12.8.11

Arab Ingin Hancurkan Batas Negara yang Dibuat Penjajah

Hidayatullah.com--Mantan juru bicara Al Ikhwan Al Muslimun mengajak para pemuda bergerak kembali untuk menghancurkan batas-batas negara yang dibuat para penjajah, demikian dilansir shorouknews.com (9/6)

Kamal Al Halbawi, mantan juru bicara gerakan Al Ikhwan Al Muslimun Mesir mengatakan, ”Saya memberi masukan kepada seluruh rakyat Arab yang kini melakukan demonstrasi untuk mengadakan revolusi dan transisi dari kedzaliman kerusakan menuju kestabilan. Saya menyarankan agar mereka menyatukan diri mulai saat ini dengan menetapkan rencana 5 atau 10 tahun untuk turun ke jalanan dengan yel-yel, 'Bangsa Arab ingin hilangkan perbatasan”.

Menurutnya, hal ini dilakukan karena perbatasan-perbatasan negara Arab saat ini dibuat oleh para penjajah, “Dan para penguasa kita adalah penjaga perbatasan yang didirikan oleh para penjajah.” Ide penyatuan dunia Arab ini sendiri juga merupakan ide Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Jamaluddin Al Afghani, serta Syeikh Hasan Al Banna.

Ide penyatuan Arab ini juga pernah dilontarkan oleh Mahmud Mahdi Aqif, mantan penasehat umum (mursyid am) Al Ikhwan, bahwa menurutnya tidak ada masalah jika Malaysia memimpin Mesir, sehingga beberapa pihak yang tidak senang menyatakan bahwa Mahmud Mahdi Aqif adalah orang yang tidak memiliki rasa nasionalisme. Namun Al Halbawi menjawab, ”Pada hakikatnya yang dimiliki laki-laki ini (Mahdi Aqif) lebih besar daripada nasionalisme.”

Al Halbawi juga menyatakan bahwa Al Ikhawan Al Muslimin sudah menjadi gerakan internasional, yang kini memiliki jaringan di 80 negara di dunia.*

9.8.11

Tidak Ada Ramadhan Bagi Muslim Uighur

http://mediaumat.com/headline-news/3020-tidak-ada-ramadhan-bagi-muslim-uighur.html
Monday, 08 August 2011 16:55

mediaumat.com- Di tengah penangkapan baru baru ini, pembatasan tentang ibadah puasa dan sholat di masjid-masjid, Muslim Uighur menderita di bawah episode terbaru dari tindakan represif pemerintah Cina terhadap etnis minoritas di wilayah barat laut Xinjiang.

"Jika ada tokoh agama membahas Ramadhan selama kegiatan keagamaan, atau mendorong orang untuk ambil bagian, maka mereka akan kehilangan lisensi mereka untuk berceramah," kata Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uighur Dunia yang berbasis di Munich, Eurasia Review pada Jumat, 5 Agustus.

"Kasus-kasus yang lebih serius akan menghasilkan penangkapan dengan tuduhan terlibat dalam aktivitas agama yang ilegal," katanya.

Sehari sebelum dimulainya bulan suci puasa bagi umat Islam Cina, setidaknya 11 orang tewas dalam serangkaian serangan di wilayah barat laut Xinjiang.

Pihak berwenang China mengutuk serangan terhadap etnis minoritas, setelah polisi China menembak mati dua orang Muslim hari Minggu lalu.

Serangan itu terjadi kurang dari dua minggu setelah 18 orang tewas dalam serangan di wilayah Xinjiang yang bergolak.

Setelah kerusuhan, lebih dari 100 orang Uighur ditahan oleh otoritas China.

Kebanyakan dari mereka yang ditahan sebagai tersangka itu merupakan warga muslim Islam yang menghadiri masjid dan istrinya yang mengenakan cadar, ungkap penduduk setempat.

Ibukota Xinjiang, Urumqi, pernah terjadi kekerasan mematikan pada Juli 2009 ketika minoritas Muslim Uighur menentang atas pembatasan Cina di wilayah tersebut.

Pada hari-hari berikutnya, massa etnis Han marah turun ke jalan membalas dendam. Ini merupakan kekerasan etnis terburuk yang pernah terjadi di China dalam beberapa dekade terakhir.

Kerusuhan tersebut mengakibatkan hampir 200 orang tewas dan 1.700 orang terluka, menurut angka pemerintah. Tapi Uighur, minoritas yang berbahasa Turki Muslim, mengatakan jumlah korban jauh lebih tinggi dan terutama dari komunitas mereka.

Pihak berwenang Cina telah menghukum sekitar 200 orang, sebagian besar etnis Uighur didakwa terlibat kerusuhan dan dijatuhi hukuman 26 tahun hingga sebagian dari mereka dijatuhi hukuman mati.

Tidak Puasa

Beijing menerapkan pembatasan terhadap Muslim Cina seiring dimulainya bulan suci Ramadhan.

Adapun bagi aparat pemerintah yang muslim di seluruh Xinjiang, pemerintah memaksa mereka untuk menandatangani "surat tanggung jawab" yang berisi perjanjian untuk tidak berpuasa, sholat tarawih, atau kegiatan keagamaan lainnya.

"Puasa selama bulan Ramadhan adalah kebiasaan etnik tradisional, dan mereka diperbolehkan untuk melakukan itu," kata seorang karyawan yang menjawab telepon di kantor lokal pemerintah daerah panitia di ibukota wilayah Urumqi mengkonfirmasikan pelarangan di bulan Ramadhan.

"Tapi mereka tidak diperbolehkan untuk mengadakan kegiatan keagamaan selama Ramadhan," tambahnya.

"Anggota Partai tidak diperbolehkan untuk berpuasa selama Ramadhan, dan dilarang juga bagi PNS."

Adapun perusahaan swasta, karyawan Muslim Uighur ditawarkan makan siang selama jam puasa.

Siapapun yang menolak untuk makan bisa kehilangan bonus tahunan mereka, atau bahkan pekerjaan mereka, Raxit menambahkan.

Pemerintah juga menargetkan sekolah Islam, menyediakan mereka dengan makan siang gratis selama bulan puasa.

Seorang warga Uighur Beijing mengatakan siswa di bawah 18 tahun dilarang puasa selama bulan Ramadhan. Selain itu, kampanye pemerintah memaksa restoran di wilayah mayoritas Muslim untuk tetap buka sepanjang hari.

Lebih banyak pembatasan juga dikenakan pada orang yang mencoba untuk menghadiri shalat di masjid-masjid.

Setiap orang menghadiri sholat jamaah harus mendaftar dengan kartu identitas nasional mereka, ia menambahkan.

"Mereka harus mendaftar," katanya.

"[Setelah sholat] mereka tidak diizinkan untuk [berkumpul dan] berbicara satu sama lain."

Di bulan Ramadhan, umat Islam dewasa menjauhkan diri dari makanan, merokok, minum, dan seks antara fajar dan matahari terbenam.

Yang sakit dan mereka yang bepergian dikecualikan dari puasa terutama jika menimbulkan risiko kesehatan.

Muslim mendedikasikan waktu mereka selama bulan suci untuk lebih dekat dengan Allah melalui doa, menahan diri dan perbuatan baik. []onislam/kh

3.8.11

Da’wah Penghambaan Kepada Allah Semata Dan Menjauhi Semua Thaghut

Dalam salah satu tulisannya, Sayyid Qutb rahimahullah menulis sebagai berikut:

“Da'wah Islam yang dilakukan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم hanyalah merupakan mata rantai terakhir dari serentetan da'wah, yang panjang, yang menyeru kepada Islam, yang dilakukan oleh serombongan para Rasul yang mulia ‘alaihimus-salaam. Sepanjang sejarah manusia, tujuan da'wah itu hanya satu saja. Yaitu: mengenalkan manusia kepada Ilah mereka yang satu, Ilah mereka yang sesungguhnya, menegaskan bahwa mereka adalah hamba Ilah mereka yang satu, dan menghilangkan ke-ilah-an makhluk.

Selain dari beberapa gelintir manusia pada saat-saat tertentu dalam sejarah, manusia tidak pernah mengingkari prinsip ketuhanan, atau menolak adanya Ilah sama sekali. Hanya mereka tersalah dalam mengenal hakekat Ilah mereka yang hak itu. Atau mereka perserikatkan Allah سبحانه و تعالى dengan suatu ilah yang lain, baik dalam bentuk kepercayaan atau peribadatan ( الاعتقاد و العبادة), maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan (الحاكمية و الإتباع ). Kedua bentuk ini adalah sama saja syiriknya, karena keduanya mengeluarkan manusia dari agama Allah سبحانه و تعالى , sebagaimana yang telah mereka kenal dari tangan setiap Rasul. Kemudian manusia itu mengingkari Rasul kalau masa telah berjalan agak lama. Manusia kembali kepada kejahiliyahan yang tadinya Rasul itu telah mengeluarkan mereka dari padanya. Manusia kembali mempersekutukan Allah سبحانه و تعالى sekali lagi. Hal ini terjadi baik dalam kepercayaan dan peribadatan, baik dalam hal kepengikutan dan kepenguasaan, mau­pun dalam kedua hal itu sekaligus.” (Buku “Petunjuk Jalan” Sayyid Qutb- Media Da’wah- hlm 66)

Jelas sekali sebagaimana ditulis oleh Sayyid Qutb di atas bahwa Sepanjang sejarah manusia, tujuan da'wah itu hanya satu saja. Yaitu: mengenalkan manusia kepada Ilah mereka yang satu, Ilah mereka yang sesungguhnya, menegaskan bahwa mereka adalah hamba Ilah mereka yang satu, dan menghilangkan ke-ilah-an makhluk.

Tujuan da’wah seperti ditegaskan beliau di atas sangat sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an dimana Allah سبحانه و تعالى menegaskan bahwa para Nabi dan Rasul Allah semua menyerukan kaumnya masing-masing pesan abadi yang serupa:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu".(QS An-Nahl 36)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ أَنْ لا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah.” (QS Hud 25-26)

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا مُفْتَرُونَ

“Dan kepada kaum Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.” (QS Hud 50)

Inilah pesan sepanjang zaman yang menjadi inti da’wah Islam. Yaitu mengajak setiap manusia untuk memfokuskan ibadah hanya kepada Allah سبحانه و تعالى seraya meninggalkan berbagai ilah atau thaghut yang merupakan musuh para Nabiyullah ‘alaihimussalam. Demikianlah yang diungkapkan Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam kepada kaumnya:

قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأقْدَمُونَ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلا رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam.” (QS Asy-Syuara 75-77)

Selanjutnya Sayyid Qutb menulis: “Selain dari beberapa gelintir manusia pada saat-saat tertentu dalam sejarah, manusia tidak pernah mengingkari prinsip ketuhanan, atau menolak adanya Ilah sama sekali. Hanya mereka tersalah dalam mengenal hakekat Ilah mereka yang hak itu.” Menurutnya, manusia pada umumnya tidak mengingkari prinsip ketuhanan atau menolak adanya ilah sama sekali. Artinya, sekedar mengaku ber-ilah bukanlah hal yang istimewa, sebab pada umumnya manusia memang mengakui adanya ilah bagi mereka. Tetapi mereka sering tersalah di dalam mengenal, memahami dan memuliakan ilah yang hak itu.

Malah lebih lanjut beliau menulis: “Atau mereka perserikatkan Allah سبحانه و تعالى dengan suatu ilah yang lain, baik dalam bentuk kepercayaan atau peribadatan ( الاعتقاد و العبادة), maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan (الحاكمية و الإتباع ).” Sering pula terjadi bahwa manusia memperserikatkan Allah سبحانه و تعالى dengan suatu atau beberapa ilah lainnya. Artinya manusia menjadikan bersama Allah سبحانه و تعالى partner yang disetarakan, disejajarkan atau disandingkan dengan Allah سبحانه و تعالى Dzat yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Dzat yang tidak bisa diserupakan dengan apapun dan siapapun. Dzat yang menjadi tempat bergantung segenap makhluk di langit maupun di bumi dan semua yang ada di antara keduanya. Dan sialnya lagi, manusia menyekutukan Allah سبحانه و تعالى bukan saja dalam bentuk kepercayaan atau peribadatan ( الاعتقاد و العبادة), yang mana hal ini sudah sangat diketahui dan diwaspadai oleh banyak muslim sebagai suatu dosa besar yang tidak bakal bisa diampuni Allah سبحانه و تعالى.

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ

لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisa 116)

Sudah relatif banyak muslim yang faham bahwa dalam hal keyakinan (di dalam hati) atau peribadatan (seperti sholat atau bersujud) dia mestilah mengesakan Allah سبحانه و تعالى semata. Allah سبحانه و تعالى tidak mereka dua-kan, tiga-kan atau lebih di dalam hatinya. Dia tahu itu adalah salah satu bentuk dosa tak terampuni, yakni syirik. Dia juga tahu bahwa jika dia ruku atau sujud di hadapan sesuatu atau seseorang selain Allah سبحانه و تعالى berarti itu merupakan bentuk dosa tak terampuni, yakni syirik. Setiap muslim –pada umumnya- sadar dan waspada untuk tidak mempartnerkan Allah سبحانه و تعالى dalam aspek keyakinan dan peribadatan. Ini sudah jelas.

Namun Sayyid Qutb kemudian memperingatkan kita bahwa dosa mempersekutukan Allah سبحانه و تعالى tidak hanya terjadi dalam aspek keyakinan dan peribadatan. Ia menulis: “...maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan (الحاكمية و الإتباع ).” Jadi, juga termasuk dosa tak terampuni –yakni syirik- bila seorang muslim men-dua-kan atau lebih Allah سبحانه و تعالى dalam aspek kepenguasaan dan kepengikutan. Artinya, bila ada seorang yang mengaku muslim tetapi ia rela atas kepenguasaan fihak selain Allah سبحانه و تعالى maka ia telah terlibat dalam salah satu bentuk dosa tak terampuni, yakni syirik. Begitu pula, bila ada seorang yang mengaku muslim namun rela menyerahkan kepengikutan atau ketaatannya kepada fihak selain Allah سبحانه و تعالى berarti ia telah terlibat dalam salah satu bentuk dosa tak terampuni, yakni syirik.

Sehingga di bagian lain tulisannya, Sayyid Qutb menulis: “Inilah bentuk da'wah yang menyeru kepada Allah sepanjang perputaran sejarah manusia. Tujuannya adalah "Islam". Atau penyerahan. Penyerahan hamba kepada Rabb hamba itu. Melarang mereka untuk menyembah hamba (manusia) yang lain dan menyuruh mereka untuk hanya menyembah Allah saja. Mengeluarkan manusia dari lingkaran kekuasaan hamba dan memasukkan mereka kepada lingkaran Allah dalam hal kepenguasaan, hukum, nilai dan tradisi. Dalam segala segi persoalan kehidupan. Tentang persoalan inilah Islam datang dengan perantaraan Muhammad صلى الله عليه و سلم . Sebagaimana dahulunya Islam telah datang di tangan para Rasul yang mulia Islam datang untuk mengembalikan manusia kepada penguasaan Allah.

Kekuasaan yang mengatur hidup manusia haruslah kekuasaan yang mengatur adanya manusia itu. Manusia tidak boleh menyeleweng dan mengadakan sistim sendiri, kekuasaan sendiri, kebijaksanaan sendiri, lain dari sistim, kekuasaan dan kebijaksanaan (Allah) Yang telah mengatur seluruh alam semesta. Dia (Allah) yang bahkan telah mengatur adanya manusia itu sendiri dalam kehidupan mereka yang di luar kehendak mereka. Manusia tunduk kepada undang-undang fitri yang telah dibuat Rabb dalam penciptaan dan pertumbuhan mereka, dalam sehat-sakitnya mereka, dan da­lam hidup-matinya mereka. Sebagaimana halnya manusia itu harus tunduk kepada undang-undang ini dalam persatuan sosial mereka dan kepada akibat yang mereka derita sebagai hasil kebebasan gerakan mereka sendiri. Mereka tidak sanggup merubah sunnatullah dalam hal peraturan alam-semesta yang me­ngatur alam semesta ini dan tindak-tanduknya.” (Buku “Petunjuk Jalan” Sayyid Qutb- Media Da’wah- hlm 67)

Berdasarkan itu, maka sepatutnya setiap manusia memeluk dienullah Al-Islam, menerima syariat Allah سبحانه و تعالى dan tunduk kepada hukum Al-Qur’an bila ia ingin menjalani hidup yang selaras antara aspek fitri dirinya yang tunduk kepada sunnatullah aturan Allah سبحانه و تعالى yang berlaku di alam semesta, dengan aspek iradi (kehendak) yang membebaskan dirinya memilih antara menjadi mu’min taat atau kafir ingkar kepada Allah سبحانه و تعالى Rabb semesta alam. Bila ia memilih menjadi mu’min taat berarti ia bakal menjalani kehidupan yang selaras dan serasi dengan gerak alam dan gerak fisik dirinya. Bila ia memilih menjadi kafir yang ingkar kepada Allah سبحانه و تعالى , maka ia menjalani kehidupan yang kontradiktif dengan gerak fisik dirinya dan dengan gerak alam yang melingkupinya.

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah (Al-Islam), padahal kepada-Nya-lah “aslama” (berserah diri) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS Ali Imran 83)

Oleh karena itu Sayyid Qutb selanjutnya menulis: “Tetapi faham jahiliyah yang berdasarkan berkuasanya manusia atas manusia, dan dengan begitu telah menyeleweng dari wujud adanya alam semesta dan bertentangan antara sistim segi iradi dan segi fitri dari kehidupan manusia, maka faham jahiliyah seperti inilah yang telah dihadapi oleh setiap Rasul yang menyeru kepada Islam, terhadap penyerahan diri kepada Allah saja. Faham ini pulalah yang telah dihadapi Rasulullah صلى الله عليه و سلم ketika beliau berda'wah.” (Buku “Petunjuk Jalan” Sayyid Qutb- Media Da’wah- hlm 67)

Kutipan paragraf buku Petunjuk Jalan di atas menegaskan bahwa setiap Rasul yang menyeru kepada Islam selalu berhadapan dengan “faham jahiliyah yang berdasarkan berkuasanya manusia atas manusia”. Setiap Nabi dan Rasul yang menyeru manusia agar hanya menghamba kepada Allah سبحانه و تعالى serta menjauhi segenap ilah dan thaghut senantiasa bertolak-belakang dengan seruan jahiliyah apapun yang pada intinya berdasarkan penghambaan manusia atas sesama manusia lainnya. Apapun nama seruan atau faham jahiliyah tersebut.

Oleh karena itu kita dapati dewasa ini kaum muslimin yang peduli menegakkan tauhid secara murni dan konsekuen tidak dapat menerima berbagai faham dan ideologi bikinan manusia, apapun nama dan bentuknya. Sebab setiap faham dan ideologi selain Islam pastilah bukan dari Allah سبحانه و تعالى , sehingga di dalamnya mesti mengandung keharusan mengakui berkuasanya manusia atas manusia lainnya. Misalnya faham demokrasi, di dalamnya ada segelintir orang yang diberikan wewenang serta kekuasaan untuk menetapkan hukum dan perundang-undangan agar diberlakukan dan wajib ditaati oleh sekian banyak manusia di luar mereka yang disebut rakyat kebanyakan. Padahal segelintir orang tersebut tidak menetapkan hukum dan perundang-undangan berlandasakan hukum tertinggi dan tanpa cacat, yakni hukum Allah سبحانه و تعالى . Mereka wajib dan hanya boleh menetapkan hukum dan perundang-undangan di dalam bingkai faham dan ideologi bikinan manusia yang disebut Konstitusi atau Nasionalisme.

Berarti sekian banyak manusia (baca: rakyat) tersebut diwajibkan mengakui kekuasaan segelintir manusia atas diri mereka semua. Inilah hakekat jahiliyah. Berarti segelintir manusia tadi telah memainkan peran sebagai Rabb selain Allah سبحانه و تعالى . Sebab di dalam Islam, hak menetapkan hukum, menetapkan mana yang halal dan mana yang haram hanyalah milik Allah سبحانه و تعالى .

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ

“…menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…” (QS. Al An’am 57)

Sedangkan rakyat kebanyakan tersebut berarti telah menyerahkan kekuasaan dan ketaatan mereka kepada fihak selain Allah سبحانه و تعالى . Dan itu berarti mereka telah memilih untuk meninggikan hukum selain hukum Allah سبحانه و تعالى . Padahal di dalam Al-Qur’an Allah سبحانه و تعالى hanya menawarkan dua pilihan saja dalam urusan berhukum. Yakni hukum Allah سبحانه و تعالى atau hukum jahiliyah.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah 50)

Dan begitu rakyat menolak untuk mengutamakan hukum Allah سبحانه و تعالى alias menerima hukum jahiliyah, maka Allah سبحانه و تعالى segera memvonis mereka telah bertahkim kepada hukum thaghut, padahal orang-orang yang mengaku beriman telah diperintahkan oleh Allah سبحانه و تعالى untuk mengingkari thaghut, jangan hendaknya meninggikan, memuliakan apalagi meng-ilahkan thaghut...!

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ

يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisa 60)

Kemudian yang membuat kita menjadi sangat prihatin melihat keadaan ini ialah karena Sayyid Qutb menyatakan: “Selain dari beberapa gelintir manusia pada saat-saat tertentu dalam sejarah, manusia tidak pernah mengingkari prinsip ketuhanan, atau menolak adanya Ilah sama sekali. Hanya mereka tersalah dalam mengenal hakekat Ilah mereka yang hak itu. Atau mereka perserikatkan Allah سبحانه و تعالى dengan suatu ilah yang lain, baik dalam bentuk kepercayaan atau peribadatan ( الاعتقاد و العبادة), maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan (الحاكمية و الإتباع ). Kedua bentuk ini adalah sama saja syiriknya, karena keduanya mengeluarkan manusia dari agama Allah سبحانه و تعالى , sebagaimana yang telah mereka kenal dari tangan setiap Rasul.” (Buku “Petunjuk Jalan” Sayyid Qutb- Media Da’wah- hlm 66)

Baik seseorang mempersekutukan Allah سبحانه و تعالى dalam bentuk kepercayaan dan peribadatan maupun dalam bentuk kepenguasaan dan kepengikutan, maka kedua bentuk ini adalah sama saja syiriknya. Na’udzubillahi mindzaalika...!

Ya Allah, jadikanlah kami sebagaimana para pemuda Kahfi yang menyerukan dan istiqomah dengan seruan lantang kalimat al-haq sebagai berikut:

رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

"Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran".(QS Al-Kahfi 14)

Ambil Islam Seluruhnya Atau Tinggalkan Sama Sekali

Oleh: Sayyid Quthb

Setiap sistem mempunyai falsafah dan gagasannya tentang kehidupan. Setiap sistem mempunyai masalah-masalah yang timbul dari penerapannya dan mempunyai persoalan-persoalan yang sesuai dengan watak dan pengaruhnya di alam nyata. Demikian pula setiap sistem mempunyai penyelesaian-penyelesaian untuk menghadapi persoalan dan masalah yang timbul dari watak dan metodenya.

Jadi tidak logis, dan juga tidak adil, kalau dari suatu sistem tertentu diminta penyelesaian dari masalah-masalah yang tidak ditimbulkannya sendiri, tetapi ditimbulkan oleh suatu sistem lain yang berbeda watak dan metodenya dari sistem itu.

Logika yang rasional akan berpendapat: Siapa yang bermaksud minta pendapat suatu sistem tertentu dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, maka sistem ini harus dilaksanakan terlebih dahulu dalam kenyataan hidup. Setelah itu baru dilihat apakah masalah-masalah itu masih ada atau menghilang, atau berubah bentuk dan unsurnya. Hanya di saat inilah kita mungkin meminta pendapat sistem ini mengenai persoalan-persoalan yang timbul, sewaktu sudah pelaksanaannya.

Islam adalah suatu sistem kemasyarakatan yang lengkap, yang unsur-unsurnya saling berkaitan dan saling mendukung. Sistem ini berbeda wataknya, gagasannya tentang kehidupan dan cara-cara pelaksanaannya dari sistem-sistem Barat, dan dari sistem yang kita pakai sekarang ini. Perbedaan ini adalah perbedaan pokok dan menyeluruh. Sudah pasti bahwa sistem Islam itu tidak ikut serta dalam menimbulkan persoalan-persoalan yang terdapat dalam masyarakat sekarang ini. Persoalan-persoalan itu timbul dari watak sistem-sistem yang dilaksanakan dalam masyarakat dan timbul karena dijauhkannya Islam dari lapangan kehidupan.

Tetapi yang aneh setelah itu, adalah bahwa Islam banyak sekali diminta pendapat mengenai persoalan-persoalan itu. Islam diminta untuk mengemukakan penyelesaiannya. Ia diminta untuk mengeluarkan pendapat tentang masalah yang tidak ditimbulkannya. Heran sekali kenapa Islam diminta pendapatnya, dalam suatu negara di mana sistem Islam itu tidak dilaksanakan, mengenai masalah-masalah seperti Wanita dan Parlemen, Wanita dan Kerja, Wanita dan Pergaulan Bebas, Masalah Seks Para Pemuda dan lain-lain sebagainya. Orang-orang yang minta agar Islam mengeluarkan pendapatnya dalam masalah ini adalah orang-orang yang tidak suka kalau Islam itu memerintah, malah mereka takut sekali untuk membayangkan saat kalau-kalau pemerintah Islam itu berdiri.

Dan yang lebih aneh lagi daripada pertanyaan-pertanyaan itu adalah jawaban-jawaban yang diberikan para ulama Islam, dan kesediaan mereka untuk ikut serta dengan para penanya itu dalam perdebatan tentang pendapat Islam dan hukum Islam, dalam perincian-perincian masalah seperti itu, dalam membahas persoalan-persoalan seperti itu, dalam suatu negara yang tidak diperintah oleh Islam dan sistem Islam tidak dilaksanakan.

Apakah urusan Islam sekarang ini dengan masuk tidaknya wanita ke dalam parlemen? Apakah urusan Islam dengan masalah wanita dan pemuda bergaul bebas atau tidak? Apakah urusan Islam dengan masalah apakah wanita boleh bekerja di luaran atau tidak? Apa hubungan Islam dengan suatu persoalan dan persoalan-persoalan yang dipunyai sistem-sistem yang dilaksanakan dalam masyarakat ini, yang tidak percaya kepada Islam, dan tidak suka kepada pemerintah Islam?

Kenapa masalah-masalah perincian ini diminta untuk disesuaikan dengan hukum Islam, padahal sistem Islam itu sebagai keseluruhan diusir dari pemerintahan, diusir dari sistem kemasyarakatan, diusir dari perundang-undangan negara dan diusir dari kehidupan bangsa?

Islam adalah suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi-bagi. Jadi Islam dapat diambil sebagai suatu keseluruhan dan dapat pula ditinggalkan sebagai suatu keseluruhan. Tetapi kalau Islam diminta untuk mengeluarkan pendapat dalam urusan yang kecil-kecil, tetapi sama sekali tidak diperhatikan dalam masalah prinsip yang besar-besar yang menjadi dasar kehidupan dan masyarakat, maka masalah-masalah kecil seperti ini tidak boleh diterima oleh seorang Islam, jangankan oleh seorang ulama, oleh umat pun tidak boleh.

Jawaban yang harus diberikan kepada setiap orang yang meminta pendapat tentang suatu persoalan perincian dan masalah-masalah yang terdapat pada masyarakat-masyarakat yang tidak percaya kepada agama Islam dan tidak mengakui hukum Islam, adalah sebagai berikut

Pertama-tama jadikan Islam memerintah seluruh kehidupan. Kemudian setelah itu baru diminta pendapat Islam tentang persoalan-persoalan yang ditimbulkan Islam itu sendiri, bukan yang ditimbulkan suatu sistem lain yang bertentangan dengan Islam.

Islam mendidik manusia dengan suatu pendidikan tertentu, dan memerintah manusia dengan suatu hukum tertentu, mengatur masalah-masalah mereka atas dasar-dasar tertentu, menciptakan unsur-unsur kemasyarakatan, perekonomian dan perasaan tertentu. Jadi yang perlu diupayakan adalah:
  1. Laksanakanlah Islam itu sebagai suatu keseluruhan, dalam sistem hukum dan pemerintahan, dalam dasar-dasar perundang-undangan dan dalam prinsip-prinsip pendidikan. Baru setelah itu kita dapat melihat apakah masalah-masalah yang ditanyakan itu masih ada dalam masyarakat, atau menghilang dengan sendirinya. Tetapi sebelum hal ini dilakukan, apa hubungan Islam dengannya, dengan semua masalah yang tidak akan pernah dikenal oleh suatu masyarakat Islam yang benar?
  2. Ciptakanlah masyarakat Islam yang diperintah oleh hukum Islam dan prinsip-prinsip Islam, didiklah wanita dan pemuda dengan pendidikan Islam yang sebenarnya, di rumah, di sekolah, dalam masyarakat, dan ciptakanlah jaminan-jaminan kehidupan yang telah ditentukan Islam untuk semua orang, realisasikan keadilan Islam yang telah diwajibkannya untuk semua orang. Baru setelah ini kita bertanya kepada para wanita: Apakah ia masih ingin untuk ikut dalam parlemen, atau ia tidak merasa perlu lagi untuk mencoba masuk parlemen itu karena jaminan-jaminan yang ada telah cukup? Tanyakan kepada wanita-wanita itu: Apakah ia masih ingin untuk bekerja di kantor-kantor pemerintah? Ia tidak akan ingin bekerja, karena kepentingan-kepentingan kehidupannya tidak memerlukannya lagi. Tanyakanlah kepadanya: Apakah ia ingin untuk bergaul bebas dengan laki-laki, untuk menghias diri dan memperlihatkan bagian-bagian badan, atau apakah pendidikannya di waktu itu akan memeliharanya dari naluri-naluri kebinatangan, dari hawa nafsu kebinatangan, dan perasaannya akan menyerunya untuk bertindak dengan penuh tata kesopanan, karena ia merasa malu kepada Allah?
Pada saat-saat tertentu ada orang-orang yang bertanya: Apakah kita akan memotong tangan ribuan pencuri setiap tahun demi untuk melaksanakan hukum Allah?

Orang-orang ini juga melakukan kesalahan yang sama. Sedangkan orang-orang yang menjawabnya dengan fiqh Islam, telah melakukan dua macam kesalahan sekaligus.

Ribuan pencuri yang terdapat setiap tahun bukanlah akibat dari masyarakat Islam, dan juga bukan dari sistem Islam. Ia merupakan hasil dari suatu masyarakat lain yang telah mengusir Islam dari kehidupannya, dan melaksanakan suatu sistem kemasyarakatan lain yang tidak dikenal oleh Islam. Para pencuri itu adalah produk dari suatu masyarakat yang membolehkan adanya orang-orang lapar dan miskin, tanpa mengemukakan penyelesaian dan masalah yang mereka hadapi, suatu masyarakat yang tidak menyediakan makanan yang cukup untuk jutaan orang, tidak mendidik jiwa kemanusiaan, dan tidak menghubungkan seluruh kehidupan dengan Allah dan juga tidak dengan syari’at Allah.

Sedangkan masyarakat Islam adalah suatu masyarakat lain: suatu masyarakat di mana setiap individu di dalamnya dijamin rezekinya, baik yang bekerja atau yang menganggur, baik yang kuat maupun yang lemah, baik yang sehat maupun yang sakit. Suatu masyarakat yang setiap tahunnya mengambil pukul rata seperduapuluh dari modal, bukan dari keuntungan, untuk kepentingan perbendaharaan negara. Dan setelah itu diambilnya lagi, tanpa ikatan dan tanpa syarat, semua uang yang diperlukan negara untuk memelihara masyarakat dari penyakit-penyakit.

Jadi laksanakanlah sistem itu terlebih dahulu. Setelah itu baru dilihat, masih berapa orangkah yang masih memerlukan pertolongan. Berapa orang pencurikah yang masih mau melakukan pencurian, sedangkan perutnya dipenuhi oleh makanan dan hatinya dipenuhi oleh keimanan.

Demikian pula ada di antara orang yang bertanya kepada Anda tentang masalah seks di kalangan pemuda, kalau mereka mengikuti ajaran-ajaran Islam.

Orang-orang ini melihat kehidupan pemuda-pemuda yang hidup dalam suatu masyarakat yang bukan Islam. Segala yang terdapat di sana merangsang naluri mereka. Segala yang terdapat di sana membangkitkan syahwat mereka. Lalu mereka meminta pendapat Islam tentang masalah-masalah yang dihadapi pemuda-pemuda ini.

Dalam masyarakat Islam tidak terdapat pemudi-pemudi yang berbaju mini atau bertelanjang, wanita-wanita yang suka menggoda orang lain atau digoda, yang berkeliaran di setiap tempat, menyebarluaskan fitnah dan kekacauan, dan semuanya itu untuk keuntungan setan. Dalam masyarakat Islam tidak terdapat gambar-gambar telanjang, film-film cabul dan nyanyian cabul. Dalam masyarakat Islam tidak terdapat koran yang menyiarkan gambar-gambar telanjang, kata-kata yang cabul dan lelucon yang cabul, yang dapat dijumpai di setiap tempat. Dalam masyarakat Islam tidak terdapat minuman-minuman keras yang mendorong manusia untuk berbuat hal-hal yang tidak sopan, yang dapat menghilangkan kehendak dan pemikirannya. Akhirnya masyarakat Islam itu akan mempersiapkan pemuda untuk dapat hidup bersuami-isteri dengan cepat, karena perbendaharaan negara akan membantu orang-orang yang ingin hidup baik dalam sebuah rumah tangga.

Jadi kalau anda ingin memperoleh gambaran pendapat Islam tentang masalah seksual dalam kalangan pemuda, maka pertama-tama laksanakanlah sistem Islam secara keseluruhan. Baru setelah itu dilihat, bukan sebelumnya, apakah para pemuda masih mempunyai masalah di bidang seks atau tidak.

Saya menganggap semua permintaan pendapat yang diajukan kepada Islam mengenai suatu persoalan yang tidak ditimbulkan oleh sistem Islam, pada waktu itu Islam itu diusir dari segala bidang kehidupan, saya menganggap semuanya ini sebagai mempermain-mainkan Islam dan memperolok-olokkan Islam. Dan saya juga berpendapat bahawa jawaban yang diberikan kepada pertanyaan-pertanyaan seperti itu sama dengan ikut serta dalam memperolok-olokkan Islam yang dilakukan oleh para ahli memberikan fatwa.

Orang-orang yang berteriak-teriak sekarang ini, menuntut agar wanita jangan diberi hak untuk memilih dan dipilih, atas nama Islam, atau melarangnya untuk bekerja atas nama Islam, atau memanjangkan bajunya atau lengan bajunya atas nama Islam, maka saya minta maaf kalau saya katakan, walaupun saya amat memuliakan maksud-maksud baik dari orang-orang yang mengatakannya: Mereka itu telah menjadikan Islam objek olok-olok dan sesuatu yang mentertawakan, karena mereka membatasi semua persoalan dalam perincian-perincian kecil seperti ini.

Semua potensi mereka ini harus diarahkan kepada pelaksanaan sistem Islam dan hukum Islam dalam segala segi kehidupan. Mereka seharusnya menuntut agar Islam itu menguasai sistem masyarakat dan undang-undang internasional. Pendidikan Islam itu harus menguasai sekolah, rumahtangga dan masyarakat. Islam harus diambil sebagai suatu keseluruhan dan dibiarkan untuk melakukan kegiatannya dalam kehidupan sebagai suatu totalitas. Inilah yang lebih sesuai untuk kehormatan Islam dan kehormatan orang-orang yang menyeru kepada Islam.

Ini kalau mereka benar-benar bersungguh-sungguh dalam hal ini. Kalau mereka benar-benar ikhlas dalam berda’wah. Tetapi kalau yang dimaksud adalah membuat keributan agar dapat menarik perhatian, dan dalam pada itu berada dalam keadaan aman tidak memikul risiko sedikitpun, maka ini adalah persoalan lain, yang saya ingin agar sebagian dari badan-badan dan kelompok-kelompok harus jangan terlibat di dalamnya.

Dirasah Islamiyah
Ambil Islam Seluruhnya Atau Tinggalkan Sama Sekali
Sayyid Quthb

Adakah Pemersatu Selain Allah?

Bagi seorang Muslim urusan kedekatan antara dirinya dengan orang lain sangat terkait dengan seberapa dekatnya diri si Muslim dan orang lain tersebut kepada Allah سبحانه و تعالى . Bila kedua-duanya dekat dengan Allah سبحانه و تعالى niscaya kedua-duanya juga akan saling mendekat satu sama lain. Namun jika kedua-duanya atau salah satunya jauh dari Allah سبحانه و تعالى maka jangan harap antara keduanya akan ada kedekatan. Kalaupun mereka terlihat dekat secara fisik, namun sejatinya mereka berjauhan secara batin. Mengapa demikian? Sebab di dalam Islam Zat Pemersatu antara seorang manusia dengan manusia lainnya hanyalah Allah سبحانه و تعالى .

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًامَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“... dan (Allah سبحانه و تعالى ) Dia-lah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfaal [8] : 63)

Berdasarkan ayat di atas jelaslah bagi seorang muslim bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menyatukan satu manusia dengan manusia lainnya selain Allah سبحانه و تعالى . Kesatuan manusia, kaum beriman sekalipun, tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak berapapun. Kongkritnya, bersatunya manusia hanya dapat terwujud bila manusia-manusia tersebut saling mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Menyatukan hati satu sama lain, yakni Allah سبحانه و تعالى . Dan karena itu pula, Allah سبحانه و تعالى menyatakan, melalui ayat di atas, bahwa yang dapat menyatu hanyalah hati orang-orang yang beriman. Adapun hati manusia kafir tidak mungkin bisa dipersatukan. Demikian pula tidak mungkin bersatu antara hati seorang beriman dengan seorang kafir. Sebab orang-orang kafir memiliki tujuan hidup yang berbeda dengan orang-orang beriman.

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍإِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS Shaad [38] : 24)

Allah سبحانه و تعالى tidak serta merta merahmati orang-orang yang berserikat, berkumpul, bergotong-royang bahkan berjamaah jika yang menjadi landasan perserikatan mereka bukanlah iman dan amal sholeh. Mereka akan berakhir dengan saling menzalimi satu sama lain. Sebab mereka menyangka ada zat selain Allah سبحانه و تعالى yang dapat menyebabkan bersatunya hati mereka. Dan Allah سبحانه و تعالى tegaskan melalui ayat di atas bahwa orang-orang berserikat yang berlandaskan iman dan amal sholeh itu adalah kaum minoritas, sedikit sekali jumlah mereka. Kebanyakan manusia adalah orang-orang yang berserikat, berkumpul, bergotong-royong bahkan berjamaah berlandaskan berbagai hal selain Allah سبحانه و تعالى . Artinya, berlandaskan aneka kepentingan selain meraih keridhaan Allah سبحانه و تعالى . Dan ujung-ujungnya mereka akan saling menzalimi satu sama lainnya.

Dalam kesempatan lainnya, Allah سبحانه و تعالى menegaskan bahwa bentuk keakraban, persahabatan atau pertemanan yang tidak dilandasi taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى merupakan suatu bentuk keakraban yang menipu dan bersifat sementara. Yaitu sementara dalam kehidupan di dunia ini saja. Adapun kelak di akhirat nanti akan tersingkap secara jelas bahwa sesungguhnya mereka yang berteman bukan berlandaskan ketakwaan bakal bermusuhan, saling menyalahkan, saling mencela bahkan saling melaknat.

الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf [43] : 67)

Orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah سبحانه و تعالى memiliki tujuan hidup yang sama. Dan mereka mengikuti jejak langkah teladan utama mereka yang juga sama, yaitu Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم . Lalu mereka berkomitmen untuk menempuh jalan hidup yang sama yaitu dienullah Al-Islam. Mereka tidak rela jika Islam harus ditinggalkan lalu diganti dengan pedoman hidup selainnya. Bahkan mereka tidak memandang perlu adanya tambahan kepada ajaran Islam yang sudah sempurna itu. Mereka tidak pernah menjadi ketularan dengan orang ramai yang dengan bangganya mengaku dirinya Islamis-demokrat, Islamis-nasionalis, Islamis-moderat, Islamis-progresif apalagi Islamis-liberalis. Itulah orang-orang yang mengidap inferiority complex (sindrom rendah-diri alias mental pecundang) sehingga tidak bisa puas bila hanya dengan Islam. Sementara orang-orang beriman tidak ingin dinilai Allah سبحانه و تعالى sebagai hamba yang masih meragukan firmanNya yang menegaskan kesempurnaan ajaran dienullah Al-Islam. Sedemikian sempurnanya agama Islam, sehingga orang-orang kafir pada hakikatnya telah berputus-asa untuk mengalahkan Islam sebagai dien (way of life/jalan hidup/pedoman hidup).

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَأَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi dien (agama/jalan hidup/pedoman hidup) bagimu.” (QS Al-maidah [5] : 3)

Kaum beriman memusuhi fihak yang menjadi musuh Allah سبحانه و تعالى dan Rasulullah صلى الله عليه و سلم yaitu syetan dan thaghut. Mereka tidak membatasi thaghut hanya pada satu macam, tetapi segala macam thaghut mereka ingkari dan jauhi. Mereka tidak hanya mengingkari thaghut di masa lalu, tetapi juga yang hadir di masa kini bahkan yang kelak akan muncul di masa yang akan datang. Mereka menjadi akrab dengan sesama orang beriman yang juga seperti mereka. Mereka berlaku tegas dan tidak kompromi kepada kaum kuffar dan munafik.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”(QS Al-Fath [48] : 29)

Mereka tidak menjadi akrab karena faktor-faktor material-managerial atau sebab duniawi lainnya. Sehingga walau mereka tidak berada di dalam suatu wadah formal bersama seperti sebuah organisasi, partai atau jamaah, namun mereka segera menjadi saling mendekat begitu vibrasi ruh mereka saling mendeteksi kedekatan dan kemurnian penghambaan diri kepada Allah سبحانه و تعالى semata. Ketika mereka mendeteksi bahwa mereka ternyata sama-sama memusuhi syetan dan thaghut, hati merekapun saling merapat satu sama lain. Ketika mereka sama-sama mengetahui bahwa Islam yang mereka inginkan haruslah bersih dari segala percampuran dengan falsafah, jalan hidup, pedoman hidup lainnya yang tidak bersumber dari Allah سبحانه و تعالى maka merekapun dengan mudahnya saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Ruh-ruh mereka yang terkondisi melalui berbagai ibadah dan amal sholeh yang sesuai sunnah Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan terpaut dengan baik kepada Allah سبحانه و تعالى Rabbul ‘aalamiin, maka merekapun menyatu di dalam rahmat Allah سبحانه و تعالى

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Ruh-ruh manusia itu seperti prajurit yang berkelompok-kelompok, jika saling mengenal mereka akan menjadi akrab, dan jika saling bermusuhan maka mereka akan saling berselisih." (Shahih Muslim No. 4773)

Jadi, bukanlah dengan sekedar mengaku muslim sekumpulan orang akan segera menyatu dan menjadi akrab. Tetapi kesungguhan muslimin tersebutlah untuk berkomitmen kepada Allah سبحانه و تعالى semata sebagai Rabb, Islam sebagai dien (way of life/jalan hidup/pedoman hidup) satu-satunya yang tidak dicampuri dengan dien lainnya, serta Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai panutan tunggal, maka itu semualah yang akan menentukan menyatunya hati kaum muslimin tersebut. Sebab itulah bukti sebenarnya bahwa Allah سبحانه و تعالى telah dijadikan satu-satunya Zat Pemersatu yang hakiki oleh kumpulan muslimin tadi. Dan adakah pemersatu selain Allah سبحانه و تعالى ? Tentu tidak ada! Oleh karenanya, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihis-salaam mencela kaumnya ketika mereka berkhayal menjadikan sembahan mereka dan nenek-moyang mereka sebagai pemersatu di antara kaumnya. Kalaupun sembahan yang disakralkan itu dapat menyatukan kaumnya, maka itu hanyalah persatuan semu sebatas berlaku di dunia. Sedangkan di akhirat kelak mereka bakal saling mencaci dan melaknat sebagai penyesalahan atas keyakinan syirik tersebut.

وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِيَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Dan berkata Ibrahim: "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela'nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagimu.” (QS Al-Ankabut [29] : 25)

Jadi, segala bentuk alat pemersatu produk manusia sesungguhnya berperan sebagaimana sembahan-sembahan di masa kaum Nabi Ibrahim as di atas. Memang benar dia dapat mempersatukan sekumpulan manusia, tetapi untuk sebatas di dunia saja. Adapun di akhirat nanti mereka akan saling mengingkari dan mela’nat. Dan dewasa ini terdapat begitu banyak alat pemersatu produk manusia yang diyakini dapat berperan sebagai alat pemersatu selain Allah سبحانه و تعالى. Jika yang tertipu dengan alat pemersatu bikinan manusia tersebut hanyalah kaum kuffar, kita masih dapat memakluminya. Tetapi yang sungguh memprihatinkan adalah bahwa tidak sedikit pula kaum muslimin yang ikut serta dalam pagelaran penciptaan alat-alat pemersatu semu tersebut. Sehingga mereka tidak lagi bangga dan merasa mulia jika mengaku diri sebagai murni kaum muslimin sebagaimana sebutan resmi yang Allah سبحانه و تعالى telah sematkan kepada mereka di dalam Al-Qur’an. Mereka merasa perlu mengaku dengan sebutan tambahan seperti Islamis-demokrat, Islamis-nasionalis, Islamis-moderat, Islamis-progresif, Islamis-pluralis bahkan Islamis-liberalis.

Pantaslah Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم pernah menggambarkan mengenai sekumpulan ummatnya yang semula ia panggil dan hendak ia berikan air minum dari telaga Al-Haudh. Namun ada yang menghalau mereka supaya menjauh dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم seolah mengisyaratkan bahwa mereka tidak berhak ats pemberian Nabi صلى الله عليه و سلم yang sangat didambakan oleh setiap muslim. Mengapa? Karena ternyata mereka telah menjadi muslim sebatas pengakuan formal belaka. Adapun komitmen mereka tidak sesuai dengan tuntutan semestinya. Mereka tidak menjadikan Allah سبحانه و تعالى semata sebagai Zat Pemersatu. Bahkan mereka telah mengembangkan sejenis jalan hidup yang asing dari dienullah Al-Islam sepeninggal Rasulullah صلى الله عليه و سلم sambil mereka tetap ngotot mengaku diri mereka muslim. Maka akhirnya Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم juga turut mengusir mereka. Na’udzubillaahi min dzaalika.

أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Apa pendapat kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu?” Para Sahabat menjawab, 'Sudah tentu wahai Rasulullah.' Beliau bersabda lagi: 'Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudlu. Aku mendahului mereka ke telaga. Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi dari datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat'. Aku memanggil mereka, 'Kemarilah kamu semua'. Maka dikatakan, 'Sesungguhnya mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat'. Maka aku bersabda: "Pergilah jauh-jauh dari sini." (Shahih Muslim No. 367)

28.7.11

Kepala Babi Digantungkan di Sebuah Mushola di Prancis

Sebuah mushola kecil milik komunitas Muslim Afrika Utara di kota Toul, sebelah timur Prancis menjadi sasaran aksi vandalisme. Polisi setempat mengatakan, pelaku vandalisme menorehkan grafiti anti-Islam dan gambar swastika di dinding mushola bahkan menggantungkan kepala babi di bagian pintunya.

Aksi vandalisme anti-Islam ini dilaporkan oleh seseorang yang kebetulan lewat di depan mushola itu pada polisi pada Rabu (19/8) pagi. Polisi kota Toul masih menyelidik kasus ini dan belum ada orang yang dicurigai sebagai pelakunya. Namun anggota parlemen kota Toul, Nadine Morano yang juga menjabat sebagai menteri muda urusan keluarga di pemerintah Presiden Nicolas Sazkozy mengecam keras dan menyebut aksi vandalisme itu sebagai "tindak kekerasan yang tidak bisa diterima." Ia mendesak kepolisian untuk mencari pelakunya.

Aksi vandalisme terhadap tempat-tempat ibadah Muslim bukan kali ini saja terjadi di Prancis seiring dengan makin meningkatnya sikap Islamofobia dalam dua tahun belakangan ini di negeri yang paling banyak penduduk Muslimnya di daratan Eropa itu. Selain masjid, pemakaman milik warga Muslim juga kerap menjadi sasaran aksi vandalisme.

Kebijakan pemerintahan sayap kiri Sarkozy dituding sebagai penyebab makin tingginya sikap anti-Islam di Prancis. Setelah diberlakukan larangan berjilbab bagi para muslimah, pemerintahan Sarkozy membentuk tim khusus beranggotakan 32 anggota legislatif untuk menggodok undang-undang yang melarang para muslimah mengenakan burka.

Sejumlah pengamat termasuk komunitas Muslim mengkritik kebijakan Sarkozy itu karena bertentangan dengan prinsip sekularisme yang dianut Prancis serta melanggar kebebasan berekspresi serta kebebasan beragama yang dijamin oleh undang-undang Prancis.

"Prancis sedang bertempur dengan nilai-nilai sekularnya sendiri. Kebebasan tidak bisa dihadap-hadapkan atas nama kebebasan itu sendiri. Apakah pemerintah Prancis akan menjadi 'Taliban'nya Eropa yang mengatur apa yang harus dikenakan perempuan?" kritik seorang pengamat. (ln/mol)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/kepala-babi-digantungkan-di-sebuah-mushola-di-prancis.htm

Kepala Babi Digantung di Gerbang Masjid Cheko

Sentimen anti-islam di Cheko masih tinggi. Baru-baru ini, kepala seekor babi didapatkan tergantung bersama sejumlah pernyataan anti-islam yang tertulis di gerbang dan dinding luar masjid Prague, Cheko.

Situs berita berbahasa Arab al-Muhith (30/3) mengabarkan, seekor kepala babi degan mata melotot digantung di gerbang masjid. Selain itu, terdapat juga corat coret dan gambar kepala babi serta tulisan sepanjang empat meter di dinding luar masjid yang berkatakan "Enyahlah Islam".

Pihak kepolisian Cheko membenarkan adanya kasus ini dan segera bergerak untuk menangani kasus pelecehan dan sentimen keagamaan tersebut. "Seorang Muslim melaporkan adanya kasus pelecehan ini di masjid Prague. Kini kami tengah menyelidiki kasus ini," ujar salah satu sumber kepolisian Cheko, Jean Micolovsci.

Kepala Organisasi Muslim Prague Haji Vladimir Sanka mengecam keras kejadian tersebut. Ia menyatakan jika hal ini adalah bukti dari bentuk anti-islam yang masih berkembang di Prague.

Foto tergantungnya kepala babi dan corat-coret anti-islam di masjid Prague ini segera termuat di situs Partai Nasional Cheko yang beraliran ultra-konservatif.

Beberapa waktu lalu partai ini pernah mengusulkan ke parlemen Cheko untuk meghapuskan Islam dari negara Eropa Timur ini.

Di Republik Cheko, terdapat sekitar 420 ribu jiwa penduduk yang beragama Islam. Dari jumlah tersebut, 80 % berasal dari etnik Cheko sendiri, dan 20 % persen lainnya dari unsur pendatang. (mht/L2 Cairo)

Lihat juga: Muslim Inggris Dihadiahi Kepala Babi
 

Halangi Jemaah Shalat Di Masjid Dekat Tanah Miliknya, WN AMERIKA Adakan Lomba Pacu Babi

Ini sebenarnya cerita menggelikan yang menunjukkan suatu tindakan ‘dungu’ gara-gara tidak senang dengan keyakinan orang lain!

Seorang pemilik tanah, warga negara Amerika di kawasan TEXAS melakukan suatu upaya muslihat yang menjijikkan.! Tujuannya ingin mengganggu jemaah masjid hanya gara-gara sebuah masjid milik kaum Muslimin didirikan di samping tanah miliknya di kota ‘Chity’. Ia mengira dengan tindakannya itu, kaum Muslimin tersebut akan meninggalkan kawasan itu.!!??

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Pertama-tama, pemilik tanah yang bernama Craig Becker itu mengumpulkan informasi seputar akidah Islam. Setelah mengetahui daging babi diharamkan dalam Islam, ia mencari cara untuk mengusir secara tidak langsung kaum Muslimin dari situ. Karena mengira umat Islam berkumpul di masjid pada hari minggu, maka ia mengadakan perlombaan pacuan ‘babi’ mingguan setiap hari Minggu di tanahnya yang luas di mana terletak masjid baru yang masih dalam tahap pembangunan di sampingnya itu. Ia mengira, hal itu akan membatalkan shalat jemaah masjid sehingga mereka akan meninggalkan kawasan itu.!!??

Setelah memperhatikan hari libur kaum Muslimin, ternyata ia dapati bukan hari Minggu, maka lantas ia mengubah jadual perlombaan ke hari Sabtu. Tetapi kemudian tahulah ia bahwa kaum Muslimin ramai berkumpul setiap hari Jum’at, karenanya ia pun merubah lagi jadual perlombaan menjadi hari Jum’at selepas shalat Jum’at tepat.!?

Para penanggung jawab lembaga Islam yang membangun masjid di kota Chity itu menjelaskan, mereka tidak akan menghiraukan provokasi tersebut dan tidak terlalu peduli dengan perlombaan pacuan babi sebab Islam mengharamkan makan daging babinya bukan menontonnya.!!??

Dr Kamal Abu El Futuh, salah seorang penanggung jawab lembaga Islam itu menjelaskan,”Warga negara Amerika itu berafiliasi pada gereja Baptist. Ia bahkan tidak dapat menerima sesama penganut sekte kristen lainnya. Nah, tentunya apalagi terhadap kaum Muslimin.! Ketika melihat keberadaan masjid di dekat tanahnya, ia merasa terganggu akan tetapi kami akan tetap melaksanakan kewajiban agama kami seperti orang lain.”

Ia menambahkan,”Masyarakat Islam setempat telah membeli sebidang tanah dengan total 1.100.000 Dolar AS. Di situ, dulunya merupakan sebuah rumah di dekat jalan yang diberi nama ‘Becker Family’, lalu kami rubah menjadi masjid meskipun untuk itu banyak sekali rintangan yang kami hadapi, yang mengganggu penyelesaian proyek pembangunan ini dengan berbagai alasan. Terakhir, tetangga kami, orang Amerika itu mengambil ide perlombaan pacuan babi. Akan tetapi tindakan seperti ini sama sekali tidak akan membuat kami terprovokasi.!!” (ismo/AH)

http://arrahmah.com/read/2007/01/17/169-halangi-jemaah-shalat-di-masjid-dekat-tanah-miliknya-wn-amerika-adakan-lomb.html

Ada yang Salah dengan Jilbab Kami?

7 Juli 2009 15:56 WIB
Ribuan Orang Mengiringi Pemakaman Pahlawan Jilbab

http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/ribuan-orang-mengiringi-pemakaman-pahlawan-jilbab.htm#.UcwBMdgubXQ

Ribuan orang mengantarkan jenazah Marwah Al-Sharbini ke tempat peristirahatannya yang terakhir di kota Alexandria, Mesir waktu setempat. Ribuan orang itu berjalan mengiringi peti jenazah Marwa yang mendapat sebutan "martir jilbab".

Kematian Marwa memicu kemarahan di kalangan komunitas Muslim di Jerman dan Mesir-negara asal Marwa-tetapi juga komunitas Muslim di berbagai negara. "Tidak ada Tuhan selain Allah dan orang-orang Jerman adalah musuh Allah," kata seorang warga Mesir yang ikut mengantarkan jenazah Marwa ke pemakaman.

"Kami akan membalas kematiannya. Barat, mereka tidak mau mengakui kita. Di sana ada rasisme," ujar Tarek Al-Sharbini, saudara lelaki Marwa.

Selain Marwa, suaminya juga menjadi korban dan sekarang masih dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit Dresden, Jerman. Suami Marwa secara tak sengaja terkena tembakan aparat saat sang suami mencoba melindungi istrinya yang diserang dengan senjata tajam oleh pemuda Jerman keturunan Rusia.

Peristiwa itu terjadi di ruang sidang di kota Dresden, saat Marwa akan memberikan kesaksian atas kasusnya. Marwa menuntut pemuda yang juga tetangganya itu ke pengadilan karena menyebutnya sebagai teroris hanya karena ia mengenakan jilbab. Marwa berada di Jerman mengikuti suaminya yang sedang melakukan riset dengan biaya beasiswa.

Menurut kakak lelaki Marwa, aparat mengira suami Marwa yang melakukan serangan sehingga petugas keamanan pengadilan itu menembaknya. "Para aparat keamanan itu berpikir, sepanjang orang itu tidak berambut pirang, maka dialah pelaku serangannya, dan mereka menembak suami Marwa," kata kakak lelaki Marwa.

Pemuda Jerman keturunan Rusia yang menyerang Marwa, bernama Alex W, 28, kini mendekam di penjara dan akan dikenakan tuduhan baru yaitu pembunuhan. Christian Avenarius, jaksa pengadilan Dresden mengatakan, Alex menusuk Marwa karena didorong rasa kebencian yang dalam terhadap Islam, karena sejak awal pengadilan, Alex yang berimigrasi ke Jerman tahun 2003 sudah mengungkapkan pernyataan-pernyataan anti-Islam dan anti-Muslim.

Dari wawancara di beberapa media Mesir, keluarga Al-Sharbini di Mesir mengatakan bahwa pelaku penusukan sudah sering menghina dan melecehkan Marwa, bahkan pernah mencoba melepas jilbab Marwa. Ibu Marwa, Laila Shams mengungkapkan, Marwa juga kesulitan mendapat kerja di Jerman karena ia mengenakan jilbab.

"Suatu kali, Marwa pernah disuruh melepas jilbab jika ingin mendapatkan kerja, tapi Marwa menolaknya," kata sang ibu.

Menanggapi kasus Marwa, Jubir pemerintah Jerman Thomas Steg mengatakan bahwa insiden ini berlatar belakang rasial dan pemerintah mengutuk keras pelakunya. Pemerintah Jerman baru bersuara atas kasus ini, setelah komunitas Muslim di negara itu mengecam pemerintah dan para politisi di Jernam yang diam saja atas kasus tersebut.

Menyindir sikap pemerintah dan para politisi di Jerman, harian independen di Mesir, El-Shorouk menulis, kalau korbannya Yahudi, barulah dunia gempar. Seorang bloger Mesir bernama Hicham Maged dalam blognya menulis, "Mari kita bayangkan, jika kondisinya dibalik, korban adalah orang Barat yang ditusuk di dunia atau di salah satu negara Timur Tengah oleh seorang Muslim ekstrim."

Atas insiden yang menimpa Marwa, Asosiasi Farmasi Mesir sudah menyerukan boikot terhadap obat-obatan dari Jerman.

Pemerintah Mesir belum mengeluarkan pernyataan atas peristiwa yang menimpa warga negaranya. Belum jelas apakah pemerintahan Husni Mubarak akan menuntut pemerintah Jerman bertangung jawab atas kasus ini. (ln/aljz/isc)



24 Juni 2013 08:14 WIB
Muslim di Perancis Demonstrasi untuk Protes Serangan Terhadap Muslimah Berjilbab

http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/muslim-di-perancis-demonstrasi-untuk-protes-serangan-terhadap-muslimah-berjilbab.htm#.Ucv_dNgubXR

Ketakutan serangan fisik terhadap komunitas Muslim, Muslim Perancis telah turun ke jalan untuk memprotes serangan terhadap muslimah karena memakai jilbab, harus dilindungi.

“Saya warga Perancis, saya seorang muslim, saya memiliki hak untuk menjaga martabat saya,” kata Rabia, korban serangan Islamophobia.

“Mereka harus berhenti menyerang karena Islamofobia."

“Saya tidak bisa mengerti mengapa jilbab saya menjadi alasan untuk mereka menyerang.”

Empat wanita Muslimah baru-baru ini diserang secara fisik di Paris.

Salah satu wanita Muslim, 21, telah keguguran setelah diserang pekan lalu oleh dua pria botak di pinggiran Paris Argenteuil.

Laporan-laporan media awalnya mengatakan bahwa Muslimah hamil itu diserang karena dia memakai cadar. Tetapi kemudian ternyata diketahui bahwa wanita itu hanya mengenakan jilbab.

Serangan itu terjadi tiga minggu setelah seorang wanita Muslimah berjilbab di Argenteuil ditargetkan dengan cara yang sama.

Polisi Prancis juga mengundang kemarahan umat Islam di lingkungan setelah mencoba untuk menangkap seorang wanita hanya karena memakai cadar di awal bulan ini.

Muslim Perancis meminta pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada komunitas mereka.

“Kementerian dalam negeri Perancis harus melindungi semua orang dari ketidakamanan terlepas dari perbedaan apapun seperti jenis kelamin, warna kulit atau agama.”

Muslim Perancis telah lama mengeluhkan diskriminasi dan meningkatnya sentimen anti Muslim di negara Eropa. (OI.net/Dz)