4.11.12

SBY Terima Gelar "Ksatria Salib Agung", Dinilai Tak Ada Makan Siang Gratis!

Rabu, 31 Oktober 2012

Hidayatullah.com—Kabar bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan menerima penghargaan menerima gelar ‘Knight Grand Cross in the Order of Bath’ yang artinya 'Ksatria Salib Agung' dinilai hanya akan melukai hati perasan umat Islam. SBY yang sebelumnya menggagas Protokol Anti Penistaan Agama dinilai tidak konsisten oleh Farid Wadji ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Penghargaan itu jelas memiliki kepentingan untuk menyetir SBY, tidak ada makan siang yang gratis itu suatu hal yang semua orang sudah paham,” jelas Farid di sela-sela aksi damai peduli Rohingya yang digelar HTI di depan Kedutaan Besar Myanmar, Rabu (31/10/2012).

Selain itu Farid menilai luka umat ini semakin teriris-iris karena pemberian penghargaan itu bersamaan dengan tragedi Rohingya dan serangan pemerintahan Bashar Al Assad ke pengungsian rakyat Palestina di Suriah di bulan Oktober 2012 ini.

“SBY memimpin negeri dengan mayoritas Umat Islam, namun dia selalu sibuk dengan pencitraan dirinya dibandingkan membela urusan-urusan umat Islam,” Jelasnya lagi.

Aktivis HTI yang dikenal dengan analisa dunia Islam internasional ini menilai setelah turunnya SBY akan ada banyak agenda-agenda yang akan memanfaatkan pencitraan SBY. Di mana semua pencitraan SBY itu terkait agenda-agenda Barat di dunia Islam terutama di Indonesia sendiri. Karena itulah, ia menilai, mengapa penghargaan Ksatria Salib Agung menjadi penting untuk diberikan kepada SBY.

Sebagaimana diketahui, Presiden SBY akan bertolak ke Inggris Selasa (30/10/2012) untuk memenuhi undangan Ratu Elizabeth II. Di London, Presiden SBY akan menerima gelar penghargaan dari Ratu Elizabeth II.

"Nama penghargaannya 'Knight Grand Cross in the Order of Bath'. Pemimpin asing lain yang menerima penghargaan tersebut Presiden Ronald Reagen, Presiden Jaques Chirac dan Presiden Abdullah Gul," jelas Staf Ahli Presiden Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah dalam rilisnya, Senin (29/10/2012).

Menurut Teuku Faizasyah menjelaskan secara detil tujuan atau alasan Presiden diberi penghargaan tersebut.

"Ini adalah kelas tertinggi dari Order of the Bath," tuturnya.

Menurut Faizasyah, tidak ada acara khusus saat Presiden SBY diberi gelar tersebut.

"Tidak ada upacara khusus, hanya Ratu akan menunjukannya di ruang display ke Bapak Presiden seusai makan siang pada 31 Oktober," tutupnya.

SBY juga akan melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, dengan Prince of Wales, Pangeran Charles, Ketua Partai Liberal Demokrat, Nick Clegg dan Pimpinan Oposisi, Ed Miliband.*


Istana Bantah Gelar Ksatria SBY Dibarter Proyek Tangguh

Jumat, 2 November 2012

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gelar ksatria 'Knight Grand Cross in the Order of the Bath' dari Ratu Inggris Elizabeth II yang diberikan kepada Presiden SBY, kabarnya dibarter dengan memberikan proyek membangun kilang LNG Tangguh kepada perusahaan Inggris, BP (British Pretoleum) Plc. "Itu tidak terkait satu dengan yang lain. Karena, soal gas Tangguh, itu antar-menteri. Jadi, pemberian gelar bukan barter ya," kata Firmanza, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, ketika dikonfirmasi wartawan, Jumat (2/11/2012).

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Indonesia resmi menyampaikan persetujuan atas proposal pengembangan kilang LNG Tangguh, saat pertemuan bilateral Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron di London, Kamis (1/11/2012), di sela kunjungan presiden ke Inggris. Hadir juga CEO BP Group Bob Dudley, dan Presiden BP di Asia Pasifik William Lin. Investasi untuk pengembangan kilang LNG Tangguh, diperkirakan mencapai lebih dari 12 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau 7,5 miliar Poundsterling.

Saat itu, Presiden SBY juga memperoleh gelar ksatria dari Ratu Elizabeth II. Menurut Firmanza, pemberian gelar ksatria dari Kerajaan Inggris kepada SBY, karena presiden dianggap mampu menjaga hubungan bilateral Inggris-Indonesia. "Kalau diberitakan MoU gas Tangguh disetujui sesaat setelah pemberian gelar, tone-nya seolah-olah jadi barter," ucap Firmanza.


SBY Dapat Gelar, BP Plc Dapat Proyek Gas Senilai US$ 12 Miliar
Jumat, 02 November 2012

JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi telah merestui perusahaan asal Inggris, BP Plc serta mitranya membangun train ketiga di kilang LNG Tangguh. Ini merupakan pengembangan lanjutan dari kilang LNG Tangguh yang saat ini sudah memiliki dua train. Kapasitas dua train yang beroperasi saat ini adalah 7,6 juta metrik ton LNG per tahun. Sedangkan, untuk train ketiga ini direncanakan berkapasitas 3,8 metrik ton LNG per tahun.

BP Plc dan mitranya sudah menyampaikan proposal pengembangan kilang LNG Tangguh awal September lalu. Rencananya, train ketiga akan dibangun di Teluk Bintuni, Papua Barat, lokasi dimana dua train lainnya berada. Pemerintah Indonesia resmi menyampaikan persetujuan atas proposal pengembangan kilang LNG Tangguh ini pada saat pertemuan bilateral Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron di London, Kamis (1/11).

Dalam pertemuan itu, hadir juga CEO BP Group, Bob Dudley dan Presiden BP di Asia Pasifik, William Lin. Investasi untuk pengembangan kilang LNG Tangguh ini diperkirakan mencapai lebih dari US$ 12 miliar atau 7,5 miliar poundsterling. â??Persetujuan ini merupakan kabar gembira bagi BP, salah satu penanam modal asing terbesar di Indonesia. Ini juga meningkatkan nilai perdagangan dan investasi Inggris di Indonesia,â?? ujar David Cameron usai pertemuan bilateral tersebut, seperti disampaikan dalam keterangan tertulis yang diterima KONTAN di Jakarta, Jumat (2/11)

Dengan adanya persetujuan dari pemerintah Indonesia, selanjutnya pihak BP Plc dan mitranya segera menentukan Final Investment Decision (FID). Selanjutnya, proyek pengembangan ini direncanakan mulai dikerjakan tahun 2014. Dan tes operasi pertama (commissioning) dilakukan pada akhir 2018. Restu untuk proyek pengembangan kilang Tangguh kepada BP Plc, dilakukan setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapat gelar ksatria dari Ratu Elizabet II. Oleh kerajaan Inggris, SBY diberikan penghargaan Knight Grand Cross of the Order of the Bath. Disisi lain, perusahaan asal Inggris, yakni BP Plc mendapatkan proyek pembangunan kilang LNG Tangguh di Papua. Lagi-lagi, tak ada makan siang yang gratis.

http://industri.kontan.co.id/news/pe...guh/2012/11/02

BP Tangguh Diminta Ajukan PoD Kilang Unit 3 dan 4
Thursday, 29 03 2012

JAKARTA (IFT) â?? BP Tangguh Ltd, anak usaha BP Indonesia, perusahaan migas asal Inggris, diminta segera mengajukan proposal rencana pengembangan (Plan of Development/POD) kilang gas alam cair (LNG) Tangguh Unit (Train) 3 dan 4 di Teluk Bintuni, Papua Barat sebelum akhir 2012. Evita Herawati Legowo, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan proposal PoD Unit 3 dan 4 kilang Tangguh itu harus segera diusulkan karena Unit 3 kilang tersebut diproyeksikan beroperasi 2017-2018.

Unit 3 dan 4 kilang Tangguh diperkirakan masing-masing berkapasitas 3,8 juta ton per tahun (mtpa), sama seperti dengan kapasitas masing-masing dua unit sebelumnya. Usulan PoD Unit 3 dan 4 kilang Tangguh harus disertai nilai cadangan terbukti setelah eksplorasi dikerjakan.

http://old.indonesiafinancetoday.com...g-Unit-3-dan-4


Pertamina dan PLN Bersaing Dapatkan LNG dari Tangguh
Friday, 30 03 2012

JAKARTA (IFT) â?? PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) bersaing mendapatkan pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari kilang Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat yang dikelola BP Tangguh Ltd, anak usaha BP Indonesia. LNG itu merupakan pengalihan gas yang menjadi jatah Sempra Energy, perusahaan energi yang berbasis di San Diego, Amerika Serikat.

Mochammad Harun, Vice President Corporate Communication Pertamina, mengatakan Pertamina siap membeli LNG dari kilang Tangguh. LNG itu untuk pasokan terminal penerima LNG Arun sebesar US$ 9-US$ 10 per mmbtu. Dia beralasan, sampai saat ini kilang LNG Tangguh belum memenuhi kewajiban penjualan domestik (DMO).

http://old.indonesiafinancetoday.com...G-dari-Tangguh
=====

Duuh...
http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/11/istana-bantah-gelar-ksatria-sby-barter.html

Sudah menjadi kebiasaan bagi pemimpin-pemimpin negara besar dan maju kalau datang ke Indonesia, atau kalau Presiden Indonesia bertamu ke negara maju, pasti ada 'barter' proyek kekayaan alam atau pembelian produk industri mereka secara besar-besaran oleh Pemerintah kita. Ketika Presiden Clinton dari AS ke Jakarta, pulangnya dia mengantongi konsesi ladang migas terbesar di dunia di kepulauan NATUNA yang bernilai ratusan miliar dollar pada waktu itu. Ketika Presiden Megawati ke China, yang sempat-sempatnya berdansa dengan Pejabat China di Beijing, sepulangnya dia memberikan kontrak gas di padang LNG Tangguh, Papua itu, dengan harga yang sangat-sangat murah. Saat Obama ke Jakarta, dia memperoleh kontrak miliaran dollar atas pembelian 200 lebih pesaawat Boeing 737-900 oleh Lion Air. Dari semua fenomena itu, maka sebaiknya pihak Istana tak usahlah mau membohongi rakyat, bahwa kedatangan SBY ke Istana Buckingham itu, tak gratis untuk memperoleh gelar "Ksatria Salib Agung" itu, tapi akui saja harus di'barter' dengan proyek yang didapat oleh BP Plc hingga miliaran dollar. Mana adalah makan siang gratis, apalagi dengan orang bule. Pada waktu Presiden Soeharto berkunjung ke Istana Buckingham tahun 1980-an, dia memang tak menerima gelar apa-apa, tetapi pulangnya Soeharto mengantongi kontrak miliaran dollar atas pembelian persenjataan berat dari Inggris dengan biaya kredit export bank-bank Inggris (lihat ini videonya di youtube)

Yang menarik, kalau dicermati perkembangan proyek LNG Tangguuh itu selama ini, yang memiliki ladang gasnya adalah rakyat Indonesia. Tapi yang menambangnya perusahaan Inggris BP Plc, untuk kemudian hasil gas alamnya di jual (sebagian terbesar) ke China dengan harga sangat murah, dibawah harga LNG dunia selama 25 tahun kontrak pembelian. Sementara tragisnya, Pertamina dan PLN, harus berebut membeli gas LNG produksi ladang Tangguh itu, dengan harga dunia yang cukup tinggi!

Baca juga:

Densus 88 vs "Teroris"

Ambon, Bali dan Densus 88: The End of Indonesia?

Oleh: Nuim Hidayat

TRAGEDI Ambon hanya terpaut tiga tahun dengan bom Bali. Tragedi Ambon terjadi pada 19 Januari 1999, sedangkan Bom Bali pada12 Oktober 2002. Polisi dari Detasemen Khusus Antiteror (Densus 88) hanya mengobrak-abrik jaringan Bom Bali dan tidak pernah menelusuri dan mendetailkan “Jaringan Kristen Radikal” yang menjadi menyebab tragedi Ambon.

Banyak penjelasan yang cukup bisa jadi alasan, bahwah dengan “memburu” jaringan “Islam Radikal” bisa mengalirkan uang.

Seorang sumber penting bercerita, bagaimana anggota-anggota Densus 88 kini hidupnya dikenal makmur. Rumah bagus disediakan dan bonus-bonus selalu mengalir. Karena nampaknya pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau BPK seolah tidak ada yang ‘berani’ untuk memeriksa keuangan Densus. Atas nama ‘pemberantasan terorisme’ seolah-olah semua sah dilakukan. Apalagi cuma pat gulipat uang, penghilangan nyawa beberapa orang yang masih ‘terduga teroris’ tidak ada yang berani menggugat sampai ke pengadilan.

Kita semua masih ingat, saat pertama kali diluncurkan, mantan Kapolri Dai Bachtiar menyatakan, polisi menerima dana dari pemerintah Bush 50 juta dolar. Berdasarkan data dari Human Right Watch, ketika Densus pertama kali dibentuk 2002, mendapat dana 16 juta dolar.

Tahun 2001, polisi juga mendapat dana untuk pemberantasan terorisme sebesar 10 juta dolar. Dana yang diberikan pemerintah AS kepada Densus ini diperkirakan tiap tahun meningkat. Untuk pemberantasan terorisme di seluruh dunia ini, tahun 2007 AS mengeluarkan dana sebesar 93 milyar dolar dan tahun 2008 sebesar 141 milyar dolar. (lihat : http://www.youtube.com/watch?v=G3yjS_J59vk).

000

Peristiwa penembakan ‘terduga teroris’ beberapa bulan lalu, kini juga tak ada kelanjutannya. Tidak ada satu lembaga pun –termasuk mereka yang aktif dalam gerakan HAM- mempersoalkan penembakan tanpa proses pengadilan itu, serius ke pengadilan. Kini Densus 88 digugat oleh Tim Pengacara Muslim, karena menangkap sembarangan anak-anak muda.

Tiga terduga teroris yang ditangkap Densus baru-baru ini, yakni David Ashari, Herman Setyono, dan Sunarto Sofyan, mengaku kepada TPM bahwa mereka dijebak oleh seseorang bernama Basir yang dikenal melalui Facebook.

"Dua anak saya mengenal Basir dari Facebook sekitar enam bulan yang lalu," kata Maryam ibu David dan Herman, dua kakak beradik yang dibekuk di Palmerah Barat. Maryam akahirnya meminta bantuan tim pengacara Muslim pimpinan Achmad Michdan SH di kantornya, Jalan Pinang 1, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Entah apa maksud Densus menangkap anak-anak muda yang baru ikut pengajian selama 6 bulan. Bila tuduhan polisi atau Densus memang benar mereka mau meledakkan beberapa tempat –seperti diterangkan polisi—Densus harusnya memaparkan data-datanya secara kongkrit, tidak main duga-duga. Bila hal seperti ini terus terjadi, maka bisa dibenarkan pendapat banyak ahli bahwa ‘terorisme’ kini hanya proyek untuk mendapatkan fulus dari Amerika (dan menjelekkan citra Islam).

RMS dan Gerakan Papua Merdeka

Selalu menjadi pertanyaan penulis, kenapa Jaringan Kristen Radikal di Ambon tidak pernah dijelaskan atau diobrak-barik oleh kepolisian atau Densus. Penulis terkenang dengan peristiwa beberapa hari setelah tragedi Ambon 19 Januari 1999. Saat itu penulis menghadiri jumpa pers yang dilakukan oleh Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), di Jalan Salemba. Penulis kala itu masih sebagai wartawan.

Tokoh-tokoh PGI dalam konferensi pers itu menyatakan bahwa tragedi Ambon adalah kesalahan dua belah pihak, baik umat Kristen maupun Islam. Mereka saling menyerang. Mendengar pernyataan tokoh PGI saat itu, penulis langsung angkat tangan waktu sesi tanya jawab.

Pernyataan penulis kala itu adalah; Apakah mungkin kaum Muslim Ambon menyerang lebih dulu, bukankah saat itu mereka lagi merayakan Idul Fitri? Bukankah yang lari dan pergi berbondong-bondong ratusan atau ribuan, naik kapal dan sebagainya orang-orang Islam? Mungkinkah penyerang kemudian melarikan diri sebagaimana dapat dilihat di media TV? Beberapa teman wartawan Muslim ‘mendukung’ saya dengan pertanyaan itu.

Tokoh PGI itu nampaknya nggak mau kalah argumen. Ia tetap menyatakan yang terjadi di Ambon adalah saling serang. Ia menyatakan bahwa ada pengungsi-pengungsi Kristen dengan kapal-kapal kecil dan tidak diliput media massa, katanya.

Bisa bayangkan apa yang terjadi di Ambon bila mujahidin-mujahidin dari seluruh pelosok tanah air tidak berangkat ke sana (Maluku dan Poso). Beberapa kelompok yang ingin seperti Kompak Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dari Laskar Jihad, dari ormas-ormas Islam di Jakarta, Solo, Bandung dan lain-lain seluruh pelosok Nusantara. Tentu Ambon akan seperti Timor Timur yang mudah direkayasa untuk lepas dari Indonesia.

Saat itu kebetulan penulis juga mendapat kesempatan wawancara dengan Prof Bilveer Singh, ahli politik dari National of Singapora University. Bilveer Singh intinya menyatakan bahwa Indonesia dalam keadaan bahaya dan ada fihak-fihak yang menginginkan ‘The End Of Indonesia’. Yakni pihak luar bekerjasama dengan fihak dalam negeri Indonesia menginginkan Indonesia terpecah-pecah menjadi negara kecil-kecil. Maluku sendiri. Irian sendiri. Timor Timur sendiri, Kalimantan sendiri dan seterusnya.

Prof Bilveer Singh ini menarik. Ia menyukai Presiden Habibie saat itu dan tidak menyukai Jendral LB Moerdani. Pandangan politiknya terhadap Indonesia sering jujur dan cukup obyektif. Misalnya, ketika tokoh-tokoh Kristen/Katolik di Indonesia dan Barat, menyatakan terjadi Islamisasi di Timor Timur, ia menulis buku tebal tentang Timor Timur. Ia menyatakan dalam bukunya bahwa yang terjadi di Timtim adalah “Katolikisasi” bukan “Islamisasi”.

Perlunya Mengenang Tragedi Ambon

Bila pemerintah dan warga Australia dan Amerika rajin mengadakan perayaan-perayaan tragedi WTC dan Bom Bali, umat Islam mestinya juga terus mengenang tragedi Ambon tiap tahunnya. Untuk mengenang tragedi ini, berikut kutipan penuturan dari KH Abdul Aziz, Imam Besar Masjid al Fatah Ambon tentang awal mula tragedi yang dimotori oleh tokoh-tokoh Kristen Radikal itu:

“Kejadian Idul Fitri berdarah di Ambon bukan karena umat Islam di Batu Merah memeras sopir angkot yang bernama Yopie. Itu berita yang salah yang dilansir, oleh banyak mass media. Yang benar adalah diawali dengan pembakaran perkampungan umat Islam di kampung Waylete oleh umat Nasrani dari Hative Besar. Itu terjadi pada 14 November (1998). Kampung Waylette dihuni oleh orang BBM (Bugis, Buton, Makasar). Mereka tidak senang kepada umat Islam, sehingga mereka membakar perkampungan tersebut dan mereka merasa kurang puas dengan hanya membakar kampungnya, lalu dirusaknya masjid di kampung Waylete tersebut….”

Pada 10 Ramadhan (sebelum Idul Fitri 1999 –pen), saya sempat memberikan ceramah di Maluku Tengah. Sepulangnya dari sana saya melihat banyak truk yang berisikan parang-parang. Pada waktu itu saya tidak mempunyai pikiran suuddzon, saya hanya berfikir bahwa parang-parang dibawa dari pulau Seram ke Ambon untuk dijual. Yang melihat itu bukan hanya saya saja, banyak saksi mata lainnya yang melihat pemandangan sehari-hari seperti itu.

Kemudian pada 17 Ramadhan saya memberikan ceramah di Kairatu dan Jomba. Sepulang dari sana saya melihat mereka sudah membawa parang-parang tersebut ke mobil truk masuk ke Ambon. Kemudian di bulan Ramadhan (itu) saya mengajar di PLN Ambon setiap Selasa dan Jumat. Saya dijemput oleh sopir yang beragama Nasrani, lalu saya berkata kepada sopir itu, Alhamdulillah bulan puasa keadaannya tenang, aman dan tidak ada kerusuhan apa-apa. Tapi sopir itu menyatakan, inikan bulan puasa pak Kiai, tapi setelah bulan puasa belum tentu aman…” (lihat buku Ambon Bersimbah Darah, Hartono Ahmad Jaiz, Dea Press).

Gerakan tokoh-tokoh ‘Kristen Radikal’ ini terus berlangsung. Di media kita lihat, hampir tiap tahun mereka selalu mengibarkan bendera RMS. Republik Maluku Selatan (RMS) ini didirikan oleh Dr Soumokil pada 24 April 1950. Gerakan ini mensahkan adanya penggunaan kekerasan untuk perjuangannya dan gerakan ini menginginkan terus berlangsungnya dominasi Kristen di Ambon/Maluku.

Sedangkan Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah gerakan separatis Papua yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Seperti RMS, gerakan ini terus menerus menggalang dukungan baik dalam negeri maupun luar negeri untuk melancarkan gerakannya. OPM mempunyai pendukung-pendukung baik di Inggris, Amerika, Australia dan lain-lain.

Setelah tahun 1969, Papua/Irian bergabung dengan Indonesia, dua tahun kemudian tepatnya 1 Juli 1971, Nicolaas Jouwe dan dua komandan OPM yang lain, Seth Jafeth Raemkorem dan Jacob Hendrik Prai menaikkan bendera Bintang Fajar dan memproklamasikan berdirinya Republik Papua Barat. Kini mereka tiap tahun juga terus menarikkan benderanya sebagai lambang terusnya gerakan mereka. Dan nampaknya tokoh-tokoh ‘Kristen Radikal’ di sana pun mendukung gerakan ini secara diam-diam. Nampaknya mereka ingin meniru jejak Timor Timur yang dengan bantuan tokoh-tokoh gereja di sana, khususnya Uskup Bello, akhirnya lepas dari Indonesia.

Walhasil, bila Densus 88 begitu semangat ‘memberangus terorisme’ kenapa Densus tidak berani mengobrak-abrik jaringan RMS dan OPM? Karena itu wajar bila umat Islam curiga terhadap Densus dan timbul opini-opini di kalangan umat. Densus bahkan diplesetkan sebagian orang dengan istilah ‘Detasemen Yesus’.

Benar atau tidak, Densus harus membuktikan. Setidaknya bisa berlaku adil terhadap gerakan-gerakan ‘Kristen Radikal’, sebagaimana cara mereka memperlakukan kalangan Muslim selama ini. Jika tidak, umat Islam akan semakin meyakini dan membenarkan isu selama ini, bila kehadirannya “disengaja” sebagai agenda untuk memperburuk citra Islam. Wallahu aziizun hakiim.*

Penulis adalah dosen STID M Natsir, Jakarta dan penulis buku “Imperealisme Baru


Masyarakat dan Wartawan Perlu Kritis dalam Pemberitaan Terorisme

Hidayatullah.com--Masyarakat dan wartawan perlu kritis dalam memberitakan masalah-masalah terorisme. Isu-isu terorisme yang terus berkembang hingga hari ini tak lepas rekayasa yang dibuat oleh operasi Intelijen. Menurut pengamat intelijen Mustofa B. Nahrawardaya, gerakan-gerakan terorisme dengan isu-isu negara Islam saat ini justru banyak ditunggangi oleh “orang-orang buatan”.

“Ide mendirikan negara Islam itu baik, tapi mendirikan negara Islam dengan kekerasan, membunuh yang tidak bersalah, merampok, menipu ini jelas sesuatu yang dikendalikan intelijen untuk menjerumuskan umat Islam,” jelas Mustofa B. Nahrawardaya kepada hidayatullah.com, Kamis, (01/10/2012).

Saat ini kelemahan masyarakat indonesia dan para wartawannya adalah mereka gampang percaya dengan pers rilis dari pihak aparat, khususnya dari Densus 88, BNPT hingga kepolisian. Padahal seharusnya setiap informasi itu diinvestigasi dulu kebenaran dan fakta lapangannya.

Selain itu, Musthofa juga menjelaskan adanya perpecahan di tubuh Densus.

“Saya menganalisa saat ini diinternal Densus dan kepolisian terjadi konflik kepentingan antara aparat Muslim dan aparat non Muslim, banyak juga pihak kepolisian beragama Islam yang tahu sandiwara intelijen namun mereka justru dikebiri bahkan dijadikan korban,” jelas Narawardaya.

"Saya melihat polisi-polisi di Solo yang ini catatan recordnya mereka orang-orang yang sholat dan ibadahnya rajin, ini juga keganjilan yang harus diinvestigasi,” tambahnya.

Karena Itu Mustofa menilai, gerakan-gerakan yang ingin menegakkan negara Islam saat ini justru dikhawatirkan lebih banyak telah disusupi orang-orang buatan (baca:intelijen). Orang-orang buatan ini menggagas perlawanan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan memanfaatkan emosi umat atas kerinduan pada Syariat Islam.

Namun, ketika umat sudah bergerak dan terjebak pada cara kekerasan, orang-orang buatan ini justru menghilang dan selalu dalam kondisi aman tidak ditangkap. Padahal di lapangan mereka sangat frontal dan radikal dalam memprovokasi dengan isu-isu jihad dan anti NKRI.

Terlebih, doktrin-doktrin takfir (mengkafirkan sesama muslim) yang dikembangkan membuat umat Islam mudah terpecah belah. “Hati-hati kita umat Islam jangan mau dipecah belah oleh operasi intelijen ini,” tambahnya lagi.*


Tuding HASMI Sebagai Jaringan Teror: Sandiwara Apalagi?

Ahad, 28 Oktober 2012

HARI Jum’at, 27 Oktober 2012, tepat di saat umat Islam merayakan Idul Adha, sebuah berita terdengar cukup menyentak. Tim Densus 88 menangkap 11 orang terduga “teroris”. Tertuduh ditangkap pada hari yang sama di tempat yang berbeda. Yang perlu kita perhatikan semua, adalah kata “terduga”, bukan tersangka.

Anda juga tidak perlu menebak atau bertaruh siapa sosok para “terduga tersebut”. Ini adalah kalimat retorik yang tak pantas dijawab, karena sudah mafhum bahwa semua tertuduh, terduga dan tersangka “terorisme” adalah seorang Muslim.

Juga tak usah diperdebatkan bahwa selama ini, terduga “teroris” dari kalangan Islam saja. Anda tak percaya? Coba saja buka lembaran-lembaran sejarah penangkapan para tertuduh teroris. Mana itu para pelaku separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) meski mereka banyak mengancam elemen-elemen pengaman NKRI macam Polisi dan TNI?

Mana pula peluru Densus bersarang ditubuh separatis RMS? Minimal dikaki. Saya rasa, dengan segala peralatan canggih, pengaman tingkat expert, dan pendidikan aksi militer contra terrorism hasil didikan AS tak bakal membuat mereka tega untuk menangkap mereka yang secara hakiki berstatus tersangka (bukan tertuduh). Apalagi melukai mereka meski dalam taraf mencubit, saya kira. Toh selama mereka bukan Muslim, kegiatan militer para separatis itu --aksi terror para pengacau tatanan Negara—itu tak bakal disebut sebagai kegiatan teror dan pelakunya bukan terduga teroris, apalagi tersangka teroris.

Kembali pada berita penangkapan 11 orang terduga teroris itu tidak spektakuler bagi saya. Apanya yang spektakuler? Toh selama ini para separatis OPM dan RMS itu masih berkeliaran dan tidak juga mereka tindak. Saya sangat mengapresiasi Densus 88, jika mereka mampu menindak organisasi yang saya sebut tadi, sebagaimana tindakan mereka terhadap orang-orang tertuduh teroris yang selama ini dinisbatakan dari kalangan Muslim.

Tulisan diatas adalah pengantar kekecewaan saya. Kecewa karena media begitu mudahnya dalam pemberitaan mereka menyebut-nyebut kata “teroris”. Begitu juga, kekecewaan ini lahir akibat ceteknya “kacamata rasa adil” para jurnalis kita. Begitu mudahnya mereka memberitakan ini dan itu, tapi kadangkala seringkali dihinggapi pemberitaan berdasar egositas dan jauh dari kadar objektivitas yang seharusnya mereka junjung tinggi-tinggi. Lebih-lebih, pemeberitaan itu sering sepihak. Ya sepihak, karena sering hanya laporan dari aparata keamaan. Bukan berdasarkan investigasi sendiri dalam waktu cukup lama dan akurat.

Aksi penangkapan para “terduga” ini boleh saja benar demi pengamanan Negara. Sebab, sejarah selalau berkaitan dengan kekuasaan. Siapa berkuasa, dialah yang akan menguasai sejarah dan elemen-elemen terkait. Mungkin, termasuk stigma dan wacana.

Dan berita terbaru dari media adalah; soal HASMI, sebuah organisasi dakwah yang ikut dikaitakan sebagai “kelompok teroris” atau terkait dengan jaringan teroris.

Sosok HASMI

HASMI adalah sebuah organisasi dakwah Islam singkatan dari “Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami”. Bukan “Harokah Sunni untuk Masyarakat Indonesia” sebagaimana diungkap oleh Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Suhardi Aliyus pada sabtu, 27 Oktober kemarin.

HASMI merupakan ormas Islam resmi yang terdaftar di Kemdagri Dirjen Kesbangpol dengan no. 01-00-00/0064/D.III.4/III/2012 yang didirikan sejak tahun 2005. HASMI merupakan Ormas yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, dan dakwah umum. (press release Ketua Hasmi, Dr. Muhammad Sarbini, M.H.I ,27 Oktober 2012)

Boleh jadi “HASMI”, Harokah Sunni untuk Masyarakat Indonesia itu memang organisasi “teror” sebagaimana yang media sebutkan. Hanya saja, penyebutan akronim singkatan “HASMI” tanpa penjelasan, pasti menjadi pertanyaan banyak orang. Ini “HASMI” yang mana?

Ujungnya, akan membuat masyarakat melakukan generalisasi terhadap organisasi dakwah HASMI dan bisa menimbulkan efek trauma. Setidaknya phobia terhadap dakwah mereka. Islam adalah agama, tapi bukan berarti semua agama adalah Islam. Bukan begitu?

Fallacies (sesat pikir) semacam ini sungguh luar biasa, belum lagi efek argumentum ad populum yang digunakan media secara general bisa menghasut masa secara luas.

Saya bukan anggota HASMI dan bukan berarti saya tidak mempunyai hubungan dengan mereka. Anda, atau teman Anda, saudara Anda juga bukan berarti tak memiliki hubungan dengan HASMI. Namun sebagaimana ormas lain, sepengetahuan saya, HASMI adalah lembaga dakwah dan bukan organisasi radikal sebagaimana yang ikut dicapkan oleh media.

Kasus HASYMI mengingatkan saya terhadap kasus JAT (Jama’ah Anshorut Tauhid) yang terus disebut-sebut aparat sebagai organisasi yang memiliki hubungan dengan “teroris”. Sekalipun memiliki hubungan sebab beberapa anggotanya terlibat dalam aksi teror, belum tentu organisasi itu telah bermutasi menjadi organisasi teror. Bukankah JAT juga selalu dikait-kaitkan dengan prejudice yang acak, ngawur, asal dan tak berdasar?

Saya tidak tahu secara pasti apakah tren ‘menuding secara tendensius’ ini memiliki tujuan-tujuan terselubung. Bukannya saya tidak tahu, tapi saya berharap bukan salah satu bagian dari mereka karena saya ikut-ikutan secara tendensius menuding mereka tanpa mengkaji terlebih dahulu. Hanya saja, ‘trend’ yang aneh ini muncul semuanya pada lembaga dakwah maupun organisasi dakwah. Minimal lembaga yang berkaitan dengan dakwah. Secara sederhana begitu.

Bukankah kita semua telah menyaksikan tudingan terhadap Rohis, FPI, HTI, JAT dan terakhir HASMI? Anehnya semua adalah ormas Islam. Lebih aneh lagi, organisasi-organisasi itu (tanpa melibatkan Rohis), rajin mengusung ide penerapan hukum syari’ah dalam tatanan hukum negara. Aneh? Memang aneh!

Akhir-akhir ini apapun yang berhubungan dengan syari’ah mendapatkan tuduhan yang lumayan keji. Sebuah majalah nasional memberitakan masalah hukum syar’i di Aceh dengan “ngaco”. Sekarang belum hilang hangat ingatan kita, memuncak lagi tudingan tak berdasar ini. Apakah mereka-mereka itu memiliki tujuan lain selain memberangus dakwah islam? Intinya begitu. Saya rasa tidak mungkin jika tujuan mereka-mereka ini bukanlah hendak mematikan dakwah Islam, dakwah penerapan syari’ah dan apapun dalam tataran ideologis ummat Islam.

Memang, bisa jadi ada kemungkinan lain pengaruh media dalam pemberitaan ini. Contohnya pengalihan isu. Tapi, toh faktanya telalu banyak kita saksikan hasutan-hasutan di media, artikel ngawur yang data dan faktanya tidak bisa dipertanggungjawabkan tentang syariat Islam, dan seribu satu penggiringan opini pada satu tujuan pokok, yakni memberangus dakwah Islam dan mengucilkan pelakunya serta orang-orang yang berhubungan dengannya.

Aih, jikalau salah satu ayam yang terkena virus bukan berarti menyamakan asumsi bahwa semua ayam itu tanpa terkecuali terkena virus. Bukan begitu? Wallahu a’lam bis showwab.

Ditulis Hamba Allah yang fakir, Afandi Satya. K Mahasiswa Sastra Arab 2011 Universitas Indonesia


Mustofa Nahrawardaya: Waspadai Jebakan Operasi Intelijen di Dunia Maya dan FB

Kamis, 01 November 2012

Hidayatullah.com-- Sosok Basir, pria yang dikenal melalui Facebook yang akhirnya ikut menyeret remaja belia bernama David dalam kasus terorisme dalam penangkapan di Palmerah Jakarta hingga kini masih misterius. Bahkan polisipun hingga kini tidak mengemumkannya.

Menurut Mustofa B. Nahrawardaya, kasus ini merupakan cara baru rekayasa intelijen.Basir tercatat berkenalan melalui media sosial Facebook dengan Nanto, David dan Herman.

Keberadaan Basir menginap di rumah David awalnya karena ingin menumpang untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Namun, pada hari Sabtu (27/10/2012) Basir ditangkap bersama Nanto, David dan Herman di Palmerah Jakarta.

Ini adalah cara terjorok konspirasi Intelijen hitam dalam menjerumuskan umat Islam,” begitu jelas Mustofa B. Nahrawardaya kepada hidayatullah.com menganalisa fenomena ini, Kamis (01/11/2012).

Menurut pengamat intelijen yang juga dikenal aktivis pemuda Muhammadiyah ini Densus 88 dan BNPT sudah gagal dalam menerapkan deradikalisasi dengan pola konvensional. Pola konvensional maksudnya dengan melakukan intervensi ke pengajian-pengajian dan masjid-masjid.

Karena itu ia menggunakan cara teror untuk menebar ketakutan dengan pola baru. Tujuan dari pola non konvensional ini diharapkan bisa menghadirkan ketakutan di kalangan orang tua dan masyarakat dengan isu-isu syariat Islam.

“Jadi sekarang agen intelijen yang mengaku pejuang Islam buatan Densus ini cukup berkenalan di Facebook, mengidentifikasi rumah lalu menjebak dengan menaruh barang bukti, setelah itu menghilang sementara orang yang disinggahi rumahnya akan diciduk karena terkait jaringan terorisme..ini kotor sekali,” Jelas Mustofa.

Mustofa tegas mengingatkan sosok-sosok seperti Basir ini berkeliaran di media sosial seperti Facebook, Twitter dan sebagainya. Dunia media sosial menjadi cara paling murah merekrut orang untuk dituduh teroris. Dengan cara murah ini tetap bisa menghasilkan fitnah dengan hasil yang menggemparkan.

“Ya contohnya pada kasus David, anak hanya aktivis yang mencintai Islam tidak memiliki hubungan dengan jaringan teroris manapun, hanya karena kenal dengan Basir langsung asal dituduh teroris.”

Remaja Islam Harus Berhati-hati di Media Sosial

Mustofa dengan intonasi penuh kekhawatiran juga mengingatkan agar remaja Islam berhati-hati berkenalan dengan orang asing di dunia maya. Pasalnya saat ini semangat kebangkitan Islam itu sudah mulai tertanam di kalangan pemuda dan remaja.

“Remaja Islam yang sadar syariat Islam itu sudah banyak, namun kadang masih polos dengan ungkapan-ungkapan di dunia maya, ini harus hati-hatin” jelas Mustofa.

Memiliki semangat Islam itu baik namun harus tetap diiringi dengan ilmu. Semua itu bertujuan agar kita lebih bisa memilah dan berstrategi agar perjuangan Islam tidak ditunggangi operasi Inteligen.

“Jika baru berkenalan dengan orang asing yang berteriak-teriak Islam secara frontal di dunia maya, wajib kita berhati-hati sampai kita kenal betul siapa dia dan apa latar belakangnya. Jangan mau sembarangan diajak ketemu di dunia nyata,” tambah Mustofa.*


JAT: Intelijen Kembangkan Budaya "Takfiri" untuk Memecah Ormas Islam

Jum'at, 02 November 2012

Hidayatullah.com—Untuk menggembosi dan menyeret organisasi massa (ormas) Islam agar terjebak dalam isu terorisme saat ini ditengarai ada operasi intelijen yang menyusupkan agennya ke tubuh-tubuh organisasi massa (ormas) Islam. Pernyataan ini disampaikan pengurus Dewan Pimpinan Pusat Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Son Hadi. Menurut Son Hadi, operasi ini bertujuan untuk membangun perpecahan internal di dalam tubuh ormas-ormas Islam. Salah satu hal yang dikembangkan kalangan intelijen adalah budaya takfir (baca:mengkafirkan) sesama Muslim.

“Kelompok yang suka mentakfirkan sesama Muslim ini sengaja dibikin untuk memecah belah umat Islam, apalagi kapasitas ilmu mereka tidak mumpuni untuk menguasai kaidah takfir tersebut,” jelas Son Hadi kepada hidayatullah.com di kantor MUI Jakarta, Kamis (01/11/2012) kemarin.

Menurutnya, munculnya kelompok ini terjadi ketika adanya perbedaan pendapat mengenai metode dalam memperjuangkan Islam. Kelompok-kelompok yang memilih perjuangan Islam melalui jihad qital dan bersenjata cenderung mengkafirkan kepada kelompok yang memilih jalan dakwah tanpa bersenjata atau berdakwah dengan jalan damai.

Orang terdekat dengan Abubakar Ba’asyir ini mengakui, operasi intelijen seperti ini jelas sangat merugikan JAT itu sendiri. Son Hadi mengakui bahwa jihad adalah perintah Al -Qur’an hanya pelaksanaan jihad itu sendiri tidalah sembarangan. Karena harus memiliki syarat-syarat yang ketat dan tidak sembarangan.

Kemampuan ‘berjihad’ yang dimaksud menurut Son Hadi bukanlah kemampuan untuk meledakkan bom dan sejenisnya. Sementara kemampuan yang diyakini JAT adalah komitmen dalam beramal sholeh di tengah masyarakat.

Akhirnya banyak orang-orang yang ingin berjihad qital ini ingin melakukan pengeboman, namun mereka sering menafikan bahwa subsidi-subsidi bahan-bahan pengeboman tersebut bersumber dari intelijen itu sendiri. Inilah celah dan jebakannya,” jelas Son Hadi lagi.

Son Hadi juga mengakui, Ustad Abubakar Ba’asyir sendiri tidak pernah mengkomando jihad bersenjata di kawasan Indonesia.

Kita harus sadar betul, bahwa bahan-bahan peledak hingga senjata api semua itu milik aparat. Tidak mungkin ada orang sipil memiliki bahan-bahan itu kalau tidak ditunggangi aparat,” jelasnya lagi.

Son Hadi juga mengakui jika ormas JAT yang hingga hari ini menjadi bulan-bulanan Densus 88 atas tuduhan terorisme. Pihaknya bahkan tak kurang-kurang melakukan klarifikasi ke Divisi Humas Mabes Polri. Hanya masalahnya, menurut Son Hadi, pihak kepolisian banyak yang tidak menguasai permasalahan lapangan.

Suka atau tidak suka menurut Son Hadi, JAT memang akan selalu dibidik dengan tuduhan terorisme. Semua ini karena JAT adalah organisasi yang sudah dimasukkan Pentagon Amerika Serikat sebagai “organisasi teroris”.

Lebih-lebih, menurut Son Hadi, JAT yang didirikan oleh Abubakar Ba’asyir, adalah orang yang paling dibenci oleh Amerika Serikat.

“Semua ini permainan intelijen untuk merusak citra JAT. Juga untuk menghentikan dakwah JAT. La hawla wa la quwwata illa billah,” tambah Son Hadi. Ia menegaskan, tidak ada satupun kader JAT yang terlibat dalam isu-isu terorisme selain semua itu fitnah yang dibangun intelijen.*


Mulyo Wibisono: Isu Terorisme jadi Komoditas Mencari Subsidi Uang

Selasa, 30 Oktober 2012

Hidayatullah.com--Isu perang terhadap terorisme dari Datasemen Khusus (Densus) 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) rawan kebohongan dan mencurigakan. Pernyataan ini disampaikan oleh Mantan Komandan Satuan Inteligen BAIS, Laksamana Pertama TNI, Purnawirawan, Mulyo Wibisono.

Menurut Mulyo semua tuduhan BNPT mulai dari isu teroris di Rohis hingga terhadap HASMI bisa bagian dari rekayasa. Seharusnya menurut Mulyo, BNPT dan Densus 88 jangan terlalu cepat menempelkan kata 'teroris' kepada kelompok tertentu.

"Menuduh teroris itu tidak sederhana apa yang dilakukan Densus, inikan cuma rekayasa untuk membuat citra buruk terhadap Islam," jelasnya kepada hidayatullah.com, Senin (29/10/2012).

Mulyo juga berpendapat sikap satuan antiteror dinilai sangat berlebihan. Permasalahan di Poso hingga kasus jaringan kelompok Abu Hanifah tidak terlalu tepat jika dituduhkan terorisme.

"Mereka ini hanya pengganggu keamanan masyarakat saja. Jangan hanya mengganggu keamanan langsung dituduh teroris," tegas Mulyo.

Mulyo bahkan menyatakan temuan-temuan bom, senjata api dan sebagainya adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan. Karena itu, ia mencurigai ada permainan di mana isu terorisme menjadi 'komoditas' yang sangat laku untuk mencari 'subsidi uang' dari Amerika Serikat.

"Aksi teror itu hanya bisa dilakukan oleh satuan inteligen," jelas Mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis, (BAIS) ini.*


Belajar Akhlak dan Adab Kepada Rasulullah

[1] Amalan-Amalan Paling Utama
Dari Abu ‘Amr asy-Syaibani, dia berkata: Pemilik rumah ini -beliau mengisyaratkan dengan tangan menunjuk rumah Abdullah (Ibnu Mas’ud)- menuturkan kepadaku. Beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla?”. Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian berjihad di jalan Allah.” Beliau -Ibnu Mas’ud- berkata, “Beliau telah menuturkan kepadaku itu semua. Seandainya aku meminta tambahan lagi niscaya beliau juga akan menambahkannya kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 33)

[2] Berbakti Kepada Ibu dan Bapak
Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya. Kakeknya berkata, “Wahai Rasulullah! Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “Ayahmu. Kemudian kerabat yang terdekat dan seterusnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan al-Albani dalam al-Irwa’. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 34)

[3] Amalan Penebus Dosa
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, ada seorang lelaki datang menemui dirinya dan menceritakan, “Suatu ketika aku melamar seorang perempuan, akan tetapi dia tidak mau menikah denganku. Lalu ada orang selainku yang melamarnya dan dia pun mau menikah dengannya. Aku pun merasa cemburu kepadanya, hingga aku pun membunuhnya.Apakah aku masih bisa bertaubat?”. Beliau -Ibnu Abbas- bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?”. Maka beliau mengatakan, “Kalau begitu bertaubatlah kepada Allah ‘azza wa jalla dan dekatkanlah dirimu kepada-Nya sekuat kemampuanmu.” ‘Atha’ bin Yasar berkata: Aku pun berangkat kepada Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau bertanya tentang apakah ibunya masih hidup?”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla daripada berbakti kepada seorang ibu.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 34)

[4] Dosa Besar Yang Paling Besar
Dari Abu Bakrah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian, dosa besar yang paling besar?” Beliau mengulanginya sampai 3 kali. Mereka -para Sahabat- menjawab, “Tentu saja wahai Rasulullah!”. Maka beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau pun duduk setelah sebelumnya bersandar. Lalu beliau meneruskan, “Ketahuilah, demikian pula berbicara dusta.” Beliau terus mengulanginya sampai-sampai aku berkata, “Mudah-mudahan beliau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Ghayat al-Maram, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 37)

[5] Lebih Utama Daripada Berperang
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan: Ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin ikut berjihad. Maka beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Dia menjawab, “Iya.” Maka beliau bersabda, “Kalau begitu berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 39)

[6] Keutamaan Doa Anak Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Mayit akan diangkat derajatnya setelah kematiannya. Maka dia pun bertanya, “Wahai Rabbku! Apakah ini?”. Maka dijawab, “Anakmu telah memintakan ampunan untukmu.” (HR. Bukhari dalamal-Adab al-Mufrad, dinilai al-Albani sanadnya hasan, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 45)

[7] Amalan Yang Tidak Terputus Setelah Meninggal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apabila seorang hamba meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak salih yang mendoakan kebaikan bagi orang tuanya.” (HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa’, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 45)

[8] Jalan Menuju Surga
Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa suatu saat di tengah-tengah perjalanan ada seorang arab badui muncul dan bertanya kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kabarkan kepadaku apakah yang dapat mendekatkan diriku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka?”. Beliau pun menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, lalu kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam at-Targhib, lihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 48)
[9] Memuliakan Tetangga
Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku punya dua orang tetangga. Kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?”. Beliau menjawab, “Kepada orang yang lebih dekat pintunya denganmu di antara mereka berdua.” (HR. Bukhari, dinilai sahih al-Albani. LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 66)

[10] Berbagi Makanan Untuk Tetangga
Dari Ibnu az-Zubair, beliau berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bukanlah seorang mukmin sejati, orang yang senantiasa merasa kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 67)

[11] Berbuat Baik Kepada Teman
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik teman di sisi Allah ta’ala adalah yang paling berbuat baik kepada temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih al-Albani dalamash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 68)

[12] Tidak Mengganggu Tetangga
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak bisa merasa aman dari gangguannya.” (HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 70)

[13] Menyantuni Janda dan Fakir Miskin
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berusaha untuk menyantuni janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah, dan seperti orang yang rajin berpuasa di siang hari dan menegakkan sholat di malam hari.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 74)

[14] Budak Pun Harus Dimuliakan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang budak memiliki hak untuk diberikan makanan dan pakaian, dan tidak boleh dibebani pekerjaan yang dia tidak mampu untuk mengerjakannya.” (HR. Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam al-Irwa‘. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 91)

[15] Sedekah Yang Paling Utama
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan untuk bersedekah. Lalu ada seorang lelaki berkata, “Saya punya uang 1 dinar?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah dirimu sendiri.” Lalu dia berkata, “Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah istrimu.” Lalu dia berkata, “Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah pembantumu, kemudian perhatikanlah yang lain.” (HR. Nasa’i, dinilai hasan al-Albani dalam Shahih Abu Dawuddan al-Irwa’. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 92)

[16] Membalas Kebaikan Dengan Kebaikan
Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan dari orang lain maka balaslah kebaikannya. Apabila dia tidak memiliki sesuatu yang bisa untuk membalas kebaikannya, maka pujilah dia. Karena apabila dia telah memujinya itu merupakan bentuk syukur/ucapan terima kasih kepadanya. Dan apabila dia justru menyembunyikan hal itu, maka dia telah mengingkarinya. Barangsiapa yang berhias diri dengan sesuatu yang tidak dia miliki maka seolah-olah dia mengenakan dua lembar pakaian kedustaan.” (HR. Tirmidzi, dinilai sahih al-Albani dalam Takhrij at-Targhibdan ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 98)

[17] Termasuk Bentuk Syukur Kepada Allah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak pandai berterima kasih kepada sesama manusia.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 99)

[18] Menjadi Cermin Bagi Saudaranya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya. Apabila dia melihat padanya suatu aib/cacat, maka dia pun berusaha untuk memperbaikinya.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sanadnya hasan oleh al-Albani. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 106)

[19] Keutamaan Akhlak Mulia
Dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan melebihi akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 117-118)

[20] Hakikat Kekayaan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bukanlah kekayaan itu diukur dengan banyaknya perbendaharaan harta. Akan tetapi hakikat kekayaan adalah jiwa yang merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Takhrij al-Misykat. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 119-120)

[21] Sebab Yang Menjerumuskan Ke Dalam Neraka
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tahukah kalian apa yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam neraka?”. Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan, “Yaitu dua buah lubang: kemaluan dan mulut. Dan apakah yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surgaKetakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia.” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan al-Albani dalam Takhrij at-Targhib. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 123)

[22] Menghormati Yang Lebih Tua, Menyayangi Yang Lebih Muda
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang lebih muda di antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih tua maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinilai sahih al-Albani dalam Shahih at-Targhib. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 142)

[23] Bergaul dan Bersabar Menghadapi Gangguan Orang
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabarmenghadapi gangguan mereka lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar menghadapi gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai sahih al-Albani dalam ash-Shahihah. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrad, hal. 153-154)

[24] Menjaga Persatuan dan Persaudaraan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Janganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi. Jadilah kalian wahai hamba-hamba Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam.” (HR. Bukhari dan Muslim, dinilai sahih al-Albani dalam Ghayat al-Maram. LihatShahih al-Adab al-Mufrad, hal. 157)
Wallahu a’lam.

8.10.12

Pertobatan Seorang Rapper

Saya melihat agama telah menjadi komoditas bisnis!
SAYA dari keluarga Kristen. Sebagai seorang pendeta, ayah keras mendidik saya. Sudah biasa saya dihajar pakai ikat pinggang.

Tapi dari ayahlah saya mendapat tetesan “darah” seni. Ayah mahir memainkan berbagai alat musik. Sedangkan saya sangat suka musik rock. Bahkan saya sempat membuat band. Sebagai seorang vokalis, penghayatan terhadap lagu–lagu yang saya bawakan, ternyata berpengaruh kepada cara berpikir dan gaya hidup saya.

Saya akhirnya terseret masuk ke dunia musik underground, hingga seorang teman memberi saya sebuah buku berjudul “Peta Pemikiran Karl Marx”. Buku kecil berwarna merah itulah pintu awal pencarian jati diri saya. Dari buku ini saya diajari bahwa agama itu candu masyarakat.

Sikap anti agama saya makin kuat setelah membaca buku “Senja Kala Berhala dan Anti Krist” karya Friedrich Nietzhie.

Sekalipun anti agama, saya masih datang gereja. Kalau tidak, saya tidak dapat uang jajan dari Mama. He…he…

Sikap memilih menjadi atheis juga dilatari fakta pertikaian di internal gereja. Saya melihat agama telah menjadi komoditas bisnis. Pendeta-pendeta hanya menjadikan agama sebagai alat untuk mencari makan.

Dari kekecewaan itu, saya mulai mencari ruang baru dari dinamika pemikiran saya. Beberapa CD Public Enemy dan kutipan lagu Wake Up dari Rage Againts The Machine (RATM) menyentil perhatian saya.

Meskipun RATM bukan band Islam, namun kutipan syair lagu Wake Up (Bangun) seperti benar-benar membangunkan pencarian jawaban dari keresahan saya tentang Tuhan, keadilan dan dunia yang lebih baik.

Lagu yang menceritakan tentang pembunuhan Malcolm X tersebut membuat saya tertarik mengenal sosok Malcolm X. Rasa penasaran terhadap tokoh pejuang hak asasi manusia asal Amerika ini mendorong saya untuk mencari berbagai informasi mengenai kehidupan dia.

Saya belajar banyak dari dia. Dari Malcolm X kemudian saya mengenal Muhammad Ali dan Nabi Muhammad SAW.

Dari salah satu literatur Malcolm, ada satu kalimatnya kepada Muhammad Ali petinju legendaris Amerika yang membuat saya  terkesan. Ketika Muhammad Ali mengecam kaum kulit putih yang menindas Yahudi dan orang kulit hitam, Malcolm justru berkata, ''Di Makkah, saya lihat orang bermata coklat, biru, hitam serta berkulit putih, dan coklat semuanya duduk bersama.''

Kalimat yang mengungkapkan kekaguman Malcolm terhadap umat Islam tersebut, membuat saya semakin tertarik dengan Islam.

Suatu ketika saya duduk dengan seorang sahabat SMA yang juga sama-sama Rapper. Sahabat itu bertanya sederhana.

“Richard, kalau Lu doa kemana dulu; ke bapak, ke anak, apa ke roh kudus. Mana dulu yang denger?”

Pertanyaan itu semakin mengeraskan penolakan saya kepada relevansi kekristenan. Di sisi lain saya juga sadar gagasan sosialisme, komunisme hingga atheisme sendiri mulai absurd.

Rasa jenuh itu kemudian saya lampiaskan kepada seorang sahabat sesama anak band di komunitas underground, namanya Arif Saefulloh. Ia sosok yang tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim  kendati sedang manggung.

Kepada Arif saya mengutarakan niat saya untuk masuk Islam. Eh, bukan dukungan yang saya peroleh, justru larangan yang saya dapat. Arif tidak menginginkan keputusan saya masuk Islam lebih karena faktor emosional sesaat.

Saya tidak menyerah. Saya menemui teman-teman lainnya dari kalangan komunitas underground yang beragama Islam. Dengan bertempat di pinggir jalan yang berada di Kompleks Perumahan Taman Kartini, Bekasi, saya mengucapkan syahadat di hadapan teman-temannya. Peristiwa itu terjadi tahun 2002 dan yang menjadi saksi saya adalah teman-teman yang memakai baju Sepultura, Kurt Cobain, dan Metallica.* (Diceritakan langsung kepada Bambang S, wartawan Majalah Suara Hidayatullah)

5.10.12

Columbus Bukanlah Penjelajah Pertama Benua Amerika

Jika Anda mengunjungi Washington DC di Amerika, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Cherokee muslimah woman
Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku Cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam.

Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian wanita suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku Cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832.

Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku Cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali aksara Syllabary milik suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara alfabet. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab.

Bahkan, beberapa tulisan masyarakat Cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.

Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutup kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi.

Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta.
Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera.
Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya.

Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah? Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa:
”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. 

Semangat orang-orang Islam dan Cina disaat itu untuk mengenal lebih jauh tentang Bumi ini yang terdiri dari lautan dan daratan sebagai tempat tinggalnya sangatlah tinggi.

Selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah, Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah:
  1. Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957)
  2. Al Idrisi (meninggal tahun 1166)
  3. Ibn Battuta (meninggal tahun 1369)
  4. Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384)

Pelayaran dari Cordoba tahun 889 Masehi
Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi.

Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa di masa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Landed in America
Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

Pelayaran dari Delba, Palos, Spanyol tahun 900-an Masehi
Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Pelayaran dari Granada, Spanyol tahun 999 Masehi
Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.

Pelayaran dari Maroko, Afrika tahun 1291 Masehi
Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Pelayaran dari Timbuktu, Afrika tahun 1300-anMasehi
Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312) dan saudara dari Sultan, Mansa Kankan Musa (1312 – 1337) yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab.

Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517.

Piri Reis Map
Piri Reis Map dibanding peta modern, sangat akurat!

Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat!

Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika.

Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? Dua orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus yaitu kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

Dan mengapa hanya Columbus saja yang sampai saat ini dikenal sebagai penemu benua Amerika? Karena saat terjadi pengusiran kaum Yahudi dari Spanyol sebanyak 300.000 orang Yahudi oleh raja Ferdinand seorang Kristen yang taat, membuat orang-orang Yahudi menggalang dana untuk pelayaran Columbus dan berita ‘penemuan benua Amerika’ dikirim pertama kali oleh Christopher Columbus kepada kawan-kawannya orang Yahudi di Spanyol..!

Pelayaran Columbus ini nampaknya haus publikasi dan diperlukan untuk menciptakan legenda sesuai dengan ‘pesan sponsor’ Yahudi sang penyandang dana. Kisah selanjutnya kita tahu bahwa media massa dan publikasi dikuasai oleh orang-orang Yahudi yang bahkan dibenci oleh orang-orang seperti Henry Ford si raja mobil Amerika itu.

Maka tampak ada ketidak-jujuran dalam menuliskan fakta sejarah tentang penemuan benua Amerika. Penyelewengan sejarah oleh orang-orang Yahudi yang terjadi sejak pertama kali mereka bersama-sama orang Eropa menjejakkan kaki ke benua Amerika.

Dan tahukah anda? sebenarnya laksamana Zheng He atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama laksamana Cheng Ho adalah juga penemu benua Amerika pertama, sekitar 70 tahun sebelum Columbus?

Admiral Zheng He (Laksamana Cheng Ho)
Sekitar 70 tahun sebelum Columbus menancapkan benderanya di daratan Amerika, Laksamana Zheng He sudah lebih dulu datang ke sana.

Para peserta seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society di London beberapa waktu lalu dibuat terperangah. Adalah seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies dengan paparannya dan lantas mendapat perhatian besar.

Tampil penuh percaya diri, Menzies menjelaskan teorinya tentang pelayaran terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina, Laksamana Zheng He (kita mengenalnya dengan Ceng Ho).

Bersama bukti-bukti yang ditemukan dari catatan sejarah, dia lantas berkesimpulan bahwa pelaut serta navigator ulung dari masa dinasti Ming itu adalah penemu awal benua Amerika, dan bukannya Columbus.

Bahkan menurutnya, Zheng He ‘mengalahkan’ Columbus dengan rentang waktu sekitar 70 tahun. Apa yang dikemukakan Menzies tentu membuat kehebohan lantaran masyarakat dunia selama ini mengetahui bahwa Columbus-lah si penemu benua Amerika pada sekitar abad ke-15. Pernyataan Menzies ini dikuatkan dengan sejumlah bukti sejarah.

Adalah sebuah peta buatan masa sebelum Columbus memulai ekspedisinya lengkap dengan gambar benua Amerika serta sebuah peta astronomi milik Zheng He yang dosodorkannya sebagai barang bukti itu. Menzies menjadi sangat yakin setelah meneliti akurasi benda-benda bersejarah itu.

Perbandingan kapal layar Cheng Ho (layar kuning) dengan kapal layar Colombus (ditengah, layar merah)

”Laksamana Cheng Ho lah yang semestinya dianugerahi gelar sebagai penemu pertama benua Amerika,” ujarnya. Menzies melakukan kajian selama lebih dari 14 tahun. Ini termasuk penelitian peta-peta kuno, bukti artefak dan juga pengembangan dari teknologi astronomi modern seperti melalui program software Starry Night.

Dari bukti-bukti kunci yang bisa mengubah alur sejarah ini, Menzies mengatakan bahwa sebagian besar peta maupun tulisan navigasi Cina kuno bersumber pada masa pelayaran Laksamana Zheng He. Penjelajahannya hingga mencapai benua Amerika mengambil waktu antara tahun 1421 dan 1423. Sebelumnya armada kapal Zheng He berlayar menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan sampai ke Amerika Selatan.

Uraian astronomi pelayaran Zheng He kira-kira menyebut, pada larut malam saat terlihat bintang selatan sekitar tanggal 18 Maret 1421, lokasi berada di ujung selatan Amerika Selatan. Hal tersebut kemudian direkonstruksi ulang menggunakan software Starry Night dengan membandingkan peta pelayaran Zheng He.

“Saya memprogram Starry Night hingga masa di tahun 1421 serta bagian dunia yang diperkirakan pernah dilayari ekspedisi tersebut,” ungkap Menzies yang juga ahli navigasi dan mantan komandan kapal selam angkatan laut Inggris ini. Dari sini, dia akhirnya menemukan dua lokasi berbeda dari pelayaran ini berkat catatan astronomi (bintang) ekspedisi Zheng He.

Lantas terjadi pergerakan pada bintang-bintang ini, sesuai perputaran serta orientasi bumi di angkasa. Akibat perputaran bumi yang kurang sempurna membuat sumbu bumi seolah mengukir lingkaran di angkasa setiap 26 ribu tahun.

Fenomena ini, yang disebut presisi, berarti tiap titik kutub membidik bintang berbeda selama waktu berjalan. Menzies menggunakan software untuk merekonstruksi posisi bintang-bintang seperti pada masa tahun 1421.

“Kita sudah memiliki peta bintang Cina kuno namun masih membutuhkan penanggalan petanya,” kata Menzies.

Saat sedang bingung memikirkan masalah ini, tiba-tiba ditemukanlah pemecahannya.

“Dengan kemujuran luar biasa, salah satu dari tujuan yang mereka lalui, yakni antara Sumatra dan Dondra Head, Srilanka, mengarah ke barat.”

Bagian dari pelayaran tersebut rupanya sangat dekat dengan garis katulistiwa di Samudera Hindia.

Adapun Polaris, sang bintang utara, dan bintang selatan Canopus, yang dekat dengan lintang kutub selatan, tercantum dalam peta.

“Dari situ, kita berhasil menentukan arah dan letak Polaris. Sehingga selanjutnya kita bisa memastikan masa dari peta itu yakni tahun 1421, plus dan minus 30 tahun.”

Atas temuan tersebut, Phillip Sadler, pakar navigasi dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan perkiraan dengan menggunakan peta kuno berdasarkan posisi bintang amatlah dimungkinkan. Dia juga sepakat bahwa estimasi waktu 30 tahun, seperti dalam pandangan Menzies, juga masuk akal.

Selama ini, masyarakat dunia mengetahui kiprah Zheng He sebagai penjelajah ulung. Dia terlahir di Kunyang, kota yang berada di sebelah barat daya Propinsi Yunan, pada tahun 1371. Keluarganya yang bernama Ma, adalah bagian dari warga minoritas Semur.

Mereka berasal dari kawasan Asia Tengah serta menganut agama Islam. Ayah dan kakek Zheng He diketahui pernah mengadakan perjalanan haji ke Tanah Suci Makkah. Sementara Zheng He sendiri tumbuh besar dengan banyak mengadakan perjalanan ke sejumlah wilayah. Ia adalah Muslim yang taat.

Yunan adalah salah satu wilayah terakhir pertahanan bangsa Mongol, yang sudah ada jauh sebelum masa dinasti Ming. Pada saat pasukan Ming menguasai Yunan tahun 1382, Zheng He turut ditawan dan dibawa ke Nanjing. Ketika itu dia masih berusia 11 tahun.

Zheng He pun dijadikan sebagai pelayan putra mahkota yang nantinya menjadi kaisar bernama Yong Le. Nah kaisar inilah yang memberi nama Zheng He hingga akhirnya dia menjadi salah satu panglima laut paling termashyur di dunia dengan armada terbanyak di dunia sepanjang sejarah hingga saat ini dengan membawahi 317 kapal laut tiang tinggi! Hebat! (berbagai sumber/icc.wp.com)

Zheng He (Cheng Ho) Expedition Animation...

Chinese Treasure Fleet - Adventures of Zheng He...

*** IndoCropCircles.wordpress.com ***
 
Baca Juga:

Dahulu Kala, Bangsa Kita Pernah Menguasai 2/3 Bumi?

Misteri Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran...

Cetho Temple (Lat= -7.5957324; Lon= 111.1582518)
Sukuh Temple (Lat= -7.6273004; Lon= 111.1310756)
Penataran Temple (Lat= -8.01604; Lon= 112.2092324)

Oleh: Turangga Seta 

Turangga Seta adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pelestarian budaya yang ada di Nusantara, serta mempelajari dan memetakan kembali kebesaran Nusantara yang sampai saat ini hanya dianggap sebagai mitos belaka.

Dalam perjalanannya, kami banyak menemukan benda-benda peninggalan purbakala yang dapat dijadikan bukti dan acuan tentang ada tidaknya mitos itu.

Di sisi lain, kami juga banyak menemukan aplikasi kearifan lokal yang ternyata sanggup digunakan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan bencana alam. Aplikasi kearifan lokal itu sudah kami aplikasikan di berbagai daerah, salah satu bentuk aplikasi kearifan lokal yang sudah terdokumentasi dengan lengkap adalah pada saat prosesi kami di titik 45 semburan lumpur panas Lapindo Brantas.
Untuk yang berhubungan dengan sejarah Nusantara, kami berhasil menemukan bahwa:

Sejarah Nusantara tidak sekerdil sejarah yang tertulis di buku-buku pelajaran sejarah sekolah yang resmi atau literasi sejarah yang ada.
“Bahkan lebih dari itu, kami menemukan bukti tentang kebesaran leluhur Nusantara yang disekitar 10.000 tahun sebelum masehi sudah menguasai 2/3 bumi”
Data yang kami peroleh terdapat di beberapa relief dan prasasti yang dapat dilihat dan dimengerti oleh semua orang.

Selain itu kami juga berhasil memetakan dan mendokumentasikan lebih dari 20 jenis aksara purba asli Nusantara yang dapat dipakai untuk membaca prasasti dan rontal-rontal kuno.

Berhubungan dengan pencitraan sejarah sebagai mitos, kami juga berhasil menemukan bukti bahwa beberapa cerita mitos itu adalah benar adanya, bukan hanya sekedar cerita pengantar tidur atau celoteh dongeng keheroikan belaka (seperti keberadaan Kerajaan Hastina Pura, Kerajaan Ngamartalaya, Kerajaan Dahana Pura, Kerajaan Gilingwesi, dll.)

Kami juga berhasil memetakan periodesasi terciptanya bumi sampai ke titik akhir menjadi tiga:
  • Jaman Kali [Jaman Besar], dan setiap Jaman Kali kami bagi menjadi tujuh.
  • Jaman Kala [Jaman Sedang], dan 1 Jaman Kala kami bagi menjadi tiga
  • Mangsa Kala [Jaman Kecil], serta berhasil mengurutkan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara yang mayoritas dihilangkan dari sejarah resmi.

Kebesaran Nusantara di masa lalu sangat erat kaitannya dengan kebesaran tradisi yang pernah ada di Nusantara. Namun sayangnya kebesaran tradisi kita itu telah dihilangkan dengan masuknya ajaran-ajaran baru.

Bahkan ajaran-ajaran baru cenderung mem-vonis tradisi kuno menjadi animisme, dinamisme dan politeisme. Padahal ada beberapa teknologi terapan masa lalu yang sangat efektif dan menjadi kekuatan kehormatan dari kebesaran leluhur kita yang sebetulnya masih sangat relevan untuk digunakan oleh generasi kita sebagai pewaris teknologi tersebut, namun kita tidak pernah menyadarinya.

Sebagai contoh, dalam Kitab Negara Kertagama terdapat aturan bahwa setiap Adipati harus menghadap ke pusat kerajaan [Kerajaan Induk] setiap 35 hari sekali.

Diandaikan bila hal itu terjadi di era Kerajaan Majapahit, Adipati dari Kadipaten Magadha [sekarang Bandung] untuk mencapai ke Trowulan pasti butuh waktu lebih dari dua minggu. Karena pada masa itu belum ada jalan raya dan mayoritas daerah sepanjang perjalanan masih berupa hutan belantara, juga belum terdapat sarana transportasi modern seperti saat sekarang ini.

Belum lagi para Adipati yang memerintah di luar pulau Jawa, seperti Adipati dari Kadipaten Tamgaram [sekarang Lampung] atau Adipati dari Kadipaten Madagascar [pulau dekat benua Afrika], bagaimanakah dan apakah sarana transportasi mereka untuk menghadiri Pisowanan Agung setiap 35 hari sekali itu.

Untuk perbandingan, saat gempa besar melanda Padang ternyata bantuan yang lewat darat sampa lebih dari sebulan kemudian belum bisa merata ke daerah Padang Pariaman, hingga hanya bisa didistribusikan melalui transportasi udara. Bisa dibayangkan teknologi jenis apakah yang dipakai oleh para Adipati kita pada jaman Majapahit untuk berpindah tempat pada saat itu, di saat mereka masih harus menembus medan yang tidak ada jalannya yang penuh dengan hutan belantara, bahkan sebagian harus menyeberangi lautan yang luas, sementara mereka sendiri masih harus menjalankan roda pemerintahan di Kadipaten-nya masing-masing.
“Maka kamipun kemudian sadar bahwa ada tekanan dari beberapa negara besar yang mendorong supaya kita melupakan dan menyepelekan tradisi asli kita, karena hanya dengan tradisi warisan leluhur, maka kita bisa bangkit dari keterpurukan, juga semangat nasionalisme generasi muda akan menjadi bangkit lagi kalau kita berhasil menunjukkan ke mata dunia bahwa kita bukanlah Negara kecil”
Kita akan sanggup membantah setiap klaim dari Malaysia, karena terdapat juga bukti bahwa kita bangsa asli Nusantara bukanlah orang Melayu dan orang Melayu pada masa lalu hanyalah prajurit biasa dari wilayah yang menginduk kepada Nusantara di era kerajaan-kerajaan leluhur kita pada jaman dulu.

Untuk dampak positif ekonomi, dengan meng-ekspos kebesaran Nusantara akan ber-imbas ke bangkitnya peningkatan perekonomian di daerah yang candi-candinya menjadi bukti kebesaran Nusantara.

Candi-candi itu saat ini tersebar mulai dari Jawa Barat sampai ke Jawa Timur. Sangat disayangkan mencermati para arkeolog kita hanya menganggap cerita dalam relief-relief tersebut hanya sebatasan kisah Ramayana, Sudamala, dll., sehingga sejarah kisah aslinya tidak pernah dipelajari dan terungkap.

Sebagian dari materi ini pernah dibawakan pada:
  • Diskusi Panel: “Indonesia Asal Peradaban Dunia“, Sabtu Wage, 27 Maret 2010 di The Executive Club, Hotel Sultan – Jakarta
  • Seminar: “Penemuan Purbakala dan Spiritualitas Indonesia“, Sabtu Wage, 20 Februari 2010 di Cafe Domus Newseum Indonesia – Jakarta

Candi Cetho









Candi Sukuh






Candi Penataran















Sumber: http://indocropcircles.wordpress.com/2011/03/17/indonesia-pernah-menguasai-duapertiga-dunia/