29.1.15

Noah’s Ark Ministries International: Kapal Nabi Nuh Berasal dari Pulau Jawa


Eramuslim.com – Situs Perahu Nuh menjadi perbincangan hangat di dunia arkeologi sejak ditemukannya situs kapal Nabi Nuh a.s. oleh Angkatan Udara Amerika serikat, tahun 1949, yang menemukan benda mirip kapal di atas Gunung Ararat-Turki dari ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600m). Life Magazine pada tahun 1960 juga memuatnya, saat pesawat Tentara Nasional Turki menangkap gambar sebuah benda mirip kapal yang panjangnya sekitar 150M.

Penelitian dan pemberitaan tentang dugaan kapal Nabi Nuh a.s. (The Noah’s Ark) terus berlanjut hingga kini. Seri pemotretan oleh penerbang Amerika Serikat, Ikonos pada 1999-2000 tentang adanya dugaan kapal di Gunung Ararat yang tertutup salju, menambah bukti yang memperkuat dugaan kapal Nabi Nuh a.s. itu.

Kini ada penelitan terbaru tentang dari mana kapal Nabi Nuh a.s. itu berangkat. atau di mana kapal Nabi Nuh a.s. itu dibuat? Baru-baru ini, gabungan peneliti arkeolog-antropolgy dari dua negara, China dan Turki, beranggotakan 15 orang, yang juga membuat film dokumenter tentang situs kapal Nabi Nuh a.s. itu, menemukan bukti baru.

Mereka mengumpulkan artefak dan fosil-fosil berupa; serpihan kayu kapal, tambang dan paku. Hasil Laboratorium Noah’s Ark Ministries International, China-Turki, setelah melakukan serangkaian uji materi fosil kayu oleh tim ahli tanaman purba, menunjukan bukti yang mengejutkan, bahwa fosil kayu Kapal Nabi Nuh a.s. berasal dari kayu jati yang saat itu hanya tumbuh di Pulau Jawa.

Lembaga ini telah meneliti ratusan sample kayu purba dari berbagai negara, dan memastikan, bahwa fosil kayu jati yang berasal dari daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah 100 persen cocok dengan sample fosil kayu Kapal Nabi Nuh a.s. Sebagaimana diungkap oleh Yeung Wing, pembuat film documenter The Noah’s Ark, saat melakukan konfrensi pers di Hongkong, (26/4/2010).

Saya meyakini 99 persen, bahwa situs kapal di Gunung Ararat, Turki, adalah merupakan fosil Kapal Nuh yang ribuan tahun lalu terdampar di puncak gunung itu, setelah banjir besar menenggelamkan dunia dalam peristiwa mencairnya gleser di kedua kutub” Jelas Yeung Wing.


Pendapat National Turk, Dr.Mehmet Salih Bayraktutan PhD, yang sejak 20 Juni 1987 turut meneliti dan mempopulerkan situs Kapal Nabi Nuh a.s., mengatakan, “Perahu ini adalah struktur yang dibuat oleh tangan manusia.” Dalam artikelnya juga mengatakan, lokasinya di Gunung Judi (Ararat) yang disebut dalam Al Qur’an, Surat Hud ayat 44. Sedangkan dalam injil: Perahu itu terdampar diatas Gunung Ararat (Genesis 8: 4).

Menurut penelitian The Noah’s Ark, kapal dibuat di puncak gunung oleh Nabi Nuh a.s., tak jauh dari desanya. Lalu berlayar ke antah beranta, saat dunia ditenggelamkan oleh banjir yang sangat besar. Berbulan-bulan kemudian, kapal Nabi Nuh a.s. merapat ke sebuah daratan asing. Ketika air sudah menjadi surut, maka tersibaklah bahwa mereka telah terdampar di puncak sebuah gunung. Bila fosil kayu kapal itu menunjukan berasal dari Kayu jati, dan sementara kayu jati itu hanya tumbuh di Indonesia pada jaman purba hingga saat ini, boleh jadi Nabi Nuh a.s. dan umatnya dahulu tinggal di Nusantara. Saat ini kita dapat menyaksikan dengan satelit, bahwa gugusan ribuan pulau itu (Nusantara), dahulu adalah merupakan daratan yang sangat luas.

Sedangkan Dr. Bill Shea, seorang antropolog, menemukan pecahan-pecahan tembikar sekitar 18 M dari situs kapal Nabi Nuh a.s. Tembikar ini memiliki ukiran-ukiran burung, ikan dan orang yang memegang palu dengan memakai hiasan kepala bertuliskan Nuh. Dia menjelaskan, pada jaman kuno, barang-barang tersebut dibuat oleh penduduk lokal di desa itu untuk dijual kepada para peziarah situs kapal. “Sejak jaman kuno hingga saat ini, fosil kapal tersebut telah menjadi lokasi wisata,” ujarnya.

Temuan jika sesungguhnya kapal Nuh dan saat rombongan Nabi Nuh a.s. berangkat itu dari Pulau Jawa memang sangat mengejutkan. Namun memang faktanya jika Nusantara menyimpan kegemilangan jejak masa lampau yang saat ini masih tertutupi kabut misteri yang sangat tebal. Semoga suatu waktu sejarawan Indonesia bisa menulis ulang sejarah Nusantara, bukan hanya membebek buku-buku sejarah karya kaum kolonialis yang tentu saja berkepentingan menggelapkan keaslian sejarah Indonesia. (rz)


Baca juga:

27.1.15

Danny Blum, Striker FC Nurenberg Menjadi Mualaf

Pemain sepakbola dari Jerman, Danny Blum terlihat sedang salat di masjid Belek, Turki. Dia terlihat khusyuk berdiri dalam rakaat salat dengan tangan bersidekap di dada. Tak lama kemudian, ia rukuk kemudian sujud. Di tahiyat akhir, ia pun berdoa setelah mengucap salam. Itulah yang dilakukan Blum setelah ia menjadi mualaf.

Danny Blum adalah pemain sepakbola asal Jerman yang bergabung dengan FC Nurenberg sebagai striker sejak Juli 2014. Beberapa minggu sebelumnya ada perubahan pada dirinya, ternyata ia menjadi mualaf.

Islam memberiku harapan dan kekuatan. Dengan salat, hati rasanya begitu tenang. Apalagi ketika kita sujud, rasanya seluruh puncak kebahagiaan ada di sana. Kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya tak ada harta apa pun di dunia ini yang bisa membelinya. Merendahkan diri pada Allah inilah yang membuat manusia derajatnya menjadi tinggi dan memunyai harga diri,” kata Blum.

Salat menjadikan hidup Blum tenang terutama di saat kenyataan tak sesuai harapan. Tak lama setelah bergabung dengan klub barunya, lututnya cedera. Ia pun harus beristirahat total selama enam bulan.

“Menjengkelkan sih, tapi dilihat segi positifnya saja. Hal inilah yang akhirnya membuatku tenang,” kata laki-laki berusia 24 tahun yang asli dari kota Frankenthaler.

“Saya dulu adalah sosok yang mudah marah, susah diatur dan seolah tak mengenal diri saya sendiri.”

Ketika sendirian di rumah, Blum merenung. Apakah semua ini nyata? Apakah yang selama ini telah ia lakukan selama hidup di dunia?
Hidup dalam kemewahan, setiap akhir pekan ada alarm pertanda waktu bersenang-senang, tak ada tanggung jawab yang berarti. Saya larut dalam kesenangan duniawi, perempuan, uang, mobil mewah, rumah mewah semua itu tak memberi kebahagiaan. Lalu dimana kebahagiaan itu berada? Apa yang saya cari selama ini? Lalu, setelah nanti berhenti main bola, apa yang harus kulakukan?
Blum pun berada pada satu kesimpulan: “Seumur hidup, saya belum melakukan sesuatu yang berharga.”

Ia pun berdiskusi tentang agama dengan teman-temannya, berusaha berpikir ulang tentang keyakinan yang selama ini ia pegang, dan akhirnya ia pun mendapat informasi tentang Islam dan di sinilah akhir pencariannya.
...Ternyata Islam adalah jawaban dari segala pencariannya selama ini. Ternyata hanya berserah diri pada Allah, hatinya menjadi tenang...
“Saya pun mendatangi masjid dan ada sesuatu yang bergetar di hati. Rasanya ini memang sesuatu yang saya cari dan saya ingin mengenalnya lebih jauh.”

Blum mencari tahu Islam dari buku, internet dan semakin yakin dengan jalan ini. Ternyata Islam adalah jawaban dari segala pencariannya selama ini. Ternyata hanya berserah diri pada Allah, hatinya menjadi tenang.

Sejak mengikrarkan syahadat, Blum mulai salat lima kali sehari. Makan hanya yang halal saja. Minuman beralkohol sudah dijauhinya.

“Sebelum masuk Islam, saya sempat takut. Bagaimana dengan reaksi teman-teman bila saya masuk Islam? Tetapi ternyata saya tetap bisa berteman dengan mereka dengan baik tanpa saling mengusik keyakinan masing-masing.”

Awalnya Blum tak berani memberitahu orang tuanya tentang keislamannya ini.

“Mereka penganut Kristen yang taat. Tetapi ketika mereka mengetahui bahwa saya telah menjadi Muslim, mereka mendukung apabila memang saya yakin bahwa jalan inilah yang saya yakini benar.”

Di lingkungan timnya, Blum tidak mendapat masalah mengenai keislamannya ini.

“Hingga saat ini, saya tidak pernah mendengar kata-kata buruk tentang saya. Bilapun misalnya ada, saya tak peduli. Tiap orang memunyai keyakinan masing-masing. Tak seorang pun bisa memaksakan keyakinannya pada orang lain.

Hal ini berlaku juga pada pacar Blum. Sayangnya, Blum masih belum memahami bahwa Islam tidak mengenal pacaran. Sehingga ketika ditanya tentang kekasihnya yang belum masuk Islam Blum menjawab, “Tidak masalah. Islam adalah agama damai. Kita tidak boleh memaksa seseorang untuk masuk agama Islam kecuali keinginan itu datang dari dirinya sendiri.”

Yah... semoga saja ke depannya Blum semakin paham Islam dengan baik sehingga pacarnya itu segera dinikahi atau putus dan menikah dengan muslimah yang akan menjadikan keislaman Blum makin baik, insya Allah. (riafariana/voa-islam.com)

Sumber: bild.de

Imigran Syiah di Bogor: Dunia Malam, "Nikah Mut’ah" dan Kriminal

Yanyan menjelaskan “kehidupan” para imigran banyak berlangsung di malam hari dan jarang shalat Jumat

MENONTON televisi, makan, pergi ke tempat hiburan malam nampaknya menjadi pemandangan sehari-hari para imigran Syiah asal Afghanistan di kawasan Puncak Bogor.

Mereka bahkan sanggup menempuh jarak kiloan meter dari kawasan pedalaman Cisarua untuk sampai di Jalan Raya Puncak, untuk membeli kebutuhan sehari-sehari.

Salah satu imigran Syiah Afghanistan di daerah Bogor adalah Ali Rezaei (26 tahun) megaku sudah dua tahun tinggal di Indonesia. Pria dengan potongan rambut bergaya mohawk dan bercelana pendek ini bahkan mengaku sangat kerasan tinggal di Bogor karena masyarakatnya terkenal ramah.

“Indonesia sangat bagus. Orang-orangnya ramah. Saya suka Cisarua, Bogor,” ujarnya sembari menenteng sejumlah belanjaan di tangannya.

Pria yang bisa bicara bahasa Inggris cukup fasi mengaku tak memiliki banyak kegiatan yang dilakukannya di Bogor. Setiap hari hanya tidur, makan, menonton TV, dan belanja.

Ali mengaku, bisa menjadi imigran di Indonesia atas bantuan lembaga PBB untuk para pengungsi alias UNHCR. Untuk kebutuhan sehari-hari, Ali mengaku mendapatkan kiriman uang dari keluarganya di Afghanistan. Ali juga mendapatkan biaya hidup dari UNHCR.

“UNHCR memberi saya makan dan tempat tinggal,” ujar imigran Syiah beretnis Hazara ini.

Saat ditanya apakah ada keinginan untuk kembali ke Afghanistan, Ali menegaskan keinginan itu hanya akan menjadi masalah bila terwujud. Karena itu, dalam waktu dekat, dirinya belum mau kembali ke Afghanistan.

“Itu masalah buat saya. Saya tidak mau kembali ke Afghanistan sekarang sebab masih ada Taliban. Itu masalah yang sangat besar di suku Hazara. Al-Qaidah tidak suka dengan Hazara,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan tiga orang imigran Syiah di Bogor yang lain; Muhammad Husein, Ahmad Husein, dan Haidri. Berbeda dengan Ali, Muhammad Husein dan kawan-kawan mengaku berasal dari Pakistan.

Saat ditemui, ketiganya langsung mengajak masuk ke sebuah warung kopi. Di situlah, mereka biasa “nongkrong” menghirup udara malam kawasan Puncak.

Kala itu Ahmad Husein langsung menaruh tasnya di atas meja, dan memesan kopi dengan bahasa Inggris dicampur Indonesia.

Bersama rekan-rekannya, Ahmad Husein mengaku sudah tinggal selama satu tahun di Bogor.

“Kami tidak bekerja karena tidak mendapat izin dari UNHCR,” ujarnya yang menolak untuk difoto.

Nikah Mut’ah

Muhammad Husein membantah jika imigran Syiah di Bogor meresahkan. Ia mengklaim para imigran Syiah sangat dekat dengan masyarakat.

“Muslim di Indonesia moderat. Orang Indonesia baik,” ujar Muhammad Husein. Dia mengaku tak risau hidup di Indonesia meski mayoritas berasal dari kaum Muslimin Ahlus sunah wal Jamaah.

Meski kelompok Syiah memiliki komunitas di Indonesia, Muhammad Husein menerangakan, tidak memiliki koneksi.

“Kami tidak kenal dan kami tidak menghubungi organisasi Syiah yang ada di Indonesia,” ujarnya yang langsung berseri-seri ketika kami tanyakan tentang Karbala.

Ketika ditanyakan perihal rumor praktik nikah nikah mut’ah yang banyak dilakukan para imigran Syiah, ketiganya terdiam sejenak.

Tak lama kemudian, Hussein menjawab, “Itu tidak benar.”

Tindakan Kriminal

Berbeda dengan pengakuan warga, para imigran diakuai warga biasa berkumpul di sebuah hotel berinisial HK di pinggir Jalan Raya Puncak.

Namun sayang, saat kami datangi lokasi keesokan harinya, para imigran menolak untuk diwawancara. Pihak warga di sekitar lokasi pun terlihat irit bicara saat kami mengorek informasi lebih jauh.

Beberapa wanita lokal di hotel tersebut langsung bersembunyi ke dalam ketika mengetahui kedatangan kami.

Tepat di samping hotel berinisial HK, kami juga menemui hotel berinisial HM. Di sana, tampak satu dua-perempuan berpakaian minim di tengah Puncak yang dikenal sebagai kawasan berhawa dingin.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Yanyan Hendayani, memiliki sejumlah data tentang tindakan kriminal para imigran.

“Ada banyak, seperti penipuan, uang palsu, perkelahian, baik dengan warga atau sesama imigran, termasuk pelecehan seksual,” ujarnya saat kami temui di kantor Kecamatan Cisarua.

Keresahan para warga, kata Yanyan, sebenarnya dipicu oleh para imigran sendiri. Seperti sikap enggan untuk berbaur karena merasa hanya menumpang transit.

“Apalagi adat dan budaya mereka berbeda,” ujar Yanyan yang menjelaskan “kehidupan” para imigran banyak berlangsung di malam hari.

Hal senada juga dikatakan warga setempat. Masyarakat mengaku resah dengan sikap para imigran karena dinilai tidak relijius. Padahal Bogor dikenal sebagai kabupaten dengan mayoritas Muslim.

“Saat Jum’atan, mereka gak shalat Jum’at,” ujar seorang warga yang ditemui di desa Batulayang.

Yanyan menjelaskan, rata-rata para imigran memegang surat sertifikat UNHCR. Namun tidak sedikit di antara mereka mengantongi surat yang habis masa berlakunya. “Ada juga yang datang tanpa surat-surat,” ujarnya saat ditemui Kecamatan Cisarua.

Yanyan menerangkan, para imigran di Kecamatan Cisarua tersebar di sejumlah daerah di Kabupaten Bogor di antaranya; Kopo, Cisarua, Batulayang, Cibeureum, Tugu Utara, Tugu Selatan, Citeko, dan Leuwimalang.

Bukan hal mudah bagi pihak kecamatan untuk mendata jumlah imigran. Setiap kali ada pendataan, para imigran menunjukkan sikap tidak senang.

Sedangkan ketika pihak kecamatan melakukan penyuluhan atau pemeriksaan, para imigran akan segera pindah untuk mencari tempat lain.

“(Mereka pindah) masih di sekitaran kita juga, cuma sudah beda tempat. Makanya, jumlah mereka ini fluktuatif,” ujarnya.

Yanyan mengaku, ada jurang komunikasi antara pihak UNHCR dengan pihak setempat. Kecamatan Cisarua sendiri tidak pernah dikabari UNHCR, terkait kedatangan maupun kepergian para imigran. “Kalaupun ada laporan datangnya ya dari pemilik kontrakan,” tukas Yanyan.

*/ Laporan Azeza Ibrahim Rizki dan Andi Ryansah wartawan JITU

23.1.15

Mahkamah Malaysia Larang Koran Katolik Gunakan Kata Allah

Pengadilan Federal kembali menegaskan bahwa pelarangan penggunaan kata 'Allah' bagi umat Kristen dan Katolik merupakan keputusan yang benar

Hidayatullah.com–Mahkamah Agung Malaysia menolak upaya banding Gereja Katolik terkait penggunaan kata ‘Allah’ pada surat kabar Katolik, the Herald. Putusan ini mengakhiri pertarungan hukum selama lima tahun tentang penggunaan kata ‘Allah’.Lima orang hakim secara bulat menjatuhkan putusan itu dengan dasar, tidak terjadi ketidakadilan prosedur dalam putusan sebelumnya, demikian kutip BBC.

Kasus mengenai penggunaan kata ‘Allah’ bermula ketika Kementerian Dalam Negeri Malaysia melarang surat kabar Katolik berbahasa Melayu, the Herald, menggunakan kata ‘Allah’ yang merujuk Tuhan pada 2007 silam.

Pada 2009, Pengadilan Tinggi memutuskan umat Kristen dan Katolik berhak menggunakan kata tersebut tatkala merujuk Tuhan.

Setelah keputusan diumumkan sejumlah kerusuhan berupa pembakaran dan vandalisme terhadap rumah ibadat kaum Kristen. Namun tak dilaporkan adanya korban jiwa atau luka.

Pada 2013, Pengadilan Rendah kembali mengubah putusan tersebut sehingga umat Kristen dan Katolik kembali tidak diperbolehkan menggunakan kata ‘Allah’.

Tahun lalu, Pengadilan Federal kembali menegaskan bahwa pelarangan penggunaan kata ‘Allah’ bagi umat Kristen dan Katolik merupakan keputusan yang benar.

Kata ‘Allah’

Kaum Kristen di Malaysia—juga di Indonesia—menggunakan kata ‘Allah’ untuk menggambarkan Tuhan.

Putusan Mahkamah hanya terkait penggunaan kata ‘Allah’ pada surat kabar the Herald dan tidak berlaku untuk kebaktian, misa, maupun Injil yang beredar di seantero negeri.

Para pemimpin gereja cemas bahwa putusan Mahkamah Agung bisa diikuti oleh pembatasan-pembatasan lain.

“Ini hanya permulaan,” kata Romo Lawrence Andrew, redaktur surat kabar the Herald yang memimpin perjuangan kaum Katolik Malaysia itu, seperti dikutip kantor berita AFP.

“Saya tak akan terkejut jika selanjutnya mereka akan (memberlakukan larangan lain) dan mengatakan ‘jangan menggunakan kata (Allah) itu dalam kebaktian-kebaktian kalian’.”

The Herald tak lagi menggunakan kata ‘Allah’ menyusul larangan pemerintah tahun 2007, yang memicu pertarungan hukum.*

21.1.15

Syuhada Bahri: Islam Indonesia-Malaysia Bersatu Lahirkan Kekuatan Besar

Jika umat Islam Indonesia dan Malaysia bisa bersatu, akan menghasilkan kekuatan besar dalam perkembangan Islam ke depan

Hidayatullah.com–Lazis Dewan Da’wah bekerjasama dengan Akademi Aidit dan INMIND Malaysia menggelar seminar Serumpun Melayu dengan tema “Sudah Islamikah Negeri Kita?”.

Seminar yang dilaksanakan hari Selasa (20/01/2015) ini dibuka oleh Ketua Umum Dewan Da’wah, Ustadz Syuhada Bahri dan dihadiri oleh para pengurus Dewan Da’wah, tokoh-tokoh umat serta para aktivis dakwah.

Seminar yang dilaksanakan di Auditorium Pegadaian Jakarta Pusat ini menghadirkan pembicara dari Indonesia dan Malaysia, yaitu Dr. Ahmad Zain Anajah (Ketua Majelis Fatwa Dewan Da’wah), M Ismail Yusanto (SEM Institute), Dato’ Aidit bin Ghazali (Akademi Aidit Malaysia), Prof. Dr. Syahrizal Abbas (Kepala Dinas Syariat Islam NAD), Sumunar Jati (Wakil Direktur LPPOM-MUI) dan Sepky Mardian, SEI, MM, SAS. (Peneliti SEBI Indonesia)

Dalam sambutan pembukanya, Syuhada Bahri mengingatkan bahwa dalam kehidupan yang semakin sekular dan liberal ini, kemajuan di bidang fisik material tercapai dengan baik. Tetapi seiring dengan itu, kemunduran secara signifikan terjadi di bidang mental spiritual.

“Kondisi ini menghasilkan manusia yang secara fisik terlihat bahagia tapi sebenarnya dia tidak bahagia. Kondisi ini, ujar beliau, hanya bisa dijawab dengan penerapan syariat islamiah dalam hidup dan kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, syariat islamiyah adalah sesuatu yang indah, ia datang dengan kedamaian, tidak dengan kekerasan, bukan hanya untuk umat Islam tapi juga untuk umat manusia secara umum.

Ia melanjutkan, kini perkembangan syariat islam di bidang ekonomi cukup menggembirakan. Meski demikian, ia mengingatkan umat jangan terlalu bergembira dahulu.

“Kita harus melihat apakah syariat islam yang diterapkan itu sudah sesuai dengan yang difahami Rasulullah dan para sahabatnya atau belum? Jika belum maka tugas kita lah untuk memperbaikinya.”

Ia juga mengapresiasi seminar serumpun ini, sebab dalam pandangannya, jika umat Islam Indonesia dan Malaysia bisa bersatu, maka akan menghasilkan kekuatan yang besar untuk perkembangan Islam ke depan.

“Karena itu banyak pihak yang tidak suka jika kita bersatu,” ujarnya. Karenanya beliau berpesan agar umat Islam di kedua negara jangan mudah terpancing oleh masalah yang muncul diantara kedua Negara, sebab pasti akan ada pihak-pihak yang tidak suka dengan persatuan itu terus mengusahakan perselisihan diantara kedua negara.*

17.1.15

Sutradara Perancis Masuk Islam Setelah Peristiwa "Charlie Hebdo"

Sutradara Perancis, Isabelle Matic mengumumkan dirinya masuk Islam di akun Facebook miliknya. Hal ini dilakukannya hanya beberapa hari setelah peristiwa penyerangan kantor Charlie Hebdo.

Hari ini, saya telah mengucapkan syahadat. Saya mengakui bahwa tidak tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Matic menulis kalimat ini di dinding Facebook-nya.

Pengumuman ini diikuti dengan beberapa postingan tentang ucapan terima kasihnya pada Hicham Bahloul, aktor Maroko yang telah memuat berita keislamannya di salah satu surat kabar Maroko.

Di postingannya yang lain, dia menjelaskan proses masuk Islamnya tersebut. Keputusan ini memengaruhi sikap dan pandangannya terhadap kebebasan berekpresi. Sayangnya, perempuan ini masih meyakini bahwa apa yang dilakukan Charlie Hebdo atas nama kebebasan berekspresi itu tidak salah.

Apakah saya masih mendukung kebebasan berekspresi yang dilakukan oleh Charlie Hebdo? Ya, tentu saja. Bahkan ada salah satu masjid yang mengirimi saya SMS menyatakan sependapat dengan saya sejak awal mula kartun itu dibuat, jauh sebelum saya masuk Islam,” katanya.

Isabelle Matic mengemukakan alasannya mengapa dia mendukung Charlie Hebdo dan tidak merasa marah sama sekali.

Charlie Hebdo kan hanya bercanda dan hal ini tidak menyakiti pribadi Muhammad. Mereka hanya bercanda tentang karakter yang dibayangkan bahwa itu adalah pribadi Muhammad, menggambarnya kemudian memberinya nama dengan Muhammad. Padahal jelas-jelas itu bukan Muhammad, nabi kita,” dia menulis penjelasan ini dalam akunnya.

Sebagai mualaf, Isabelle merujuk pada kehidupan Nabi Muhammad SAW ketika kaum kuffar menolak ajarannya.

Penduduk Mekah saat itu menertawakan Muhammad dan memanggilnya dengan ‘Modamam’. Muhammad hanya tersenyum. Kata Muhammad: mereka menertawakan Modamam dan bukan aku,” tulis Isabelle.

Berlaku bijak adalah jawaban dari perbuatan provokatif. Dan inilah yang diajarkan nabi kita. Dan ketika Charlie Hebdo menerbitkan kartun yang provokatif, tak usah dihiraukan. Jangan terpancing perbuatan provokatif mereka. Tak penting apa yang mereka lakukan itu,” tambah Isabelle.

See more at: http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2015/01/16/35066/sutradara-perancis-masuk-islam-setelah-peristiwa-charlie-hebdo/

The Economist: “Distorsi Terhadap Islam adalah Menyesatkan dan Berbahaya”

Mingguan The Economist menganggap bahwa mendistorsi citra Islam adalah cara yang salah dan merupakan perilaku berdarah Abad pertengahan yang saat ini beberapa kelompok mencoba untuk mengulanginya.

Majalah itu menambahkan, ”Pemikiran bahwa 'terorisme Islam' adalah satu-satunya musuh adalah hal yang menyesatkan dan berbahaya, dimana pada kenyataannya setiap kelompok memiliki latar belakang yang berbeda, sebagaimana orang-orang muslim di Eropa yang dating dari Negara yang berbeda-beda.”

The Economist menekan, “misalnya sebagian besar Muslim Perancis, dimana sebagian besarnya berasal dari Afrika Utara, sebagian mereka marah terhadap beberapa keputusan tentang pelarangan Burqa di tempat umum, sementara hal itu tidak terjadi di Negara lain seperti Inggris misalnya, ia menambahkan,” keyakinan bahwa Muslim adalah kelompok yang homogeny adalah pemikiran yang keliru, sebagian besar umat Islam tidak ekstremis, dan para imam masjid di Perancis selalu mengulang-ulang hal ini.”

Majalah ini menemukan bahwa serangan terhadap majalah Charlie Hebdo telah mengangkat dua isu besar, pertama, tentang kebebasan berekspresi, apakah ia harus memiliki batasan atau yang lainnya, kedua, Muslim Eropa, apakah salah satu dari bagian konflik budaya yang terjadi, dan apakah ia termasuk dalam konflik antara demokrasi barat dan Islam radikal di medan perang yang terjadi mulai dari Peshawar hingga ke jantung Paris. Majalah tersebut menambahkan,”dan jawaban yang selalu kami ulang-ulang adalah “Tidak”. (hr/Rassd)

Parlemen Xinjiang Haramkan Adzan, Sholat, Hijab dan Simbol Islam

Eramuslim.com – Parlemen Provinsi Xinjiang, China bagian barat telah mengeluarkan peraturan untuk melarang penggunaan burqa bagi perempuan di depan umum. Provinsi Xinjiang merupakan propinsi bagian barat RRC yang kaya sumber daya alam dan dihuni oleh warga kebangsaan Turki dan Muslim Uighur. Gelombang kedatangan etnis China Han, kelompok etnik dominan di negara itu yang ditengarai merupakan bagian dari Ras Yahudi dari Suku ke-13 yang hilang, selama beberapa dekade terakhir telah memicu ketegangan antaretnis. Namun pemerintah RRC malah menyalahkan kaum Muslimin di wilayah ini dan menindasnya dengan kejam.

Media setempat pemerintah melaporkan pada Agustus tahun lalu, kota lain di Xinjiang, Karamay, juga telah melarang orang memakai gaya pakaian Islam dan berjenggot besar untuk naik bus umum selama acara olahraga yang dilaksanakan di ibukota provinsi.

Pemkot Karamay menargetkan warga yang mengenakan kerudung, jenggot besar, serta tiga jenis gaun Islam, termasuk dengan simbol bintang dan bulan sabit. Puluhan stasiun bus di kota itu juga dijaga oleh petugas keamanan untuk melakukan pemeriksaan dan melaporkan pelanggar ke polisi.

Jika kasus Charlie Hebdo saja dunia Barat heboh, maka Barat selama ini hanya berdiam diri menonton bagaimana pemerintah China menindas HAM Muslim Uighur dengan melarang mereka untuk adzan, sholat, mengenakan simbol-simbol keislaman, dan sebagainya. Sebab itu, kaum Musliminin seharusnya tidak ikut-ikutan mengikuti gendang yang ditabuh Barat. Katakan dengan tegas: Je Suis Muslim! (rz)

16.1.15

Dunia Diam Ketika Jutaan Muslim Dibunuh

Eramuslim.com – Mehmet Gormez, ulama terkemuka Turki, mengatakan, selama ini dunia hanya diam saat terjadi pembunuhan terhadap jutaan orang Islam. “Dalam sepuluh tahun terakhir tak kurang dari 12 juta orang telah dibantai di Dunia Islam, namun dunia diam. Tapi di sisi lain, 12 orang yang katanya dibunuh secara brutal di Paris pekan lalu, dunia geger,” kata Gormez (14/1).

“Kematian seorang manusia adalah kematian bagi seluruh kemanusiaan. Tidak ada perbedaan dalam pembunuhan brutal, baik di Damaskus, Baghdad, atau Paris,” tegasnya.

Menurutnya, jika dunia tidak bereaksi terhadap semua pembunuhan dan pembantaian dengan cara yang sama tanpa memandang agama atau lokasi, maka seluruh umat manusia dan kemanusiaan akan hancur.

Sementara itu, Perdana Menteri Turki yang baru, Ahmet Davutoglu, mengatakan pada Selasa kemarin bahwa beberapa golongan tertentu di dunia secara bersama-sama berusaha menjatuhkan kesalahan kepada warga Turki dan Muslim di Eropa.

Dia merujuk tweet Rupert Murdoch yang berdarah Yahudi setelah serangan di Paris, yang berbunyi, “Mungkin sebagian besar Muslim damai, tetapi sampai mereka mengenali dan menghancurkan kanker jihad mereka, mereka yang harus bertanggung jawab.”

“Seperti yang kita lihat dalam sambutannya Murdoch, ketika seseorang membuat kesalahan, mereka bertindak seolah-olah semua Muslim dan warga Turki memainkan bagian dalam kesalahan itu,” lanjut Davutoglu.

PM Turki ini menyerukan kepada seluruh Muslim untuk tidak merasa sebagai tertuduh. “Anda harus berjalan dengan kepala terangkat tinggi. Anda tidak bersalah. Islam adalah bagian masyarakat Eropa. Jadi tidak mungkin lagi mengusir muslim dari Eropa seolah-olah mereka adalah pendatang sementara,” tambahnya. (rz, WB)


JAKARTA (voa-islam.com) - Di mana hati nurani mereka? Masihkah mereka memiliki hati nurani? Mengapa mereka tak pernah terbetik dan terganggu hati nurani mereka, saat jutaan Muslim meregang nyawa.

Setiap hari Muslim harus menghadapi kematian di tangan mereka yang sekarang meneriakkan solidaritas atas kematian wartawan dan kartunis Charlie Hebdo?

Masyarakat dunia mengutuk serangan atas media Charlie Hebdo yang sudah menghina Nabi Shallahu alaihi wassalam. Tapi siapa yang ikut berbaris di barisan paling depan, saat aksi ‘march’ di Paris, dan melakukan gerakan solidaritas atas Charlie Hebdo?

Mengapa mereka bisa bergandengan tangan dengan ‘Hitler’ abad ini, yaitu Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu? Siapa Benyamin Netanyahu? Ini benar-benar sangat absurd dan tidak masuk akal. Mereka yang masih mengaku beradab bisa bergandengan tangan dengan pembunuh biadab yang sudah membunuh puluhan ribu Muslim Palestina.

Para pemimpin dunia yang ikut dalam pawai di Paris, bergandengan tangan, mengumandangkan toleransi, kebebasan, persamaan, dan bahkan kemanusiaan. Ini benar-benar sebuah episode kemanufikan yang sangat telanjang.

Mereka tidak pernah toleran terhadap Muslim. Mereka tidak pernah memberi kebebasan terhadap Muslim. Mereka tidak pernah memberi persamaan terhadap Muslim. Mereka tidak memiliki sedikitpun rasa kemanusiaan terhadap Muslim. Barat kumpulan manusia yang tidak pernah toleran, memberi kebebasan, memberi persamaan, dan tidak memiliki rasa kemanusiaan terhadap Muslim.

Mestinya setiap warga Muslim yang sudah lahir di Eropa mendapatkan hak-hak dasar mereka. Apapun bentuknya. Di Eropa berlaku berbagai sikap dan kebijakan diskriminatif terhadap Muslim. Sampai terhadap hal-hal yang sangat mendasar, yaitu terkait dengan masalah keyakinan agama.

Muslimah di Eropa tidak dapat bebas melaksanakan hak-hak dasarnya, khususnya terhadap agamanya (al-Islam). Hampir semua negara Eropa, tidak membolehkan Muslimah menggunakan ‘niqab’ (cadar). Karena dianggap bertentangan dengan budaya mereka yagn sekuler.

Bukan hanya soal ‘niqab’, sampai menyangkut soal pekerjaan. Tetap saja Muslim yang sudah lahir di daratan Eropa, mereka mendapatkan perlakuan yang diskriminatif.

Eropa yang budayanya sudah menua dan uzur itu, sekarang ini mereka takut dengan Muslim yang tumbuh pesat didaratan Eropa. Padahal, kehancuran masyarakat Eropa, bukan karena serangan ‘teroris’, tapi kehancuran mereka karena factor budaya mereka sendiri.

Budaya materliasme yang sangat mengagungkan benda telah menyeret kehidupan mereka kepada atheisme. Eropa tanpa ‘Tuhan’. Agama Kristen sudah tidak lagi bisa memuaskan dahaga rohani mereka. Perlahan-lahan Eropa berubah menuju destruksi yang bersifat massal.

Mereka membuat mesin pembunuh sendiri, dan diratifikasi oleh parlemen mereka sendiri.

Parlemen negara-Parlemen Uni Eropa, diantaranya negara-negara besar, seperti Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Itali dan sejumlah negara lainnya, meratifikasi undangn-undang yang membolehkan perkawinan antar jenis. Inilah malapetaka bagi masa depan Uni Eropa. Bukan teroris Muslim.

Karena dampaknya dengan keputusan setiap negara Uni Eropa meratifikasi undang-undang perkawinan antar jenis itu, secara perlahan-lahan masyarakat Eropa akan punah secara alamiah. Sekarang sudah berdampak dengan stagnasi ekonomi Eropa, akibat populasi ‘manula’ jumlahnya sudah mencapai 65 persen. Orang Eropa yang berumur jumlahnya sudah mayoritas.

Maka tak perlu mereka membuat aksi solidaritas terhadap peristiwa serangan terhadap Charlie Hebdo. Karena secara alamiah masyarakat Eropa pasti akan punah dengan budaya materliasme yang mereka anut. Kebebasan yang mereka yakini sebagai ‘agama’ telah menjadi mesin pembunuh bagi kehidupan mereka.

Betapa mereka yang sudah hidup dengan dogma materialism itu, tak pernah tersentuh dengan kondisi yang dialami Muslim dunia Islam.

Di mana setiap hari Muslim mengerang menuju kematian akibat mesin pembunuh yang mereka ciptakan. Sekarang mereka gunakan membunuh di Suriah, Irak, Palestina, Afghanistan, Somalia, dan berbagai negara Muslim di dunia.

Maka, seorang ulama Turki dengan sangat jelas, memberikan pernyataan, bahwa dunia diam tentang pembunuhan jutaan Muslim di berbagai negara, ujar Mehmet Gormez, ulama Istambul, Selasa, 14/1/2015.

Budaya materliasme yang sudah menghunjam di setiap bathin penduduk Eropa, tidak pernah bisa merasakan penderitaan dan kenistapaan Muslim yang sekarang menjadi korban kejahatan mereka. Sungguh sangat luar biasa.

"Di satu sisi, sekitar 12 juta Muslim telah dibantai di dunia Islam dalam 10 tahun terakhir, dan di sisi lain, 12 orang dibunuh secara di Paris pekan lalu," kata Gormez.

“Kami melihat para pemimpin duniayang tidak berbicara tentang pembunuhan jutaan Muslim, saat mereka melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan hanya 12 orang”, tambahnya.

"Kematian manusia adalah kematian manusia," kata Gormez. "Tidak ada perbedaan dalam pembunuhan, baik di Damaskus, Baghdad atau Paris”, tegas Gomez.

Jika dunia tidak bereaksi terhadap semua pembunuhan dan pembantaian dengan cara yang sama, tanpa memandang agama atau negara, maka seluruh umat manusia akan hancur, tutup Gormez. Sungguh dunia akan hancur bersamaan materiliasme dan kebebasan yang tanpa arah. Wallahu’alam.

mashadi1211@gmail.com