19.12.14

Pak Presiden, Sakitnya Tuh di Sini..!

Oleh: Edy Mulyadi*

Sahabat SmartTeen...

"it was..."
Soekarno, Hatta, Ali Sostroamidjoyo adalah contoh pemimpin-pemimpin dengan penampilan parlente tetapi kebijakannya sangat nasionalis dan pro rakyat.”

Akhir pekan silam, kalimat ini beredar di sosial media. Sumber awalnya datang dari cuitan ekonom senior Rizal Ramli dalam akun twitternya @RamliRizal, Sabtu, 13/12. Kemudian celotehan itu pun menyebar secara massif. Beberapa nama di daftar kontak saya yang juga wartawan, segera dengan kreatif mengembangkannya menjadi berita.

Sejatinya, penampilan perlente para bapak pendiri bangsa itu bukanlah perkara asing buat sebagian besar kita. Lewat foto-foto dan ilustrasi yang ada pada buku-buku sejarah, murid-murid sekolah dasar (SD) saja sudah bisa tahu, bahwa para pemimpin itu memang tampil perlente, keren.

Buat kita, kaum dewasa yang nalarnya sudah semakin matang, penampilan Soekarno, Hatta, dan para tokoh tadi terasa makin berkelas. Bayangkan, mereka mengenakan jas dan pantolan lengkap dasinya ketika tarikh masih menunjukkan angka awal abad 20. Padahal, saat itu sebagian besar rakyat Indonesia masih bertelanjang dada dan celana pendek dengan bahan kasar yang amat sederhana.

Saya sering membayangkan bisa hadir pada saat Soekarno-Hatta dan para pemimpin pergerakan itu berkumpul dengan rakyat. Mereka berdiri gagah dengan setelan perlentenya, berpidato dengan suara menggelegar mengobarkan semangat rakyat untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Wuih… tentu keren sekali!

Kedahsyatan para pemimpin negeri itu tidak berhenti pada kemampuan mengolah kata, rima, jeda, dan suara. Mereka mewujudkan keberpihakan kepada rakyat dalam pidato-pidato itu melalui serangkaian kebijakan. Singkat kata, mereka tidak omdo alias omong doang. Dan di atas segala-segalanya, mereka tidak menipu rakyat dengan jargon-jargon kerakyatan. Saat berkuasa, kebijakan yang mereka lahirkan benar-benar sangat mengedepankan kepentingan rakyat.

"duh..."
Tipuan itu Bernama ‘Merakyat’

Tiba-tiba saja Rizal Ramli mengingatkan saya, kita, publik, dan rakyat Indonesia tentang fenomena Joko Widodo. Lelaki dari Solo itu memang layak disebut fenomenal. Belum tuntas menyelesaikan masa bakti keduanya sebagai Walikota Solo, pria kerempeng itu loncat mengadu peruntungan untuk merebut jabatan Gubernur DKI Jakarta. Takdir pun menentukan kemenangan baginya.

Berduet dengan Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa Ahok, suami dari Iriani itu pun memimpin Jakarta. Lalu, ‘penyakit’nya lamanya kembali kumat. Belum dua tahun, Jokowi maju sebagai Capres periode 2014-2019. Dan, lagi-lagi takdir berpihak kepadanya. Jabatan Presiden pun disandangnya.

Modal utama Jokowi dalam memenangi serenceng jabatan publik tadi adalah penampilan kesederhanannya. Banyak kalangan bahkan beranggapan Jokowi bertampang ndeso alias kampungan. Anak-anak baru gede (ABG) bahkan menyebutnya culun.

Tampang ndeso, hobi blusukan, dan bicara ceplas-ceplos yang jauh dari kesan intelek, membuat Jokowi diganjar gelar merakyat. Para pendukungnya menyematkan tagline “pemimpin rakyat lahir dari rakyat’. Ditambah dengan poster berbagai ukuran yang menampilkan Jokowi dengan pakaian ‘kebesarannya’ --baju putih dan celana hitam-- membuat pria ini semakin kental saja nuansa merakyatnya.

Apalagi, poster itu juga memberi keterangan harga pakaian baju putih, celana panjang, sepatu, dan tanpa jam tangan yang dikenakannya. Harga semua itu murah-meriah. Harga rakyat! Maka, sempurnalah Jokowi sebagai pemimpin yang merakyat. Pemimpin yang mengerti betul penderitaan rakyatnya. Pemimpin yang akan membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat di atas segalanya.

Menyengsarakan Rakyat

Namun, perjalanan sejarah Jokowi ternyata justru menunjukkan sebaliknya. Belum genap sebulan menjadi presiden, dia telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Padahal, premium menjadi konsumsi rakyat kelas menengah-bawah. Dan, ironisnya, penaikan harga BBM itu justru dilakukan saat harga minyak mentah dunia terus terjun ke bawah.

Di sisi lain, BBM jenis Pertamax dan Pertamax Plus yang jadi kebutuhan kalangan atas sama sekali tidak dinaikkan harganya. Mungkin orang akan berkata, harga Pertamax dan Pertamax Plus sudah sesuai dengan harga keekonomian. Jadi, harganya sudah sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Sedangkan premium selama ini masih disubsidi.

Ini adalah penjelasan sesat dan menyesatkan. Rizal Ramli yang juga Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu berkali-kali menyatakan, tidak ada subsidi untuk BBM. Sesungguhnya yang dimaksud “subsidi” di sini adalah subsidi untuk mafia migas, subsidi untuk inefisiensi, dan subsidi untuk salah urus. Tapi semua beban akibat kesalahan pemerintah itu ditimpakan kepada rakyat.

Rizal Ramli berpendapat, kalau Jokowi memang benar-benar berpihak kepada rakyat dan perlu uang untuk menyelamatkan APBN, bisa dilakukan dengan menaikkan pajak Pertamax dan Pertamax Plus. Dari sini negara memperoleh pendapatan tambahan dari pajak. Dan yang tidak kalah pentingnya, ada nuansa keadilan, bahwa bukan hanya rakyat kelas menengah-bawah yang lagi-lagi dihajar kebijakan salah kaprah pemerintah.

Mantan Menko Ekoin dan Kepala Bappenas Kwik Kian Gie bahkan terang-terangan menyatakan pemerintah telah melakukan pembohongan publik terkait subsidi BBM. Yang terjadi sesungguhnya, menurut Kwik, justru pemerintah menegruk keuntungan dari tiap liter BBM yang dijual, meskin pada harga Rp4.500. Untuk lengkapnya, silakan klik www.kwikkiangie.com.

Lalu, berbagai kebijakan yang intinya menaikkan harga bermacam kebutuhan rakyat kecil pun susul-menyusul lahir dari tangan pria yang kadung dilabeli ‘pemimpin merakyat’ itu.

Penghapusan beras untuk rakyat miskin (Raskin), menaikkan harga LPG 3 kg, menaikkan tarif kereta api kelas sampai 400%, menaikan tarif dasar listrik (TDL) 1300 Watt, dan lainnya. Semuanya seperti berebut untuk makin menyengsarakan rakyat. Duh…

Melihat fakta seperti itu, menjadi wajar bila Rizal Ramli bertanya, “Kok yang dihajar rakyat menengah bawah? Mas Jokowi, apa ini yang dimaksud dengan perubahan? Kok, tega amat?"

Masih dalam cuitannya, Rizal Ramli kembali bertanya, “Lebih penting mana penampilan fisik yang merakyat atau kebijakan ekonomi yang berpihak untuk rakyat? Menyakitkan jika hanya penampilan merakyat, tetapi kebijakan tidak berpihak pada mayoritas rakyat. Pemimpin jika hanya dikelilingi pedagang, apalagi KKN pula, kebijakannya hanya pro-bisnis, investors dan bond holders, lupa dengan rakyat yang memilihnya.”

Pak Presiden, berbagai kebijakan Anda yang menyengsarakan rakyat itu benar-benar sangat menyakitkan. Sakitnya tuh di sini…

*Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

edymulyadilagi@gmail.com
http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2014/12/17/34536/pak-presiden-sakitnya-tuh-di-sini/



►Karena ini bukanlah aib!

Arsip: Jejak kejahilan JKw yang luput dari perhatian, terabaikan dan “wajib diluruskan!”

Someone said: "Ancuur negara ini..."

18.12.14

Astaghfirullah, Ternyata ini Kisah di Balik Bencana Tanah Longsor Dusun Jemblung Banjarnegara


BANJARNEGARA (Panjimas.com) – Jelang akhir tahun 2014 tepatnya pada hari Jum'at 12 Desember 2014, Indonesia kembali berduka. Musibah tanah longsor Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah menelan lebih dari 100 korban jiwa.

Dari 108 korban yang hilang tertimbun longsor, baru sekitar 39 orang yang berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini mengapa kembali dirundung bencana?

Romi, salah seorang relawan kemanusiaan dari LSM Emergency and Crisis Response (ECR) yang turut melakukan evakuasi korban di lokasi bencana, menyingkap kisah di balik musibah besar tersebut.

Menurutnya, berdasarkan informasi dari warga sekitar, di desa tersebut begitu merajalela kemaksiatan dan kemusyirkan.

Ya kalau menurut warga sekitar, di sana terkenal dengan klenik dan judi sabung ayam, malah akhir-akhir ini juga marak berdiri karaoke. Jadi tempat itu sudah terkenal dengan kondisi seperti itu,” kata Romi kepada Panjimas.com, Senin (15/12/2014).

Ya kalau menurut warga sekitar, di sana terkenal dengan klenik dan judi sabung ayam, malah akhir-akhir ini juga marak berdiri karaoke. Jadi tempat itu sudah terkenal dengan kondisi seperti itu

Apa yang disampaikan romi, sepertinya begitu jelas tersebukti dengan realita di lapangan. Lihat saja dalam berita yang beredar kemarin, warga memperebutkan air dalam ember, yang sebelumnya digunakan Jokowi untuk mencuci tangan dan kaki, serta membersihkan lumpur yang melekat di sepatunya.

Mereka ngalap berkah dengan membasuh muka dari air sisa cuci tangan Jokowi. Padahal ngalap berkah dari mahluk merupakan bentuk Syirik Akbar dalam Islam.

“Buat barokah. Ini kan tadi sudah dipakai Presiden. Siapa tahu nasib berubah,” ujar salah seorang warga, yang tampak kuyup kepala dan badannya.

Warga lainnya, Parno, mengaku ingin meniru Jokowi, dengan turun membasuh kakinya.

“Biar berkah dan banyak rezeki. Tadi saya tidak cuma basuh muka, tapi tangan dan kaki juga,” kata Parno seperti dilansir Viva, Ahad (14/12/2014).

Subhanallah, Sering Digunakan untuk Pengajian
Rumah ini Satu-satunya yang Selamat dari Bencana Tanah Longsor
Selain itu, Romi juga menambahkan, bahwa dari cerita salah seorang warga yang selamat dalam bencana itu, kejadian longsor di Dusun Jemblung yang terjadi menjelang Maghrib itu, tak seperti lazimnya bencana tanah longsor.

“Kesaksian warga, ada korban yang selamat itu katanya tanah yang longsor itu seperti di-mixer, kayak seperti bukan tanah longsor biasanya,” imbuhnya. [AW]

17.12.14

Dr. Daud Rasyid: Di Malaysia Tak Ada Ucapan Natal

Tahun Baru itu satu paket dengan Natal, sama-sama tidak boleh diikuti oleh umat Islam

Hidayatullah.com–Pakar hadits lulusan Universitas Al Azhar, Kairo Mesir, Dr Daud Rasyid mengatakan, Indonesia tidak seperti di Malaysia jika sudah masuk perayaan Natal.

Di Malaysia tidak ada ucapan-ucapan seperti di Indonesia, padahal di sana perbandingannya sekitar 60-40 % antaranya Muslim dan yang bukan Muslim. Tetapi di Indonesia, perbandingannya sekitar 80-20% tapi lihat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah seperti Singapura, pernak-pernik Natal di mana-mana,” ujarnya Dr. Daud Rasyid hari Ahad (14/12/2014) dalam Pengajian Politik Islam (PPI) di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Pusat.

Lebih jauh, ia mangajak pejabat lebih berhati-hati urusan akidah.

Hati-hati terhadap pemikiran Pluralisme yang menganggap semua agama itu sama, bisa masuk dalam kekafiran.”

Menurutnya, soal toleransi itu babnya muamalah tapi kalau sudah akidah tidak bisa karena semua ajaran di luar Islam itu batil.

Apakah gara-gara toleransi kita mengucapkan dan merayakan Natal? Ini sudah masuk wilayah akidah bukan muamalah sehingga kita tidak boleh mengucapkan selamat Natal, ikut perayaannya dan ikut-ikutan dalam perayaan Tahun Baru.

Tahun Baru itu satu paket dengan Natal, sama-sama tidak boleh diikuti oleh umat Islam. lihat saja di spanduk-spanduk, ucapannya satu paket antara Selamat Natal dan Tahun Baru,” ujarnya.*/Abu Fatih

Tiga Manfaat Utama Membiasakan Dzikir kepada Allah

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya"

"Dzikir kepada allah Ta’ala adalah ibadah terbesar dibandingkan ibadah lainnya,” demikian kata Ibn Abbas r.a.

MENJELASKAN hal ini, Imam Ghazali dalam kitabnya “Dzikurllah” menulis, “Jika Anda bertanya, kenapa dzikir kepada Allah yang dikerjakan secara samar oleh lisan dan tanpa memerlukan tenaga yang besar menjadi lebih utama dan lebih bermanfaat dibandingkan dengan sejumlah ibadah yang dalam pelaksanaannya banyak mengandung kesulitan?

Imam Ghazali menjelaskan bahwa dzikir mengharuskan adanya rasa suka dan cinta kepada Allah Ta’ala. Maka tidak akan ada yang mengamalkannya kecuali jiwa yang dipenuhi rasa suka, dan cinta untuk selalu mengingat dan kembali kepada-Nya.

Orang yang mencintai sesuatu akan banyak mengingatnya, dan orang yang banyak mengingat sesuatu (meskipun pada mulanya ini adalah bentu pembebanan) pasti akan mencintainya. Begitu halnya dengan orang yang berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Apabila seorang Muslim sampai pada derajat suka berdikir, maka ia tidak akan melakukan erbuatan lain selain dzikir kepada Allah Ta’ala. Sesuatu yang selain Allah adalah sesuatu yang pasti meninggalkannya saat kematian menjemput. Nah, di sinilah urgensi mengapa setiap jiwa sangat membutuhkan amalan dzikir.

Dengan demikian, apa saja manfaat utama dari amalan yang sampai dibahas secara khusus oleh Imam Ghazali ini?

Pertama, kebahagiaan setelah kematian

Ketika seorang Muslim meninggal dunia, maka harta, istri, anak, dan kekuasaan akan meninggalkannya. Ya, tidak ada lagi yang bersamanya selain dzikir kepada Allah Ta’ala. Saat itulah, amalan dzikir akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi diirnya.

Imam Ghazali memberikan ilustrasi menarik akan hal ini. “Ada orang bertanya, ‘Ia sudah lenyap, lalu bagaimana perbuatan dzikir kepada Allah masih tetap kekal bersamanya?

Imam Ghazali pun menjelaskan, “Sebenarnya ia tidak benar-benar lenyap, yang juga melenyapkan amalan dzikir. Ia hanya lenyap dari dunia dan alam syahadah, bukan dari alam malakut. Hal ini tertera dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 169-170.”

Kedua, senantiasa diingat oleh Allah Ta’ala

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman;

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu" (QS Al-Baqarah [2]: 152).

Tsabit Al-Banani berkata, “Saya tahu kapan Allah mengingatku.” Orang-orang pun merasa khawatir dengan ucapannya sehingga mereka pun bertanya, “Bagaimana kamu mengetahuinya?” Tsabit menjawab, “Saat aku mengingat-Nya, maka Dia mengingatku.”

Dalam Hadits Qudsi juga disebutkan, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku akan bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena Aku.” (HR Baihaqi & Hakim).

Subhanallah, bagaimana kalau Allah yang mengingat diri kita yang dhoif. Bayangkan saja, seorang kepala desa akan sangat senang jika dirinya senantiasa diingat oleh gubernur atau presiden. Bagaimana kalau yang mengingat kita adalah Allah Ta’ala, Rabbul ‘Alamin!

Pantas jika kemudian sahabat Nabi Shallallahu alayhi wasallam, Muadz bin Jabal berkata, “Tidak ada yang disesali oleh penghuni surga selain waktu yang mereka lewatkan tanpa berdzikir kepada Allah Ta’ala.”

Ketiga, diliputi kebaikan demi kebaikan

Seorang Muslim yang senantiasa berdzikir akan senantiasa mendapatkan kebaikan demi kebaikan.

Rasulullah bersabda, “Tiada suatu kaum yang duduk sambil berdzikir kepada Allah melainkan mereka akan dikelilingi oleh malaikat, diselimuti oleh rahmat dan Allah akan mengingat mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR Bukhari).

Sementara itu hadits yang lain menyebutkan, “Tiada suatu kaum yang berkumpul sambil mengingat Allah dimana dengan perbuatan itu mereka tidak menginginkan apa pun selain diri-Nya, melainkan penghuni langit akan berseru kepada mereka, ‘Bangkitlah, kalian telah diampuni. Keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan-kebaikan’.” (HR Ahmad).

Oleh karena itu, sangat luar biasa kasih sayang Allah kepada umat Islam. Manfaat dzikir yang sedemikian luar biasa bagi kehidupan dunia-akhirat kita senantiasa Allah ulang-ulang di dalam kitab-Nya agar kita terus menerus mengamalkannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya!” (QS Al-Ahzab [33]: 41).

Bahkan saat kita usai sholat pun, Allah tekankan agar kita terus berdzikir kepada-Nya.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring” (QS An-Nisa [4]: 103).

Dengan demikian, mari kita upayakan agar muncul rasa suka dan cinta untuk senantiasa berdzikir kepada-Nya. Karena amalan ini sangat mudah diamalkan dengan manfaat yang sangat luar biasa. Tidak saja menjamin kebaikan di dunia, tetapi juga memastikan kebaikan di akhirat. Semoga Allah anugerahi kita hati yang senantiasa suka, cinta dan rindu untuk selalu berdzikir kepada-Nya. Wallahu a’lam.*

16.12.14

Program Air Gratis Sumur Utsman

Bila Yahudi menjual air, kita tidak ikut-ikutan menjual air –tetapi menggratiskannya!

Oleh: Muhaimin Iqbal

BAHWASANNYA air dijual – belikan itu sudah dilakukan oleh Yahudi sejak jaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan bahkan juga sebelumnya. Kaum Muhajirin yang terbiasa memperoleh air gratis dari air Zam-Zam di Makkah, menjadi tambah berat beban hidupnya ketika air-pun harus dibelinya setiba mereka hijrah ke Madinah. Tetapi ini tidak berlangsung lama karena setelah itu air bisa digratiskan kembali, bagaimana caranya? tidakkah kita ingin belajar untuk menggratiskan air ini?

Ketika prihatin umatnya harus membeli air, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi penawaran yang sangat menarik kepada siapa saja yang bisa mengatasinya. Sabda beliau: “Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapatkan surgaNya Allah Ta’ala.” (HR Muslim)

Maka Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu-lah orangnya yang selain memiliki kemampuan juga terkenal akan kedermawannya –yang mengambil peluang itu. Didatanginya Yahudi pemilik sumur satu-satunya yaitu sumur Raumah, dinegosiasikan untuk dibeli dengan susah payah– akhirnya setuju untuk dibeli hanya separuh sumur. Sehari untuk Utsman dan hari berikutnya untuk si Yahudi, begitu seterusnya.

Namun ketika tiba giliran hak Ustman untuk mengambil air di sumur tersebut, diinfaqkan untuk kaum muslimin di Madinah –agar mereka mengambil air hingga cukup untuk dua hari. Begitu seterusnya sampai si Yahudi kehilangan pasarnya – karena kebutuhan air kaum muslimin tercukupi dari hari-hari mengambil air haknya Utsman. Akhirnya sumur Raumah tersebut dijual sepenuhnya oleh si Yahudi ke Utsman– yang menjadi waqf Utsman hingga kini.

Waqf Utsman tersebut menumbuhkan pohon kurma di sekitarnya dan terus bertambah, waqf ini kemudian selalu dipelihara oleh pemerintahan Islam dan kini oleh pemerintah Arab Saudi. Hingga sekarang ada hotel yang dibangun dari waqf Utsman ini dan bahkan ada rekening bank yang dipakai untuk menampung hasil-hasil dari waqf tersebut yang masih diatas-namakan Utsman bi Affan.

Cerita waqf sumurnya Utsman tersebut lengkapnya sangat indah, tetapi kebanyakan kita berhenti sampai mengaguminya. Kita belum bergerak lebih lanjut apa makna dari cerita tersebut, perintah apa yang tersembunyi di dalam kisahnya? Strategi apa yang hendak diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada umatnya melalui tawarannya di hadits tersebut di atas?

Bukankan kita sekarang juga harus membeli air? bukankah sekarang yang memperdagangkannya mayoritasnya juga Yahudi baik in person maupun in sistem? Bukankah perintah Nabi semua harus kita ikuti dan semua larangannya harus kita jauhi?

وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

...Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah…” (QS al-Hasyr [59]:7)

Bagaimana kalau kita pahami tawaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut diatas juga untuk kita jaman ini, untuk membeli sumur-sumur yang dikuasai Yahudi di seluruh dunia kemudian me-waqfkan-nya untuk umat? Tentu akan ideal sekali apabila ini bisa kita lakukan.

Tetapi siapa yang mampu melakukannya kini? Umat Islam yang kaya dan mampu membeli sumur atau mata air malah ikut-ikutan menjual air. Maka disinilah pelajaran yang sesungguhnya –bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk, penjelasan dari petunjuk-petunjuk itu dan pembeda! (QS 2:185).

Bila kita mengikuti apa saja langkah mereka, mereka buat bank –kita ikut buat bank, mereka buat pasar –kita ikut buat pasar, mereka jual air –kita ikut jual air –tetapi tanpa pembeda yang jelas antara yang mereka lakukan dan yang kita lakukan– maka umat ini tidak bisa unggul dengan mengikuti cara-cara mereka ini, bahkan sebaliknya ikut masuk lubang biawak sebagaimana hadits dari Abu Sa’id (al-Khudry) bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara/metode) orang-orang sebelum kamu, sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka memasuki lubang masuk ‘Dlobb’ (binatang khusus padang sahara, sejenis biawak-red), niscaya kalian akan mengikutinya pula”. Kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (mereka itu) orang-orang Yahudi dan Nashrani?”. Beliau bersabda: “Siapa lagi (kalau bukan mereka-terj.).” (HR Bukhari)

Jadi harus ada pembeda yang jelas antara yang Yahudi lakukan dengan yang harus kita lakukan. Kisah sumur Utsman tersebut memberi contoh nyata bagaimana pembeda ini bekerja secara riil di lapangan. Bila Yahudi menjual air, kita tidak ikut-ikutan menjual air –tetapi menggratiskannya! Bila ini bisa kita lakukan –pasti Yahudi akan terusir dari pasar air ini.

Tetapi sekarang kita belum punya uang sabanyak yang dimiliki Utsman untuk membeli kembali sumur-sumur yang dikuasai sistem Yahudi di seluruh dunia, lantas apa yang bisa kita lakukan?

Kita mungkin belum bisa membeli sumur-sumur tersebut, tetapi untuk menggratiskan air bersih di seluruh dunia –insyaAllah ada jalannya yang terang benderang.

Kita diberi tahu oleh Allah bahwa air yang sangat bersih itu adalah air hujan.

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

...Dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih” (QS 25:48), dan bukan hanya sangat bersih, tetapi juga membawa berkah: “Dan dari langit kami turunkan air yang memberi berkah…” (QS 50:9).

Tetapi air yang sangat bersih dan membawa berkah tersebut hingga kini lebih banyak yang kita sia-siakan, tertampung di kolam-kolam kotor, diusir ke laut –bahkan sebelum sempat turun ke bumi, atau malah dipersepsikan sebagai pembawa bencana banjir dan tanah longsor.

Maka dari sinilah kita bisa memulainya, yaitu mempersepsikan air sebagaimana Allah gambarkan bahwa itulah air yang sangat bersih dan air yang membawa keberkahan. Bahwasanya dia terlanjur jatuh ke tanah dan belum sempat kita tampung, mengalir di sungai-sungai sehingga terkesan kotor –tinggal kita cari jalan untuk membersihkannya kembali.

Dalam tulisan saya sebelumnya (12/12/14), saya berikan salah satu contoh menjernihkan air dengan cara yang mudah dan murah yaitu menggunakan biji kelor baik secara langsung maupun biji yang sudah diambil minyaknya –keduanya bisa digunakan dengan sama baiknya.

Nah melalui pembersih air biji kelor inilah insyaAllah kita bersama-sama bisa membuat program air bersih gratis bagi masyarakat luas.

Bagaimana caranya?

Pertama kita mengadakan gerakan menanam kelor banyak-banyak –bibit berupa stek pohon dan biji Alhamdulillah sudah mulai terkumpul dan mulai kita tanam. Gerakan yang sama bisa diikuti masyarakat luas karena keberadaan kelor ini menyebar dan mudah sekali menanamnya.

Bila nantinya buah kelor tersebut berbuah dan mulai ekonomis dikumpulkan, maka masyarakat bisa langsung mengumpulkannya –atau menggunakannya untuk membersihkan airnya masing-masing, dengan cara seperti dalam tulisan saya tersebut di atas.

Biji kelor yang tidak dimanfaatkan masyarakt setempat, bisa dikumpulkan secara berjenjang dan dibeli dengan harga yang wajar – agar ada insentif untuk mengumpulkan dan mengirimkannya.

Biji kelor yang terkumpul banyak dari masyarakat tersebut insyaAllah dalam waktu dekat sudah bisa kita beli dan kita proses menjadi minyak. Minyaknya yang dikenal sebagai ben oil kita jual dan dia minyak trebaik nomor dua setelah minyak zaitun –harganya masih tinggi hingga sekarang.

Hasil penjualan minyak ini insyaAllah akan cukup untuk mengongkosi seluruh kegiatan pengumpulan biji kelor tadi, hingga memprosesnya dan menjualnya sebagai minyak. Produk samping dari pembuatan minyak ini akan berupa chip atau pellet dari biji kelor –yang tidak berkurang kapasitasnya untuk menjernihkan air – karena hanya diambil minyak/lemaknya , sedangkan zat-zat yang lain terbawa di tepung biji kelor yang sudah berupa chip atau pellet tersebut.

Karena operasi minyak akan menghasilkan dana yang insyaAllah cukup, maka operasi chip atau pellet sebagai penjernih air bisa dibuat gratis untuk mesyarakat luas. Bahkan keuntungan dari operasi minyak –sebagian ataupun seluruhnya– akan dapat dipakai untuk mengepak, mengirim dan mendistribusikan penjernih air gratis tersebut sampai tempat-tempat jauh yang membutuhkannya, sampai saudara-saudara kita di luar negeri yang jauh sekalipun bila perlu!

Apa dampaknya bila ini kita lakukan? Masyarakat luas tidak perlu lagi membeli air. Dengan penjernih air gratis, mereka bisa mengolah sendiri air-air yang ada di sekitar mereka yang selama ini tidak bisa mereka minum – menjadi air minum yang aman – karena selain menjernihkan air, biji kelor juga membunuh 90-99 % bakteri yang ada di dalam air yang semula kotor tersebut.

Setelah mayoritas orang tidak membeli air – insyaAllah cerita Utsman tersebut akan berulang, (Sistem) Yahudi-Yahudi akan kehilangan pasar airnya dan akan mulai melepas kepemilikannya atas sumur-sumur atau mata air-mata air yang ada. Saat itulah umat ini bisa membelinya rame-rame untuk kemudian juga digratiskan untuk seluruh umat.

Konsep ‘gratis’ inilah yang bisa melawan (sistem) Yahudi di hampir seluruh bidang kehidupan – sehingga Yathrib yang didominasi Yahudi pasarnya, produknya dan sumber-sumber kapitalnya – bisa berubah sepenuhnya menjadi dalam penguasaan Islam dalam perode kurang dari 10 tahun ketika Yathrib telah berubah menjadi Madinah.

Lebih jauh coba kita perhatikan pendekatan air gratis dari sumur Utsman tersebut dengan prinsip-prinsip ekonomi secara keseluruhan yang diatur di Islam.

Dalam hal capital misalnya, Sistem Yahudi menjual capital it dengan harga mahal – yaitu dengan riba. Dalam Islam capital itu gratis, kalau dipinjamkan tidak boleh ada tambahan. Kalau dikerjasamakan – dia berbagi hasil dan juga berbagi kerugian (profit and loss sharing).

Pasar-pun demikian, bila dalam sistem Yahudi pasar itu dijual mahal , dalam sistem Islam pasar itu harus terbuka dan bisa diakses oleh seluruh umat dan bahkan tidak diperkenankan ada biaya-biaya atasnya –falaa yuntaqashanna, walaa yudrabanna.

Lantas dari mana pendapatan kita kalau semua-semuanya gratis? Allah Maha Kuasa dalam memberikan rezeki kepada hambaNya. Utsman yang menggratiskan air dari sumurnya tersebut di atas – terbukti dalam beberapa tahun kemudian menjadi orang yang paling banyak sedekahnya pada saat umat Islam menempuh perjalanan perang yang mahal yang menuntut banyak sekali perbekalan – yaitu perang Tabuk.

Pada perang tersebut Utsman bisa memberi bekal untuk 1/3 pasukan, 950 unta, 50 kuda dan 1,000 Dinar. Artinya tindakannya untuk membeli sumur Yahudi dan kemudian men-infaqkan seluruhnya untuk umat, tidak mengurangi sedikitp un kemampuannya untuk men-generate harta yang lain.

Jadi siapa yang mau ikut untuk menjadi aktivis (menyumbangkan tenaga) dan para sponsor (menyumbangkan dana) untuk program air bersih gratis ini? InsyaAllah kita akan membuat event-nya untuk vision sharing-nya dalam waktu dekat. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

14.12.14

Atlas Walisongo (Sejarah Islam "Nahdliyin" di Indonesia)

Atlas Walisongo
Sejarah Islam "Nahdliyin" di Indonesia
http://www.goodreads.com/book/show/17788789-atlas-wali-songo



► Focus: 00:08:40 s/d 01:20:00 (Pembicara/Penulis Buku "Atlas Walisongo" Agus Sunyoto)

13.12.14

Benarkah Kristen Masuk Indonesia pada Abad VII?

Banyak argumentasi yang dikembangkan untuk mendukung gagasan bahwa kedatangan Katolik di Indonesia dimulai pada abad VII. Faktanya tidak.

Oleh: Susiyanto

Gereja Blenduk yang terletak di kawasan Kota Lama
merupakan Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah.
Dibangun pada tahun 1753.
ATRIBUT yang tersemat sebagai “agama penjajah” terhadap agama Kristen nampaknya masih menjadi aib besar bagi karya misi penginjilan di Indonesia.

Kenyataan ini membuat berbagai pihak Kristen, termasuk Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), merasakannya sebagai beban sejarah. Tidak heran jika pada masa kini sejumlah akademisi Kristen di Indonesia berupaya untuk merekonstruksi sebuah versi sejarah yang ramah terhadap eksistensinya. Diantaranya dengan mencetuskan teori bahwa Kekristenan “sebenarnya” telah tiba di Indonesia lebih awal dari era imperialisme dan kolonialisme Barat. Dengan demikian kedatangan Kristiani yang bersamaan dengan masa penjajahan bangsa Eropa hanya akan diposisikan sebagai “merebut kelupaan masa silam” saja.[ Lihat tulisan Y. Bakker, SJ, Umat Katolik Perintis di Indonesia, dalam Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Jilid I (Arnoldus Ende, Flores, 1974) hlm. 38]

Dr. Huub J.W.M. Boelaars, OFM Cap., seorang pastor, dalam bukunya “Indonesianisasi Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia” menyatakan bahwa Agama Kristen, dalam hal ini Katolik, tiba di Indonesia lebih awal dari agama Islam.

Boelaars memperkirakan Katolik telah hadir pada abad VII di desa Pancur, Barus, Tapanuli. Sebagai rujukan, Boelaars meminjam analisa Jan Baker, SJ dalam tulisannya “Gereja Kristen Tertua di Indonesia” untuk menegaskan gagasan “kehadiran” awal tersebut. Meskipun demikian Boelaars mengakui bahwa tidak terdapat jejak-jejak yang hidup maupun peninggalan sejarah yang membuktikan “kehadiran” itu.

Gagasan “Katolik Perintis” di Nusantara ini dikembangkan dari tulisan sejarawan Muslim Syeikh Abu Shalih al-Armini dalam karyanya “Tadhakur fihi Akhbar min al-Kanais wa’l Adyar min Nawahin Misri wal Aqtha’aha” yang ditulis pada abad XII. Karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggis oleh B.T.A. Evetts dengan judul “The Churches and Monasteries of Egypt and Some Neighbouring Countries” dan diberi catatan oleh A.J. Butler, MA, FSA. Dalam karya tersebut Syeikh Abu Shalih al-Armani menyebutkan adanya kota Fahsûr dimana terdapat memiliki komoditas perdagangan berupa camphor (al-kafur dalam bahasa Arab).

Fahsur, Bukan Fansur

Tulisan yang menjadi rujukan Boelaars, awalnya berasal dari makalah Jan Bakker, SJ berjudul “Gereja Tertua di Indonesia” yang dimuat di Majalah Basis No. 18 (1969) hlm. 261-265. Tulisan itu adalah derivasi dari makalahnya yang lebih lengkap berjudul “Umat Katolik Perintis di Indonesia”.[ Dr. Huub J.W.M. Boelaars, OFM Cap., Indonesianisasi Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia, Cetakan V (Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2009) hal. 59]

Tulisan ini menjadi bagian dari versi resmi “Sejarah Gereja Katolik Indonesia” yang dipublikasikan oleh Bagian Dokumentasi – Penerangan Kantor Waligereja Indonesia. Dalam uraiannya, banyak argumentasi yang dikembangkan untuk mendukung gagasan bahwa kedatangan Katolik di Indonesia dimulai pada abad VII. Meskipun demikian, satu-satunya referensi yang dianggap kuat dan menjadi sumber primer wacana tersebut berasal dari karya Syeikh Abu Shalih al-Armini, sejarawan Muslim, dalam “Tadhakur fihi Akhbar min al-Kanais wa’l Adyar min Nawahin Misri wal Aqtha’aha”. Oleh karena itu untuk menyingkap fakta “kehadiran” Kristen tersebut bisa dilakukan dengan membaca ulang karya ini.

Tulisan Abu Shalih al-Armini dalam teks manuskrip yang dimaksud adalah sebagai berikut:[ Tulisan Syaikh Abu Shalih al-Armini tentang “Fahsûr” ini pada naskah manuskrip yang tersimpan di Bibliotheque Nasional de Paris terletak pada folio 110b, dalam terbitan yang diterjemah Evetts di halaman 129]


Buku karya Abu Shalih yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul “The Churches and Monasteries of Egypt and Some Neighbouring Countries” oleh B.T.A. Evetts, MA dan diberi catatan oleh A.J. Butler MA, F.S.A. Kutipan di atas diterjemahkan B.T.A. Evetts ke dalam Bahasa Inggris sebagai berikut:
Fahsûr. Here there are several churches ; and all the Christians here are Nestorians ; and that is the condition of things here. It is from this place that camphor comes; and this commodity [is a gum which] oozes from the trees. In this town there is one church named after our Lady, the Pure Virgin Mary. [ Lihat terjemahan B.T.A. Evetts, MA (ed.), The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Shalih, the Armenian (Clarendon Press, Oxford, 1895) hlm. 300]
Bakker sendiri menterjemahkan kutipan dari terjemahan B.T.A. Evetts ke dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:

Abu Shalih, setelah memberitakan tentang gereja-gereja di India Selatan (Quilon, Travancore dan Mahamailiapura), menulis tentang keadaan Sumatera sebagai berikut:
“Fansur: Di sana tedapat banyak gereja dan semuanya adalah dari nasarthirah, dan demikianlah keadaan di situ. Dan dari situ berasallah kapur barus dan bahan itu merecik dari pohon. Dalam kota itu terdapat satu gereja dengan nama: Bunda Perawan Murni Maria”.[Lihat terjemahan Y. Bakker, SJ, Umat Katolik Perintis di Indonesia, dalam Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Jilid I (Arnoldus Ende, Flores, 1974) hlm. 29]
Nampak bahwa Bakker telah mengalihkan kata Fahsûr menjadi FANSUR. Kata “Fansur” ini mungkin didapatkan oleh Bakker dari alih aksara dari huruf Arab ke huruf latin yang dilakukan oleh Prof. Dr. Sucipto Wirjosuparto dalam makalahnya “Agama Kristen telah Meluas di Indonesia Sejak Abad 7”. [Lihat Y. Bakker, SJ, Umat Katolik … hlm. 38-39; Alih aksara ini jelas keliru. A.J. Butler MA, F.S.A] yang memberikan komentar pada penterjemahan karya Abu Shalih ke dalam Bahasa Inggris, telah memaklumkan bahwa kata tersebut memang ditulis sebagai Fahsûr, bukan Fansur. [Lihat B.T.A. Evetts, MA (ed.), The Churches]

Selain itu juga menterjemahkan kata Bahasa Arab al-kafur (camphor) menjadi “KAPUR BARUS”. Kemudian informasi dari Abu Shalih bahwa terdapat “Kristen Nestorian” dianggap keliru oleh Bakker dan ia “meluruskannya” sebagai Katolik. Dengan adanya “pengubahan” ini maka Bakker sejak awal berusaha memunculkan kesan tentang adanya bukti “Gereja-gereja Katolik telah terdapat di sebuah desa bernama Pancur, Barus, Sumatera Utara” pada abad VII.

Identifikasi Fahsûr dengan Pansure, sebuah desa di Sumatera, adalah kekeliruan yang fatal. Sejak awal nama tempat Fahsûr ini oleh Abu Shalih al Armini sama sekali tidak pernah dimaksudkan untuk membahas wilayah di luar India. Kata “Fahsûr” ini di bahas di bawah perikop “India” dan diuraikan setelah kota Kulam (Quilon di Travancore, India) dideskripsikan. Setelah membahas kawasan di India, Syeikh Abu Shalih lantas membahas wilayah Yaman. Jadi, tentu saja bukan tempat yang ada di Pulau Sumatera – Indonesia.
A.J. Butler M.A., F.S.A saat memberikan catatan terhadap terjemahan B.T.A. Evetts atas karya Syeikh Abu Shalih al-Armini, menjelaskan bahwa kata Fahsûr memang tertulis dalam manuskrip aslinya. Kata ini seharusnya ditulis Mansûr, yaitu sebuah negara pada jaman kuno yang terdapat di Barat Laut India, terletak di sekitar Sungai Indus. Mansur merupakan negara paling utama yang terkenal di antara orang-orang Arab dalam hal komoditas kamfer (al-kafur).

Pada masa kuno wilayah penghasil kamfer bukan hanya wilayah yang saat ini menjadi Indonesia. India dan beberapa kawasan lainnya juga telah dikenal menjadi penghasil kamfer. Di Indonesia saja terdapat dua pulau di Jaman kuno yang menghasilkan kamfer yaitu Sumatera dan Kalimantan. Daerah penghasil kamfer di Sumatera bukan hanya Barus yang terkenal dengan komoditi kapur Barus-nya, namun juga wilayah yang saat ini menjadi Aceh.[ H. Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Jilid I, Cetakan II (PT Harian Waspada Medan, Medan, 1981) hlm. 36-37]

Adolf Heuken, SJ merupakan akademisi Katolik yang turut menolak teori bahwa Katolik telah masuk ke Indonesia pada abad VII. Dalam tulisannya “Christianity in Pre-colonial Indonesia” ia mendukung catatan yang diberikan oleh A.J. Butler. Syeikh Abu Shalih al-Armini banyak menggunakan menggunakan referensi dari karya Abu Jafar al-Tabari (w. 923) dan Al Shabushti (w. 988) untuk menerangkan subyek yang sama tentang pembahasan Asia dan Afrika. Nama kota Fahsûr yang ada dalam tulisan Syeikh Abu Shalih maksudnya tidak lain adalah Mansûr, sebuah kota di India dengan komoditas camfer yang penting bagi orang-orang Arab. Heuken juga menjelaskan bahwa berdasarkan sejumlah penggalian memang ditemukan adanya koneksi tertutup antara Barus, India, dan Teluk Persia pada kurun IX hingga XII.[ Lihat makalah Adolf Heuken,SJ, Christianity in Pre-colonial Indonesia, dalam Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink (ed.), A History of Christianity in Indonesia (Brill, Leiden – Boston, 2008) hlm. 5-6]

Namun tidak serta merta hal ini membuktikan keberadaan Kristen pada masa-masa ini. Tradisi oral tentang adanya tempat dekat Barus bernama “Janji Mariah”, yang kadang digunakan sebagai “bukti” keberadaan Kristen pada masa lampau, baru terbentuk pada periode yang lebih baru.


Beberapa sarjana Katolik Roma percaya bahwa “makam St. Thomas”, salah satu murid Yesus ditemukan di Cathedral di Mailapur, daerah pinggir Madras.

India, Bukan Indonesia

BEBERAPA catatan sarjana Muslim Arab memang mengidentifikasi kawasan yang mungkin merupakan Indonesia pada masa sekarang sebagai “india”. Meskipun demikian, menggunakan karya Abu Shalih Al Armini untuk mendukung teori kehadiran Kristen pada abad VII di Indonesia adalah kesalahan fatal. Secara jelas, Syeikh Abu Shalih telah mendeskripsikan tempat bernama India atau juga disebut al-Hindah. Sebuah tempat di mana penduduknya memiliki kepercayaan pemujaan terhadap Buddha, penyembah matahari, dan penyembah api. Wilayah ini dikelilingi laut dimana dari arah Mesir harus menggunakan kapal. Tempat bernama India ini merupakan daerah penyembahan berhala pada masa kuno yang berbatasan dengan Persia.

Dari deskripsi tersebut dapat dipahami bahwa “India” yang dimaksud ini benar-benar India secara definitif, tidak mungkin keliru dengan wilayah di Indonesia. Dengan demikian karya Abu Shalih al-Armini tidak memaksudkan negeri Fahsûr yang ada di India sebagai Pancur yang ada di Sibolga, Barus, Sumatera Utara.

Selain itu Abu Shalih juga melakukan kesalahan dalam mengidentifikasi India sebagai wilayah Abyssinia (Ethiopia). Kesalahan ini justru merupakan bukti bahwa India yang dimaksud merupakan India dalam makna definitif.

Kesalahan penyebutan India sebagai wilayah Abyssinia sebenarnya merupakan kekeliruan yang berasal dari era yang lebih kuno.

Kebingungan membedakan antara India dan Abyssinia ini juga telah terdapat dalam sejumlah literatur Yunani kuno. Sekali lagi, India yang dimaksud jelas tidak akan keliru dengan kawasan Indonesia. Sebab, meski ini “secara keliru”, wilayah Indonesia tidak pernah diidentifikasi sebagai “wilayah Abyssinia” sebagaimana India yang definitif.

Keberadaan Kristen Nestorian di India dapat dibuktikan pada sekitar abad VII ini. Cosmas Indiscopleustes, seorang pendeta Alexandria petualang pada abad VI, telah meninggalkan catatan keberadaan aktivitas Kristen di India. Dalam catatannya “Christian Topography” Cosmas menyebutkan terdapat sejumlah gereja di Malabar dan Ceylon yang dikelola pendeta dari Persia dan berada di bawah pengawasan seorang uskup Persia di Kalliana. Di sini jelas bahwa kekristenan di India mencakup kekristenan Nestorian, yang dianggap sebagai sekte heresy.[ Lihat E.O. Winstedt (ed.), The Christian Topography of Cosmas Indicopleustes (Cambridge University Press, Cambridge, 1909) hlm. 345]

Sebelum membahas tentang “Fahsûr”, Syeikh Abu Shalih al-Armini telah lebih dahulu membahas sejumlah kota lain di India seperti Kulam (Quilon) yaitu tempat dimana juga terdapat penganut Nashrani Nestorian. Di sana terdapat gereja dari Perawan Maria dan sejumlah orang suci lainnya.

Beberapa sarjana Katolik Roma percaya bahwa “makam St. Thomas”, salah satu murid Yesus ditemukan di Cathedral di Mailapur, daerah pinggir Madras. Namun apa yang dianggap sebagai bukti, menurut A.L. Basham, sejarawan India di University of London, tidak bisa memuaskan para sejarawan. Basham menyebutkan bahwa pergerakan missi yang cukup aktif di India dilakukan oleh sekte yang dianggap menyimpang, Nestorian.

Katolik terutama dari Serikat Jesuit baru masuk ke India pada abad XVI dan XVII.[ Lihat A.L. Basham, The Wonder that Was India: A Survey of the Culture of the Indian Sub-Continent Before the Coming of the Muslims (Grove Press, New York, 1953) hlm. 342-343].

Ketika para pelancong Eropa mengunjungi India mereka membuat catatan tentang adanya gereja di utara. Marco Polo, pada akhir abad XIII, melihat Gereja Suriah yang sering dianggap sebagai “makam St. Thomas”, sebutan yang populer diantara petualang. Namun gereja tersebut telah rusak.

Sebutan “makam St. Thomas” tersebut, menurut Basham, tidak dapat dibuktikan sebagai benar-benar makam “orang suci” tersebut dalam makna yang harfiah. Orang Kristen Syiria pada masa ini dan sebelumnya banyak mengadopsi adat istiadat Hindu. Penganut Kristen di Malabar ini bahkan sedang menuju proses menjadi sekte Hindu yang menyimpang (heterodox Hindu), sebagaimana Budha maupun Jaina. Kedatangan Serikat Jesuit pada sekitar abad XVI dan XVII masih sempat mencegah kemerosotan lebih lanjut dari proses ini. Hasilnya, satu seksi dari gereja Suriah itu bersedia menerima otoritas dari Roma.


Teori yang menyatakan bahwa Agama Kristen telah datang di Indonesia pada abad VII, tidak didasarkan pada fakta yang solid.

Otoritas Vatikan

KEHDIRAN Kristen paling awal, dalam hal ini Katolik, di nusantara lebih tepatnya dimulai sejak penaklukan dan penjajahan bangsa Portugis pada 1511 terhadap Malaka.[ Drs R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid III, Cetakan III (Kanisius, Yogyakarta, 1973) hlm. 49-50]
Kedatangan Portugis ke wilayah Timur ini dapat dirunut dari semangat “penjelajahan” dunia yang tumbuh di Eropa pasca “penemuan” Amerika oleh Columbus dan Amerigo Vespucci. Semangat penjelajahan yang timbul dari upaya penemuan sumber rempah-rempah dan semangat perang salib di Eropa ini telah menciptakan kondisi persaingan yang mengarah pada konflik antara Spanyol dan Portugis.

Untuk menghindarkan efek lanjutan yang buruk atas konflik ini, Paus Alexander VI tergerak untuk melakukan intervensi. Melalui dokumen tertanggal 4 Mei 1493, Paus Alexander VI membagi dunia menjadi dua bagian. Sebuah garis imajiner ditarik ke kutub utara dan kutub selatan melewati kurang lebih 749 km sebelah Barat Kepulauan Azores atau Kepulauan Tanjung Hindia. Semua daerah yang terletak di sebelah timur garis yang kemudian di sebut “Timur” ditetapkan menjadi milik Portugis untuk dikuasai dan dikristenkan. Sementara semua daerah di sebelah barat garis yang kemudian disebut “Barat” ditetapkan oleh Paus menjadi tugas Spanyol.[ Avro Manhattan, Catholic Imperialism and World Freedom (Watts & Co, London, 1952) hlm. 34-35]

Ketidakpastian garis tersebut menimbulkan kesulitan diantara kedua kerajaan. Mengingat keduanya memiliki ambisi lebih besar, menginginkan lebih banyak dari yang telah ditentukan. Persetujuan baru tercapai dengan Perjanjian Tordesillas (7 Juli 1494). Garis yang ditentukan melalui 2738 km sebelah Barat Kepulauan Hijau untuk penemuan-penemuan pulau yang masih akan dilakukan dan 1850 km bagi semua hasil yang sudah ditemukan oleh Castilla sampai 20 Juni 1494.

Hal ini masih menimbulkan persengketaan ketika Spanyol tidak mau melepaskan Maluku. Paus kemudian memaksa Spanyol menjual Maluku kepada Portugis. Charles V menjual Pulau Maluku ini dengan harga 350.000 crusados dan mempertahankan semua daerah di sebelah barat Bujur Timur 17 derajat (Perjanjian Saragosa).[22] Kesepakatan yang terbentuk, Spanyol menguasai Philipina dan Portugis menguasai Maluku.[A.R. Disney, A History of Portugal and Portuguese Empire from Beginnings to 1807, Vol. I: Portugal (Cambridge University Press, Cambridge, 2009) hlm. 152]

Dengan adanya Portugis di Maluku maka berkembanglah agama Katolik. Pertentangan antara Portugis dan umat Islam mulai terjadi. Konflik semakin memanas ketika Portugis mulai ikut campur dalam pemerintahan.

Sultan Tabariji, raja Ternate, ditangkap oleh Portugis dengan tuduhan palsu dan dibawa ke Goa. Tuduhan ini tidak terbukti hingga 10 tahun kemudian. Maka Portugis hendak mengembalikan sang raja ke tahtanya, namun rakyat menolak dengan alasan sang raja telah menjadi kafir semasa dalam “tawanan” Portugis. Raja ini telah menganut agama Katolik dengan nama Manuel.

Portugis kemudian menggunakan tipu muslihat keji untuk melenyapkan penggantinya, yang bernama Sultan Hairun. Sultan yang terakhir ini dibunuh dengan sangat licik dan kejam. Putra Sultan Hairun, yaitu Sultan Baabullah kemudian memimpin perlawanan jihad terhadap orang-orang Portugis. Tidore dan beberapa pulau lainnya yang pada masa sebelumnya menyimpan konflik akhirnya mau bekerja sama untuk memusnahkan orang kafir. Dalam tahun 1575 benteng Portugis di Ternate jatuh, maka habislah riwayat mereka di Maluku Utara. Portugis masih dapat bertahan di Pulau Hitu (Ambon). Di Pulau ini nyatanya Portugis tidak disukai. Berulangkali rakyat Ambon berusaha mengusir mereka. Akhirnya berkat bantuan armada dari Seram dan Banda, pada tahun 1575, Portugis berhasil diusir juga dari Maluku Utara.[ Drs R. Soekmono, Sejarah Kebudayaan… Jilid III, hlm. 50]

Sebagai konsekuensi penetapan garis demarkasi tanah jajahan di atas, Paus memberikan syarat kepada kedua negara untuk memajukan misi Katholik Roma di tanah jajahan yang telah diserahkan. Pertalian gereja dan negara pada masa itu cukup erat. Raja-raja memiliki kerelaan hati untuk melayani kepentingan gereja.[Dr. H. Berkhof dan Dr. I. H. Enklaar, Sejarah Gereja, Cetakan IX (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1991) hlm. 235]

Spanyol misalnya, digambarkan oleh Dr. H. Embuiru SVD, merupakan negara Katolik dan sekaligus negara misionaris. Di mana ada Spanyol maka disana berdiri Gereja. Salib dan mahkota berjalan beriringan. Gereja dan negara merupakan satu kesatuan.[ Dr. H. Embuiru, S.V.D, Geredja Sepandjang Masa (Nusa Indah, Flores) hlm. 206]

Demikian juga Portugis secara sadar menuju ke Timur untuk berdagang dan menyebarkan agama, termasuk dalam cakupan ini adalah penjajahan.

Dr. W.B. Sidjabat dalam “Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini” (diterbitkan Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1964) berusaha melakukan pembelaan bahwa kristenisasi di Indonesia sama sekali tidak terkait dengan penjajahan Belanda. Ia berargumen dengan perlakuan Jepang pada masa Hideyoshi terhadap Belanda. Hideyoshi telah mengusir orang Portugis dan Spanyol sebab mereka menyebarkan Katolik di Jepang (1595). Sementara Belanda diperkenankan mendirikan loji di Jepang (1600), sebab negara kincir angin ini hanya memiliki motif berdagang, bukan menyebarkan agama Kristen.

Tulisan Sidjabat ini nampak sekali merupakan upaya apologetik untuk menghindar dari stigma bahwa “Kristen merupakan agama penjajah” di Indonesia. “Bukti” yang dikemukakan oleh W.B. Sidjabat ini sebenarnya tidak terlalu benar.

Jadi sudah benar jika pada tahun 1934 umat Katolik merayakan upacara meriah menyambut “400 Tahun Katolisisme di Hindia” yang buku kenangannya diterbitkan dalam nomor yubileum istimewa di Maandblad Sociaal Leven No. 15, nomor rangkap 2/3, Batavia, 1934. Juga tepat bila pada 8-12 Juli 1984 Pertemuan Nasional Umat Katolik Indonesia (PNUKI) merayakan “450 tahun Katolisisme di Indonesia” yang dihadiri 450 orang wakil keuskupan di Indonesia. Perayaan ini didasarkan bahwa pada 1534 terdapat orang Indonesia pertama yang dibaptis oleh pendeta Katolik yang datang satu rombongan dengan Penjajah Portugis.[ Dr. Huub J.W.M. Boelaars, OFM Cap., Indonesianisasi … hlm. 64]

Bagi kalangan misi Kristen, kolonialisme sebenarnya dianggap sebagai sesuatu yang lumrah terjadi. Kewajaran ini didasarkan pada analogi terhadap proses-proses kronologis yang pernah terjadi. Sejarah mencatat bahwa penguasaan suatu suku terhadap suku yang lain dengan dibungkus sebuah ideologi tertentu merupakan kenyataan sejarah yang telah berlangsung berabad-abad. Pandangan ini melahirkan pemikiran bahwa kolonialisme sebuah negara dan penaklukan suatu wilayah negara oleh negara lain adalah sebuah hal biasa. Pandangan ini diungkapkan dalam Ensiklopedia Gereja sebagai berikut:
Kolonisasi suatu suku bangsa atas suku-suku bangsa lain dalam suatu negara yang sama adalah biasa di Asia dan Afrika. Jadi kolonialisme dulu bentuk yang sedikit berbeda terdapat pada segala masa dan daerah, dan tetap dibenarkan dengan ideologi-ideologi yang ‘bagus’. (sic!).[ A. Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja, Jilid V Ko – M, Edisi 4 (Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 2005) Hal. 10]
Memisahkan antara perdagangan, penjajahan, dan penyebaran agama dari motif ekspansi Barat di nusantara jelas akan menghasilkan gambaran yang parsial. Keuntungan yang diperoleh, baik dari kegiatan ekonomi maupun penjajahan, sebagian akan masuk ke kas gereja dan digunakan dalam pembiayaan operasionalnya, termasuk penyebaran agama. Gereja mendapatkan bagian sebesar sepuluh persen dari keuntungan tersebut. Inilah yang dalam kekristenan disebut dengan konsep perpuluhan.

Jadi, jika mereka datang bersama “penjajah” dan turut menikmati “kue” hasil dari proses “penjajahan” yang berlangsung, masihkah kita akan beranggapan bahwa missionarisme berjalan terpisah dengan penjajahan?

Penutup

Teori yang menyatakan bahwa Agama Kristen telah datang di Indonesia pada abad VII, tidak didasarkan pada fakta yang solid. Referensi yang digunakan sebagai pendukung argumen tidak kompatibel dan cenderung dipaksakan. Sumber Arab yang digunakan lebih merupakan deskripsi tentang wilayah yang ada di India, bukan di Indonesia. Deskripsi atas kawasan bernama “India” itu pun benar-benar meyakinkan bahwa wilayah yang dimaksud memang benar-benar India secara definitif. Buktinya pun terdapat dalam karya Arab Syaikh Abu Shalih Al-Armini. Hanya saja nampaknya bukti-bukti ini diabaikan dengan sengaja. Mungkin saja karena alasan menguatnya motif dan kepentingan tertentu.

Memaksakan sumber untuk wilayah lain dengan “mengubah”-nya menjadi “Indonesia” jelas akan menghasilkan konklusi yang tidak tepat. Teori kedatangan Kristen abad VII di Indonesia dan membentuk sebuah komunitas di Sumatra Utara hakikatnya merupakan klaim yang tidak berdasar. Catatan akhir yang perlu dikemukakan di sini bahwa kebenaran, dalam kasus seperti ini, tidak bisa dihasilkan dari proses memanipulasi sumber referensi.*

Penulis seorang pengajar dan penulis buku “Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa”



Dari YuTub:
Atlas Walisongo
Sejarah Islam "Nahdliyin" di Indonesia
http://www.goodreads.com/book/show/17788789-atlas-wali-songo



► Focus: 00:08:40 s/d 01:20:00 (Pembicara/Penulis Buku "Atlas Walisongo" Agus Sunyoto)

12.12.14

30 Guru Agama Dapat “Pendidikan Multikulturalisme” di Oxford

Pelatihan yang merupakan progam Depag ini para guru diharapkan belajar pengajaran pendidikan agam model Inggris dengan penekanan diskusi dan penilaian kritis

Hidayatullah.com–Sebanyak 30 orang guru Pendidikan Agama Islam dari TK, SD, SMP, sampai SMA dari beberapa propinsi di Indonesia mengikuti program Pelatihan Pengayaan Teknik dan Metode Pengajaran Pendidikan Agama Islam yang diselenggarakan oleh University of Oxford, Inggris, dari tanggal 8-12 Desember mendatang.

Panitia Penyelenggara Shortcourse Metodologi bagi guru agama, Abdullah Hanif kepada Antara London, Senin sore mengatakan program pelatihan juga diikuti 10 perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama dari Propinsi Aceh, Sumut, DKI Jakarta, Jabar, Jateng dan Jawa Timur serta Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

Dikatakannya selama mengikuti pelatihan para guru agama Islam bertemu dengan petugas Ofsted, (Office Standar Pendidikan) atau pengawas sekolah, dalam rangka mempelajari mekanisme monitoring dan pengawasan untuk memastikan kualitas kegiatan belajar mengajar pendidikan agama yang lebih baik.

Salah seorang peserta pelatihan Akhmad Khusaeri, guru pendidikan agama Islam di SD Islam Terpadu Nur Al-Rahman Kota Cimahi Jawa Barat Indonesia mengatakan program pelatihan sangat bermanfaat dalam, mendapatkan metodologi pembelajaran pendidikan agama yang reflektif, aktif, kreatif, efektif yang menyenangkan, serta metodologi pendidikan agama berwawasan multikultural dan demokratis.

“Saya senang bisa ikut dalam pelatihan yang di diselenggarakan tim pengajar dari MSc in Learning and Training (MLT) di Departemen Pendidikan, University of Oxford,” ujar Siti Naila Butsiani dari SMKN2 Cilaku Cianjur Jawa Barat dikutip Antara.

Menurut Siti Naila Butsiani, tidak mudah untuk bisa mengikuti pelatihan karena banyak peminat yang ingin ikut dari 405 orang yang pelamar akhirnya yang terpilih hanya 30 orang.

Hal yang sama juga diakui Tati Pudjiani guru SMP I Purworejo Jawa Tengah yang merasa beruntung bisa ikut dalam pelatihan yang sangat menarik apalagi ada kunjungan ke beberapa sekolah di Oxford.

Pelatihan disampaikan melalui ceramah kelas, observasi ajaran pendidikan agama di sekolah-sekolah di sekitar Oxford, kunjungan ke tempat-tempat ibadah dan pertemuan dengan narasumber, termasuk Ofsted dan Asosiasi Sekolah Muslim Inggris.

Para guru diharapkan untuk belajar tentang model Inggris pengajaran -dengan penekanan pada diskusi kelas dan penilaian kritis- dan bagaimana hal ini dapat diterapkan dalam konteks Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, yang memulai program ini menyebutkan The University of Oxford terpilih sebagai mitra untuk proses pembelajaran berdasarkan rekomendasi dari delegasi dari Indonesia Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang terkesan dengan desain pendidikan agama di Inggris. [Baca: Guru Agama yang Larang Muridnya Rayakan Natal bersama atau Valentine’s Day kena tudingan anti-Multikulturalisme]

Kunjungan ini merupakan bagian dari studi komprehensif tentang Pendidikan Agama di Sekolah, sebuah proyek oleh Depag Indonesia bekerjasama dengan analitis dan Kapasitas Program Pembangunan Kemitraan di Indonesia, disampaikan Kebijakan Oxford Management Limited.

“Saya berharap bahwa dengan mengekspos guru pendidikan agama Indonesia untuk keterampilan mengajar baru dan teknik, mereka akan mampu menciptakan generasi baru dari siswa kreatif dengan pikiran kritis,” katanya.

Selama di Oxford para peserta pelatihan akan mengadakan kunjungan dan observasi kegiatan pembelajaran di beberapa sekolah seperti ke sekolah Lord William School, St Gregory the Great School, Caterton Community College, Matthew Arnold School, Chipping Norton School, Cheney School untuk tingkat SMP dan SMA serta Church Cowley St James dan John Henry Academy untuk tingkat SD dan TK.*

Pelatihan yang merupakan progam Depag ini para guru diharapkan belajar pengajaran pendidikan agam model Inggris dengan penekanan diskusi dan penilaian kritis

Inilah Jalan Hidup Seorang Mukmin

Dalam keyakinan orang Jepang, bunuh diri ketika merasa gagal, adalah cara mati yang terpuji dan terhormat sebagai seorang kesatria

Oleh: Dr. Achmad Yani, Lc, Med.

MANUSIA adilahirkan sebagai bayi, menyusu kepada ibunya, tumbuh menjadi anak-anak yang manja dan sibuk dengan segala macam alat permainannya. Lalu ia menjadi remaja dengan segala macam kegiatannya, mulai dari sekolah, belajar, nongkrong, jalan-jalan, dengerin musik, pacaran, tawuran, nonton film, jajan, dan lain sebagainya.

Memasuki masa dewasa, ia mulai disibukkan dengan urusan pekerjaan, mencari pengahasilan, mengurusi keluarga, anak dan istri. Setelah itu akhirnya menua, manjadi kakek atau nenek, kemudian mati.

Apakah dengan kematian itu berarti semuanya telah selesai? Jika belum selesai, lantas apa sebenarnya tujuan hidup kita di dunia ini?

Memahami Hakekat Hidup

Pemahaman terhadap tujuan hidup ini sangat penting, karena tujuan itulah yang akan menentukan kemana arah perjalan ini akan ditempuh. Ibarat tujuannnya adalah Jakarta, jika dari Surabaya, maka berarti kita harus berjalan ke arah barat.Begitu juga jika tujuannya adalah Bali, maka berarti kita harus berjalan ke arah timur.

Memahami hakekat tujuan hidup ini menjadi sangat penting, sebab jika pemahaman itu salah, maka bisa dipastikan prilakunya pasti juga salah.

Orang Jepang contohnya, menurut falsafah mereka, hakekat kehidupan ini adalah untuk menunggu kematian.Bagi mereka, jika Anda merasa sudah tidak ada lagi peluang untuk sukses, maka lebih baik mati secepatnya dan tidak ada artinya menunggu di dunia ini lebih lama. Silahkan bunuh diri saja, itu lebih baik dari pada anda menjadi orang yang gagal dalam hidup.

Dalam keyakinan orang Jepang, bunuh diri ketika merasa gagal, adalah cara mati yang terpuji dan terhormat sebagai seorang kesatria yang secara jantan mengakui kegagalannya, dan memilih untuk mengakhiri hidup secepatnya. Ini bisa dilihat daridata yang ada, sampai hari ini minimal 70 orang perhari mati bunuh diri di Jepang, sehingga Jepang menjadi negara nomer satu di dunia untuk jumlah bunuh diri terbanyak.

Sangat ironis, Negara yang begitu maju, canggih dalam teknologi, yang produksi mobilnya dipakai di seluruh dunia: Toyota, Mitsubishi, Daihatsu, Honda, Suzuki, dan lain-lainnya, ternyata menjadi Negara yang jumlah bunuh dirinya terbesar di seluruh dunia. Kanapa itu bisa terjadi, tidak lain adalah disebabkan pemahaman mereka tentang hakekat kehidupan ini.

Sedangkan orang Barat, mereka memahami hakekat kehidupan ini sebagai kesempatan untuk menikmati kehidupan sebelum ajal menjemput.

Itulah sebabnya, menjadi cita-cita hampir semua orang barat untuk bisa melancong ke berbagai penjuru dunia, yang tidak lain tujuannya adalah untuk sepenuhnya bisa menikmati keindahan hidup di dunia. Banyak yang menyangka bahwa semua turis dari barat itu adalah orang kaya.Tidak, justru sebagian besar mereka adalah orang-orang yang ekonominya biasa-biasa saja.Memang ada juga yang kaya raya, namun sebagian besar adalah orang biasa.Kebanyakan dari mereka adalah orang kelas menengah kebawah yang telah bertahun-tahun bekerja, atau bahkan berpuluh-puluh tahun. Uang hasil bekerja itu kemudian ditabung, sekian lama mereka menabung, kemudian uang itu mereka habiskan untuk melancong ke berbagai penjuru dunia selama setahun, dua tahun, atau bahkan lima tahun, dan seterusnya.

Trend melancong dalam waktu yang lama sudah menjadi gaya hidup sebagian besar orang barat. Kenapa bisa begitu, jawabannya adalah disebabkan pemahaman mereka dalam memakanai hakekat kehidupan.Bagi mereeka, hidup ini adalah kesempatan untuk menikmatinya, sebelum kita dijemput oleh kematian.Nikmatilah hidupmu sepenuhnya, sebelum engkau meninggakan dunia.Dan cara menikmati hidup yang paling istimewa untuk mereka adalah dengan melancong ke berbagai penjuru dunia dalam waktu yang lama, tidak perlu kerja, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memberi tekanan, tidak ada kewajiban untuk kerja, rapat, ngajar, dan segala macam kegiatan lainnya, yang kesemuanya itu dirasakan sebagai tekanan dalam menjalani kehidupan.

Kemudian kita sebagai orang mukmin, apa makna hakekat kehidupan ini untuk kita? Apakah hidup ini hanya untuk menikmati makanan yang lezat-lezat? Jika itu pemahaman kita, lalu apa beda kita dengan sapi yang seumur hidupnya hanya makan dan makan. Jika urusan makan, tentu sapi lebih hebat dari kita, sebab sapi sepanjang hidupnya adalah untuk mengunyah makanan. Sedangkan manusia, setelah menikmati makanan satu piring, maka dia pun sudah merasa kenyang, dan sudah tidak sanggup lagi menyantap makananan yang lainnya.

Adakah hidup kita hanyalah untuk menikmati wanita cantik dan menyalurkan nafsu biologis semata? Jika urusan pemuasan kebutuhan biologis, maka ayam jauh lebih hebat dari kita, sebab ayam mampu melakukan hubungan biologis sehari lebih dari 20 kali.Sedangkan kita?Kemampuan dan kekuatan kita kalah jauh dibandingkan ayam.

Ataukah hidup kita ini hanya untuk jalan-jalan dan menikmati pemandangan? Jika itu tujuannya, tentu burung elang yang bisa terbang tinggi di udara jauh lebih hebat dari kita. Tiap hari ia terbang tinggi dan menimkati pemandangan yang begitu indah dari atas ketinggian, terbang jauh kemana ia suka.

JADI apa sebenarnya tujuan hidup kita? Apakah kita dilahirkan, tumbuh jadi anak-anak, remaja, dewasa, kemudian menua, dan akhirnya mati… Adakah dengan itu berarti hidup kita telah selesai?

Allah berfirman dalam Al-Quran:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS Al-Mu’minuun: 115)

Sesungguhnya jawaban dari pertanyaan ini adalah dalam firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyat: 56)

Ayat tersebut diatas merupakan petunjuk dari Allah Subhanahu Wata’ala kepada manusia tentang tujuan diciptakannya di muka bumi ini. Sebagai manusia, kita memang perlu makan, minum, tidur, bekerja, menikah, istirahat, pakaian, tempat tinggal, alat transportasi, harta, dan lain sebagainya. Namun kesemuanya itu bukanlah tujuan, melainkan itu hanyalah alat untuk kita beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Makna ibadah dalam islam sangatlah luas, semua aktivitas yang dilakukan manuasia bisa bernilai ibadah, sejak dari bangun tidur, sampai tidur lagi, bahkan tidur itu sendiri, juga bernilai ibadah. Ibadah dalam islam bukan hanya berbentuk sholat, puasa, haji, baca al-Quran, melainkan semua aktivitas manusia bisa bernilai ibadah.

Ketika kita bangun tidur, kemudian kita ke kamar mandi untuk buang air kecil, kita niatkan itu sebagai ibadah, menjaga kesehatan, merawat anugerah Allah berupa badan, sebab kalau air kencing ditahan itu bisa menyebabkan penyakit, dengan niat yang seperti maka buang air kecil itupun bernilai ibadah.

Dilanjutkan berwudlu dan kemudian sholat, ini juga ibadah. Setelah itu kita sarapan, diniatkan agar badan kita ada energy sebagai bekal ibadah, maka sarapan kita itupun bernilai Ibadah.

Kemudian kita mandi pagi, gosok gigi, dan membersihkan badan, diniatkan untuk menjaga kesegaran badan, biar tidak bau, dan tidak menganggu orang disekitar kita, maka ini pun bernilai ibadah.Begitu juga ketika kita pergi ke tempat kerja, kita niatkan mencari rizki yang halal, untuk diri sendiri dan keluarga, maka sejak pagi sampai sore kita bekerja, selama itulah pahala ibadah terus mengalir.

Semua aktitas yang sifatnya duniawi seperti ke pasar, ke kampus, ke kantor, ke sawah, dan lain sebagainya,itu semua bisa bernilai ibadah jika kita betul dalam meniatkannya. Namun jika kita salah niat, maka semua aktivitas itu hanyalah bernilai amalan dunia saja, dan tidak ada pahalanya di akhirat.

Tidak penting bagi seorang mukmin apakan dia menjadi kaya atau misikin, pejabat atau rakyat, bos atau kuli, atasan ataupun bawahan, sebab bagi seorang mukmin, apapun situasinya, bagaimanapun keadaannya, semuanya adalah kesempatan untuk beribadah.

Jika dia miskin dan sabar dengan kekurangannnya, maka kemiskinan adalah keberkahan baginya, sebab kesabaran menjalani kehidupan dengan serba kekurangan mendatangkan pahala untuknya. Jika dia kaya, itu juga kesempatan baginya untuk beribadah, mensyukuri kekayaan yang diberikan, banyak berzakat dan bersedekah, menolong siapa saja yang memerlukan, maka dengan begitu kekayaan adalah keberkahan untuknya, sebab harta yang dimiliki menjadi sumber pahala.

Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ ليسَ ذلكَ لأَحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا لهُ) رواهُ مُسْلِمٌ

Alangkah mengagumkan kehidupan seorang mukmin, sungguh segala urusannya mendatangkan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan yang seperti itu hanya ada dalam kehidupan seorang mukmin.Ketika dia mendapatkan kesenangan, maka diapun bersyukur, dan itu mendatangkan kebaikan untuknya (pahala).Begitu juga ketika dia sedang ditimpa kesusahan, maka dia pun bersabar, dan itu pun mendatangkan kebaikan untuknya (pahala).” [HR Muslim]

Wallahu A’lam.
Penulis adalah Dosen di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM)