8.6.12

Gramedia Terbitkan Buku yang Menghina Nabi Muhammad SAW?

Penerbit buku terkemuka Indonesia, Gramedia, disinyalir menerbitkan buku yang bisa membuat umat Islam marah, yaitu menghina Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut terungkap dalam Suarapublika di harian Republika edisi Jumat (8/6) hari ini.

Buku yang bermasalah tersebut berjudul "5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia" karangan Douglas Wilson. Buku ini sendiri menjelaskan tentang lima kota yang berpengaruh di dunia, yakni Yerusalem (Israel), Athena (Yunani), Roma (Italia), London (Inggris), dan New York (Amerika Serikat). Yerusalem sedniri disebutkan sebagai murni milik Israel.

Saat membahas Kota Yerusalem di halaman 24 buku tersebut, tertulis, "Selanjutnya ia (Muhammad) memperistri beberapa wanita lain. Ia menjadi seorang perampok dan perompak, memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan Mekah. Dua tahun kemudian, Muhammad memerintahkan serangkaian pembunuhan demi meraih kendali atas Madinah, dan di tahun 630 M ia menaklukkan Mekah."

Begitu pula pada halaman 25 alinea kedua dan ketiga. Di sana Douglas menafsirkan bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad selalu ditegakkan dengan pedang.

Jika benar seperti yang dilaporkan di Suarapublika tersebut, sebagai umat Islam kita meminta Gramedia harus menarik buku itu dari pasaran dan meminta maaf kepada umat Islam. Karena yang pasti terbitnya sebuah buku sudah melewati seleksi editor yang sangat ketat sehingga Gramedia harus bertanggung jawab terhadap atas terbitnya buku ini.(fq)

Joseph Cohen, Yahudi Fanatik yang Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Namanya Joseph Cohen, seorang Yahudi fanatik warga Amerika Serikat. Pada 2008 silam, demi kecintaan pada Yudaisme, ia pindah ke Israel.

Namun tiga tahun kemudian, ia masuk Islam dan berganti nama menjadi Yusuf Muhammad Khatab. Dan sejak itu pula, ia menjadi pendukung setia Hamas. Sebuah gerakan perlawanan Islam yang menentang penjajahan Israel terhadap Palestina.

Kini, Josep alias Yusuf tak ingin lagi mengucap kata Israel. Ia bahkan menyebut tanah yang diduduki Israel sebagai wilayah Palestina.

Hidayah Allah didapat Yusuf ketika ia tinggal di Kota Netivot, sebuah kawasan gurun di Israel. Saat ia berbincang dengan seorang syekh dari Uni Emirat Arab (UAE) via internet. “Saya menghabiskan waktu berjam-jam dengan Syekh, berdiskusi tentang teologi,” tuturnya ketika diwawancarai Israel TV beberapa waktu lalu.

Setelah itu, ia pun mencoba membaca Alquran, kitab suci umat Islam. Lambat-laun, pandangan Yusuf tentang Yudaisme mulai berubah. Dalam penilaiannya, Yudaisme setali tiga uang dengan rasisme.

Saat itu juga, Yusuf mengatakan pada istrinya, Luna, kalau dia ingin pindah agama, memeluk Islam. Sebagaimana dirinya, Luna juga merupakan seorang Yahudi fanatik. “Dengar sayang,” kata Yusuf. “Aku sangat mencintaimu, namun aku harus jujur padamu…”

“Aku membaca Alquran, dan sangat setuju dengan apa yang termuat di dalamnya. Dan jika harus mengatakan bahwa aku seorang Yahudi religius, maka aku adalah pembohong,” tegasnya pada sang istri.

Rupanya Luna tidak kaget dengan kata-kata suaminya. Bahkan, ia pun mendukung keputusan Yusuf dengan masuk Islam bareng-bareng, sekalian dengan anak-anak mereka.

Keluarga ini pun pindah dari Netivot ke lingkungan Arab di Yerusalem Timur. Anak-anak mereka tak lagi belajar Taurat. Padahal di sekolah, mereka termasuk murid-murid menonjol dalam pelajaran tersebut. “Kini, anak-anak belajar Alquran,” kata Yusuf.

Yusuf juga sangat mendukung Hamas. Dan ia percaya, bahwa negara Islam harus didirikan di mana Israel dan Palestina kini berada.

Kini, Yusuf tak ingin lagi dikaitkan dengan masa lalu Yahudi-nya. Ia menegaskan dirinya 100 persen Muslim. "Berbahagialah Engkau, Tuhan Allah kami," ujarnya memarodikan doa Yahudi, tetapi mengakhirinya dengan, "Untuk tidak menjadikanku seorang Yahudi."

7.6.12

“Pembaratan” Jawa, Kasus Instituut Voor De Javaansche Taal

Oleh: Susiyanto

KETIKA tahun 1832 Johan Donker, komisaris Belanda di Kediri, meminta informasi tentang sejarah Kediri, mungkin Mas Ngabehi Purbawijaya selaku orang Jawa tidak pernah mengira bahwa ini merupakan bagian dari proyek rekayasa “masa depan” budaya Jawa. Layaknya seorang hamba yang mengabdi, Purbawijaya yang saat itu menjadi beskal (pelafalan dari kata fiscaal = pejabat setingkat jaksa) di Kediri, hanya menuruti saja kehendak sang “tuan”. Meski hasilnya bukan karya bernilai historis seperti dikehendaki Donker, nyatanya karya “mistis-mitologis” serupa pada masa selanjutnya tetap dianggap berguna.

Sebenarnya telah lama Belanda menghendaki penguasaan terhadap narasi sejarah bangsa jajahannya. Pengumpulan tradisi-tradisi lokal dan manuskrip kuno di Jawa telah menjadi agenda. Para akademisi Belanda diturunkan untuk menggali pelbagai data terkait. Kesarjanaan yang memiliki penguasaan terhadap tradisi, adat istiadat, dan sistem nilai suatu masyarakat akan berguna dalam membangun pendekatan, termasuk dalam merancang format hegemoni dan pelanggengan “kekuasaan”.

Di penghujung akhir Perang Jawa kebutuhan untuk memahami kawasan ini semakin terasa. Apalagi pemerintah menggulirkan kebijakan tanam paksa (cultuur stelsel) untuk mengisi kas negara yang terkuras untuk pembiayaan operasional menumpas berbagai aksi perlawanan. Dalam praktik di lapangan, kebijakan baru yang bersifat eksploitatif itu menuntut lebih banyak interaksi dengan kalangan bumiputera. Karenanya, pendidikan bagi para pegawai dan pejabat Belanda hendaknya diarahkan untuk memahami bahasa dan budaya rakyat setempat.

Netherlands Zending Genootschap (NZG), lembaga misionaris Belanda, menangkap peluang ini dengan baik. Abad ke-19 bisa dikatakan merupakan era baru bagi penginjilan di Nusantara. Banyak kesempatan dan celah yang bisa dimanfaatkan oleh kalangan pewarta Injil. Pada masa sebelumnya keberhasilan penginjilan di Jawa bisa dikatakan sangat minim. NZG menawarkan konsep lembaga Bahasa Jawa yang memungkinkan pegawai dan pejabat Belanda dididik untul memahami adat istiadat dan Bahasa Jawa.

Gayung pun bersambut. Tidak benar jika sejumlah akademisi Kristen menolak teori adanya keterkaitan antara Gereja dan pemerintah negara jajahan. Dalam kasus Lembaga Bahasa Jawa inisiatif awal kerja sama justru bermula dari badan penginjilan. Tindakan kompromistis antara pemerintah penjajah dan institusi misi ini kemudian membidani lahirnya Instituut voor de Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) pada 27 Februari 1832.

Guna pendirian lembaga Bahasa Jawa tersebut, NZG lantas mengutus Johann Friedrich Carl Gericke. Gericke yang kemudian menjabat sebagai pemimpin dalam lembaga tersebut bisa dianggap sebagai peletak utama kesarjanaan Belanda dalam studi literatur Jawa.

Awalnya ia tiba di Surakarta pada 1827 untuk menterjemahkan Bible ke dalam Bahasa Jawa. Pada tahun 1829 ketika salah seorang pangeran dari Kasunanan hendak belajar agama ke Pesantren Tegal Sari, Ponorogo Gericke megikuti dengan tujuan lain, yaitu belajar tentang literatur Jawa selama 9 bulan. Perjalanan Gericke selalu ia laporkan kepada induk semangnya di Nederlands Bijbelgenootschap di Amsterdam.

Lembaga Bahasa Jawa didirikan dengan berbagai tujuan yang hendak diraih. Bagi Pemerintah negara jajahan, keberadaan lembaga yang mampu menyediakan tenaga terdidik untuk berdialog dengan pribumi dinilai menguntungkan dalam upaya menjaga stabilitas dan memelihara hegemoni. Sementara itu bagi kalangan zending belanda, Instituut voor de Javaansche Taal akan menjadi ujung tombak bagi penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa. Dengan demikian kepentingan kolonialis dan misionaris terpadu menjiwai semangat pendirian lembaga ini.

Pemerintah Belanda bukannya tidak mengetahui bahwa diantara tujuan pendirian lembaga itu berhubungan langsung dengan kepentingan misi Kristen. Baud mengungkapkan penawarannya tentang pendirian lembaga bahasa tersebut kepada Gubernur Jendral Belanda sebagai berikut: “Jika pemerintah setuju maka akan didirikan institut di Jawa untuk studi bahasa-bahasa Timur, dengan maksud memajukan usaha penerjemahan Alkitab.”

Instituut voor de Javaansche Taal memiliki banyak peran strategis dalam menentukan wajah Jawa. Berbagai kitab kuno diteliti ulang, sejumlah pandangan hidup Jawa diberi pemaknaan baru, dan kebanggaan terhadap masa lalu terutama era pra Islam dikembangkan secara masive. Bahkan beberapa wujud kebudayaan yang menampakkan anasir Hindhu-Budha dilegitimasi sebagai bentuk kebudayaan “asli Jawa”. Sementara itu produk kebudayaan Islam dibiarkan tenggelam dan kalaupun diangkat biasanya lebih pada wujud kebudayaan era transisional yang masih kental dengan sifat dekaden.

Berbagai langkah ditempuh guna “menjinakkan” Islam. Termasuk inisiatif bagi terwujudnya segregasi antara Islam dan budaya Jawa. Islam dianggap sebagai bahaya laten yang berpotensi melawan pemerintahan kolonial.

Upaya Pemerintah penjajah ini sudah tentu didukung penuh oleh kalangan misionaris Protestan maupun Katolik. Karel Steenbrink, seorang akademisi, menggambarkan bahwa Islam dianggap sebagai kekuatan yang harus diminimalisasi dengan berbagai cara. Langkah yang ditempuh beragam, namun terdapat ciri yang serupa yaitu penggambaran Islam sebagai musuh menakutkan yang tidak harus diserang secara langsung, tetapi dihadapi dengan mempromosikan kebiasaan rakyat kuno, adat, dan agama rakyat. Juga melalui perawatan kesehatan dan pendidikan Barat. Van Randwijk, mantan konsul zending, mencirikan strategi ini dengan kalimat: “Strategi memangkas Islam”.

Bagi kalangan misionaris, keberadaan lembaga tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak mengingkari adanya penjajahan di Jawa. Pembentukan lembaga ini sendiri justru merupakan bentuk dukungan kalangan misi Kristen terhadap kekuasaan dan hegemoni Pemerintah Kolonial Belanda.

Dalam salah satu surat untuk Nederlands Biblegenootschaft (NBG), masyarakat Bible Belanda, pada Oktober 1852, Gericke menegaskan bahwa penterjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa itu memiliki tujuan politis yang akan menguntungkan Pemerintah Belanda. Alasannya, ketika pemerintah telah menawarkan pendidikan bagi orang Jawa tanpa diimbangi penyebaran Injil sangat mungkin rakyat jajahan akan menyulitkan pemerintah pada masa yang akan datang. Gericke menyatakan bahwa jika mereka diberi pendidikan “tanpa serentak mengajar mereka mengenal Tuhan dan takut akan Dia maka dimasa depan mereka tidak akan dapat lagi diatur dengan mudah dan mungkin akan terdorong untuk melemparkan beban yang selama ini mereka pikul dengan sukarela dan taat …”.

Hasil kerja dari Gericke membuahkan hasil dengan penerbitan terjemahan Perjanjian Lama pada Oktober 1852 dan diterbitkan ulang dalam 3 jilid tebal berbentuk oktaf pada 1854. Pada saat buku itu terbit NBG menyatakan bahwa bible berbahasa Jawa merupakan “hadiah yang layak untuk mengimbangi harta kekayaan yang setiap tahun mengalir kepada kita dari pulau yang diberkati dengan kekayaan alam yang begitu banyak”.

Jadi pendirian Instituut voor de Javaansche Taal yang digawangi oleh kalangan penginjil dari NZG tidak murni bersifat akademis apalagi pengembangan budaya. Juga bukan sekedar menyangkut kepentingan penyebaran Agama Kristen belaka. Secara tidak langsung juga menunjukkan support kalangan misi terhadap keberlanjutan sistem tanam paksa. Juga memperlihatkan dukungan lembaga penginjilan terhadap upaya melanggengkan penjajahan di Jawa.*

Penulis adalah Peneliti - Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Surakarta

AS Pastikan Terus Bombardir Pakistan

REPUBLIKA.CO.ID, Amerika tidak memiliki rencana untuk menghentikan serangan pesawat tak berawak di tanah Pakistan, dengan mengatakan, untuk menjaga kedaulatan, Amerika berhak menarget para pemimpin teroris.

Menteri Pertahanan Amerika Leon Panetta mengeluarkan pembelaan atas serangan-serangan seperti itu dalam kunjungannya ke New Delhi. Ia mengatakan, Amerika telah menjelaskan bahwa Washington akan membela diri, dan bahwa serangan itu juga menguntungkan rakyat Pakistan yang sering menjadi sasaran pemberontak.

Panetta berbicara satu hari setelah Gedung Putih mengukuhkan pembunuhan orang kedua al-Qaida, Abu Yahya al-Libi, yang tampaknya dalam serangan pesawat tak berawak di kawasan Waziristan Utara, Pakistan. Gedung Putih mengatakan dinas intelijen Amerika telah mengukuhkan kematian al-Libi.

Amerika menilai serangan itu merupakan pukulan besar terhadap kelompok militan Alqaidah.

Sebelumnya, Sekretaris Pers Gedung Putih Jay Carney menolak mengomentari secara langsung pengaruh serangan pesawat tak berawak terhadap hubungan Amerika-Pakistan, dengan hanya mengatakan Amerika memiliki hubungan penting dengan Pakistan yang akan terus dipelihara demi kepentingan nasional.

Baca juga:
Agenda 2025 Yahudi Illuminati/Freemasonary Melenyapkan Indonesia & Pakistan

Ada Agenda Terselubung "AS" dibalik CHIP dan E-KTP?

Hidayatullah.com-- Sejak tahun 2002 hingga 2012 ini, sebuah chip identitas VeriChip telah disetujui oleh Pemerinta Amerika Serikat untuk ditanam pada setiap manusia sebagai alat pengintaian aktivitas masyarakatnya. Chip ini akan ditanamkan di setiap lengan manusia, dan yang manfaatnya memiliki 16 digit nomor ID informasi yang berisi tentang orang tersebut.

Microchip ini terus dikembangkan di Amerika Serikat (AS), bahkan telah dilakukan uji coba melalui hewan peliharaan. Saat ini di AS gagasan menggunakan chip ini pada Manusia masih menghadirkan pro dan kontra.

Penulis Novel Fiksi kenamaan AS Elizabeth Moon mengatakan fungsi chip ini akan lebih memudahkan Manusia dalam beraktivitas. Terlebih target dari pemerintah AS untuk bisa menjadikan Chip ini cikal bakal kehadiran Barcode manusia. Selain bisa bisa berfungsi sebagai barcode manusia, Moon juga percaya bahwa Chip ini bisa membantu pengintaian seseorang tanpa harus menggunakan kamera video atau tes DNA.

"Saya akan memaksa setiap orang menggunakan Chip ini sebagai barcode secara permanen. Jika sebuah chip ini ditanamkan kesetiap orang ini akan memudahkan kita mengidentifikasi seseorang," katanya di sebuah acara mingguan AS “a global thinkin" dengan tema diskusi "Radical, inspiring or controversial idea".

Menurutnya, barcode manusia melalui chip ini akan menghemat banyak waktu dan uang. Sementara kelompok yang kontra dengan Moon, seperti Stanley seorang analisis kebijakan di American Civil Liberties Union mengatakan keberadaan chip ini sangat mengganggu hak privasi setiap individu. Dimana dunia digital dan komputerisasi juga tidak lepas dari virus dan kelompok hacker yang bisa merusak dan mengakses privasi pribadi tiap orang.

"Ketika semua kegiatan anda terdokumentasi melalui chip ini, sungguh ini adalah hal yang menakutkan, Sekali kita membiarkan pemerintah dan bisnis turun jalan mengorek di dalam hidup kita ... kita akan cepat kehilangan semua privasi kami " kata Stanley kepada Daily News.

Di Indonesia sendiri, penggunakan Chip pengintaian dan identifikasi seperti ini sudah dimulai sejak pemerinta mulai mengimplementasikan penggunaan E-KTP. Sementara penggunaan metode E–KTP di AS sudah mulai diterapkan bahkan sampai ke passport sejak tahun 2006. Saat ini Pemerintah AS sedang serius mempromosikan gagasan Chip ini untuk ditatap sebagai barcode pada tubuh manusia.*

Baca juga:
DEADLY MIST
Agenda 2025 Yahudi Illuminati/Freemasonary Melenyapkan Indonesia & Pakistan

6.6.12

LDII Anak Emas Ketiga Proyek Deradikalisasi

Oleh: Hanif Kristianto (Lajnah Siyasiyah HTI Jawa Timur)

Deradikalisasi merupakan isu menarik yang tak pernah dipahami oleh umat. Apalagi oleh orang Indonesia. Istilah deradikalisasi santer setelah peristiwa bom-bom maupun aksi terorisme. Padahal aksi terorisme, kekerasan, dan pemboman sudah ada sejak dahulu. Sebagai contoh peristiwa perang, persengketaan, pendudukan sebuah negeri merupakan aksi teror kepada sebuah bangsa. Aktifitas berupa tindakan teror tadi dikaitkan dengan radikalisme. Oleh karena itu, agar seseorang tidak mengulang lagi tindakan radikal. Maka ada upaya deradikalisasi, yaitu upaya penghapusan radikal—pemikiran, tindakan—dari seseorang. Fokusnya tidak hanya seseorang, namun juga kepada kelompok.

Indonesia yang merupakan bagian dari entitas muslim dunia menjadi lahan deradikalisasi. Hal ini sesuai dengan arahan RAND Corporation, ICG, dan tekanan asing lainnya (AS, Australia, dll) seperti tekanan Australia atas pemberian Grasi pada Gorby karena kasus Narkoba. Wajar saja mereka menjadikan Indonesia sebagai proyek deradikalisasi. Mengingat banyak pelaku yang mereka anggap “teroris dan radikal” berasal dari umat Islam. Sungguh alasan tersebut tendensius. Padahal aksi teror bisa dilakukan siapa pun tanpa dilatarbelakangi agama.

Siapapun bisa menyebut Amerika yang menjatuhkan bom di Hirosima dan Nagasaki dengan radikal dan teroris. Aksi penjajahan Israel di Palestina juga radikal dan teroris. Jika semua sepakat dengan istilah radikal dikaitkan dengan tindakan teror.

BNPT Tak Sendiri

Deradikalisasi di Indonesia dijalankan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). BNPT tidak sendirian dalam aksinya. BNPT menggandeng beberapa ormas Islam (MUI,NU, LDII,dll), LSM (The Wahid Institute, dll) dan sekolah/kampus (UI,dll). Kegiatan itu dilakukan sebagai legitimasi jika umat Islam di Indonesia menyetujui deradikalisasi. Pada intinya ormas atau sekolah yang diajak kerjasama memiliki komitmen terhadap NKRI dan menerima Pancasila sebagai asaz dalam kehidupan beragama.

BNPT terlebih dahulu menggandeng MUI Pusat dalam agenda ini. BNPT tahu jika MUI merupakan representasi ulama’, kyai, panutan masyarakat Indonesia. MUI juga lembaga resmi negara. Maka fatwa atau keputusan yang dikeluarkan MUI biasanya dipercaya umat. Jika MUI melakukan deradikalisasi maka jelas umat akan digiring ke pemahaman baru agar umat tidak teracuni ide transnasionalisme, yang kadang tidak jelas ide yang dimaksud. Kadang-kadang sikap MUI aneh. Beberapa kyai yang menjadi representasi MUI tidak setuju dengan deradikalisasi. Ada juga kyai yang menjadikan deradikalisasi sebagai proyek. Yang perlu diingat BNPT mendapat dana besar dari APBN dan bantuan asing. Maka siapapun yang akan diajak kerjasama pasti tergiur dengan dana atau ketenaran semu yang dijanjikan BNPT.

NU sudah menandatangani MoU pada 11 Agustus 2011. NU begitu semangat menyambut kerjasama ini. Secara teknis NU diminta membantu pemberantasan terorisme melalui langkah persuasif berupa deradikalisasi. Sebagaimana beberapa pernyataan pengurusnya. "Deradikalisasi memang tugasnya ormas, tapi kalau pemberantasan terorismenya itu kewajiban aparat. NU sangat mendukung kerjasama ini, yang prakteknya akan memberikan pemahaman ke umat agar menghindari sikap radikal," ungkap Kang Said di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya No.164, Jakarta Pusat, Senin, 15 Agustus 2011 [1]. Pengurus Muslimat NU juga menandatangani MoU 16 Februari 2012. Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, semua lembaga dan ormas yang diajak bekerjasama oleh BNPT berharap program deradikalisasi berjalan lancar dan membawa kedamaian untuk kehidupan masyarakat Indonesia [2].

Sementara itu, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) yang sejak awal telah berkomitmen memerangi gerakan radikalisme agama, menghawatirkan generasi baru terorisme lahir dari kalangan pelajar.”Sudah sejak lama kami mendorong kementerian pendidikan nasional untuk waspada terhadap ancaman radikalisme pelajar, utamanya rohaniawan sekolah (rohis). Sebab hasil penelitian dan analisis kami menyatakan bahwa generasi baru terorisme lahir dari institusi pendidikan sekolah,” kata dia.[2]

Walaupun BNPT belum bisa mengajak ormas lainnya, tapi BNPT bisa tersenyum simpul. Karena “ikan besar” organisasi Islam Indonesia sudah terpancing dan tertangkap jaring “deradikalisasi”. BNPT memang tidak berhenti karena deradikalisasi merupakan proyek. Selama uang dari APBN dan donor asing terus mengalir. Selama itu pula BNPT bekerja. Maka yang dibidik dan diharapkan untuk masuk lagi yaitu LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Tulisan ini akan mengupas tujuan dan LDII dalam pengarusutamaan ‘deradikalisasi’.

Kiprah Politik LDII

Masyarakat selama ini mengenal LDII biasa-biasa saja. Tidak begitu banyak berita yang memberitahukan aktifitas politik di Indonesia. Kemunculan LDII awalnya memang kontroversial. Faham yang dianut oleh LDII tidak berbeda dengan aliran Islam Jama'ah/Darul Hadits yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971). Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama'ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis (Madigol). Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972).

Namun dengan adanya UU No. 8 tahun 1985, LEMKARI sebagai singkatan Lembaga Karyawan Islam sesuai MUBES II tahun 1981 ganti nama dengan Lembaga Karyawan Dakwah Islam yang disingkat juga LEMKARI (1981). Pengikut aliran tersebut pada pemilu 1971 mendukung GOLKAR, kemudian LEMKARI berafiliasi ke GOLKAR Dan kemudian berganti nama lagi sesuai keputusan konggres/muktamar LEMKARI tahun 1990 dengan nama Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

LDII saat ini menunjukkan wajah baru. Hal ini dilakukan agar umat bersedia menerima lapang dada. LDII tak ubahnya NU, Muhammadiyah, atau ormas Islam lainnya. Semenjak LDII didirikan, oraganisasi ini mencari perlindungan kepada pemerintah. Pemilu demi pemilu diikuti LDII dengan menempatkannya sebagai caleg parpol tertentu. Sebut saja: Golkar, PDI-P, dan Demokrat. Jalur formal dipandang LDII sebagai jalur aman untuk mengamankan kepentingan dan keberlangsungan LDII. Terkadang LDII mendapatkan kekecewaan ketika berafiliasi dengan parpol. Banyak caleg LDII yang tidak terpilih. Maklum parpol hanya mau dukungannya saja waktu pemilu. Setelah itu ditinggallah. Jika diamati, LDII cari aman saja dalam naungan pemerintahan di negeri ini.

Langkah LDII dalam deradikalisasi

Berlepas dari berbagai kontroversi di tengah-tengah umat terkait LDII. Ada hal menarik yaitu tujuan LDII menerima tawaran deradikalisasi oleh BNPT. Wacana deradikalisasi LDII telah ditabuh pada Rapat Kerja Nasional LDII se-Indonesia di IPB Bogor, 11-12 April 2012. Ansyad Mbai memaparkan beberapa hal ‘curhat’ deradikalisasi BNPT. Ia mewacanakan jika yang patut melakukan ini (deradikalisasi) adalah ulama’ dan ormas Islam moderat. Ia pun bercerita ketika masa kecilnya merasakan ideologi radikal di tempat kelahirannya. Ia mengakui bahwa terorisme belum ada definisi yang jelas. Penjelasan yang radikal disampaikan Ansyaad Mbai bahwa negara demokrasi adalah fitnah dan syirik hukumnya. Pancasila itu syirik. Demokrasi, nasionalisme, dan sekuler bertentangan dengan aqidah. Menerima demokrasi berarti mendustakan al-quran. Siapa saja, orang islam yang membenarkan demokrasi, meskipun kiyai, ustadz, mubaligh jauhi jangan bermakmum dengan dia. Kalau mati jangan mau menyolati. Inilah contoh kecil ideologi ekstrem itu. Apakah itu benar atau tidak ? Bagaimana membentengi dari ideologi ini. Hakekatnya Islam tapi semuanya politik, mau berkuasa. Selain itu juga, ia menyampaikan bagan piramid radikalisme manjadi teror.

Jika diamati pernyataan dan curhat Ansyaad Mbai sangat kental dengan adu domba. Ini merupakan pembunuhan karakter bagi siapa saja yang sesuai dengan kriteria ideologi radikalisme menurut BNPT. Apalagi hadirin peserta Rakernas LDII menerima begitu saja, tanpa konfirmasi kebenaran terkait ideologi radikalisme. Tentu, hal ini tak ubahnya dulu awal kemunculan LDII. Ada yang menganggap LDII sesat, mengkafirkan selain orang LDII, bahkan yang lebih ekstrim mengepel masjid yang ditempati shalat orang selain LDII. Pembiusan BNPT kepada LDII tak ubahnya menjadikan LDII mengikuti arahannya dalam perang melawan terorisme. Tak lain adalah perang melawan sesama saudara muslim. Sungguh ini bentuk pembelokan dan pembodohan kepada umat Islam. Umat Islam dan ormas yang ada dipaksa untuk mengikuti Islam moderat yang diinginkan penjajah. Hal ini sangat berbahaya dalam kerukunan dan ukhuwah umat.

Deradikalisasi LDII dan BNPT dilanjutkan di level provinsi. Sebanyak 100 mubaligh (juru dakwah) LDII se-Jawa Timur mengikuti Latihan Dakwah Deradikalisasi di auditorium IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 19-20 Mei 2012, kerja sama DPW LDII Jawa Timur dengan Jurusan Siyasah Jinayah Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Konsep deradikalisasi telah menjadi salah satu bagian dari "MoU" yang ditandatangani DPP LDII dengan PBNU pada Rakernas LDII. Harapan dari kerjasama tersebut untuk membentuk kesamaan dalam menjalankan dakwah, terutama dalam menegakan NKRI.[4]

Narasumber yang menyampaikan pengarahan antara lain Prof Dr KH Abd. A'la MA.(Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya), Prof Dr KH Faishal Haq MAg (Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya), dan Drs H Sudjak MAg (Kepala Kanwil Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur). Selain itu, Prof Dr H Syafiq A. Mughni MA (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Prof Dr KH Ali Aziz MAg (Pembina Badan BAZ Jawa Timur), Drs KH Ilhamullah Sumarkan MAg (Ketua PW LDNU Jawa Timur), Drs KH Abdusshomad Bukhori (Ketua Umum MUI Jawa Timur), dan sebagainya.

Kesimpulan

Umat Islam khususnya pimpinan ormas harus waspada terhadap agenda BNPT. Ormas Islam tidak seharusnya ‘latah’ dan mengekor begitu saja. Apalagi hanya cari sensasi dan aman. LDII dibidik BNPT bukan karena alasan. Konsisten dan perjuangan LDII ke depan diharapkan dan dijadikan anak emas dalam proyek deradikalisasi. Hal itu sesuai tujuan LDII adalah “Meningkatkan kualitas peradaban, hidup, harkat dan martabat kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta turut serta dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, yang dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa guna terwujudnya masyarakat madani yang demokratis dan berkeadilan sosial berdasarkan Pancasila, yang diridhoi Allah Subhanahu Wa ta'ala.”

Cara yang digunakan BNPT sama persis dengan cara-cara asing untuk menghancurkan umat Islam dengan mengadu domba secara pemikiran. Jika awal hanya sebatas wacana dan saling serang dengan argumen masing-masing. Pada akhirnya akan terwujud perang fisik tak terelakan (awalnya saling membenci, memfitnah, mengkafirkan, lalu ada tawuran dan adu fisik antarormas, dll). Maka jelas, jika LDII ikut arus dakwah deradikalisasi yang terjadi adalah tipu muslihat saja. LDII atau ormas islam lainnya akan ditinggal bahkan dicampakan jika protek deradikalisasi sudah berhasil. LDII akan jadi alat kepanjangan asing atas nama ormas Islam untuk menghancurkan umat Islam lainnya. Tentu semangat LDII dalam dakwah deradikalisasi bertentangan dengan mottonya. Moto LDII – ada tiga [3] motto yaitu:
Dan hendaklah ada di antara kamu sekalian segolongan yang mengajak kepada kebajikan dan menyuruh pada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” [QS Ali Imron, 104]

Katakanlah ini lah jalan (agama)-ku, dan orang–orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku tiada termasuk golongan orang yang musyrik”[QS Yusuf, 108];

Serulah (semua manusia) kepada jalannya Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan yang lebih baik” [QS An-Nahl, 125].
Oleh karena itu, seharusnya apa pun ormasnya memperjuangkan Islam bukan mempropagandakan deradikalisasi atau paham selain Islam. Justru ketika ormas Islam tidak memperjuangkan tegaknya Syariah dan penerapan dalam bingkai Khilafah yang terjadi justru kerugian. Kerugian di dunia karena abai terhadap penerapan Syariah Islam. Kerugian di akhirat karena tidak memperjuangkan Islam. Bahkan yang lebih tragis jika ormas Islam yang ada hanya cari muka, cari dana, dan menutup diri agar selamat dari pemerintah yang dzalim. Maka segeralah memperjuangkan Syariah Islam saja. Bukan yang lain. Apakah mereka tidak sadar?

Wallahu ‘Alam bis sowab.


Rujukan:
  • Kang Said: Pimpinan Wilayah hingga Ranting NU Wajib Perangi Terorisme, www.nu.or.id, akses 23 Mei 2012
  • BNPT-Muslimat NU Kerjasama Tekan Radikalisme, www.nu.or.id, akses 23 Mei 2012
  • IPNU Bentuk Satgas Deradikalisasi Pelajar, www.nu.or.id, akses 23 Mei 2012
  • 100 Mubaligh LDII se-Jatim Ikuti Latihan Deradikalisasi, www.antarajati.com, akses 23 Mei 2012 
__ooOoo__



(Beringin sudah tidak bercokol lagi...)

 KOPERASI INDONESIA 


menjadi... 



 LDII 


menjadi...

(I'm waiting...)

(NOVEL): Untold History of Pangeran Diponegoro

CATATAN PENULIS
Tahun 1647, Amangkurat I memancung kepala 6.000 ulama Jawa beserta keluarganya di alun-alun Kraton Plered, Yogyakarta. Syiar Islam di Tanah Jawa, paska era Wali Songo, pun mandeg. VOC, sekutu utama Raja Mataram itu, bergembira.

Lebih satu abad kemudian, Diponegoro mengobarkan jihad fi sabilillah untuk mengusir kaum kafir Belanda dan menegakkan panji syahadat di Tanah Jawa, dalam bentuk sebuah negara merdeka berasaskan Islam. Jihad fi sabilillah ini oleh sejarawan Belanda direduksi hanya sebagai perang sakit hati, yang hanya disebabkan perebutan tahta dan persoalan tanah makam leluhur.

Sejarah selalu berulang. Dan hari ini, episode Amangkurat I, Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasyah, Kiai Modjo, dan Patih Danuredjo pun kembali terjadi. Dalam bentuk yang lebih canggih, tapi lakonnya tetaplah sama. Persis sama... []
Dengan penuh hormat dan kebanggaan,
kupersembahkan kepada anak keturunan
dan keluarga besar Pangeran Diponegoro,
semoga kemuliaan perjuangan Beliau
menginspirasi hidup kita semua...

PROLOG

Plered, Jawa Tengah, 1647

APA YANG SEKARANG DILIHAT DENGAN mata dan kepalanya sendiri sungguh-sungguh membuat Dyah Jayengsari ingin muntah. Dua jam lalu, kepala juru masak kraton menyuruhnya membakar panci besi tebal. Bentuknya seperti topi. Dyah Jayengsari tidak berani bertanya untuk apa panci besi itu dibakar. Sebagai orang baru di kraton, dia harus tahu diri. Walau diliputi tanda tanya besar, namun gadis dari Krapyak ini tidak berani bertanya macam-macam.

Setelah panci itu membara, berubah jadi pijar panas yang mengerikan, dua prajurit Mataram menggotongnya dengan sebuah gerobak kayu ke bagian selatan alun-alun yang tidak jauh dari tempat Dyah Jayengsari berdiri. Di sana berkerumun banyak orang. Para prajurit juga berjaga-jaga Menurut kabar burung, seorang pemberontak pengikut Pangeran Alit tertangkap. Dia akan segera dihukum. Gadis itu tidak tahu apa hubungannya dengan panci panas itu.

Didorong penasaran, dia berjalan mendekati kerumunan. Dengan susah payah Dyah Jayengsari menyibak kerumunan orang, hingga akhirnya dia berdiri dekat dengan seorang lelaki paruh baya, bertelanjang dada, yang sedang duduk bersimpuh dengan tangan terikat. Kedua matanya ditutup secarik kain hitam. Satu tombak di depan lelaki itu, terdapat sebuah lubang seukuran badan orang dewasa. Lima prajurit kraton berjaga di sampingnya.

Tanda tanya besar masih memenuhi kepala gadis itu.

Tiba-tiba seorang prajurit Mataram yang bertindak selaku algojo memerintahkan agar sang pesakitan dipendam di lubang yang ada di depannya. Lima orang prajurit bertubuh besar yang berjaga di sekeliling lelaki itu bergegas mengangkatnya. Dengan kasar mereka mengubur tubuh lelaki itu dari leher ke bawah.

Anehnya, lelaki itu tidak meronta-ronta. Ketika kain hitam dibuka, kedua matanya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sorot matanya begitu tenang, menyiratkan kepasrahan yang total pada kehendak Yang Maha Kuasa. Mulutnya terlihat komat-kamit membaca doa-doa dalam bahasa Arab.

Dari belakang, dua prajurit yang tadi ikut mengubur lelaki itu menggotong panci yang masih membara dan kemudian segera menangkupkan panci itu ke kepala sang pesakitan.

“Allahu Akbar!!!”

Lelaki itu melolong kesakitan. Begitu keras dan memilukan. Tak kuat menahan sengatan sakit yang luar biasa, lelaki itu langsung pingsan. ‘Topi besi panas’ itu melumerkan batok kepalanya. Suara gemerisik terdengar, seiring desis daging terbakar. Semua yang menonton menjerit ketakutan. Termasuk Dyah Jayengsari. Badan gadis itu menggigil hebat. Perutnya mual. Pandangan matanya berkunang-kunang. Kesadarannya mulai hilang. Dyah Jayengsari akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Gadis itu tiba-tiba tersadar. Dia menengok ke sekeliling ruangan. Tidak ada kerumunan orang. Dia ternyata sendirian di bilik tidurnya. Mimpi itu ternyata terulang kembali. Mimpi nyata yang pernah dilihatnya beberapa pekan lalu.

Dari atap rumbia yang bolong di sana-sini hingga menyisakan ruang bagi sorot matahari yang menerobos ke dalam, Dyah Jayengsari tahu bahwa hari masih siang. Arah sinarnya ke timur menandakan Sang Surya telah mulai tergelincir ke barat.

Entah mengapa, perasaan gadis itu tidak enak. Keringatnya mengucur deras membasahi bajunya. Jantungnya berdegup keras menggedor-gedor relung dadanya. Baru saja dia hendak berdiri, sebuah teriakan keras mengagetkan dirinya.

“Keluar! Atas nama Paduka Yang Mulia, semua yang ada di dalam rumah ini keluar!”

Dyah Jayengsari menggigil ketakutan. Gadis itu tahu, teriakan itu berasal dari prajurit kraton.

Gerangan apa yang membuat mereka ke sini?

“Cepat keluar! Atau kami dobrak!”

Sambil berjalan, Dyah Jayengsari merenggut kerudung yang tersampir di bilik bambu dinding kamar dan menutupi kepala sekadarnya. Gadis itu bergegas keluar. Rumah sepi. Hanya ada dirinya. Benar saja, di depan pintu telah berdiri tiga orang prajurit kraton lengkap dengan pedang dan tombak. Yang membuatnya kaget, ayahnya dan Wulung Ludhira—adik satu-satunya yang masih berusia sepuluh tahun—sudah berada di antara pasukan itu dengan pengawalan ketat.

“Siapa lagi yang ada di dalam!” hardik salah seorang prajurit. Tangan kanannya menggenggam tombak dengan ujung besi mirip trisula.

“Tidak ada lagi, Tuan. Saya sendirian...,” jawab Dyah pelan. Ketakutan segera menyergap dirinya. Tapi prajurit-prajurit kraton itu tidak percaya. Mereka mendobrak gubuk itu lalu menerabas ke dalam. Sesaat kemudian mereka keluar tanpa membawa siapa pun. Nihil.

“Dia benar. Tak ada lagi orang...”

Seorang prajurit yang sepertinya bertindak sebagai kepala regu memerintahkan semuanya pergi ke alun-alun. Dyah Jayengsari, ayah, serta adiknya hanya bisa mengikuti pasukan penjemputnya dengan menaiki seekor kuda yang telah diikat tali. Untunglah gubuk mereka tidak begitu jauh dengan alun-alun, sehingga dalam waktu singkat mereka sudah tiba di lapangan yang luas, di mana di sebelah selatannya berdiri bangunan Kraton Plered yang belum rampung dibangun. Walau demikian, Raja Amangkurat I sudah menempatinya.

Kraton Mataram Plered merupakan kraton baru. Yang lama berada di Kerto, lima kilometer selatan Kotagede. Adalah Susuhunan Amangkurat I yang memindahkan pusat kerajaannya itu dari Kerto setelah dua tahun berkuasa.

Berbeda dengan kraton lama yang hanya berpagar kayu, maka kraton baru ini lebih mirip sebuah benteng. Bangunannya dikelilingi dinding batubata dan semen, dengan tinggi lima sampai enam meter. Tebalnya mencapai satu setengah meter. Sebuah parit buatan yang terhubung dengan Kali Opak dibuat mengelilingi kraton-benteng berbentuk belah ketupat ini, sehingga pusat kekuasaan Mataram di bawah Amangkurat I tampak seperti sebuah pulau di kelilingi daratan luas.

Alun-alun kraton ada dua, di utara dan selatan. Antara alun-alun dengan istana dihubungkan dengan sebuah jembatan yang selalu dijaga ketat prajurit kraton. Model keraton-benteng ini mengingatkan kita pada model istana-benteng raja-raja Eropa.

Hanya saja, bangunan Keraton Mataram di Plered tidak dibuat tinggi bertingkat-tingkat.

Dari atas kudanya yang berjalan lambat, Dyah Jayengsari, Wulung Ludhira, dan Ki Ageng Ludhira baru memasuki jalan utama menuju alun-alun kraton. Di sisi kanan dan kiri jalan utama yang lurus terbuat dari tanah yang dipadatkan, berjejer beringin putih setinggi empat sampai lima meteran. Di tiap pohon beringin, dua pasukan kraton bersenjatakan tombak berdiri dalam sikap siaga seolah tengah bersiap berperang.

“Ada apa gerangan, Nduk?” bisik Ki Ageng Ludhira kepada anaknya yang duduk di belakangnya mengapit Wulung.

Gadis itu menggelengkan kepalanya, “Aku ndak tahu, Pak. Tapi perasaanku ndak enak.”

“Berdoa saja ya, Nduk. Perasaanku juga tidak enak. Mudah-mudahan tidak terjadi suatu apa.”

Walau berkata begitu, tetapi kedua mata Ki Ageng Ludhira tidak bisa membohongi anaknya. Dyah Jayengsari tahu jika sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Apa yang dilakukan prajurit-prajurit ini pasti atas perintah Susuhunan Amangkurat I. Dan semua yang dilakukan raja lalim ini semuanya pasti berakhir tragis. Karakter raja ini sangat buruk. Dia amat berbeda dengan ayahnya, Sultan Agung Hanyokrokusumah, dan juga dengan adik-adiknya. (bersambung/rz)

Wasiat tentang Shalat

Saudara-saudara rahimakumullah, ketahuilah bahwa sesungguhnya bencana yang dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian masyarakat pada salat lima waktu, salat Jumat dan salat jamaah, padahal semua itu adalah ibadah-ibadah yang dengannya Allah meninggikan derajat dan menghapuskan dosa-dosa maksiat. Dan salat adalah cara ibadah seluruh penghuni bumi dan langit.

 Rasulullah SAW bersabda: "Langit merintih dan memang ia pantas merintih, karena pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (salat) kepada Allah Azza Wa Jalla." (HR Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Orang yang meninggalkan salat karena dilalaikan oleh urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya.
Dengarkanlah nasihatku tentang nasib orang yang meninggalkan salat, baik semasa hidup maupun setelah meninggal. Sesungguhnya Allah merahmati orang yang mendengarkan nasihat kemudian memperhatikan dan mengamalkannya.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman." (QS An-Nisa`, 4:103)

Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Setelah Isya’ aku bersama Umar bin Khottob RA pergi ke rumah Abu Bakar AsShiddiq RA untuk suatu keperluan. Sewaktu melewati pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan. Kami pun terhenyak dan berhenti sejenak. Kami dengar beliau menangis dan meratap.

"Ahh..., andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap salat. Ahh..., aku sungguh menyesali umatku."

"Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,’ kata Umar RA.

Umar kemudian mengetuk pintu. ‘Siapa?’ tanya Aisyah RA. ‘Aku bersama Abu Hurairah."

Kami meminta izin untuk masuk dan ia mengizinkannya. Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya:

“Duhai Tuhanku, Engkau adalah Waliku bagi umatku, maka perlakukan mereka sesuai sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”

"Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?"

"Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah sehabis mengerjakan salat di mesjid, Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu,’ kemudian ia berkata, ‘Bacalah!’

"Apa yang harus kubaca?"

"Bacalah: "Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan." (QS Maryam, 19:59)

"Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan salat?"

"Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan salat, mengakhirkan salat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar lebih berharga daripada salat.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA.

Abu Darda` berkata, “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berdzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan salat.”

Diriwayatkan pula bahwa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah adalah salat. Jika salat seseorang cacat, maka seluruh amalnya akan ditolak.

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk salat, karena Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.

Atha’ Al-Khurasaniy berkata, “Sekali saja seorang hamba bersujud kepada Allah di suatu tempat di bumi, maka tempat itu akan menjadi saksinya kelak di hari kiamat. Dan ketika meninggal dunia tempat sujud itu akan menangisinya.”

Rasulullah SAW bersabda:“Salat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama. (HR Baihaqi).

Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (HR Bazzar dari Abu Darda`)

Barang siapa bertemu Allah sedang ia mengabaikan salat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikan kebaikannya.” (HR Thabrani)

Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka terlepas sudah darinya jaminan Muhammad.” (HR Ahmad dan Baihaqi)

Allah telah mewajibkan salat lima waktu kepada hambaNya. Barang siapa menunaikan salat pada waktunya, maka di hari kiamat, salat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya. Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpul-kan bersama firaun dan Haman.” (HR Ibnu Hibban dan Ahmad) .

5.6.12

Inilah Orang Terkaya se-Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Selain merilis daftar orang terkaya di dunia, Majalah Forbes juga membeberkan daftar orang terkaya di Indonesia. Dari 17 daftar orang paling tajir se-Indonesia, duo pemilik Djarum, Budi Hartono dan Michael Hartono belum tergoyahkan sebagai orang terkaya se-Nusantara.

Total kekayaan Budi Hartono diperkirakan 6,5 miliar dolar AS. Sementara sang kakak, Michael Hartono diprediksi memiliki kekayaan sekitar 6,3 miliar dolar AS. Selain mengelola Djarum, kedunya juga memiliki saham di BCA.

Total kekayaan yang dimiliki Budi menempatkannya menjadi orang terkaya nomor 146 di dunia. Sedangkan Michael Hartono berada di orang terkaya nomor 157.

Berikut 17 orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2012:

Nama / kekayaan / perusahaan / peringkat dunia
  1. Budi Hartono / $6,5 miliar / BCA, Djarum / 146
  2. Michael Hartono / $6,3 miliar / BCA, Djarum / 157
  3. Low Tuck Kwong / $3,6 miliar / Bayan Resourses / 304
  4. Martua Sitorus / $3,0 miliar / Wilmar / 377
  5. Sukanto Tanoto / $2,8 miliar / Garuda Mas / 418
  6. Peter Sondakh / $2,6 miliar / Rajawali Grup / 464
  7. Achmad Hamami / $2,2 miliar / Trakindo / 578
  8. Sri Prakash Lohia / $2,0 miliar / Indorama / 634
  9. Chairul Tanjung / $2,0 miliar / CT Grup / 634
  10. Kiki Barki / $1,7 miliar / Harum Energy / 764
  11. Murdaya Poo / $1,5 miliar / Central Cipta Murdaya / 854
  12. Edwin Soeryadjaya / $1,4 miliar / Saratoga, Adaro / 913
  13. Tahir / $1,3 miliar / Mayapada / 960
  14. Hari Tanoesoedibjo / $1,3 miliar / MNC, Bhakti Investama / 960
  15. Garibaldi Thohir / $1,2 miliar / Adaro / 1015
  16. Theodore Rachmat / $1,1 miliar / Adaro / 1075
  17. Djoko Susanto / $1,0 miliar / Alfamart / 1153