7/29/14

Wirid Sesudah Sholat Wajib

Ada sebagian muslim bilamana selesai mengerjakan sholat lima waktu langsung meninggalkan tempat sholatnya lalu berdiri untuk segera kembali meneruskan kesibukan duniawinya. Mereka tidak menyempatkan diri untuk berhenti sejenak membaca wirid ataupun bacaan-bacaan yang sesungguhnya dianjurkan dan dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.

Padahal terdapat banyak variasi wirid yang dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selepas beliau mengerjakan sholat lima waktu. Di antaranya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Apabila Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selesai dan salam dari sholat beliau mengucapkan: ”Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya segala puji dan bagiNya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Kekayaan seseorang tidak berguna dari ancamanMu.” (HR Bukhary 3/348)

Setidaknya dari wirid di atas ada tiga poin penting yang mengandung pengokohan kembali iman seseorang. Pertama, ia mengokohkan pengesaannya akan Allah subhaanahu wa ta’aala. Ia memperbaharui tauhid-nya, keimanannya bahwa hanya ada satu ilah di jagat raya ini dan bahwa ilah tersebut tidak memiliki sekutu apapun bersamaNya.

Kedua, ia mengokohkan keyakinannya bahwa sesungguhnya rezeqi seseorang sepenuhnya telah ditakar dan ditentukan terlebih dahulu oleh Allah subhaanahu wa ta’aala. Sehingga pembaharuan keyakinan ini akan membuat dirinya tetap rajin namun tidak ngoyo dalam mengejar rezeqi di dunia.

Ketiga, ia bahkan membebaskan dirinya dari faham materialisme. Suatu faham yang menganggap bahwa banyak-sedikitnya materi menentukan mulia-hinanya seseorang. Padahal sekaya apapun seseorang, maka sesungguhnya kekayaannya itu tidak dapat membebaskan dirinya dari ancaman serta siksaan Allah subhaanahu wa ta’aala bilamana ia tidak memenuhi hak Allah untuk disembah dan diesakan. Allah subhaanahu wa ta’aala bukanlah seperti kebanyakan fihak di dunia fana ini yang dengan mudah bisa disuap.


Ada lagi jenis wirid yang biasa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kerjakan sebagai berikut:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ يَوْمًا ثُمَّ قَالَ يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ قَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى

ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Dari sahabat Mu’adz radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah menggandeng tangnnya dan bersabda: “Demi Allah, hai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintaimu.” Lalu beliau bersabda: “Aku berwasiat kepadamu hai Mu’adz, jangan kau tinggalkan setiap selesai sholat ucapan: 'Ya Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk berdzikir menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ‘ibadah yang baik untukMu.'”(HR Ahmad 45/96)

Orang yang rajin membaca wirid di atas selepas sholat lima waktu tentu akan menjadi seorang mu’min yang senantiasa rendah hati dan hanya bergantung kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Sebab betapapun banyaknya aktivitas dzikir, bersyukur dan ber-ibadahnya namun dengan penuh kesadaran ia terus memohon hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala untuk menjadikan dirinya selalu sanggup mengerjakan ketiga perkara mulia tersebut.

Bahkan ada jenis wirid yang menurut Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bila dikerjakan seorang muslim selepas sholat lima waktu akan menyebabkan dirinya terjamin memperoleh ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala atas segenap dosanya betapapun banyaknya dosa yang ia miliki:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (مسلم)

Barangsiapa bertasbih kepada Allah tigapuluh tiga kali setiap selesai sholat lalu bertahmid kepada Allah tigapuluh tiga kali dan bertakbir kepada Allah tigapuluh tiga kali maka itu adalah sembilanpuluh sembilan lalu mengucapkan -sebagai penyempurna menjadi seratus- dengan “Tidak ada ilah selain Allah tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segenap kerajaan dan miliknya segenap puji-pujian. Dan Dia atas segala sesuatu Maha Berkuasa, ” niscaya dosa-dosanya diampuni meskipun seperti buih lautan. (HR Muslim 3/262)

Tidak ada seorangpun manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Sehingga seorang muslim pastilah sangat berhajat akan ampunan Allah subhanaahu wa ta’aala agar dirinya selamat pada hari perhitungan kelak di akhirat.

Maka, saudaraku, sempatkanlah untuk membaca wirid-wird yang dianjurkan dan dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selepas sholat lima waktu. Jangan menjadi hamba dunia yang menyangka bahwa jika sudah selesai sholat yang penting adalah segera kembali mengerjakan kesibukan duniawinya. Padahal apalah artinya segenap dunia yang dikejar dibandingkan dengan kebaikan yang dijanjikan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam jika kita mau saja mengisi waktu sejenak selepas sholat wajib harian kita.

KASAD Jend. TNI Gatot: Saat Ini Zaman Proxy War Alias Perang Boneka. Know Your Enemy!

Oleh: Jenderal TNI Gatot Nurmantyo Kasad TNI

Bertambah pesatnya populasi penduduk dunia yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan, air bersih, dan energi akan menjadi pemicu munculnya konflik-konflik baru.

Indonesia sebagai salah satu negara ekuator yang memiliki potensi vegetasi sepanjang tahun akan menjadi arena persaingan kepentingan nasional berbagai negara. Untuk itu, diperlukan langkah antisipasi agar keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia terjaga. Konflik-konflik di belahan dunia terjadi akibat persaingan kepentingan antarnegara untuk menguasai sumber energi.

7/23/14

Pemimpin adalah Cerminan dari yang Dipimpinnya

(Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya)

"Sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian..."

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, keluarga dan sahabatnya.

Mengapa kita sering membicarakan kejelekan pemerintah, namun melupakan kejelekan pribadi? Mengapa kita selalu mencela penguasa, dan tak pernah mencela berbagai penyimpangan kita? Sebenarnya, pemerintah adalah cermin rakyatnya.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah ditanya oleh seseorang: “Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau?" Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”. (Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51)

Jadi, ketika penguasa seenaknya mengeruk kekayaan negara dan memenjarakan rakyat tak berdosa, penyebabnya adalah dosa rakyat yang melalaikan kewajiban dan tenggelam dalam maksiat. Demikian pula ketika rakyat memberontak dan menjatuhkan si penguasa, itu pun akibat kesalahan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, loyal kepada orang kafir, tenggelam dalam foya-foya dan menelantarkan urusan negara.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah mengatakan dalam acara Liqa’ al-baabil maftuh, yaitu acara pertemuan antara beliau dengan masyarakat umum untuk tanya-jawab, yang diadakan di rumah beliau: "Waliyyul amr, baik dari kalangan ulama’ maupun umara’, pasti punya banyak kesalahan. Akan tetapi, dalam sebuah atsar disebutkan kamaa takuunuu, yuwalla ‘alaikum* (sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian)"

*[Ini adalah atsar Abu Ishaq As Sabi’iy, salah seorang ulama tabi’in asal Kufah yang terkenal sebagai ahli hadits dan ahli ibadah. Beliau lahir dua tahun menjelang berakhirnya kekhalifahan Utsman, dan wafat sekitar tahun 129 H. Keluasan ilmu beliau di bidang hadits disejajarkan dengan Imam Ibnu Syihab Az Zuhri]


Cobalah perhatikan kondisi masyarakat /rakyat..!

Para penguasa yang dzhalim merupakan hukuman yang ditimpakan Allah bagi kaum yang dzhalim pula, dikarenakan dosa-dosa yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS Al An’aam 129)

Abul Walid Ath Thurthusyi rahimahullah berkata, “Jika engkau berkata bahwa para pemimpin di zaman ini tidak sama dengan para pemimpin di zaman dahulu, maka rakyat di zaman ini pun tidak sama dengan rakyat di zaman dahulu. Jika engkau mencela pemimpinmu bila dibandingkan dengan pemimpin dahulu maka pemimpinmu pun berhak mencelamu bila dibandingkan dengan rakyat dahulu. Maka apabila pemimpinmu menzalimimu hendaklah engkau bershabar dan dia yang akan menanggung dosanya..."

Oleh karena itu, berkuasanya penguasa yang dzhalim bukanlah penyakit riil dari umat ini, bahkan penyakit yang riil berasal dari rakyat yang berada di bawah kekuasaan penguasa tersebut.

Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:

" يا معشر المهاجرين خصال خمس إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ : لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا. َلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ .وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا .وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ .وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ".

Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya-
  1. Tidaklah nampak zina di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya,
  2. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kedzhaliman penguasa atas mereka.
  3. Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.
  4. Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki
  5. Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (al-Qur’an) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.”

Derajat Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2/1332 no. 4019), Abu Nu’aim (8/333), al-Hakim (no. 8623) dan Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106)

Jika ingin menyalahkan jeleknya kepemimpinan pemimpin, maka rakyatnyalah yang lebih dahulu mengintropeksi diri. Karena pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه مالا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك مالا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم وليس في الحكمة الالهية ان يولى على الاشرار الفجار الا من يكون من جنسهم

Ibnul Qayyim berkata, “Perhatikanlah hikmah-Nya tatkala Dia menjadikan para raja, penguasa dan pemegang tampuk pemerintahan sesuai dengan amalan yang dilakukan oleh para rakyat di dalam negeri tersebut. Bahkan, amalan dari para rakyat akan tercermin dari tingkah laku para penguasanya.
  • Apabila rakyat di dalam negeri tersebut komitmen dalam menjalankan syari’at, maka tentu penguasanya pun demikian.
  • Apabila mereka berlaku adil, maka para penguasa akan berlaku adil kepada mereka.
  • Apabila mereka suka berbuat kemaksiatan, maka para penguasa juga akan senantiasa berbuat maksiat.
  • Apabila rakyat senantiasa berbuat makar dan tipu daya, maka tentulah penguasa demikian pula keadaannya.
  • Apabila para rakyat tidak menunaikan hak-hak Allah serta mengabaikannya, maka penguasa mereka pun juga akan berbuat hal yang sama, mereka akan melanggar dan tidak menunaikan hak-hak para rakyatnya.
  • Apabila rakyat sering melanggar hak kaum yang lemah dalam berbagai interaksi mereka, maka para penguasa akan melanggar hak para rakyatnya secara paksa, menetapkan berbagai pajak dan pungutan liar kepada mereka. Dan setiap mereka (yakni rakyat) mengambil hak kaum yang lemah, maka hak mereka pun akan diambil secara paksa oleh para penguasa. Sehingga para penguasa merupakan cerminan amal dari para rakyatnya.
Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala. [Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178]

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar Ra’du: 11)

Saatnya introspeksi diri, tidak perlu rakyat selalu menyalahkan pemimpin atau presidennya. Semuanya itu bermula dari kesalahan rakyat itu sendiri. Jika mereka suka korupsi, begitulah keadaan pemimpin mereka. Jika mereka suka “suap”, maka demikian pula keadaan pemimpinnya. Jika mereka tidak peduli dengan agamanya, begitulah keadaan pemimpin mereka. Jika mereka bersikap munafik, maka demikian pula keadaan pemimpinnya. Jika mereka suka akan maksiat, demikianlah yang ada pada pemimpin mereka. Jika setiap rakyat memikirkan hal ini, maka tentu mereka tidak sibuk mengumbar aib penguasa di muka umum. Mereka malah akan sibuk memikirkan nasib mereka sendiri, merenungkan betapa banyak kesalahan dan dosa yang mereka perbuat.


Memohon kepada Allah, agar pemimpin kita diberi hidayah dan taufiq!

Kebiasaan semacam ini telah menjadi ciri ahlus-sunnah sejak masa silam. Meskipun bisa jadi ada pemimpin mereka yang zalim, mereka berusaha untuk tetap mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya.

Imam al-Barbahari mengatakan:

وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى وإذا سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله

Jika Anda melihat ada orang yang mendoakan keburukan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu (aqidahnya menyimpang). Dan jika Anda melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia Ahlus Sunah, insya Allah.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51)

Selanjutnya, al-Barbahari membawakan riwayat perkataan seorang ulama besar, Fudhail bin Iyadh rahimahullah, yang memberikan nasihat:

لو كان لي دعوة مستجابة ما جعلتها الا في السلطان

Andaikan saya memiliki satu doa yang pasti terkabulkan, tidak akan aku ucapkan kecuali untuk mendoakan kebaikan pemimpin.

Kemudian ada orang yang bertanya, mengapa harus demikian? Beliau menjawab:

إذا جعلتها في نفسي لم تعدني وإذا جعلتها في السلطان صلح فصلح بصلاحه العباد والبلاد فأمرنا أن ندعو لهم بالصلاح ولم نؤمر أن ندعو عليهم وإن جاروا وظلموا لأن جورهم وظلمهم على أنفسهم وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين

Jika doa itu hanya untuk diriku, tidak akan kembali kepadaku. Namun jika aku panjatkan untuk kebaikan pemimpin, kemudian dia jadi baik, maka masyarakat dan negara akan menjadi baik. Kita diperintahkan untuk mendoakan kebaikan untuk mereka, dan kita tidak diperintahkan untuk mendoakan keburukan bagi mereka, meskipun mereka zalim. Karena kezaliman mereka akan ditanggung mereka sendiri, sementara kebaikan mereka akan kembali untuk mereka dan kaum muslimin.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51)

Wallahu Ta'ala a'lam

Dirangkum dari:
[Sumber]


Inilah Kita...

Jujur (& cenderung polos), merakyat (banget), sederhana (bin simple) dan suka baju kotak-kotak (terkotak-kotak)... dan memang JkwJk adalah Kita banget!


Ada lagi tambahan... ternyata "kita" suka banget sama hiburan... nyanyian, guyonan dan goyangan yang semuanya dapat "terpuaskan" oleh media-media TV yang ada di negeri ini. [Lalai, simple & males mikir ...EGP!]

Wajib baca: Akhir Zaman?


8 Hikmah Kemenangan Jokowi

Oleh: Kholili Hasib

TERLEPAS dari polemik dan kasus-kasus Pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Selasa, 22 Juli 2014 secara resmi menetapkan pasangan capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla sebagai pemenang.

Pengumuman dari KPU ini pasti akan mengecewakan sebagai pihak. Apalagi terkait santernya isu kecurangan. Belum lagi, kemenangan Jokowi bukanlah kemenangan mutlak. Kemenangan tipis. Jokowi-Kalla (53,15% atau 70.633.576 suara), Prabowo Subianto-Hatta Rajasa (46,85% atau 62.262.844 suara). Dengan demikian, separuh orang adalah kelompok yang kurang berkenan pada Jokowi, yang tentu tidak bisa dikecilkan artinya.

Bagaimanapun, bagi umat Islam, kemenangan Jokowi ini perlu diambil hikmahnya.

Pertama, Urusan Agama

Bagi para cendekiawan — khususnya ulama — siapapun presidennya, mereka wajib terus berjuang mewujudkan Indonesia yang bertakwa. Menyampaikan dakwah dengan hikmah, amar ma’ruf nahi munkar. Selalu mengingatkan penguasa agar taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Ketika pertama kali dirancang oleh para pendiri bangsa ini (founding fathers), karakter negara yang diinginkan adalah sebuah ‘Negara berketuhanan, berkeadilan dan bermartabat’.

Sila pertama Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, jelas menunukkan bahwa sila yang paling asas ini mengandung makna tauhid. Klausul negara berketuhanan atas dasar pemahaman tauhid ini tidak berlebihan. Sebab, kemerdekaan bangsa Indonesia dicapai berkat jasa besar para ulama, santri dan kaum Muslimin, berperang melawan penjajah.

Mendiang Jendral Abdul Haris Nasution dalam sebuah pidato peringatan 18 Tahun Piagam Jakarta 22 Juni 1963 di Jakarta mengatakan, bahwa rumusan dasar negara muncul di antaranya karena inisiatif para alim ulama yang mengirimkan surat berisi usulan tentang bentuk dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi Indonesia merdeka. Surat yang dikirim dari berbagai alim ulama itu berjumlah 52 ribu surat yang terdaftar (Endang Saifuddin Anshari, Piagama Jakarta 22 Juni 1945, hal. 29-30). Presiden baru Indonesia, diharapkan memperhatikan ini.

Jika negeri ini ingin bermartabat, terhormat dan maju, maka sudah sepatutnya, negara ini siap untuk tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi Wassallam, sesuai amanah pendiri bangsa. Konsep iman dan takwa ini merupakan konsep yang ideal bagi penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim.

Selain itum Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu pernah berpesan: “Pemimpin diangkat untuk menegakkan agama”. Inilah tugas utama pemimpin.

Karena itu bisa diterima keraguan para ulama terhadap Jokowi bisa menjadi ‘menjaga agama’. Sebab sampai hari ini, dari kalangan santri dan ulama masih bimbang dan khawatir, apakah Jokowi mampu mengemban amanah agung ini?

Nah, mengingkat penentangan kalangan kaum santri saat Pilpres lalu pada pasangan Jokowi-JK, maka sudah saatnya Jokowi membuktikan dan meyakinkan pada kaum santri dan para ulama bahwa Jokowi bisa melaksanakan tugas besar ini.

Kebimbangan dan kekhawatiran tersebut tentu saja bukan atas dasar sentimen ketidaksukaan terhadap pribadi tertentu. Berita-berita Tim sukses (Timses) orang di sekeliling Jokowi yang begitu massif akan mendukung aliran sesat, menutup kolom agama di KTP, menghapus Perda Syariat dll sudah diketahui publik.

Jika Jokowi ingin lebih berdaulat (agar suara mass Praboro yang 46 %) bisa berpihak padanya, buktikan bahwa isu-isu tentang pengaruh tangan asing, komunis baru, Kristen radikal, liberal dan aliran sesat di sekitarnya adalah tidak benar. Bukan dengan balik menekan santri dan ulama. Apalagi memusuhinya. Sambutlah isu itu tersebut dengan cantik. Jokowi perlu mengakomodir aspirasi-aspirasi kaum santri dan ulama, serta memberi seluas-luasnya jalan dakwah. Bukan dengan sekedar pencitraan atau aktifitas pemalsuan. Sebab, pemalsuan dan pencitraan ilusif justru akan menambah masalah baru buat Jokowi di kemudian hari.

Dua, Cara Allah Menampakkan kepada Publik

Munculnya Jokowi sebagai calon presiden sesungguhnya adalah wasilah dan menjadi pembelajaran bagi bangsa dan umat Muslim. Melalu Jokowi Allah menunjukkan yang dulu ‘gelap’ menjadi ‘terang’. Karena al haq tetap tidak akan bisa di sembunyikan.

Betapa media-media, kaum cendekiawan, peneliti yang dulu dipelajari di buku-buku sebagai kelompok “suci” yang kedudukannya selalu “netral” dan adil” itu tidaklah semua benar.

Justru melalui jalan Jokowi-lah Allah menunjukkan wajah aslinya, siapa sesungguhnya mereka?

Siapa menyangka media-media besar, bahkan wartawan senior sekelas Jacob Oetama, Dahlan Iskan, Goenawan Mohammad tak malu menunjukkan pembelaan bahkan ikut menjadi partisan. Media dan pers yang dulu dianggap menjadi lembaga netral hanya kita kenal di buku-buku.

Tak ketinggalan para peneliti dan cendekiawan yang dulu dikagumi anak muda karena kejernihannya rupanya tak bisa menahan hasrat partisannya. Semua aakhirnya muncul ke permukaan. Semua adalah cara Allah menampakkan pada umat Islam. Bersyukurlah dengan kehadiran Jokowi, Allah menampakkan wajah-wajah asli mereka.

Ingat pesan Imam al-Ghazali yang mengatakan: “Setiap penguasa, selalu mempunyai kemungkinan untuk berbuat dzalim. Kecuali penguasa yang beriman kepada Allah, berteman dan dikelilingi orang-orang yang beriman pula. Mereka saling mengingatkan dan memberi nasihat, hanya demi kebaikan dan bukan untuk kepentingan. Tapi ketika seorang penguasa dikelilingi orang-orang yang jahat, maka kedzaliman hanya tinggal menunggu masa untuk dirasakan. Dan ketika semua itu terjadi, kerusakan akan merajalela, kehancuran di depan mata, menggelincirkan manusia dari jalan kebenaran dan menjadikan kesesatan sebagai panutan.” (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin).

Tiga, Cara Allah Meringankan Beban

Puluhan kiai dan ulama pesantren di mayoritas kantong-kantong NU di Indonesia menitipkan amanah kepada Prabowo-Hatta. Meminjam istilah Dr Adian Husaini, wakil Ketua MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) kekalahan Prabowo sekaligus menjadi nasehat bagi kita semua, bahwa kita harus melihat semuanya dengan perspektif islami.

Jika tidak jadi Presiden, Allah ta'ala telah meringankan Prabowo Subianto dari beban teramat berat di akhirat. Sebab bagi seorang Muslim, kata Adian, kekuasaan merupakan salah satu jalan untuk ibadah. Sebab masih masih banyak jalan lain untuk ibadah.

Perjuangan santri dan ulama adalah untuk menegakkan kebenaran. Sukses tidaknya perjuangan jangan hanya diukur dari diraih tidaknya kursi kekuasaan”, demikian nasihat Adian Husaini.

Empat, Tak Cukup di Mimbar

Bangsa Indonesia, khususnya kaum Muslimin, memang harus terus diedukasi. Para cendekiawan dan ulama harus sering turun ke ‘bawah’. Fakta membuktikan, tidak semuanya umat ini mendengar fatwa para ulama. Masih banyak mereka yang hanya melihat persoalan secara duniawi saja.

Rupanya tak cukup bagi umat sekedar dihimbau sekali hanya melalui mimbar. Sebab para ulama, dai, tokoh agama harus perlu menjelaskan satu-persatu dengan cara turun ke bawah, langsung pada umat.

Fakta membuktikan, masyarakat memang cerdas dalam memilih sosok namun tidak cerdas membedakan mana haq dan mana bathil.

Lima, Cermin Masyakat, Cermin Kita

Mengutip KH Arifin Ilham, umat Islam tidak kalah, sebab sejatinya jumlah umat Islam adalah kelompok mayoritas yang bisa saja dimenangkan Allah, jika Allah berkehandak. Hanya masalahnya, sedikit sekali umat Islam –bahkan menganggap kecil bahkan masih banyak yang main-main– urusan kepemimpinan seperti ini. Sebagian malah suka berteriak-teriat di luar tapi tak ikut ambil bagian/berkontribusi dan tak ikut memberi penyadaran.

Alkisah ada seorang khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib ra seraya berkata, “Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak di kritik oleh orang tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakar dan Umar?!” Sahabat Ali Menjawab, “Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu!

Sesunnguhnya keadaan rakyat itu ya mencerminkan bagaimana pemimpinnya.

كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ
Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.

Enam, Memperbaiki Diri

Jika ingin mendapatkan pemimpin yang baik maka, mari kita mulai berjuang memperbaiki diri kita dari sekarang untuk mendapatkan pemimpin yang baik di masa yang akan datang. Kita kaum Muslimin masih gemar berpecah-belah. Mengungkit-ungkit persoalan kecil dalam agama sehingga menjadi isu besar.

Bahkan ada yang suka mencela ulama dan menyesatkan gara-gara ikut Pemilu yang dianggap haram. Bisakah untuk mengutakaman persatuan umat yang suka memvonis itu menahan diri untuk tidak mencela?

Tujuh, Berkhusnudzon kepada Jokowi

Kini, amanah di pundak Jokowi. Sebagai seorang Muslim, Jokowi, sudah sepatutnya juga mendengarkan nasihat santri, ulama dan keraguan umat Islam selama ini atasnya. Amanahnya adalah, dirikan negeri ini berdasarkan atas iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukankah ketika menjadi Wali Kota Solo, Jokowi sempat merapat juga ke ulama?

Kepada presiden baru, kami menitipkan, bahwa negara ini lebih beradab jika pemimpin memerikan prioritas dan penghargaan yang tinggi kepada ulama, ilmuan dan orang-orang yang berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam negara yang beradab, maka pengaturan anggaran harus diproritaskan untuk membangun kemandirian bangsa, sehingga bangsa ini tidak tergantung kepada bangsa lain, agar tidak menjadi bangsa yang hina dan gambang didikte oleh bangsa asing.

Rakyat yang mayoritas Muslim ini wajib didorong untuk dapat melaksanakan ajaran agamanya dengan baik, agar mereka menjadi manusia yang jujur dalam keimanannya kepada Allah, tidak mengikuti prilaku iblis.

Agar semua terlaksana dengan baik, seorang pemimpin harus menempatkan Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang berhak disembah dan ditaati. Karena itu sangat tepat keputusan Mahkamah Konstitusi RI tahun 2010, yang mempertahankan UU No. 1/PNPS/1965 yang melarang berkembangnya aliran atau paham yang merusak bangsa dan agama yang tidak diakui di Inonesia.

Mari camkan pesan Imam al-Gazali: “Sesungguhnya, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan, dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah-lah tempat meminta segala persoalan.” (Ihya’ Ulumuddin II hal. 381)

Karena itu sudah wajar jika umat Islam menginginkan Jokowi ikut menjaga akidah umat Islam, memberantas kezaliman dan nahi munkar, serta mengawal umat Islam agar bisa melaksanakan syariatnya.

Delapan, Itulah Takdir

Tauhid kita mengajarkan ada takdir Allah di setiap kejadian, bahkan termasuk jarum jatuh ke bumi atau debu-debu yang beterbangan. Kekuasaan itu milik Allah dan akan selalu dipergilirkan oleh Allah. Kejadian ini bukan semata-mata kemenangan media atau tim sukses, tapi memang Allah yang berkendak.

Sebagaimana firman Allah:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada yang Kau hendaki, Engkau cabut kekuasaan kepada yang Kau hendaki, Engkau muliakan orang melalui kekuasaan kepada yang Kau hendaki, dan Engkau hinakan melalui kekuasaan kepada Yang Kau hendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran: 26).

Jikapun ada yang merasa kalah, tetaplah gembira, setidaknya yang kalan telah ikut bersama barisan ulama, meski Allah tidak mentakdirkannya.*

7/22/14

Apa "Kata Dunia" Kalau Peristiwa Ini Terjadi di Atas Wilayah Timur Tengah?

Gambar utama adalah illustrasi.

Malaysia Airlines yang Dihantam Rudal adalah Penerbangan MH17

Liputan6.com, Jakarta Sebuah pesawat Boeing 777 milik maskapai Malaysia Airlines yang membawa 239 orang dilaporkan dihantam rudal dan celaka di Ukraina, dekat perbatasan Rusia pada Kamis (17/7/2014). Demikian menurut penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina.

Anton Gerashenko, penasehat itu, dalam laman Facebooknya mengatakan, pesawat nahas tersebut terbang pada ketinggian 33.000 kaki saat dihantam rudal yang ditembakkan dari peluncuran di Buk. Demikian Liputan6.com kutip dari USA Today.

Belum jelas siapa yang memegang kendali atas peluncuran rudal di area yang bergolak di mana pasukan Ukraina sedang bertempur melawan separatisme etnis Rusia.

Hilangnya pesawat tersebut juga dikabarkan pihak Malaysia Airlines lewat Twitter.

"Malaysia Airlines hilang kontak dengan MH17 dari Amsterdam. Posisi terakhir yang diketahui adalah di atas zona udara Ukraina," demikian pernyataan Malaysia Airlines.

Kantor Berita Rusia, Interfax mengutip sumber penerbangan yang mengatakan, Malaysia Airlines terbang dari Amsterdam ke Kuala Lumpur, menempuh rute yang melintasi Ukraina dan Rusia.

Sumber tersebut pada Interfax mengatakan bahwa pesawat berada 30 mil dari zona terbang Rusia saat mulai jatuh. Juga disebutkan puing pesawat yang terbakar ditemukan di daratan Ukraina.

Dilaporkan ada 280 penumpang dan 15 kru yang ada di dalamnya. (Riz)


Yang terlupakan:

Kemenangan Jokowi Adalah Kemenangan Golongan Minoritas dan Asing

JAKARTA (voa-islam.com) - Hakekatnya kemenangan Jokowi adalah kemenangan golongan minoritas Indonesia. Yaitu golongan Kristen, Katolik, Cina, Barat (Yahudi), kaum sekuler, liberal, dan atheis.

Mereka inilah yang menjadi ‘ideolog’, pengarah, pengatur, penentu strategi, pemodal, yang memastikan Jokowi harus menang, dan menjadi presiden Indonesia.

Mereka semua berkumpul dibelakang Jokowi. Mereka dengan ideologi, konsep pemikiran, strategi, tujuan, dan mengancang perubahan bagi masa depan Indonesia, sesuai dengan keyakinan mereka, berbentuk ‘blue print’ (cetak biru), sebuah Indonesia yang sekuler (la diniyah).

Mereka bertujuan memarjinalkan golongan Islam, menghilangkan pengaruh ideologinya (keyakinan agamanya), dan melakukan penguasaan terhadap Indonesia secara ekonomi dan politik.

Dibelakang Jokowi yang menjadi ‘stake holder’ (pemangku kepentingan), seperti golongan Kristen, Katolik, Cina, Barat (Yahudi), kaum sekuler, liberal dan atheis, secara konsisten dengan segala potensi dan kekuatan yang mereka miliki dengan menggunakan kartu ‘Jokowi’ sebagai ‘boneka’ ingin mengubah dan menguasai Indonesia.

Jokowi hanyalah bersifat sementara, atau sasaran antara. Sasaran sesungguhnya dan target mereka di tahun 2019. Mereka akan melakukan 'take over' langsung kekuasaan melalui pemilihan. Sekarang mereka membangun landasan dan jembatan melalui Jokowi.

Jokowi yang sudah didandani dan dipoles dengan baju ‘Islam’, ditambah dengan kata mantra ‘jujur’, ‘sederhana’, dan ‘merakyat’, benar-benar membuat rakyat tersihir. Mereka berhasil menjadikan Jokowi sebagai tokoh 'antagonis'.

Tapi, hakekatnya dibalik semua itu, mereka mempunyai tujuan jangka panjang yang sangat strategis, yaitu melakukan perubahan terhadap Indonesia. Menuju Indonesia baru yaitu kehidupan rakyatnya yang sekuler (la diniyah).

Di depan mata sudah nampak menjadi jelas bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Tentu, bagi masa depan umat Islam, sesudah Jokowi dilantik menjadi presiden, pertama pasti akan memuaskan golongan minoritas, terutama golongan Kristen dan Katolik.

Kebijakan Jokowi pasti akan melakukan kebijakan seperti yang mereka inginkan menciptakan kebebasan beragama. Liberalisasi dibidang agama. Ini tuntutan dasar golongan Kristen dan Katolik. Tuntutan gologan Kristen dan Katolik, dicabutnya SKB Tiga Menteri, yang mengatur pendirian rumah ibadah.

Dengan kebebasan agama ini, golongan Kristen dan Katolik, maka golongan minoritas bisa bebas mengembangkan agama (melakukan pemurtadan), melalui sarana-sarana pendidikan, sosial, dan mendirikan rumah ibadah (gereja), di seluruh wilayah Indonesia.

Bahkan, Ketua DGI (Dewan Gereja Indonesia) Jenderal Simatupang, pernah mengusulkan agar Departemen Agama dibubarkan, dan diganti dengan Departemen Agama-agama.

Mengubah struktur penduduk, dan mengubah penganut agama di Indonesia. Sehingga, Indonesia secara bertahap bukan lagi mayoritas Muslim, tetapi menjadi negara Kristen. Sebagai sasaran antaranya, sekarang yang dijalankan bekerjasama dengan kaum sekuler, liberal, dan atheis menghancurkan Islam dan umatnya.

Sebelum menghancurkan ideologi (agama) kaum Muslimin di Indonesia, terlebih dahulu yang akan dihancurkan ekonomi Indonesia. Penguasaan ekonomi Indonesia oleh golongan minoritas sudah berlangsung di Indonesia. Ekonomi bangsa Indonesia sudah dikuasai oleh golongan minoritas Cina, yang umumnya beragama Kristen atau Katolik, sejak zaman Soeharto.

Mereka inilah yang menjadi tulang punggung (backbone) Jokowi. Seperti James Riyadi (Kristen Evengelis) yang membawa gerbong dari kalangan konglomerat Cina. Sofyan Wanandi (Katolik) yang juga membawa gerbong dari kalangn konglomerat Cina. Ditambah ‘juragan’ media, Kompas (Jacob Utama) yang memberikan dukungan secara total kepada Jokowi.

Barat (Yahudi) sama juga memiliki kepentingan di Indonesia dengan berbagai perusahaan mineral dan tambang (minerba), mereka lebih senang dengan Jokowi. Jokowi akan menjamin kepentingan mereka di Indonesia.

Mereka menguasai Freeport, Newmont, Exxon, dan sejumlah sumber-sumber kekayaan alam berada di tangan mereka. Mereka ingin langgeng di Indonesia, menguasai asset yang penting bagi hajat hidup rakyat.

Dengan dijajah secara ideologi (nilai agama), secara ekonomi, dilanjutkan dengan dijajah secara kedaulatan politik, maka penguasaan atas Indonesia oleh golongan minoritas menjadi sempurna. Dengan menggunakan kartu ‘Jokowi’, mereka bisa lebih leluasa melakukan penguasaan ekonomi dan politik atas negara dan bangsa Indonesia.

Jokowi hanya akan meneteskan setetes percikan air yang diberikan kepada bangsa Indonesia, seperti yang selalu dibanggakan dalam bentuk kartu ‘sehat’ dan kartu ‘pintar’, dan sudah menyihir 250 rakyat Indonesia.

Iming-iming Jokowi itu sudah dianggap sebagai sebuah ‘keajaiban’, dan seluruh rakyat Indonesia meyakini, bahwa Jokowi akan membawa kepada perubahan, dan kehidupan baru. Inilah sebuah mimpi-mimpi yang dibangun, dan semua itu, melalui media massa, dan mampu mengubah pandangan dan keyakinan rakyat, Jokowi dicitrakan sebagai tokoh masa depan.

Dengan tampilnya Jokowi menjadi presiden Indonesia, semakin dalam golongan minoritas mengubah bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim ini, dan sekaligus penguasaan asset ekonomi oleh mereka. Supra struktur pemerintahan pasti akan diambil golongan minoritas, yang berjuang dan berkorban bagi Jokowi.

Mereka akan mengisi seluruh jabatan strategis di pemerintahan. Tidak ada ‘makan siang yang gratis’, semuanya harus dibayar. Jokowi harus membayar mereka, tentu dengan kekuasaan. Ini nampak di DKI Jakarta, di mana pejabat-pejabat Phalang (Kristen), duduk dalam pemerintahan di DKI.

Pemerintahan Jokowi, mirip awal Orde Baru, di masa Soeharto, yang menyingkirkan golongan Islam, secara politik dan ekonomi. Soeharto menggandeng golongan minoritas (Kristen, Katolik, dan Cina) menjadi tulangpunggungnya dalam mengelola negara.

Termasuk dengan lahirnya lembaga CSIS, yang merupakan lembaga ‘think-than’ Orde Baru, kolaborasi jenderal abangan, Kristen dan Katolik, dan selama hampir lebih dari 30 tahun menghancurkan umat Islam.

Akhirnya, berkuasanya golongan minoritas di Indonesia, hanyalah menciptakan perbudakan bagi golongan Islam dankaum pribumi. Golongan Islam dan kaum pribumi hanya akan menjadi pelayan, subordinasi kekuasaan golongan Kristen, Katolik, Cina dan Barat (Yahudi), yang berada dibalik ketiak Jokowi. Mereka inilah sejatinya sebagai penguasai baru, penguasa yag sebenarnya atas Indonesia.

Pantas, Prabowo dihancurkan dengan di ‘bulli’ habis dengan berbagai isu yang negatif. Pelanggaran HAM, pembunuh, dipecat dari dinas tentara, korup, dan lainnya. Semuanya dilakukan dengan sangat masif oleh media dan media sosial pendukung Jokowi.

Sejatinya, Prabowo menjadi prototipe seorang tokoh yang memiliki jiwa nasionalis, memiliki keberfihakan kepada kepentingan nasional dan kepentingan bangsa Indonesia. Sekalipun, Prabowo berasal dari keluarga ‘kaya’ di Banyumas, tetapi Prabowo memiliki empati kepada rakyat jelata.

Tetapi, paling penting komitmen Prabowo, mengambil-alih dan menguasai kembali aset bangsa Indonesia yang sekarang berada di tangan asing. Inilah yang sangat tidak disukai oleh Barat (Yahudi) dan kalangan konglomerat Cina. Karena, pasti kepentingan mereka di Indonesia akan terganggu.

Barat dan Amerika sudah pasti tidak ingin Prabowo menjadi presiden, karena akan sulit dikendalikan. Apalagi, Prabowo menjadi presiden negara yang besar, berpenduduk 250 juta, mayoritas Muslim. Berbagai sumber di Jakarta yang dekat dengan kalangan Barat dan Amerika,menyatakan sudah sejak awal mereka tidak menginginkan Prabowo menjadi presiden. Mereka ingin presiden Indonesia tokoh yang lemah, dan mudah didikte. Itu pillihannya bukan Prabowo, tapi Jokowi.

Takdirnya, Prabowo menjadi muara kalangan Partai-Partai Islam, dan Ormas Islam, dan berbagai gerakan yang ingin menjadikan Prabowo sebagai alternatif. Prabowo memiliki sikap tegas, dan berani mengambil sikap menghadapi siapapun. Inilah yang dibutuhkan bangsa Indonesia menghadapi kekuatan global yang menjajah Indonesia.

Takdirnya pula Prabowo harus kalah. Dikalahkan oleh konspirasi golongan minoritas, Barat (Yahudi) , kaum sekuler, liberal dan atheis. Rakyat memilih Jokowi. Memilih sebuah ‘boneka’ yang akan dijadikan kenderaan mereka, menguasai Indonesia, dan memperbudak golongan Islam dan pribumi.

Persis seperti yang terjadi di Palestina, orang-orang Yahudi menguasai, menjajah, dan memperbudak bangsa Palestina. Secara permanen. Wallahu’alam.

*mashadi - See more at: http://www.voa-islam.com/read/opini/2014/07/22/31759/kemenangan-jokowi-adalah-golongan-minoritas-dan-asing/#sthash.dX7jlBcD.dpuf

Tanda-Tanda Kemunculan Imam Mahdi

Para ulama membagi Tanda-tanda Akhir Zaman menjadi dua. Ada Tanda-tanda Kecil dan ada Tanda-tanda Besar Akhir Zaman. Tanda-tanda Kecil jumlahnya sangat banyak dan datang terlebih dahulu. Sedangkan Tanda-tanda Besar datang kemudian jumlahnya ada sepuluh. Alhamdulillah, Allah sayang sama umat manusia. Sehingga Allah datangkan tanda-tanda kecil dalam jumlah banyak sebelum datangnya tanda-tanda besar. Dengan demikian manusia diberi kesempatan cukup lama untuk merenung dan bertaubat sebelum tanda-tanda besar berdatangan.

Banyak pendapat mengatakan bahwa kondisi dunia dewasa ini berada di ambang datangnya tanda-tanda besar Kiamat. Karena di masa kita hidup dewasa ini sudah sedemikian banyak tanda-tanda kecil yang bermunculan. Praktis hampir seluruh tanda-tanda kecil kiamat yang disebutkan oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sudah muncul semua di zaman kita. Maka kedatangan tanda-tanda besar tersebut hanya masalah waktu. Tanda besar pertama yang bakal datang ialah keluarnya Dajjal. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa sebelum munculnya Dajjal harus datang terlebih dahulu Tanda Penghubung antara tanda-tanda kecil kiamat dengan tanda-tanda besarnya. Tanda Penghubung dimaksud ialah diutusnya Imam Mahdi ke muka bumi.

Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa Imam Mahdi pasti datang di akhir zaman. Ia akan memimpin ummat Islam keluar dari kegelapan kezaliman dan kesewenang-wenangan menuju cahaya keadilan dan kejujuran yang menerangi dunia seluruhnya. Ia akan menghantarkan kita meninggalkan babak keempat era para penguasa diktator yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya dewasa ini menuju babak kelima yaitu tegaknya kembali kekhalifahan Islam yang mengikuti manhaj, sistem atau metode Kenabian.

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ
رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي
يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)

Lelaki keturunan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tersebut adalah Imam Mahdi. Ia akan diizinkan Allah untuk merubah keadaan dunia yang penuh kezaliman dan penganiayaan menjadi penuh kejujuran dan keadilan. Subhanallah..! Beliau tentunya tidak akan mengajak ummat Islam berpindah babak melalui perjalanan tenang dan senang laksana melewati taman-taman bunga indah atau melalui meja perundingan dengan penguasa zalim dewasa ini apalagi dengan mengandalkan sekedar ”permainan kotak suara..!" Imam Mahdi akan mengantarkan ummat Islam menuju babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah melalui jalan yang telah ditempuh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabatnya, yaitu melalui al-jihad fi sabilillah.

Imam Mahdi akan berperan sebagai panglima perang ummat Islam di akhir zaman. Beliau akan mengajak ummat Islam untuk memerangi para Mulkan Jabriyyan (Para Penguasa Diktator) yang telah lama bercokol di berbagai negeri-negeri di dunia menjalankan kekuasaan dengan ideologi penghambaan manusia kepada sesama manusia. Bila Allah mengizinkan Imam Mahdi untuk menang dalam berbagai perang yang dipimpinnya, maka pada akhirnya ia akan memimpin dengan pola kepemimpinan berideologi (aqidah) Tauhid, yaitu penghambaan manusia kepada Allah semata. Banyak ghazawat (perang) akan dipimpin Imam Mahdi. Dan –subhaanallah- Allah akan senantiasa menjanjikan kemenangan baginya.

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal,dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

Lalu apa sajakah indikasi kedatangan Imam Mahdi? Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberikan gambaran umum indikasi kedatangan Imam Mahdi. Ia akan diutus ke muka bumi bilamana perselisihan antar-manusia telah menggejala hebat dan banyak gempa-gempa terjadi. Dan kedua fenomena sosial dan fenomena alam ini telah menjadi semarak di berbagai negeri dewasa ini.

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ
وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898)

Hadits berikut ini bahkan memberikan kita gambaran bahwa kedatangan Imam Mahdi akan disertai tiga peristiwa penting. Pertama, perselisihan berkepanjangan sesudah kematian seorang pemimpin. Kedua, dibai’atnya seorang lelaki (Imam Mahdi) secara paksa di depan Ka’bah. Ketiga, terbenamnya pasukan yang ditugaskan untuk menangkap Imam Mahdi dan orang-orang yang berbai’at kepadanya. Allah benamkan seluruh pasukan itu kecuali disisakan satu atau dua orang untuk melaporkan kepada penguasa zalim yang memberikan mereka perintah untuk menangkap Imam Mahdi.

يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِنَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ
وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ

Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud 3737)

Saudaraku, sebagian pengamat tanda-tanda akhir zaman beranggapan bahwa indikasi yang pertama telah terjadi, yaitu perselisihan dan kekacauan yang timbul sesudah wafatnya seorang pemimpin. Siapakah pemimpin yang telah wafat itu? Sebagian berspekulasi bahwa yang dimaksud adalah Saddam Husein. Karena semenjak kematiannya, negeri Irak berada dalam kekacauan berkepanjangan. Wallahua’lam bish-showwab. Bila analisa ini benar berarti dewasa ini kita sudah harus bersiap-siap untuk berlangsungnya pembai’atan paksa Imam Mahdi di depan Ka’bah.

Saudaraku, bila ketiga peristiwa di atas telah terjadi, berarti Ummat Islam di seluruh penjuru dunia menjadi tahu bahwa Imam Mahdi telah datang diutus ke muka bumi. Panglima ummat Islam di Akhir Zaman telah hadir... Dan bila ini telah menjadi jelas kitapun terikat dengan pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai berikut:

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)

Ya Allah, izinkanlah kami bergabung dengan pasukan Imam Mahdi. Ya Allah anugerahkanlah kami rezeki untuk berjihad di jalanMu bersama Imam Mahdi lalu memperoleh salah satu dari dua kebaikan: ’isy kariman (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah) atau mut syahidan (mati syahid). Amin…

It's the Way...

Muslimah Inggris di Suriah Ajak Muslimah Inggris Lainnya Berhijrah ke Daulah Islam

Seorang anak kecil tersenyum, berusia sekitar empat tahun, ia adalah anak seorang Mujahidin di Suriah.

Sekelompok Muslimah Inggris telah beralih ke Suriah untuk membesarkan anak-anak mereka bergabung dengan Daulah Islam.

Salah seorang ibu menggunakan nama Umm Isa dan Muhajirah fi Syam, mereka berdua mengajak wanita Inggris lainnya untuk bergabung dengannya.

Dalam posting Twitter dia menulis: “Kita semua adalah saudara, silahkan yang ingin bergabung dengan kami di Bumi Sham dan menikah serta mendukung mujahid?

Anaknya, yang disebut Isa, memiliki adik yang dia sebut “mini mujahid” .

Sang Bunda adalah mantan mahasiswi di Inggris fakultas Media dan Film, ia seorang mualaf yang tertarik akan Islam sejak menghadiri sebuah acara di masjid di selatan London.

Dia menikah dengan pejuang ISIS yang bernama Abdur Rahman, seorang pemuda dari Swedia.

Tetangganya, wanita lain asal Inggris yang menggunakan nama alias Umm al Khattab-Britaniyya memposting pesan: “Lihatlah mujahid kecilku , anak ini adalah yang paling lucu dan banyak yang mencintainya.” (JL/KH)


Para Pengecut Tidak Pernah Bisa Tidur

Saat itu jam menunjukkan 4.30. Rabu, aku menerima berita duka kematian seorang teman yang sangat aku cintai dari lubuk hatiku yang paling dalam. Syeikh Tamim al Adnani (ajudan Syeikh Abdullah Azzam, pemimpin jihad Afghan kala itu) di kota San Francisco, Amerika Serikat, setelah mengalami serangan jantung.

Betapa mengagumkan kematian pria ini. Pertemuan pertamaku dengannya, dan sekaligus pertemuan terakhir, sekitar pada bulan ketika aku diundang ke sebuah perkemahan yang diselenggarakan oleh Rabithah asy Syabab al Muslim al Arabi. Saat itu dia bersama denganku menyampaikan orasi yang berjudul : Ambisi untuk akherat. Dalam ceramah tersebut ia berbicara tentang berbagai keajaiban kuasa Allah yang dialaminya sendiri di Afghanistan. Diantaranya, dia bercerita saat terjadi serangan yang dilakukan tentara komunis terhadap camp yang dijaganya, ia melihat bagaimana amunisi amunisi menyerang loteng rumah yang ditempatinya, bak hujan. Ia segera berwudhu dan naik ke atas loteng rumah sambil membawa mushaf, dengan harapan amunisi itu mengenainya sehingga ia akan mati syahid dalam keadaan membaca al Quran. Ia mengatakan, ”Amunisi amunisi itu menyerang sekitarku bak hujan, tapi tak satupun mengenai diriku sedikitpun.”

Ia tidak bisa ikut serta ke medan perang karena obesitas (kegemukan). Karena itu ia pergi ke Amerika untuk menghimpun dana bagi mujahidin, sekaligus untuk mengurangi berat badannya sehingga ia bisa diterima untuk ikut serta dalam peperangan guna meraih cita citanya yang paling mulia.

Ketika aku bertemu dengannya, ia banyak berdoa agar memperoleh syahadah ‘mati syahid’, aku mengingatnya ketika ia bersamaku saat mengantar kepulanganku. Ia berkata kepadaku, ”Aku mencintaimu fillah.” Dan aku mengatakan hal yang sama. Ia meminta kepadaku agar aku berdoa supaya dirinya memperoleh syahadah dan perkara perkara mulia lainnya. Ternyata Allah mentakdirkan meninggal di Amerika, yang jauh dari asap meriam dan peluru kendali yang telah menghiasi hidupnya selama bertahun tahun.

Demikian itu ketentuan Allah. Tidak ada seorang pun yang mati pada hari di luar hari kematiannya. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menentukan tempat kematiannya atau cara kematiannya. Hanya Allah saja yang menentukan kematian.

Kematian Khalid bin Walid, Tamim al Adnani, dan orang orang baik lainnya merupakan ibrah ‘pelajaran’ bagi para pengecut yang tidak mau terlibat di medan dakwah yang penuh berkah, karena khawatir terhadap keselamatan diri mereka, anak anak, isteri isteri, atau bisnis mereka. Seandainya mereka berada di dalam benteng yang sangat kuat sekalipun, pastilah kematian itu akan menjemput mereka. Detik detik terakhir menjelang kematiannya, Khalid bin Walid ra berkata,” Ketahuilah, mata orang orang pengecut itu tiada pernah dapat tidur”.

-Abdul Hamid Al Bilali-


Suasana Cuaca di Surga

Di Surga tidak ada terik matahari yang menyengat dan salju yang sangat dingin. Cuacanya cerah menerangi penghuninya, dengan suasana yang sangat menghanyutkan perasaan dan tiada bandingannya, tidak mungkin untuk dapat diungkapkan dengan kata kata, kecuali kalau kita sudah mengalaminya.

Di dunia, dalam satu tahun, hari demi hari berganti, dengan cuaca dan udara yang silih berganti, ada saatnya kita merasakan nyaman dan segar dengan cuaca dan suhu udara yang pas terasa di kulit. Biasanya itu terjadi pada pagi hari. Sedangkan di Surga cuacanya senantiasa sesuai dengan fisik dan jiwa manusia, dengan ukuran yang pas, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah berkaitan dengan kesenangan kesenangan di Surga.

Allah SWT berfirman,





Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. Dan dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutera. Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan. Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah mudahnya untuk memetik buahnya (QS Al Insan 11-14)

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat “La yaraunaa fiha syamsan wala zamharina,” berarti mereka tidak merasakan panas yang terik atau dingin yang menyengat. Menurut kebanyakan mufasir, suasana di Surga seperti saat menjelang fajar atau saat matahari akan terbenam. Pendapat ini sangat jelas, Allah SWT menyebutkan, “La yarauna fiha syamsan wala zamharina,” juga firman Allah “Wadaniyatan alaihim zhilaluha.” Naungan di sini memiliki tingkat ketebalan yang mengandung udara sehingga menjadikan iklim di Surga menjadi sangat menyenangkan. Wallahu alam.

Malam di Surga?

Abu Abdillah Turmudzi dalam Nawadirul Ushul menyebutkan sebuah hadis dari Abban dari Hasan dan Abu Qilabah bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah SAW, ”Wahai Rasulullah, apakah di surga ada malam?” Rasulullah SAW menjwab, ”Apa yang telah kamu siapkan untuk itu?” Orang itu menjawab, ”Aku mendengar Allah berfirman, “Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang (Maryam 62), aku (Perawi Hadist) berkata, “Malam itu waktu antara pagi dan petang.” Rasulullah SAW bersabda, ”Di Surga tidak ada malam. Di sana ada sinar dan cahaya. Pagi mengantarkan mereka pada keadaan santai dan santai mengantarkan mereka pada pagi. Lalu, akan datang pada mereka saat saat untuk salat. Pada saat itulah mereka menunaikan salat. Para malaikat pun mengucapkan salam kepada mereka." (HR Ibnul Mubarak, dalam Zawa-id Az Zuhd)

-Mahir Ash Syufiy-


[Berita Foto] Pembantaian Zionis ‘Israel’ di Kamp Asy-Syujaiyah, Jalur Gaza

Para wartawan tersebut mengatakan bahwa sebagian besar jenazah dimutilasi dalam kondisi sangat buruk 


Hidayatullah.com–Penembakan biadab dari penjajah zionis ‘Israel’ membunuh lebih dari 60 orang Palestina dan melukai lebih dari 400 orang Palestina di kamp pengungsi Asy-Syujaiyah di Jalur Gaza.

Sekitar 25.000 orang melarikan diri mencari perlindungan. Pembantaian ini dimulai pada Minggu dini hari dan terus berlanjut.

Para wartawan, yang berhasil masuk ke Asy-Syujaiyah selama jeda dua jam yang diminta Palang Merah untuk mengevakuasi jenazah, melaporkan pemandangan mengerikan yakni jalan-jalan yang penuh jenazah termasuk perempuan, anak-anak, pemuda, dan orang lanjut usia. 17 di antara korban tewas adalah bayi dan anak-anak.

Para wartawan tersebut mengatakan bahwa sebagian besar jenazah dimutilasi dalam kondisi sangat buruk sementara seluruh rumah di lingkungan tersebut hancur sebagian maupun keseluruhan. Tim medis tidak bisa menolong karena penjajah menembakkan misil ke arah mereka.

Lima ambulans bahkan ditembak dan ambulans lainnya tidak bisa digunakan karena terus ditarget.

Hamas menggambarkan pembantaian di Asy-Syujaiyah ini sebagai kejahatan perang.

Sami Abu Zuhri, juru bicara Hamas, menyatakan bahwa tekad rakyat Palestina tidak akan goyah dan perlawanan akan terus dilanjutkan. Abu Zuhri juga mengatakan bahwa akan semakin banyak korban dari pihak penjajah. * (PIC|Sahabat Al-Aqsha)


Foto-foto lengkap klik FB Hidayatullah Online: http://on.fb.me/1rgZv2A

Korban Israel adalah wanita dan anak-anak!
Korban Israel adalah wanita dan anak-anak!
Korban Israel adalah wanita dan anak-anak!
Apakah Anda... Klik di sini!