31.8.14

Syeikh Siti Jenar, Pemutarbalikan Sejarah, Perjalanan Hidup & Ajarannya

Syekh Siti Jenar adalah sosok yang misterius sekaligus kontroversial. Betapa tidak, eksis atau tidaknya di panggung sejarah masih menjadi perdebatan para pakar. Apalagi terkait statusnya yang dilabelkan kepadanya sebagai tokoh pencetus ajaran Manunggaling Kawulo Gusti di tanah jawa. Meskipun juga diragukan apakah Syekh Siti Jenar yang menyebarkannya, yang jelas ajaran itu sendiri telah berkembang dan banyak dianut hingga sekarang.

Nama Syekh Siti Jenar memang terdokumentasi di dalam sejumlah literatur kuno, seperti naskah babad, kropak atau serat. Namun, validitasnya sebagai sumber sejarah dipertanyakan. Karena mesti dipilah-pilah mana yang merupakan fakta riil dan mana yang hanya mitos. Bahkan, berdasarkan hasil risetnya, penulis buku ini telah menyimpulkan adanya distorsi sejarah dan ajaran Syekh Siti Jenar.

Buku ini mencoba untuk menguaknya apakah Syekh Siti Jenar itu ada atau tidak dan sejauh mana kesesatan ajarannya. Keseriusan penulis untuk melakukan studi literatur dan turun ke lapangan pun membuahkan kedalaman analisis. Bukan hanya sebatas deskripsi historis, penulis juga menyajikan kajian yang bersifat normatif-syar’i terkait ajaran yang disandarkan kepada Syekh Siti Jenar. Keberanian penulis untuk mengkritis sosok sekaliber Prof. Dr. Munir Mulkhan, sekaligus menjadikan buku ini sebagai bantahan ‘resmi’ layaka mendapatkan apresiasi tersendiri.

ENSIKLOPEDI SYIRIK DAN BID’AH JAWA

Dulu masyarakat Jawa menganut Hindu dan Budha atau animisme-dinamisme, setelah itu Islam datang. Terjadilah akulturasi budaya antara kepercayaan lokal dan Islam. Masyarakat kadang sulit membedakan apakah ini Islam, Hindu, Budha, ataukah Jawa. Dari sinilah muncul produk turunan berupa cara berislam ala “orang Jawa” (Kejawen).

Banyak pertanyaan muncul tentang berbagai tradisi ritual Jawa. Bukan saja dari orang yang awam terhadap Islam, tetapi juga dari para dai, takmir masjid, dan tokoh masyarakat. Intinya, apakah berbagai amalan atau ritual Kejawen itu bagian dari Islam, atau justru bertentangan dengan Islam?

Nah, buku ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Hadir sebagai sebuah ensiklopedi mini tentang deskripsi dan bagaimana Islam memandang beragam warisan budaya dan tradisi ritual mengenai:
  1. Konsep waktu dan dasar perhitungan Jawa, seperti primbon, weton, hari baik dan hari jelek
  2. Tradisi saat Bayi dalam Kandungan hingga Lahir, seperti mitoni/tingkepan, tata cara membuang ari-ari, serta keyakinan tentang “sedulur alus
  3. Ramalan watak dan nasib, seperti sengkala, ruwatan, dan sukerta
  4. Ritual kematian, seperti sadranan dan tahlilan.
  5. Hal-hal yang terkait dengan prosesi perkawinan, seperti bubakan, cengkir gading, sawatan, suapan, injak telur dan mandi kembang setaman, serta kembar mayang.
  6. Ritual perayaan musiman, seperti tirakatan, sesaji kepala kerbau, kirab pusaka, padusan, sekatenan, hingga grebeg sawal dan grebeg besar.
Melalui buku ini kedua penulis ingin menekankan pentingnya memahami ragam budaya di atas dalam upaya memurnikan akidah. Jangan sampai atas nama nguri-uri kabudayan adi luhung atau mempertahankan “kearifan” lokal ajaran Islam yang universal justru dilanggar. Apalagi fondasi Islam adalah tauhid dan ittiba’, yang tidak menoleransi syirik dan bid’ah.

Judul Buku:
  1. Syeikh Siti Jenar, Pemutarbalikkan Sejarah, Perjalanan Hidupnya, dan Ajarannya
  2. Ensiklopedi Syirik & Bid’ah Jawa
Penerbit: Aqwam


Bagi yang berminat memesannya, silahkan sms ke 085811922988 atau email ke marketing@eramuslim.com dengan menyebutkan judul pesanan, nama lengkap, no Telepon yang bisa dihubungi dan alamat lengkapnya.

Strategi Barat Memecah-belah Dunia Islam

http://hizbut-tahrir.or.id/2014/07/26/strategi-barat-memecah-belah-dunia-islam/

Persatuan Dunia Islam adalah mimpi buruk bagi Barat. Barat terus menggunakan strategi integrasi untuk mengeksploitasi berbagai kepentingan ekonominya dengan berbagai proyek regionalisme seperti Uni Eropa, APEC dll.

Di sisi lain mereka terus melakukan strategi pecah-belah terhadap Dunia Islam. Ketakutan Barat terhadap persatuan Dunia Islam dilatarbelakangi oleh pengalaman sejarah yang ‘menakutkan’ ketika mereka harus menghadapi negara adidaya (super power state) Khilafah Islam sepanjang sejarah peradaban dunia. Umat Islam yang bersatu di bawah Kekhilafahan Islam berhasil menggedor Eropa, bahkan menguasai sebagian wilayahnya seperti Andalusia pada masa Kekhilafahan Ummayah-Abbasiyah dan Balkan pada masa Kekhilafahan Utsmaniyyah.

Setelah Khilafah Islam terakhir Turki Utsmani berhasil mereka tumbangkan, Barat terus berupaya mencegah kemunculan persatuan Dunia Islam, apalagi di bawah naungan Khilafah. Berbagai negeri Muslim yang dianggap memiliki kapabilitas sebagai negara yang kuat dilemahkan, bahkan kalau perlu dipecah-belah lagi menjadi beberapa negara. Inilah yang dialami Sudan; dipecah menjadi Sudan dan Sudan Selatan. Ini juga yang dialami Pakistan, yang kemudian menghasilkan penglepasan Bangladesh dari Pakistan. Bahkan ketika Kekhilafahan Turki Ustmani dalam keadaan lemah, mereka menjebaknya untuk terjun dalam Perang Dunia I. Sebelumnya, mereka merancang pembagian wilayah Khilafah dalam Perjanjian Rahasia Sykes-Picot antara diplomat Inggris dan Prancis. Perjanjian ini kemudian terbongkar karena terjadi Revolusi Bolshevic yang mengubah Kerajaan Rusia menjadi Uni Sovyet.

Upaya pecah-belah ini tidak akan berakhir. Ini adalah bagian dari strategi Barat terhadap Dunia Islam. Ini pula yang saat ini dilakukan Barat terhadap Irak.

Roadmap Pecah-Belah Irak

Irak adalah negeri Muslim yang sangat penting. Irak adalah bekas pusat Kekhilafahan Islam Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Pasca dikuasai Inggris setelah menang Perang Dunia I pada Oktober 1919, Irak awalnya mengadopsi sistem kerajaan dengan menempatkan ‘boneka’ Inggris dari Dinasti Hashemit/Hasyimiyah; dimulai dari Raja Faishal I yang merupakan anak dari Hussein bin Ali penguasa dari Hijaz hingga Raja Faishal II, cucunya.

Amerika Serikat lalu mengambil-alih dominasi Irak dari Inggris dengan men-support kudeta militer yang dilakukan oleh Muhammad Najib ar-Ruba’i pada tahun 1958. Karena Irak adalah negara yang kuat, perlu langkah-langkah yang lebih jitu lagi untuk melemahkan Irak.

Irak adalah negara dengan komposisi penduduk sekitar 75-80% bangsa Arab. Kelompok etnis utama lainnya adalah Kurdi (15-20%), Asiria, Turkmen Irak, dll. (5%). Muslim di Irak menurut Britannica terdiri dari Syiah 60%, Sunni 40%. Menurut CIA World Fact Book, di Irak Syiah 60%-65% dan Sunni 32%-37%. Demografi Irak yang demikian menjadi salah satu potensi untuk memecah-belah Irak.

Upaya melemahkan Irak dimulai bukan ketika Amerika menginvasi Irak dan menjatuhkan Saddam Hussein. Sejak tahun 1991 Amerika Serikat menjatuhkan sanksi zona larangan terbang (no flying zone) di wilayah Irak utara. Sejak itu, wilayah tersebut yang mayoritas penduduknya beretnis Kurdi menjadi mirip sebuah negara.

Saat menduduki Irak pada Maret 2003, awalnya Amerika Serikat menempatkan Letjen Jay Gardner sebagai gubernur jenderal di sana. Namun, karena dianggap gagal-total menangani Irak, Amerika menggantikan dia dengan Paul Bremer. Dialah yang ditugasi melakukan ‘penjarahan’ besar-besaran terhadap Irak. Langkahnya yang paling mendasar adalah menetapkan konstitusi yang isinya mengandung benih perpecahan Irak. Bersama Peter Galbraith, milyarder yang menulis buku The End of Iraq, terbitan 2006, Bremer membuat konstitusi Irak itu dengan memberikan kuota aliran dan sektarian. Undang-Undang Dasar baru Irak menekankan betul betapa pentingnya desentralisasi dan otonomi daerah di Irak.

Melalui UUD baru Irak, pemerintahan daerah termasuk di dalamnya Kurdistan, berhak mendirikan angkatan bersenjatanya sendiri; berhak sepenuhnya atas kepemilikan bumi, air, minyak dan mineral yang terkandung di wilayah Kurdistan. Bahkan Kurdistan berhak untuk mengelola ladang minyak yang ada wilayah kekuasaannya, termasuk dalam mengelola pendapatan hasil minyak mereka meski pemerintahan pusat Baghdad tetap berwenang mengelola produksi komersial ladang minyak tersebut. Konstitusi permanen ini memberikan legitimasi terhadap semua proses invasi Amerika Serikat terhadap Irak.

Perlahan Amerika Serikat mulai memberikan partisipasi yang lebih luas bagi rakyat Irak. Pada bulan Desember 2011 militer Amerika Serikat mulai ditarik dari Irak. Namun, dalam hal keamanan dan politik pengaruh Amerika Serikat masih menancap kuat di Irak.

Amerika Serikat menjaga Irak dengan mendudukkan seorang diktator sektarian tulen, Nuri al-Maliki. Secara sengaja pemerintahan-nya melakukan penindasan di wilayah-wilayah yang secara etnis minoritas di utara dan barat Irak. Jadilah eskalasi berbasiskan sektarian terus meningkat dengan hadirnya berbagai milisi bersenjata Syiah bentukan dari al-Maliki yang juga memiliki latar belakang Syiah yang kuat.

Nuri al-Malaki telah menjadi perdana menteri Irak sejak pemerintahan transisi berakhir pada tahun 2006. Kekuatan politik dan militer di Irak sangat terpusat di kantor Perdana Menteri Nuri al-Maliki. Al-Maliki mendominasi tentara Irak, unit operasi khusus, intelijen dan departemen pemerintah utama. Semuanya telah menjadi kantor pribadinya. Pemerintah Irak kemudian berkonsentrasi untuk menghadapi milisi Kurdi dan Sunni yang membentuk Islamic State of Irak, yang kemudian berubah menjadi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Persoalan yang sangat mendasar di Irak adalah sektarianisme yang semakin menguat, apalagi didukung oleh negara-negara sekitar Irak yang mendorong pihak-pihak yang memiliki kesamaan etnis/mazhab dengan mereka.

Inilah yang terjadi di Irak yang merupakan implementasi politik pecah-belah yang dijalankan oleh Barat. Amerika sebagai aktor utama di Irak di-support oleh Inggris, penguasa Irak sebelumnya. Mereka tidak menginginkan Irak bersatu-padu. Mereka menginginkan Irak terpecah-belah. Setiap pecahannya saling bermusuhan dan bersaing serta saling memerangi satu sama lain.

Warga Irak memiliki latar belakang etnis yang berbeda. Letak geografis Irak juga terpisah. Adapun Konstitusi Irak menekankan pada otonomi daerah. Dengan semua itu jadilah setiap pihak bersikukuh merasa memiliki daerah kekuasaan. Masing-masing menyerukan secara terbuka pemisahan diri berdasarkan kedaerahan masing-masing.

Strategi Barat Memecah-Belah Dunia Islam

Barat sangat memahami bahwa persatuan adalah inti dari kekuatan umat Islam. Khilafah Islam pada masa kegemilangannya telah menunjukkan posisinya sebagai superpower pada masa Abad Pertengahan. Memang, Islam berpotensi melahirkan perbedaan. Namun, dalam Islam ada prinsip “perbedaan adalah rahmat” dan “amrul imam yarfa’ al-khilaf” (perintah imam [khalifah] menghilangkan perbedaan pendapat). Prinsip ini mampu mengembalikan berbagai perbedaan yang muncul di Dunia Islam ke persatuan dan kesatuan umat.

Barat senantiasa mencari celah untuk dapat masuk dan memecah-belah umat Islam. Saat Khilafah terakhir berada di tangan orang-orang Turki (Turki Utsmani), mereka menghembuskan isu Turanisme vs Arabisme. Dengan ide nasionalisme yang berkembang di Eropa pasca Perjanjian Westphalia, Dunia Islam pun dipaksa mengadopsi ide nasionalisme. Jadilah Perang Dunia I momentum untuk menghabisi keberadaan Khilafah Islam terakhir.

Inggris dan Prancis, dua negara superpower saat itu, merancang pembagian wilayah pasca perang melalui Perjanjian Sykes-Picot yang ditandatangani pada tanggal 16 Mei 1916. Perjanjian ini diberi nama sesuai dengan nama diplomat Prancis François Georges-Picot dan diplomat Inggris Sir Mark Sykes. Keduanya merundingkan pemecahan wilayah Khilafah Turki Utsmani tersebut. Khilafah pun dapat diruntuhkan dan jadilah Dunia Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara.

Apa yang dilakukan Barat tidak berhenti di situ. Barat sangat memahami potensi persatuan Islam ini. Karena itu berbagai upaya dilakukan untuk mencegah persatuan kembali umat Islam. Beberapa strategi kontemporer dapat dirujuk dari rekomendasi Rand Corporation, sebuah lembaga think-tank neo konservatif Amerika Serikat yang banyak mendukung berbagai kebijakan Gedung Putih. Dalam rekomendasi yang disampaikan oleh Cheryl Benard yang berjudul “Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies” secara detil diungkapkan upaya untuk memecah-belah umat Islam.

Tulisan dari Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan Direktur CIA yang berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology”, pun menunjukkan bagaimana CIA sampai mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar untuk memecah-belah umat Islam.

Bahkan terkait dengan krisis Irak, Amerika Serikat sudah dalam tahapan pengkondisian legitimasi reinvasi Amerika dan implementasi peta baru Timur Tengah dengan menjadikan Irak menjadi tiga negara: Sunni, Syiah, Kurdi. Sebagaimana yang diungkap oleh Letnan Kolonel Ralph Peters, pensiunan dari National War Academy AS, dalam buku yang diterbitkan Angkatan Bersenjata Journal pada bulan Juni 2006, peta Irak dalam buku ini telah digunakan dalam program pelatihan di NATO Defense College untuk perwira militer senior.

Penegasan hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang mengklaim bahwa perwujudan tiga negara bagian federal (berdasarkan kesepakatan etnis dan suku) telah menjadi opsi penting dalam menyelesaikan krisis di Irak. Joe Biden dalam pertemuannya Sabtu (1/6/14) dengan sekelompok tokoh Irak di Washington mengatakan, “Pembentukan tiga negara bagian terpisah (Syiah-Sunni-Kurdi) adalah untuk menyelesaikan krisis dalam negeri Irak.

Menghadapi Politik Adu-Domba Barat

Barat, khususnya Amerika, telah memiliki pandangan yang khusus terhadap Timur Tengah sejak terjun ke dalam politik dunia pasca melepaskan Doktrin Monroe.

Karena itu umat Islam perlu memiliki kesadaran politik mengenai negara-negara yang memiliki peran penting dalam percaturan politik internasional. Mereka adalah Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis dan Cina. Selain itu penting juga memahami keterkaitan (connections) antara orang-orang yang memiliki hubungan yang erat dan dekat dengan negara-negara berpengaruh tersebut. Menjadikan seseorang menjadi ‘boneka’ negara asing bukanlah proses yang instan; butuh pendalaman, interaksi yang intens yang keterkaitan kepentingan yang saling berkelindan satu sama lain.

Dalam menghadapi politik adu-domba Barat, sekali lagi, penting ditegaskan mengenai kebutuhan akan persatuan dan kesatuan umat Islam di bawah naungan Khilafah Islam. Khilafah Islam yang syar’i dapat menghapus berbagai perbedaan akibat pemahaman asing dengan senantiasa menjadikan akidah Islam sebagai asas kenegaraannya.

Penutup

Alhasil, di sinilah nilai penting seruan kepada rakyat Irak dan umat Islam pada umumnya; lebih khusus kepada bangsa Arab yaitu kalangan Kurdi, Sunni dan Syiah yang ada di Irak untuk waspada terhadap realitas ini. Selama pendudukan Amerika Serikat di Irak masih kokoh, tidak henti-hentinya strategi politik mereka terus dijalankan. Mereka akan terus berupaya mencegah Irak menjadi negara yang kuat, bahkan membuat Irak terpecah-belah menjadi beberapa negara baru.

Irak adalah negeri persatuan umat Islam. Irak pernah menjadi pusat Khilafah Islam yang membentang dari pantai barat Afrika hingga kepulauan Nusantara di timur Asia pada masa Abbasiyah. Karena itu umat Islam harus kembali pada contoh yang ditunjukkan oleh generasi pertama yang dimuliakan Allah SWT, yaitu memutuskan perkara dengan apa yang telah Allah turunkan, berjihad di jalan Allah, memutus hubungan dengan musuh-musuh umat, membuang jauh-jauh sektarianisme dan berpegang teguh hanya dengan Islam.

Semua persoalan ini bisa diselesaikan dengan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah yang mengikuti metode kenabian. Dengan Khilafah inilah kaum Muslim menjadi mulia. [Dari berbagai sumber] [H. Budi Mulyana, S.IP., M.Si.; Lajnah Khusus Intelektual DPP HTI]

Ada Upaya Kriminalisasi Jihad dan Khilafah dalam Isu ISIS

FENOMENA Daulah Islamiyah Iraq wa Syam (DAIS) atau di Indonesia sering disingkat ISIS atau ISIL merebak keman-mana. Semua orang bahkan ikut ‘keranjingan’ sampai apapun berbau ISIS seolah menjadi korban.

Belum lama ini, tepatnya Selasa (19/08/2014) Ade Puji Kusmanto (31), warga Terlangu, Brebes, Jawa Tengah, diamankan aparat Polsek Adiwerna, Tegal, lantaran memakai kaus hitam berlengan panjang ISIS.

Firman Hidayat, penjual es keliling di Kecamatan Beji, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, diamankan aparat Polres Depok di kediamannya, Jumat (22/08/2014) dinihari hanya karena laporan masyarakat memasang bendera ISIS di dinding rumahnya.

Juga kasus yang menimpa Achwan Jema’in takmir masjid Hibbaturrahman dan pengelola Islamic Center Balongbendo digerebek warga dengan tuduhan ISIS. Mantan Pengurus Muhammadiyah Balong Bendo Sidiarjo tahun 2002 ini bahkan tak bisa lagi mengelola masjid dan Islamic Centre karena tekanan warga.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Hidayatullah.com mewawancarai pemerhati Kontra Terorisme, Direktur CIIA (The community Of Ideological Islamic Analyst) dan pengasuh Majelis al Bayan, Harits Abu Ulya [HAU]

Apa yang Anda tentang ketahui dengan fenomena ISIS?

Memahami fenemena ISIS harus runtut, tidak boleh sepotong-sepotong.

Sebelum menjadi ISIS, tahun 2006 organisasi itu bernama Dulah Islam Iraq atau Islamic State for Iraq (ISI), kemudian berkembang menjadi Daulah Islam Iraq wa Syam (DAIS) atau juga disingkat ISIS/ISIL yang wilayahnya membentang dari Iraq dan Syam (Suriah). Belakangan telah memproklamirkan diri menjadi Khilafah Islamiyah pada 29 Juni 2014/1 Ramadlan 1435H.

Fenomena ini kemudian direspon beragam di kawasan wilayah kelahirannya, termasuk bagi dunia Barat begitupun dinegeri Indonesia.

ISIS adalah salah satu tadzim jihad yang hadir dan lahir di tengah imperialisme Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di dunia Islam khususnya Iraq. Basis awalnya di wilayah Iraq, di periode tahun 2004 para mujahidin berfusi dalam sebuah dewan Syuro Mujahidin, kemudian di tahun 2006 berubah menjadi ISI (Islamic State off Iraq /Daulah Islam Iraq), dan di saat revolusi Suriah pecah para mujahidin ISI ini masuk ke Suriah terlibat dalam aksi melawan rezim dukungan Syiah Bashar al Asaad.

Keberhasilan mereka menguasai sebagian wilayah Iraq kemudian di Suriah mengokupasi beberapa kota dan daerah akhirnya di tahun 2013 mereka mengumunkan diri menjadi ISIS (Daulah Islam Iraq wa Syam /Islamic State Off Iraq and Syam).Kemudian di akhir bulan Juni 2014 mereka mendeklarasikan Islamic State (Khilafah). Pengumunan Khilafah oleh ISIS melahirkan sikap pro dan kontra dikalangan para mujahidin, ini tampak diwakili oleh para senior ulama mujahidin di Timur Tengah yang menolak Khilafah Islam ala ISIS. Baik yang pro maupun yang kontra sama-sama memiliki hujah yang menjadi pijakan. Dan ini adalah pekerjaan rumah (PR) bagi para qiyadah tandzim jihad di sana untuk menyelesaikan.

Apa sebenarnya latar belakang lahirnya organisasi ini?

ISIS lahir karena kerinduan umat Islam akan wujudnya Khilafah seperti dalam Nubuwah menjadi stimulan kuat munculnya apresiasi terhadap fenomena ISIS dengan Khilafahnya. Di samping faktor kondisi politik domestik yang carut marut makin membuat Khilafah-ISIS seperti setetes “embun” di musim kering kerontang bagi sebagian muslim.

Menurut saya, kerinduan ini wajar saja dan sunatullah. Cuma fenomena ini menjadi problem baru dalam kehidupan sosial politik umat Islam Indonesia ketika pemerintah resmi melalui Menkopolhukam menyatakan larangannya terhadap paham ISIS.

Apa masalahnya?

Menurut saya ini keputusan prematur yang tidak kuat pijakan yuridisnya dan terlalu dipaksakan hanya dengan delik ISIS adalah kelompok teroris seperti yang di kumandangkan oleh Amerika Serikat (AS). Dengan begitu, WNI yang berafiliasi terhadap ISIS seolah berpotensi melakukan tindakan yang mengancam keamanan Indonesia.

Di samping alasan politik ideologinya adalah, paham ISIS bertentangan dengan Pancasila dan konsep NKRI. Saya berharap umat Islam, khususnya para tokoh dan ulamanya bisa bijak proporsional dan tidak mudah terprovokasi. Karena keputusan pemerintah jelas-jelas melahirkan keresahan di tengah umat Islam dan berpotensi lahirnya benturan di lapangan antar umat Islam sendiri, padahal sejatinya masalah ISIS masih dalam zona perdebatan.

Kita harus belajar bijak, karenanya kebencian seseorang kepada suatu kaum atau kelompok jangan sampai menjadikan dirinya tidak bisa bersikap adil terhadapnya.

Mengapa isu ini tiba-tiba dibesar-besarkan? Adakah agenda tersembunyi?

ISIS hadir di ruang publik Indonesia secara masif sebulan pasca deklarasi Khilafah Islam di Iraq. Semua media menghantam ISIS dengan deskripsi sangat menyudutkan. Intinya ISIS diadili oleh hampir semua media dengan membentuk persepsi publik; ISIS adalah entitas yang berbahaya dan pemahaman yang sesat.

Menariknya, isu ini berkembamg pasca putusan KPU hasil Pilpres Indonesia dan sebelum putusan kisruh Pilpres di MK (Mahkamah Konstitusi). Saya melihat ISIS dimunculkan sebagai usaha pengalihan atas kisruh Pilpres yang berpotensi kuat munculnya ganguan keamanan. Atau bahkan bisa untuk menutupi isu-isu krusial lain yang menyentuh para elit penguasa.

Adakah ini mainan kelompok tertentu?

Banyak kelompok kepentingan bermain di isu ISIS. Baik dari para “suporter” ISIS di Indonesia, institusi dan pejabat politik yang terkait dengan bidang politik keamanan, bahkan dibalik itu semua ada tangan-tangan yang mewakili kepentingan imperialisme global juga ikut nimbrung.

Point yang tidak kalah penting, kita bisa membaca bagaimana Amerika Serikat (AS) punya nafsu untuk membuat konflik Islam di Indonesia. Ini terkait upaya rebalancing power-nya AS di kawasan Asia Timur Jauh. Karena itu Amerika lebih condong dan mendukung salah satu calon presiden yang dianggap flamboyan tapi memiliki potensi konfliknya besar dengan adanya faksi internal pendukungnya dari kalangan nasionalis, Kristen, Sosialis-Komunis yang bisa menekan Islam.

Apa targetnya?

Targetnya umat Islam pecah, dan tidak bisa menjadi pelopor persatuan umat Islam se-dunia. Dan kekuatan politik umat Islam bisa tereduksi karena disibukkan dengan pertarungan antar kelompok mereka sendiri. Lebih dari itu, melalui isu ISIS juga ada upaya kriminalisasi terhadap kewajiban mulia umat Islam bernama jihad dan Khilafah Islam.

Dengan demikian, potensi ancaman dalam perspektif status quo bisa dalam kendali. Dan sangat mungkin, momentum kali ini akan digunakan untuk melarang ideologi apapun berbau Khilafah berkembang di Indonesia. Sebab saya melihat Badan Penanggulangan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus bergerak melakukan penggalangan untuk hal tersebut meski ada resistensi di masyarakat.

Seberapa besar potensi umat Islam Indonesia tertarik kepada ISIS?

Isu ISIS dengan Khilafahnya menurut saya segmented. Artinya, menjadi perhatian serius di kalangan pergerakan Islam lebih dominan, tapi tidak untuk kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia.

Masyarakat menjadi heboh karena media secara massif mengekspos, dan akhirnya mereka tersesat dalam belantara opini dan perdebatan tanpa tahu ujung akar dan pangkalnya.

Dari paparan Anda, munculnya ISIS bukan barang baru, Artinya pemerintah Indonesia (khususnya intelijen) pasti sudah lama tahu?

Kalau pemerintah tidak tahu berarti semua institusi intelijen yang dimiliki tidur. Mereka tahu, dan terus memonitor perkembangan politik di dunia Islam lebih-lebih paska Arab Spring menggeliat. Bahkan mereka mencoba menerka, adakah relevansi Khilafah ISIS dengan kondisi keamanan Indonesia paska Pilpres.

Tokoh-tokoh dibalik ISIS di Indonesia dikenal tokoh yang tak mengakar dalam gerakan Islam di Indonesia, benarkah?

Inilah yang saya heran, terlepas dari perdebatan benar tidaknya ISIS dengan paham yang dimilikinya, pemerintah khususnya BNPT yang membidani urusan terorisme sangat tahu sumber utama berkembangnya para suporter ISIS di Indonesia.

Tapi terkesan ada pembiaran dengan beragam alasan. Tapi sekarang BNPT paling getol melakukan penggalangan untuk mempersoalkan eksistensi suporter ISIS di Indonesia. Saya melihat ada muslihat yang dimainkan di balik isu ISIS oleh orang-orang opurtunis.

Bukankah sebelum ini kita juga pernah mengenal Abdul Haris, orang dekat Ustad Abubakar Ba’asyir yang akhirnya diketahui orang intel yang di “tanam” dan kini keberadaannya tidak jelas setelah ABB di tangkap?

Itulah. Dalam perjuangan Islam tidak cukup hanya bermodal semangat, di luar pemahaman akidah yang lurus, kedalaman memahami syariat juga butuh pemahaman terhadap siyasah agar tidak menjadi obyek mainan pihak-pihak yang ingin hancurkan perjuangan dan gerakan Islam.

Kejahilan dan sikap emosional dalam langkah perjuangan hanya akan menghasilkan kondisi yang kontra produktif bagi kepentingan umat Islam. Ini harus menjadi pelajaran bagi umat Islam.*

Umat Islam... Bersiaplah Songsong Era Baru!

Oleh: M Yusron Mufid 

Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan Dien (Jalan hidup) yang benar untuk dimenangkanNya atas segala Dien, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” (QS At Taubah 33)

Islam hadir berawal dari pinggiran kota Mekkah yang gersang, diturunkan kepada seorang penggembala yang tidak dapat membaca dan menulis. Di tengah suatu bangsa yang gemar menghabiskan energinya untuk berseteru antar sesamanya sendiri. Diapit oleh 2 kekuatan raksasa dunia yaitu peradaban Romawi Timur dan Persia. Namun dengan izinNya, petunjuk hidup yang dibawa penggembala tersebut akhirnya mampu menyatukan bangsa Arab yang tadinya terpecah belah, menaklukkan 2 kekuatan raksasa dan memimpin dunia.

Salah satu keistimewaan Islam adalah kemampuannya bertahan menghadapi situasi sesulit apapun, dihajar oleh makar musuh-musuhnya namun mampu bertahan dan tetap bersemi. Adalah Allah yang telah menjamin penjagaan Islam hingga menjelang akhir zaman. Jika kita mengacu hanya kepada nalar semata, maka jika bukanlah petunjuk dari Penguasa alam sudah tentu melihat perjalanannya Islam sudah luluh lantak dihajar bertubi-tubi. Namun Allah menunjukkan kuasaNya, Islam akan tetap ada dan bangkit sebagai cahaya yang menerangi perikehidupan manusia hingga menjelang akhir zaman.

Islam pernah berada dalam ambang kepunahan ketika perang Ahzab, pasukan sekutu berniat meluluh-lantakkan basis kaum muslimin di madinah ditambah kaum yahudi Bani Quraizhah yang mengkhianati perjanjian dan siap menikam dari belakang. Selama sebulan kaum muslimin terkepung oleh pasukan sekutu, digambarkan oleh AlQur’an saking gentingnya situasi hingga rasa sesak mencapai kerongkongan. Namun, berkat keteguhan iman generasi awal Islam, Allah memenuhi janjiNya dan memberikan pertolongan sehingga umat Islam terselamatkan dan justru semakin bersemi. Tak cukup sampai disitu, bahaya kembali datang, kali ini pasukan terkuat didunia yaitu Romawi dengan kaki tangannya dari kalangan kabilah Arab berhasil menghimpun pasukan super raksasa berjumlah 200.000 bersenjata lengkap akan memusnahkan kaum muslimin. Pasukan kaum muslimin hanya berkekuatan 3000 prajurit dengan peralatan seadanya. Bayangkan saja, 200.000 vs 3000. Namun, sekali lagi, Allah menunjukkan kuasaNya dengan menyelamatkan cahaya Islam dari kehancuran lewat kecemerlangan sosok Khalid bin Walid. Bahkan kelak, serangan balik kaum muslimin mampu meruntuhkan kekaisaran Romawi timur.

Setelah Rasululllah wafat, sebagai suatu sunatullah yang telah ditetapkan. Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya melakukan makar untuk memadamkan cahayaNya. Di abad pertengahan, kerajaan kristen eropa bersekutu untuk melancarkan perang Salib kepada kaum muslimin memenuhi panggilan Paus Urbanus II, tahun 1099 pasukan salib berhasil merebut Yerusalem dan melakukan pembantaian massal terhadap penduduknya. Yerusalem dikuasai selama 88 tahun oleh pasukan salib. Namun, Allah tak akan membiarkan cahaya Islam padam, muncullah sosok Shalahuddin Al Ayyubi sebagai ksatria Islam dan membebaskan Yerusalem dari cengkraman tentara salib. Dan Islam-pun kembali berjaya.

Umat Islam benar-benar nyaris menjadi kenangan sejarah ketika terjadi musibah yang amat memilukan. Pada tahun 1258, Tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan memporak-porandakan lentera peradaban dunia. Ibukota Kekhilafahan Abbasiyah yaitu Baghdad. Terjadinya salah satu pembantaian tersadis dimana rakyat Baghdad disembelih di jalanan-jalanan kota, bahkan dokumentasi sejarah menyatakan sungai Tigris berwarna hitam airnya akibat banyaknya buku, literature dan manuskrip pengetahuan yang dibakar dari perpustakaan al Hikmah. Tentara Mongol bukan hanya memusnahkan penduduk tetapi memusnahkan peradaban. Umat Islam benar-benar luluh lantak. Meskipun pada akhirnya tentara Mongol berhasil mundur, namun umat muslim sudah terlanjur hancur lebur akibat ekspansi brutal pasukan Mongol.

Namun sekali lagi, Allah akan terus menjaga cahayaNya lewat para manusia pilihan. Tahun 1453, muncul-lah sebaik-baik panglima muda bernama Muhammad Al Fatih yang melakukan penaklukkan spektakuler terhadap kota Konstantinopel (Sekarang Istambul-Turki). Umat Islam pun kembali bangkit dan berjaya. Namun setelah itu, umat Islam terus menerus mengalami kemunduran hingga puncaknya adalah runtuhnya pengawal ajaran Islam Kekhilafahan Utsmani pada tahun 1924. Saat itu umat Islam benar-benar seperti anak-anak ayam kehilangan induk. Musuh Islam mengepung dari segenap penjuru sebagaimana yg telah nabi sabdakan bahwa akan tiba suatu masa bangsa-bangsa kafir mengerumuni kaum muslimin sebagaimana orang-orang mengerumuni makanan. Dewasa ini adalah era keterpurukan kaum muslimin di segala bidang.

Musuh-musuh Islam tahu benar, umat muslim begitu tangguh ketika diserbu secara fisik. Mereka paham, bahwa untuk mengalahkan umat Islam maka perlu menghilangkan sumber energi umat Islam yg paling utama yaitu AlQur’an. Perlu diketahui, sesungguhnya hal yang paling ditakuti musuh Islam bukanlah karena kaum muslimin melaksanakan sholat, dzakat, puasa dll. Tetapi penerapan AlQur’an secara menyeluruh dalam setiap sendi perikehidupan sebagaimana yang dikatakan Snouck Hugronje. Bagi Islam, kekuasaan bukanlah milik siapapun kecuali Allah S.W.T. Manusia hanya sebagai makhluk yang dititipkan “Konsep Hidup” agar dilaksanakan di muka bumi. Oleh karena itu, dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari sumber energi utamanya, mereka merumuskan berbagai racun pemikiran kepada umat Islam. Demokrasi, nasionalisme, komunisme, darwinisme, liberalisme dan berbagai racun merusak lainnya sehingga banyak kaum muslimin termakan dan mengikuti jalan hidup mereka. Dan akhirnya, umat Islam berada dalam ketertindasan dibawah cengkraman kaki tangan kaum kafir.

Namun, Allah akan tetap menjaga cahayaNya. Sehebat apapun musuh-musuh Islam melakukan makar dan tipu daya, tidak akan ada yang bisa mengalahkan rencana Allah S.W.T. Rasulullah bersabda di akhir zaman nanti akan tiba masa tegaknya kembali kepemimpinan Islam yang mengikuti jalan kenabian (Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah) setelah sebelumnya umat Islam dirundung nestapa pada fase kekuasaan diktator kaki tangan penjajah. Akhir-akhir ini, tanda-tanda itu kian tampak terasa. Kepemimpinan Islam akan datang yang akan merontokkan sistem dajjal yg mencengkram dunia saat ini. Sabda Rasulullah tersebut seolah dibenarkan oleh National Intellegence Council (NIC) yaitu sebuah lembaga riset yg dibiayai Amerika Serikat untuk meneliti kemungkinan peta kekuatan politik dan ekonomi di masa mendatang. Menurut NIC, ada 4 kemungkinan yang terjadi di tahun 2020 yaitu:
  1. Davod World: India dan China akan menjadi pemegang tampuk kepemimpinan dunia.
  2. Pax Americana: Amerika akan tetap memimpin dunia dengan pedoman hidup demokrasi dan kapitalismenya
  3. The New Islamic Caliphate: Akan tegaknya sebuah kepemimpinan Islam mendunia yang meruntuhkan nilai-nilai dan dominasi barat
  4. Cycle of Fear: Dunia berada di dalam kekacauan dan ketakutan.
Jadi sebagai muslim, Kemenangan Islam di akhir zaman adalah suatu keniscayaan yang telah dijanjikan dan tak perlu diragukan, yg akan diminta laporan pertanggungjawaban adalah sejauh mana kontribusi kita sbg orang yang mengaku muslim utk memperjuangkannya, atau malah ikut menghambat dan memusuhinya? So, are you the real Muslim? Tak akan ada yang sia-sia dalam membela Islam, hanya ada dua kemungkinan, jika gugur ditengah jalan maka sejatinya kita akan tetap hidup di syurga dengan segala kenikmatannya atau kita berhasil memperoleh kemenangan dan mulia hidup di dunia dengan Islam.

Untuk itu saya berpesan untuk diri saya pribadi dan kaum muslimin lainnya, Berbanggalah wahai kaum muslimin dengan Islam yang ada di dada kita, jagalah aset mahal tersebut ditengah deru fitnah akhir zaman. Kenapa kita patut berbangga dengan jalan hidup Islam? Karena Islam tidak seperti pedoman hidup lain (Demokrasi, nasionalime, komunisme, darwinisme dll) yang berasal dari buah pikiran manusia yang terbatas dan penuh kekurangan. Melainkan petunjuk hidup yang digariskan sang Pencipta manusia yang Maha Tahu. Layaknya pabrik elektronik yang menerbitkan buku pedoman pemakaian bagi produknya karena sudah barang tentu sang produsen lebih tahu keadaan produk ciptaannya. Genggamlah kuat-kuat meskipun dengan itu kita harus menjadi generasi terasing, karena kata Rasulullah Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana keadaan awalnya, maka beruntunglah orang terasing itu. Kita lahir dengan fitrah sebagai Islam, hidup dengan Islam, dan menghadapNya tetap dalam keadaan Islam. Itulah satu-satunya jalan keselamatan. Semoga kita selamat sampai tujuan dan Allah berkenan memberi kita kekuatan. Jika orang-orang berpaling dan memilih jalan hidup lain, maka katakanlah kepada mereka. ‘Isyhaduu bi anna Muslimuun” (Saksikanlah bahwa saya seorang yang berserah diri sebagai muslim).

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali ‘Imran 139)

Wallahua’lam

Berbaiat dengan Imam Mahdi

Sebagai bagian dari ummat Islam yang ditaqdirkan Allah ta’aala hidup di babak keempat perjalanan sejarah ummat ini, maka kita harus bersiap siaga mengantisipasi kemunculan Imam Mahdi. Babak keempat merupakan babak mulkan jabriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Inilah babak di mana ummat Islam mengalami giliran kekalahan sedangkan kaum kuffar mendapat giliran memimpin dunia. Allah ta’aala izinkan mereka untuk membangun suatu peradaban penuh fitnah. Peradaban kafir ini akan mencapai puncaknya tatkala fitnah paling dahsyat sepanjang zaman telah hadir, yaitu fitnah Dajjal. Bahkan Godless Civilization ini bakal menobatkan Dajjal sebagai pemimpin dunia ketika ia muncul.

Jadi, bila ummat Islam merasakan begitu banyak kezaliman yang berlangsung di dunia dewasa ini bukanlah perkara yang aneh. Sebab memang keadaan ini telah di-nubuwwah-kan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam lima belas abad yang lalu. Inilah babak di mana kezaliman merajalela. Inilah babak di mana fitnah demi fitnah bermunculan hingga datangnya puncak fitnah, yaitu Dajjal. Sebab semua fitnah yang berlaku di dunia merupakan pengantar menuju puncak fitnah, yaitu Dajjal.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ
ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk fitnah Dajjal.” (HR Ahmad 22215)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ
مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam as hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih dahsyat dari fitnah Dajjal.” (HR Thabrani 1672)

Mengingat bahwa babak mulkan jabriyyan merupakan babak paling kelam dalam sejarah ummat Islam, maka niscaya keluarnya Dajjal akan terjadi pada babak ini. Para pendukung peradaban kafir sampai berani mensosialisasikan isyarat kemunculan calon pemimpin mereka di dalam lembar uang kertas mereka..! Coba perhatikan simbol The Great Seal yang ada dalam lembaran uang kertas satu dollar Amerika Serikat.

Di dalamnya terdapat gambar piramida yang tidak sempurna di mana pucuknya raib laksana nasi tumpeng yang terpotong bagian atasnya. Piramida tersebut merepresentasikan struktur dan sistem dunia dewasa ini. Dunia diarahkan menjadi bak satu struktur dengan sistem piramida. Namun sistem itu belum memiliki pimpinan. Di bawah piramida tertulis Novus Ordo Seclorum, bahasa Latin yang berarti ”New World Order”. Mereka bermaksud membangun sebuah kehidupan berupa satu “Tatanan Dunia Baru”. Inilah yang dikatakan oleh Ahmad Thompson sebagai Sistem Dajjal. Suatu peradaban yang nilai-nilainya secara diameteral bertentangan dengan nilai-nilai Kenabian. Suatu dunia di mana segenap lini kehidupan berjalan dan tunduk kepada nilai-nilai Dajjal.

Di atas piramida tertulis Annuit Coeptis yang berarti “Usaha/persembahan kita direstui si Mata Tunggal”. Mereka sangat yakin bahwa semua upaya mewujudkan Tatanan Dunia Baru mendatangkan keridhaan si Mata Tunggal. Pimpinan piramida digambarkan berupa sebuah ”mata tunggal” dalam segitiga yang diletakkan berjarak sedikit di atas pucuk piramida tersebut, seolah menyatakan bahwa pimpinan belum ada tapi sudah jelas bakal segera datang. Bagi ummat Islam isyarat mata tunggal tidak lain berarti Dajjal.

وَأَنَّ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ
كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ

Dan sesungguhnya Dajjal itu bermata satu; sebelah matanya tidak nampak. Di antara kedua matanya tertulis 'kafir' yang terbaca oleh setiap mu’min yang mengerti baca-tulis ataupun tidak.” (HR Ahmad 26298)

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa syarat untuk sanggup mendeteksi kebatilan Dajjal dan sistemnya bukanlah intelektual atau tidaknya seseorang, melainkan murni atau tidaknya iman di dada. Sistem penuh kezaliman ini akan diizinkan Allah ta’aala berlaku beberapa saat untuk selanjutnya dihancurkan dan digantikan dengan sistem yang Allah ta’aala ridhai di babak kelima, yaitu babak khilafatun ’ala minhaj An-Nubuwwah.

Allah ta’aala tidak akan membiarkan dunia kiamat sebelum kebatilan mengalami kekalahan dan kehancuran serta kebenaran Al-Islam tegak dan dirasakan keadilannya di seantero dunia. Inilah peranan yang akan dimainkan oleh Imam Mahdi beserta kaum muslimin yang berbaiat menjadi pasukannya.

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ
رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي
يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah ta’aala akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud 9435)

Bila Al-Mahdi telah muncul setiap muslim diwajibkan untuk segera ber-baiat kepadanya. Bagaimanapun situasinya, setiap muslim mesti berusaha untuk memastikan dirinya bergabung ke dalam pasukan yang dipimpin oleh Imam Mahdi. Di bawah komando beliaulah ummat Islam akan diajak bersama meninggalkan babak keempat penuh kezaliman ini menuju tegaknya babak kelima penuh keadilan kelak. InsyaAllah.

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

Ketika kalian melihatnya maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah 4074)

Mengapa Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaihi wa sallam mengatakan “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju”? Sebab pada masa itu keadaannya sangat sulit. Bila kondisi dunia masih seperti dewasa ini boleh jadi berbagai media-massa justru menjuluki Imam Mahdi sebagai pimpinan teroris sebagaimana media kuffar 5-10 tahun lalu menjustifikasi Usamah bin Laden sebagai the number one terrorist in the world.

Siapapun yang berfikir untuk ber-baiat dengan Imam Mahdi pastilah berada dalam ancaman dituduh sebagai teroris pula. Hanya muslim-mu’min yang selalu mengharapkan ridho Allah ta’aala semata akan bersegera bergabung dengan Imam Mahdi. Sedangkan muslim yang selama ini sibuk mendahulukan ridho manusia daripada ridho Allah ta’aala dapat dipastikan tidak akan bersegera ber-baiat dengannya. Bahkan sangat mungkin mereka malah akan berfihak kepada barisan yang memerangi Al-Mahdi dan kaum muslimin yang dipimpinnya. Wa na’udzu billahi min dzaalika.-

Gabung ISIS/ISIL Lawan Al-Nusra, Rapper Asal California Tewas di Suriah

Hidayatullah.com–Seorang warga Amerika Serikat yang diduga bergabung dengan ISIS/ISIL telah tewas di Suriah, kata seorang pejabat AS.

Hari Selasa malam (26/8/2014), Gedung Putih mengkonfirmasi kematian Douglas McArthur McCain, 33, seorang pria yang bercita-cita menjadi rapper dan penggemar bola basket dari California.

McCain, yang keluar dari agama Kristen untuk memeluk agam Islam sepuluh tahun silam, tewas saat bertempur melawan Front Al-Nusra, lapor media-media di Amerika dikutip Aljazeera.

Kabar kematian McCain dikonfirmasi oleh Dewan Keamanan Nasional AS lewat pernyataan jurubicaranya Caitlin Hayden.

Seorang pejabat keamanan AS yang minta agar tidak disebutkan namanya kepada Reuters mengatakan bahwa FBI menyelidiki kematian McCain dan seorang jurubicara Departemen Luar Negeri mengatakan sejumlah staf melakukan kontak dengan keluarga McCain guna memberikan “semua bantuan konsuler” yang diperlukan.

Departemen Luar Negeri AS memperkirakan ada sekitar 12.000 orang asing sedikitnya dari 50 negara yang ikut bertempur di Suriah.

Jaksa Agung AS Eric Holder pernah mengatakan bahwa kejaksaan federal melakukan investigasi hampir 100 kasus atas warga Amerika yang bepergian ke Suriah atau Iraq untuk ikut perang.

Pada bulan Mei lalu seorang pria berusia 22 tahun asal Florida melakukan serangan bunuh diri di Provinsi Idlib, Suriah. Selain itu, seorang wanita asal Denver ditahan pada bulan Juli saat berusaha terbang ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok perlawanan di sana.*

26.8.14

Membongkar Kepalsuan 'Injil' (Kristen) yang Penuh Rekayasa

Sahabat Voa-Islam yang Mencintai dan Dicintai Allah SWT...

Nabi Isa adalah Rasululloh yang diutus untuk umat Nasrani, dimana beliau adalah pembawa risalah tauhid, agar umat saat itu terlepas dari belenggu kemusyrikan dan tirani murka thogut laknatullah.

Akan tetapi, risalah Isa 'alaihi salam yang diterimanya wahyu dari Allah berupa kitab Injil, telah dirubah dan didustakan oleh umatnya, sehingga kesalahan syariat dan kebobrokan tauhid pun tak terhindarkan. Rahib dan pendeta bersekongkol untuk memuaskan hawa nafsunya sendiri. Umat ditindas, dengan diiming-imingi surga dengan tebusan yang tak jelas.

Sehinggga manakala Allah menunjuk Nabi besar Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir.Allah menurunkan Al Quran dan membongkar prilaku jahat kaum Rahib dan Pendeta Nasrani yang terus merubah-rubah ajaran Isa 'alaihi salam, sehingga banyak dari kalangan mereka enggan dan menolak risalah yang dibawa Muhammad SAW.

Kebenaran Sebuah Agama Terletak pada Kemurnian Kitabnya

Bila ada sebuah agama mengklaim bahwa agamanya itu adalah agama yang benar dan murni datang dari wahyu Allah, maka kebenaran agama itu tergantung dari kebenaran atau kesucian kitabnya. Apakah kitab tersebut betul-betul dari wahyu Allah atau rekayasa manusia? Atau bisa jadi awalnya benar wahyu dari Allah, akan tetapi dirubah oleh tangan jahat para Rahib dan Pendeta, sesuai keinginan dan nafsu mereka.

Kriteria pertama sebagai tolok ukur kebenaran dan kesucian sebuah kitab, adalah kitab tersebut tidak tercampuri oleh hasil pikiran manusia dan filsafah manusia serta bebas dari kesalahan. Sebab kitab suci yang benar dari wahyu Allah tak mungkin salah, karena Allah adalah sumber kebenaran, dan wahyu Allah tidak mungkin mengalami perubahan, penambahan serta pengurangankarena wahyu Allah itu sifat kebenaranya mutlak dan abadi.

Sehingga apabila ada sebuah agama mengklaim bahwa kitab mereka murni suci dari wahyu Allah, akan tetapi mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan serta rekayasa filsafah manusia, maka dipastikan bahwa itu bukan kitab sucia, kan tetapi sampah yang di persucikan. Sungguh nistalah mereka, karena telah membohongi umat dan mendustakan wahyu Allah.

Kitab Injil Kafir Kristen Penuh Kepalsuan

Setiap orang Kristen pasti tidak akan menyangkal bahwa kitab suci mereka terdapat banyak kesalahan dan kepalsuan, serta pertentangan antara pasal serta ayat dari satu dengan lainya.dan mereka faham betul bahwa kitab Injil mereka penuh manipulasi data. Selain itu, mereka selamanya tidak mampu menunjukan kitab aslinya bahwa kitab itu betul dari Nabi Isa As.

Dan sudah terbukti dengan sangat jelas sekali bahwa Injil yang ada sekarang bukanlah Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa As.melainkan Injil buatan manusia yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan Yesus.

Maka banyak para pakar kristologi maupun lainnya yang jujur dan adil telah meneliti dengan benar, terungkap sudah bahwa Injil yang ada adalah rekayasa Paulus dari Tarsus yang pura-pura mendapatkan mandat dari Yesus untuk menyebarkan agama Kristen, sehingga menimbulkan pertanyaan: "Agama Kritsten sekarang ini apakah agama Yesus ataukah agama Paulus?"

Sebab Saulus sendiri telah menyatakan terus terang bahwa agama Kristen adalah buatannya dan bukan agama Yesus sebagaimana tertulis dalam suratnya.

"Aku yang menanamApolos, yang menyiram, tetapi Tuhan yang membeir pertumbuhan.." (I Korintus 3:6)

"Ingatlah ini, Yesus Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitahukan dalam Injilku" (II Timotius 2:8).

Sebagaimana yang sudah diketahui, bahasa yang di pakai oleh Yesus sehari-hari adalah bahasa Aram. Lalu mengapa Injil bahasa Aram tidak ada (atau dimusnhakan), kemudian berubah menjadi Injil bahasa Yunani. Mengapa Injil Matius, Lukas, dan Markus terdapat banyak kesamaan, sehingga disebut "Injil synopsis" sehingga Injil Yahya (Yohanes) sangat berbeda?

Catatan Proses Terbentuknya Kitab Perjanjian Baru

Kitab Injil kaum kafir Kristen memang aneh bin lucu, dimana proses dalam pencatatn kitab mereka pun penuh dengan kesimpang siuran dan sangatlah jauh dari keontentikan.
  • Tahun ke 30 adalah peristiwa penyaliban
  • Tahun ke 50 adalah surat pertama Paulus
  • Tahun ke 62 adalah surat terakhir Paulus
  • Tahun ke 65-70 Injil Markus
  • Tahun ke 70-? surat Paulus kepada jemaat Ibrani
  • Tahun ke 80 Injil Lukas
  • Tahun ke 85-89 Injil Matius
  • Tahun ke 90 Kisah Rasul
  • Tahun ke 90-100 Injil Yahya
  • Tahun 95-100 Kitab wahyu
  • Tahun 100-? Timotius 1 dan 2 dan Titus
Karena proses terbentuknya Kitab suci perjanjian Baru seperti di atas, maka Al Kitab tidak bisa dijamin keabsahan dan tidak bisa dipertanggung jawabkan

50.000 Kesalahan dalam Injil Kafir Kristen

Sungguh aneh bin ajaib, bagaimana mungkin kitab yang selalu dielu-elukan untuk bisa membawa manusia menuju surga ternyata terdapat kesalahan yang amat banyak.

Saksi Yehovah dalam majalah mereka AWAKE! Tanggal 8 September, muncul judul 50.000 kesalahan dalam Bibel. Dituliskan saat itu "terdapat kira-kira kesalahan dalam Bibel, kesalahan yang telah di sisipkan ke dalam Bibel 50.000 kesalahan yang begitu serius, sebagian besar dari apa yang disebut kesalahan".

Injil Kafir Kristen adalah Buku yang Paling Berbahaya

George Bernard Shaw pernah mengatakan "Bibel merupakan buku yang paling berbahaya di muka bumi, simpan buku itu dalam laci Anda lalu kuncilah! jauhkanlah Bibel dari jangkauan anak-anak kecil."

Otentikah Injil Kafir Kristen? Atau Penuh dengan Rekayasa?

Dari paparan di atas sangatlah jelas,bahwa Injil kaum kafir Kristen sangatlah busuk dan penuh dengan kebohongan, maka sangat tidak layak di dudukkan menjadi kitab suci karena pengklaiman mereka batal dengan data sejarah, dan secara pengakuan para pakar mereka sendiri.

Setiap isi Injil kafir Kristen dari edisi apa saja, hampir semuanya buatan manusia dan tidak bisa dianggap sebagai wahyu. Mengapa begitu? Berikut alasananya:
  1. Karena penukilan kitab suci perjanjian lama (terutama kitab taurat) di lakukan 1000 tahun kemudian setelah kematian Nabi Musa As, sedangkan penulisan kitab Injil selisih satu abad dengan Nabi Isa As. (Yesus).
  2. Al Kitab telah direvisi berulang kali sesuai dengan perkembangan zaman. Terjamahan Al Kitab kedalam bahasa Inggris dilakukan oleh Tyndale tahun 1525, terjemahan kedua di tulis oleh Coverdale tahun 1535, terjemahan ketiga yang terkenal dengan sebutan Great Bimble Translation dilakukan tahun 1539, dan terjemahan keempat ditulis pada tahun 1540. Terjemahan kelima terkenal dengan sebutan "the gneva bible" yang dilakukan pada 1560. Terjemahan keenam terkenal dengan nama "bimshop bile" di tulis oleh Uskup parker.
  3. Ketika RajaJames Inggrisnaik tahta tahun 1603, dia meragukan kemurnian Al Kitab Uskupkarena ayata-yatnya penuh dengan kesalahan geografis, penyelewengan sejarah dan kesalahan-kesalahan fakta.Raja James menunjuk 4 sarjana untuk memperbaiki kesalahan yang terdapat pada Al Kitab Uskup. Mereka menerjemahkan Al Kitab dan menerbitkannya tahun 1611. Terjemahan itu dikenal dengan sebutan "Authorise Version of the holy bibble"
  4. Ternyata Authorised Version Of the holly Bible itu mengandung sekitar 20.000 kesalahan, namun Al Kitab suci yang otentik selama 259 tahun. Tahun 1870, sebuah komisi ditunjukan untuk memperbaiki kesalahan tadi. Tahun 1884 perbaikan tersebut selesaidan terkenal dengan nama ?revised version?.
  5. Tahun 1901 orang-orang Amerika telah menerbitkan Al Kitab menurut versi mereka sendiri. Tahun 1931 telah ditemukan naskah Al Kitab berbahasa Yunani kuno,namun isinya banyak kesalahan, maka Al Kitab ditulis ulang oleh sebuah panitia yang terdiri dari 32 sarjana. Mereka diperkenankan merubah isi Al Kitab jika disetejui oleh 2/3 dari seluruh anggota panitia. Hasil pekerjaan meeka telah diterima dan mendapat penghargaan dari nation council aof churches of chrit (Dewan Gereja Kristen Nasional) dan diterbitkan tahun 1952, serta dianggap sebagai terjemahan standar yang telah diperbaiki.
  6. Kristen Katolik dan Protestan masing-masing memiliki kitab yang berbeda.Kristen mempunyai Bibel yang terdiri dari 72 kitab. Sedangkan Kristen Protestan hanya 66 kitab. Kitab perjanjian lama edisi sekarang hanya ada 29 kitab padahal asalnya ada 56 kitab, 17 sisanya dihapus dan dihilangkan begitu saja.
  7. Kitab ulangan pasal 24 menceritakan kematian penulis kitab Taurat, kuburanya,pemakamannya serta umurnya 120 tahun. Kitab itu juga menceritakan orang-orang Yahudi berkabung karena kematian Nabi Musa As. Jelaslah ayat yang menceritakan peristiwa setelah kematian Nabi Musa As. bukanlah wahyu yang diturunkan pada Nabi Musa As. Dengan demikian jelas bahwa itu buatan manusia dan bukan wahyu Allah.
Sejarah telah mencatat, para pendeta Kristen maupun katolik banyak yang hijrah ke Islam serta mereka menemukan kitab suci abadi yang benar-benar wahyu Allah, dan tidak akan pernah terkotori tangan-tangan manusia yang jahat.

Kebobrokan serta palsunya kitab Injil kafir Kristen menunjukan rusaknya ajaran mereka, serta asas kebohongan yang dibangun atas nama Tuhan. Sungguh kaum kafir Kristen adalah kaum yang bodoh dan terlaknat karena mengubah serta berbohong atas nama Tuhan.

Maka tempat yang paling tepat bagi kaum kafir seperti mereka adalah neraka jahanam, karena mereka tidak lebih manusia yang mempertuhankan keinginan serta hawa nafsu, karena setan dan iblis telah bercokol di dalam ajaran yang mereka sebarkan.

[bbs/syahid/Protonema/voa-islam.com] - See more at: http://www.voa-islam.com/read/christology/2014/08/23/32395/membongkar-kepalsuan-injil-kristen-yang-penuh-rekayasa/#sthash.zkkZttfY.2YWMY5va.dpuf

Kementerian Pertahanan Inggris: Setengah Muslim Inggris yang Bergabung dengan ISIS Berasal dari Kalangan Militer

Kementerian Pertahanan Inggris mengungkapkan bahwa sebagian besar Muslim Inggris yang ikut bergabung dengan Organisasi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) berasal dari Angkatan Darat Inggris.

Dalam keterangan Kementerian Pertahanan Inggris kepada surat kabar USA Today menyatakan “dari sekitar 200 ribu tentara Inggris, ada sekitar 600 orang Muslim Inggris yang ikut bergabung didalamnya. Data statistik pemerintahan menunjukan bahwa jumlah Muslim Inggris yang ikut bergabung dengan ISIS mencapai lebih dari 800 orang.” Sementara itu Kantor Luar Negeri Inggris menyatakan sulit untuk secara akurat memperkirakan berapa jumlah mereka sebenarnya.

Perlu diketahui bahwa penjelasan ini muncul di tengah pengakuan Menteri Luar Negeri Inggris, Philip Hammond, yang menyatakan bahwa militan ISIS yang muncul dalam rekaman video eksekusi wartawan asal Amerika, James Foley, dengan aksen nada Inggris bisa jadi adalah warga negara Britania.

Sementara itu seorang Muslim anggota parlemen Inggris, Khaled Mahmud, menyataka dalam majalah Newsweek Amerika pekan ini “mungkin ada 1.500 ekstrimis Inggris telah direkrut untuk berperang di Irak dan Suriah selama tiga tahun terakhir.“ (Dostor/Ram)

20.8.14

Anggota Knesset Keturunan Arab Tantang Prajurit Israel Face to Face dengan Pejuang Palestina

Aksi berani dilakukan anggota Knesset Israel asal Palestina dengan menantang pejabat pemerintah dalam sebuah acara live talkshow di salah satu saluran televisi Israel.

Dalam acara tersebut, anggota Knesset Israel asal Palestina, Ahmad Tiybi, menantang seorang pejabat tinggi pemerintahan Benjamin Netanyahu, ”kalian semua membunuh anak-anak dan warga sipil di Jalur Gaza, kalau anda memang lelaki maka hadapilah faksi perlawanan Palestina face to face.”

Ungkapan itu dilontarkan Ahmad Tiybi untuk membalas perkataan pejabat tersebut yang menyebut “sebagian besar korban tewas agresi di Jalur Gaza adalah teroris.

Tidak terima dengan ungkapan tersebut, Ahmad Tiybi langsung menantangnya perang face to face dengan pejuang Palestina. (Rassd/Ram)

Berikut video tersebut:
http://www.youtube.com/watch?v=7Xs83Q3RP4M

"Ayo siapa berani... Siapa lagi... Ayo..!"