi. Dan lain-lain. Desain opini melalui berbagai momentum yang dikaitkan IS mirip dengan peledakan WTC pada peristiwa 9/11. Cuman jika dulu fokus pada satu titik momentum.
Saat ini seluruh momentum yang dikaitkan dengan IS dikompilasi dalam berbagai tayangan video/berita secara sporadis. Semuanya berujung pada sebuah legitimasi pentingnya dilakukan invasi militer. Ingat invasi AS ke Afghanistan dan Irak menggunakan legitimasi perburuan terhadap terduga pelaku pengeboman WTC Usama bin Laden pimpinan Al Qaeda. Belakangan diragukan kebenaran otak pelaku pengeboman WTC adalah Usama Bin Ladin. Maka nampaknya dalam pandangan AS, IS perlu dikonstruksi secara rasional sebagai entitas yang layak sebagai musuh bersama dunia.
Salah satu jalan yang paling efektif untuk membrandingnya adalah dengan memblow up secara masif gambaran ideologi IS sebagai sebuah ideologi penuh kekerasan.Salah satu jalan yang paling efektif untuk membrandingnya adalah dengan memblow up secara masif gambaran ideologi IS sebagai sebuah ideologi penuh kekerasan. Dan diduga potensial menciptakan kekerasan dunia. Meski belakangan ajakan rencana serangan AS dengan skala luas ditampik oleh Turki. Dan disikapi secara dingin oleh China.
Berbeda dengan konstelasi internasional di seputar potitioning IS di mata AS bersama para pendukungnya dengan konstelasi politik nasional yang berkembang di negeri ini. Fenomena IS benar-benar dimanfaatkan secara utuh oleh para pengambil kebijakan negeri ini. Di antaranya bahwa BNPT tahu persis gaya, pola dan target gerakan-gerakan yang dikategorikan sebagai kategori radikal. Baik radikal secara aksi maupun secara pemikiran. Hal itu diperkuat oleh dukungan TNI Polri yang tetap komit bahwa NKRI harga mati. Jika nampak secara formal di banyak kesempatan TNI Polri membuka wacana dialog bagi kelompok-kelompok radikal hal itu sebenarnya dalam kerangka untuk mengembangkan fungsi kontrol dan monitoring. Contoh kasus adalah kedatangan delegasi beberapa ormas Islam saat diterima audiensi pertanyaan yang sering dilontarkan adalah berapa jumlah anggotanya. Beberapa hari yang lalu 10 September 2014, Jendral Moeldoko (Panglima TNI) mengumpulkan semua Ormas Islam di Cilangkap membuat MOU dengan seluruh Ormas Islam (NU dan lain lain) meminta ijin babinsa/intel terbuka untuk masuk ke pesantren-pesantren guna mensosialisasikan bahwa NKRI harga mati dan tangkal seluruh paham radikal untuk merubah NKRI. Di tengah hampir semua ormas islam menyatakan bahwa NKRI harga mati.
Di sisi lain BNPT dengan program deradikalisasinya membuat seluruh instansi larut dalam pusaran isu ISIS sebagai legitimasi. Dan semua kementrian lintas sektoral diinstruksikan agar sinergi mengawal penangkalan terhadap paham radikal di antaranya khilafah dan jihad. Yakni sinergi Kemenlu, Menkoinfokom, Mabes TNI, BNPT, BAIS, Komnas HAM, Pengadilan Tinggi, dan lain-lain. Sementara itu juga ditempuh jalan legal melalui regulasi dengan substansi antara lain ; menjerat aktifitas yang diklaim sebagai menghasut, provokasi, menebar ideologi kebencian, mengajak kekerasan, mengancam kebinekaan melalui RUU BNPT, revisi UU Terorisme dan RUU Paham Radikal.
Selain jalan ilegal melalui rekayasa. Rekayasa untuk menjadikan gerakan islam yang diklaim sebagai radikal pemikiran hanya sebagai "pemanis" dalam pernak pernik Demokrasi. Atau melakukan operasi 5i pada gerakan radikal aksi. Infiltrasi, radikalisasi, aksi, stigmatisasi dan monsterisasi. Mengkotak khilafah dan jihad sebatas wacana pemikiran saja. Menyumbat seluruh saluran yang memungkinkan terjadinya Islam sebagai aturan hidup bernegara dan bermasyarakat. Dengan memantapkan doktrin bela negara sebagai sumpah setia TNI Polri mengawal dan menjaga NKRI.
Secara internasional, akhir Oktober ini PBB meminta sekitar 17 orang disetor sebagai teroris dari Indonesia jika tidak dilaksanakan maka dikenakan sanksi dan lain lain. Dimunculkan juga resolusi PBB untuk membekukan aset dan penyitaan aset sampai tujuh turunan kepada yang diklaim teroris.
Ke arah mana lagi mereka akan berkicau?
Wallahu a’lam bis shawab. - See more at: http://www.voa-islam.com/read/world-analysis/2014/09/14/32837/kemana-arah-kicau-isu-islamic-state-isis-ini-dibawa/#sthash.0rNYtYwo.dpuf
10.9.14
Pria Penghina Nabi dan Umat Islam itu “Mewek” Saat Hakim Menjatuhkan Hukuman
Ia mengirim komentar yang menyinggung perasaan penganut agama Islam termasuk “Selamat menyambut hari setan Idul Fitri pada 28 Juli 2014'
Hidayatullah.com–Seorang supervisor situs konstruksi mendapat ganjaran penjara oleh Pengadilan Sesi Kuala Lumpur hari Rabu (10/09/2014) setelah mengaku bersalah atas tuduhan membuat komentar yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan Islam melalui akun Facebook, Juni lalu.
Tertuduh, Chow Mun Fai ( 37), yang juga menyebutkan nama lain ‘Chow Jack’ membuat pengakuan itu ketika tuduhan dibacakan di hadapan Hakim Azman Mustapha.
Saat mendengar tuduhan diajukan jaksa Suhaimi Ibrahim, Mun Fai yang hadir ke pengadilan, mengenakan kaos pink dan celana biru, terlihat menangis terisak-isak.
Mun Fai dituduh telah menggunakan aplikasi Facebook dan mengirim komentar yang menyinggung perasaan penganut agama lain termasuk “Selamat menyambut hari setan Idul Fitri pada 28 Juli 2014′.
Mun Fai dituduh melakukan kesalahan itu saat di Kuala Lumpur Performing Art Centre (KLPAC), Sentul Park, jam 10.30 pagi, pada 12 Juni lalu.
Penuntutan terhadapnya diajukan berdasarkan Pasal 233 (1) (a) Akta Komunikasi dan Multimedia 1998 (Akta 588) yang membawa hukuman denda maksimum RM50,000 atau penjara maksimal satu tahun atau kedua-duanya jika terbukti bersalah.
Pihak pengacaranya, Ahmad Ridza Mohd Noh yang mewakili Mun Fai, memohon agar hukumannya diringankan dengan alasan terdakwa harus menjaga kedua orangtuanya yang sudah uzur.
“Orang diingatkan untuk tidak menyiarkan kata-kata bersifat ofensif yang dapat menimbulkan kemarahan orang lain sehingga menyebabkan runtuhnya keharmonisan dalam kalangan masyarakat ini,” kata Hakim Azman Mustapha, dikutip Berita Harian, sebelum menjatuhkan hukuman penjara setahun pria keturunan Thionghoa itu.*
Hidayatullah.com–Seorang supervisor situs konstruksi mendapat ganjaran penjara oleh Pengadilan Sesi Kuala Lumpur hari Rabu (10/09/2014) setelah mengaku bersalah atas tuduhan membuat komentar yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan Islam melalui akun Facebook, Juni lalu.
Tertuduh, Chow Mun Fai ( 37), yang juga menyebutkan nama lain ‘Chow Jack’ membuat pengakuan itu ketika tuduhan dibacakan di hadapan Hakim Azman Mustapha.
Saat mendengar tuduhan diajukan jaksa Suhaimi Ibrahim, Mun Fai yang hadir ke pengadilan, mengenakan kaos pink dan celana biru, terlihat menangis terisak-isak.
Mun Fai dituduh telah menggunakan aplikasi Facebook dan mengirim komentar yang menyinggung perasaan penganut agama lain termasuk “Selamat menyambut hari setan Idul Fitri pada 28 Juli 2014′.
Mun Fai dituduh melakukan kesalahan itu saat di Kuala Lumpur Performing Art Centre (KLPAC), Sentul Park, jam 10.30 pagi, pada 12 Juni lalu.
Penuntutan terhadapnya diajukan berdasarkan Pasal 233 (1) (a) Akta Komunikasi dan Multimedia 1998 (Akta 588) yang membawa hukuman denda maksimum RM50,000 atau penjara maksimal satu tahun atau kedua-duanya jika terbukti bersalah.
Pihak pengacaranya, Ahmad Ridza Mohd Noh yang mewakili Mun Fai, memohon agar hukumannya diringankan dengan alasan terdakwa harus menjaga kedua orangtuanya yang sudah uzur.
“Orang diingatkan untuk tidak menyiarkan kata-kata bersifat ofensif yang dapat menimbulkan kemarahan orang lain sehingga menyebabkan runtuhnya keharmonisan dalam kalangan masyarakat ini,” kata Hakim Azman Mustapha, dikutip Berita Harian, sebelum menjatuhkan hukuman penjara setahun pria keturunan Thionghoa itu.*
Subscribe to:
Posts (Atom)









