16.6.16

Hancuur Negeri Ini...





Dari Tsauban, dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hampir tiba bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak (bersekongkol) untuk memerangi kalian sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka". Seorang sahabat bertanya: "Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih (sampah) banjir dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut (gentar) terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)", lalu bertanya lagi: "Wahai Rasulullah apakah wahn (kelemahan) itu?", Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "CINTA DUNIA & takut mati"" (HR Abu Dawud dan Ahmad)


Negeri-negeri Muslim di Akhir Zaman?
Tentang Demokrasi (Must Know!)

21.11.15

STOP KLIPING?!


Bismillah... Alhamdulillah...
Memang!

Q2.120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Q2.217. Dan mereka senantiasa memerangi kalian agar kalian mau murtad dari agama kalian kalau saja mereka mampu melakukannya... Detail...

Seorang Ibu di Palestina & pemuda-pemuda Yahudi
Q3.186. Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar (melihat) dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu berSHABAR dan berTAQWA, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

Q5.82. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh akan kalian dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik).”
  • Q5.48-49. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian* terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan JANGANLAH KAMU MENGIKUTI HAWA NAFSU MEREKA dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu*, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka BERLOMBA-LOMBALAH berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan BERHATI-HATILAH kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
  • "... Dan demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan akan masuk surga dan 72 lainnya (mampir dulu) ke neraka.” Rasulullah ditanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Al Jama’ah." (HR Ibnu Majah). Detal-1... Detail-2...
Q12.103. Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.
  • Ruh-ruh manusia diciptakan laksana prajurit berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu & mana yang saling mengingkari di antara satu sama lain akan berpisah. (HR Muslim)
  • "Diperlihatkan kepadaku umat manusia seluruhnya. Maka akupun melihat ada Nabi yang memiliki pengikut sekelompok kecil manusia. Dan ada Nabi yang memiliki pengikut dua orang. Ada Nabi yang tidak memiliki pengikut” (HR Bukhari & Muslim)
  • Q57.22-23. Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Q6.116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Detail...

Dunia hanyalah permainan & senda gurau serta MENIPU...
  • Q57.20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Mereka (orang kafir) hanya menginginkan dunia ini saja! Detail...
  • Q14.3. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.
  • Q76.27. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).
  • Q2.212. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
  • Q6.29. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan"
  • Q45.24. Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
  • Q13.26. Allah meluaskan rezki & menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka (orang-orang kafir) bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).
  • Q87.16-17. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik & lebih kekal. Baca juga Q17.18, Q15.3.
  • ”Se­orang kafir jika berbuat kebaikan di dunia, maka segera diberi balasannya di dunia. Adapun orang mu’min jika ber­buat kebajikan, maka tersimpan pahalanya di akhirat di samping rizqi yang diterimanya di dunia atas keta’atannya.” (HR Muslim)
  • "Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan sebagai syurga bagi orang kafir" (HR Muslim)

Dan "pecinta" dunia tidak akan "nyambung" dengan "pecinta" akhirat. Maka...
  • Q4.76. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu PERANGILAH kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya TIPU DAYA syaitan itu adalah LEMAH. 
  • Q7.199. Jadilah engkau PEMA'AF dan suruhlah orang mengerjakan yang MA'RUF, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
  • Q66.6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..!
  • Q110.1-3. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
  • ...astaghfirullah ..astaghfirullah ..astaghfirullah!

Denmark Research Institute: Manusia Lebih Bahagia & Nyaman Tanpa Adanya Facebook & Jejaring Sosial

Eramuslim – Sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan oleh Denmark Research Institute menunjukan bahwa manusia moderen saat ini akan lebih bahagia tanpa menggunakan Facebook ataupun jejaring sosial (medsos) lainnya.

Dalam penelitiannya terhadap 1.095 responden, Denmark Research Institute meminta setengah dari mereka untuk tidak menggunakan jejaring sosial Facebook selama sepekan. Sedangkan sisanya diperbolehkan menggunakannya seperti biasa.

Setelah tujuh hari berlalu, tim peneliti menemukan bahwa mereka yang tidak menggunakan Facebook menjalin hidup lebih nyaman, seimbang dan terfokus daripada mereka yang terus menggunakan situs ini, seperti dilansir kantor berita Jerman dalam terbitannya hari Sabtu (07/11) kemarin.

Perlu diketahui bahwa pengguna aktif situs Facebook hingga kuartal ketiga ditahun 2015 ini mencaai 1,55 miliar pengguna, naik 14% dibandingkan periode yang sama ditahun lalu. Dengan kunjungan mencapai 1 miliar pengguna setiap harinya, dengan 894 juta diantaranya menggunakan smartphone dan tablet. (Anatolia/Ram)


Tanpa Medsos & Siaran TV, Kehidupan Menjadi Jauh Lebih Baik dan Fokus

Eramuslim.com – Nyaris semua orang di negeri ini memiliki akun aktif di media sosial, apakah itu Facebook (FB), Instagram, Twitter, Blogger dan sebagainya. Banyak penelitian mengatakan jika media sosial merupakan “panggung” maya bagi sebagian orang untuk menampilkan aktivitas dan kehidupan mereka pada dunia.

Kebahagiaan dan kesuksesan, dua hal yang paling sering terlihat di media sosial, baik dalam bentuk foto maupun kalimat berupa status. Namun, tahukah Anda kebahagiaan itu lebih dari sejauh mata memandang. Artinya, apa yang terlihat tak selalu merefleksikan kondisi yang sesungguhnya.

Sebuah survei bahkan pernah melaporkan, banyak pemilik akun Facebook mengaku, mereka mengemas kehidupan yang dipertontonkan di media sosial dengan banyak kebohongan. Tujuannya, supaya orang lain mengakui dan merasa cemburu dengan pencapaian mereka.

“Media sosial adalah media yang tanpa henti mengalirkan informasi soal kehidupan hasil editan. Alhasil, persepsi kita pada kehidupan terdistorsi,” terang Happiness Research Institute.

Happiness Research Institute baru-baru ini mengampanyekan hidup tanpa terhubung dengan media sosial. Lalu, mereka menyurvei lebih kurang 1.085 orang yang tidak terkoneksi dengan media sosial untuk sementara waktu.

Hasilnya, sebagian besar dari mereka mengaku lebih bahagia dan hidup terasa jauh lebih baik. Sebanyak 88 persen responden mengaku hidup lebih bahagia tanpa media sosial.

Sementara itu, 44 persen responden merasa resah saat kali pertama tidak bermain Facebook. Lalu, 54 persen lainnya menyatakan hidup lebih indah tanpa melihat drama dan aktivitas orang lain di media sosial.

Penulis sendiri pernah melakukan riset selama satu tahun hidup tanpa siaran televisi di rumah. Hasilnya sungguh menakjubkan, anak-anak menjadi lebih suka membaca buku, pikiran seisi rumah menjadi lebih jernih, fokus pada masalah-masalah yang sungguh-sungguh penting, dan kehidupan keluarga menjadi lebih indah. Sampai sekarang, teve di rumah jarang sekali hidup. Jika pun hidup hanya untuk menonton siaran yang benar-benar penting, atau film-film–baik film dokumentasi atau film komersial, yang memang menunjang profesi penulis saat ini.

Demikian pula dengan media sosial. Tanpa medsos, hidup menjadi jauh lebih tenang dan indah. Lihatlah, orang-orang beradab akan lebih dekat kepada habit membaca buku daripada mengutak-atik medos di ponsel ketika berada di mana saja. Berani coba? (rz)

17.11.15

Berpendapat Holocaust Tidak Ada, Nenek Usia 87 Tahun Ini Dibui

Menurut wanita tua itu Holocaust adalah kebohongan terbesar dalam sejarah

Hidayatullah.com—Berpendapat bahwa peristiwa Holocaust –pembantaian orang-orang Yahudi di Jerman– itu tidak ada, seorang nenek berusia 87 tahun dihukum penjara selama 10 bulan oleh sebuah pengadilan di kota Hamburg, Jerman.

Dilansir Deutsche Welle Jumat (13/11/2015), Ursula Haverbeck mengatakan dalam persidangan hari Kamis lalu bahwa kamp konsentrasi yang menurut cerita menjadi tempat pembantaian 1,25 juta penghuni penjara antara tahun 1940 dan 1945 hanyalah “sekedar kepercayaan saja”, bukan kejadian nyata.

Wanita tua yang dijuluki media di Jerman dengan “Nazi-Oma” (nenek Nazi) itu kabarnya sebelum ini telah memiliki catatan kriminal berupa dua denda, serta hukuman percobaan dalam kasus hasutan untuk memberontak melawan pemerintah.

Warga kota Vlotho, sebelah barat Jerman, itu pernah menjabat sebagai ketua sebuah pusat pelatihan kelompok kanan-jauh, yang ditutup tahun 2008 karena dituduh menyebarkan propaganda Nazi.

Nenek Haverbeck diciduk aparat dan diajukan ke meja hijau setelah pada bulan April lalu mengatakan bahwa “Holocaust adalah kebohongan terbesar dan yang paling lama berkelanjutan (dipercayai, red) dalam sejarah.” Hal itu dikatakannya saat berunjuk rasa di luar gedung pengadilan di mana mantan anggota pasukan elit Nazi Oskar Groning, 94, diadili.

Ya, memang benar saya mengatakan hal itu,” kata Haverbeck di depan persidangannya tanpa menunjukkan rasa penyesalan. Wanita itu kemudian menantang pengadilan untuk membuktikan bahwa Auschwitz benar-benar sebuah kamp kematian.

Menanggapi pernyataan Haverbeck, hakim Bjoern Joensson berkata, “Tak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak dapat menerima fakta.

Tak perlu bagi saya untuk membuktikan kepadamu bahwa bumi itu bulat,” kata hakim menambahkan.

Hakim Joensson berpendapat wanita itu menghabiskan umurnya untuk menyebarkan omong kosong.

Para aktivis kanan-jauh yang berbondong-bondong datang hari Kamis lalu, untuk memberikan dukungan kepada nenek Haverbeck, menuntut agar mereka diperbolehkan masuk ke ruang persidangan.

Ketika Haverbeck digiring keluar usai menjalani sidang, mereka memberikan tepukan tangan sebagai dukungan kepada wanita tua itu.

Meskipun banyak orang Eropa yang meyakini isu Holocaust hanyalah taktik dari orang-orang Yahudi agar mendapatkan kompensasi perang (mendapat "tanah" di Palestina, ted), sejumlah negara Eropa memiliki peraturan perundangan yang mengkriminalkan orang-orang yang berpendapat bahwa Holocaust itu tidak pernah terjadi, sementara pada saat yang sama pemerintah mereka mengklaim negaranya mengakui kebebasan berpendapat dan berekspresi.*

15.11.15

Riset Universitas Inggris: Orang Cina Lebih Gemar Berbohong

KW identik dengan tipu2, dusta, bohong... tergantung?
Eramuslim.com – Sebuah studi yang digelar oleh University of East Anglia, Inggris menemukan bahwa kejujuran orang berbeda di setiap negara. Mereka menemukan bahwa warga Inggris adalah yang paling jujur di dunia, sementara orang Cina adalah yang paling gemar berbohong.

Studi yang diuraikan dalam konferensi London Experimental Workshop di London, Inggris pada 16 November kemarin itu digelar dengan melibatkan 1.500 responden dari 15 negara, yang mewakili seluruh kawasan di dunia.

Negara-negara itu adalah Brasil, Cina, Yunani, Jepang, Rusia, Swiss, Turki, Amerika Serikat, Argentina, Denmark, Inggris, India, Portugal, Afrika Selatan, dan Korea Selatan.

Studi itu sendiri digelar dengan melakukan dua eksperimen online. Dalam eksperimen pertama, para peserta diminta untuk mengundi koin dan memberitahukan gambar kepala atau ekor yang muncul. Sebelumnya mereka telah diberitahu bahwa jika gambar kepala yang muncul, maka mereka akan mendapatkan imbalan sebesar 3 sampai 5 dolar AS.

Nah, jika di satu negara ada lebih dari 50 persen yang melaporkan bahwa koin yang diundi menunjukkan gambar kepala, maka itu adalah indikasi mereka berbohong.

Dalam eksperimen kedua, para responden diminta bermain kuis tentang musik. Jika benar mereka juga akan mendapat hadiah berupa uang, tetapi syaratnya mereka tak boleh mencari jawabannya di internet. Adapun pertanyaan yang diberikan sangat sukar, sehingga para responden akan cenderung menggunakan di internet untuk menemukan jawaban yang tepat.

Hasil dua eksperimen itu, kata peneliti David Hugh-Jones, menunjukkan bahwa di semua negara ada kecenderungan untuk berbohong, tetapi tingkatnya bervariasi. (ts/pm)

13.11.15

Setelah 28 Tahun Mengkaji Semua Agama, Petinggi Budha Ini Akhirnya Bersyahadat

Eramuslim.comAllahu Akbar! Setelah 28 tahun mengkaji semua agama di dunia ini dengan mantap hati dan tanpa paksaan telah mengambil keputusan memeluk Islam.

Seorang sami (petinggi Budha dari Taiwan) berusia 66 tahun bersama Tan Sri Abdul Rahim Tamby. Hadir juga sebagai saksi Presiden Persatuan Cina Islam Malaysia Cawangan Melaka (Macma), Lim Jooi Soon, Timbalan Pengerusi Majlis Agama Islam Melaka (Maim), Datuk Yaakub Md Amin dan Mufti negeri, Datuk Dr Mohadis Yasin serta jamaah Masjid Cina Krubong Malaka.

Beliau menerangkan dengan menggabungkan bagaimana logik, sains dan hujah dapat dikaitkan dengan pencipta alam ini menyebabkan dia memutuskan untuk memeluk Islam.

Kita doakan beliau di mudahkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam sisa hidupnya. Aamin!

المر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ ۗ وَالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya). (QS Ar Ra’d: 1)

الر ۚ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS Ibrahim: 1)

Mari mempelajari Islam dengan tulus, jujur dan benar, hubungi: www.mualaf.com/pembinamualaf

11.11.15

Negara-Negara Arab Sunni (Islam) Akan Dijajah Syi'ah IRAN?

JAKARTA (voa-islam.com) – Jika berpikir secara perlahan-lahan dengan lapang dada dan hati yang jernih, maka akan dapat disimpulkan, tentang masa depan negara-negara Arab Sunni? Barangkali ini kesimpulan yang sangat skeptis, yaitu negara-negara Arab Sunni akan dijajah oleh Syi'ah?

Ada beberapa patokan yang dapat menjadi dasar kesimpulan, bahwa negara-negara Arab Sunni, bakal dijajah oleh Syi'ah Iran. Mungkin prediksi ini berlebihan, dan bisa dinilai telalu skeptis dan pesimis melihat masa depan negara-negara Arab pasca “Arab Spring”.

Perubahan akibat "Arab Spring", menimbulkan "counter" terhadap sejumlah negara-negara Arab oleh kekuatan lama yang didukung Barat, dan kemudian merubah seluruh situasi dan keadaan di Timur Tengah dan Dunia Arab. Termasuk di Suriah. Kegagalan negara-negara Arab Sunni menghadapi Syi'ah Iran, disebabkan faktor-faktor:

Pertama, negara-negara Arab Sunni tidak dapat bersatu dalam semua masalah, dan terus memiliki perbedaan yang dalam, dan bahkan menjurus konflik yang terbuka, yang sifatnya antar negara. Sebagai contoh, antara Mesir dengan Arab Saudi, dan sejumlah negara Teluk. Betapa sekarang media-media Mesir, tanpa henti mengolok-olok Arab Saudi, dan Raja Salman. Bandingkan dengan Syi'ah? Mereka bersatu dibawah arahan Ayatullah Ali Khamenei, sebagai pemimpin dan panutan golongan Syiah. Tidak ada konflik terbuka diantara negeri-negeri Syiah, dan kelompok-kelompok Syiah di berbagai negara.

Kedua, negara-negara Arab di tinggalkan oleh Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia, dan tidak tidak lagi dipandang sebagai sekutu yang strategis. Sekarang membangun hubungan baru dengan Iran, sebagai sekutu strategis yang menggantikan negara-negara Arab. Terjadinya pergeseran aliansi ini, bisa berdampak negatif, tapi juga bisa berdampak positif bagi negara-negara Arab Sunni, bila meninggalkan ketergantungan kepada Barat.

Ketiga, perubahan 'geostrategis' dan 'geopolitik' ini, ditandai dengan dukungan enam negara utama, yaitu Amerika, Rusia, Cina, Inggris, Perancis, dan Jerman, yang mendukung program nuklir Iran. Ini mempunyai dampak keamanan dikawasan Timur Tengah, sangat berbahaya bagi keamanan masa depan negara-negara Arab.

Keempat, Iran bukan hanya mendapatkan dukungan dari enam negara utama dalam membangun fasilitas nuklirnya, tapi Iran juga mendapatkan senjata pamungkas, yaitu rudal S-300, dari darat ke udara. Ini tidak dimiliki negara-negara Arab. Dengan demikian, Iran memiliki arsenal persenjataan baru, dan berpotensi menjadi ancaman bagi negara-negara Arab.

Kelima, negara-negara Barat, khususnya Amerika dan Uni Eropa, telah mencairkan semua asset Iran yang dibekukan selama terjadinya konflik, dan sekarang mendapatkan dana mereka kembali yang nilai ratusan triliun dolar. Ini dapat digunakan membiayi ekonomi dan militer Iran. Iran akan mampu bertindak apa saja. Uni Eropa pun sekarang memulihkan kerjasama dengan Iran, bersamaan dengan kunjungan Kepala Kebijakan Uni Eropa, Ferderica Mogherini ke Teheran.

Kelima, Iran semakin kokoh “hegemoninya” di kawasan Timur Tengah, bersamaan dengan dukungan Amerika, Eropa, dan Rusia. Dengan isu “terorisme” yang terus didorong oleh Iran, dan kecemasan Amerika, Eropa, Rusia, dan sejatinya dibelakang isu ini kepentingan Zionis, Nampaknya Iran menjadi sekutu yang dipercaya. Sebutan “evil” (iblis) oleh Amerika terhadap Iran, telah dihapus, dan sebagai gantinya sekarang ini, Iran menjadi sekutu strategis Barat, Eropa, dan Rusia menghadapi ancaman yang lebih potensial, yaitu “ISIS”, yang dianggap sebagai ancaman bagi Barat. ISIS dianggap mewakili kelompok Sunni, dan lebih berbahaya dibanding dengan Syi'ah.

Keenam, negara-negara Arab “petro dollar”, diprediksi akan bangkrut, bersamaan dengan turunnya harga minyak dan habisnya cadangan minyak mereka. Negara-negara Arab tidak lagi bisa eksis di masa depan, karena minyaknya bukan hanya habis, tapi harganya sudah tidak dapat lagi menopang APBN mereka. Inilah yang lebih suram. Apalagi, gaya hidup para pangeran Arab. Sebagai gambaran Arab Saudi pun, sekarang sudah mengalami defisit APBN.

Ketujuh, sampai sekarang negara-negara Arab, mereka tidak jelas sikapnya terhadap kelompok-kelompok pejuang oposisi di Suriah. Sikapnya masih sangat ditentukan oleh Amerika, Eropa dan Rusia. Sikapnya yang tidak total mendukung para pejuang oposisi, membuat Bashar Al-Assad semakin berkepanjangan. Seharusnya Arab Saudi, sebagai negara utama, bisa melakukan “deal” politik dengan kekuatan oposisi, mengakhiri rezim Bashar. Bahkan, negara-negara Arab ikut memerangi kelompok Mujahidin, bersama-sama dengan Amerika, Rusia, dan Eropa.

Kedelapan, yang lebih penting, banyaknya perbedaan diantara "harakah" (gerakan), dan perbedaan itu, sampai pada tingkat yang sangat berlebihan, saling mengkafirkan, menuduh kafir, murtad, dan bahkan di medan jihad pun saling berperang. Inilah persoalan yang paling menghancurkan. Soal-soal ijtihadi, kemudian dijadikan dasar saling mengkafirkan, dan bermusuhan. Semua itu, semakin melemahkan perjuangan, khususnya bagi kekuatan golongan Sunni.

Inilah beberapa kondisi dan perubahan politik di Timur Tengah, yang membuat semakin melemahnya, kekuatan negara-negara Arab Sunni, menghadapi Syiah Iran, dan kemungkinan peluangnya di masa depan, Timur Tengah, bisa jatuh ke tangan Syiah. Ini harus mendapatkan perhatian di Indonesia. Tidak cukup menghadapi Syi'ah Iran dengan pidato dan retorika.

Satu-satunya peluang, bila Raja Salman bin Abdul Aziz dengan kharismanya bisa menyatukan seluruh kekuatan negara-negara Arab Sunni dan membangun dialog dengan Gerakan Islam, dan secara tegas melepaskan diri dari ketergantungan kepada Amerika, Eropa, dan Rusia, serta bersikap mandiri, termasuk tidak terbawa oleh permainan mereka.

Arab Saudi dan negara-negara Arab Sunni harus tegas mendukung semua perjuangan kelompok Sunni, seperti di Suriah, Irak,Yaman, dan tempat lainnya. Ini kemungkinan yang dapat memenangkannya menghadapi Syi'ah Iran. (mashadi/voa-islam.com)


5.000 Mata-Mata Syiah Iran Siap Kacaukan Stabilitas Dunia Arab

Eramuslim – Direktur Eksekutif Pengawas Teluk, Zafer Al Ajmi, memperingatkan kehadiran 5.000 mata-mata pemerintah Syiah Iran di seluruh negara-negara Teluk, yang dipersiapkan untuk membuat kekacaun di kawasan Sunni.

Informasi ini disampaikan Zafer dalam Konferensi ke empat Perencanaan Keamanan Strategis Teluk yang diselenggarakan di ibukota Bahrain beberapa hari yang lalu.

Teheran bergantung pada milisi dan mata-matanya di luar negeri untuk memaksakan agenda mereka di wilayah yang tidak meninggalkan ruang komunikasi antara Syiah dengan Islam Sunni untuk membangun hubungan yang normal,” ujar Zafer Al Ajmi.

Zafer Al Ajmi melanjutkan, “Untuk melancarkan agenda tersebut, Syiah Iran gunakan Irak sebagai tempat singgah untuk lewatnya senjata dan bahan peledak ke Teluk, guna mengacaukan stabilitas keamanan di negara-negara tersebut.”

Perlu diketahui bahwa pada awal bulan Oktober kemarin pemerintah Bahrain baru saja mengusir Dubes Iran karena dianggap mencampuri urusan dalam negeri Bahrain, setelah ditemukannya senjata api, granat, dan 1,5 ton bahan peledak C4 di bawah tanah sebuah rumah milik milisi Syiah Iran di daerah Nuwaidrat. (Dostor/Ram)


Mengapa Orang Afghanistan Mau Mati untuk Iran di Suriah?

Jika Iran kalah di Suriah, maka negara Syiah itu tidak lagi ditakuti oleh kerajaan-kerajaan Arab kaya minyak.

Poster pemimpin Syiah Iran Ayatullah Khamenei, Bashar Al-Assad,
pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah
Poster pemimpin Syiah Iran Ayatullah Khamenei, Bashar Al-Assad,
pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah
Hidayatullah.com—Sejak Rusia ikut ambil bagian dalam serangan udara di Suriah, jumlah orang Iran yang menjadi korban ikut bertambah.

Media-media Iran menggunakan istilah tidak resmi “Para pembela makam suci” untuk menyebut orang-orang Iran dan Afghanistan, yang diterjunkan sebagai pasukan paramiliter membantu pasukan rezim Suriah dan syiah Hizbullah dalam menghadapi oposisi dan ISIS. Mereka mengunakan dalih ada ancaman-ancaman atas tempat-tempat suci Syiah di Suriah, terutama sekitar Damaskus, sebagai alasan kehadirannya di Suriah.

Pekan lalu, jurubicara Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa Abdullah Bagheri, seorang mantan pengawal presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, telah terbunuh di Aleppo, bagian utara Suriah.

Dua pekan silam, Jenderal Hussein Hammedani, salah satu komandan tertinggi Korps Pengawal Revolusi, sebuah pasukan elit Iran, tewas di Aleppo. Dia merupakan komandan Iran paling senior yang terbunuh dalam operasi militer di luar negeri.

Seorang pejabat Amerika pekan lalu mengatakan bahwa tidak kurang dari 2.000 orang Iran, atau serdadu dukungan Iran, ambil bagian dalam serangan terhadap pasukan oposisi Suriah. Mereka berkoordinasi dengan pasukan Rusia dan tentara pendukung rezim Bashar Al-Assad.

Sejak tahun kedua perang sipil di Suriah, Iran terus meningkatkan kehadiran militernya di negara itu.

Oleh karena mendapatkan kecaman dari dalam negeri dan dunia internasional atas keterlibatannya dalam konflik Suriah, Teheran lebih memilih untuk mengerahkan orang-orang asal Afghanistan yang tinggal di Iran.

Dilansir Euronews (27/10/2015) Brigade Fatemiun –yang diambil dari nama putri Nabi Muhammad, Fatimah– merekrut ratusan migran asal Afghanistan yang berada di Iran. Orang-orang Afghanistan itu dilatih dan dikerahkan oleh pemerintah Syiah Teheran untuk bertempur di Suriah. Iran menjanjikan orang-orang itu bayaran $500 setiap bulan, dan ditambah dengan status penduduk permanen di Iran.

Pemerintah Syiah Iran merupakan pendukung setia rezim Syiah Alawi pimpinan Bashar Al-Assad di Suriah. Bertentangan dengan retorika yang selama ini dikemukakan, motivasi Iran di Suriah jauh melebihi sekedar masalah keagamaan (Syiah versus Muslim Sunni). Faktor geopolitik kawasan ikut bermain di sana. Selama delapan tahun perang antara Iran dengan Iraq, pemimpin Suriah ketika itu Hafidz Al-Assad (ayah dari Bashar Al-Assad), merupakan satu-satunya sekutu Iran di Arab.

Selain itu, Suriah tidak pernah menuntaskan perjanjian perdamaiannya dengan Israel, berbeda dengan Mesir dan Yordania. Konsekuensinya, negara Suriah, bersama dengan kelompok bersenjata Syiah asal Libanon Hizbullah, dan Iraq yang sekarang pemerintahannya dikuasai politisi-politisi Syiah, dianggap sebagai komponen dari apa yang disebut Iran dengan Axis of Resistance ‘poros perlawanan’ terhadap Israel.

Para pemimpin Iran mengetahui, jika mereka kalah di Suriah, maka hal itu akan menjadi hantaman besar bagi pamor dan pengaruh negeri Syiah itu di mata kerajaan-kerajaan Arab kaya minyak serta Israel. Negara Syiah Iran, jika kalah di Suriah, tidak akan lagi ditakuti oleh negeri-negeri Muslim Sunni.*


Syiah di Indonesia Kedepankan Strategi Taqrib, Waspadalah!

Eramuslim.com – Kalangan Syiah di Indonesia seringkali menggaungkan agenda taqrib, penyatuan antara Sunni dan Syiah sebagai modusnya. Sebuah gagasan usang yang terus diulang-ulang.

Ketua Dewan Syuro Annas Habib Zein al-Kaff juga menegaskan, ajaran Syiah tidak dapat disatukan, apalagi disamakan dengan Islam. Rukun Islam dan rukun iman yang merupakan dasar dari Islam sangat berbeda dengan apa yang diyakini sebagai rukun oleh Syiah.

Menanggapi taqrib yang banyak didengungkan untuk menyatukan ajaran Sunni dan Syiah, Habib Zein menyatakan, hal itu merupakan proyek yang dicanangkan oleh para pemuka Syiah, termasuk di Indonesia. Menurutnya, langkah itu dilakukan lantaran para pemuka Syiah menyadari posisi mereka sebagai minoritas.

Taqrib mereka gunakan untuk mematahkan fakta minoritas tersebut,” ujar Habib Zein, lansir Republika, Selasa (10/11/2015).

Taqrib juga diyakini sebagai bagian dari upaya pemuka-pemuka Syiah di Iran yang merasa gagal menyebarkan alirannya di Indonesia. ”Akhirnya, mereka berusaha masuk melalui taqrib.”

Ketua Aliansi Nasional Anti-Syiah DKI Jakarta Buya Abu Bakar al-Habsyi menambahkan, masyarakat Indonesia harus memahami bahwa akidah-akidah Syiah saat ini tidak pernah ada dalam Syiah yang sejak dulu ada di Indonesia. Akidah-akidah itu, menurutnya, baru hadir beberapa tahun belakangan ini. ”Itu dimaksudkan agar masyarakat melihatnya sebagai aliran yang serupa dengan Islam.”

Masyarakat, lanjut dia, sangat penting untuk memahami hal tersebut sehingga tidak terjebak dalam taqiyah atau kamuflase yang dimunculkan Syiah selama ini. Melalui pemahaman itu, tujuan kelompok Syiah untuk memecah belah umat Islam dan menghancurkan persatuan dan kesatuan NKRI tidak terwujud.

Sementara itu, Ketua Aliansi Nasional Anti-Syiah (ANNAS) KH Athian Ali mengatakan, peredaran ajaran dari kelompok Syiah semakin mengkhawatirkan. Ia pun berharap, masyarakat jangan sampai teperdaya oleh ajaran tersebut.

Selama ini, menurut Kiai Athian, tak sedikit umat Islam di Indonesia yang teperdaya oleh ajaran dan tokoh-tokoh Syiah. Akibatnya, mereka membenarkan bahkan meyakini bahwa perbedaan yang ada dalam ajaran Syiah hanyalah sekadar perbedaan mazhab. Hal itu, kata dia, tampak jelas dari pernyataan yang pernah disampaikan Tajul Muluk, salah satu pemuka Syiah di Indonesia. Tajul menegaskan, Alquran bukanlah kitab suci agama Islam.

Selain itu, lanjut Kiai Athian, masih banyak lagi ajaran Syiah yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti perbedaan syahadat, perbedaan shalat ,dan hal-hal kecil lain, seperti perbedaan wudhu.

Jadi, bukan sekadar perbedaan mazhab,” ujar Kiai Athian saat bersilaturahim ke kantor harian Republika di Jakarta, Senin (9/11).

Ajaran Syiah yang melaknat para sahabat Nabi Muhammad SAW, menurut dia, juga semakin menunjukkan bahwa Syiah bukanlah Islam. Karena itu, Kiai Athian yang juga merupakan pimpinan Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) menegaskan, Syiah tidak dapat disamakan dengan Islam dan tidak dapat dibiarkan menyebarkan ajarannya di Indonesia.

Meski demikian, kata Kiai Athian, selama lima tahun terakhir, gerakan-gerakan Syiah justru semakin berani menampilkan diri di muka publik. Hal ini karena mereka merasa sudah memiliki kekuatan yang cukup besar di Indonesia.

Terkait ancaman Syiah, ANNAS sudah menjalin koordinasi dengan banyak pihak, di antaranya, DPR, Polri, dan Kemenko Polhukam.(ts/arrahmah)


►►►More... (MUST READ MUST KNOW!)


Syiah Bukan Islam!

7.11.15

DEMOKRASI Kebodohan yang Membodohi, Kesesatan yang Menyesatkan

Oleh: Abu Hamzah Ar-Rizal

Sahabat VOA-Islam...

Tak ada satupun negara di dunia yang mau disebut bukan negara demokrasi. Bahkan negara-negara komunispun menyebut dirinya sebagai negara demokrasi. Secara epistomologis demokrasi dimaknai bahwa kekuasaan dipegang oleh rakyat. “Rakyat” menjadi jargon suci. Semua pemerintahan selalu mengatas namakan rakyat, walaupun pada kenyataannya tidak ada satupun pemerintahan di dunia ini yang mengutamakan rakyatnya.

Lihat saja Amerika Serikat. Mereka mengaku dirinya sebagai kampiun demokrasi, tapi mereka tidak peduli dengan jutaan rakyatnya yang kehilangan rumah akibat tragedi krisis subprime mortgage. Ketimbang mengeluarkan uang untuk menolong rakyat, pemerintah AS lebih suka memberikan triliunan dollar untuk membeli aset-aset busuk (toxic assets) yang merupakan hasil salah kelola para bankir. Mereka dengan mudahnya mengucurkan dana untuk menolong perusahaan perusahaan besar seperti AIG, General Motor dan Chrysler daripada menolong jutaan rakyatnya yang kini tidur di trotoar atau di tenda-tenda.
Memang sejak dilahirkan demokrasi sudah penuh dengan kebohongan. Diartikan sebagai kekuasaan ditangan rakyat, padahal kenyataannya rakyat tetap tidak pernah berkuasa
Bagaimana dengan Indonesia? Pada tahun 2008, untuk mengantisipasi krisis ekonomi global pada saat itu pemerintah mengucurkan dana stimulus. Dari dana stimulus sebesar 71,7 trilyun, yang diberikan untuk para petani kurang dari 1%. Sisanya untuk para pengusaha yang nota bene adalah orang-orang kaya. Padahal menurut logika sehat, stimulus tersebut lebih baik untuk meningkatkan daya beli rakyat daripada meningkatkan daya tahan perusahaan.

Daya beli meningkat perusahaan akan semakin baik. Megawati yang katanya mengaku sebagai pimpinan partai wong cilik, justru pada tahun 2003 mengeluarkan undang-undang yang mengijinkan para pengusaha menerapkan sistim kontrak bagi para pekerjanya. Posisi buruh menjadi sangat rentan, sewaktu-waktu mereka bisa diberhentikan tanpa alasan apapun juga dan tanpa pesangon. Bantuan langsung Tunai (BLT)? Ah itu ibarat setetes air bagi orang yang kehausan di padang pasir. BLT memang baik tetapi tidak mengurangi kemiskinan. BLT tidak memecahkan masalah. Lagipula darimana sumber uang BLT itu? Dari pinjaman luar negeri?

Memang sejak dilahirkan demokrasi sudah penuh dengan kebohongan. Diartikan sebagai kekuasaan ditangan rakyat, padahal kenyataannya rakyat tetap tidak pernah berkuasa. Di jaman Yunani kuno dimana demokrasi dilahirkan, faktanya yang punya hak memilih dan dipilih hanyalah kaum bangsawan. Rakyat biasa dan kaum budak tidak punya hak apa-apa selain jadi penonton yang selalu ditindas. Tapi anehnya pada saat negara sedang dalam keadaan bahaya, misalkan di serang oleh negara lain, rakyat kecil dan kaum budak itu harus ikut-ikutan membela negara bahkan sampai harus mempertaruhkan nyawanya.

Juga di jaman modern ini memang semua lapisan rakyat punya hak pilih dan dipilih. Tapi yang bisa dipilih adalah orang-orang yang punya duit, yang seyogyanya merupakan kelompok elit. Setelah terpilih, apakah mereka memperhatikan rakyatnya? Lihatlah kasus dagelan century di DPR. Atau sering kita lihat sejumlah rakyat berunjuk rasa ke gedung DPR atau DPRD. Para anggota DPR/DPRD sering menghilang atau ngumpet tidak mau menemui konstituennya yang membutuhkan pertolongan mereka. Di negara lainpun sama saja.

Lihat bagaimana para anggota kongres dan para senator berselingkuh dengan pihak eksekutif menipu rakyatnya agar mereka bisa menyerang Irak dan Afghanistan demi kepentingan para Yahudi juragan minyak. Lihat pula bagaimana mereka bersama sama pemerintah merampok uang rakyat triliunan dollar untuk diberikan kepada para bankir Yahudi yang telah membangkrutkan negara mereka. Faktanya demokrasi tak lebih dari salah satu bentuk oligarki kekuasaan.

Demokrasi memakmurkan?

Demokrasi bisa kita pilah menjadi Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi. Demokrasi Politik dikatakan akan memberi peluang bagi rakyat untuk ikut serta berpartisipasi dan ikut serta mengawasi serta mengendalikan pemerintahan. Ini adalah kebohongan pertama dari demokrasi. Faktanya adalah rakyat hanya “diminta” berperan dalam pelaksanaan pemilu. Mungkin sedikit lebihnya, dalam negara demokrasi seperti Indonesia rakyat diperkenankan untuk mengawasi jalannya pemilu sehingga pemilu bisa berjalan lancar jujur dan adil. Setelah itu bagiamana?

Ya... rakyat mah dipinggirkan saja. Ini tidak hanya berlaku di Indonesia. Bahkan di AS pun berlaku sama. Setelah pemilu selesai, yang mempengaruhi kebijakan Pemerintah , Senat dan Kongres adalah para pengusaha kapitalis. Opini rakyat digiring dan dimanipulasi oleh mass media yang menjadi bagian daripada industri.

Bagaimana dengan LSM yang katanya selalu berpihak kepada rakyat? LSM di negara-negara berkembang sangat tergantung kepada dana bantuan dari pihak asing. Sebagai contoh, ada LSM dalam bidang lingkungan yang berani berteriak-teriak mengecam pembalakan hutan. Tapi diam seribu bahasa terhadap kerusakan lingkungan yang maha dahsyat yang dilakukan oleh Freeport. LSM tsb ternyata mendapat bantuan dari lembaga nir laba di Amerika Serikat.

Demokrasi Ekonomi dimaknai sebagai keterbukaan, kebebasan dan persaingan bebas. Keterbukaan ternyata adalah semua bidang ekonomi harus terbuka bagi para pengusaha swasta. Kebebasan faktanya adalah para pengusaha asing bebas untuk berinvestasi di manapun juga dalam rangka menjarah dan merampok kekayaan alam terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Persaingan bebas yang diwujudkan dalam istilah Pasar bebas lebih merupakan pembantaian oleh para pengusaha global terhadap pengusaha-pengusaha lokal.

Demokrasi politik adalah merupakan pintu utama untuk menuju demokrasi ekonomi. Dengan adanya demokrasi politik, mudah bagi para pengusaha global untuk menguasai berbagai sumber daya ekonomi dari suatu negara. Melalui jalur formal (parlemen) mereka dengan mudah mengeluarkan berbagai peraturan yang menguntungkan mereka. Contoh undang-undang yang merugikan rakyat diantaranya UU Sumber Daya Air, UU Perburuhan, UU Investasi dan berbagai undang-undang lainnya. Bagi negara-negara yang belum menerapkan demokrasi politik tapi sudah menjalankan demokrasi ekonomi (sistim kapitalisme) , seperti Indonesia di jaman Orba dan China sekarang, para pengusaha menggunakan sistim KKN dengan cara mendekati tokoh-tokoh kunci untuk menggoalkan keinginan-keinginan mereka. Jadi apa manfaatnya demokrasi bagi rakyat?
Dalam sistim demokrasi, yang menjadi panduan adalah kehendak para pengusaha kapitalis (sebagian besar orang Yahudi atau non Yahudi yang dengan ataupun tanpa sadar membawa misi Zionisme Yahudi) yang dibungkus dalam bentuk konsitusi dan undang-undang yang sekularistis
Demokrasi... kebebasan?

Hal yang paling dibanggakan dalam sistim demokrasi adalah kebebasan. Kebebasan berbicara, kebebasan berekspresi dan kebebasan berkreasi merupakan jargon utama demokrasi. Perlu anda ketahui dalam sistim apapun juga kebebasan itu ada panduannya (guide line). Dalam sistim demokrasi Islam panduannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam sistim totaliter panduannya adalah kehendak penguasa yang diimplementasikan dalam berbagai bentuk undang-undang dan peraturan yang akan menjamin kelanggengan kekuasan sang penguasa itu. Dalam sistim demokrasi, yang menjadi panduan adalah kehendak para pengusaha kapitalis (sebagian besar orang Yahudi atau non Yahudi yang dengan ataupun tanpa sadar membawa misi Zionisme Yahudi) yang dibungkus dalam bentuk konsitusi dan undang-undang yang sekularistis.

Anda pergi ke Amerika Serikat atau ke Eropa Barat, lalu anda katakan bahwa Holocaust (peristiwa pembantaian yahudi waktu Perang Dunia II) adalah suatu kebohongan Yahudi, maka anda akan dituduh sebagai anti Semit dan bisa masuk penjara. Anda bicara bahwa teori evolusi itu suatu kedunguan dengan bukti-bukti paling ilmiahpun akan menyebabkan anda kehilangan pekerjaan. Di beberapa negara Eropa Barat, wanita berjilbab bisa kehilangan haknya untuk melanjutkan pendidikan.

Di Inggris, ada undang-undang yang mengancam siapapun juga yang melakukan penisataan agama (UU anti Blesphemy). Tapi Undang-undang itu hanya berlaku bagi agama Nasrani. Pada saat Islam dilecehkan undang-undang itu tidak berlaku bahkan dihargai sebagai suatu kebebasan berekspresi dan berkreativitas. Kalau anda mau berzina bagaimana? Boleh saja asal tidak mengganggu kepentingan orang lain. Jelas bahwa kebebasan dalam sistim demokrasi hanyalah kebebasan mengikuti hawa nafsu syaiton. Kebebasan dalam demokrasi hanya membawa mudhorot bagi masyarakat.

Berita terakhir malahan mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan bis di Denmark telah sepakat menolak untuk menarik wanita bercadar (Eramuslim.com 14/05/2009). Untuk bercadar saja di negeri demokrasi tidak boleh.

Demokrasi memberi ruang untuk mengkritik pemerintah?

Dalam sistim demokrasi setiap orang berhak untuk mengemukakan pendapat bahkan mengecam kebijakan pemerintah. Itu memang benar. Tetapi masalahnya didengarkah kritik itu? Untuk hal-hal yang bersifat lokal pemerintah sering terpaksa mau mendengar kritik dan mengikuti kehendak rakyatnya.

Tetapi apabila menyangkut kepentingan global (AS dan sekutu-sekutunya) jangan harap kritik anda akan didengar. Berapa kali puluhan ribu bahkan ratusan ribu buruh melakukan unjuk rasa yang menuntut pemerintah mencabut undang-undang tentang out-sourcing. Apakah pemerintah meluluskann keinginan mereka? Lihat puluhan ribu umat Islam di seantero Nusantara menuntut pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah. Dipenuhikah? Tidak, karena AS berkepentingan dengan Ahmadiyah dalam rangka peperangannya menghadapi Islam.

Demokrasi akan menciptakan pemerintahan yang bersih (Clean Government)?

Para penganut agama demokrasi meyakini bahwa pemerintahan yang bersih dapat dibentuk melalui demokrasi. Tahukah anda bahwa di Amerika korupsi begitu mewabah? Untuk suatu proyek saja bisa dipindah-tangankan kepada beberapa kontraktor tanpa melalui lelang yang jujur. Suatu ilustrasi dikemukakan disini. Di Irak (setelah penggulingan Saddam Husein), direncanakan dibangun suatu proyek. Setelah ditenderkan, yang menang adalah perusahaan A, oleh perusahaan A proyek tersebut dijual ke perusahaan B. Perusahaan B lalu menjualnya ke perusahaan C. Tapi perusahaan C kemudian menjualnya ke perusahaan D. Dapat dibayangkan bangunan macam apa yang bisa dihasilkan dari cara seperti ini. Demikian pula beberapa waktu yang lalu pemerintah Mexico mengajukan protes kepada Pemerintah AS, dikarenakan sulitnya memberantas penyelundupan narkotika yang melibatkan banyak aparat pemerintah AS.

Demokrasi Kebodohan yang Membodohi

Banyak tipu-tipuan yang dilakukan demokrasi, namun semua itu bisa dirangkum menjadi 2 (dua) hal pokok, yaitu tentang kedaulatan di tangan rakyat dan janji-janji politik.

Kedaulatan di tangan rakyat adalah jargon utama dalam sistem demokrasi. Sejatinya itu adalah tipuan yang mudah dibaca, tapi sayangnya masyarakat sering silap dengan berbagai pendapat dan tulisan “ilmiah” oleh pada ahli yang mendukung “jargon” tersebut.

Faktanya kedaulatan rakyat itu hanya berlangsung selama 5 (LIMA) MENIT di dalam kotak suara selama pelaksanaan Pemilu. Setelah itu kedaulatan mereka hilang diambil lagi oleh para penguasa (Eksekutif dan Legislatif) dan kemudian mereka ditinggal dan kembali lagi menjadi rakyat biasa yang tidak punya kekuasaan apapun juga.

Tipuan lainnya adalah janji-janji politik terutama pada saat kampanye baik dalam Pemilu, Pilpres ataupun Pilkada. Janji-janji politik itu biasanya dibungkus dengan istilah visi dan misi. Visi merupakan pandangan kedepan yang berupa janji dan harapan yang akan terwujud jika si calon terpilih menjadi pemimpin. Sedangkan MISI adalah langkah-langkah untuk mencapai visi tersebut.

Kenyataannya visi adalah ngelamun atau lamunan yang merupakan hadiah untuk rakyat dan misi adalah proyek-proyek yang merupakan milik si pemimpin. Selain itu tidak ada sanksi hukum apapun juga bagi calon yang terpilih jika ternyata dia melanggar janjinya. Dalam demokrasi kebohongan merupakan bagian dari cara berpolitik untuk mencapai tujuan.

Untuk menutupi kebohongannya itu para ahli memberikan teori tentang pilar-pilar demokrasi, yang merupakan kelanjutan Trias Politica yang ternyata gagal membuktikan bahwa kedaulatan negara berada di tangan rakyat.

Menurut mereka ada 5 pilar demokrasi yang merupakan wujud dari Kedaulatan Rakyat, yaitu Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, Pers dan Lembaga Swadaya Rakyat. Kenyataannya, rakyat yang dikatakan sebagai pemegang kedaulatan Negara tidak pernah mampu mangatur dan mengendalikan pihak eksekutif maupun legilsatif dalam menjalankan pemerintahannya. Mereka bekerja berdasarkan undang-undang dan peraturan yang mereka buat sendiri yang acapkali bertentangan dengan kepentingan mayoritas rakyat. Bahkan seandainya mereka melanggar aturan yang mereka buat sendiri, rakyat tak mampu berbuat apa-apa. Demikian juga pihak yudikatif yang hanya punya kewajiban menegakkan undang-undang walaupun undang-undang itu merugikan bahkan menindas mayoritas rakyat.

Bagaimana dengan Pers dan LSM? Pers yang seharusnya menjadi instrument bagi rakyat untuk mengontrol pemerintah dalam kenyataannya tidak bisa dibantah selalu dan “diharuskan” berdiri sesuai dengan kepentingan para pemilik modal. Dan para pemilik modal selalu berafiliasi kepada kelompok-kelompok politik yang merupakan bagian dari sistim oligarki dalam pemerintahan, yang sama sekali tidak terkait dengan kepentingan rakyat. Kalaupun ada media pers yang membela rakyat dalam suatu peristiwa politik serta berdiri dalam posisi vis a vis dengan pemerintah, “keberpihakan” media tersebut selalu terkait dengan kepentingan pemiliknya yang kebetulan ada satu kubu dengan kelompok politik yang menjadi pesaing dari pemerintah.

Lalu bagaimana dengan Lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang katanya berfungsi sebagai kekuatan kelima untuk menjaga kedaulatan rakyat. LSM-LSM yang ada saat ini tentunya butuh biaya untuk kegiatan administratif dan operasionalnya. Pertanyaannya siapakah yang membiayainya? Rakyatkah? Sudah tentu bukan rakyat yang membiayainya, tetapi tentunya ada pihak lain yang bukan “rakyat” yang membiayai mereka. Sudah menjadi rahasia umum untuk kegiatannya banyak LSM-LSM yang datang ke pemerintah, baik itu pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah, atau juga ada dari lembaga/lembaga atau perusahaan-perusahaan swasta, bahkan banyak juga LSM yang mendapat kucuran dana dari Negara-negara asing baik langsung maupun tidak langsung (melalui lembaga-lembaga nir laba milik asing). Pertanyaan selanjutnya, kalau bukan dari rakyat (dan memang tidak mungkin meminta ke rakyat) apakah mungkin mereka akan selalu menjadi alat kepentingan rakyat? Apalagi kalau kepentingan pemberi dana bertentangan dengan kepentingan rakyat.

Demokrasi Suatu Kesesatan yang Menyesatkan

Ditinjau dari sisi agama banyak kesesatan demokrasi. Tapi saya hanya mengambil tiga point saja yang menunjukkan kesesatannya. Pertama, kebenaran Ilahiah bisa dikalahkan oleh suara mayoritas. Misalkan besok akan diadakan referendum untuk menentukan apakan wanita wajib berjilbab atau tidak, saya yakin bahwa yang akan memenangkan referendum adalah pihak yang menolak jilbab. Bahkan sebagian yang berjilbabpun akan mengatakan bahwa berpakaian muslim atau tidak itu adalah hak individu.

Kedua, suatu hal yang tidak masuk diakal kalau seorang yang sholeh, pintar lagi pula berilmu memiliki hak yang sama, yakni satu suara, dengan seorang bejad, bodoh dan berpendidikan rendah. Yang bodoh pasti lebih banyak dari yang pintar. Yang tidak berilmu lebih banyak daripada yang berilmu. Demikian pula yang berakhlak buruk akan lebih banyak daripada yang sholeh. Seorang pezina berhak mencalonkan dirinya menjadi wakil rakyat, bahkan menjadi presidenpun bukan masalah dalam sistim demokrasi. Baru-baru ini MK (Majelis Konstitusi) membatalkan salah satu pasal dalam undang-undang yang melarang narapidana dipilih menjadi kepala daerah, tak heran kini ada mantan koruptor menjadi caleg. Laporan ICW mengindikasikan 80% dari caleg ditenggarai pernah terlibat korupsi. Pernah ada seorang Artis yang melahirkan anak diluar nikah mencalonkan diri menjadi calon anggota legislatif. Audzubillah!!! Rasulullah bersabda bahwa dihadapan Alloh semua manusia itu sama, hanya ketaqwaannyalah yang membedakan. Tingkat ketaqwaan itu sendiri tergantung kepada ilmu yang dimilikinya, demikian lanjut Rasulullah. Bayangkan pemimpin macam apa yang akan didapatkan oleh masyarakat seperti ini

Ketiga, rakyat itu bodoh. Di seluruh dunia tidak ada rakyat yang pintar atau cerdas. Kalimat provokatif ini saya ucapkan dalam konteks rakyat sebagai suatu komunitas. Tentunya ada individu-individu yang pintar atau cerdas, tapi sebagai komunitas rakyat pasti bodoh. Kenapa demikian? Jawabnya pertama, rakyat tidak memiliki akses terhadap sumber informasi untuk mendapatkan informasi yang benar,lengkap dan utuh. Tolong jawab apakah semua rakyat tahu dan mengerti tentang krisis finansial global sekarang ini? Atau yang lebih mudah sajalah, apakah rakyat tahu mengenai data-data pribadi secara lengkap dan utuh dari para caleg yang berlaga pada 2014 lalu?

Contoh yang menunjukkan bodohnya rakyat adalah menangnya Abdul Hadi Djamal di Sulsel pada pemilu legislative 2009, padahal pada saat itu dia menjadi tahanan KPK, karena terlibat korupsi mega trilyun. Di AS sendiri, rakyat yang memilih calon Presiden berdasarkan program-program yang diajukannya hanyalah 9,7%. Sisanya ikut memilih karena termakan iklan Kedua, Sebagian besar rakyat adalah a politis. A politis adalah suatu kebodohan. Seorang yang a politis tidak akan mengerti dan memahami kezaliman yang dilakukan oleh para penguasa.

Berapa banyakkah rakyat yang tahu bahwa kemiskinan sekarang ini merupakan hasil dari ketidak adilan sistem? Ketiga, Mass media yang seharusnya menjadi sumber pencerahan bagi masyarakat kini telah menjadi industri. Mass media selalu berpihak. Berpihak kepada rakyat? Pastinya tidak. Keberpihakannya tergantung kepada siapa yang memiliki atau mendanai mass media tersebut. Jadi kalau begitu perlukah kita berdemokrasi? Wallahu ‘alam. [syahid/voa-islam.com]


Wajib Baca..!

6.11.15

Sejarah Gelap Para Paus

Kejahatan penguasa agama Kristen ini akhirnya berdampak munculnya paham liberal

Oleh: Dr. Adian Husaini

“Sejarah Gelap Para Paus – Kejahatan, Pembunuhan, dan Korupsi di Vatikan”. Itulah judul sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Kelompok Kompas-Gramedia (KKG). Edisi bahasa Inggris buku ini ditulis oleh Brenda Ralph Lewis dengan judul Dark History of the Popes – Vice Murder and Corruption in the Vatican.

“Benediktus IX, salah satu paus abad ke-11 yang paling hebat berskandal, yang dideskripsikan sebagai seorang yang keji, curang, buruk dan digambarkan sebagai ‘iblis dari neraka yang menyamar sebagai pendeta’. (hal.9)

Itulah sebagian gambaran tentang kejahatan Paus Benediktus IX dalam buku ini. Riwayat hidup dan kisah kejahatan Paus ini digambarkan cukup terperinci. Benediktus IX lahir sekitar tahun 1012. Dua orang pamannya juga sudah menjadi Paus, yaitu Paus Benediktus VIII dan Paus Yohanes XIX. Ayahnya, Alberic III, yang bergelar Count Tusculum, memiliki pengaruh kuat dan mampu mengamankan singgasana Santo Petrus bagi Benediktus, meskipun saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan.

Paus muda ini digambarkan sebagai seorang yang banyak melakukan perzinahan busuk dan pembunuhan-pembunuhan. Penggantinya, Paus Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan melakukan ‘pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang sangat keji’. Kehidupan Benediktus, lanjut Viktor, ‘Begitu keji, curang dan buruk, sehingga memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus juga dituduh melakukan tindak homoseksual dan bestialitas.

Kejahatan Paus Benediktus IX memang sangat luar biasa. Bukan hanya soal kejahatan seksual, tetapi ia juga menjual tahta kepausannya dengan harga 680 kg emas kepada bapak baptisnya, John Gratian. Gara-gara itu, disebutkan, ia telah menguras kekayaan Vatikan.

Paus lain yang dicatat kejahatannya dalam buku ini adalah Paus Sergius III. Diduga, Paus Sergius telah memerintahkan pembunuhan terhadap Paus Leo V dan juga antipaus Kristofer yang dicekik dalam penjara tahun 904. Dengan cara itu, ia dapat menduduki tahta suci Vatikan. Tiga tahun kemudian, ia mendapatkan seorang pacar bernama Marozia yang baru berusia 15 tahun.

Sergius III sendiri lebih tua 30 tahun dibanding Marozia. Sergius dan Marozia kemudian memiliki anak yang kelak menjadi Paus Yohanes XI, sehingga Sergius merupakan satu-satunya Paus yang tercatat memiliki anak yang juga menjadi Paus.
Sebuah buku berjudul Antapodosis menggambarkan situasi kepausan dari tahun 886-950 Masehi:

“Mereka berburu dengan menunggang kuda yang berhiaskan emas, mengadakan pesta-pesta dengan berdansa bersama para gadis ketika perburuan usai dan beristirahat dengan para pelacur (mereka) di atas ranjang-ranjang berselubung kain sutera dan sulaman-sulaman emas di atasnya. Semua uskup Roma telah menikah dan istri-istri mereka membuat pakaian-pakaian sutera dari jubah-jubah suci.”

Banyak penulis sudah mengungkap sisi gelap kehidupan kepausan. Salah satunya Peter de Rosa, penulis buku Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy. Buku ini juga mengungkapkan bagaimana sisi-sisi gelap kehidupan dan kebijakan tahta Vatikan yang pernah melakukan berbagai tindakan kekejaman, terutama saat menerapkan Pengadilan Gereja (Inquisisi). Kekejaman Inquisisi sudah sangat masyhur dalam sejarah Eropa. Karen Armstrong, mantan biarawati dan penulis terkenal, menyebutkan, bahwa Inquisisi adalah salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat (one of the most evil of all Christian institutions). (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991).

Inquisisi diterapkan terhadap berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan Gereja. Buku Brenda Ralph Lewis mengungkapkan dengan cukup terperinci bagaimana Gereja menindas ilmuwan seperti Galileo Galilei dan kawan-kawan yang mengajarkan teori heliosentris. Galileo (lahir 1564 M) melanjutkan teori yang dikemukakan oleh ahli astronomi asal Polandia, Nikolaus Copernicus. Tahun 1543, tepat saat kematiannya, buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium, diterbitkan.

Tahun 1616, buku De Revolutionibus dimasukkan ke dalam daftar buku terlarang. Ajaran heliosentris secara resmi dilarang Gereja. Tahun 1600, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup sampai mati, karena mengajarkan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Lokasi pembakaran Bruno di Campo de Fiori, Roma, saat ini didirikan patung dirinya.

Melihat situasi seperti itu, Galileo yang saat itu sudah berusia lebih dari 50 tahun, kemudian memilih sikap diam.

Pada 22 Juni 1633, setelah beberapa kali dihadirkan pada sidang Inquisisi, Galileo diputus bersalah. Pihak Inquisisi menyatakan bahwa Galileo bersalah atas tindak kejahatan yang sangat mengerikan. Galileo pun terpaksa mengaku, bahwa dia telah bersalah. Bukunya, Dialogo, telah dilarang dan tetap berada dalam indeks Buku-Buku Terlarang sampai hampei 200 tahun. Galileo sendiri dihukum penjara seumur hidup. Ia dijebloskan di penjara bawah tanah Tahta Suci Vatikan. Pada 8 Januari 1642, beberapa minggu sebelum ulang tahunnya ke-78, Galileo meninggal dunia. Tahun 1972, 330 tahun setelah kematian Galileo, Paus Yohanes Paulus II mengoreksi keputusan kepausan terdahulu dan membenarkan Galileo.

Kisah-kisah kehidupan gelap para Paus serta berbagai kebijakannya yang sangat keliru banyak terungkap dalam lembaran-lembaran sejarah Eropa. Peter de Rosa, misalnya, menceritakan, saat pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid.

Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa di antaranya gila.

Pasukan Prancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakaan biara tersebut.

Kejahatan penguasa-penguasa agama ini akhirnya berdampak pada munculnya gerakan liberalisasi dan sekularisasi di Eropa. Masyarakat menolak campur tangan agama (Tuhan) dalam kehidupan mereka.

Sebagian lagi bahkan menganggap agama sebagai candu, yang harus dibuang, karena selama ini agama digunakan alat penindas rakyat. Penguasa agama dan politik bersekutu menindas rakyat, sementara mereka hidup berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Salah satu contoh adalah Revolusi Perancis (1789), yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”.

Pada masa itu, para agamawan (clergy) di Perancis menempati kelas istimewa bersama para bangsawan. Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Prancis.

Dendam masyarakat Barat terhadap keistimewaan para tokoh agama yang bersekutu dengan penguasa yang menindas rakyat semacam itu juga berpengaruh besar terhadap sikap Barat dalam memandang agama. Tidak heran, jika pada era berikutnya, muncul sikap anti pemuka agama, yang dikenal dengan istilah “anti-clericalism”. Trauma terhadap Inquisisi Gereja dan berbagai penyimpangan kekuasaan agama sangatlah mendalam, sehingga muncul fenomena “anti-clericalism” tersebut di Eropa pada abad ke-18. Sebuah ungkapan populer ketika itu, ialah: “Berhati-hatilah, jika anda berada di depan wanita, hatilah-hatilah anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.” (Beware of a woman if you are in front of her, a mule if you are behind it and a priest whether you are in front or behind).” (Owen Chadwick, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century, (New York: Cambridge University Press, 1975).

Trauma pada dominasi dan hegemoni kekuasaan agama (Kristen) itulah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi “politisasi agama”; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan.
Trauma Barat terhadap sejarah keagamaan mereka berpengaruh besar terhadap cara pandang mereka terhadap agama. Jika disebut kata “religion” maka yang teringat dalam benar mereka adalah sejarah agama Kristen, lengkap dengan doktrin, ritual, dan sejarahnya yang kelam yang diwarnai dengan inquisisi dan sejarah persekusi para ilmuwan.

Berbagai penyelewengan penguasa agama, dan pemberontakan tokoh-tokoh Kristen kepada kekuasaan Gereja yang mengklaim sebagai wakil Kristus menunjukkan bahwa konsep “infallible” (tidak dapat salah) dari Gereja sudah tergoyangkan.

Kaum Muslim, perlu mengambil hikmah dari kasus kejahatan para pemimpin Gereja ini. Ketika para tokoh agama tidak mampu menyelaraskan antara ucapan dan perilakunya, maka masyarakat akan semakin tidak percaya, bahkan bias “alergi” dengan agama. Jika orang-orang yang sudah terlanjur diberi gelar — atau memberi gelar untuk dirinya sendiri – sebagai “ULAMA”, tidak dapat mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, maka bukan tidak mungkin, umat akan hilang kepercayaannya kepada para ulama. Mereka akan semakin jauh dari ulama dan lebih memuja selebriti – baik selebriti seni maupun politik.

Kasus yang menimpa sejumlah tokoh agama Katolik itu dapat juga menimpa agama mana saja. Jika tokoh-tokoh partai politik Islam tidak dapat memegang amanah — sibuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya, tak henti-hentinya mempertontonkan konflik dan pertikaian — maka bukan tidak mungkin, umat akan lari dari mereka dan partai mereka.

Jika para pimpinan pesantren tidak dapat memegang amanah, para ulama sibuk mengejar keuntungan duniawi, dan sebagainya, maka umat juga akan lari dari mereka. Jika orang-orang yang dianggap mengerti agama tidak mampu menjadi teladan bagi masyarakat, tentu saja sulit dibayangkan masyarakat umum akan sudi mengikuti mereka.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari semua kisah ini, untuk kebaikan umat Islam di masa yang akan datang.*/Depok, 20 Maret 2011

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini bekerjasama dengan Radio Dakta 107 FM