12.5.12

Sejak Perang Dunia hingga Tatanan Dunia Baru

Barat menganggap dirinya super, yang lain hanya pelengkap!
KETIKA berlangsung seminar Masalah-masalah Global dalam Perspektif Perkembangan Islam yang diselenggarakan ICMI-Orsat Berlin, belasan tahun yang lalu, terdapat seorang pembicaranya yang bernama: Hamadi El- Aouni, dosen ilmu politik dan ekonomi di Universitas Berlin: Freie Universiteit dan Fachhochschule fur Wirtschaft.

Di antaranya ia membicarakan manipulasi makna yang sering dilakukan barat hanya untuk memperkokoh dirinya sebagai penguasa dunia. Karena ia merasa sebagai supremasi global, segala bentuk kelebihan Timur, seperti dikecilkan sampai dihilangkan.

Sayangnya, kata ilmuwan asal Tunisia itu, Timur sering terjebak oleh produk manipulasi itu, sehingga menjadi korban apresiasinya. Sekaligus menciptakan sikap mider dalam menghadapi masa depan.

Ia mengharapkan kita untuk waspada dalam menggunakan istilah Barat. Soalnya sebuah istilah bisa berarti sangat luas: politis, ideologis, etis, dan moralis. Istilah ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi direkayasa oleh sejumlah badan tertentu yang memang untuk menciptakan istilah.

Perang Dingin, 1945-1989, sering dipandang Timur sebagai masa damai. Ini keliru. Karena selama itu sudah ratusan kali perang telah terjadi di selatan. Karenanya, ia menganggap istilah itu hanya berlaku untuk utara.

Tetapi Hamadi heran, mengapa banyak tokoh negara di selatan yang mengakuinya. Malah para ilmuwan di selatan pun bersikap serupa, meskipun mereka mengetahui, korban perang 1945-1989 melebihi korban Perang Dunia.

Tentang Perang Dunia pun dikritik Hamadi. Apakah benar seluruh dunia ketika itu terlibat perang? Tidak! Hanya terjadi antar negara kolonial di Eropa, plus Amerika Serikat dan Rusia. Sedangkan Asia, Amerika Latin, dan Afrika umumnya terseret karena setiap negara kolonial menyebarkan perang di teritorial negara yang dikuasainya.

Karenanya, istilah yang sudah melegenda secara global itu bisa berarti implisit: Eropa dan Amerika Serikat menobatkan dirinya, “Kami ialah dunia!”  Di luar itu hanya pelengkap.

Hamadi pun heran, mengapa harus Utara-Selatan, bukan sebaliknya. Ia mencurigai, apakah itu merupakan indikasi adanya persepsi bahwa utara menguasai dunia dibandingkan selatan? Atau masing-masing sebagai pihak aktif dan pasif dalam mengelola sumber daya alam.

Misalkan pada sektor teknologi. Di utara melaju dengan pesat. Untuk merangsang kreativitas, disediakan anggaran milyaran US dollar. Sementara di selatan, imitatif dengan mengimpor tehnokrat bersama laboratorium. Selain itu untuk sektor ekonomi. Di utara integrasi semakin nyata dalam konsep ekonomi, sementara di selatan kondisi seperti itu belum dijalankan secara optimal.

Masyarakat industri berkaitan dengan peradaban. Ia merupakan homogenitas perilaku manusia dalam masyarakat untuk bidang proses nilai tambah dalam mengelola bahan baku. Tetapi negeri berkembang bisa menyangkut wilayah mana saja tanpa kecuali, karena prosesnya pasti demikian, termasuk Eropa dan Amerika Serikat.

Padahal setiap komunitas cenderung untuk membentuk masyarakat industri. Tetapi mengapa penerapannya tidak untuk setiap komunitas? Taruhlah untuk memudahkan komunikasi, tetapi mengapa tidak sebaliknya?  Di sini terdapat pengkultusan terselubung atas kelebihan Barat dibandingkan Timur.
Masalah ini pun termasuk pembahasan Hamadi dalam seminar tersebut.

Dulu banyak yang mengartikan Dunia Ketiga dari aspek power fisik. Dua kelas di atasnya dipegang oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat. Namun menurut Hamadi, dunia kelas tiga. Dua kelas diatasnya masing-masing mencakup negara yang tergabung dalam NATO dan Pakta Warsawa.

Tampak sekali, bagaimana Barat merendahkan Timur, dalam mencirikan dunia ketiga. Hanya Barat belum berani mengatakan dengan intepretasi yang gamblang itu.

Untuk Tatanan Dunia Baru, Hamadi mengintepretasikannya sebagai bentuk metode Barat untuk menundukkan, mengontrol, dan mengatur Dunia Ketiga, agar ketergantungan bisa tetap dijaga.

Dengan demikian, dari aspek politis, misalnya, hanya Barat yang berhak mengatur segala masalah yang terjadi di dunia, baik maupun jahat. Sayangnya sering tidak universal. Pemakaiannya ditentukan oleh situasi, waktu, dan kondisi, agar tidak menjadi bumerang terhadap kepentingannya.

Demikianlah hebatnya manipulasi makna buatan Barat untuk menutupi persepsi yang kira-kira menyudutkannya. Sebagai professor linguistik di MIT, Cambridge, Massachusetts, Noam Chomsky menyadari, media massa mempunyai kemampuan untuk membentuk opini, sekaligus mengarahkan publik dunia, hanya melalui manipulasi makna.*/Nasrullah Idris. Penulis tinggal di Bandung

Calistung Terlalu Dini Justru Datangkan Kejelekan



Hidayatullah.com -- Pemaksaan untuk mempelajari baca tulis dan hitung (calistung) di usia dini, memiliki dampak yang negatif terhadap anak di usia dini.

"Dampak negatif pemaksaan calistung pada anak, terutama untuk asosiasi di otak anak yang mengatakan bahwa belajar itu tidak enak, karena paksaan," kata Kasubdit Program dan Evaluasi Pembinaan PAUD Direktorat Jenderal PAUDNI Kemdikbud, Sukiman.

Dalam diskusi media bertema pentingnya pendidikan anak pada usia dini, yang diselenggarakan oleh Childfund dan Fonterra Brands di Jakarta, Kamis, Sukiman mengatakan bahwa anak sebaiknya tidak dipaksa dan diperintah untuk belajar.

Dia menyarankan anak dimotivasi supaya menjadi kreatif tanpa harus dipaksa belajar.

"PAUD sebagai sarana untuk mempersiapkan pendidikan dan cara belajar juga bersosialisasi untuk anak. Jadi gunakan kerangka permainan," katanya dikutip Antara, Kamia (04/05/2012).

Kebanyakan orang tua memaksakan calistung pada anak mereka, terutama yang masih mengenyam Pendidikan Usia Dini (PAUD), karena takut akan prasyarat untuk masuk sekolah dasar.

Sukiman juga memaparkan bahwa PP no.17 tahun 2010, menuliskan bahwa penerimaan murid untuk memasuki sekolah dasar tidak berdasarkan calistung.

"Bila ada sekolah yang masih menerapkan calistung untuk tes masuk, berarti sekolah itu harus ditindak karena sudah melanggar undang-undang," ujar Sukiman.*

Indonesia Tanpa Sepilis: Membongkar Makar Ideologi AS dan Kaki Tangannya (5)

Intelijen AS diduga kuat menyusup dalam LSM-LSM internasional yang beroperasi di Indonesia dan menjadi funding kelompok pengasong virus Sepilis. Inilah ideologi trans-nasional sesungguhnya yang mesti diwaspadai oleh bangsa ini!

Oleh: Artawijaya, Editor Pustaka Al-Kautsar

Imprealisme asing terhadap negeri ini menggunakan beragam cara dan bermacam kedok. Diantara kedok yang mereka pakai adalah beroperasinya lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mengusung tema-tema Hak Asasi Manusia, kesetaraan gender, civil society, toleransi agama, anti kekerasan, dan lain sebagainya. Semua itu adalah kedok dari operasi mereka sesungguhnya untuk membangun hegemoni ideologi dan kekuasaan serta penyebaran paham-paham sesat seperti Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme.

Diantara lembaga asing yang beroperas i di Indonesia, dan menjadi partner kelompok liberal adalah The Asia Foundation (TAF) yang berkantor pusat di San Fransisco, Amerika Serikat. Sedangkan kantor perwakilan TAF di Indonesia ini terletak di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. TAF bisa disebut sebagai “funding” dan “mentor” para aktivis dan LSM liberal di Indonesia. TAF jugalah yang terlibat membantu penyusunan Counter Legal Draft- Kompilasi Hukum Islam pada tahun 2004, yang diketuai oleh Siti Musdah Mulia. Mereka membentuk sebuah tim yang disebut sebagai Tim Pengarusutamaan Gender, yang kemudian menyusun sebuah rancangan kompilasi hukum Islam yang sempat menghebohkan kaum muslimin pada waktu itu. Diantara isi rancangan itu adalah, nikah dianggap bukan sebagai ibadah, namun sekadar hubungan muamalah (kontrak sosial) antara manusia. Poligami dilarang dan suami-istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Dalam hal waris, rancangan tersebut menyatakan antara laki-laki dan perempuan mendapat hak waris yang sama. Anak yang murtad dari Islam, menurut rancangan tersebut juga mendapat waris dari orangtuanya yang Muslim.

Sedikit gambaran mengenai Siti Musdah Mulia, mantan Ketua Tim Pengarusutamaan Gender Depag yang juga menjabat sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam berbagai kesempatan, Musdah yang mengaku berasal dari lingkungan pesantren seringkali mengampanyekan bolehnya nikah beda agama. Musdah juga yang member kata pengantar dari sebuah buku yang mengampanyekan nikah beda agama. Dari hasil penelitian buku ini, tercatat sejak 2004 sampai 2012, ada 1.109 pasangan yang menikah dengan latarbelakang keyakinan yang berbeda. Pasangan terbanyak adalah pernikahan antara yang menganut Islam dan Kristen, kemudian pasangan Islam dan Katolik. Inilah hasil kerja keras dari kelompok liberal! (Lihat disini)

Karena kerja kerasnya dalam mengampanyekan kesetaraan gender dan pluralism agama, Siti Musdah Mulia mendapat penghargaan the International Women Courage Award pada 7 Maret 2007. Award ini diserahkan langsung oleh Menteri Luar Negeri AS ketika itu, Condoleeza Rice dalam sebuah upacara seremonial di Departeman Luar Negeri AS.

Dengan kata lain, Award ini murni berasal dari pemerintah AS atas inisiatif kementerian luar negerinya. Award ini juga sekaligus menguatkan dugaan adanya keterlibatan AS dalam proyek liberalisasi di negeri-negeri Muslim, termasuk di Indonesia. Musdah yang pernah mengatakan bahwa Islam mengakui kaum lesbian dan homoseksual, menolak poligami dan mengatakan nikah bukan urusan ibadah mendapat ganjaran sebagai “Wanita Pemberani” dari pemerintah AS.

Kembali ke soal The Asia Foundation. Roland G Simbulan dalam sebuah acara di Filipina pada 18 Agustus 2000, memaparkan makalah berjudul CIA’S Hidden History in the Philippines, yang menjelaskan soal adanya keterlibatan lembaga telik sandi AS, Central Inteligencen Agency (CIA), dalam mengendalikan LSM-LSM besar. Mereka menjadikan LSM-LSM tersebut sebagai kedok untuk menjalankan operasinya di setiap negara. Menurut Roland, di Manila, Filipina, CIA memainkan peranan penting dalam mengendalikan lembaga The Asia Foundation.

Roland G Simbulan sempat mewawancarai agen CIA yang beroperasi di Filipina pada tahun 1996, yang menyatakan bahwa selama agen tersebut menjalankan misi intelijennya mereka menggunakan TAF sebagai kedok penyamaran. Sebelumnya, dalam TAF Annual Report 1985 (Laporan Tahunan TAF 1985), salah seorang Deputy CIA bernama Victor Marchetti mengatakan bahwa TAF didirikan oleh CIA dan sampai tahun 1967 mendapat bantuan subsidi dana dari badan intelijen AS ini. TAF juga mendapat bantuan dari American Jewish World Service (AJWS) yang merupakan partnership mereka dalam menjalankan berbagai program di seluruh dunia. Meskipun TAF selalu membantah soal ini.

Di Indonesia, selain memberikan dana bagi Jaringan Islam Liberal (JIL), TAF juga pernah bekerjasama dalam penerbitan sebuah majalah bernama “Syir’ah” yang mengusung pluralisme agama. Majalah ini tak mampu meraih minat pembeli dan pembaca karena isinya yang cenderung konfrontatif dengan keyakinan mainstream umat Islam. Bahkan, meski sebagian awak redaksinya berasal dari anak-anak muda NU, majalah ini juga tak mampu menjaring pembaca dari kalangan nahdhiyyin. Saat itu, Syir’ah seolah ingin menjadi majalah yang mampu mengimbangi keberadaan Majalah Islam Sabili yang mampu meraih oplah besar dan menjangkau khalayak di seluruh Nusantara.

elain The Asia Foundation, LSM internasional lainnya yang menjadi “funding” bagi kelompok pengasong paham Sepilis lainnya adalah Ford Foundation. LSM ini berkantor pusat di New York, Amerika Serikat, dan mempunyai cabang di Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Ford Foundation pernah terlibat dalam mendanai penerbitan buku berjudul “Fiqih Perempuan: Refleksi Kiayi atas Wacana Agama dan Gender” yang isinya sangat bertolak belakang dengan syariat Islam. LSM ini juga bekerjasama dengan LBH APIK, sebuah lembaga yang memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia.

Hari-hari ke depan, umat Islam akan dihadapkan pada persoalan RUU Kesetaraan Gender yang digodok di DPR dan diback-up oleh kelompok-kelompok pengusung virus Sepilis.Bukan tak mungkin, RUU ini adalah pesanan asing dengan tujuan merusak keyakinan umat Islam dan memecah belah bangsa ini. Karena itu, setelah mewaspadai keberadaan LSM-LSM yang membawa misi merusak keyakinan Islam, umat harus waspada terhadap upaya-upaya intervensi asing kepada lembaga-lembaga negara, seperti DPR, Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Agung. Lembaga-lembaga negara inilah yang terus berupaya mereka tekan, desak, dan kuasai. Jika lembaga-lembaga tersebut berhasil mereka tekan dan kuasai, kemudian lahirlah produk hukum dan perundang-undangan yang liberal, maka negeri ini tinggal menunggu azab Ilahi. Wallahu a’lam. (Bersambung)

Satu Tahun Usamah Dan Impian Apokaliptik Amerika

Oleh: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi

“Kami membunuh Osama, bukan untuk memerangi Islam. Tapi kami memerangi Osama demi perdamaian dunia Islam,”

Kata-kata itu betul-betul menyentak saya ketika diucapkan Obama pasca syahidnya Usamah Bin Ladin, satu tahun silam. Orang Islam mana yang mau dibohongi Obama atas dalih perdamaian ketika memerangi Al Qaidah demi mewujudkan sebuah tata kemanusiaan. Tata kemanusiaan versi siapa? Versi Amerika!

Kita tidak bisa memisahkan antara ucapan Obama dengan semangat teokrasi Dajjalis ala bangsa sombong itu. Karena teologi dan kepentingan adalah dua sisi mata uang yang selalu dikorbankan Amerika lewat semangat Barbarismenya. Tentu kita masih ingat statement George Bush persis tiga bulan pasca tragedi 9/11 dengan menyatakan bahwa perang melawan Usamah adalah bentuk perang salib jilid II. Dan syahidnya Usaman hanyalah “martir”, batu loncatan, dan jembatan untuk menunggu nubuah Yeremia: Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Zion! Allahua'lam.

Zionisme Kristen dan Apokaliptisisme Amerika

Kevin Philips, dalam American Theocracy: The Peril and Politics of Radical Religion, Oil, and Borrowed Money in the 21st Century, menilai ada pengaruh fundamentalis Kristen radikal dalam pemerintahan Bush. Motif serbuan AS terhadap Negara-negara Timur Tengah tidak hanya dipicu oleh keinginan menguasai minyak dunia, namun juga tendensi teologis berupa “impian apokaliptik” yang melekat dalam dogma Kristen fundamentalis.

Apokaliptik sendiri adalah penyingkapan terhadap teks wahyu mengenai tanda-tanda akhir zaman berupa kejadian-kejadian dahsyat dan kerusakan besar yang disebabkan oleh ulah Sang Perusak bernama Antichrist (orang Islam menyebutnya Dajjal). Untuk menyelamatkan umatnya yang beriman, Isa Almasih as akan turun dan memulihkan kembali kerajaan Tuhan di muka bumi dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.

Obama adalah seorang Kristen Zionis yang begitu taat sekaligus cerdas. Semangat misi zionis dalam jiwanya banyak tertuang dalam caranya membangkitkan militansi heroik dalam tubuh pasukannya. Pada tahun 2009, Obama pernah mengatakan kepada para Veteran Perang di negaranya bahwa Amerika Serikat terpaksa bertempur di Afghanistan semata-semata jalan untuk mengantisipasi terulangnya serangan seperti 11 September di masa yang akan datang. Di masa ketika akhir zaman betul-betul akan meletuskan benturan besar antara kaum salibi dengan pasukan tauhidi.

Arie De Kuper, dalam bukunya, “Mulai Dari Musa Dan Segala Nabi”, menilai Apokaliptisisme Fundamentalis Kristen dengan mentalitas pengusungan Negara Modern Israel adalah model Zionisme Kristen. Dan menariknya menurut De Kuper, semangat masuknya Zionisme Kristen di tubuh Amerika bersamaan dengan teologi Armagedon atau perang di akhir zaman dalam doktrin bible. Karenanya tidak heran ketika Israel memenangkan Perang Enam Hari (melawan Mesir, Yordania, dan Suriah) Nelson Bell, editor majalah Christianity Today, menyuarakan perasaan banyak orang Kristen Evangelikal Amerika pada waktu itu dengan kebanggan sebuah kelompok pongah bernama Yahudi.

“Untuk pertama kalinya di dalam kurun waktu lebih dari 2000 tahun Yerusalem kini sepenuhnya berada kembali dalam kekuasaan orang-orang Yahudi; dan fakta ini memberikan suatu kepercayaan yang dibarui dan tergairahkan kepada setiap orang yang mempelajari Alkitab bahwa Alkitab itu benar dan sah,” tulis Bell.

Ini artinya, tanpa sungkan Yahudi mengklaim bahwa kemenangan Perang Enam Hari adalah murni itikad Allah untuk memberikan bagian dari tanah yang tidak mereka (baca: Israel) terima pada tahun 1948. Hasil dari Perang Enam Hari adalah bahwa Yudea dan Samaria, dan Kota Lama Yerusalem, ibu kota kerajaan Daud, dikembalikan kepada mereka sebagai pewaris sah Palestina.

Syahidnya Usamah Bin Ladin adalah satu tahap awal untuk membunuh para Ulama lainnya atas militansi perang Salib antara Zionisme Kristen yang didukung Israel melawan Islam. Ingat kita sudah berada di akhir zaman. Bukan saja dunia Islam yang merasakannya, termasuk Kristen dan Yahudi. Dan Obama betul-betul menemukan momentum pas untuk melebarkan sayap Zionisme seperti terlihat dalam antusiasme masyarakat pasca syahidnya Usamah.

Dalam kontelasi ini, kita sudah tidak bisa lagi membedakan mana masyarakat sipil mana pemerintah AS: mereka semua turun ke jalan membunyikan mobil, menyalakan motor, menyetel Televisi siang malam dan menyebarkannya seluruh dunia, seakan akan mereka akan menyambut Messiah turun ke bumi! Dan tampaknya Amerika memang benar-benar serius menyambut momentum benturan akhir zaman baik lewat film, novel, maupun lagu seperti, 2012, Core, The Day After Tomorrow, Armageddon, The End of Evangelion, The Road Warrior, serial Left Behind (Tim LaHaye dan Jerry B. Jenkins), Its Only Temporary (Eric Shapiro) dan Survivors (Zion Ben-Jonah). Last Day on Earth (Duran Duran), Progenies of the Great Apocalypse (Dimnu Borgir) dan King of the World (Steely Dan).

Militansi Syekh Usamah dan Pertarungan Timur Tengah

Senada dengan Yahudi dan Kristen, Syahidnya Syekh Usamah sama-sama akan menjadi motivasi bagi umat Islam untuk melawan kaum kuffar di akhir zaman. Pasca Syahidnya Usamah, Al-Shabaab pun bersumpah membalas kematian Syekh Usamah dengan mengatakan kekhalifahan global akan segera terbentuk. Bahkan HAMAS pun turut mengecam pembunuhan Usamah. Tentu, ketika seluruh komponen jihadis bersatu dalam panji Tauhid ini benar-benar akan sangat menakutkan bagi Israel.

Sosok Usamah betul-betul menjadi semangat militansi umat Islam, karena Usamah adalah sosok yang dinilai paling berani melawan hegemoni imperialisme Barat. Bahkan seminggu sebelum syahid, Asy Syahid masih sempat memotivasi agar kaum muslimin teguh menumbangkan para tiran di Timur Tengah. Dengan lantang, ia menyatakan bahwa Matahari revolusi telah tiba dari Maghrib yang lampunya mulai bersinar terang di Tunisia. Salah satu yang akan menjadi tantangan besar bagi umat Islam adalah bagaimana meyakinkan Arab Saudi bahwa Amerika betul-betul musuh sejati umat Islam. Bagaimana tidak? Arab Saudi yang seharusnya menjadi Negara pelindung hak dan martabat umat Islam justru terjebak pada koalisi kuffar bersama Amerika yang sejatinya memang berniat menaklukan Saudi. Karena menguasai Saudi sama dengan menjalankan separuh nubuwah teologi messianik dimana Yahudi masih memiliki dendam ketika Bani Nadhir dan Bani Qainuqo berperang melawan Rasulullah SAW dan Umat Islam.

Karenanya tidak heran dalam peta terbarunya, -yang dikeluarkan Ralph Peters seorang perwira Intelejen Amerika di tahun 2006,- Zionis berencana memecah Arab Saudi menjadi dua bagian: antara Mekah dan Madinah. Kedua ‘negara’ ini nantinya akan menjadi sebuah Negara independen bernama Islamic Sacred State. Sementara separuh wilayah Saudi akan merangsek ke garis batas Yaman bagian selatan.

Peta menguasai Timur Tengah jauh sebelum Ralph, juga sudah dicanangkan Theodorl Herzl yang mengatakan bahwa cakupan Zionis akan membentang dari sungai Nil ke Eufrat. Begitu pula dengan testimoni Rabi Fischman di tahun 1947 yang berujar bahwa Tanah yang Dijanjikan Tuhan untuk bangsa Yahudi dimulai memanjang dari Sungai Nil ke Eufrat. Itu termasuk bagian Suriah dan Lebanon. Sedangkan Oded Yinon dalam doktrinnya yang tercantum dalam Kivunin dan dikeluarkan oleh The World Zionist Organization juga menyiratkan hal yang sama, “The Moslem World is built like a temporary house of card put together by foreigners divide into 19 states, all made combination of minorities dan ethnic group wich are hostile to one another, so that every Arab Moslem state nowaday faces ethnic social destruction from within, and in some a civil war already raging,”

Oleh karena itu, clash antara Islam dan kaum kuffar pasca syahidnya Syekh Usamah ini terus berlangsung bahkan ketika Dajjal turun. Maka daripada itu, Syahidnya Usamah adalah momentum untuk Islam bersatu meraih kemuliaan dan kesemuanya akan berjalan beriringan dengan semangat militansi Kristen, Yahudi, yang juga akan bersatu membantai Islam demi menyambut sang messiah. Sudahkah kita mempersiapkannya?

Jika Kubur Dijadikan Tuhan

Oleh Ustadz Muslim Atsari

Apakah ada kubur yang dijadikan tuhan? Begitu mungkin pertanyaan yang muncul dari pembaca ketika membaca judul artikel ini. Karena setiap orang tahu, bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala. Sedangkan menyembah selain Allah merupakan dosa besar yang paling besar. Semoga pertanyaan ini segera sirna setelah menela’ah apa yang akan kami sampaikan di bawah ini.

ISYARAT NABI ‘alaihi ash-sholatu was salam

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengisyaratkan tentang penyembahan terhadap kubur itu di dalam banyak hadits-hadits yang shahih. Antara lain hadits di bawah ini, ]

Dari ‘Atho’ bin Yasar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa: “Wahai Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), besar murka Allah terhadap orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”. (HR Malik, di dalam kitab Al-Muwaththo’, no.376)

Hadits ini mursal (termasuk lemah), namun dikuatkan oleh hadits-hadits yang lain sehingga menjadi shahih. Oleh Karena itu Syaikh Al-Albani menshahihkannya di dalam kitab Tahdzirus Sajid, hlm: 18, 19. Di antara hadits yang menguatakan adalah hadits di bawah ini, 

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (beliau pernah berdoa): “Wahai Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid” (HR Ahmad, di dalam kitab Musnad, juz: 2, hlm 246)

Syaikh Dr. Sholih bin Fauzab bin Abdullah Al-Fauzan –ulama anggota Majlis Fatwa Saudi- berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan terjadi di kalangan umatnya apa yang telah terjadi pada orang-orang Yahudi dan Nashoro terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, yaitu yang berupa ghuluw (sikap melewati batas) terhadap kubur-kubur itu sehingga kubur-kubur itu menjadi berhala-berhala. Maka beliau memohon kepada Rabbnya agar tidak menjadikan kubur beliau demikian itu. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan sebab kemurkaan dan laknat Allah menimpa orang-orang Yahudi dan Nashoro, yaitu apa yang telah mereka lakukan terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, sehingga mereka merubahnya menjadi berhala-berhala yang disembah. Maka mereka terjerumus di dalam syirik yang besar yang bertentangan dengan tauhid”. (Al-Mulakhkhos Fii Syarh Kitab At-Tauhid, hlm: 144-145)

MUSYRIKIN ARAB MENYEMBAH KUBUR

Allah Ta’ala mencela perbuatan orang-orang jahiliyah yang menyembah kepada selain Allah di dalam banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Antara lain di dalam firman-Nya, 

“Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang lain itu?” (QS An-Najm (53): 19-20)

Makna ayat ini –sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qurthubi-, “Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang berhala-berhala ini, apakah dapat memberikan manfaat atau madhorot, sehingga menjadi sekutu-sekutu Alloh Ta’ala?” (Fathul Majid, hlm: 118, penerbit: Dar Ibni Hazm)

Ketiga nama ini adalah tuhan-tuhan yang disembah oleh orang-orang Arab jahiliyah.

Al-Lata adalah batu putih berukir yang padanya terdapat rumah, memiliki tirai-tirai, dan ada penjaganya. Di sekitarnya terdapat lokasi tanah yang diagungkan oleh penduduk kota Thoif. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, surat An-Najm, ayat: 19-20)

Ada juga yang mengatakan bahwa Lata adalah kubur laki-laki yang dahulu dianggap sebagai orang sholih. Imam Bukhori meriwayatkan,

Dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala: “tentang Al-Lata dan Al-Uzza”, (QS. An-Najm (53): 19), beliau mengatakan: “Latta dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk orang yang berhaji”. (HR Bukhori, no. 4859)

Sa’id bin Manshur meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang menjual tepung dan mentega di dekat sebuah batu besar, dan membuat adonan di atas batu besar itu. Ketika laki-laki itu mati, suku Tsaqif menyembah batu besar itu karena menagungkan terhadap penjual tepung itu (yakni Latta)”. (Fathul Majid, hlm: 117)

Sa’id bin Manshur juga meriwayatkan bahwa Mujahid mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk mereka (orang-orang jahiliyah), tatkala dia telah mati, mereka (orang-orang jahiliyah) semedi (tirakatan) pada kuburnya”.

Pada riwayat lain disebutkan: “Lalu dia (Latta) memberi makan orang-orang yang lewat. Tatkala dia telah mati, mereka menyembahnya. Mereka mengatakan: “Itu adalah Latta”. (Fathul Majid, hlm: 222)

Dari keterangan di atas, ada dua pendapat tentang wujud Latta. Sebagian mengatakan itu adalah sebuah batu, yang lain mengatakan itu wujudnya kubur. Namun pada hakekatnya kedua pendapat itu tidak berlawanan. Oleh karena itulah Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Tidak ada kontradiksi antara dua pendapat itu, karena mereka menyembah batu dan kubur tersebut sebagai perbuatan ibadah dan pengangungan (kepada Latta, orang yang mereka anggap sholih-pen). Dan karena semisal ini, dibangun peninggalan-peninggalan (petilasan-petilasan) dan kubah-kubah di atas kubur-kubur, dan dijadikan sebagai berhala-berhala. Dan padanya terdapat keterangan bahwa orang-orang jahiliyah dahulu menyembah orang-orang sholih, patung-patung, dan berhala-berhala”. (Fathul Majid, hlm: 117)

KENYATAAN DI ZAMAN INI

Barangsiapa mengamati keadaan orang-orang yang mengagungkan kubur orang-orang yang dianggap sebagai wali di zaman ini, akan mendapati berbagai bentuk kemusyrikan pada mereka, dengan ringkas sebagai berikut,
  1. Anggapan mereka bahwa wali di kuburnya memiliki tindakan/kekuasaan di alam ini. Seperti: memberi manfaat, menimpakan musibah, menyembuhkan penyakit, melapangkan kesusahan, memenuhi permintaan dan hajat, dan semacamnya yang termasuk syirik rububiyah.
  2. Perbuatan memohon pertolongan, kesembuhan, perlindungan, keberkahan, menyembelih binatang untuknya, berthowaf (mengelilinginya), berhaji (ziarah) kepanya, dan semacamnya yang termasuk syirik uluhiyah.
  3. Anggapan bahwa wali di kuburnya sebagai An-Nafi Adh-Dhoor (Yang mendatangkan manfaat dan Yang menolak musibah), Al-Wahhab (Yang Maha memberi), Ar-Rozzaq (Yang memberi rizqi), dan semacamnya yang termasuk syirik asma’ was sifat. (Diringkas secara bebas dari “Kuburan Agung”, hlm: 42-43, karya Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, penerbit: Darul Haq, Jakarta)
Orang-orang yang mengagungkan kubur itu melewati beberapa jenjang sampai mereka menyembahnya. Jenjang-jenjang itu antara lain sebagai berikut: Taqdis (mengkultuskan) orang yang di kubur; Menjadikan penghuni kubur sebagai wasilah (perantara) kepada Alloh; Meyakini keberkahan kubur; Istighotsah dan memohon hajat; Menjadikan kubur sebagai berhala (tuhan yang disembah); Dan menjadikan kubur sebagai tempat yang diziarahi. (Diringkas dari “Kuburan Agung”, hlm: 35-37)

Di sini kami nukilkan sebagian kenyataan pada umat ini yang menunjukkan jauhnya sebagian orang yang mengaku beragama Islam dari ajaran Islam.
  1. Di Ma’an, Yordania, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan penyakit wanita!
  2. Di Thontho, Mesir, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan kemandulan, penyakit anak-anak, dan rematik!
  3. Pada waktu negeri Syam diserbu bangsa Tartar, para penyembah kubur keluar meminta tolong kepada kuburan!
  4. Ketika pasukan Rusia menyerbu kota Bukhoro, manusia berhamburan beristighotsah (meminta dihilangkan musibah) kepada kuburan Syah Naqsaband!
  5. Di Fayyum, Mesir, para penyembah kubur mengklaim bahwa yang meneylamatkan kota dari kehancuran selama perang dunia kedua adalah wali Ar-Rubi, berkat pertolongannya arah bom dipindahkan ke laut Yusuf! (Diringkas dari “Kuburan Agung”, hlm: 32-33)
  6. Di Pulau Jawa khususnya, banyak orang yang meminta berkah ke kuburan para wali songo!
Selain itu, masih banyak di berbagai tempat orang-orang mengagungkan kubur-kubur secara berlebihan, dan mengangkat kubur-kubur itu sebagai sekutu-sekutu bagi Allah. Maha Suci Allah dari kemusyrikan mereka. Semoga Allah memberikan bimbinganNya kita dan kaum muslimin menuju apa yang Dia cintai dan ridhoi. Aamiin.
—
Artikel Muslim.Or.Id

Kuliah Militer AS: Islam adalah Musuh

REPUBLIKA.CO.ID, Kebencian terhadap Islam telah dipupuk dalam benak militer AS. Bahkan, mata kuliah yang menyusupkan ajaran bahwa musuh mereka adalah Islam telah menjadi pelajaran wajib.


Mata kuliah yang disebut 'Perspectives on Islam and Islamic Radicalism' telah diajarkan sekitar lima kali dalam setahun sejak 2004, dengan sekitar 20 siswa dalam tiap pertemuan.

Ini berarti sekitar 800 siswa telah mengambil mata kuliah ini selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dihentikan April lalu menyusul adanya aksi protes.

''Mereka (Muslim) membenci segala hal tentang kamu (warga Amerika) dan tidak akan mau hidup berdampingan dengan kamu hingga kamu lenyap,'' ungkap sang instruktur, Letkol Matthew Dooley dalam sebuah presentasi Juli 2011 lalu, seperti dilaporkan AP.

Lembaga pendidikan untuk para personel militer profesional itu menargetkan para pegawai pemerintah dan pejabat militer level menengah. Mereka mengajarkan berbagai topik terkait perencanaan dan eksekusi perang.

Themise Cruz: Semua Bayi Terlahir Sebagai Muslim

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Semua bayi yang lahir ke dunia adalah seorang Muslim. Hanya saja, tidak ada yang menyadari hal tersebut. Demikian keyakinan Themise Cruz setelah dirinya memeluk Islam beberapa tahun silam.

"Kita lahir dalam keadaan Islam. Sayang, budaya sekitar kita yang mengubah kenyataan itu. Tapi Allah rupanya menyayangiku, ia berikan hidayah padaku untuk kembali pada Islam," papar dia.

Themis menuturkan perkenalannya pada Islam diawali saat ia mengikuti pelatihan di kampus selama bulan Ramadhan. Pelatihan itu digelar mahasiswa Muslim guna memperkenalkan Islam kepada warga kampus. "Di kampuslah, saya bertemu dengan Muslimah yang mengundang saya ke rumahnya untuk belajar dan makanan," kenang Themise.

Awalnya, ia merasa risih dengan perbedaan budaya antara ia dan temannya. Sempat terpikir untuk menolak, namun ia tidak mau terjebak dalam sterotip negatif tentang Islam. Ia harus membuka pikirannya tentang apa yang menjadi pandangan umum masyarakat Amerika Serikat saat itu.

Tapi sang Pencipta yang memberikan jalan kepada Themise untuk terikat dengan persahabatan dengan Muslimah, yang merupakan imigran dari Timur Tengah. Ia selanjutnya diperkenalkan dengan gaya hidup Islam. Dari persahabatan itulah, ia tahu setiap Muslim dilarang untuk mengkonsumsi alkohol dan daging babi. Ia juga menyaksikan sahabatnya itu melaksanakan shalat dan berpuasa.

"Sejak saat itu, saya pikir ada yang salah tentang pandangan masyarakat AS terhadap Islam. Jujur saya sempat bingung waktu itu, tapi saya tidak tahu kalau hal itu merupakan tanda saya mendapatkan hidayah dari Allah SWT," ungkapnya.

Kebingungan terus melanda Themise. Ia seolah makin bingung entah harus berbuat apa. "Saya berhasil dalam aspek materi kehidupan, tetapi pikiran dan hati saya selalu gelisah. Aku begitu lemah, aku seperti menipu diriku sendiri untuk percaya pada hal-hal bersifat material seperti apa yang diajarkan orang tua ku," kisah Themise.

Selepas ibunya meninggal, Themise kian hampa. Peninggalan harta melimpah tidak membuatnya tenang. Ia mencoba untuk melanjutkan hidupnya. Tapi lagi-lagi ia kembali didera kebingungan. "Aku tidak lagi mengabaikan Allah. Aku harus membuka diri atas Allah," kata Themise.

Tak berselang lama, Themise pun melaksanakan niatnya itu. Ia memang sudah membayangkan akan mengalami kesulitan untuk memulainya. Islam merupakan agama yang disiplin dengan ritual. Secara budaya, bahasa dan ritual, Islam jauh berbeda dengan keyakinan terdahulu. Beruntung, Themise mendapat banyak bantuan suami yang Muslim.

"Suamiku mengajarkan banyak hal tentang Islam. Berkat bantuannya, aku secara perlahan mulai memahami Islam. Harus diakui, aku seolah baru mengenal agama dan Tuhan ketika bersinggungan dengan Islam. Saya mulai pelahan membaca Quran selama berjam-jam pada suatu waktu," paparnya.

"Aku tahu, Allah akan menolong saya," tambah dia.

Semenjak menjadi Muslimah, Themise mulai berkomunikasi dengan saudara seiman. Mereka membantu Themise untuk lebih mudah memahami Islam. Sebulan sekali, Themise bersama teman-temannya itu menggelar pengajian. Banyak hal baru yang diperoleh Themise.

Ia pun mulai memahami pentingnya kesabaran dan pemahaman. Hal itulah, yang menyebabkan Themise kian menyadari keberadaan Pencipta. "Dia memberikan ku kekuatan dan kesabaran. Aku selalu menyadari Allah selalu bekerja dengan cara-Nya yang mungkin tidak dimengerti manusia," kata dia.

Tidak Diterima

Secara perlahan Themise mulai terbiasa dengan identitas barunya sebagai Muslimah. Namun, tidak dengan keluarganya. Hingga kini, keputusannya memeluk Islam tidak diterima oleh keluarganya. Keluarganya pun menolak keberadaan suaminya. "Bagaimana Anda meninggalkan Yesus, sementara aku mengasihi Yesus," kata salah seorang kerabatnya kepada Themise.

Themise begitu tenang menjawab pertanyaan itu. Menurutnya, ia tidak meninggalkan Yesus. Hanya saja, dirinya mulai memahami ajaran Yesus sebenarnya. "Islam mengharuskan setiap Muslim mengimani para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Artinya, setiap Muslim harus menghormati Yesus dan Ibrahim," jawab Themise kepada kerabatnya itu.

Perjuangan Themise untuk menjadi seorang Muslim paripurna belum selesai. Dihadapannya menunggu sejumlah tantangan yang menguji kualitas keimannya. "Aku tahu budaya Barat belum menerima atau memahami Islam. Kita masih dianggap sebagai fundamentalis atau teroris," ungkapnya.

"Saat ini, pengetahuanku masih rendah. Aku hanya berpikir untuk menutup pikiran dan hati ku atas apa yang mereka katakan tentang muslim. Semoga kami selalu dibeirkan kesabaran dan kasih sayang. Dan semoga Allah membuka pintu hati dan pikiran mereka pada kebenaran," pungkasnya.

Alhamdulillah, Profesor Asal Inggris Ucapkan Syahadat

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Penggambaran negatif media barat terhadap Islam dan Muslim telah mendorong seorang profesor bahasa Inggris asal Kanada untuk mempelajari Islam dan Alquran. Selanjutnya, dorongan itu pula yang mengantarkannya pada pengucapan dua kalimat syahadat.

"Ketika saya datang ke Arab Saudi, saya menyadari media barat telah keliru menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan dan terorisme," kata David Roy Woelke, yang selanjutnya mengubah namanya menjadi Dawood, seperti dikutip onislam.net, Senin (2/4).

Dawood mengatakan Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Karena itu, apa yang diberitakan dunia barat tentang Islam banyak terdistorsi. "Saya banyak mencari tahu tentang agama ini. Semakin dalam saya pelajari tentang Islam, saya merasa Allah SWT membimbing saya untuk menuju jalan yang benar. Itu sebabnya, saya memutuskan untuk memeluk Islam," kata dia.

Kini, Dawood terus mendalami agama barunya. "Sekarang saya terus melakukan pendekatan pada Allah," ujarnya.

Ia pun begitu bahagia, putusannya untuk memeluk Islam begitu dinanti para koleganya. "Teman-teman saya yang muslim mendorong saya untuk menerima Islam sebagai agama saya. Bahkan seorang penjual pizza berkata pada saya bahwa dirinya tak sabar menantikan saya menjadi seorang muslim," ujarnya.

Asisten Sekjen Organisasi yang mempromosikan Pemahaman dan Koeksistensi antara budaya dunia (WAMY), Mohammad Badahdah mengatakan ribuan laki-laki dan perempuan berpendidikan seperti Woelke datang memeluk Islam setiap tahunnya. "Sebabnya, literatur dalam bahasa Inggris perlu diperbanyak. Saya percaya, Islam akan menarik minat orang-orang seperti woelke," ucapnya.

Subhanallah, Pria Yahudi Ini Mengislamkan Jutaan Orang Muslim Kenya


REPUBLIKA.CO.ID, Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam. Setelah bersyahadat, ia mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani.

Jad pun memutuskan hidupnya untuk berkhidmat dalam dakwah Islamiyah. Dia berdakwah ke negara-negara Afrika dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Sejatinya, Ibunda Jadullah adalah Yahudi fanatik, seorang dosen di salah satu lembaga tinggi. Namun di tahun 2005, dua tahun setelah kematian Jadullah, ibunya memeluk agama Islam.

Ibunda Jadullah menuturkan, putranya menghabiskan usianya dengan berdakwah. Dia mengaku telah melakukan beragam cara untuk mengembalikan putranya pada agama Yahudi. Namun, selalu gagal.

''Mengapa seorang Ibrahim yang tidak berpendidikan dapat mengislamkan putraku,'' ujar sang ibu terheran-heran. Sedangkan dia yang berpendidikan tinggi tak mampu menarik hati putranya sendiri kepada agama Yahudi.

***


Kisah Jad dan Ibrahim

Lima puluh tahun lalu di Prancis, Jad bertetangga dengan seorang pria Turki berusia 50 tahun. Pria tersebut bernama Ibrahim. Ia memiliki toko makanan yang letaknya di dekat apartemen tempat keluarga Jad tinggal. Saat itu usia Jad baru tujuh tahun.

Jad seringkali membeli kebutuhan rumah tangga di toko Ibrahim. Setiap kali akan meninggalkan toko, Jad selalu mengambil coklat di toko Ibrahim tanpa izin alias mencuri.

Pada suatu hari, Jad lupa tak mengambil coklat seperti biasa. Tiba-tiba, Ibrahim memanggilnya dan berkata bahwa Jad melupakan coklatnya. Tentu saja Jad sangat terkejut, karena ternyata selama ini Ibrahim mengetahui coklatnya dicuri. Jad tak pernah menyadari hal tersebut, dia pun kemudian meminta maaf dan takut Ibrahim akan melaporkan kenakalannya pada orang tua Jad.

"Tak apa. Yang penting kamu berjanji tidak akan mengambil apapun tanpa izin. Lalu, setiap kali kamu keluar dari sini, ambillah cokelat, itu semua milikmu!" ujar Ibrahim. Jad pun sangat gembira.

Waktu berlalu, tahun berubah. Ibrahim yang seorang Muslim menjadi seorang teman bahkan seperti ayah bagi Jad, si anak Yahudi. Sudah menjadi kebiasaan Jad, dia akan berkonsultasi pada Ibrahim setiap kali menghadapi masalah.

Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengeluarkan sebuah buku dari laci lemari, memberikannya pada Jad dan menyuruhnya membuka buku tersebut secara acak. Saat Jad membukanya, Ibrahim kemudian membaca dua lembar dari buku tersebut kepada Jad dan memberikan saran dan solusi untuk masalah Jad. Hal tersebut terus terjadi.

Hingga berlalu 14 tahun, Jad telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 24 tahun. Sementara Ibrahim telah berusia 67 tahun.

Hari kematian Ibrahim pun tiba. Namun sebelum meninggal, dia telah menyiapkan kotak berisi buku yang selalu dia baca acapkali Jad berkonsultasi. Ibrahim menitipkannya kepada anak-anaknya untuk diberikan kepada Jad sebagai sebuah hadiah.

Mendengar kematian Ibrahim, Jad sangat berduka dan hatinya begitu terguncang. Karena selama ini, Ibrahim satu-satunya teman sejati bagi Jad, yang selalu memberikan solusi atas semua masalah yang dihadapinya.

Selama 17 tahun, Ibrahim selalu mempelakukan Jad dengan baik. Dia tak pernah memanggil Jad dengan "Hei Yahudi" atau "Hei kafir" bahkan Ibrahim pun tak pernah mengajak Jad kepada agama Islam.

***

Hari berlalu, setiap kali tertimpa masalah, dia selalu teringat Ibrahim. Jad pun kemudian mencoba membuka halaman buku pemberian Ibrahim. Namun, buku tersebut berbahasa arab, Jad tak bisa membacanya. Ia pun pergi menemui salah satu temannya yang berkebangsaan Tunisia. Jad meminta temannya tersebut untuk membaca dua lembar dari buku tersebut. Persis seperti apa yang biasa Ibrahim lakukan untuk Jad.

Teman Jad pun kemudian membaca dan menjelaskan arti dua lembar dari buku yang dia baca kepada Jad. Ternyata, apa yang dibaca sangat pas pada masalah yang tengah dihadapi Jad. Temannya pun memberikan solusi untuk masalah Jad.

Rasa keingin tahuannya terhadap buku itu pun tak bisa lagi dibendung. Ia pun menanyakan pada kawannnya, "Buku apakah ini?" tanyanya. Temannya pun menjawab, "Ini adalah Alquran, kitab suci umat Isam," ujarnya.

Jad tak percaya sekaligus merasa kagum. Jad pun kembali bertanya, "Bagaimana cara menjadi seorang Muslim?"

Temannya menjawab, "Dengan mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat." Kemudian, Jad pun memeluk agama Islam.

Setelah menjadi Muslim, Jad mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani. Nama tersebut diambil sebagai ungkapan penghormatan kepada Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab semua permasalahan hidupnya selama ini.

Sejak itu, Jad memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupya untuk menyebarkan ajaran yang ada pada Alquran.

Suatu hari, Jadullah membuka halaman Alquran pemberian Ibrahim dan menemukan sebuah lembaran. Lembaran tersebut bergambar peta dunia, ditandatangani Ibrahim dan bertuliskan ayat An-Nahl 125.

"Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..." Jad pun kemudian yakin bahwa lembaran tersebut merupakan keinginan Ibrahim untuk dilaksanakan oleh Jad.

Jadullah pun meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Salah satu negara yang dikunjunginya yakni Kenya, di bagian selatan Sudan dimana mayoritas penduduk negara tersebut beragama Kristen.

Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari enam juta orang dari suku Zolo. Jumlah ini hanya dari satu suku tersebut, belum lagi suku lain yang berhasil dia Islamkan. Subhanallah.