9.4.11

Bank Indonesia Milik Siapa?

Bank sentral adalah perusahaan swasta yang diberi hak monopoli mencetak uang. BI milik siapa?

Oleh: Zaim Saidi*

KEBANYAKAN orang, warga negara di hampir semua negara nasional di dunia ini, tidak memahami bahwa mata uang kertas yang mereka pakai di negaranya bukanlah terbitan pemerintah setempat. Hak monopoli penerbitan uang kertas diberikan kepada perusahan-perusahaan swasta yang menamakan dirinya sebagai "bank sentral". Sebelum ada bank sentral sejumlah bank swasta menerbitkan nota bank yang berlaku sebagai alat tukar tersebut. Dimulai di Inggris, dengan kelahiran Bank of England, hak menerbitkan uang kertas itu mulai diberikan hanya kepada satu pihak saja. Memang, kebanyakan bank sentral itu melabeli dirinya dengan nama yang berbau-bau nasionalisme, sesuai negara masing-masing.

Bank Sentral Milik Keluarga-Keluarga

Marilah kita ambil bank sentral paling berpengaruh saat ini, yaitu Federal Reserve AS, yang menerbitkan dolar AS. Saham terbesar Federal Reserve of America ini dimiliki oleh dua bank besar, yaitu Citibank (15%) dan Chase Manhattan (14%). Sisanya dibagi oleh 25 bank komersial lainnya, antara lain Chemical Bank (8%), Morgan Guaranty Trust (9%) , Manufacturers Hannover (7%), dsb. Sampai pada tahun 1983 sebanyak 66% dari total saham Federal Reserve AS ini, setara dengan 7.005.700 saham, dikuasai hanya oleh 10 bank komersial, sisanya 44% dibagi oleh 17 bank lainnya.

Bahkan, kalau dilihat dengan lebih sederhana lagi, 53% saham Federal Reserve AS dimilik hanya oleh lima besar yang disebutkan di atas. Bahkan, kalau diperhatikan benar, saham yang menentukan pada Federal Reserve Bank of New York, yang menetapkan tingkat dan skala operasinya secara keseluruhan berada di bawah pengaruh bank-bank yang secara langsung dikontrol oleh 'London Connection', yaitu, Bank of England, yang dikuasai oleh keluarga Rothschild.

Sama halnya dengan bank-bank sentral di berbagai negara lain, namanya berbau nasionalis, tapi pemilikannya adalah privat. Bank of England, sudah disebutkan sebelumnya, bukan milik rakyat Inggris tapi para bankir swasta, yang sejak 1825 sangat kuat di bawah pengaruh satu pihak saja, keluarga Rothschild. Pengambilalihan oleh keluarga ini terjadi setelah mereka mem-bail out utang negara saat terjadi krisis di Inggris. Deutsche Bank bukanlah milik rakyat Jerman tapi dikuasai oleh keluarga Siemens dan Ludwig Bumberger.

Sanghai and Hong Kong Bank bukan milik warga Hong Kong tapi di bawah kontrol Ernest Cassel. Sama halnya dengan National Bank of Marocco dan National Bank of Egypt didirikan dan dikuasai oleh Cassel yang sama, bukan milik kaum Muslim Maroko atau Mesir. Imperial Ottoman Bank bukan milik rakyat Turki melainkan dikendalikan oleh Pereire Bersaudara, Credit Mobilier, dari Perancis. Demikian seterusnya.
Jadi, 'Bank-bank Nasional' seperti ini, sebenarnya, adalah sindikat keuangan inter-nasional, modal 'antar-bangsa' yang secara riel tidak ada dalam bentuk aset nyata (specie) apa pun, kecuali dalam bentuk angka-angka nominal di atas kertas atau byte yang berkedap-kedip di permukaan layar komputer. Bank-bank ini sebagian besar dimiliki oleh keluarga-keluarga yang sebagian sudah disebutkan di atas.

Utang-utang yang mereka berikan kepada pemerintahan suatu negara tidak pernah diminta oleh rakyat negara tempat mereka beroperasi tapi dibuat oleh pemerintahan demokratis yang mengatasnamakan warga negara. Mereka, para bankir ini, adalah orang-orang yang tidak dipilih, tak punya loyalitas kebangsaan, dan tidak akuntabel, tetapi mengendalikan kebijakan paling mendasar suatu negara. Dan, setiap kali mereka menciptakan kredit, setiap kali itu pula mereka mencetak uang baru dari byte komputer belaka.

Bank Indonesia Milik Siapa?

Kalau bank-bank sentral di negeri-negeri lain milik keluarga tertentu yang tidak memiliki loyalitas kebangsaan, siapakah yang memiliki Bank Indonesia?

Ini adalah pertanyaan valid yang seharusnya kita ajukan sebagai warga negara Republik Indonesia. Kita tahu, rupiah pun diterbitkan oleh BI, sebagai pihak yang diberi hak monopoli untuk itu. Kita tidak pernah diberitahu siapa pemegang saham BI. Tapi, marilah kita tengok sejarah asal-muasal bank sentral di Indonesia ini.

Begitu Indonesia dinyatakan merdeka, para pendiri republik baru ini, menetapkan BNI 1946 sebagai bank sentral, dan menerbitkan uang kertas pertamanya, yaitu ORI (Oeang Repoeblik Indonesia), dengan standar emas, setiap Rp 10 didukung dengan 2 gr emas. Ini artinya rupiah dijamin 1/5 gram emas per 1 rupiah.

Tapi, ketika Ir Soekarno dan Drs M Hatta menyatakan kemderdekaan RI, Pemerintah Kolonial Belanda tidak mengakuinya, apalagi menyerahkan kedaulatan republik baru ini. Belanda mengajukan beberapa syarat untuk dipenuhi, dan selama beberapa tahun terus mengganggu secara milter, dengan beberapa agresi KNIL. Akhirnya, sejarah menunjukkan pada kita, terjadilah perundingan itu, 1949, dengan nama Konferensi Meja Bundar (KMB).

Melalui Konferensi Meja Bundar (KMB), 1949, disepakatilah beberapa kondisi pokok agar RI dapat pengakuan Belanda.


Pertama, penghentian Bank Negara Indonesia (BNI) 1946 sebagai bank sentral republik, dan digantikan oleh N.V De Javasche Bank, sebuah perusahaan swasta milik beberapa pedagang Yahudi Belanda, yang berganti nama menjadi Bank Indonesia (BI).


Kedua, dengan lahirnya bank sentral baru itu pencetakan Oeang Republik Indonesia (ORI), sebagai salah satu wujud kedaulatan republik baru itu dihentikan, digantikan dengan Uang Bank Indonesia (direalisasikan sejak 1952).


Ketiga, bersamaan dengan itu, utang pemerintahan kolonial Hindia Belanda sebesar 4 miliar dolar AS kepada para bankir swasta itu tentunya - diambilalih dan menjadi "dosa bawaan" republik baru ini.

Kondisi ini berlangsung sampai pertengahan 1965, ketika Bung Karno menyadari kuku-kuku neokolonialisme yang semakin kuat mencenkeram bangsa muda ini. Maka, Agustus 1965, Bung Karno memutuskan menolak kehadiran lebih lama IMF dan Bank Dunia di Indonesia, bahkan menyatakan merdeka dari Perserikatan Bangsa Bangsa. Sebelumnya, antara 1963-1965, Presiden Soekarno telah menasionalisasi aset-aset perusahaan-perusahaan Inggris dan Malaysia, serta Amerika; sebagai kelanjutan dari pengambilalihan aset-aset perusahaan Belanda, pada masa 1957-1958.

Tapi Bung Karno harus membayar mahal tindakan politik penyelamatan bangsa Indonesia dari kuku neokolonialisme ini: Ir Soekarno harus enyah dari Republik ini, dan itu terjadi 1967, dengan naiknya Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI ke-2. Dengan enyahnya Ir Soekarno, neokolonialsme bukan saja kembali, tetapi menjadi semakin kuat. Tindakan pertama Jenderal Soeharto, 1967, adalah mengundang kembali IMF dan Bank Dunia, dan kembali menundukkan diri sebagai anggota PBB.

Nekolonialisme Berlanjut

Berkuasanya Orde Baru, di bawah Jenderal Soeharto, menjadi alat kepanjangan neokolonilaisme melalui pemberian 'paket bantuan pembangunan'. Untuk dapat 'membangun', bagi bangsa-bangsa 'terbelakang, miskin dan bodoh, dalam definisi baru sebagai "Dunia Ketiga"' yang baru merdeka ini, tentu memerlukan uang. Maka disediakankan 'paket bantuan', termasuk sumbangan untuk mendidik segelintir elit, tepatnya mengindoktrinasi mereka, dengan 'ilmu ekonomi pembangunan', 'manajemen pemerintahan'; plus 'pinjaman lunak, bantuan pembangunan', lewat lembaga-lembaga keuangan internasional (dengan dua lokomotifnya yakni IMF, Bank Pembangunan/Bank Dunia).

Kepada segelintir elit baru ini diajarkanlah ekonomi neoklasik, dengan model pembiayaan melalui defisit-anggaran-nya, dengan teknik Repelita bersama mimpi-mimpi elusif Rostowian-nya (teori Tinggal Landas yang terkenal itu), sebagai legitimasi dan pembenaran bagi utang negara yang disulap menjadi 'proyek-proyek pembangunan' dan diwadahi dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Untuk hal-hal teknis para teknokrat tersebut, kemudian 'didampingi' oleh para konsultan spesial para economic hit men sebagaimana dipersaksikan oleh John Perkins itu. Semuanya, dilabel dengan nama indah, 'Kebijakan dan Perencanaan Publik'.

Maka, utang luar negeri Indonesia yang hanya 6.3 milyar dolar AS di akhir masa Soekarno (dengan 4 miliar dolar di antaranya adalah warisan Hindia Belanda tersebut di atas), ketika Orde Baru berakhir menjadi 54 milyar dolar AS (posisi Desember 1997). Lebih dari sepuluh tahun sesudah Soeharto lengser utang luar negeri kita pun semakin membengkak menjadi lebih dari 150 milyar dolar AS. Kita tahu, jatuhnya Jenderal Soeharto, adalah akibat "krisis moneter", yang disebabkan oleh kelakuan para bankir dan spekulan valas. Tetapi, rumus klasik dalam menyelesaikan "krisis moneter" adalah bail out, yang artinya pemerintah 'atas nama rakyat' harus melunasi utang itu. Ironisnya, langkahnya adalah dengan cara mengambil utang baru, dari para bankir itu sendiri!

Dan, bayaran untuk itu semua, dari ironi menjadi tragedi, adalah republik ini kini sepenuhnya dikendalikan oleh para bankir. Melalui letter of intent seluruh kebijakan pemerintahan RI, tanpa kecuali, hanyalah menuruti semua yang ditetapkan oleh para bankir. Dua di antaranya yang terkait dengan bank sentral dan kebijakan uang adalah:

Mulai 1999, Bank Indonesia, yang semula adalah De Javasche Bank itu, telah sama sekali dilepaskan dari Republik Indonesia. Gubernur BI bukan lagi bagian dari Kabinet RI. Ia tidak lagi harus akuntabel kepada rakyat RI.


Mulai 2011 melalui UU Mata Uang (kalau disahkan) Bank Indonesia dilegalisir sebagai pemegang hak monopoli menerbitkan uang kertas di Indonesia. Dan bersamaan dengan ini dilakukan kriminalisasi atas pemakaian mata uang lain sebagai alat tukar di Republik Indonesia. Dengan kemungkinan pengecualian atas mata uang kertas tertentu, yang bisa kita duga maksudnya, tentu saja adalah dolar AS.


Dolar Hong Kong diterbitkan oleh Bank-Bank Swasta

Kalau para wakil rakyat di DPR, yang kini tengah merampungkan UU Mata Uang, tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti semua konstelasi ini, warga Republik ini harus memahaminya. Dan, sebagai warga negara yang mengerti, kita memiliki hak asasi dan hak konstitusional untuk mengambil keputusan sendiri.*

*Penulis adalah Direktur Wakala Induk Nusantara

13.3.11

Tidur Siang itu Sehat & Disyari'atkan!

Kiat Mudah Tambah Energi, Yuk Tidur sebentar!

Tidur siang meski sebentar sangat bermanfaat. Enam menit saja pun cukup membuat otak menyegarkan diri.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Siapa bilang tidur sebentar atau tidur ayam tidak bermanfaat. Sebuah studi di AS mengungkap menikmati tidur sebentar dapat membantu seseorang berumur panjang. Peneliti dalam studi mengungkap tidur selama 45 menit berkhasiat menurunkan tekanan darah, kesehatan jantung dan baik bagi individu yang biasa tidur larut.

Laporan studi ini serupa dengan kesimpulan penelitian di Yunani yang mengatakan tidur siang selama 30 menit tiga kali dalam seminggu mampu menurunkan resiko jantung 37 persen. Studi lain yang dilaporkan University of California menyimpulkan bahwa tidur siang selama 90 menit cukup ampuh menciptakan penyegaran pada otak.

Pemimpin studi, Dr Matius Walker, mengatakan tidur siang disela bekerja atas sangat membantu seseorang yang tidak bisa tidur atau tidur larut malam. Fakta ini, kata Walker, didukung dengan riset yang melibatkan para pilot. "Pilot hanya tidur 26 menit dalam penerbangan saat dia digantikan Co-pilot.

Namun mampu meningkatkan kinerja 54 persen dan kewaspadaan 34 persen," kata dia seperti dilansir dari Dailymail, Rabu (9/3). Walker pun menyarankan untuk memanfaatkan waktu sela untuk beristiraha guna membantu menyegarkan otak sehingga membantu seseorang untuk kembali beraktivitas.

Dr Narina Ramlakhan, seorang terapis tidur di London's Capio Nightingale Hospital mengatakan ada sejumlah pilihan lama waktu yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Pilihan waktu sela untuk tidur yakni 6 menit, 20 menit atau 40 menit.

Untuk pilihan enam menit, Ramlakhan mengatakan itu pun sudah memberikan kesempatan pada otak untuk menyegarkan diri. Sedang pilihan 20 menit, menurut dia cukup membuat denyut jantung menjadi lambat. Efeknya, tidur singkat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi dan mood. Terakhir, untuk pilihan 40 menit, mampu memperbaiki ruang memori sehingga membuat tubuh menjadi lebih segar.

'Bukti menunjukkan bahwa tidur siang untuk jumlah waktu yang cukup dapat menyeimbangkan sistem kekebalan tubuh dan menambah tingkat energi, "kata Dr Ramlakhan.

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/11/03/11/168655-kiat-mudah-tambah-energi-yuk-tidur-sebentar


Tidur Sebentar Siang Hari, Lebih Panjang Umur

Hidayatullah.com--Disarankan tidak membuang kesempatan tidur siang minimal 45 menit kalau Anda ingin menikmati hidup lebih lama. Terlebih yang sering terbebani aktivitas memicu stres ingin meraih hidup sehat. Percayakah, tidur siang sejenak menurunkan tensi dan melindungi jantung.

Hal itu terungkap dalam temuan terbaru yang melibatkan 85 mahasiswa sehat. Mereka kemudian dibagi dua kelompok. Satu kelompok memiliki waktu tidur siang selama satu jam, lainnya tak punya kesempatan tidur. Kedua kelompok diberi tes untuk mengetahui tekanan mental yang dialami.

Tekanan darah dan detak jantung meningkat pada kedua kelompok siswa ketika menjalani tes stres. Tapi, tensi rata-rata yang tidur siang paling sedikit 45 menit secara signifikan lebih rendah setelah tes stres ketimbang dengan yang tidak tidur.

"Temuan kami menunjukkan tidur siang dapat memberikan manfaat kardiovaskular dengan mempercepat pemulihan kardiovaskular menyusul aktivitas yang menekan mental," tulis peneliti, Ryan Brindle dan Sarah Conklin dari Allegheny College Meadville.

"Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengeksplorasi mekanisme di mana tidur siang dikaitkan dengan kesehatan jantung dan untuk mengevaluasi tidur siang sebagai praktik penyembuhan dan perlindungan, terutama untuk individu yang memiliki risiko penyakit kardiovaskular dan mereka dengan kualitas tidur kurang optimal," tambah mereka dalam studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Behavioral Medicine.


Ala Nabi...

Profesor Jim Horne dari Sleep Research Center di University of Loughborough pernah meneliti tentang entang waktu tidur yang ideal sebagai waktu yang diperlukan oleh tubuh manusia. Ia menemukan, bahwa mereka yang berpendapat tidur lebih lama lebih berkualitas tidaklah sepenuhnya benar.

Para peneliti menemukan, tidur enam atau tujuh jam satu hari sudah cukup lama. Sebab jarak waktu atau jam tidur yang dibutuhkan oleh tubuh bisa digantikan pada tidur di siang hari.

Sebelum para peneliti sibuk mencari rahasia dan manfaat tidur, al-Quran telah lama mengungkapkan sisi-sisi rahasianya.

Dalam al-Quran banyak ditemukan ayat-ayatnya yang menerangkan tentang salah satu kebiasaan orang-orang yang bertakwa:

"Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar." (QS. Adz Dzariyat : 17-18)

Dalam Surat Ar Rum disebutkan, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” [QS. ar-Rum (30) : 23]

Karena itu, Imam al Ghazali memberi tips bagi kaum Muslim agar bisa bangun untuk shalat tahajjud. Pertama, jangan terlalu banyak makan dan minum dan kurangi kegiatan yang mengundang rasa lelah baik fisik maupun psikis. Kedua, menyisihkan waktu sebentar di siang hari menjelang shalat dhuhur atau disebut dengan qailullah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan kita untuk tidur sebentar di siang hari. Beliau bersabda:

Lakukanlah Qailullah (tidur siang), karena sesungguhnya syetan itu tidak melakukan qailulah.” (HR. Ath-Thabrani). Belakangan para peneliti Barat menemukan manfaat tidur sejenak di siang hari yang ditengarai banyak memberi manfaat.*

http://hidayatullah.com/read/15675/03/03/2011/tidur-sebentar-siang-hari,-lebih-panjang-umur.html

10.3.11

Macam-Macam Kyai

Dari: http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/macam-macam-kyai.htm

SALAH satu kosa kata yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia adalah kyai atau kiai. Biasanya, sebutan kyai dilekatkan kepada sosok yang dianggap paham ilmu agama (ulama), dan diharapkan bisa menjadi tokoh panutan. Bagi masyarakat Jawa, sebutan kyai selain dilekatkan kepada tokoh ulama, juga untuk dilekatkan pada benda pusaka, hewan yang dianggap keramat, makhluk halus, dan sebagainya.

Berbeda dengan masyarakat Jawa, bagi masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan), sebutan kyai sama sekali tak ada hubungannya dengan ulama, tetapi merupakan gelar bagi kepala distrik (jabatan setingkat wedana di Jawa). Sedangkan di Sumatera Barat, sebutan kyai dilekatkan kepada sosok etnis cina yang sudah tua (cino tuo), sama sekali tidak ada hubunganya dengan ulama dan sebagainya.

Saat ini, sebutan kyai yang banyak dijumpai adalah Kyai Maja, Kyai Langgeng, Kyai Kanjeng, Kyai Slamet, Kyai Sengkelat, Kyai Semar, Kyai Sapu Jagad, Kyai Petruk, Kyai Sadrach, dan sebagainya. Bahkan ada juga sebutan Kyai Cabul, Kyai Pajero, dan Kyai Liberal yang berkonotasi olok-olok terhadap sosok manusia penjual agama.

Kyai Maja
Mungkin bagi sebagian anak muda masa kini, nama Kyai Maja (Kyai Mojo) hanya dikenal sebagai nama jalan di kawasan tertentu. Nama asli Kyai Maja adalah Muslim Mochammad Khalifah. Karena keaktifannya mengelola pesantren di kawasan Maja (Mojo), meneruskan kiprah ayahnya, maka ia lebih dikenal dengan panggilan Kyai Maja.

Kyai Maja lahir tahun 1782 dan wafat pada tanggal 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun. Ayahnya bernama Iman Abdul Arif, seorang ulama terkenal pada masa itu di dusun Baderan dan Modjo, juga memiliki alur keturunan dari kerajaan Pajang. Sedangkan ibunya bernama R. A. Mursilah, adik perempuan HB III dan masih bersaudara sepupu dengan Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro mengangkat Kyai Maja sebagai penasehat agama sekaligus Panglima Perang. Ketika berlangsung Perang Diponegoro (1825-1830), Kyai Maja ikut andil melawan Belanda. Sampai akhirnya pada tanggal 17 Nopember 1828 Kyai Maja ditangkap di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah. Setelah dibawa ke Batavia, Kyai Maja dibuang ke Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara.

Kehadiran Kyai Maja dan pengikutnya di Tondano mendorong terbentuknya Kampung Jawa, dan melahirkan entitas Jaton (Jawa Tondano), karena hampir seluruh pengikut Kyai Maja yang dibuang ke Tondano menikah dengan wanita setempat. Keberadaan mereka bisa dilihat dari nama keluarga (fam) yang disandang di belakang nama diri, seperti Pulukadang, Modjo, Baderan, Zess, Kyai Demak, Suratinoyo, Nurhamidin, Djoyosuroto, Sutaruno, Kyai Marjo, dan lain-lain.



Kyai Langgeng
Di Magelang, nama Kyai Langgeng lebih dikenal sebagai sebuah taman rekreasi dengan luas 28 hektar, terletak sekitar satu kilometer dari pusat kota Magelang. Konon, Kyai Langeng adalah salah seorang prajurit yang ikut tewas dalam Perang Diponegoro (1825-1830), dan dimakamkan di lokasi yang kini menjadi taman rekreasi yang terawat baik ini.

Boleh dibilang, Taman Kyai Langgeng ini menjadi tempat rekreasi favorit masyarakat Magelang. Dengan tarif tiket masuk seharga Rp 8.000 per orang, setiap pengunjung bisa menikmati berbagai fasilitas, seperti kolam renang, kereta mini, komidi putar, jet coaster, bianglala, becak air, anjungan dirgantara, sepur mini, komidi layang, perpustakaan pendidikan (desa buku), dan sebagainya.

Di taman ini dapat ditemui aneka satwa seperti ular piton, burung mambruk, burung elang, bajing, monyet, rusa, ayam hutan, dan dua ekor ikan lele yang sudah cukup tua usianya. Ikan lele jantan berusia sekitar 24 tahun dan lele betina berusia sekitar 54 tahun.



Kyai Kanjeng
Yang jelas, Kyai Kanjeng bukan taman rekreasi, bukan ulama, bukan benda keramat nan bertuah. Ada yang mengatakan, Kyai Kanjeng adalah nama sebuah konsep nada pada alat musik gamelan. Ada juga yang mengatakan Kyai Kanjeng sekumpulan alat musik. Namun masyarakat lebih memaknai Kyai Kanjeng sebagai kelompok musik di bawah pimpinan Emha Ainun Nadjib, orang Jombang yang lebih dikenal sebagai seniman Yogya.

Pagelaran Kyai Kanjeng sudah luas membuana. Termasuk di tanah air sendiri. Misalnya, pada rangkaian acara peringatan 40 hari meinggalnya Gus Dur yang digelar 07 Februari 2010. Juga, pada acara Kidung Damai Untuk Indonesia yang dilaksanakan di pelataran parkir Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang, pada Selasa malam tanggal 13 Juli 2010.

Dalam hal memain-mainkan agama, kelompok music ini sampai shalawat yang berupa ibadah menurut Islam pun dijadikan nyanyian diiringi music, dan dinyanyikan di gereja lagi, sebagaimana telah diberitakan: 

Emha Ainun Nadjib: Shalawatan di Gereja, Tengkar di Korban Lumpur Lapindo
SALAH satu tokoh dari Jombang yang suka blusak-blusuk (keluar-masuk) ke gereja adalah Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Kedekatannya dengan gereja dan elitenya sudah tidak bisa diragukan lagi.

Cak Nun blusak-blusuk ke gereja, konon memang bukan untuk kebaktian, tetapi untuk mementaskan karya seni musiknya yang konon beraroma Islam. Ia memang punya kelompok kesenian bernama Kiai Kanjeng.

Di tahun 2008, Cak Nun beserta istri dan tentu saja Kiai Kanjeng, diundang oleh Protestant Church (Gereja Protestan) Belanda yang bekerjasama dengan Java Enterprise, untuk menggelar pentas musik dan dialog dengan berbagai komunitas di tujuh kota Belanda (Den Haag, Amsterdam, Rotterdam, Deventer, Leeuwarden, Windesheim, dan Utrecht). Pagelaran musik bertajuk Voices & Visions ini berlangsung pada tanggal 06 hingga 20 Oktober 2008 lalu.

Di tahun 2007, sekitar pekan kedua bulan Agustus, dalam rangka ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran (Jogjakarta), salah satu acaranya adalah menampilkan pementasan Kiai Kanjeng pimpinan Cak Nun. Selain pementasan Kiai Kanjeng, juga ada dialog antar agama (Katholik, Islam, Budha, Hindu, Kejawen).

Ketika itu, sekitar sepertiga dari peserta yang menghadiri ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran itu, adalah wanita berjilbab. Tidak ada yang bisa memastikan apakah mereka benar-benar Muslimah berjilbab, atau hanya sekumpulan perempuan yang sengaja mengenakan jilbab. Sebelum Kiai Kanjeng mentas, terlebih dulu ada pementasan dari ibu-ibu aktivis Gereja Pugeran menyanyikan lagu persembahan gerejawi.

Kiai Kanjeng dalam penampilannya malam itu, tidak hanya membawakan karya-karyanya seperti biasa, tetapi juga mengiringi para ibu-ibu aktivis Gereja Katholik Pugeran yang kala itu membawakan lagu-lagu gerejawi. Belum cukup sampai di situ, sebagai pamungkas penampilanya Kiai Kanjeng menyuguhkan medley lagu Ave Maria dan Sholawat Nabi dinyanyikan bergantian oleh Kyai Kanjeng dan ibu-ibu gereja.

Medley seperti itu bukan hal baru bagi Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Di tahun 2006, Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya pernah membawakan medley lagu Malam Kudus (yang biasa dinyanyikan umat Nasrani dalam rangka peringatan Natal) dengan Shalawat. Bukan di gereja tetapi di Masjid Cut Mutia, Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 14 Oktober 2006, dalam sebuah acara bertajuk Pagelaran Al-Qur’an dan Merah Putih Cinta Negeriku, setelah shalat tarawih. (lihat tulisan di nahimunkar.com berjudul The Men From Jombang edisi August 11, 2008 9:42 pm, http://www.nahimunkar.com/the-men-from-jombang/).

Acara perayaan ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran yang berlangsung selama kurang lebih empat jam, hingga menjelang tengah malam, kemudian berhenti karena terasakan adanya gempa. Ini kedua kalinya Gempa melanda Jogjakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, gempa di Jogjakarta dan sekitarnya terjadi pada 27 Mei 2006. (nahimunkar.com, May 28, 2009 10:09 pm, Emha Ainun Nadjib: Shalawatan di Gereja, Tengkar di Korban Lumpur Lapindo, http://www.nahimunkar.com/emha-ainun-nadjib-shalawatan-di-gereja-tengkar-di-korban-lumpur-lapindo/)

Emha Ainun Nadjib disebut (menyebut diri?) pula dengan Kyai Mbeling (mbeling itu bahasa Jawa, kurang lebihnya bermakna: susah diatur atau tidak mau berjalan pada aturan yang benar). Dan itu urusan dia, tetapi ketika julukan itu melekat pada dirinya kemudian dia blusak-blusuk ke gereja menyanyikan music dengan shalawat, sebenarnya sudah menyangkut urusan agama Ummat Islam. Karena mbelingnya itu sudah berkaitan dengan urusan peribadahan (shalawat) yang ada aturannya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seharusnya perlu diperingatkan agar dia tidak begitu lagi.

Apakah itu untuk membuktikan bahwa dia memang benar-benar Kyai Mbeling atau tidak, yang jelas dia telah mempraktekkan penyelewengan yang tidak pantas ditiru. Masih agak mending kalau dia main music ya music saja (tapi ini bukan berarti mempersilakan, ini hanya sebagai perbandingan belaka), sudah ketahuan bahwa itu haram dan maksiat. Lantas ketika yang dimusikkan itu shalawat, sebenarnya dua kesalahan: musiknya itu sendiri adalah haram, jadinya maksiat, sedang shalawat itu ibadah kok dimusikkan, itu penyelewengan pula. Dan masih pula mengakibatkan adanya kesan seakan itu Islami, sehingga tidak dirasa lagi bahwa itu maksiat. Padahal hakekatnya justru lebih maksiat (maksiat ganda) daripada yang music asli (tanpa dibumbui agama) yang masih ketahuan bahwa itu memang maksiat.

Fatwa tentang Haramnya Musik
وقد دلت السنة الصريحة الصحيحة عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ على تحريم سماع آلات الموسيقى.
روى البخاري تعليقاً أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال :(لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَالْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ . . .). والحديث وصله الطبراني والبيهقي.
والمراد بـ (الحر) الزنى.
والمعازف هي آلات الموسيقى.
والحديث يدل على تحريم آلات الموسيقى من وجهين:
الأول : قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (يستحلون) فإنه صريح في أن الأشياء المذكورة محرمة، فيستحلها أولئك القوم.
الثاني : قرن المعازف مع المقطوع حرمته وهو الزنا والخمر ، ولو لم تكن محرمة لما قرنها معها.
انظر : السلسلة الصحيحة للألباني حديث رقم (91) .فتاوى الإسلام سؤال وجواب بإشراف :الشيخ محمد صالح المنجدالمصدر :www.islam-qa.comسؤال رقم 12647(

Sunnah yang jelas lagi shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan atas haramnya mendengarkan alat-alat musik.Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.
“Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (HR. Al-Bukhari).

Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَ al-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَ al-ma’azif adalah alat-alat musik.
Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam يَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu. (Fatawa Islam, Soal dan Jawabjuz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber: http://www.islam-qa.com, soal nomor 12647). (http://www.nahimunkar.com/579/)



Kyai Slamet
Bagi yang belum paham, sebutan Kyai Slamet boleh jadi akan membangkitkan imajinasi tentang sesosok manusia yang berilmu (agama) tinggi, arif, sepuh dan bergiat di pondok pesantren. Sayangnya, imajinasi itu salah kaprah. Karena, Kyai Slamet yang dimaksud di sini adalah salah satu benda pusaka Keraton Kasunanan Surakarta berupa hewan kerbau dengan sebutan Kyai Slamet.

Pada umumnya, kerbau atau kebo berwarna hitam legam. Namun kerbau yang satu ini berwarna agak putih kemerahan seperti kulit orang bule, sehingga disebut Kebo Bule. Bersama sejumlah pusaka keraton lainnya, Kyai Slamet biasanya diarak berkeliling (kirab) dalam rangka menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Suro (1 Muharram). Tradisi ini, sudah ada sejak masa pemerintahan Pakubuwono (PB) IX, sebagai salah satu upaya raja untuk melegitimasi kekuasaannya.

Karena Kyai Slamet merupakan pusaka Keraton Kasunanan Surakarta, maka ia mendapatkan hak istimewa dari warga Surakarta (Solo). Misalnya, tidak ada yang berani mengusir Kyai Slamet saat ia memakan tanaman padi milik petani atau sayuran milik pedagang. Bahkan ada sebagian dari mereka yang justru merasa senang ketika tanaman atau dagangannya dimakan Kyai Slamet. Juga, bila Kyai Slamet buang kotoran, misalnya saat kirab berlangsung, maka kotorannya menjadi rebutan warga.

Tradisi kirab benda pusaka keraton ini, termasuk Kyai Slamet, menelan biaya tidak sedikit. Pada tahun 2010 lalu, biaya kirab Kyai Slamet dan pusaka keraton lainnya mencapai Rp 200 juta. Sebesar Rp 40 juta diantaranya, diperoleh dari sumbangan Pemerintah Provinsi (Pemprov). Uang sebanyak itu, digunakan untuk membawa kerbau jalan-jalan?

Ternyata mereka kalah pinter dibanding Gayus Tambunan. Dengan uang ratusan juta, gayus bisa menyogok sipir penjara untuk mendapatkan kebebasan ilegal. Atau, membawa anak-istrinya jalan-jalan ke Bali dan ke luar negeri dengan identitas palsu.

Sama-sama pelanggarannya, namun manusia di Indonesia berbeda dalam menyikapinya. Bukan lantaran mau membela Gayus, tetapi kenapa Gayus yang menyogok sipir penjara dipersoalkan secara nasional, dan semua orang tahu bahwa itu adalah pelanggaran; sementara itu ketika uang untuk kemubadziran bahkan upacara yang rawan kemusyrikan seperti melepas kerbau bule (Kyai Slamet) untuk jalan-jalan di malam 1 Suro (Muahhram) dengan dibiayai ratusan juta rupiah itu tidak dipersoalkan dan tidak disalahkan? Juga aneka upacara kemusyrikan yang dibiayai Pemerintah Daerah di mana-mana, padahal itu jelas-jelas merusak keimanan Ummat Islam, masih pula menguras duit (dari Ummat Islam pula), tetapi tidak dipersoalkan? Padahal secara perhitungan bahaya dan dosa, sama sekali jauh lebih berbahaya dan berdosa yang upacara-upacara kemusyrikan di mana-mana itu. Sekali lagi ini sama sekali bukan mendukung Gayus, tetapi ayo sama sama disalahkan. Gayus dan lain-lain yang melanggar ya mesti dihukum, sedang penyelewengan (istilahnya penggunaan) dana untuk upacara-upacara kemusyrikan entah itu larung laut, sedekah bumi, labuh sesaji ke Gunung Merapi dan sebagainya yang pada hakekatnya merusak keyakinan Ummat Islam itu wajib pula dihukum dan dihentikan. Karena itu lebih dari sekadar penyelewengan tetapi bahkan penyelewengan sekaligus penyesatan dan penghancuran keimanan.



Kyai Sengkelat
Bila Kyai Slamet adalah kebo bule, Kyai Sengkelat adalah nama julukan bagi sebilah keris karya Mpu Supa Mandagri, salah satu santri Sunan Ampel. Keris pusaka ini mempunyai lekukan (luk) berjumlah tiga belas yang diciptakan pada zaman Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan Brawijaya V alias Prabu Kertabhumi (1466-1478). Sunan Ampel dipercaya sebagai salah satu personel walisongo penyebar agama Islam di kawasan Nusantara. Ia putra Maulana Malik Ibrahim, yang juga personel walisongo. Berdasarkan silsilah, Sunan Ampel mempunyai garis keturunan hingga ke pasangan Ali bin Abi Thalib as dan Fatimah az-Zahra as binti Muhammad SAW. (Sejarah walisongo sepertinya agak berbau syi’ah).

Sebagai salah satu santri Sunan Ampel, Mpu Supa Mandagri pada suatu ketika diberi cis yaitu besi runcing untuk menggiring onta, yang didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Maksudnya, untuk dibuatkan sebilah pedang. Namun, Mpu Supa Mandagri merasa sayang bila besi itu diolah menjadi sebilah pedang. Maka, dibuatlah sebilah keris luk tiga belas yang diberi nama Kyai Sengkelat.

Kemudian keris itu ia serahkan kepada Sunan Ampel. Ternyata, Sunan Ampel kecewa. Karena, menurut Sunan Ampel, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu. Sedangkan pedang, lebih dekat kepada budaya Arab, tempat agama Islam berasal. Kemudian, Sunan Ampel menyarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Brawijaya V.

Jadi, boleh dibilang, Kyai Sengkelat ini merupakan lambang pembangkangan seorang murid (Mpu Supa Mandagri) kepada gurunya (Sunan Ampel). Disuruh bikin pedang kok malah bikin keris!



Kyai Semar
Sosok Kyai Semar jauh lebih abstrak dibanding dua kyai sebelumnya (Kyai Slamet dan Kyai Sengkelat). Dari namanya, Kyai Semar merujuk kepada tokoh pewayangan bernama Semar. Bagi sebagian masyarakat Jawa, Kyai Semar tidak harus dimaknai secara kongkrit, karena ia bisa berupa kearifan lokal yang melengkapi ajaran agama. Seperti, nilai-nilai kebajikan berupa aja dumeh, aja adigang-adigung-adiguna, aja alu-amah, aja ngumbar hawa nepsu, aja kumalungkung, aja nggleleng, aja kemayu, aja kemaki, dan sebagainya. (Nasihat agar menjauhi akhlaq yang buruk seperti sombong dan sebagainya).

Berdasarkan asal-usulnya, sosok Kyai Semar punya banyak versi. Salah satunya, berdasarkan naskah Serat Kanda dikisahkan, ada penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa yang memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal yang berwajah jelek dan Sanghyang Wenang yang tampan.

Hanya karena wajahnya yang jelek, maka Sanghyang Tunggal kehilangan haknya menjadi pewaris takhta kahyangan. Sang ayah, Sanghyang Nurrasa memilih Sanghyang Wenang sebagai penerus takhtanya. Sanghyang Wenang yang tampan, kemudian mewariskan takhtanya kepada putranya yang bernama Batara Guru.

Sanghyang Tunggal yang buruk rupa ini kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama (Kyai) Semar.

Dari kisah Kyai Semar ini, ada dua hal bertolak belakang yang bisa kita peroleh. Pertama, kearifan lokal, nilai-nilai kebajikan yang sesuai ajaran agama. Kedua, diskriminasi seorang ayah terhadap anaknya yang buruk rupa. Karena buruk rupa, sang anak kehilangan haknya. Jadi, melalui penokohan Kyai Semar ini kita disuguhkan dua hal kontradiktif sekaligus: kearifan dan diskriminasi.

Pesan moralnya: orang tampan lebih pantas dipilih jadi pemimpin, sedangkan yang tidak tampan hanya pantas jadi pengasuh anak-keturunan orang tampan. Sebuah pesan moral yang sangat hedonistis.

Itu semua hanya cerita khayal namun oleh sebagian orang dipercayai, hingga sebenarnya rawan perusakan iman juga. Dan akan menambah kerusakan pula bila masalah ini kemudian didanai pula untuk diupacarakan dan sebagainya seperti upacara-upacara yang rawan kemusyrikan lainnya. Makanya Ummat Islam terutama para ulama dan tokohnya wajib hati-hati dan waspada, lebih-lebih ketika mau memilih pemimpin. Bila yang dipilih adalah orang yang punya misi menghidup-hidupkan apa-apa yang berbau mistis dan kemusyrikan, maka sangat rawan ke arah sana nanti ketika memimpin, yang dikhawatirkan akan menjerumuskan masyarakat ke neraka. Ulama yang mengajak-ajak Ummat Islam untuk memilih pemimpin seperti itu, kemungkinan besar kelak di akherat akan berat tanggung jawabnya, padahal misalnya mendapatkan upah dari kampanyenya, sama sekali sudah habis ketika di dunia. Betapa ruginya!



Kyai Sapu Jagad
Sosok Kyai Sapu Jagad juga abstrak seperti Kyai Semar. Selama ini, masyarakat sekitar gunung Merapi mempercayai bahwa gunung api tersebut memiliki nyawa sebagai penunggunya, yaitu Kyai Sapu Jagad. Untuk menghindari kemarahan sang penunggu, masyarakat sekitar perlu mengadakan ritual dan juga memberikan sesaji. Sosok Kyai Sapu Jagad sebagai penunggu Merapi, konon diciptakan oleh Kraton Mataram, demi tegaknya kekuasaan penguasa.

Menurut sebuah kisah —bermisi takhayul kepercayan batil—, Kyai Sapu Jagad penunggu Merapi adalah abdi dalem setia keraton Yogyakarta yang sebelumnya dikenal dengan nama Ki Juru Taman. Secara tak sengaja, Ki Juru Taman menelan telor (endhog jagad) pemberian Nyai Roro Kidul (ini sosok fiktif yang dipercayai secara batil) kepada Panembahan Senopati. Serta merta Ki Juru Taman berubah menjadi raksasa. Hati Penambahan Senopati tentu saja masygul. Namun, ia memberikan perintah kepada Ki Juru Taman yang telah menjadi raksasa untuk menjaga puncak Merapi, menyelamatkan rakyat dari amuk Merapi selamanya. Sebagai balas jasa, setiap tahun Keraton Yogyakarta menyisihkan sebagian dari hasil buminya dalam bentuk sesajen untuk dipersembahkan kepada petinggi lelembut Merapi ini. (Nah, ujung-ujungnya kemusyrikan, yang dapat mengeluarkan orang dari keyakinan Islamnya)

Mengenai asal muasal endhog jagad dikisahkan, ketika Panembahan Senopati merapat di bibir pantai Parang Kusumo, ia diberi tanda mata cinta oleh Nyai Rara Kidul berupa endhog jagad. Sebelum pergi menghilang, Nyai Rara Kidul berpesan agar Panembahan Senopati segera memakan endhog jagad tersebut. Namun dalam perjalanan pulang, Panembahan Senopati dipergoki Sunan Kalijaga yang memang secara diam-diam mengamati kejadian antara Panembahan Senopati dengan Nyai Rara Kidul.

Sunan Kali Jaga adalah pendiri dinasti Mataram. Kepada Panembahan Senopati ia memberikan nasehat untuk tidak memakan endhog jagad tersebut, karena menurut Sunan Kali Jaga, endhog Jagad tersebut merupakan jebakan dari sang Ratu Pantai Selatan. Akhirnya, Panembahan Senopati urung memakan endhog jagad, namun sayangnya endhog tersebut termakan oleh Ki Juru Taman, yang setelah menjadi raksasa, lelembut Merapi, dikenal dengan nama Kyai Sapu Jagad. Ini semua adalah cerita khayal tapi dipercayai maka menjadi kepercayaan yang batil, sangat jauh dari keyakinan Islam.

Ada dua pesan yang bisa ditangkap dari peristiwa di atas. Pertama, tentang abdi dalem (Ki Juru Taman) yang celamitan. Disebut celamitan, karena endhog yang dia telan jelas bukan miliknya tetapi milik majikannya (Panembahan Senopati). Kedua, majikan yang tidak bertanggung jawab. Sebagai majikan, sebagai pimpinan, seharusnya ia mengupayakan agar Ki Juru Taman yang berubah wujud menjadi raksasa akibat memakan endhog jagad yang bukan miliknya, kembali kepada bentuk semula. Namun hal itu tidak dilakukan, malah dibebani tanggung jawab yang lebih besar lagi, yaitu menjadi penjaga gunung Merapi, dan berkorban untuk rakyat banyak dari amukan Merapi. Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Miskin pula.

Ini semua hanya cerita khayal, tetapi kemudian diupacarai pakai sesaji, jadi pada hakekatnya disembah-sembah, dan itulah kemusyrikan yang nyata. Mereka minta keselamatan kepada selain Allah yang dikhayalkan sebagai roh Kyai Sapu Jagat. Itu benar-benar kemusyrikan. Hanya saja praktek kemusyrikan itu ditiru pula dalam bentuk yang bukan memberikan sesaji tetapi dalam bentuk apa yang disebut ziarah kubur para wali atau orang-orang yang dianggap saleh. Ziarah kubur itu sendiri dalam Islam ada dua: yang syar’I dan yang tidak syar’i. Yang syar’I adalah berziarah untuk mengingat akherat dan mendoakan mayat isi kubur yang Muslim. Mayat Non Muslim haram didoakan. Ziarah yang tidak syar’I, di antaranya ziarah tapi meminta kepada isi kubur (misal agar rejeki lancar, enteng jodoh dan sebagainya), itu sama dengan yang menyembah atau minta perlindungan kepada Roh Kyai sapu Jagat dan lainnya itu. Makanya orang yang meminta kepada isi kubur itu sering disebut penyembah kubur. Karena pada hekaketnya sama antara penyembah Roh Sapu Jagat atau semacamnya dengan peminta isi kubur.

Sebelum diteruskan, kita beralih dulu ke berikut ini:



Kyai Petruk
Selain Kyai Sapu Jagad, masih ada delapan sosok lain yang dipercaya sebagai penunggu Merapi. Salah satunya, Kyai Petruk. Sebagian masyarakat Jawa percaya, Kyai Sapu Jagad adalah penunggu kawah Merapi yang menjadi penentu meledak-tidaknya gunung tersebut. Sedangkan Kyai Petruk mengemban tugas sebagai pemberi wangsit mengenai saat meletusnya Merapi, termasuk memberi kiat-kiat tertentu kepada penduduk agar terhindar dari ancaman bahaya lahar panas Merapi.

Konon, Kyai Petruk merupakan anak dari seorang petinggi di Kecamatan Cepogo (Boyolali, Jawa Tengah), dengan nama asli Handoko Kusumo. Karena postur Handoko mirip tokoh pewayangan Petruk, maka ia dipanggil dengan sebutan Kyai Petruk.

Sejak kecil, Handoko dikenal sebagai sosok yang gemar menolong. Handoko juga dipercaya punya kesaktian, berkat ketekunannya bertapa. Dengan kesaktiannya itu, masyarakat sekitar Merapi percaya bahwa Kyai Petruk dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat di sekitar Merapi dari bahaya erupsi.

Masyarakat sekitar Merapi juga percaya bahwa Kyai Petruk meninggal melalui proses mukswo atau moksa (hilang tanpa meninggalkan raga) di gunung Merapi saat serius bertapa. Untuk mengenang Kyai Petruk, masyarakat sekitar Merapi setiap malam 1 Suro mengadakan acara Sedekah Gunung yang salah satu rangkaian acaranya adalah larung sesaji, berupa tumpeng sesaji, nasi gunung yang dibuat dari jagung, dan sebagainya, termasuk dupa kemenyan, dan tak lupa kepala kerbau.

Itu semua adalah upacara sesajen atau sesaji alias penyembahan kepada selain Allah Ta’ala. Itulah kemusyrikan nyata.



Hukum Tumbal dan Sesajen dalam Islam
Mempersembahkan kurban yang berarti mengeluarkan sebagian harta dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Lihat kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 282), adalah suatu bentuk ibadah besar dan agung yang hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya, 

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (QS. al-An’aam [6] : 162-163).

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Maka, dirikanlah shalat karena Rabb-mu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan berkurbanla.” (QS. Al-Kautsar [108] : 2).

Kedua ayat ini menunjukkan agungnya keutamaan ibadah shalat dan berkurban, karena melakukan dua ibadah ini merupakan bukti kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemurnian agama bagi-Nya semata-mata, serta pendekatan diri kepada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan, juga dengan menyembelih kurban yang merupakan pengorbanan harta yang dicintai jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 228).

Oleh karena itu, maka mempersembahkan ibadah ini kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala (baik itu jin, makhluk halus ataupun manusia) dengan tujuan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepadanya, yang dikenal dengan istilah tumbal atau sesajen, adalah perbuatan dosa yang sangat besar, bahkan merupakan perbuatan syirik besar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (menjadi kafir).(Lihat kitab Syarhu Shahiihi Muslim 13/141, al-Qaulul Mufiid ‘Ala Kitaabit Tauhiid 1/215 dan kitabat-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid, hal. 146).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah.” (QS. al-Baqarah [2] : 173).

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Artinya, sembelihan yang dipersembahkan kepada sembahan (selain Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan berhala, yang disebut nama selain-Nya (ketika disembelih), atau diperuntukkan kepada sembahan-sembahan selain-Nya.” (Kitab Jaami’ul Bayaan Fi Ta’wiilil Quran 3/319).

Dalam sebuah hadits shahih, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya.” (HSR. Muslim no. 1978)

Hadits ini menunjukkan ancaman besar bagi orang yang menyembelih (berkurban) untuk selain-Nya, dengan laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dijauhkan dari rahmat-Nya. Karena perbuatan ini termasuk dosa yang sangat besar, bahkan termasuk perbuatan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga pelakunya pantas untuk mandapatkan laknat AllahSubhanahu wa Ta’aladan dijauhkan dari rahmat-Nya. (Keterangan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam kitabat-Tamhiid Li Syarhi Kitaabit Tauhiid, hal. 146).

Penting sekali untuk diingatkan dalam pembahasan ini, bahwa faktor utama yang menjadikan besarnya keburukan perbuatan ini, bukanlah semata-mata karena besar atau kecilnya kurban yang dipersembahkan kepada selain-Nya, tetapi karena besarnya pengagungan dan ketakutan dalam hati orang yang mempersembahkan kurban tersebut kepada selain-Nya, yang semua ini merupakan ibadah hati yang agung yang hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.

Oleh karena itu, meskipun kurban yang dipersembahkan sangat kecil dan remeh, bahkan seekor lalat sekalipun, jika disertai dengan pengagungan dan ketakutan dalam hati kepada selain-Nya, maka ini juga termasuk perbuatan syirik besar. (Lihat kitab Fathul Majid hal. 178 dan 179).

Dalam sebuah atsar dari sahabat Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu beliau berkata, “Ada orang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat, ada dua orang yang melewati (daerah) suatu kaum yang sedang bersemedi (menyembah) berhala mereka dan mereka mengatakan, ‘Tidak ada seorangpun yang boleh melewati (daerah) kita hari ini kecuali setelah dia mempersembahkan sesuatu (sebagai kurban/tumbal untuk berhala kita).’ Maka, mereka berkata kepada orang yang pertama, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’ Tapi, orang itu enggan –dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak akan berkurban kepada siapapun selain AllahSubhanahu wa Ta’ala’–, maka diapun dibunuh (kemudian dia masuk surga). Lalu, mereka berkata kepada orang yang kedua, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’, -dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak mempunyai sesuatu untuk dikurbankan.’ Maka mereka berkata lagi, ‘Kurbankanlah sesuatu meskipun (hanya) seekor lalat!’, orang itu berkata (dengan meremehkan), ‘Apalah artinya seekor lalat,’, lalu diapun berkurban dengan seekor lalat, –dalam riwayat lain: maka merekapun mengizinkannya lewat– kemudian (di akhirat) dia masuk neraka.’”

(Atsarriwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitabal-Mushannaf(no. 33038) dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan dari jalan lain oleh Imam Ahmad dalam kitabaz-Zuhd(hal. 15-16), al-Baihaqi dalam kitabSyu’abul Iman(no. 7343) dan Abu Nu’aim dalamHilyatul Auliyaa’(1/203)). (Ustadz Abdullah Taslim, M. A, Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah, www.muslim.or.id, Kategori Aqidah | 12-11-2010).

Ketika meminta perlindungan kepada selain Allah dengan memberikan sesajen ataupun tumbal maka berarti berbuat kemusyrikan dan bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam; maka demikian pula yang meminta kepada isi kubur. Inilah fatwanya:



Fatwa tentang Meminta kepada Isi Kubur
Soal: Orang-orang berkata ketika ada bencana dan kesulitan-kesulitan: Ya Rasulallah, dan (memanggil) yang lainnya dari para wali. Dan mereka pergi ke kubur-kubur orang-orang shalih ketika mereka sakit, seraya minta tolong kepada mereka (mayat dalam kubur), dan mereka berkata:Sesungguhnya Allah akan menolak bala’ karena mereka (mayat dalam kubur), kami minta tolong kepada mereka tetapi niat kami kepada Allah, karena yang membekasi adalah Allah. Apakah ini syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya) atau tidak? Dan apakah mereka dikatakan musyrik? Padahal mereka shalat, membaca Al-Qur’an dan lainnya dari amal yang baik.

Jawab:apa yang mereka lakukan itu adalah syirik yang dulu ahli jahiliyah pertama ada di atasanya, karena mereka dulu menyembah (menyeru) Lata, Uza, dan Manat dan lainnya, mereka minta kepadanya dengan mengagungkannya dan mengharapkan agar mereka (berhala-berhala itu) mendekatkan diri mereka kepada Allah. Dan mereka berkata: 
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. (QS. Az-Zumar [39]: 3)

Mereka juga berkata:
“mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah“. (QS. Yunus [10]: 18).

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa do’a itu adalah ibadah, dan sesungguhnya ibadah itu tidak ada kecuali milik Allah, dan Allah Ta’ala melarang berdoa kepada selain-Nya, maka Dia berfirman:
Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus [10]: 106-107)

Wajib atas orang muslimin untuk mengatakan:
Hanya Engkaulah yang kami sembah,dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (QS. Al-Fatihah [1]: 5)

(Pengucapan ayat itu) dalam setiap raka’at dari shalat-shalat mereka, sebagai petunjuk bagi mereka bahwa ibadah itu tidak ada kecuali bagi-Nya, dan bahwa permintaan tolong itu tidak ada kecuali pada-Nya, bukan orang-orang mati dari para nabi dan seluruh orang yang shalih. Dan janganlah menjadikan kamu tertipu yang demikian itu dengan banyaknya shalat mereka, puasa mereka, bacaan-bacaan (Al-Qur’an) mereka, karena sesungguhnya mereka termasuk orang yang sesat usaha mereka dalam kehidupan di dunia sedang mereka mengira bahwa mereka berbuat baik. Dan yang demikian itu bahwasanya tidak terbangun di atas landasan tauhid yang murni, maka usaha mereka itu adalah bagai debu yang beterbangan. Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah atas kesyirikan mereka dan musnahnya amal mereka itu banyak, maka rujukkanlah hal itu kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih dan kitab-kitab Ahlus Sunnah. Kami memohon kepada Allah hidayah untuk kami dan kamu.

Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-buhuts al-‘ilmiyyah wal ifta’, fatwa nomor 9027
Ketua : Abdul aziz bin Abdullah bin Baaz
Anggota: Abdul Razzaq ‘Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghadyan
Anggota: Abdullah bin Qu’ud.



Kyai Sadrach
Bagi sebagian masyarakat yang terlanjur mempersepsikan sebutan kyai dengan ulama agama Islam, boleh jadi akan kecele. Sebab, kyai yang satu ini adalah murtadin (orang murtad, keluar dari Islam) yang aktif menyebarkan agama Kristen sembari membiarkan tradisi Jawa larut dalam ajaran Kristen. Diperkirakan, ia lahir di Jepara pada tahun 1835, dan meninggal dunia pada 14 November 1924 dalam usia 89 tahun.
Anak petani miskin yang pernah menjadi pengemis ini, bernama asli Radin. Ketika ia belajar di salah satu pesantren di Jombang (Jawa Timur), namanya menjadi Radin Abas. Dari Jombang, Radin Abas berkelana ke Semarang. Di sinilah awal kekristenan Radin Abas bermula. Ada dua versi mengenai hal ini.

Versi pertama, di Semarang Radin bertemu dengan seorang penginjil bernama Hoezoo, kemudian Radin Abas pun ikut kelas Katekisasi yang diajar oleh Hoezoo. Di tempat inilah Radin berkenalan dengan Kyai Ibrahim Tunggul Wulung yang sudah sepuh, dan sudah lebih dulu murtad. Kebetulan, ia berasal dari daerah yang sama dengan Radin, yaitu daerah Bondo Karesidenan Jepara. Semenjak perkenalan tersebut, Radin menjadi murid Tunggul Wulung.

Versi kedua, di Semarang Radin bertemu dengan Kurmen alias Sis Kanoman, bekas gurunya. Ternyata, saat itu Kurmen sudah masuk Kristen melalui Kyai Ibrahim Tunggul Wulung. Radin Abas pun diperkenalkan Kurmen kepada Kyai Ibrahim Tunggul Wulung, dan Radin berguru kepadanya. Akhirnya, Radin dibawa ke Batavia oleh Kyai Ibrahim Tunggul Wulung, dibaptis dengan nama Sadrach pada tanggal 14 April 1867, ketika usianya menginjak angka 32 tahun. Sejak saat itu, Radin alias Sadrach menjadi anggota gereja Zion Batavia yang beraliran Hervormd. Tugas pertamanya, menyebarkan brosur dan buku-buku tentang agama Kristen dari rumah ke rumah di seputar Batavia.

Sadrach yang pernah belajar di pesantren, meski sudah murtad tetap menempelkan atribut kyai di depan namanya, tentu bukan tanpa maksud. Dua tahun kemudian (1869) Sadrach diangkat anak oleh Pendeta Stevens-Philips yang saat itu berdomisili di Purworejo. Setahun di Purworejo, Sadrach kemudian pindah ke Karangjasa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Purworejo. Di Karangjasa, Sadrach semakin giat menyebarkan agama Kristen. Antara lain ia berhasil mengkristenkan Kyai Ibrahim yang tinggal di Sruwoh, tak jauh dari Karangjasa, dan Kyai Kasanmetaram.

Geliat Sadrach mengkristenkan kaum pribumi, memberi hasil yang jauh lebih banyak dibanding misionaris Belanda. Bahkan di Purworejo, jumlah orang Kristen Jawa pernah melampaui jumlah orang Kristen Belanda, berkat keuletan Sadrach. Keberhasilan Sadrach terutama karena ia menerapkan strategi yang jitu. Yaitu, hanya melakukan kristenisasi di wilayah-wilayah yang kadar keislamannya masih relatif rendah, yang masih bercampur dengan budaya animisme dan Hindu. Juga, ia menggabungkan ajaran Kristen dengan budaya Jawa seperti Yesus Kristus yang diasosiasikan dengan Ratu Adil. Yang lebih menarik, Sadrach tetap mempertahankan tradisi kejawen dalam masyarakat dengan memasukkan berbagai doa Kristen ke dalamnya.

Meski dinilai berprestasi mengkristenkan kaum pribumi, namun Sadrach tetap saja orang Jawa yang mendapat perlakuan diskriminatif dari kaum kristen Belanda. Bagi sebagian kristen Jawa, sosok Sadrach tidak saja diposisikan sebagai guru, bahkan ada yang menganggapnya Ratu Adil di tanah Jawa. Sementara itu, bagi para misionaris (kristen Belanda), Sadrach hanyalah kyai Jawa yang ambisius dan gila hormat. Selain itu, Sadrach dituduh sebagai sumber sinkretisme antara nilai Kristen dan kejawen.

Kalangan kristen Belanda memandang Sadrach hanya sebagai asisten Pendeta Stevens-Philips. Sehingga, seluruh keberhasilan Sadrach mengkristenkan kaum pribumi dianggap sebagai kerja keras Pendeta Stevens-Philips dan keluarganya. Oleh karena itu mereka menganggap jemaat-jemaat Sadrach berada di bawah hegemoni Pendeta Stevens-Philips. Puncaknya, pada tahun 1891 dikeluarkan pernyataan bersama para misionaris (kristen Belanda) untuk memisahkan diri dari jemaat Sadrach. Bahkan, Sadrach sempat ditangkap dan dipenjara oleh Pemerintah Belanda. Alasannya, Sadrach dianggap sebagai ancaman yang potensial melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Belanda, karena memiliki pengaruh kuat di kalangan pribumi. Beberapa bulan kemudian Sadrach dibebaskan.

Begitulah nasib sang Kyai murtad yang kemudian bernama lengkap Radin Abas Sadrach Supranata. Meski sudah murtad dan aktif mengkristenkan kalangan pribumi, ia tetap dipandang sebagai orang Jawa yang kedudukannya lebih rendah dari orang Belanda. Ibarat kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, tetap saja tak bisa jadi atlit. Apalagi ikut Olimpiade.

Di dunia nasibnya celaka, dan di akherat karena murtadnya dari Islam itu maka kekal di neraka. Itu sudah tegas dinyatakan Allah Ta’ala:
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2] : 217).

Nasib celaka di dunia dan akherat walau julukannya masih tetap kyai itu hendaknya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi setiap Muslim. Lebih-lebih orang-orang yang mengaku Muslim namun liberal (walau Kyai), hendaknya becermin pada bencana hidup yang dialami Kyai Sadrach yang sudah mengorbankan agamanya (Islam) namun tetap di dunia saja tidak diakui oleh Belanda “jasa-jasanya”, sedang adzab Allah di akherat kelak telah jelas akan menimpanya selama-lamanya, kekal di dalam neraka. Na’udzubillahi min dzalik, kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

Dari uraian ini diketahui bahwa ternyata kyai itu bermacam-macam. Macam-macam kyai itupun tampaknya menarik dibahas, sehingga telah dikenal ada buku berjudul Bila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU karya Hartono Ahmad Jaiz. Masih pula ada yang lebih khusus lagi, buku berjudul Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, ternyata karya Hartono Ahmad Jaiz pula.

Dari bahan bacaan maupun kenyataan di masyarakat, sebutan kyai terbukti belum tentu sebagai julukan untuk orang yang alim agama dan akhlaqnya bagus. Bahkan ada yang berupa binatang atau benda. Sedang muatannya pun bermacam-macam. Ada yang baik, ada yang buruk, ada yang menuntun manusia kepada keimanan yang benar, ada yang menyebarkan kemaksiatan tapi seolah agamis, ada yang menyesatkan, dan bahkan ada yang murtad. Sehingga tidak mengherankan bila kelak di akherat isi neraka itu di antaranya adalah Kyai-kyai, bahkan ada yang kekal di neraka karena telah murtad dari Islam. Sedang julukan kyai-nya walaupun masih melekat namun sama sekali tidak ada nilainya apa-apa. Kecuali bagi kyai yang memang benar-benar beriman dan beramal shalih, maka tentu saja Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya yang dilandasi iman. Dan itu tercakup dalam ayat: 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya. (QS. Al-Kahfi [18]: 107-108)

Beriman di situ disyaratkan dengan tidak bercampur dengan kemusyrikan. Dalam pembahasan ini di antara kemusyrikan itu adalah menyembah kuburan dengan kedok ziarah ke kubur-kubur wali dan orang shaleh, dengan cara meminta kepada isi kubur sebagaimana difatwakan kemusyrikannya dalam fatwa di atas. Syarat iman tidak bercampur dengan kemusyrikan itu ditegaskan dalam Al-Qur’an:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am [6] : 82). (haji/tede)

8.3.11

Profesor matematika yg pernah memilih tak beragama alias atheis ini akhirnya lebih memilih Islam sebagai pihan terakhirnya

Hidayatullah.com—Perjalanan setiap orang menuju Islam beraneka ragam caranya dan punya keunikan masing-masing. Seperti Prof Jeffrey Lang, kisah keislamnnya tergolong unik dan menarik. Profesor Matematika ini mendapat hidayah melalui perantaraan mahasiswa bimbingannya di kampus University of San Fransisco, AS. Dia sempat dihadiahi sebuah mushaf Alquran yang diakuinya sebagai kitab suci yang sangat mengagumkan. Satu hari, secara tak terduga dia menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja dekat kampus. Rupanya ruangan itu dipakai oleh para mahasiswanya yang Islam untuk shalat lima waktu. Nah, di ruangan kecil itu pula akhirnya dia bersyahadah. Berikut kisah lengkapnya.
ooo

Prof. Dr. Jeffrey Lang, nama lengkapnya. Sehari-hari dia bekerja sebagai dosen dan peneliti bidang Matematika di Universitas Kansas, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat. Gelar master dan doktor matematika diraihnya dari Purdue University tahun 1981. Prof. Jeffrey dilahirkan dalam sebuah keluarga penganut paham Katolik Roma di Bridgeport, Connecticut pada 30 Januari 1954.

Pendidikan dasar hingga menengah dijalani di sekolah berlatar Katolik Roma. "Hampir 18 tahun lamanya kuhabiskan masa kecil di sekolah yang berlatar belakang ajaran Katolik. Selama itu pula aku menyisakan banyak pertanyaan tak berjawab tentang Tuhan dan filosofi ajaran Kristen," tutur dia.

Jeffrey, dalam catatan hariannya tentang perjalanannya mencari Islam, menulis:"Seperti kebanyakan anak-anak lain di kisaran tahun 1960-an hingga awal 1970-an kulewati masa kecil yang penuh keceriaan. Bedanya pada masa itu aku sudah mulai banyak bertanya-tanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik itu secara politik, sosial dan keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan, termasuk di dalamnya pemuka gereja Katolik."

Beranjak remaja, di usianya yang ke-18, Prof. Jeffrey mengaku sudah jadi atheis alias tak percaya lagi adanya tuhan. "Jika Tuhan itu ada, dan Dia punya belas kasih dan sayang, lalu kenapa ada begitu banyak penderitaan di atas bumi ini? Kenapa Dia tidak masukkan saja kita semua ke dalam syurga? Kenapa juga dia menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai penderitaan?" kisah Jeffrey muda tentang kegelisahan hatinya kala itu. Selama bertahun-tahun pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menggelayuti pikirannya.

Bertemu mahasiswa muslim
Akhirnya Prof. Jeffrey mendapatkan jawaban awal di kota San Francisco. Ceritanya, saat itu dia diangkat sebagai salah seorang asisten dosen di Jurusan Matematika, Universitas San Francisco. Jeffrey menemukan Tuhan itu ada dan nyata dalam kehidupan ini. Tapi bagaimana cara dia menemukannya? Ternyata petunjuk itu didapatnya dari beberapa mahasiswanya yang beragama Islam!

"Saat pertamakali memberi kuliah di Universitas San Francisco, aku ketemu dengan seorang mahasiswa muslim yang mengambil mata kuliah Matematika. Akupun langsung akrab dengan mahasiswa ini, begitu pula dengan keluarganya. Agama, saat itu belum jadi topik perbincangan kami, hingga satu ketika aku diberi hadiah sebuah kitab suci Alquran," cerita dia.

Mahmoud Qadeel, nama mahasiswa tersebut. Dia berasal dari Arab Saudi. Mahmoud, cerita Prof Jeffrey, telah memberi banyak masukan baginya tentang hal ihwal Islam. Menariknya, semua diskusi mereka menyangkut dengan sains dan teknologi. "Aku pernah diskusi dengan Mahmoud tentang riset kedokteran dan dia menjawab dengan sempurna sekali. Bahasa Inggrisnya juga bukan main. Aku dibuat terpana oleh Mahmoud, yang di negaranya adalah seorang mayor polisi," lanjut Prof. Jeffrey kagum.

Hadiah Alquran
Satu ketika, berlangsung acara perpisahan. Semua dosen dan mahasiswa turut hadir dalam acara yang diadakan di sebuah tempat di luar kampus itu."Aku benar-benar terkejut saat Mahmoud memberiku hadiah sebuah mushaf Alquran. Mahmoud juga menghadiahiku beberapa buku Islam," kata Prof. Jeffrey.

Atas inisiatifnya sendiri, dia pun mempelajari isi Alquran itu. Bahkan buku-buku Islam tersebut dibacanya hingga tuntas. Dia mengaku kagum dengan Alquran. Dua juz pertama dari Alquran yang sempat dipelajarinya telah membuat dia bagai terhipnotis.

"Tiap malam muncul beraneka macam pertanyaan dalam diriku. Tapi entah kenapa jawabannya segera kutemukan esok harinya. Seakan ada yang membaca pikiranku dan menuliskannya di setiap baris Alquran. Aku seakan menemukan diriku di tiap halaman Alquran...," tukas Jeffrey lagi.

Bersyahadah di mushallah kampus
"Sekitar tahun 80-an belum banyak pelajar muslim yang studi di Universitas San Francisco. Waktu itu bisa jumpa dengan mahasiswa Islam sangat surprise," aku Prof. Jeffrey.

Ada cerita menarik tatkala dia sedang menelusuri kampus, secara tak terduga aku menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja. "Rupanya ruang itu dipakai oleh beberapa mahasiswa Islam untuk shalat lima waktu," lanjut dia lagi.

Kepalanya dipenuhi tanda tanya dan rasa ingin tahunya membuncah. Dia pun bersegera masuk ke tempat shalat tersebut. Waktu itu pas masuk waktu shalat zuhur dan dia pun diajak untuk ikut shalat oleh para mahasiswanya. Dia berdiri persis di belakang salah seorang mahasiswa dan mengikuti setiap gerakannya. Air matanya terlihat menetes.

"Kami berdiskusi tentang masalah agama. Aku utarakan semua bertanyaan yang selama ini tersimpan dalam kepalaku. Dan, sungguh luar biasa, aku benar-benar terkejut sekali dengan cara mereka menjelaskan. Masuk akal dan mudah dicerna. Ternyata jawabannya ada dalam ajaran Islam," tutur dia. "Tahu tidak, setelah keluar dari mushallah itu, aku telah mengucapkan dua kalimah syahadah!," tutur Prof Jeffrey.

Kenapa kita shalat, Ayah?
Prof Jeffrey secara rutin menunaikan shalat lima waktu dan merasakan ketentraman jiwa luar biasa. Shalat subuh, seperti diakuinya, adalah salah satu ritual yang sangat indah dalam Islam dan dia merasakan kesan mendalam dari shalat subuh.

Satu hari Jeffrey ditanya oleh Jameelah, anak perempuannya yang kala itu berumur delapan tahun, selepas dia shalat Zuhur. "Ayah, kenapa kita harus shalat?," tanya anaknya polos.

"Aku terhenyak dengan pertanyaannya. Aku benar-benar tidak mengira seorang anak berumur delapan tahun akan bertanya seperti itu. Ingin kuceritakan padanya bagaimana kelebihan dan kenikmatan shalat. Tapi apa dia bisa mengerti? Akhirnya kujawab bahwa kita shalat karena itu perintah Allah," tukas sang professor.

"Tapi ayah, apa yang bisa kita peroleh dengan shalat?," tanya sang anak lagi masih penasaran."Anakku, hal ini masih sulit untuk kamu pahami. Satu hari nanti, jika kamu sudah istiqamah dengan shalat lima waktu, ayah yakin kamu pasti akan dapatkan jawabannya," pungkas Prof Jeffrey bijak.

"Apakah shalat bisa bikin kita bahagia ayah?." lanjut Jameelah kecil.

"Sayangku, shalat adalah salah satu obat penenang jiwa. Sekali kita bersentuhan dengan kasih sayang Allah di dalam shalat, maka itulah kenikmatan yang luar biasa. Satu waktu, selepas lelah sehabis kerja, ayah merasakan semua rasa lelah itu hilang saat mengerjakan shalat," imbuhnya lagi meyakinkan sang anak.

Itulah kisah sang profesor yang juga meraih karir bagus di bidang matematika. Dia mengaku sangat terinspirasi dengan matematika. "Matematika itu logis dan berisi fakta-fakta berupa data real untuk mendapatkan jawaban konkret," tutur dia.

"Dengan cara seperti itulah aku bekerja. Adakalanya aku frustrasi ketika ingin mencari sesuatu tapi tidak mendapat jawaban yang konkret. Islam, bagiku, semuanya rasional, masuk akal dan mudah dicerna," tukasnya.

Prof Jeffrey saat ini ditunjuk oleh fakultasnya sebagai pembina organisasi Asosiasi Mahasiswa Islam guna menjembatani para pelajar muslim dengan universitas. Tak hanya itu, dia bahkan ditunjuk untuk memberikan mata kuliah agama Islam oleh pihak rektorat.

Prof Jefrey menikah dengan seorang perempuan Arab Saudi bernama Raika tahun 1994. Mereka dikaruniai tiga buah hati yakni Jameelah, Sarah dan Fattin. Jeffrey juga penulis buku yang handal. Selain ratusan artikel ilmiah bidang matematika, dia juga telah menulis beberapa buku Islam yang menjadi rujukan komunitas muslim Amerika. "Even Angels ask; A Journey to Islam in America" adalah salah satu buku best sellernya. Dalam buku itu dia menulis kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam.

[Zulkarnain Jalil/irg/www.hidayatullah.com]
http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8638:profesor-jeffrey-lang-temukan-hidayah-melalui-perantaraan-mahasiswanya&catid=74:cermin&Itemid=72

27.2.11

Naiknya Harga BBM Akibat Tekanan Perusahaan Minyak Multinasional

Liberalisasi Harga Bahan Bakar Secara Syar’i Haram

[Al Islam 545] Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana liberalisasi harga bahan bakar minyak jenis premium yang sebelumnya disubsidi oleh pemerintah, sehingga harganya murah dan permintaannya besar. Premium selama ini digunakan oleh kendaraan umum dan kendaraan pribadi. Pemerintah berdalih, subsidi yang diberikan selama ini tidak sampai kepada mereka yang berhak, yaitu orang-orang miskin. Sebab, 40% dari jumlah penduduk hanya menikmati 16% dari jumlah subsidi, sementara kelas menengah yang mencapai 60% dari jumlah penduduk menikmati 84% dari jumlah subsidi.

Kebijakan pemerintah ini akan menyebabkan kelangkaan premium di pasaran, sehingga masyarakat akan beralih menggunakan pertamax yang tidak disubsidi. Hal ini akan sangat menguntungkan perusahaan-perusahaan minyak multi nasional yang membuka SPBU di seluruh negeri ini. Kelangkaan premium di pasaran akan dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, sehingga masyarakat pun terpaksa membeli pertamax. Hal itu membuat perusahaan-perusahaan multi nasional tersebut meraup keuntungan yang sangat besar, karena tidak ada yang menyaingi di pasar.

Istilah “pembatasan BBM bersubsidi” sesungguhnya hanyalah tipu muslihat dan kedok untuk menutupi niat yang sebenarnya, yaitu liberalisasi energi. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas. Teks undang-undang tersebut menyatakan pentingnya manajemen urusan minyak dan gas sesuai dengan mekanisme pasar (pasal 3). Pengelolaan minyak dan gas itu bisa dilaksanakan oleh perusahaan BUMN, BUMD, koperasi, usaha kecil, perusahaan dalam negeri dan perusahaan asing (pasal 9).

Menteri ESDM waktu itu, Purnomo Yusgiantoro, menegaskan dalam pernyataan persnya pada tanggal 14/5/2003. Ia mengatakan, “Liberalisasi di sektor minyak dan gas akan membuka ruang bagi para pemain asing untuk ikut andil dalam bisnis eceran bahan bakar minyak”. Akan tetapi, liberalisasi itu menyebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak yang disubsidi oleh pemerintah. Sebab, jika harga bahan bakar minyak tetap rendah, maka tidak akan menarik minat para pemain asing untuk ikut bermain di bisnis eceran BBM. Dengan demikian, skema pembatasan BBM bersubsidi hanyalah kedok untuk menutupi niat utama pemerintah, yaitu menaikkan harga BBM, demi memenuhi perintah tuan-tuannya di Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan USAID.

Tampak sangat mencolok bahwa pemerintah tidak berpihak kepada perusahaan BUMN, Pertamina; misalnya, dalam perselisihannya dengan perusahaan asing (Exxon Mobil) tentang hak pengeksploitasian minyak di Cepu dan Sukowati. UU no 22 tahun 2001 terkait masalah eksploitasi minyak, memberikan hak yang besar kepada pihak-pihak internasional, regional, nasional dan daerah dalam hal pengeksploitasian dan penentuan harga minyak.

Wahai Kaum Muslim: semua jenis energi baik minyak, gas, listrik atau energi lainnya yang digunakan sebagai sumber energi di rumah, industri, kendaraan, mesin dan peralatan, maka secara syar’i negara tidak memiliki hak untuk memberikannya secara khusus kepada individu, institusi, atau perusahaan tertentu, meskipun mereka berasal dari warga negeri ini sendiri. Lalu bagaimana jika mereka itu berasal dari pihak asing kafir imperialis?! Energi tersebut adalah milik umum untuk umat. Rasulullah saw bersabda:

«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلإِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ»
Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api, dan harganya haram (HR Ibn Majah)

Kata an-nâr (api) mencakup semua jenis energi yang disebutkan di atas. Negara secara syar’i dituntut untuk mengeksplorasi energi itu dan mendistribusikannya kepada masyarakat (rakyatnya) secara gratis. Jika negara menjualnya, negara harus mendistribusikan keuntungan hasil penjualannya kepada rakyat. Negara tidak boleh memungut dari masyarakat kecuali pungutan kecil yang tidak melebihi biaya riil untuk mengatur pengelolaan BBM. Negara berhak menyimpan kelebihan BBM dari yang dibutuhkan masyarakat untuk keperluan-keperluan penting lainnya di dalam negara. Bila negara tidak boleh memungut harga bahan bakar minyak dari masyarakat, lalu bagaimana negara justru menjualnya kepada masyarakat sesuai dengan harga pasar internasional?!

Pemerintah bertindak seolah-olah tidak tahu bahwa syariah islamiyah telah mengatur urusan energi. Atau seolah-olah pemerintah tidak peduli dengan hukum-hukum syariah dan membuat undang-undang yang zalim dan merusak untuk menyenangkan perusahaan-perusahaan imperialisme asing dan pihak-pihak rakus yang menjarah kekayaan umat untuk rekening-rekening pribadi. Apalagi, tindakan itu telah membuat negeri ini berada di bawah pengaruh penjajah. Dan hal itu secara syar’i adalah haram. Allah SWT berfirman:

{وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا }
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (QS an-Nisa’ [4]: 141)

Urusan energi yang termasuk dalam cakupan kata an-nâr (api) tidak boleh diprivatisasi, baik kepada warga negara sendiri, apalagi kepada pihak asing. Sebab itu adalah milik umum. Syariah Islam telah menetapkan hukum-hukum tertentu yang harus diperhatikan untuk harta milik umum dan tidak boleh dibuat main-main. Berbagai macam kezaliman dan pelanggaran terhadap masyarakat tidak hanya disebabkan oleh kerusakan pemerintah, tetapi juga disebabkan oleh rusaknya sistem yang digunakan penguasa dalam menjalankan pemerintahan. Sistem yang diterapkan di negeri kita dan negeri-negeri kaum Muslim lainnya adalah sistem kapitalisme sekular, yang memisahkan agama dari negara. Dan itu merupakan sistem kufur yang dibuat manusia menurut hawa nafsu dan syahwatnya. Karena itu, sistem tersebut menyebabkan kesengsaraan dan kemiskinan.

Adapun alasan pemerintah bahwa subsidi yang dikucurkan sebagian besarnya dinikmati oleh orang kaya dan kelas menengah, sementara orang-orang miskin hanya mendapat bagian yang lebih kecil, maka itu adalah kesalahan negara. Kenapa negara tidak memperbaiki pemberian subsidi kepada semua orang tanpa menzalimi seorang pun?! Hukum asalnya, negara wajib memelihara urusan semua orang dengan adil, bukannya malah membuat masalah dengan tidak baiknya pemberian subsidi secara adil kepada semua orang, lalu negara menjadikan masalah yang diciptakannya sendiri itu sebagai pembenaran untuk mencabut subsidi!

Kami mengingatkan penguasa terhadap sabda Rasul saw:

«اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئاً فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ»
Ya Allah siapa saja yang diserahi sesuatu dari urusan umatku lalu ia menyusahkan mereka maka timpakan kesulitan padanya (balaslah dia) (HR Muslim)

Dan kami mengingatkan kaum Muslim dengan firman Allah SWT:

{فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى، وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى }
Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha [22]: 123-124)

Karena itu, wahai kaum muslim, kewajiban Anda semua adalah berjuang bersama para aktivis mukhlis, para pengemban dakwah, untuk merubah kehidupan Anda dengan menegakkan Khilafah Rasyidah; dan mengikuti petunjuk yang datang kepada Anda dari sisi Allah dengan jalan menerapkan sistem-sistem Islam. Di dalamnya terdapat kebahagiaan, kemenangan, dan keridhaan Allah di dunia dan di akhirat.
Allah SWT berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ}
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS al-Anfal [8]: 24)

16 Februari 2011
Hizbut Tahrir Indonesia


Fakta dan Angka
1. Subsidi BBM dianggap membebani APBN. Nyatanya, subsidi energi jauh lebih kecil dari cicilan utang di APBN. Tetapi cicilan utang tidak pernah dianggap membebani APBN.

Tabel 1. Perbandingan antara Subsidi Energi dan Cicilan Utang

Tahun | Subsidi Energi (Triliun) | Cicilan Utang (Triliun)
2005 | 104.5 | 126.8
2006 | 94.60 | 156.6
2007 | 116.9 | 180.5
2008 | 223.0 | 192.2
2009 | 94.60 | 210.4
2010 | 143.5 | 230.3
2011 | 133.8 | 240.1

Sumber: Diolah dari Data Pokok APBN 2005-2011, Kemenkeu RI

2. Penghematan APBN dari pembatasan BBM: 2011 Rp 3,8 triliun; 2012 Rp 13,62 triliun; 2013 Rp 20,76 triliun. (Paparan Menteri ESDM Darwin Saleh dalam Raker dengan Komisi VII DPR, Senin, 13/12/10. Sumber : mediaindonesia.com, 13/12/10)

3. Jika alokasi subsidi energi terus turun sebaliknya alokasi biaya perjalanan terus naik tiap tahun. Pada APBN 2009, sebesar Rp 2,9 triliun, dan APBN-P 2009 melonjak menjadi Rp 12,7 triliun. Realisasinya membengkak menjadi Rp 15,2 triliun. APBN 2010, anggaran Rp 16,2 triliun dan di APBN-P 2010 menjadi Rp 19.5 triliun (lihat, Republika, 17/1/2011). RAPBN 2011 anggaran perjalanan Rp 20,9 triliun dan menurut analisis FITRA anggaran perjalanan APBN 2011 naik menjadi Rp 24,5 triliun (republika.co.id, 16/1/11)

4. Jika subsidi BBM harus dihemat, nyatanya APBN 2010 banyak tidak terserap. Sisa lebih penggunaan anggaran (silpa) dari APBN-P 2010 mencapai Rp 47,1 triliun (kompas.com, 4/1/11).

5. Banyak mobil plat hitam digunakan bekerja dan usaha. Akibat pembatasan BBM, ongkos jasa dan harga barang akan naik, yang paling terkena dampaknya adalah rakyat miskin dengan dayabeli rendah. Sampai kapan nasib rakyat kecil terus dikorbankan??


[Komentar al-Islam]
Harga obat ancam kesehatan (kompas, 21/2/11)
  • Itulah akibat pengelolaan urusan kesehatan ala sistem kapitalis. Harga obat dikendalikan para kapitalis. Doktrin kapitalis, Pemerintah seminimal mungkin mengurusi kesehatan. Fakta, anggaran kesehatan dipangkas dari Rp. 19,8 triliun (APBNP 2010) menjadi Rp. 13,6 triliun (APBN 2011).
  • Dalam Islam jaminan pelayanan kesehatan adalah tanggungjawab dan kewajiban negara. Biayanya bisa diperoleh diantaranya dari hasil pengelolaan kekayaan alam yang merupakan milik umum. Sehat adalah hak rakyat yang dijamin oleh negara. Terapkan Syariah Islam dalam bingkai Khilafah Rasyidah, niscaya rakyat sehat.
SBY: Pemahaman salah tentang agama harus dicegah (liputan6.com, 17/2/11)
  • Buktikan dengan menyelesaikan tuntas masalah ahmadiyah, sebab pemahaman ahmadiyah nyata-nyata salah bahkan menodai dan menistakan akidah umat Islam.
  • Umat butuh solusi tuntas, bukan dikambinghitamkan dengan tuduhan pemahaman radikal.

20.2.11

Dubes AS Heran Isu Memo Bom Marriott

Dubes AS Heran Isu Memo Bom Marriott, "Tak terbayangkan dalam benak saya bahwa kita sudah lebih dahulu tahu tanpa mencegahnya."

Ledakan di JW Marriott dan Ritz Carlton (VIVAnews/Tri Saputro)
Duta Besar Amerika Serikat (AS), Scot Marciel, terheran-heran dengan isu kedutaannya pernah mengirim memo terkait dengan serangan bom atas kompleks hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Jakarta beberapa hari sebelum ledakan itu terjadi pada Juli 2009.
Menurut dia, tidak masuk akal bila Kedubes AS mengetahui suatu aksi teror terlebih dahulu dan tidak melakukan upaya untuk menghentikannya.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat 10 Desember 2010, Marciel menunjukkan keheranannya saat ditanya jurnalis harian Straits Times mengenai benar tidaknya isu bahwa Kedubes AS sudah mengetahui terlebih dahulu aksi bom Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton beberapa hari sebelum kejadian. Dalam katalog WikiLeaks, terdapat indeks memo yang disebut-sebut berasal dari Kedubes AS di Jakarta tertanggal 13 Juli 2009, atau empat hari sebelum bom Marriott-Carlton.

Isi memo itu, hingga Jumat siang 10 Desember 2010, belum dimunculkan WikiLeaks selain hanya melampirkan tanggal penerbitan, alamat pengirim, dan kode referensi. Berdasarkan penelusuran kode referensi itulah muncul spekulasi dari sejumlah media bahwa isi memo itu terkait dengan terorisme. Marciel mengaku sibuk menghadiri "Forum Demokrasi Bali" di Pulau Dewata itu ketika berita atas spekulasi tersebut muncul di sejumlah media massa awal pekan ini.

"Saya tidak bisa mengomentari informasi spesifik yang belum diketahui. Tapi apakah Anda yakin bahwa suatu stasiun televisi di Indonesia memberitakan bahwa kami mengetahui terlebih dahulu insiden itu?" kata Marciel balik bertanya.

Dia menyatakan bahwa tidak mungkin bila AS mengetahui adanya suatu insiden terlebih dahulu tanpa melakukan tidak pencegahan. "Yang bisa saya katakan adalah tidak terbayangkan dalam benak saya bahwa kita sudah lebih dahulu tahu pengeboman itu tanpa ada upaya untuk menghentikannya. Saya tidak bisa membayangkan hal itu," kata Marciel, yang baru seratus hari menjabat sebagai Dubes AS di Indonesia.

Marciel mengaku hingga kini tidak tahu-menahu apakah WikiLeaks sudah memuat bocoran informasi dari Kedubes AS di Jakarta. Namun, dia mengklaim bahwa informasi-informasi yang dikeluarkan Kedubes AS di Jakarta ke Departemen Luar Negeri di Washington DC rata-rata sangat membosankan untuk umum. (umi)

Renne R.A Kawilarang
http://us.dunia.vivanews.com/news/read/193094-dubes-as-heran-atas-isu-memo-bom-marriott#commentform

24.1.11

WIKILEAKS: Cina Ingin Menjadikan Muslim Indonesia Sekuler

Cina menginginkan muslim yang merupakan 85 persen dari 240 juta penduduk Indonesia menjadi sekuler. Sekulerisasi itu bertujuan agar tidak membuat muslim di Indonesia membahayakan kepentingan Cina yang sekarang sudah hampir menguasai Indonesia.

WikiLeaks merilis sebuah kawat rahasia Kedubes AS di Beijing yang berisi pertemuan Kemlu China dan AS. Dalam kawat disebutkan China berencana untuk membuat umat Muslim Indonesia menjadi sekuler.

WikiLeaks melansir dari situsnya, Rabu (15/12/2010), sebuah kawat rahasia dari Kedubes AS di Beijing tertanggal 5 Maret 2007 dengan kode referensi Beijing 1448. Di mana saat itu berlangsung pertemuan antara Wakil Menlu China Cui Tiankai dan Dirjen Urusan Asia Kemlu China Hu Zhengyue dengan fihak pejabat Kemlu AS Eric John.

Dalam pertemuan itu mereka membahas sejumlah negara Asean. Khususnya, Indonesia diantara negara yang mendapat perhatian yang utama. Eric John bertanya pada Hu, bagaimana pemerintah China melihat pemerintah Indonesia sekarang?

"Beijing tidak terkesan dengan presiden Indonesia pasca krisis ekonomi di akhir 1990-an. Tapi Beijing terkesan dengan perkembangan yang ditujukan Presiden SBY yang berkuasa sejak 2004," demikian kata Hu seperti dikutip WikiLeaks.

Menurut Hu, China memantau betapa ada peningkatan gesekan antar etnis dan agama di Indonesia. Pemerintah China pun ingin mendorong sekularisasi muslim di Indonesia. "Beijing ingin mempromosikan Islam sekuler di Indonesia," kata Hu kepada John.

Bagaimana cara Beijing mensekulerkan muslim Indonesia? Menurut Hu, hal itu dilakukan dengan mendorong hubungan muslim Indonesia dengan muslim Cina. Dengan demikian, muslim Indonesia bisa terpengaruh dengan sifat muslim Cina, di mana di China memang sekuler, karena pemerintah Cina yang komunis itu, sangatlah ketat terhadap para pemeluk agama, khususnya Islam.

Bahkan, Cina tidak segan-segan melakukan repressif terhadap kaum muslimin, seperti yang terjadi di Propinsi Uigur. [berbagai sumber]



http://www.eramuslim.com/editorial/proyek-menghancurkan-islam-dan-umat-islam-indonesia.htm#.UczAGdgubXR
Proyek Menghancurkan Islam dan Umat Islam Indonesia

Wikileaks membuka kedok Cina yang ingin mensekulerkan umat Islam Indonesia. Tujuannya untuk menghilangkan ‘ghirah’ (kecemburuan terhadap agamanya), dan umat Islam bersikap toleran terhadap apa saja, dan siapa saja, yang ingin memperbudak mereka. Dengan sekulerisasi itu akan memudahkan penguasaan terhadap Indonesia, negeri yang mayoritas muslim ini.

Sekulerisasi tidak lain menjadikan kehidupan duniawi menjadi keyakinan, tujuan, landasan hidup. Bukan lagi Islam. Bukan haq dan bathil. Bukan baik dan buruk yang menentukan, tetapi hanya kepentingan duniawi. Halal dan haram tidak ada lagi. Tidak ada lagi mukmin dan kafir.

Semuanya menjadi legal. Agama tidak lagi menjadi timbangan (mizan). Kemudian, yang akan menjadi timbangan manusia, semata-mata kepentingan duniawi. Kepentingan sesaat. Inilah yang akan dituju Cina, yang bertujuan melakukan sekelurisasi terhadap muslim di Indonsia.

Cina ingin agama tidak penting lagi. Agama tidak lagi menjadi landasan hidup kaum muslim. Nlai-nilai Islam tidak penting. Karena hanya akan menghalangi kepentingan bangsa Cina, yang ingin menjajah dan menguasai Indonesia. Agama Islam hanya sebatas sebuah ritual agama yang tidak mempunyai makna apa-apa.

Toleransi bagian yang paling asas dalam ideologi sekuler, dan tidak ada lagi agama, yang akan mendominasi kehidupan. Menghargai kemajemukan, dan perbedaan agama. Tidak ada yang bersifat mutlak.

Orang Islam harus toleran dengan pelacuran, perjudian, minuman keras, sogok-suap, korupsi, makanan haram, segala bentuk kesesatan yang merusak dan menghancurkan karakter dan watak umat Islam. Padahal, ini semua tidak lain merupakan bentuk kegiatan yang dilarang dalam Islam, yang sekarang ini ingin direduksi dengan projek sekulerisasi.

Kaum Cina Perantauan (Chinese Overseas), yang ada di Asia telah menggilas habis kaum pribumi, melalui sindikasi dan kerjasama dengan para pejabat yang rakus. Hanya dengan sogok dan suap, sebagai modus operandi mereka, berhasil menekuk para pejabat, dan kemudian para pejabat itu, menyerahkan kekayaan negara kepada mereka.

Seorang ilmuwan dari Tokyo Univesity, Konyo Yoshihara, yang menulis buku, "Kapitalism Ersatz", menggambarkan di Asia, sesungguhnya tidak ada kaum kapitalis yang sejati. Para orang kaya di Asia, tidak lain, mereka awalnya adalah para ‘gundik’ penguasa, yang mendapatkan lisensi, proteksi, dan modal, yang kemudian mereka menjadi kuat, dan menguasai negara.

Ini terjadi di Thailand, Malaysia, Singapura, Philipina dan Indonesia. Mereka menjadi kaya raya, awalnya bukan dengan kerja keras dan tetesan keringat, tetapi mereka hanya memanfaatkan penguasa yang lemah, kemudian dengan melakukan sogok-suap, dan berhasil menekuk para pejabat, yang selanjutnya bersedia menjadi ‘begundal’ mereka.

Ingat. Awalnya penguasaan orang Cina terhadap Indonesia, ketika perubahan politik di zaman Soeharto, yang berkomplot dengan pengusaha-pengusaha Cina. Mereka lah yang menjadi ‘kroni’ sejati dari Soeharto. Mereka menikmati berbagai fasilitas negara, mulai mendapatkan lisensi, proteksi, modal, dan kemudian mereka menguasai industri dari hulu sampai ke hilir. Seperti PT. Bogasari yang dulunya milik dari Lim SiewLiong, yang sekarang hidup di Singapura.

Di zaman Soeharto 200 pengusaha Cina menjadi pilar kekuasaan, dan mereka yang dipercaya mengelola ekonomi negara. Kemudian, mereka mendapatkan lisensi, seperti diberikan izin HPH (Hak Pengelolaan Hutan), dan mengakibatkan hutan-hutan di Indonesia habis. Mereka juga mendapatkan lisensi lainnya, seperti dibidang pertambangan, perdagangan, dan lainnya.

Tak heran menjelang tumbangnya Soeharto mereka telah menguasai 70 persen ekonomi Indonesia yang nilainya bermilyar-milyar dolar. Sekarang kekayaan mereka berada di Singapura, yang tidak dapat dijamah oleh pemerintah Indonesia.

Laporan dari majalah Forbers, yang menjelaskan tentang 10 orang terkaya di Indonesia, diantaranya dari 10 orang yang terkaya itu, 9 orang keturunan Cina. Peringkat pertama R. Budi dan Michel dengan kekayaan mencapai $ 11 miliar dolar. Sedangkan nomor 10, Aburizal Bakrie, yang nilai kekayaannya hanya $ 2 miliar dolar.

Orang-orang kaya yang jumlahnya hanya 10 orang itu, menguasai asset penting di Indonesia. Seperti kebun kelapa sawit, batu bara, minyak, dan berbagai sektor perdagangan. Sementara itu, umat Islam dan bangsa ini, hanya menjadi kuli dan budak, di kebun dan pabrik-pabrik, dan hanya dengan imbalan yang sedikit.

Zaman Soekarno golongan Cina tidak diberi kesempatan mengelola okonomi secara masif, seperti zaman Soeharto. Bahkan, mereka dilarang tinggal di daerah tingkat dua, kabupaten/kecamtan, melalui PP No.10. Tetapi, sekarang orang-orang Cina dari Jakarta, sampai ke kampung-kampung, dan menguasai jaringan perdagangan yang mereka ciptakan. Sementara itu, kaum pribumi hanya menjadi pembelinya. Perusahaan yang menjadi milik pribumi sudah habis ludes, pindah tangan orang Cina, di zaman Soeharto.

Orang Islam di Indonesia menghadapi projek penghancuran yang dilakukan Cina dan AS. Mereka melakukan kelaborasi dengan menciptakan situasi yang terus-menerus, yang mendiskreditikan umat Islam. Menciptakan ketakutan yang luar biasa terhadap bangsa. Seakan umat Islam dengan ajarannya merupakan ancaman yang maha dahsyat bagi kehidupan. Mereka harus ditumpas.

Menciptakan opini orang-orang yang ditangkap sebagai pelaku ‘teroris’ sebagai yang sangat membahayakan. Mereka menjadi ancaman global. Mereka menjadi ancaman keamanan nasional. Bangsa Indonesia dibuat gemetar dengan isu ‘teroris’.

Semuanya ini tak lain lain, sebuah kerjasama antara berbagai kepentingan yang ingin menghancurkan umat Islam, jiga jaringan media masa yang sudah menjadi alat para penjajah yang ingin menghancurkan umat Islam. Termasuk dengan LSM-LSM, yang mereka tak lain, orang-orang yang ‘jualan’ isu Islam radikal, yang mereka sebut sebagai ancaman.

Aktivis LSM itu mengatakan, sekarang meningkat adanya kekerasan dengan menggunakan agama. Padahal, faktanya tidak ada. Semuanya itu sengaja di ‘create’ (diciptakan), yang tujuannya untuk mendapatkan ‘fulus’, sembari mengorbankan umat Islam. Banyak para lembaga yang mengaku memiliki data tentang gerakan Islam, yang sejatinya hanyalah palsu.

Tak heran sekarang ada projek de-radikalisasi, yang menginginkan umat Islam ini tidak lagi memiliki ‘ghirah’. Mereka bekerjasama dengan para ulama. Tujuannya untuk menelanjangi aqidah umat Islam. Sehingga, mereka menjadi ‘tasamuh’ (toleran) terhadap apa saja, dan siapa saja. Inilah projek penghancuran terhadap umat Islam.

Jika umat Islam sudah tersekulerisasi dan tidak lagi memiliki ‘ghirah’ agama lagi, maka para penjajah itu dengan sangat mudah mereka akan menguasai Indonesia. Apalagi, jika mereka sudah berhasil mempenetrasi pusat kekuasaan dengan bentuk melakukan ‘investasi’ di berbagai bidang, maka tamatlah republik ini.

Umat Islam yang masih memiliki ‘ghirah’ merupakan benteng terakhir untuk mempertahankan Republik ini, bila benteng ini sudah roboh, tak ada lagi, yang akan mempertahankan Republik ini. Indonesia akan menjadi daerah jajahah dengan bentuk yang baru. Wikileaks telah membuak tabir semuanya itu. Wallahu’alam. 

Baca juga:
Memahami Propaganda Iblis... (Hary Tanoe & Kontes Miss World)

12.1.11

Genosida di Bosnia - Herzegovina

Konflik di Bosnia - Herzegovina yang berlangsung selama April 1992-November 1995, merupakan sebuah bentuk pembersihan etnis yang paling pahit pasca Perang Dunia II di Eropa, yang melibatkan Negara-negara seperti Bosnia, Serbia, dan Yugoslavia. Sekitar 8000 pria dan pemuda muslim di Bosnia terbunuh pada pembersihan etnis tersebut, dimana Pasukan tentara Serbia bertanggungjawab atas pemusnahan massal ini, walaupun pihak Serbia menganggap hal ini hanyalah perang saudara di wilayah Balkan, bukan merupakan bentuk agresi apapun atas Bosnia. Perang yang berakhir dengan pemusnhan massal ini dianggap merupakan pertanggungjawaban para pemimpinnya yaitu Radovan Karadzic dan Ratko Mladic.

Kasus ini telah sampai di meja putusan Internasional Court Justice (ICJ) namun menurut pengamatan ICJ, Serbia tidak bertanggungjawab atas pemusnahan massal ini, serta tuntutan Bosnia agar Serbia bertanggungjawab menganti rugi kepada para muslim korban di desa-desa Bosnia Timur tidak disetujui oleh pihak ICJ, ICJ hanya memutuskan bahwa Serbia melakukan kealfaan dengan membiarkan terjadinya genosida di daerah negaranya sendiri.

Walaupun hingga kini belum terdapat kejelasan atas kasus ini namun ICJ telah menemukan beberapa bukti yaitu: pembunuhan benar-benar terjadi secara massif di kamp-kamp konsentrasi di wilayah yang terjadi konflik, serta tidak hanya pembunuhan massal saja yang terjadi namun juga pemerkosaan, serta pencacatan fisik secara sengaja, namun hal ICJ belum menemukan bukti kuat kejadian ini terjadi atas dasar keinginan Serbia untuk menghilangkan etnis Muslim Bosnia.

Peristiwa Genosida ini tidak hanya terjadi pada konflik Balkan di Srebenica saja namun juga pembantaian etnis yang terjadi di Jerman yang dikenal dengan nama Holocaust pada masa pemerintahan Hitler dan NAZY. Peristiwa ini pun hingga saat ini masih kasat mata, walaupun telah jelas ditemukan kamp-kamp konsentrasi di pegunungan antara jerman dan Perancis, namun pelaku dari pembunuhan etnis Yahudi ini tidak dapat diberatkan siapa pelakunya.

Selain di Bosnia dan Jerman pembunuhan massal pun erjadi di perbtasan Palestina dan Israel yaitu Gaza. Dimana konflik perebutan wilayah menyebabkan ribuan orang mati. Disinyalir Israel melakukan pembunuhan bagi muslim Palestina di sekitar Gaza dan yang berada di Israel. Pemboman yang menewaskan wanita dan anak-anak yang dilakukan oleh Israel kepada Palestina merupakan tindakan yang sangat kejam.

Genosida merupakan sebuah pembunuhan besar-besaran terhadap suatu etnis kelompok agama, atau kelompok ras tertentu dengan maksud untuk memusnahkan etnis tersebut. Genosida merupakan suatu pelanggaran HAM berat yang berada dibawah yuridiksi International Criminal Court. Peristiwa Genosida ini sudah sering terjadi dsetiap kawasan yang diperebutkan dan menimbulkan konflik. Selain Genosida yang terjadi di Bosnia, Jerman serta Palestina, Genosida pun terjadi hampir disetiap wilayah di dunia, seperti: Pembantaian bangsa Aborijin Australia oleh Britania Raya pada tahun 1788 serta masih banyak pembantaian-pembataian yang terjadi lainnya.

Genosida diipicu dari ketidaknyaman suatu bangsa atas bangsa atau kelompok lainnya disuatu Negara. Kejadian ini bisanya terjadi antara penduduk asli dengan pendatang yang akhirnya menjadi konflik perebutan wilayah dan kekuasaan. Seperti yang terjadi di Jerman, pembantaian tidak hanya mengarah kepada etnis Yahudi namun juga etnis Gypsi dan etnis-etnis lainnya selain etnis Arya, karena etnis Arya menganggap tanah Jerman tidak boleh tercemar oleh etnis lainnya yang hanya akan mengotori tanah mereka.

Genosida apabila mengikuti zaman ke masa kini, tentunya genosida akan diartikan pelarangan penggunaan bahasa nya sendiri bagi suatu bangsa serta menghambat peradabannya, menghancurkan dan memusnahkan simbol-simbol sejarahnya.

http://www.genocidepreventionmonth.org/bosnian-genocide.html


Membantai Ratusan Ribu Muslim, Berdalih Membela Rakyat

Hidayatullah.com–Mantan panglima militer Serbia-Bosnia Jenderal Ratko Mladic untuk pertama kali hadir di sidang mahkamah kejahatan perang di Den Haag, Belanda, dengan mengatakan tidak akan mengajukan pembelaan terhadap dakwaan sebagai orang yang “tak bermoral” dan “menakutkan”.

Pembantai ratusan ribu kaum Muslim Bosnia itu didakwa menjadi otak pembantaian hampir 8.000 pria dewasa dan bocah laki-laki muslim Bosnia di Srebrenica pada tahun 1995.

Penjagal kaum Muslim itu mengatakan kepada mahkamah bahwa dia melakukan pembantai dengan dalih “membela rakyat dan negara saya”.

Mladic ditangkap di Serbia pekan lalu setelah dicari-cari selama 16 tahun.

Pengacara dan keluarganya menyatakan dia terlalu sakit untuk diadili, tapi tim dokter sejauh ini menyatakan dia sehat untuk dihadirkan di sidang pengadilan.

Berkas perkaranya memuat dakwaan genosida, penganiayaan, pemusnahan, pembunuhan, pengusiran, tindak-tindakan tidak manusiawi, teror, deportasi dan penyanderaan berkaitan dengan tuduhan bahwa dia berperan dalam rencana untuk mewujudkan ”pembersihan atau pengusiran selamanya” warga muslim dari banyak bagian Bosnia untuk mendirikan ”Serbia Raya”.

Dalam sidang pertama di Mahkamah Internasional untuk bekas Yugoslavia, Jenderal Mladic ditanya apakah dia bisa memahami proses hukum kasusnya dan dia menjawab bisa.

Dia menyebutkan nama dan tanggal lahir, meski tanggal yang dia sebutkan berbeda dengan catatan pengadilan.

Mahkamah menunjuk pengacara Serbia, Aleksandar Aleksic, sebagai pengacara Jenderal Mladic untuk sidang pendahuluan.

Jenderal itu bisa memilih pembela tetap untuk pengadilan kasusnya, atau memilih untuk membela dirinya sendiri di persidangan.

Hakim Alphons Orie menyatakan sidang awal bertujuan untuk mengumumkan daftar dakwaan terhadap Jenderal Mladic dan meminta dia menyatakan sikap atas dakwaan tersebut.

Jika Jenderal Mladic tidak menyatakan sikap dalam 30 hari, hakim akan menyatakan dia mengaku tidak bersalah atas dakwaan.

Pengacara yang mendampingi Mladic sebelum diekstradisi hari Selasa (31/5), Milos Saljic, mengatakan Jenderal Mladic tidak akan menyatakan sikap dalam sidang.

Korban Muslim Bosnia

Dikabarkan lebih 200.000 Muslim Bosnia menjadi korban kekejaman pasukan Kristen Serbia selama upayanya pelenyapan etnis Muslim Bosniaberlangsung. Lebih dari 20.000 Muslimah juga dikabarkan menjadi korban perkosaan yang dilakukan secara sistematis oleh pasukan Serbia.

Mladic juga dipersalahkan atas pembantaian 8.000 lelaki dan remaja Muslim di Srebrenica akibat ketidakmampuan pasukan dari Belanda yang diberi mandat PBB untuk menjaga kamp pengungsi di Srebrenica. Setelah pasukan Serbia berhasil menguasai Srebrenica, mereka mulai memisahkan laki-laki berusia 12-77 tahun hingga terjadi pembantaian terhadap warga Muslim. Selama lima hari, pasukan Serbia dipimpin Jenderal Ratko Mladic dengan bantuan pasukan paramiliter Serbia yang dikenal sebagai pasukan Scorpion, dan dengan leluasa melakukan pembantaian terhadap lelaki dewasa dan anak-anak lelaki Muslim.

Kasus genosida terhadap etnis Muslim Bosnia ini diakui banyak pengamat sebagai kasus pembantai paling kejam dan buruk setelah kasus Nazi oleh pasukan Hitler.*


Ket. Foto
  • (Kiri) Sisa-sisa mayat Muslim Bosnia yang hamil bersama bayi dalam dikandungnya usai penemuan kuburan massal di Suha, Srebrenica, dekat Bratunac. Kepala, jari, dan kaki sang bayi masih terlihat jelas. Temuan menunjukkan, wanita ini dikurung di sebuah rumah kosong kemudian dibakar habis oleh tentara Serbia. Ketika mencoba melarikan diri, ia ditembak dengan peluru diperutnya. Korban kasus genosida di Bosnia terhadap Muslim Bosnia tahun 1995 hanya diakui puluhan ribu. Namun sumber-sumber akurat lain, korban mencapai 200 ribu Muslim.
  • (Kanan) Temuan kuburan massal