8/20/14

Anggota Knesset Keturunan Arab Tantang Prajurit Israel Face to Face dengan Pejuang Palestina

Aksi berani dilakukan anggota Knesset Israel asal Palestina dengan menantang pejabat pemerintah dalam sebuah acara live talkshow di salah satu saluran televisi Israel.

Dalam acara tersebut, anggota Knesset Israel asal Palestina, Ahmad Tiybi, menantang seorang pejabat tinggi pemerintahan Benjamin Netanyahu, ”kalian semua membunuh anak-anak dan warga sipil di Jalur Gaza, kalau anda memang lelaki maka hadapilah faksi perlawanan Palestina face to face.”

Ungkapan itu dilontarkan Ahmad Tiybi untuk membalas perkataan pejabat tersebut yang menyebut “sebagian besar korban tewas agresi di Jalur Gaza adalah teroris.

Tidak terima dengan ungkapan tersebut, Ahmad Tiybi langsung menantangnya perang face to face dengan pejuang Palestina. (Rassd/Ram)

Berikut video tersebut:
http://www.youtube.com/watch?v=7Xs83Q3RP4M

"Ayo siapa berani... Siapa lagi... Ayo..!"

8/19/14

Komisaris Jenderal UNRWA: Angkat Blokade dan Seret Pejabat Israel ke Pengadilan Internasional!


Komisaris Jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Pierre Lanpol, menyerukan pengadilan internasional melakukan investigasi mendetail atas penyerangan Israel terhadap sekolah milik UNRWA di Jalur Gaza.

Dalam konferensi persnya di Jalur Gaza hari Minggu (17/08) kemarin, Lanpol mengatakan “Israel sengaja membom sekolah yang dipadati oleh pengungsi yang melarikan diri dari rumah mereka akibat agresi mereka di Gaza. Mereka tahu bahwa sekolah tersebut adalah rumah bagi ribuan warga sipil yang dilindungi oleh PBB.”

Lanpol menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi intensif dengan pemerintah Tel Aviv untuk menghindari pemboman terhadap sejumlah sekolah milik PBB yang dibom oleh pesawat tempur Israel.

Selain itu, Komisaris Jenderal UNRWA ini meminta masyarakat dunia untuk segera turun tangan menghentikan agresi militer Israel dan pencabutan blokade di Jalur Gaza.

Tercatat hingga Minggu (17) malam sebanyak 2016 orang tewas, termasuk 541 anak-anak, 250 wanita dan 95 lansia, dan 10.193 lainnya terluka akibat agresi militer Israel ke Jalur Gaza sejak 7 Juli lalu. (Aljazeera/Ram)

"Yang tahu.. yang tahu.. yang tahu..!"

8/18/14

Muslim itu Merdeka dan Bersujud hanya untuk Allah

Diceritakan oleh Sayyid Quthb dalam bukunya Keadilan sosial Islam (Al Adalah Al ijtimaiyyah fi al Islam), cerita yang didengarnya dari Ahmad Syafik Pasya, ahli sejarah yang terkenal, yang hidup pada masa pemerintahan Ismail di Mesir. Peristiwa ini berkenaan dengan kunjungan Sultan Abdul Azis ke Mesir pada masa pemerintahan Ismail.

Ismail betul-betul menyambut gembira kunjungan ini karena itu termasuk dalam program untuknya mendapatkan gelar “Khadive”, berikut hak-hak istimewa lainnya dalam pemerintahan Mesir. Salah satu acara kunjungan itu adalah temu muka antara ulama Mesir dengan khalifah. Tradisi yang biasa berlangsung setiap orang yang memasuki ruang pertemuan nanti terlebih dahulu harus sujud ke tanah dan memberikan penghormatan ala Turki tiga kali, dan upacara-upacara lainnya yang sama sekali tidak terdapat dalam ajaran Islam. Untuk itulah jauh-jauh hari sebelumnya, kepada para ulama itu diberikan latihan upacara oleh para petugas istana agar tiba saatnya pertemuan itu mereka tidak akan melakukan kesalahan di depan Sultan Turki itu.

Tibalah saat yang dinanti-nantikan itu, dengan tertib para ulama yang mulia itu pun memasuki ruangan, mereka benar-benar mengikuti upacara itu dengan melupakan ajaran agamanya dan menukarnya dengan tatacara duniawi. Satu persatu mereka sujud di depan sesama makhluk, kemudian keluar dengan cara membelakangi pintu, sementar muka tetap menghadap Sultan- persis seperti yang diinstruksikan parap pengawal istana. Hanya satu orang saja yang tidak mau melakukan ketololan itu, yaitu Syekh Hasan al-Adawi. Ia tetap teguh pada ajaran agamanya, dengan mencampakkan kehormatan dunia. Ia tetap memegang prInsip bahwa yang mulia dan pantas untuk dihormati dan sujud kepada hanyalah Allah subhanahu wa Ta’ala.

Ia memasuki ruangan tetap dengan kepala tegak sebagai seorang yang merdeka menghadap sesamanya. Lalu menghadap Sultan dengan menyampaikan salam,”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya Amirul Mukminin”. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan petuah-petuah dan nasihat. Selesai acara tatap muka pun ia menyampaikan salam dan keluar dengan kepala tegak.

Melihat sikap ulama yang satu ini, gemetarlah semua calon Khadive dan pegawai istana, rasanya bumi yang mereka injak sudah terballik. Khalifah pasti murka, demikian anggapan mereka dan kalau betul itu terjadi niscaya lenyaplah sudah harapan memperoleh gelar Khadive yang sudah lama diidam-idamkan.

Akan tetapi, iman terhadap kebenaran tak mungkin sirna begitu saja, selalu ada kalbu yang siap melontarkannya dengan penuh keberanian dan merdeka, sebagaimana tertanamnya iman itu pun dengan kuat dan merdeka pula. Dengan apa yang terjadi kemudian..? Sultan Turki itu bukannya murka malahan berkata : “Kalian sama sekali tak memiliki ulama, selain yang satu ini!” setelah peristiwa itu, Ismail dipecat dari jabatannya dan digantikan orang lain.

***

Kisah berikut ini terjadi di Darul Ulum antara Khadive Taufik Pasya dan Syeikh Hasan Ath-Thawil. Adalah kebiasaan Prof. Hasan Ath-Thawil selalu mengenakan pakaian sederhana. Sekalipun ia guru besar pada perguruan tinggi tersebut. Pada hari wisuda sarjana, inspektur pendidikan mengumumkan bahwa khadive taufiq bermaksud mengunjungi perguruan tinggi yang diasuhnya. Maka dipersiapkanlah acara penyambutan dengan mempercantik madrasah tersebut dan yang termasuk ‘diperbaharui’ adalah penampilan Prof. Hasan ath-Thawil agar menggunakan busana yang lebih necis dan modis.

Untuk maksud tersebut dikirimkan kepadanya seperangkat jubah kebesaran lengkap dengan toganya, sehingga dengan demikian diharapkan penampilannya cukup layak untuk menyambut pembesar negerinya.

Tibalah pada hari yang ditentukan... ternyata sang prorofessor masih tetap dengan penampilannya sehari-hari sambil ditangannya terkepit sapu tangan besar pembungkus pakaian kebesaran itu.

Melihat penampila professor yang seperti tu merah padamlah wajah inspektur pendidikan, lau mendekatinya dan bertanya, ”Dimana anda simpan jubah dan toga itu, Professor?

“Ini dalam bungkusan” jawab Professor dengan tenang, lalu meninggalkan inspektur itu yang masih menduga barangkali pakaian itu akan dikenakannya menjelang datangnya Khadive nanti. Memikirkan sang Professor akan menggunakannya, agak tenanglah hatinya.

Menitpun berlalu, suara gegap gempita mulai terdengar pertanda iringan Khadive sudah mendekati kampus. Pada saat itu terlihatlah pemandangan yang sangat mengagetkan para dosen, khususnya sang inspektur. Ternyata Syeikh Hasan Ath-Thawil menyambut sang Khadive dengan menenteng bungkusan pakaina kebesaran itu.

Ketika berhadapan ia langsung berkata, ”Mereka mengatakan saya harus menyambut Tuan dengan jubah dan toga, itulah sebabnya saya sekarang membawa kedua benda itu. Bila Tuan bermaksud menemui jubah dan toga, maka inilah dia (sembari menyodorkan bungkusan yang sejak tadi dikempitnya). Akan tetapi, bila tuan ingin menemui Hasan Ath-Thawil, sayalah orangnya...

Mendengar alasan sang Professor itu, dengan amat wajar sang Khadive menjawab bahwa ia ingin menemui Hasan Ath-Thawil dan bukan jubah dan toga itu.

Inilah akhlak seorang mukmin, yang tak pernah merasa terhormat selain dengan keagungan islam. Jiwa dan hati nuraninya tetap bebas merdeka dari semua ikatan nilai-nilai lahiriah yang bersifat fana. Islam telah memberikan pemahaman mendalam terhadap hakikat kebenaran dan menanamkan perasaan tersebut di hati pemeluknya. Sehingga tidak lagi menganggap perlu pujian dan imbalan dari manusia. (Lr)

8/14/14

Akibat Kurikulum 2013 Banyak Anak Berhenti Sekolah Diniyah (Agama)

Akibat Kurikulum 2013 Banyak Anak Berhenti Sekolah Diniyah (Agama) yang Biasanya Dimulai Sejak Pukul 14.00 atau 14.00WIB 

SAYA yakin Bapak Dr Muhammad Nuh DEA (Mendiknas kita) tentu saja tak ingin membuat kurikulum yang menyulitkan siswa melaksanakan sholat dengan baik.

Entah siapa yang punya usul sehingga Kurikulum 2013 (K-13) menambah jam belajar anak SMA /MA menjadi sekitar 50 jam pelajaran per minggu, hal mana membuat mereka harus belajar hingga sore (jam 14.00, 14.30 atau jam 15.00 WIB).

Entah apakah Pak Nuh tahu bahwa sebagian besar bangunan sekolah di Negeri ini tidak dirancang untuk menampung anak sholat Dhuhur di sekolah.

Sebagian besar dirancang agar anak sholat di rumah sehingga di hari pertama penerapan K13 di sekolahnya seorang sahabat menulis bahwa K-13 telah sukses membuat ratusan anak tidak sholat dhuhur.

Entah apakah tim perancang K-13 ini sadar bahwa sebagian besar sekolah tak merancang sekolah full day school system, sehingga sekolah hanya menyediakan kantin ala kadarnya dan pasti tak cukup untuk tempat makan seluruh siswa.

Entah apakah orang pusat tahu bahwa di kampung saya, Madura Jawa Timur, banyak anak sekolah diniyah yang biasanya dimulai sejak jam 14.00 WIB atau 14.30 WIB, sehingga dengan menambah jam belajar hingga sore bisa dipastikan mereka akan berhenti sekolah diniyah dan mengutamakan sekolah umum.

Entahlah. kadang saya heran betapa banyak kebijakan yang tujuannya baik di lapangan menghasilkan output tak seperti yang dibayangkan. atau, jangan-jangan, memang implikasinya tak pernah prediksi.

Saya yakin keluhan saya ini tak akan dibaca pak Menteri, namun mungkin ada beberapa teman yang mungkin dekat dengan pak menteri bisa menyampaikan soal ini.

Semoga pendidikan Negeri ini semakin baik.*

Ahmad Halimy Pengasuh Ponpes Raudhatut Thalibin, Kolor Sumenep dan Guru di Madrasah Aliyah Negeri Sumenep, Madura Jawa Timur

DDII: Kehadiran ISIS bisa Mengkaburkan tujuan Khilafah

Hidayatullah.com—Kehadiran gerakan Daulah Islamiyah Iraq wa Syam (ISIS/ISIL) dinilah bisa mengaburkan tujuan sesungguhnya khilafah Islam.

Di sisi lain, kehadirannya bisa menjadi fitnah, apalagi munculnya pernyataan Menlu Amerika Serikat (AS) Hilary Clinton dan Snowden yang sempat mengatakan ISIS bentukan AS, demikian disampaikan Pengurus Biro Luar Negeri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Zubaedi.

Saya membuka setelah Snowden dan Hilary Clinton membukanya, ujar Zubaidi di dalam acara “Mengukur Bahaya ISIS di Indonesia” di DPP Partai Bulan Bintang, Sabtu (16/08/2014), di Jakarta.

Sebelum media massa Indonesia ramai memberitakan masalah ini, Zubaidi mengaku sudah melihat pernyataan ulama-ulama Ahlu Sunnah di Timur Tengah atas masalah ini. Salah satu ulama Ahli Sunnah itu ialah Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi.

Menurut Qaradhawi dikutip Zubaidi, pendirian ISIS adalah ilegal dan tidak sesuai dengan syariat Islam yang sesungguhnya.

Dalam kasus ISIS yang mengklaim telah mendirikan khilafah, banyak ulama-ulama yang berkompeten tidak diikutsertakan. Serta meninggalkan para mujahid yang sesungguhnya.

Pendirian khilafah aneh. Mujahidin di lapangan pun ditinggalkan,” ucapnya.

Sementara itu Direktur An-Nashr Institute Munarman,SH menilai isu ISIS yang gaungnya hanya ramai di Indonesia justru dimanfaatkan dan ditunggangi oleh kepentingan pihak-pihak tertentu.*

8/11/14

Fitnah ISIS: Antara Alihan Isu, Hororisasi Ide Khilafah Serta Blunder Politik Bagi Musuh Islam

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H. Advokat, Aktivis Hizbut Tahrir Kota Bekasi.

Pasca dideklarasikannya Khilafah oleh kelompok milisi bersenjata yang menamakan dirinya ISIS (The Islamic State of Iraq and Sham/ Daulah Islam Irak dan Syam) pada 29 Juni 2014 (bertepatan 01 Ramadhan 1435 H), berbagai kalangan aktivis dakwah dan pejuang Islam diberbagai belahan negeri mengalami dinamika yang luar biasa, terutama di dunia jejaring sosial. Atas pertanyaan berbagai pihak, amir hizb asy Syaikh Ato’ Bin Khalil Abu ar Rusytoh memberikan tanggapan khusus mengenai proklamasi Khilafah tersebut. (www: hizbut tahrir.or.id/2014/08/05/politik-proklamasi-tegaknya-al-khilafah-oleh-isis/)

Hizbut tahrir sendiri memandang bahwa Khilafah yang dideklarasikan ISIS adalah Khilafah yang tidak syar’i karena tidak memenuhi 4 (empat) syarat yang harus wujud pada sebuah Wilayah yang menegakan Daulah Khilafah, yaitu:
  • Pertama, kekuasaan wilayah tersebut bersifat independen, hanya bersandar kepada kaum Muslim, bukan kepada negara Kafir, atau di bawah cengkraman kaum Kafir.
  • Kedua, keamanan kaum Muslim di wilayah itu di tangan Islam, bukan keamanan Kufur, dimana perlindungan terhadap ancaman dari dalam maupun luar, merupakan perlindungan Islam bersumber dari kekuatan kaum Muslim sebagai kekuatan Islam murni.
  • Ketiga, memulai seketika dengan menerapkan Islam secara total, revolusioner dan menyeluruh, serta siap mengemban dakwah Islam.
  • Keempat, Khalifah yang dibai’at harus memenuhi syarat pengangkatan Khilafah (Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu), sekalipun belum memenuhi syarat keutamaan. Sebab, yang menjadi patokan adalah syarat in’iqad (pengangkatan).

ISIS: Penglihan Isu, Dalam dan Luar Negeri

Patut diketahui, isu ISIS sebelumnya isu biasa saja dan hanya ramai menjadi pembicaraan di kalangan terbatas dan media yang terbatas pula. ISIS berubah menjadi isu sentral yang di blow-up seluruh media Nasional, baik cetak dan elektronik hampir bersamaan dengan adanya berbagai isu politik yang melingkupinya. ISIS mendeklarasikan Khilafah setelah sebelumnya menamakan diri sebagai Daulah Islam di Irak dan Suriah pada tanggal pada 29 Juni 2014 (bertepatan 01 Ramadhan 1435 H). Namun media Nasional baru mulai ramai memberitakannya setelah setelah terjadi isu-isu besar yang sebelumnya menyita perhatian publik Indonesia, baik isu nasional maupun internasional. Isu sentral internasional di seantero jagat dunia setelah memasuki Ramadhan sampai Idul Fitri bahkan hingga saat ini adalah isu penyerangan Israel ke Gaza. Termasuk juga isu peperangan antara berbagai kelompok jihadi melawan Rezim Syiah Nushairiyah Bashar Asyad, juga isu nasib kaum muslimin di Irak dan Afganistan yang sedang dirundung malapetakan perang yang tidak berkesudahan.

Adapun isu di dalam negeri yang paling menonjol adalah kebijakan (baca: ketidakbijakan) kenaikan tarif dasar listrik per 1 Juli 2014, kebijakan pengendalian BBM (Baca: pengurangan BBM untuk Rakyat) dan tentu saja peluang terjadinya chaos pasca pengumuman putusan hakim oleh Mahkamah Konstitusi atas adanya Gugatan Capres Prabowo mengenai adanya kecurangan dalam pelaksanaan Pemilu Pilpres 2014.

Pemberitaan deklarasi Khilafah oleh ISIS dengan segala pernak-perniknya praktis menenggelamkan pemberitaan tentang serangan Israel ke Gaza, kebiadaban Rezim Bashar Asyad, penderitaan kaum muslimin di berbagai belahan Dunia termasuk di dalam negeri seperti isu kenaikan TDL, pengendalian BBM bersubsidi dan gonjang-ganjing sengketa Pemilu. Penenggelaman semua pemberitaan tersebut memberikan dampak pada konteks agitasi dan arus utama perhatian umat. Sebelumnya, isu Gaza menjadi isu yang menyatukan kaum muslimin, memperjelas watak barat yang ambigu, mengkonfirmasi hakekat penguasa-penguasa negeri islam sebagai penguasa antek (Mesir, Arab Saudi, Iran, Turki, Indonesia) yang tidak melakukan tindakan apapun yang berarti selain kecaman demi kecaman.

Adapun untuk konteks nasional, praktis isu ISIS mengalihkan perhatian umat terhadap aktivitas pendzaliman secara terstruktur dan masif yang dilakukan oleh penguasa yang secara sadar dan sengaja menambah beban hidup rakyatnya dengan kebijakan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), pengurangan konsumsi BBM untuk rakyat bahkan rencana melakukan penyesuaian harga BBM (baca: Kenaikan harga BBM).

Kubu Prabowo-hatta juga tidak ketinggalan ketiban getahnya, pemberitaan ISIS nyaris menenggelamkan pemberitaan proses hukum adanya dugaan pelanggaran pemilu yang sedang disidangkan di Mahkamah Konstitusi. Hal ini jelas akan menghambat maksimalisasi penguatan kohesi internal bagi pendukung Prabowo-Hatta sekaligus menghambat upaya agitasi kepada publik untuk ikut bersama berempati dan memberikan dukungan politik kepada kubu Prabowo-Hatta. Tentu saja hal yang demikian sangat menguntungkan bagi rival politik Prabowo-Hatta.

ISIS: Hororisasi Khilafah dan Para Pengembannya

Hanya saja yang patut untuk dijadikan perhatian utama dan serius bagi setiap pengemban dakwah adalah dampak dari pemberitaan ISIS yang berimplikasi pada upaya Kriminalisasi dan Monsterisasi ide-ide Islam (syariah dan Khilafah) serta simbol-simbol islam (bendera Tauhid, al Liwa dan Ar Roya). Narasi yang hendak dibentuk oleh “orang-orang dibalik isu ISIS” adalah upaya-upaya yang terstruktur dan masif untuk merusak islam dan umatnya dengan cara mengarahkan opini publik untuk menjauhkan umat islam dari ide-ide islam dan symbol-simbolnya. Upaya-upaya mengasosiasikan aktivitas berbagai gerakan islam yang berjuang menegakan Khilafah dengan ISIS nampak jelas, meskipun metodenya tidak sama dengan metode perjuangan ISIS.

Opini yang hendak dibentuk adalah bahwa ISIS adalah gerakan Teroris, setiap gerakan yang memiliki kesamaan tujuan perjuangan dengan ISIS juga gerakan Teroris. Dampak dari “Generalisasi Isu Teroris” tersebut mengajak umat untuk menjauhi setiap gerakan atau kelompok yang membawa ide-ide dan simbol-simbol yang menyerupai atau sama dengan ide-ide dan simbol-simbol yang diusung ISIS. Ini adalah pisau bermata dua untuk mengiris ISIS disatu sisi dan mencincang setiap gerakan atau kelompok yang memperjuangkan tegaknya Khilafah di sisi yang lain. Dalah bahasa yang lain, satu kali tepuk dua lalat mati, satu kali kayuh dua tiga pulau terlewati.

Dampak dari pemberitaan Fitnah ISIS ini lagi-lagi juga memakan korban. Belum lama ini di bekasi, ketua harian Jamaah Anshoru Tauhid (JAT) ditangkap di Bekasi oleh Densus88 (www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/08/10/32134/teroristainment-isis-ustadz-afif-abdul-majid-ditangkap-densus88-di-bekasi/). Tidak menutup kemungkinan diduga akan terjadi tindakan pengulangan berupa penyalahgunaan wewenang atau tindakan yang melampaui kewenangan dengan adanya pembunuhan diluar proses hukum (Ekstra Yudisial Killing) oleh Densus88 kepada terduga Teroris saat penangkapan atau penggerebekan sebagaimana kasus yang lainnya. Densus88 yang merupakan bagian dari Penyelidik dan Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia telah mengambil kewenangan Jaksa selaku penuntut umum yang memiliki kewenangan eksekutorial berdasarkan putusan hakim. BNPT sendiri dengan Narasi dan Opini publik yang dibentuk dengan dukungan penuh media-media sekuler disinyalir seolah telah beralih profesi menjadi Hakim yang memegang Palu Vonis Keadilan. Apa yang disampaikan BNPT ke Media seolah-olah menjadi putusan yang memiliki kekuatan eksekutorial sehingga dapat dijadikan dalil (Baca: Dalih) bagi Densus88 yang telah berubah fungsi dari Penyelidik dan Penyidik menjadi Jaksa Eksekusi untuk melakukan pembunuhan (baca: pembantaian) kepada para Terduga Teroris.

Target akhirnya adalah hendak menjauhkan aktivis pengemban dakwah dari islam dan umat. Umat selaku pemegang kekuasaan riil digiring opininya untuk menjauhi bahkan takut kepada pejuang penegak Khilafah. Umat juga diajak menjauhi dan membenci simbol-simbol islam, padahal simbol tersebut merupakan manifestasi akidah seorang muslim. Pada saat yang sama, perjuangan politik untuk menegakan Khilafah pengembannya juga berusaha untuk ditarik dan dicabut dari akar perjuangannya, yaitu syariah dan Khilafah. Hambatan, tantangan dan gangguan bahkan fitnah-fitnah keji terhadap syariah dan Khilafah -jika pengemban dakwah tidak istiqomah dan kokoh dalam mengemban amanah- akan tercerabut dan terlempar jauh dari islam, sementara “Jurang yang menganga dalam politik sekuler demokrasi” telah disediakan untuk kanalisasi yang akan menjadi lubang ancaman untuk mengubur semangat dan cita-cita perjuangan penegakan Khilafah.

Blunder Politik

Allah SWT telah menurunkan Agama ini Allah pula –dengan segala kekuasaannya- yang akan menjaganya. Makar dan tipu daya yang dibuat oleh orang-orang kafir dan munafik tidak akan merubah sedikitpun melainkan menambah keikhlasan dan keistiqomahan pejuang penegak Khilafah serta mengantarkannya pada pertolongan Allah dan kemenangan. Setelah isu ISIS digulirkan, khalayak banyak yang memperbincangkan Khilafah terlepas dengan berbagai dinamikanya, baik yang pro dan yang kontra. Opini umum tentang Khilafah semakin menguat, bahkan seluruh komponen umat termasuk ulama rujukan umat yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia bahu membahu turun tangan untuk membela syariah dan khilafah dari proses kriminalisasi dan monsterisasi.

Para pengemban dakwah syariah dan Khilafah semakin dekat dengan umat karena banyaknya umat yang menginginkan penjelasan yang menyeluruh atau setidakya penjelasan yang cukup seputar isu ISIS dan Khilafah. Berbagai diskusi dengan Metode Bil Hikmah wal Maidhoh Hasanah mampu memberikan pencerahan kepada umat untuk melakukan pemilahan antara ISIS disatu sisi dan Khilafah disisi yang lain. Jika ada seorang muslim yang mencuri yang salah adalah individunya, bukan islamnya. Termasuk terjadinya kesalahan, penyelewengan bahkan penyimpangan proses perjuangan penegakan Khilafah oleh ISIS tidak serta merta meruntuhkan ide Khilafah yang agung yang merupakan tujuan, harapan, cita-cita serta solusi bagi seluruh problematika yang dihadapi umat islam bahkan Khilafah akan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Tentu saja kondisi ini harus disambut oleh segenap komponen aktivis pejuang penegak syariah dan khilafah dengan cara meningkatkan amal dan melipat gandakan keikhlasan untuk semakin massif mendatangi pintu-pintu umat sampai umat benar-benar membukakan pintu atau aktivis pejuang penegak syariah dan khilafah harus membukanya dengan paksa, sampai tidak ada satupun rumah setiap muslim ketika dibuka melainkan didalamnya telah ada syariah dan Khilafah. Allahu Akbar! 


Silahkan baca...

8/6/14

ISIS, Intelijen dan Perang antar Jenderal

Pemerintah RI memanfaatkannya untuk kepentingan proyek War on Terrorism melalui BNPT dengan landasan filosofis yang sama sebagaimana yang dianut Barat!

Oleh: Abu Nisa  

SUNGGUH luar biasa opini tentang menyoroti DAIS (Daulah Islamiyah Iraq wa Syam) atau  ISIS/ISIL. Entah apa yang menyebabkan kasus ISIS ini memunculkan tanggapan statemen dari berbagai pihak.

Mulai dari SBY, Panglima TNI, Kapolri, Kemenko Polhukam, Kemenkum HAM, Kemenkominfo, Kemenag, BNPT,  Dirjen Pemasyarakatan, Deputi Bidang Kerjasama Internasional, tokoh masyarakat, akademisi, pengamat, dan lain-lain. Hingga SBY mengadakan sidang kabinet dengan agenda secara khusus menyikapi masifnya dukungan atas ISIS di Indonesia. Dan sidang kabinet itu menghasilkan keputusan politik yang disampaikan melalui Menko Polhukam bahwa ideologi ISIS dinyatakan dilarang.

Tidak bisa dipungkiri, opini tentang ISIS seolah mengalihkan sementara opini tentang kebiadaban Israel di Gaza Palestina dan laporan dugaan manipulasi data secara sistematis atas hasil Pilpres oleh kubu Prabowo-Hatta.

Opini ISIS yang tiba-tiba ditanggapi berbagai kalangan dalam kurun beberapa hari ini  setidaknya menyisakan pertanyaan besar;

Pertama, ada momentum besar yang memicu kriminalisasi terhadap mereka yang mendukung ISIS justru terjadi di dalam penjara.

Adalah Ustadz Abubakar Ba’asyir yang selamanya ini didorong sebagai ikon “teroris” di Indonesia melakukan baiat atas ISIS di penjara pasir putih Nusakambangan. Belakangan tiba-tiba semuanya merasa kebakaran jenggot. Statement Amir Syamsuddin sebagai Menkum HAM untuk memecat kepala penjara. Termasuk pengakuan Dirjen Kemasyarakatan bahwa telah terjadi pembaiatan Ustadz ABB konon di bawah tekanan di dalam penjara. Tentu ini sesuatu yang naif.

Pertanyaan besarnya, kenapa peristiwa pembaiatan itu tetap berlangsung dan berjalan lancar? Dan seolah-olah peristiwa itu menjadi momentum legitimasi untuk membenarkan keberadaan dukungan atas ISIS berjalan masif di negeri ini.

Termasuk juga peristiwa pembaiatan sejumlah aktivis islam dengan acara yang khas di sebuah hotel kawasan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta tempat yang lain seperti di Bima, Solo, Makassar. Serta beberapa rencana baiat di beberapa tempat yang lain di Malang dan Sidoarjo.

Semuanya menunjukkan bahwa terlalu lugu untuk mengatakan bahwa tidak mungkin intelijen Indonesia tidak mengetahui peristiwa ini.

Anehnya belakangan fenomena dukungan atas ISIS itu justru diblow-up dengan skala besar oleh berbagai media seperti layaknya infotainment.

Hari Rabu, 6 Agustus 2014 ini di Makassar, tepatnya di Studio Mini Harian Fajar, Graha Pena Fajar lantai 4, bahkan ada acara terkait masalah ini dengan menghadirkan pembicara antara lain: Ansyaad Mbai (Ketua BNPT), Prof Dr H Abd Rahim Yunus, MA, (MUI dan FKUB Sulsel), Prof. Dr H M Arifin Hamid, SH, MH (FKPT BNPT Sulsel), dan Ir Moh Kemal Shodiq (Ketua DPD Hizbut Tahrir Indonesia Sulsel) dengan moderator Drs. H. Waspada Santing, M.Sos.I, M.HI dengan tema: “Double Warning Antisipasi ISIS”, jam 13.00-15.00 WITA.

Padahal deklarasi dukungannya telah dilakukan sejak tanggal 29 Juni atau sebulan yang lalu.

Kedua, jika benar yang disampaikan oleh Snowden seorang mantan pegawai di National Inteligent AS yang menyatakan bahwa AS dan Inggris ada di belakang ISIS, maka hal ini membuktikan bahwa target opini internasional terhadap kemunculan ISIS adalah untuk menciptakan black-campaign terhadap para mujahidin sekaligus terhadap syariat dan khilafah yang diperjuangkannya.

Dengan kata lain, inilah strategi radikalisasi terhadap kelompok Islam sekaligus deradikalisasi. Setelah diradikalisasi maka kemudian distigmatisasi. Sedangkan deradikalisasinya dalam bentuk upaya adu domba dan islamophobia yang berujung pada krisis keyakinan kaum Muslimin terhadap ajarannya sendiri terutama tentang jihad.

Dalam konteks Indonesia, maka pemerintah RI memanfaatkannya untuk kepentingan proyek war on terrorism melalui BNPT dengan landasan filosofis yang sama sebagaimana yang dianut Barat.

Lebih aneh lagi, mengapa kasus ini di blow-up saat penetapan presiden wakil presiden beserta kabinet yang disusun pasca keputusan gugatan hasil Pilpres ke MK oleh kubu Prabowo-Hatta? Ada apa gerangan?

Ketiga, atribut-atribut ISIS tidak luput dianggap sebagai barang bukti kasus terorisme.

Padahal, atribut bendera dengan kalimat “Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasullullah” adalah atribut milik semua kaum Muslim, yang siapa saja berhak menggunakan dan mengklaim, tak hanya ISIS yang hanya segelintir.

Sejak blow-up mendadak ISIS, rupanya ada rencana untuk membreidel sekaligus melarang keberadaan bendera  berkalimat “Laa Ilaha Illallah” seolah itu  sebagai representasi ISIS.

Momentum ini bisa ditengarai sebagai titik tolak “kriminalisasi” terhadap simbol-simbol perjuangan pada kelompok-kelompok Islam secara keseluruhan.

Keempat, setelah gagal menjerat kelompok-kelompok Islam yang dianggap radikal terutama yang memilih menggunakan jalan jihad melalui pintu legislasi secara langsung misalnya UU Ormas, rupanya dukungan atas ISIS adalah momentum untuk menjerat, membubarkan, mengkriminalisasi sekaligus mem “black campaign” nya.

Kelima, momentum dukungan atas ISIS menjadi peristiwa yang memperkuat legal aspect untuk apa yang dianggap sebagai tindak terorisme.

Implementasi UU Kewarganegaraan No 12 tahun 2006 dan wacana amandemen/revisi terhadap UU Terorisme yang disampaikan oleh Deputi Kerjasama Internasional Harry Purwanto tidak saja mengandung substansi penindakan hukum atas aksi teror fisik namun juga pada aksi teror lisan.

Dengan dalih agar mencakup secara menyeluruh mengenai aktivitas terorisme. Diantaranya tindakan menyebar kebencian (hate speech) termasuk mengikuti pelatihan militer di Indonesia  maupun luar negeri. Atau menjadikan digital evidence sebagai barang bukti, karena selama ini dianggap baru menjadi petunjuk untuk pembuktian. Nampaknya UU Terorisme No 15/1973 dikehendaki bukan saja mampu menjerat tindakan teror fisik namun juga mampu menindak apa yang dianggap sebagai bentuk teror lisan. Kita membayangkan betapa banyak klaim penindakan hukum atas syiar Islam karena termasuk dalam kategori menyebar kebencian (hate speech) jika amandemen UU Terorisme ini berhasil dilakukan. Bahkan bisa juga dijerat dengan UU Intelijen dan UU Darurat berkaitan dengan ancaman terhadap keamanan nasional.

Keenam, momentum ISIS mengaburkan Perang antar Jenderal

Beberapa pertanyaan besar seputar fenomena opini masif dukungan atas ISIS menyiratkan sebuah ganjalan pertanyaan lebih besar lagi ada apa sebenarnya di balik fenomena opini dukungan atas ISIS?

Di tengah mulai tergambarnya adanya indikasi rekayasa permainan manipulasi suara Pilpres secara sistemik, tak bisa ditutup di balik ini antara “peperangan konflik kepentingan” antar jendral dan antar elit dengan melibatkan tim rekayasa politik –bahkan tim cyber—dalam pelaksanaan Pilpres yang dituding penuh kecurangan.

Tak bisa ditutupi, sesungguhnya perang kepentingan Pilpres tahun 2014 adalah “perang intelijen” dan “perang antar jenderal” ambisius yang ingin berpolitik. Tak perlu disebut satu-persatu mereka. Tinggal baca kliping koran, akan nampak siapa lawan siapa, antara Timses Capres Jokowi dan Prabowo. Ujungnya adalah para “jenderal-jenderal ambisius”.

Sesungguhnya ISIS sendiri tak mungkin begitu berpengaruh besar bagi umat Islam di Indonesia. Mengingat mayoritas ormas-ormas Islam di Indonesia memiliki akar kuat yang tak mudah goyah. Hanya saja, mencari sasaran korban pada ISIS adalah cara mudah mengkaburkan pandangan masyarakat, atas keterlibatan dan intrik-intrik politik yang semrawut di Indonesia.

Akhirnya fenomena opini ISIS yang ujungnya bisa dibaca pada “kriminalisasi” segala hal berbau syariah, tak bisa serta-merta dibaca benar-benar murni sebagai peristiwa alamiah semata.  Terlalu sederhana jika kasus ini dilepas begitu saja dari peran intelijen  yang dalam banyak kasus dalam sejarah di negeri ini kaya dengan intrik politik dan rekayasa dalam usaha-usaha melemahkan gerakan Islam. Wallahu a’lam bis showab.*

Pemerhati kontra intelijen


Silahkan baca...

8/4/14

Wawancara Harist Abu Ulya: "ISIS, Antara Khilafah & Jebakan Intel"

JAKARTA (voa-islam.com) - Islamophobia dimana-mana. Tim Redaksi Voa-islam.com bergerak aktif untuk menindaklanjuti banyaknya serangan (atau lebih tepatnya bombardir) isu kepada ISIS (Islamic State Iraq & Syam) yang kini bermetamorfosa menjadi Islamic State (IS) atau Daulah Islam dengan pendirian Khilafah Islamiyah.

Tim Redaksi Voa-Islam mencoba menyelamatkan makna 'Khilafah Islam' yang hendak dikriminalisasikan berbagai pihak, baik kafir nashara, aliran sesat syiah yang mendompleng agenda BNPT dan Densus 88 hingga timses Jokowi yang tiba-tiba ikut campur mengurusi ISIS daripada Gaza di Palestina.
Khilafah Islam yang hendak dikriminalisasikan berbagai pihak, baik kafir nashara, aliran sesat syiah yang mendompleng agenda BNPT dan Densus88 hingga Timses Jokowi
Apakah ini pengalihan isu?

Untuk mencari benang merah soal ISIS dan yang terkait dengan Khalifah Islam, pada 3 Agustus 2014 tim Redaksi Voa-Islam mewawancarai Ustadz Harist Abu Ulya Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) soal berkembangnya #teroristainment dan pemberangusan makna Khilafah Islam yang hendak dikriminalisasikan pasca kasus-kasus terorisme yang dibentuk BNPT sudah mulai 'masuk angin' dan kehilangan objek penderitanya.

Berikut laporan hasil wawancara kami kepada Ustadz Harist Abu Ulya dari CIIA

Apa pendapat Anda tentang pendukung ISIS/IS di Indonesia?
Saya ingin katakan kepada mereka pendukung ISIS/IS di Indonesia; alangkah eloknya jika dukungan dan optimisme terhadap ISIS/IS dan masa depannya itu di artikulasikan dalam sikap yang bijak dan proporsional. Hindarilah debat kusir, apa untungnya jika optimisme itu harus berselendang celaan, cacian, bahkan sampai pada tingkat pengkafiran terhadap siapapapun yang bersebrangan dengan sikap dan pendapatnya. Nalar sehat akan mengedepankan “suguhan” yang baik kepada umat, agar umat makin empati dan turut serta mendukung apa yang mereka dukung. Menghargai pihak lain yang berbeda sikap, itu juga sikap yang diajarkan para ulama’ mujahid yang mukhlis. Sikap berbeda tentu karena ada hujjah yang melandasinya.Karena perihal Khilafah bukan seperti pembicaraan bab sederhana tentang sah atau batalnya wudlu’. Khilafah ini menyangkut soal nasib hidup dan matinya umat Islam semua. Jangan sampai euforia membuat telinga disumpal, tidak mau mendengar nasehat apapun seraya mengenakan “kaca mata kuda” melangkah dengan kajahilan. Jika mengedepankan emosional dan loyalitas membabi buta kepada sebuah pilihan saya yakin hal tersebut akan melahirkan sikap dan kondisi yang kontra produktif!
Siapa mereka?
Yang saya tahu mereka dari beragam person. Ada yang bergabung dalam sebuah tandzim gerakan dan juga ada yang tidak bergabung di sebuah tandzim. Begitu juga ada dari aktifis yang bergabung dalam sebuah forum-forum kecil maupun yang bergabung dalam sebuah ormas lalu keluar dari ormas tersebut kemudian berafiliasi kepada komunitas pro ISIS/IS.
Apakah mereka dipelihara oleh inelijen RI?
Yang pasti, kelompok Islamis di Indonesia eksistensi antara "dicintai dan dibenci”. Dibenci karena dianggap ancaman potensial terhadap tatanan politik demokrasi yang carut marut. "Dicintai” karena dibutuhkan untuk menjadi penyeimbang dari keberlangsungan politik demokrasi yang di agung-agungkan. Disamping mereka kerap dibutuhkan menjadi “tumbal” kepentingan oleh orang dan kelompok opurtunis yang duduk di ragam jabatan dan kekuasaan. Bahkan kaum Islamis adalah obyek dari proyek politik imperialisme skala global dan regional. Karenanya, isu-isu sensitif terkait geliat kelompok Islamis juga menjadi perhatian kalangan dan institusi Intelijen. Oleh karena itu, penggalangan pasti dilakukan terhadap kelompok Islamis dengan beragam strategi, target minimalnya “dibawah kendali” rezim.
Ustadzz Abu Bakar Baasyir dikabarkan ikut berbaiat dan digolongkan sebagai ISISER, kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Dari informasi yang saya dalami memang benar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir memberikan dukungan bahkan baiat kepada Khalifah al Bagdady yang dideklarasikan oleh ISIS. Beliau selama ini mendekam dibalik Lapas Pasir Putih-Nusa Kambangan, dan beliau dikelilingi oleh napi “teroris” yang pro ISIS. Bersama beliau ada seorang yang bernama Abu Yusuf, Abu Irhaby dan Anton, bisa dikatakan mereka ini 24 jam berinteraksi dengan beliau. Belum lagi seorang Aman Abdurrahman dari Lapas Kembang Kuning-Nusa Kambangan via telpon rutin komunikasi dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Sikap dan pemahaman seseorang bergantung dari maklumat (informasi) yang ia serap. Nah, ini soal intensitas dan volume komunikasi yang di introdusir kepada Ustadz Abu oleh orang seperti Abu Yusuf, Abu Irhaby dan Aman Abdurrahman lebih dominan dan banyak memberikan pengaruh mindset serta sikap seorang Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Ustadz Abu di satu sisi sebagai pimpinan JAT, tapi tidak mendapatkan informasi yang lebih dari organ JATdibanding informasi yang datang dari orang diluar JAT. Bahkan dalam konteks gerakan yang saya baca, sadar atau tidak akhirnya JAT tidak lagi mampu mempertahankan perfomanya sebagaimana mestinya. Karena pimpinannya dalam kondisi “dipangku” pihak lain diluar JAT. Dan semua proses ini secara tidak langsung mengalir dalam sebuah “karpet merah” pembiaran oleh pihak BNPT, Densus88 dan pihak Dirjen Lapas. Karena kuncinya disini adalah komunikasi dan informasi, sejatinya tidak susah bagi Densus88 dengan teknologi “cyber crime”nya untuk merontokkan semua situs-situs didunia maya yang menjadi sumber informasi. Dan tidak susah juga untuk melarang dan menutup semua akses informasi dan komunikasi dari dan ke semua lapas khusus bagi napi “teroris”. Jadi semua bukan faktor kebetulan dan tiba-tiba. Sadar atau tidak, sebenarnya ada yang sedang menikmati “permainan”.
Apakah bergabungnya Ustadz ABB dengan ISISER ini adalah hasil penggalangan dalam operasi intelijen?
Sekali lagi, pilihan Ustadz Abu untuk berbaiat kepada Khalifah al Bagdady bukan sebuah kebetulan. Karena ada proses panjang sebelumnya. Dari data-data empirik yang saya dapatkan terlihat bagaimana sebuah pengkondisian “hight pressure” yang ending-nya membuat Ustadz Abu inheren dengan para pendukung ISIS baik yang ada dalam Lapas maupun yang diluar Lapas. Jauh hari tentang kemungkinan Ustadz Abu dengan JAT-nya seperti keadaan sekarang sudah saya ingatkan kepada beberapa qiyadah JAT. Posisi JAT menjadi target operasi intelijen, dengan target dibubarkan atau dibuat seperti macan ompong.

Atau sebaliknya jika perlu diradikalkan sekalian supaya mudah dikriminalkan untuk kepentingan proyek kontra terorisme oleh BNPT dan Densus88. Semua proyek penindakan orang yang dituduh teroris banyak dikaitkan dengan JAT. Dan bahkan para pimpinan JAT banyak masuk penjara, tapi semua itu tidak berpengaruh kepada eksistensi JAT.

Nah, strategi yang soft ternyata lebih manjur untuk melemahkan JAT. Yaitu, langkah “menarik” Ustadz Abu dari JAT atau membawa Ustadz Abu bersama gerbong JAT nya untuk lebih “radikal” dengan akidah takfiriyah bahkan kalau perlu mampu menjadikan Ustadz Abu mengambil sikap yang bisa memberikan legitimasi terhadap kepentingan pendukung ISIS. Dengan begitu BNPT seperti saat ini bisa berkoar-koar bahwa benar adanya jaringan teroris global di Indonesia. ISIS/IS di indonesia bobot isu dan impact-nya akan berbeda jika Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang menjadi pendukungnya jika dibandingkan hanya seorang Aman Abdurrahman, intelijen saya rasa paham hal tersebut.

Jadi efek dominonya luar biasa, baik tehadap eksistensi JAT, posisi Ustadz Abu dan secara umum terhadap masa depan pergerakan Islam di Indonesia yang mereka konsen dalam penegakkan syariat dan Khilafah. Pihak intelijen akan mengelola sesuai dengan blue print management konflik dalam konteks politik keamanan di indonesia.
Intelijen di Indonesia ada banyak, elemen mana yang memainkan ini, BIN, BAIS atau BNPT?
Saya lihat baik BIN maupun BAIS demikian juga Intelkam POLRI terus memonitori soal Khilafah dan ISIS. Di masing-masing institusi Intelijen ada bagian khusus dengan deputi, direktur dan satgas serta agen dibawahnya sesuai bidangnya bekerja siang dan malam untuk itu. Kalau anda mau tahu siapa yang paling berperan memainkan masalah ini, lihatlah siapa yang paling getol membangun retorika publik dalam isu ini? Jajaran BNPT bersindikasi dengan intelijen Densus88 banyak punya kepentingan dengan isu ini.
Ada isu BNPT menyiapkan bom bagi ISISER untuk diledakkan menjelang keputusan MK tentang kecurangan Pilpres. Seberapa jauh kebenaran isu tersebut?
Masyarakat perlu tahu, Pilpres menyisakan masalah di antara dua kubu. Dan potensi gangguan keamanan paling tinggi adalah dari masing-masing pihak pendukung capres yang tidak puas dengan hasil pilpres yang diumumkan KPU dan keputusan MK kedepan. Di sisi lain sebenarnya para pemangku kebijakan dibidang politik keamanan butuh “prestasi” yang bisa di banggakan didepan Presiden baru. Jaminan keamanan terhadap proses Pilpres dari awal hingga dilantiknya Presiden baru, menjadi pertaruhan bagi jabatan dan kepentingan opurtunis mereka saat ini. Jadi ada upaya penggalangan terhadap semua kubu capres baik yang menang maupun yang kalah agar tidak melakukan gerakan kontraproduktif terhadap keamanan.
Namun disisi lain, saya juga melihat momentum saat ini bagi semua kubu juga butuh “kambing hitam” sebagai respon terhadap kisruhnya Pilpres. Bisa jadi memanfaatkan kelompok Islamis
Namun disisi lain, saya juga melihat momentum saat ini bagi semua kubu juga butuh “kambing hitam” sebagai respon terhadap kisruhnya pilpres. Bisa jadi memanfaatkan kelompok Islamis untuk melakukan aksi sebagai pengalihan kisruh hasil pilpres.

BNPT bukan tidak mungkin dalam kondisi sekarang ingin memancing di air keruh. Mau ambil banyak keuntungan dengan isu Khilafah dan ISIS sepanjang waktu sebelum pelantikan Presiden. Bukan tidak mungkin langkah-langkah intelijen gelap terjadi untuk melegitimiasi “narasi ancaman” dimana BNPT sudah menabuh sinyal sebelumnya. Dan menjadi seperti dalam pepatah “ayam berkotek tanda ia bertelur”. Waspadalah!
Demikian hasil wawancara kami dengan Ustadzz Harist Abu Ulya dari CIIA. Waspadalah, para pendukung ISIS akan mengalami ujian dan jebakan yang banyak. Be Wise and Beware Bro! [ajaf/adivammar/voa-islam.com]

8/3/14

Mengapa Harus Ribut dengan Ba'iatnya Ustad ABB kepada ISIS?


NUSAKAMBANGAN (voa-islam.com) - Dunia terkaget-kaget setelah Abu Bakar al-Bagdadi mendeklarasikan Khilafah atas wilayah Irak dan Syam yang sudah dikuasinya. Begitu cepat. Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) berhasil dengan spektakuler, menguasai teritorial yang luas, seperti Mosul, dan sebagian Syria.

ISIS yang dipimpin Khalifah Abu Bakar al-Bagdadi, menyerukan kepada Muslim di seluruh dunia, bergabung dengan Khilafah Islam di Mosul, dan berbai'at, membangun kekuatan Khilafah Islam. Namun, Khilafah yang dideklarasikan oleh Bagdadi ini menggetarkan para pemimpin dunia. Terutama para pencundang, dan yang menjadi kaki tangan Amerika, dan kafir musyrik (Yahudi dan Nasrani).

Memang, tindakan Khilafah di Mosul itu, membuat semua orang tersentak, karena telah menghancurkan masjid syiah, masjid kaum sufi, dan bahkan gereja-gereja kaum Kristen sudah ludes. Termasuk gereja yang umurnya 1.800 tahun.

Penganut Kristen hanya diberi alternatif pilihan, masuk Islam, meninggalkan Irak, atau membayar jijzah (pajak), seraya mentaati hukum Syariah Islam. Sehingga, penganut Kristen di Mosul, yang jumlahnya 2 juta itu, banyak yang memilih pergi.

Bahkan, pemerintahan baru di Mosul, menghancurkan nisan-nisan kuburan dengan bolduzer. Memang, seperti di kuburan Baqi', Madinah, tidak ada tanda apapun, kecucali batu, sebagai tanda nisan. Semuanya dalama rangka menjaga kemurnian tauhid.

Sementara itu, Muslim di Indonesia banyak yang sudah bergabung dengan ISIS, dan meninggalkan Indonesia, dan mereka umumnya tidak kembali ke Indonesia, dan memilih akan tetap di Irak, dan kalau Irak tercipta sistem Khilafah, mereka tidak akan kembali, mereka akan membebaskan negeri-negeri Muslim lainnya yang dijajah oleh kafir musyrik.

Mungkin Muslim di Indonesia sudah letih dengan sistem demokrasi yang amburadul, dan mengakibatkan banyak Muslim yang rusak aqidah dan imannya. Menghabiskan umur dengan sia-sia, dan belum tentu di akhirat nanti bisa selamat dari api neraka?

Terbetik kabar Ustad Abu Bakar Ba'asyir sudah menyatakan ba'iat kepada Khalifah Abu Bakar al-Bagdadi. Menurut kabar yang terbetik, Ustad Abu Bakar Ba'asyir juga membubarkan tandzim JAT (Jamaah Anshar Tauhid), sesudah menyatakan bai'at kepada Khalifah Abu Bakar al-Bagdadi. Karena, secara syar'i merupakan kewajiban.

Sebenarnya, kalau membaca kitab Tadzkirah, aqidah, dan iman yang ditulis oleh Ustadz Abu Bakar Ba'asyir bergabung dengan ISIS atau berbai'at kepada Khalifah Abu Bakar al-Bagdadi itu, sangat logis, sesuai dengan pemikiran dan pemahaman Ustad Abu Bakar Ba'asyir seperti yang tertuang dalam buku-bukunya.

Di bagian lain, Direktur Jenderal Permasyarakatan Handoyo Sudrajat mengatakan lembaganya segera menggelar sidang tim pengamat permasyarakatan.

Sidang ini untuk merespons beredarnya gambar terpidana terorisme 15 tahun penjara Abu Bakar Ba'asyir berbaiat kepada khalifah Al-Baghdadi, pemimpin kelompok ekstremis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Foto yang menampilkan Ba'asyir bersama 13 orang yang diduga anggota ISIS beredar. Satu di antara mereka terlihat membentangkan bendera ISIS berwarna hitam. Foto itu diambil di sebuah ruangan lebar berlantai kayu. Ba'asyir duduk diapit para pria itu dan mereka mengenakan pakaian putih.

Tidak ada yang aneh tentang bai'atnya Ustad Abu Bakar Ba'asyir kepada Khalifah Abu Bakar al-Bagdadi di Irak. Karena ini konsekuensi dari keimanan dan pengakuan dari dua kalimah syahadat seseorang, yaitu 'Laa ilahaa IllaLah, Muhammadur Rasulullah'. (afgh/dbs/voa-islam.com)



SEBUAH PENGAKUAN...
Ana dulu membenci "teroris" tapi sekarang ana justru menjadi "teroris"

Oleh: M.Andi Satya Wismoyo

Sahabat Voa-Islam, Islamophobia dimana-mana...

Cara media sekuler memberitakan IS (dulunya ISIS) tidak jauh beda dengan cara mereka memberitakan tentang kasus WTC, bom Bali, bom JW Marriot, I'dad Aceh, dst waktu dulu, yang menampilkan sang pecundang berlabel "pahlawan" Densus (banci) 88.

Ya, awalnya orang-orang ikut terkena doktrin sesat mereka, tapi dengan cara mereka yang bodoh, tolol, oon, bloon, dungu, tidak berotak itulah membuat orang-orang pilihan Allah mencari-cari info tentang kebenaran yang sebenarnya, hingga qadarullaah... hidayah itu menghampiri orang-orang pilihan Allah dari semula netral bahkan anti "teroris" (baca: mujahidin) menjadi pro-"teroris" (baca: mujahidin).

Jujur saja, ana dulunya orang yang sangat mengecam tindakan "teroris" yang menurut ana (waktu itu masih terkena doktrin media kafir) kalau "teroris" itu mengancam ketentraman suatu negara, bahkan dulu ana pengagum banci Densus88 itu sampai-sampai saat ada pemberitaan penggrebekan "teroris" oleh banci 88 baik di MetroTv maupun TVOne tengah malam pun ana rela begadang.

Tidak sampai di situ, dulu pun ana anti dengan para "teroris" seperti Amrozi, cs, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir, Umar Patek, dsb. Tapi pemberitaan "teroris" dilakukan secara over dosis daripada pemberitaan lainnya seperti kasus korupsi, kolusi, nepotisme, dsb membuat ana penasaran ada apa dengan "teroris" sehingga media (bajingan) itu tiap harinya memberitakan "teroris"?
Belum lagi pemberitaan kenapa orang atau kelompok yang dicap "teroris" itu harus beragama Islam??? Sedangkan RMS (Republik Maluku Serikat) maupun OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang mengancam eksistensi NKRI tidak dicap "teroris" oleh karena kedua kelompok itu bukan beragama Islam???
Belum lagi pemberitaan kenapa orang atau kelompok yang dicap "teroris" itu harus beragama Islam??? Sedangkan RMS (Republik Maluku Serikat) maupun OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang mengancam eksistensi NKRI tidak dicap "teroris" oleh karena kedua kelompok itu bukan beragama Islam???

Belum lagi apa yang dilakukan negara zionis Israel yang telah membantai orang-orang Palestina tidak dicap "teroris"??? Tindakan-tindakan Amerika cs dalam perang di Afghan, Iraq, dll yang telah membunuh puluhan ribu warga setempat, memperkosa wanita-wanita, menewaskan anak-anak dan orang-orang uzur, tidak disebutnya teroris???

Belum lagi kasus pembantaian orang-orang kafir terhadap muslim-muslim di Poso, Ambon, dan wilayah sekitarnya tidak disebut teroris??? Sehingga muncul pertanyaan, benarkah teroris itu label yang hanya dicapkan pada orang atau kelompok yang beragama Islam???

Alhamdulillaah... melalui makar mereka (media kufar dan fasik) sendirilah hidayah dari Allah menghampiri ana hingga ana akhirnya berada pada barisan "teroris". Dan ana yakin tidak cuma ana sendirian yang mengalami hal demikian, banyak saudara/i kita yang lain yang tersadar justru melalui makar-makar orang kafir itu sendiri. Tidak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi pula pada IS (dulunya ISIS) saat ini, awalnya orang-orang terkena doktrin mereka, tapi ujung-ujungnya mereka penasaran hingga akhirnya membela IS. Insyaa Allaah...