9.3.14

Rencana ‘Pembersihan Etnik Muslim’ oleh Milisi Kristen di Afrika Tengah Gagal Dicegah

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan bahwa kekerasan sektarian bisa memecah negara itu menjadi wilayah Muslim dan Kristen

Seorang pria memegang pisau & menempelkan di tenggorokannya
dan mengatakan sedang mencari umat Islam di Bangui.
Hidayatullah.com–Amnesti Internasional merilis laporan pada hari Rabu (12/02/2014) dan menyebutkan bahwa mereka telah mendokumentasikan sedikitnya 200 pembunuhan Muslim oleh milisi Kristen di bagian barat negara itu.

Warga muslim yang dibunuh kelompok-kelompok milisi Kristen, yang dibentuk menyusul kudeta Maret 2013 oleh pemberontakan Seleka yang mayoritas muslim.

Pembersihan etnis muslim telah dilakukan di bagian barat Republik Afrika Tengah, bagian paling padat penduduknya di negara itu, sejak awal Januari 2014,” demikian laporan Amnesty seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (12/2/2014).

Seluruh komunitas Muslim telah dipaksa untuk melarikan diri, dan ratusan warga sipil Muslim yang gagal melarikan diri dibunuh oleh milisi yang terorganisir dikenal dengan anti-Balaka,” dikutip BBC.

Kelompok hak asasi itu juga menegaskan bahwa serangan terhadap umat Islam itu dilakukan setelah pemerintah berniat memaksa mengusir umat Muslim dari negara itu.

Milisi Kristen menganggap Muslim sebagai orang asing yang harus meninggalkan negara itu atau dibunuh,” sebut Amnesti.

Menurut organisasi itu, serangan-serangan milisi Kristen menyebabkan “warga Muslim meninggalkan tempat asal merea dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

Penduduk yang beragama Islam di Republik Afrika Tengah diserang setelah pasukan pemberontak Seleka yang umumnya Muslim merebut kekuasaan tahun lalu.

Mereka dituduh membunuh serta memperkosa warga Kristen dan menghancurkan desa-desa Kristen.

Milisi-milisi Kristen yang menyebut diri sebagai pasukan pembela diri atau anti-balaka melakukan aksi balas dendam sehingga memaksa penduduk Muslim melarikan diri dari Bangui dan kota-kota lain.

Warga di bandar udara

Akibat peristiwa ini, warga Muslim menjadikan bandar udara sebagai tempat aman karena dekat dengan markas pasukan Prancis dan Afrika. Bahkan pesawat-pesawat di Bandara M’poko, Bangui menjadi rumah sementara warga.

Seperti diketahui, Republik Afrika Tengah jatuh ke dalam kekacauan sejak Maret 2013 lalu setelah pemberontakan berhasil menggulingkan pemerintah, yang memicu kekerasan mematikan tiada berkesudahan di negeri itu.

Sementara itu Program Pangan Dunia mengatakan pesawat pertama yang mengangkut bantuan telah tiba di Bangui.

Pesawat mengangkut 82 beras yang didatangkan dari Kamerun. Namun lebih dari satu orang memerlukan bantuan pangan. Pertempuran di Republik Afrika Tengah mempersulit penyaluran bantuan melalui darat.

Sebelumnya Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan bahwa kekerasan sektarian bisa memecah negara itu menjadi wilayah Muslim dan Kristen.*


Teroris Kristen Membunuh Lagi Puluhan Muslim Afrika Tengah

Kelompok Kristen Anti-Balaka menginjak
mayat Muslim yang kaki dan tangannya dipotong.
Hidayatullah.com—Anggota kelompok teroris Kristen bersenjata membunuh sedikitnya 70 orang Muslim di daerah pelosok di barat daya Republik Afrika Tengah, dengan menyuruh mereka berbaring di tanah talu ditembak satu persatu, kata para saksi Senin (24/2/2014) dilansir Associated Press.

Kelompok teroris Kristen bersenjata yang dikenal dengan sebutan “anti-Balaka”, membantai warga Muslim di desa Guen awal bulan ini, kata seorang pendeta Katolik Rigobert Dolongo yang ikut mengubur mayat-mayat korban kepada AP. Sebanyak 43 orang lainnya dibantai pada hari kedua.

Ibrahim Aboubakar, 22, menceritakan bahwa Anti-Balaka menyerbu Guen dan membunuh dua saudara laki-lakinya, setelah para teroris Kristen itu mendengar keduanya berbicara dalam bahasa Arab.

Kemudian pada hari itu mereka menangkapi puluhan orang dan memaksanya untuk tengkurap. Mereka menembakinya satu per satu,” kata Aboubakar yang mengungsi ke sebuah gereja Katolik di Carnot, sekitar 100 kilometer jauhnya. Kira-kira 800 orang lain juga pergi menyelamatkan diri.

Gisma Ahmad, yang menjadi janda di usia 18 tahun hanya bisa menangis mendapat kabar dari saudaranya yang mengatakan bahwa suaminya tewas dibunuh saat berusaha menyelamatkan diri. Gisma memiliki dua anak yang masih kecil, satu putri berusia 3 tahun dan satunya bayi 4 bulan yang masih menyusui.

Ratusan Muslim yang masih bertahan di Guen berlindung ke rumah imam dan juga gereja Katolik.

Orang-orang Islam di Guen, kata dua warga Muslim yang enggan menyebutkan namanya karena takut akan dibunuh, meminta pertolongan lewat telepon agar pasukan perdamaian Afrika datang ke Carnot.

Mereka juga mengatakan, milisi teror Anti-Balaka yang bersenjata lengkap masih menguasai desa pada hari Selasa.

Muslim di Republik Afrika Tengah hanya mencakup sekitar 15% dari total populasi 4,6 juta jiwa.

Namun, komandan pasukan perdamaian setempat mengatakan bahwa dia perlu izin dari atasannya di Bangui untuk pergi ke Guen.

Dilansir Aljazeera, Pada Januari 2014 penasihat khusus PBB soal pencegahan genosida mengatakan, situasi di Republik Afrika Tengah “berisiko tinggi terjadi kejahatan terhadap kemanusian dan genosida.”

Bulan ini, kelompok pemerhati hak asasi manusia Amnesty International mengatakan, pasukan penjaga perdamaian gagal mencegah pembersihan etnis atas Muslim di sebelah barat negara itu. Sehingga terjadi eksodus Muslim dalam jumlah sangat besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kondisi negara Republik Afrika Tengah semakin memburuk sejak tumbangnya pemerintahan Presiden Francois Bozize Maret 2013.

Kelompok teroris Kristen anti-Balaka makin merajalela pada September 2013, setelah kelompok Islam, Selaka, dilucuti oleh pasukan penjaga perdamaian dari Prancis. Sejak itu pembantaian dan genosida terhadap Muslim di Republik Afrika Tengah mengganas.

Sudah lebih dari seribu orang tewas sejak Nopember 2013.*


PBB: Dari 100 Ribu, kini hanya tersisa 900 Muslim di Bangui

Masjid-masjid dibakar, wanita-wanita diperkosa, kini kota-kota di bagian barat Afrika Tengah telah kosong dari umat Islam

Milisi Kristen Anti Balaka sedang menghancurkan
sebuah masjid di Kota Bangui
Hidayatullah.com– Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwasanya sebagian besar umat Islam telah meninggalkan Bangaui Ibu Kota Afrika Tengah akibat kekerasan berdarah yang dilakukan oleh milisi Kristen.

Valarie Amos, Kordinator urusan kemanusiaan PBB di Jenewa mengatakan pada konfrensi pers hari Jumat, (0/03/2014) bahwasanya kini tidak ada tersisa umat Islam di Bangui kecuali 900 Muslim dari 100 ribu lebih umat Islam yang semula berada di kota tersebut.

Dikutip Aljazeerah, Amos menambahkan demografi penduduk di Afrika Tengah kini telah berubah, di mana sebelumnya mencapai 145 ribu Muslim kini berkurang menjadi 100 ribu penduduk.

Populasi kaum Muslim turun sejak bulan Desember lalu dan menyusut lebih drastis pada dua bulan terakhir.

Kekerasan terhadap kaum Muslim semakin memuncak setelah pengasingan Michel Djaotodia presiden pertama di negara itu pada Januari lalu.

Sebagian besar umat Islam telah hijrah ke negara negara tetangga seperti Chad, Kamerun dll.

Sekarang di kota-kota bagian barat Afrika Tengah dikabarkan telah kosong dari umat Islam setelah sebagian lari ke utara.

Muhammad Said Ismail, seorang pemimpin Muslimin di Afrika Tengah meyakinkan kepada Aljazeera bahwa kini 300 masjid dihancurkan, perempuan dibantai dan banyak para lakilaki dibakar.

Seperti dalam sensus penduduk tahun 2003, jumlah penduduk Bangui, Republik Afrika Tengah berjumlah 531.783 jiwa.

Penduduk utama Republik Afrika Tengah sebagian tinggal di bagian barat negara itu, tepatnya di Bangui. Dengan luas wilayah 67 KM2, Bangui merupakan pusat ekonomi Republik Afrika Tengah sekaligus sebagai Ibu Kota Negara tersebut.*

8.3.14

Sultan Hassanal Bolkiah: "Kami Akan Terapkan Hukum Islam di Brunei Bulan Depan, Negara Barat Hormatilah Keputusan Kami!"


Raja Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah, mendesak warga negaranya untuk mendukung keputusan pemerintah yang akan memberlakukan hukum syariah Islam di negara kaya Asia Tenggara tersebut pada bulan April mendatang.

Selain itu Sultan Hassanal Bolkiah meminta negara-negara asing dan tetangga menghormati keputusan Brunei untuk menggunakan hukum Syariah.

Dalam pidatonya di depan anggota parlemen Brunei hari Kamis (06/03) kemarin, Sultan Hassanal Bolkiah mengatakan “Keputusan menerapkan hukum syariah Islam merupakan prestasi besar bagi negara, bukan sikap reaksioner atau berjalan mundur karena menggunakan Syariah.”

Akan tetapi langkah salah seorang terkaya di Asia itu telah memicu keprihatinan organisasi sekular yang "peduli" dengan hak asasi manusia.

Akan tetapi Sultan mengatakan, “Orang-orang yang tinggal di luar Brunei harus menghormati kami seperti kami menghormati mereka.

Perlu dicatat bahwa penduduk Muslim mencapai 66 % dari total jumlah penduduk Brunei Darussalam. (Bbcarabic/Ram)

Dukung Kebebasan Polwan Berjilbab, 4 Ormas Desak SBY Copot

4 gabungan ormas meminta mengizinkan TNI wanita dan Polwan untuk mengenakan seragam berjilbab dengan mengacu pada SKEP Panglima TNI No.346/X/2004 dan SKEP Kaporli No.SKEP/702/IX/2005 

Hak Polwan menjalankan syariat Islam
di tubuh Polri yang belum jelas nasibnya
Hidayatullah.com– Kebijakan penundaan jilbab bagi Polisi Wanita (Polwan) dinilai sebagai pengingkaran pada HAM dan UUD 1945. Alasan Kapolri tentang penundaan jilbab karena alasan aturan keseragaman dan pendanaan dinilai bentuk pengabaian Kapolri terhadap perlindungan hak asasi beragama yang dijamin oleh UUD 1945.

Demikian disampaikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Forum Silaturahmi Lembaga Da’wah Kampus (FSLDK), Pelajar Islam Indonesia (PII), Forum Persaudaraan untuk Perempuan dan Anak Indonesia (FRENDS) dalam rilis-nya Jumat (07/04/2014).

Dalam kondisi ini, sudah selayaknya kita meminta pertanggungjawaban Presiden SBY sebagai atasan Kapolri. Kita patut mempertanyakan komitmen SBY terhadap penegakan HAM dan penghormatan terhadap Hak muslimah yang kini mejadi Polwan. Sebagai Presiden dari sebuah Negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, harusnya SBY membuktikan keberpihakannya kepada jaminan melaksanakan ajaran Agama yang juga dilindung UUD 1945.

Menyikapi penundaan ini, gabungan 4 ormas ini menyatakan sikap:

Pertama, mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mencopot Kapolri kalau sampai tanggal 31 Maret 2014 belum memberikan kebebasan berjilbab untuk Polwan Indonesia;

Kedua, mendesak kepada Kapolri untuk Cabut Telegram Rahasia (TR) yang dikeluarkan mantan Wakapolri Komisaris Jenderal Oegroseno tertanggal 28 November 2013 yang memerintahkan jajaran Polri untuk menunda Polwan berjilbab. Hal ini bertentangan dengan prinsip HAM (Pasal 28 E ayat 1)

Ketiga, segera rubah Aturan Seragam Polri sebagai bagian dari agenda reformasi birokrasi Polri;

Keempat, meminta mengizinkan TNI wanita dan Polwan untuk mengenakan seragam berjilbab dengan mengacu pada SKEP Panglima TNI No.346/X/2004 dan SKEP Kaporli No.SKEP/702/IX/2005 yang mengatur seragam berjilbab di Aceh.*

Para Ahli Kimia Muslim adalah Pembuat Roket Bermesiu Pertama

Menguasai teknologi persenjataan merupakan salah satu faktor yang membuat Kekhalifahan Islam di masa kejayaan menjadi begitu tangguh. Selain mumpuni dalam seni pembuatan pedang, dunia Islam pun mampu menggenggam teknologi pembuatan bubuk mesiu – bahan peledak yang digunakan untuk meriam. Sesuatu yang baru diketahui peradaban Barat pada abad ke-14 M.

Meski sejumlah pakar bersepakat bahwa mesiu (gunpowder) pertama kali ditemukan peradaban Cina pada abad ke-9 M. Namun, fakta sejarah juga menyebutkan bahwa ahli kimia Muslim bernama Khalid bin Yazid (wafat tahun 709 M) sudah mengenal potassium nitrat (KNO3) bahan utama pembuat mesiu pada abad ke-7 M. Dua abad lebih cepat dari Cina.

Rumus dan resepnya dapat ditemukan dalam karya-karya Jabir Ibnu Hayyan (wafat tahun 815 M), Abu Bakar Al-Razi (wafat tahun 932) dan ahli kimia Muslim lainnya,” papar Prof Al-Hassan. Dari abad ke abad, istilah potasium nitrat di dunia Islam selalu tampil dengan beragam nama seperti natrun, buraq, milh al-ha’it, shabb Yamani, serta nama lainnya.

Salah satu kelebihan peradaban Islam dibandingkan Cina dalam penguasaan teknologi pembuatan mesium adalah proses pemurnian potasium nitrat. Sebelum bisa digunakan secara efektif sebagai bahan utama pembuatan mesiu, papar Al-Hassan, potasium nitrat harus dimurnikan terlebih dahulu.

Ada dua proses pemurnian potasium nitrat yang tercantum dalam naskah berbahasa Arab. Proses pemurnian yang pertama dicetuskan Ibnu Bakhtawaih pada awal abad ke-11 M. Dalam kitab yang ditulisnya berjudul Al-Muqaddimat yang disusun pada tahun 402 H/1029 M, Ibnu Bakhtawaih menjelaskan tentang pembekuan air dengan menggunakan potasium nitrat – yang disebut sebagai shabb Yamani.

Proses pemurnian potasium nitrat juga termaktub dalam buku berjudul Al-Furusiyyah wa Al-Manasib Al-Harbiyyah karya Hasan Al-Rammah – ilmuwan Muslim pada abad ke-13 M. Dalam karyanya itu, Al-Rammah menjelaskan proses pemurnian potasium nitrat secara komplet. “Prosesnya purifikasi yang disusun Al-Rammah menjadi standar baku yang dapat kita temuka dalam beragaman risalah kemiliteran,” imbuh Prof Al-Hassan.

Al-Rammah menjelaskan secara rinci dan jelas tentang proses pemurnian potasium nitrat. Metode pembuatan potasium nitrat ini kerap diklaim peradaban Barat sebagai temuan Roger Bacon. Namun klaim itu dipatahkan sendiri oleh ilmuwan barat bernama Partington. “Proses pembuatan saltpetre – nama lain potasium nitrat – pertama kali diketahui dari Hasan Al-Rammah."

Prof Al-Hassan menemukan fakta bahwa potasium nitrat begitu banyak digunakan pada saat meletusnya Perang Salib. Pada tahun 1249 M, Raja Louis IX dari Prancis mengobarkan Perang Salib VII. Pasukan tentara Perang salib dari Prancis berniat menyerbu Mesir. Dalam Pertempuran Al-Mansurah yang meletus tahun 1250 M, pasukan tentara Salib dibuat kocar-kacir oleh pasukan Muslim.

Bahkan, Raja Louis IX pun takluk dan ditahan karena tak mampu menghadapi kehebatan mnocong meriam dan roket. Pada saat itu, pasukan Muslim sudah menggunakan bubuk mesiu sebagai bahan peledak meriam. Jean de Joinville, salah seorang perwira tentara Perang Salib, menjelaskan dengan betapa hebatnya dampak proyektil yang ditembakkan meriam tentara Muslim terhadap pasukan tentara Prancis.

Kalangan sejarawan menafsirkan kesaksian Joinville itu. Menurut para sejarawan, proyektil yang dijelaskan Joinville itu pastilah mengandung bubuk mesiu. Kehebatannya mampu membuat kocar-kacir pasukan tentara Salib. Lembaga Ruang Angkasa Amerika Serikat (NASA) dalam publikasinya mengenai sejarah roket juga mengakui teknologi militer dunia Islam di abad ke-13 M.

Pasukan tentara Muslim melengkapi persenjataannya dengan roket yang ditemukannya sendiri. Saat Perang Salib VII mereka menggunakannya untuk melawan pasukan Prancis yang dipimpin Raja Louis IX.” Dua dasawarsa berikutnya Raja Louis mencoba kembali menyerang Tunisia.

Namun, dendamnya itu justru berakhir dengan kematian baginya. Pasukan Muslim dibawah kekuasaan Dinasti Mamluk dengan mesiu dan senjatanya kembali membuat kocar-kacir tentara Salib. Sejarawan Inggris, Steven Runciman dalam bukunya A History of the Crusades menuturkan bahwa mesiu digunakan secara besar-besaran pada 1291 M di akhir Perang Salib.

Sejak itu, persenjataan militer menggunakan mesiu secara besar-besaran Pada tahun 1453 M, Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki juga mampu menaklukkan kepongahan Konstantinopel dengan mesiu dan meriam raksasa. Dalam empat risalah berbahasa Arab disebutkan pada perang Ayn Jalut di Palestina pada tahun 1260 M antara tentara Islam sudah menggunakan meriam kecil yang bisa dijinjing saat bertempur melawan Mongol.

Meriam dan mesiu digunakan dalam peperang di abad pertengahan untuk menakuti kuda-kuda dan pasukan kavaleri musuh. Selain menggunakan mesiu untuk persenjataan, pada era itu juga digunakan untuk membuat mercon. Dinasti Mamluk dalam perayaan-perayaan di abad ke-14 M, dilaporkan biasa menampilkan atraksi petasan. Istilah petasan sudah disebutkan dalam harraqat al-naft or harraqat al-barud.

Seorang penjelajah asal Prancis bernama Bertrandon de la Brocquiere terperangah melihat pertunjukan petasan ketika tiba di Beirut pada tahun 1432 M. Saat itu, penduduk Beirut tengah bersuka cita merayakan hari Idul Fitri. Brocquiere mengaku baru pertama kali melihat pertunjukan mercon. Pada era itu bangsa Prancis belum mengenal dan melihat mercon.

Pada waktu itula, Brocquiere kemudian mencoba mempelajari rumus dan resep rahasia pembuatan mercon. Ia lalu membawa rumus-rumus yang diperolehnya ke Prancis. Sementara itu, untuk pertama kalinya mercon dikenal di Inggris pada tahun 1486 M ketika Henry VII menikah. Sejak era kekuasaan Ratu Elizabeth I, mercon dan kembang api mulai populer.

Sejak abad ke-13 M, peradaban Islam sudah mampu menyusun rumus dan komposisi mesiu serta bahan lainnya yang digunakan untuk membuat berbagai jenis bahan peledak. Peradaban Barat lalu meniru dan menggunakan teknologi yang dimiliki dan dikuasai umat Islam di era keemasan itu.

Meski berutang kepada peradaban Islam, pencapain sangat tinggi yang diraih umat Islam dalam teknologi pembuatan mesiu dan meriam kerap kali dihilangkan para sejarawan Barat. Sejarah Barat selalu menyebutkan sejarah mesiu dari Cina langsung ke Barat, tanpa menyebut pencapaian di dunia Islam.

Hasan Al-Rammah Sang Penemu Roket

Hasan Al-Rammah memang sungguh luar biasa. Pengetahuannya tentang bubuk mesiu sungguh sangat mengagumkan. Betapa tidak. Dalam bukunya berjudul Al-Furusiyyah wa Al-Manasib Al-Harbiyyah, ilmuwan Muslim kelahiran Suriah itu berhasail menulis sebanyak 107 rumus atau resep penggunaan mesiu.

Sebanyak 22 resep mesiu yang diraciknya khusus digunakan untuk roket. Menurut Al-Rammah, komposisi bahan untuk meluncurkan sebuah roket terdiri dari 75 persen potasium nitrat, 9,06 persen sulfur dan 15,94 persennya karbon. Perhitungan yang dilakukan Al-rammah pada abad ke-13 M itu sudah mampu mendekati komposisi ideal, yakni 75 persen potasium nitrat, 10 persen sulfur, dan 15 persen karbon.

Sisa rumus atau komposisi racikan mesiu lainnya yang dibuat Al-Rammah untuk kepentingan militer dan sisanya untuk membuat mercon. Ia menulis buku yang penting dan mengguncangkan itu antara tahun 1270 M hingga 1280 M. buku tersebut secara khusus ditulis atas permintaan seorang guru yang terkenal bernama Najm al-Din Hasan Al-Rammah.

Para sejarawan berpendapat, begitu banyaknya jumlah rumus penggunaan mesiu untuk beragam tipe persenjataan mengindikasikan bahwa Al-rammah tak menemukannya seorang diri. Dalam lembar pertama bukunya, Al-Rammah menyebut pengetahuan yang ditulisnya sebagai warisan pengetahuan. Bisa jadi semua pengetahuannya itu menurun dari sang kakek.

Sebab, pada akhir abad ke-12 M atau awal abad ke-13 M bubuk mesiu sudah dikenal di Suriah dan Mesir. Pencapaian Al-Rammah itu mendapat pengakuan dari peradaban Barat. Johnson mengatakan, dunia Islam merupakan peradaban yang pertama kali kali mengembangkan senjata yang sesungguhnya. Ia juga mampu menjelaskan saltpetre melalui proses kimia dan kristalisasi.

Al-Rammah juga tercatat sebagai seorang insinyur Muslim pertama yang mencetuskan dan menjelaskan tentang torpedo pada 1270 M. dalam bukunya, ia juga menggambarkan sebuah torpedo melesat dengan sebuah sistem roket yang diisi dengan bahan peledak dan memiliki tiga titik api.Al-Rammah memang bukanlah ilmuwan Muslim pertama yang mengenal potasium nitrat. Insinyur Muslim sebelumnya seperti Al-Razi, Al-Hamdani, dan risalah berbahasa Arab-Suriah pada abad ke-10 M itu sudah menjelaskan tentang potasium nitrat dan rumus-rumus tentang mesiu. Ibnu Al-Baitar juga telah mengungkapkan tentang potasium nitrat pada tahun 1240 M.

Peradaban Barat mengklaim bahwa Roger Bacon sebagai orang pertama yang menemukan mesiu. Namun ternyata, penemuan Bacon yang dibangga-banggakan Barat itu merupakan hasil jiplakan dari buku-buku kimia yang berasal dari Arab. Tak heran, jika para sejarawan meragukan kebenaran dan efektivitas rumus yang dihasilkan Bacon.

Ilmuwan Jerman, Albert Magnus juga menguasai mesiu dari ‘Liber Ignium’. Ternyata buku itu berasal dari terjemahan dari kitab bahasa Arab ke bahasa Spanyol. (-SejarahIslam/Fam/Dz)


Must Read: 15 Ilmuwan & Penemu Muslim Terbesar dalam Sejarah

5.3.14

Mesir Kini di Pihak Zionis, Menetapkan HAMAS sebagai Organisasi Terlarang

Mengencangkan keamanan di sekitar perbatasan Jalur Gaza, pengadilan Kairo pada hari Selasa, 4 Maret, melarang kelompok Hamas beroperasi di Mesir. Mesir kini menjadi negara Timur Tengah yang menekan dengan tindakan keras terhadap gerakan Islam.

Keputusan (Pemerintahan Mesir) telah merusak citra Mesir dan perannya terhadap Palestina,” ujar Sami Abu Zuhri, juru bicara organisasi Hamas yang berbasis di Gaza, kepada Reuters.

Ini mencerminkan (Mesir) berdiri untuk melawan perlawanan Palestina (Hamas)

Keputusan itu dikeluarkan melalui pengadilan darurat sebagai respon adanya petisi sebagian warga Mesir agar menunjuk Hamas sebagai kelompok teroris.

Seiring dengan melarang kelompok tersebut, keputusan pengadilan Mesir juga memutuskan penyitaan aset Hamas di Mesir.

Selama beberapa tahun terakhir, Mesir menolak untuk mengakui pemerintahan Hamas di Gaza setelah kelompok ini memenangkan pemilihan parlemen secara sah di wilayah Palestina pada tahun 2007.

Hamas mengalahkan Mahmoud Abbas dalam jajak pendapat di tahun 2007 dan akhirnya Hamas membentuk pemerintahan sendiri di Jalur Gaza.

Tapi pihak Barat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, menolak mengakui pemerintah pimpinan Hamas yang sah di jalur Gaza.

AS dan Israel juga memimpin kampanye internasional untuk memaksakan pengepungan yang melumpuhkan di Jalur Gaza yang padat penduduk, rumah bagi hampir 1,6 juta Muslim Palestina.

Setelah penggulingan Mubarak, gerbang penyeberangan perbatasan Rafah dengan Gaza di buka yang menyambungkan dua wilayah tersebut.

Hubungan Kairo dan Gaza semakin kuat setelah pemilihan Presiden Mohamed Morsi pada tahun 2012, setelah Mesir lakukan mediasi pada tahun 2012 dan menghasilkan gencatan senjata setelah pertempuran selama seminggu antara Hamas dengan Israel.

Setelah kudeta militer terhadap Morsi pada tahun 2013, pihak militer kemudian menghancurkan ratusan terowongan penyelundupan di bawah perbatasan Mesir dengan Jalur Gaza, dan militer menuduh terowongan-terowongan tersebut digunakan untuk menyelundupkan senjata yang digunakan untuk lakukan serangan terhadap pasukan keamanan Mesir.

Pada awal Januari, Kairo melakukan konferensi yang pertama kalinya yang dinamakan grup pemuda Tamarud anti Hamas, nama yang digunakan oleh gerakan pemuda Mesir di belakang protes massal tahun lalu melawan Mursi, pemimpin pertama Mesir yang sebenarnya sah dipilih secara bebas.

Ezzat al–Rishq, anggota biro politik Hamas dan dekat dengan pemimpin Hamas di pengasingan, Khaled Meshaal, mengatakan, ”Ini akan menjadi pintu agresi baru dan perang terhadap Gaza,” mengacu pada operasi militer Israel terhadap Jalur Gaza.

Pejabat Hamas Bassem Naim juga mengecam keputusan Mesir tersebut.

Langkah ini adalah ”upaya untuk mengepung perlawanan dan melayani penjajahan Israel,” kata Naim kepada Agence France Presse (AFP).

"Keputusan Mesir, telah menempatkan Mesir di pihak penjajah Zionis dan mengancam untuk menjauhkan peran sejarahnya dalam kasus Palestina,” katanya. (OI.net/KH)

4.3.14

Dr. Raghib As-Sirjani: Jangan Sembarangan Baca Buku Sejarah!

Lihat dulu siapa penulisnya. Kalau penulis baru, ditanyakan apakah orang tersebut punya kapasitas menulis sejarah.

Hidayatullah.com– Cendekiawan dan penulis buku-buku terkenal asal Mesir Dr. Raghib As-Sirjani mewanti-wanti umat Islam agar tak sembarangan membaca buku sejarah. Sebab, telah terjadi distorsi sejarah umat Islam melalui buku-buku.

Imbauan ini disampaikan Raghib dalam acara talk show “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia” gelaran penerbit Pustaka Al-Kautsar di panggung utama 13th Islamic Book Fair (IBF) 2014/1435 H, Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (1/3/2014).

Di antara pengrusakan sejarah Islam tersebut, menurutnya, misalnya banyak cerita dusta tentang Aisyah radhiallahu’anha.

Diperlukan cara yang tepat menghadapi pengrusakan tersebut. As-Sirjani melontarkan tiga cara, pertama, menanamkan pentingnya penulisan sejarah.

Kedua, kita jangan membaca sembarangan kitab sejarah, tapi lihat dulu siapa penulisnya. Kalau penulis lama oke lah kita bisa mengetahui. Adapun kalau penulis baru, kita tanyakan apakah orang tersebut punya kapasitas,” pesan As-Sirjani di depan pengunjung IBF, melalui penerjemahnya Abduh Zulfidar Akaha, Lc.

Ketiga, dibutuhkan orang-orang yang khusu dalam sejarah Islam. Inilah, menurut As-Sirjani, yang merupakan semacam kesalahan ulama zaman dulu dimana mereka kurang mengasah para pemuda-pemudi untuk menulis sejarah.

As-Sirjani pun mempersilahkan para hadirin menunjungi website islamicstory.com. Di situs tersebut ditulis sejarah-sejarah berdasarkan sumber yang sudah diteliti.

Dalam dialog salah seorang hadirin bertanya, apa penyebab kemunduran umat Islam pada masa lampau. As-Sirjani menjawab, penyebabnya karena semangat berislam kaum Muslimin pada masa itu menurun.

As-Sirjani mengatakan, ketika Barat menjajah negara-negara Islam, yang dicuri tidak hanya kekayaan alam dan sejenisnya. Tetapi, mereka juga mengubah cara berpikir umat Islam saat itu. Sehingga, ketika umat Islam hendak maju, justru meniru tata-cara Barat.

As-Sirjani juga mencaritakan cerita-cerita tentang penjajahan Barat terhadap umat Islam, di mana mereka membumihanguskan perpustakaan Islam. Oleh karena itu, imbuhnya, umat Islam saat ini harus bangkit.

Kita harus kembali pada al-Qur’an dan Sunnah, kembali semangat menuntut ilmu. Kita tidak akan baik kecuali dengan cara orang generasi pertama menjadi baik,” pesan As-Sirjani.*


Resensi Buku: Sejarah Selalu Dibuat Sesuai Keinginan Penguasa, Inilah Untold History-nya

Ketika Gajah Mada Menyerbu pulau – pulau di seantero Nusantara, maka oleh para penguasa negeri ini yang memang selalu dari jawa, dia disebut sebagai pemersatu bangsa. Padahal dalam kacamata orang melayu, kalimantan, dan celebes, dia dianggap sebagai agressor.

Atau siapa sesungguhnya Fatahillah? tepatkah dia disebut sebagai pahlawannya orang betawi, padahal saat menyerbu Batavia, dia bersama pasukannya membumihanguskan kampung asli warga betawi hingga orang orang Betawi mengungsi ke daerah pedalaman. Sisa dakwah Fatahillah di betawi pun tidak pernah berhasil ditemukan.

Tahukah Anda jika jenderal Sudirman selalu mengutip ayat ayat jihad dalam tiap surat perintahnya? Tahukah Anda jika Aceh telah berdaulat sebagai satu negara jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia ini lahir? Tahukah Anda jika CIA belepotan darah dalam peristiwa 1 Oktober 1965? Tahukah Anda jika Jenderal Suharto membangun Orde Baru di atas genangan darah jutaan rakyat Indonesia, tanpa diprotes sebagai pelanggaran HAM oleh Barat? Tahukah Anda kenapa negeri yang kaya raya ini bisa menjadi miskin dan diambang kehancuran seperti sekarang ini?

Sejarah yang sejak kita duduk di bangku sekolah hingga hari ini ternyata masih banyak yang merupakan He-Story, alias penuturan para pemenang, bukan History atau Sejarah itu sendiri. Gerakan reformasi pun tidak pernah menyentuh barang sedikitpun penulisan sejarah yang sama sekali tidak adil ini. Lantas, bagaimanakah kita, umat Islam, harus bersikap?

No ISBN: 9-771978-509703
Isi: 123 Halaman (Full Color)
Ukuran: 17,5 x 25,5cm
Penerbit: Eramuslim
Berat: 350 gr
Harga Awal: Rp50.000
Harga Diskon: Rp40.000
Pembelian lebih dari 10 eksemplar, harga satuan menjadi Rp30.000
Untuk pemesanan hubungi atau sms ke: 085811922988 email: marketing@eramuslim.com

Pantun Malaysia di Panggung Nusantara

Islamic Book Fair 2014
RIBUAN orang berjubel di kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Dari atas tribun, mereka menyaksikan sebuah penampilan di arena segi empat Istana Olahraga (Istora). Sorak-sorai memenuhi segenap penjuru gedung. Yang tampil adalah duta dari negeri jiran.

Siang jelang petang itu, seorang pria Malaysia berdiri gagah di depan 5000-an pasang mata. Di tangan kanannya tergenggam erat tongkat kecil. Di tangan kirinya, menyembul secarik kertas putih.

Reaksi yang pertama bagi saya ialah melafazkan syukur Alhamdulillah. Kesyukuran yang tidak ada tandingnya,” ujar pria tersebut yang tak lain adalah YBhg Tan Sri DR Rais Yatim, Penasihat Perdana Menteri Malaysia.

Rais Yatim bertandang ke Indonesia upaya menghadiri pembukaan 13th Islamic Book Fair (IBF) 2014/1435 di Istora Senayan pada Jumat, 28 Rabiul Akhir (28/2/2014) lalu. Dia berduet dengan istrinya, Tan Sri Makna, yang sama-sama ber-”kostum” kuning keemasan.

Dalam sambutannya di atas panggung utama IBF 2014, Rais Yatim menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas IBF. Dia memuji pameran buku Islam ini sebagai pencapaian yang harus digaungkan ke dunia.

Untuk itu kita katakan ‘Alhamdulillah’ kepada umat yang ada di Indonesia dan Nusantara,” ujarnya disambut sorakan apresiasi oleh ribuan hadirin pengunjung IBF.

Dengan alat pengeras suara, Rais Yatim lantas membawakan dua pantun dalam sambutannya. Lewat pantun pertamanya, dia menanyakan kabar rakyat Indonesia.

Di depan tikar sebelah sana, disimpan tilam sebelah-sebelah. Apa kabar saudara-saudari semua? Semoga dalam peliharaan Allah,” lantunnya dengan logat Melayu yang diaminkan para hadirin.

Pada kesempatan itu, Rais Yatim menyampaikan pesan-pesan persatuan Indonesia-Malaysia. Katanya, buku merupakan perantara dan penyambung lidah perjuangan antar-kedua negara serumpun itu.

Dan perjuangan yang saya maksudkan ialah perjuangan seagama. Satu perjuangan yang paling tinggi, yang martabatnya tidak dapat disaingi perjuangan-perjuangan yang lain,” jelasnya di depan awak Hidayatullah.com, para wartawan, dan puluhan tokoh agama dan negara.

Dengan buku, menurutnya, dapat menyingkirkan perbedaan-perbedaan yang ada. Juga dapat menanamkan kebajikan dalam sanubari setiap insan.

Rais Yatim juga mengucapkan tahniah, selamat kepada panitia IBF dan para pemimpin Indonesia. Atas nama dirinya, istrinya, dan wakil dari kedutaan Malaysia, Rais mengaku berutang budi akan undangan pada acara tersebut.

Untuk itu sekiranya nanti dilakukan pula Book Fair atau pesta buku di Kuala Lumpur, sekalian yang hadir, ayolah kita sebrangi Selat Malaka, bersama kita di Kuala Lumpur pula,” ujar Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia ini disambut apresiasi hadirin.

Rais Yatim pun mengaku sangat terkesiap dengan pelantunan ayat al-Qur’an surat al-Alaq ayat 1-5 di awal acara tersebut.

Di majelis yang sangat permai ini, setinggi-tinggi tahniah gerangan mengingatkan kita kepada ayat ‘Iqra’ bismirobbikalladzi kholaq’ tadi. Sayu hati kami, sayu hati kita mendengarkan,” ujarnya.

Duet Batik di IBF 2014
Di akhir sambutannya, Rais Yatim mengungkapkan utang budinya kepada Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia HM Jusuf Kalla (JK) serta para hadirin.

Kerana mengizinkan buku kecil pantun saya mendapat tempat sedikit dalam satu majelis yang begini permai dan hebat. Buku (berjudul) Pantun & Bahasa Indah, Jendela Budaya Melayu itu membawa kita ke Bukit Siguntang. Membawa kita kepada drama Korea,” ujarnya dengan bahasa puitis.

Dan dengan itu, apa-apa kata yang tertulis di dalamnya, saya pohon maaf kalau tidak menepati cita rasa kita. Ada serangkap yang seharusnya saya katakan pada petang ini,” lanjutnya.

Serangkap yang dimaksud adalah pantun lainnya yang saat itu akan dia bawakan kembali. Melalui pantun keduanya, dia meminta maaf jika ada kesalahan selama berada di Indonesia.

Kalau berdentum di Gunung Daik, itulah tanda orang memurun, berhukumlah kita anak beranak. Kalau tersinggung semakin naik, atau tersentuh semakin turun, berilah ampun banyak-banyak,” lantunnya menutup sambutannya.

Jelang akhir pembukaan IBF 2014, giliran JK menyampaikan sambutan. Usai sambutan itu, Rais kembali naik ke panggung membawakan pantunnya ditemani JK. “Sebagai isyarat cantuman persahabatan,” demikian alasan Rais akan tujuannya berpantun.

Terang bulan kapal berlayar, kilatnya sampai ke tanjung. Berjuang tak minta dibayar, berkhidmat tak minta disanjung,” lantun Rais, lalu meminta JK membacakan pantun lain dalam bukunya.

JK memulai baris pertama. “Pokok rancak di ujung dahan,” lantunya dengan logat asli Makassar.

Belum tuntas membacanya, tahu-tahu mantan Wakil Presiden RI ini nyeletuk, “Kalau bahasa Indonesianya ‘pohon’, bukan ‘pokok’ ya."

Kontan saja para hadirin termasuk Rais Yatim tertawa mendengarnya. JK lanjut membacakan pantun.

Hilang terbang ke pengkalan. Tepat di ujung jalan, pulanglah ke pangkal jalan…

Usai berpantun ria, JK dan Rais Yatim berjabat tangan. Kedua sahabat lama ini tampak akrab di depan sorotan “supporter” Indonesia-Malaysia.

Sekilas, senyuman keduanya ada kesamaan. Selain sama-sama berkacamata, dan sama-sama berkemeja. JK dengan kemeja khas Indonesia, Rais dengan kemeja khas Malaysia. Kedua kemeja itu sama-sama bermotif batik.*

26.2.14

Survei: Rakyat AS Makin Banyak yang Atheis

Rakyat Amerika makin meninggalkan agama. Itulah kesimpulan dari hasil survei lembaga Religious Landscape Survey yang dirilis baru-baru ini.

Hasil survei menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang sangat cepat di kalangan masyarakat AS usia 18 tahun ke atas terkait dengan afiliasi agama mereka, di mana makin banyak orang yang memilih tidak beragama atau tidak mau dirinya dilihat sebagai pemeluk agama tertentu.

Lebih dari seperempat dari kalangan usia dewasa atau sekitar 28 persen memilih meninggalkan agama, meski mereka dibesarkan di tengah lingkungan yang memeluk keyakinan tertentu atau tidak memeluk salah satu agama pun,” demikian laporan Religious Landscape Survey.

Survey yang dilakukan oleh Pew Forum on Religion and Public Life ini merupakan survei tentang afiliasi agama masyarakat AS yang baru pertama kali digelar, melibatkan 35.000 responden warga AS berusia 18 tahun ke atas. Dari hasil survei juga ditemukan fakta bahwa setiap kelompok agama secara konstan kehilangan pemeluknya, karena pindah ke agama lain. Misalnya, Kristen ke Islam, Protestan ke Yudaisme atau dari Ortodoks ke Katolik.

Dari kelompok agama itu, agama Katolik yang paling banyak ditinggalkan pemeluknya. Disebutkan, hampir satu dari tiga orang Amerika (31%) dibesarkan di tengah keluarga penganut Katolik. Tapi saat ini kurang dari 24 persen atau satu dari empat orang Amerika yang menyatakan berafiliasi ke agama Katolik.

Menurut data CIA Fact Book, dari 301 juta jumlah penduduk AS, 52 persennya adalah penganut Protestan, 24 persen penganut Katolik Roma, 2 persen Mormon, satu persen penganut agama Yahudi dan satu persen Muslim. Penganut kepercayaan lainnya 10 persen dan 10 persen lagi menyatakan tidak beragama.

Salah seorang warga AS, imigran dari Vietnam Anh Khochareun adalah salah satu yang sekarang memilih atheis. Dulu Anh memeluk agama Budha, lalu pindah ke agama Katolik saat berimigrasi ke AS dan sekarang ia beserta suaminya mengaku sebagai atheis.

Kami membuat keyakinan kami sendiri, dalam kerangka apa yang bisa kami lakukan untuk diri kami sendiri dan dalam kehidupan kami sekarang, ” ujar Anh.

Fred Kurth, pensiunan ahli teknik pesawat ruang angkasa, dulunya adalah penganut Evangelis, kemudian menganut kepercayaan Unitarian Universalism, dan sekarang menjadi seorang Muslim setelah menikah dengan isterinya yang asal Maroko.

Menurut Kurth yang kini memakai nama Ibrahim, ia melakukan “pencarian jiwa” sebelum akhirnya memutuskan memeluk agama Islam. Ibrahim Kurth sekarang selalu membawa sejadah di mobilnya dan salat berjamaah setiap hari di masjid dekat rumahnya di Frederickburg, Virginia. (ln/iol)

Margaret Templeton, Perempuan Atheis yang Masuk Islam pada Usia 65 Tahun

Margaret Templeton, perempuan Skotlandia ini terlahir dari keluarga atheis. Di rumahnya, anggota keluarga tidak pernah dibolehkan untuk bicara tentang Tuhan. Bahkan ketika Margaret belajar tentang Tuhan di sekolah, ia tidak boleh mengatakan apapun yang diketahuinya di lingkungan rumah, atau ia akan mendapat hukuman.

Namun Margaret terus mencari kebenaran atas sejumlah pertanyaan, mengapa ia ada di dunia ini, untuk apa ia hidup di dunia dan apa yang seharusnya ia lakukan. Hingga usianya beranjak senja, Margaret memulai pencariannya tentang “seseorang yang disebut Tuhan”, yang sering disebut-sebut oleh banyak orang sepanjang hidupnya. Saat itu, ia hanya mencari informasi tentang Tuhan, bukan mencari informasi tentang agama tertentu.

Kebenaran, sesuatu yang masuk akal untuk saya, yang membuka hati saya dan membuat hidup saya lebih bermakna. Saya mendatangi hampir setiap gereja di Inggris Raya, tapi tidak pernah terjadi pada saya untuk berpikir tentang Islam,” ujar Margaret.

Saat Margaret mulai mengenal dan tertarik dengan agama Islam, AS melakukan invasi ke Irak dan Margaret membaca banyak hal buruk yang ditulis media massa tentang muslim. Sebagai orang yang sudah mempelajari berbagai agama, ia yakin apa yang dibacanya tidak benar.

Media massa mengabarkan kebohongan. Makanya saya mencari seorang guru yang bisa mengajarkan saya tentang tata cara hidup berdasarkan ajaran Islam, agar saya bisa membantah apa yang mereka katakan tentang Islam, yang sebenarnya salah, hanya kebohongan dan datangnya dari syetan, sebutan yang lalu saya berikan buat mereka yang menggambarkan muslim itu buruk,” papar Margaret.

Margaret sempat memeluk agama Katolik Roma dan berusaha mengamalkan doktrin agamanya. “Salah satu hal yang saya lakukan adalah bersikap ramah dengan semua orang. Saya biasa tersenyum pada setiap orang dan menyapa mereka ‘hello’, ‘apa kabar?’ dan ‘bagaimana hari Anda hari ini?’ … seperti Yesus yang selalu menyebarkan kebahagiaan dimanapun ia berada,” ungkap Margaret.

Tapi ia merasa sangat tidak bahagia menjadi seorang penganut Katolik Roma. Margaret lalu meninggalkan gereja dan tak tahu kemana harus berpaling. Ia lalu mencoba mencari seorang guru agama Islam. Ia berdoa dan berdoa setiap hari pada Tuhan, memohon pertolongan dan itu berlangsung selama hampir dua tahun karena ia tak tahu apa yang harus dilakukannya dan kemana ia harus pergi.

Akhirnya seorang teman dari temannya mengenalkan Margaret pada seorang alim ulama bernama Nur El-Din, keturunan Arab. Ulama itu mengundang Margaret ke rumahnya dan Margaret memenuhi undangan itu. Ia juga memberi rekomendasi sejumlah buku yang bisa dibeli Margaret dan meminta Margaret menanyakan langsung padanya jika ada pertanyaan.

Itulah awal hubungan kami. Buku itu terdiri dari tujuh jilid, yang mengomentari tentang Quran, bukunya bagus sekali,” ujar Margaret.

Ia mempelajari buku itu dari bagian depan, dimulai dengan Surah Al-Baqarah. Lalu Margaret membaca Surah Al-Fatihah. Ketika membaca surat itu, Margaret merasa seperti tersambar petir. “Air mata saya menetes, deras seperti Niagara Falls. Jantung saya berdegup kencang… saya berkeringat… gemetaran… saya ketakutan bahwa ini adalah syaitan yang mencoba menghentikan saya karena saya mungkin telah menemukan jalan, karena buku ini mungkin menunjukkan saya jalan kebenaran, yang selama ini saya cari,” tutur Margaret.

Ia lalu menelpon ustaz Nur El-Din, yang kemudian meminta Margaret menemuinya. Di tengah musim dingin yang menggigit, Margaret datang ke kediaman ustaz itu dengan tubuh yang hampir membeku. Ia lalu menceritakan apa yang dialaminya saat membaca Surah Al-Fatihah dan ustaz Nur El-Din hanya mengatakan, “Margaret, Kamu akan menjadi seorang muslim.”

Margaret menjawab, bahwa ia membaca buku-buku itu bukan untuk menjadi seorang muslim, tapi agar bisa menyanggah kebohongan-kebohongan yang diceritakan tentang kaum Muslimin. “Saya tidak mau menjadi seorang muslim,” kata Margaret ketika itu pada ustaz Nur El-Din.

Ustaz Nur El-Din merespon, “Margaret, Kami akan menjadi seorang muslim, karena saya harus mengatakannya pada kamu, bahwa ada campur Illahi dalam hidupmu.”

Kala itu, Margaret berusia 65 tahun. Ia terus belajar dengan ustaznya itu. Setelah empat bulan belajar, ia malah tidak sabaran untuk segera mengucapkan syahadat. Margaret bertanya apakah tidak terlalu terburu-buru baginya, karena ia benar-benar tidak mau menjadi seorang muslim.

Tapi saya yakin, saya akan belajar dan Tuhan akan memaafkan saya karena tidak menghargai karunia yang sangat besar, yang telah Dia berikan pada saya,” ujar Margaret.

Margaret akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat pada 11 Februari 2003 dengan bimbingan Ustaz Nur El-Din. “Apa yang tadi saya ucapkan?” tanya Margaret pada Ustaznya, yang kemudian menjelaskan arti dua kalimat syahadat.

Dan saya sekarang seorang muslim?” tanya Margaret lagi. Ustaz El-Din menjawab, “Ya, dan nama kamu sekarang adalah Maryam.

Sejak itu, Margaret Templeton menyandang nama islami Maryam Noor. Ia masuk Islam saat usianya sudah 65 tahun.

Saya tidak bisa bilang bahwa saya seorang muslim yang baik, karena itu sangat, sangat sulit. Saya kehilangan semua teman-teman Katolik saya, semua teman yang dulu saya ajak berbincang. Anak perempuan saya berpikir saya gila! Cuma anak lelaki saya yang percaya bahwa saya telah menemukan kebenaran, dan dia satu-satunya pada saat itu yang mungkin menjadi seorang muslim,” tutur Margaret “Maryam” tentang pengalamannya setelah masuk Islam.

Hal kedua yang membuat hidup saya sangat berat adalah, saya tinggal di negara sekuler dan bukan di negara muslim. Dengan sepenuh hati, saya ingin menetap di sebuah negara muslim dan hidup di tengah masyarakat muslim. Saya satu-satunya muslim di tempat saya tinggal. Tapi Allah sangat baik, karena di tengah semua kesulitan ini, saya bahagia, saya terus belajar,” sambungnya.

Maryam hanya memohon pertolongan pada Allah agar tetap istiqomah dalam keislamannya. “Ingatlah duhai Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bahwa saya benar-benar hanya seorang bayi, seorang bayi berusia 65 tahun. Saya menghadapi kesulitan dan Engkau harus menolong hamba,” doa Maryam.

Dan inilah cara Allah menolong saya,” tandasnya. (kw/oi)