21.11.14

Mengapa Orang Beragama Lebih Sehat?

Orang yang menjalani kehidupan beragama, cenderung
memiliki ukuran hippocampus lebih kecil dari orang Atheis
PUTUS asa adalah sumber kesesatan; kegelapan hati dan pangkal penderitaan jiwa,” demikian kata-kata hikmah dari Bediuzzaman Said Nursi atau kerap dipanggil Said Nursi. Ucapan bintang intelektual Muslim yang berpengaruh di dunia muslim khususnya di Turki berkat mahakaryanya ”Risalah An-Nur “ ini nampaknya cocok dengan temuan terbaru para peniliti sosial.

Dalam studi yang dilakukan oleh Christopher Scheitle, asisten peneliti senior di bidang sosiologi di Penn State University, di mana menyebutkan, 40 persen orang yang menjalankan praktek agama, dilaporkan dalam kondisi sehat. Sementara orang yang tidak percaya Tuhan cenderung mengabaikan pola hidup sehat, demikian hasil penelitian.

“Kesehatan yang buruk juga dapat memicu seseorang meninggalkan suatu agama dan kehilangan kepercayaannya akan adanya Tuhan,” kata Christopher Scheitle, peneliti dari universitas itu.

Scheitel bukan sedang begosip, ia pernah meneliti 423 kasus yang berhubungan dengan agama antara 1972-2006. Hasil penelitiannya menunjukkan, sekitar 40% penganut agama yang taat, dalam kondisi kesehatan baik dan 25% lainnya yang berpindah keyakinan ke agama lain, juga dalam kondisi kesehatan baik.

Scheiter meneliti penganut Gereja Yesus Kristus Hari Terakhir (Mormon) dan Saksi Jehovah –termasuk penganut garis keras dan ketat dalam aliran Kristen—di mana mempunyai garis pedoman keras bagaimana anggota sebaiknya harus hidup, termasuk tidak konsumsi alkohol atau penggunaan tembakau, dapat memberi dampak baik bagi kesehatan.

Dalam laporannya, Scheitle menyatakan, penurunan kesehatan dapat kelompok agama tersebut. Penelitian juga membuktikan, ketidakpercayaan pada Tuhan juga membawa dampak buruk bagi kehidupan sosial.

Bahkan penelitian yang dimuat di situs www.eMaxHealth.com ini juga menyimpulkan, seperempat di antara orang dengan sikap yang lebih liberal dalam beragama, masih dianggap memiliki manfaat kesehatan istimewa dan akan turun sampai 20 persen jika ia berhenti total dari agama alias Atheis.

Suatu studi yang baru diterbitkan pada Desember 2013 di JAMA Psychiatry, menemukan bahwa kemungkinan risiko depresi jauh lebih kecil bagi orang yang taat beragama. Teknologi MRIs menunjukkan bahwa otak orang yang taat beragama memiliki lapisan yang lebih tebal dibandingkan orang yang sebaliknya.

Harold G. Koenig, direktur Center for Spirituality, Theology, and Health di Duke University menulis beberapa buku seperti The Healing Power of Faith and Mental Health. Buku-buku tersebut berisi mengenai manfaat agama bagi kesehatan. Manfaatnya antara lain, menurunnya stres melalui doa.

“Salah satu perusak otak paling buruk adalah stres,” kata Dr. Majid Fotuhi, seorang pendiri dan ketua NeurExpand, serta dosen di Harvard Medical School. “Stres dapat menghasilkan zat yang beracun bagi tubuh. Salah satu cara untuk mengurangi stres adalah berdoa. Ketika Anda berdoa, Anda akan merasakan pikiran yang lebih tenang,” tambahnya dikutip news.discovery.com.

Sebuah studi di kutip Journal of Affective Disorders, dikutip dari laman Daily Mail, Ahad (19/05/2013), mengatakan, beriman pada sesuatu yang lebih baik ditemukan dapat meningkatkan pengobatan seseorang secara signifikan bagi orang yang menderita penyakit jiwa.

David B. Larson dan timnya dari The American National Health Research Center, pernah membandingkan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama. Hasilnya, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60 persen lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100 persen lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7 : 1 di antara para perokok.

Dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran pernah melaporkan, orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang taat beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66 persen lebih tinggi daripada mereka yang beragama.

Penelitian yang dilakukan oleh Hayward, menemukan adanya perkembangan hippocampus mereka selama 28 tahun. Hippocampus adalah bagian otak yang memperbesar peluang depresi serta Alzheimer di usia tua. Penelitian ini sekaligus menunjukkan orang yang menjalani kehidupan beragama, cenderung akan memiliki ukuran hippocampus yang lebih kecil dari yang tidak (orang Atheis).

Bagi umat Islam, Shalat dianggap sebagai tiangnya agama. Dengan mengingat Allah melalui shalat, bisa menjadikan umatnya keluar dari segala persoalan atau masalah yang dihadapi. Dengan menyandarkan segala pertolongan pada Sang Maha Penolong, segala sesuatu akan mudah.

Karena itu, menjalankan shalat sebenarnya juga berarti membuka jalan bagi datangnya pertolongan Allah.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan kesabaran dan Shalat.” (QS al-Baqarah [2]: 45; lihat pula ayat 153).

Jika shalat dan ibadahnya benar, seorang Muslim seharusnya lebih siap menghadapi hidup dan problematikanya dibanding sebelumnya. Sebab itu sesuai janji Allah sendiri bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenang, tidak mudah stress, depresi dan ujungnya menjadi lebih sehat.

أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.* (QS: al-Ra‘d [13]: 28)].

Nah, jika semua penelitian sudah menunjukkan bahwa dengan banyak ibadah berdampak baik pada kesehatan dan otak Anda, Apa ruginya jika tak mulai rajin beribadah mulai sekarang? *

19.11.14

Tanda Jika Allah Menghendaki Kebaikan Bagi Seorang Hamba

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا
أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ).

(Rasulullah) shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Apabila menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, Allah menyegerakan hukuman bagi (hamba) tersebut di dunia. Akan tetapi, apabila menghendaki keburukan kepada hamba-Nya, Dia menangguhkan dosa (hamba) tersebut hingga Dia membalasnya nanti pada Hari Kiamat.”

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tanda kalau Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya adalah dengan menyegerakan hukuman atas dosa-dosanya ketika di dunia sehingga ia keluar dari dunia tidak ada lagi dosa yang harus ditanggung (hukumannya) pada hari kiamat, karena barangsiapa yang dihisab amalannya di dunia maka akan ringan hisabnya nanti di hari kiamat.

Adapun di antara tanda kalau Allah menghendaki hal yang buruk bagi hamba-Nya adalah bahwa hamba tersebut tidak ditunaikan pembalasan dosa-dosanya di dunia sampai ia datang pada hari kiamat dengan penuh dosa-dosa, kemudian Allah memberikan balasan hukuman padanya. Maka ia diberikan ganjaran yang pantas baginya pada hari kiamat.

Pada hadits ini terdapat anjuran untuk bersabar terhadap musibah-musibah dan untuk ridha dengan ketentuan takdir, karena hal tersebut akan membawa kebaikan bagi hamba.

Faedah Hadits:
  1. Tanda kalau Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, yaitu dengan menyegerakan pelaksanaan hukuman atas dosa-dosa hamba tersebut di dunia.
  2. Tanda kalau Allah menghendaki hal yang jelek bagi hamba-Nya, yaitu dengan ditangguhkannya hukuman atas dosa-dosanya di dunia sampai nanti diberikan hukuman pada hari kiamat.
  3. Kekhawatiran kalau mendapatkan kesehatan terus menerus, menjadi tanda kejelekan.
  4. Peringatan agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah dan berharap (kebaikan) pada-Nya atas apa yang ditentukan oleh-Nya dari adanya hal-hal yang tidak disukai (yang menimpa dirinya).
  5. Bahwa manusia terkadang membenci sesuatu, padahal sesuatu itu lebih baik baginya, dan terkadang mencintai sesuatu, padahal sesuatu itu lebih jelek baginya.
  6. Anjuran untuk bersabar akan musibah-musibah.
[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

Ahok Kafir Harbi! Umat Islam Wajib Tolak Musuh Allah!

Menyedihkan! Umat Islam Indonesia kini berada dalam KRISIS KEIMANAN dan LEMAH PEHAMAHAN AQIDAH. Umat Islam di Indonesia memang hidup di negara yang bukan berlandaskan syariat dalam pemerintahannya. Dalam bermasyarakat, Islam juga memberikan aturan dan batasan pedoman hidup sesuai Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan utama. Terkait hidup bernegara, ada aturan-aturan syariat yang harus dipatuhi dan dikedepankan di atas segalanya.

Umat Islam dibenarkan untuk taat pada pemimpin dan pemerintahan selama tidak berlawanan dengan hukum Allah Ta'ala. Misal, bila seorang pemimpin memberlakukan larangan Shalat Jum’at, dimana mayoritas penduduknya muslim, maka kita umat Islam tidak boleh berdiam diri dan tunduk dengan alasan patuh pada pemerintah. Bila pemerintah mengeluarkan sesuatu kebijakan yang berlawanan dengan hukum Allah Ta'ala, maka umat Islam WAJIB menolak dan mengedepankan untuk taat pada hukum syariat.

Terkait kepemimpinan, ada larangan keras bagi umat Islam menjadikan pemimpin mereka SEORANG KAFIR, karena hal itu berlawanan dengan apa-apa yang telah DINASH-KAN dalam Al-Qur’an. Adapun yang berpendapat bahwa umat Islam harus patuh pada pemimpin meskipun seorang muslim fasiq,dalam hal ini kita harus memahaminya dengan jeli. Yaitu, selama pemimpin fasiq tersebut tidak membuat kebijakan yang MENYERANG SYARIAT ISLAM, maka kita diperbolehkan mengikutinya. Namun jika jelas-jelas kebijakan pemimpin fasiq tersebut MENGINJAK-INJAK SYARIAT ALLAH TA'ALA, maka kita wajib menolak dan tidak rela dengan kepemimpinannya. Bahkan harus DILAWAN jika mampu selama tidak menimbulkan fitnah.

Misalnya, ada pemerintah yang mengeluarkan kebijakan bahwa minum KHAMAR dan MAKAN DAGING BABI diperbolehkan, tentu umat Islam tidak serta merta ‘boleh’ minum khamar dan memakan daging babi DENGAN ALASAN patuh pada pemerintah. Demikian juga bila konstitusi negara tersebut menetapkan bahwa PEMIMPIN BOLEH DARI KALANGAN NON MUSLIM, maka umat Islam juga tidak serta merta ‘boleh’ memilih pemimpin KAFIR dengan alasan PATUH PADA KONSTITUSI negara.

Jika seorang muslim dengan SENGAJA mengambil pemimpinnya dari orang KAFIR dan meninggalkan calon pemimpin dari ORANG-ORANG YANG BERIMAN, maka ia termasuk golongan Al-Munafiquun yang kelak terancam azab dari Allah Ta'ala di hari kebangkitan. Beberapa maksud firman Allah Ta'ala :

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang KAFIR menjadi wali dengan meninggalkan ORANG-ORANG YANG BERIMAN. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” [Aali Imraan: 28]

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” [Aali Imraan: 149–150].

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” [Al-Maidah: 57]

Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang MENGAMBIL ORANG-ORANG KAFIR menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” [An-Nisaa’: 138–139].

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan ORANG-ORANG YANG BERIMAN. Inginkah kamu Mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” [An-Nisa’: 144]

Ayat-ayat di atas sangat jelas dan gamblang menetapkan bahwa umat Islam dilarang keras menjadikan orang KAFIR sebagai pemimpin. Ayat tersebut banyak ditujukan kepada orang-orang bersifat munafiq, yaitu diantaranya kaum yang mengaku Islam namun dengan rela meninggalkan calon pemimpin ORANG-ORANG YANG BERIMAN dan memilih yang KAFIR. Mereka ini jika tidak bertaubat, terancam azab Allah Ta'ala kelak di akhirat.

Persis seperti keadaan saat ini. Banyak orang yang mengaku Islam, namun dengan rela memilih bahkan membabi buta membela orang KAFIR, misal ‘Ahok’ yang jelas-jelas seorang KAFIR HARBI (menampakkan permusuhan dan menyerang Islam). Bila kita lihat maksud ayat di atas, maka kelompok ini jelas-jelas siap untuk mendapat siksa Allah Ta'ala… na’udzubillah min dzalik. Bertaubatlah kaum muslimin dan taat pada Allah Ta'ala.

Ahok adalah seorang KAFIR HARBI dan jelas bukan KAFIR DZIMMI, karena ia terbukti bereaksi terhadap umat dan syariat Islam. Tidak selamanya seorang KAFIR HARBI itu menyerang Islam secara fisik (angkat senjata). Demi kepentingan politiknya, Ahok bermanuver dengan segala cara mendekati elemen Islam yang masih awam dan terombang-ambing ‘KEIMANANNYA’ untuk memuluskan dukungan terhadap dirinya menjadi DKI-1.

Sebagai contoh nyata yang patut kita sesali. Sambutan meriah dilayangkan peserta Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke-19 kepada Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok,yang hadir di lokasi Muktamar di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Jakarta Timur. Peserta Muktamar bernama Irmawati, misalnya, menyebut AHOK LEBIH ISLAMI KETIMBANG BEBERAPA MUSLIM. Ahok, kata peserta asal Aceh itu, adalah pemimpin yang disyaratkan ajaran Islam: jujur, dapat dipercaya, menyampaikan, dan pintar. "Pak Ahok bisa mengaplikasikannya DIBANDING kami yang MUSLIM," ujar Irmawati, seperti dilansir TEMPO.CO, Senin 17 November 2014, yang berjudul: “Pujian ke Ahok: Lebih Islami ketimbang Muslim”.

Ironis, pujian seperti ini justru dilayangkan kepada seorang KAFIR HARBI. Kita saksikan betapa lemahnya iman demi kepentingan duniawi. Belum lagi dukungan dari kelompok liberal dan aliran-aliran sesat lainnya. Mengedepankan hukum konsitusi dan mencampakkan SYARIAT ALLAH TA'ALA, demi kepentingan kelompoknya.

Maksud hadits: "Bersegeralah kalian mengerjakan amal-amal saleh sebelum datang fitnah-fitnah bak gumpalan malam yang gelap pekat, seseorang pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya (tiba-tiba) menjadi kafir, dan di sore hari ia dalam keadaam beriman, di pagi harinya (tiba-tiba) menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan harta duniawi (tak ada nilainya)." [HR Muslim].

Saudara-saudaraku se-Iman, hati-hati dengan kalimat PELECEHAN dan PEMBODOHAN umat dari kelompok munafiqiin yang merusak aqidah umat Islam, seperti : “Lebih baik PRESIDEN KAFIR jujur dan adil dari pada PRESIDEN MUSLIM khianat dan zalim”…Atau “Lebih baik GUBERNUR KAFIR rajin dan pekerja keras dari pada GUBERNUR MUSLIM korup dan malas.”…dan “Lebih Baik MENTERI WANITA PEROKOK BERTATTO TANPA JILBAB tapi tekun dan cerdas dari pada MENTERI WANITA BERJILBAB tapi korup dan culas.”

Seharusnya kita langgengkan kalimat seperti yang dikatakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Syihab: “Lebih baik PRESIDEN MUSLIM jujur dan adil dari pada PRESIDEN KAFIR khianat dan zalim”…atau “Lebih baik GUBERNUR MUSLIM rajin dan pekerja keras dari pada GUBERNUR KAFIR korup dan malas.”…dan “Lebih Baik MENTERI WANITA BERJILBAB BUKAN PEROKOK DAN TANPA TATTO yang tekun dan cerdas dari pada MENTERI WANITA PEROKOK BERTATTO DAN TANPA JILBAB yang korup dan culas.”

Semoga kita umat Islam dapat segera bangkit dari tidur, membuka mata kita dengan jernih, bahwa masalah aqidah tidak bisa dianggap remeh dengan alasan apa pun. Sampai kapan kita akan pingsan dengan bualan dan tipu daya musuh Islam, yang tidak akan senang dengan kejayaan Islam. Walhasil, ulama dan umara harus berhati-hati dalam bersikap dan mengambil langkah, karena kelak akan bertanggung jawab dihadapan Allah Ta'ala atas segala urusan umat Islam yang sedang diacak-acak aqidahnya. Katakan benar jika itu benar! Katakan salah jika itu salah! Berbuatlah untuk mendapat keridhaan Allah Ta'ala. Berbuatlah untuk bekal akhiratmu. Utamakan kepentingan agama Allah Ta'ala dari pada urusan duniamu. …KEHIDUPAN DUNIA ITU TIDAK LAIN HANYALAH KESENANGAN YANG MENIPU (MEMPERDAYAKAN)…[Aali Imran: 185]

Allahumma Arinal Haqqo Haqqon, Warzuqna-Ittiba’ahu.. Wa Arinal Bathila Bahtilan, Warzuqna-Ijtinabahu..

Wallahu A’lam.

Salim Syarief MD
http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2014/11/19/33948/ahok-kafir-harbi-umat-islam-wajib-tolak-musuh-allah/

18.11.14

Indonesia, Negeri yang Ironis (Inilah Indonesia Saat Ini)

Sahabat VOA-Islam...


Indonesia adalah negara muslim terbesar dan terluas serta terbanyak penduduk muslimnya di dunia, namun IRONIS, aneka kebathilan dan kekafiran mendominasi, antara lain:
  1. TAKBIR KELILING di malam Hari Raya untuk agungkan Allah SWT habis-habisan DIKECAM dan DILARANG dengan dalih macetkan Lalu Lintas. Namun Arak-arakan Presiden dan Wakilnya hingga jalan protokol ditutup total, tidak mengapa, bahkan dipuji dan diapresiasi.
  2. QURBAN di Jakarta dilarang karena dianggap mengotori Jakarta, tapi serakan KONDOM bekas Zina di malam Tahun Baru Masehi dan puluhan Ton TUMPUKAN SAMPAH Pesta Rakyat arak Presiden di jalan utama Ibu Kota tidak mengapa dan tidak dianggap mengotori Jakarta.
  3. FPI Menolak Pemimpin Kafir, lalu FPI disebut DISKRIMINASI dan LANGGAR HAM serta INKONSTITUSIONAL, tapi AHOK menggusur Masjid, melarang Qurban dan menolak Busana Muslim di sekolah, tidak disebut Diskriminasi dan pelanggaran HAM, bahkan dinilai Konstitusional.
  4. Seorang MUSLIM tidak boleh jadi Gubernur di BALI yang mayoritas Hindu, dan tidak boleh juga jadi Gubernur di NTT yang mayoritas Nashrani. Tapi orang KAFIR boleh jadi Gubernur di KALBAR dan KALTENG yang warga kedua daerah tersebut mayoritas muslim yaitu lebih dari 70%. Ahok pun ingin jadi Gubernur Jakarta yg mayoritas warganya muslim.
  5. Umat Islam tuntut Tutup TEMPAT MA'SIAT setidaknya di Bulan Ramadhan dan Hari Besar Islam, tapi ditolak dengan dalih Indonesia bukan Negara Islam. Tapi di Bali tiap Hari Raya Nyepi semua Tempat Hiburan dilarang buka, dan PLN harus padam, serta Bandara Internasional harus tutup.
  6. Di Bali Jilbab pun mulai dilarang di sekolah-sekolah negeri di Bali. Tapi Pura Hindu Bali berserakan di daerah-daerah muslim, bahkan di tiap halaman rumah Hindu Bali ada Pura. Dan mereka pun bebas memakai pakaian adat dan ritual mereka
  7. Saat umat Islam menolak pembangunan rumah ibadat umat lain di wilayah muslim langsung dituduh INTOLERANSI. Namun saat pembangunan masjid dilarang di Bali dan NTT serta wilayah nonmuslim lainnya, maka dimaklumi dengan dalih untuk menjaga KEARIFAN LOKAL (Local Wisdom).
  8. Di Indonesia libur HARI AHAD telah memberi Umat Nashrani keleluasaan untuk hidupkan KEBAKTIAN GEREJA dengan pakaian rapih dan wewangian serta tanpa macet di jalan. Sedang Umat Islam dipaksa kerja HARI JUM'AT, sehingga tidak maksimal menghidupkan Jum'at dengan segala Adab dan Sunnahnya, karena mereka lelah, capek, pakaian lecak, berkeringat, bau badan, ngantuk, ditambah macet dan panasnya jalan.
  9. Saat seorang muslim jadi pejabat dituntut habis-habisan untuk bagi-bagi jabatan kepada nonmuslim dengan dalih kemajemukan dan keadilan. Namun saat nonmuslim jadi pejabat, maka dengan leluasa dia bagi-bagi jabatan kepada nonmuslim seenaknya, tanpa peduli dengan asas proporsional.
  10. Pengkhianatan PKI dan Pembangkangan PRRI serta Pemberontakan DI/TII dimuat dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia, tapi pemberontakan dan pengkhianatan PO AN TUI (nama Laskar Cina Indonesia bentukan Penjajah Belanda) terhadap negara RI serta kebiadabannya terhadap Pribumi disembunyikan.
  11. Tabligh akbar dan kegiatan da'wah selalu diawasi aparat, bahkan di daerah banyak yang ditakut-takuti dan dipersulit izinnya, sedang pertunjukkan musik setan dan dangdut koplo bebas tayang tiap saat jika dikehendaki.
  12. Jika seorang muslim sekedar mendukung ISIS langsung dituduh TERORIS, dikejar dan ditangkap, walau tidak melakukan tindakan apa pun. Tapi jika orang Kafir dukung RMS dan OPM tidak dikejar dan ditangkap.
  13. Pembantaian terhadap muslim di Sambas, Sampit, Ambon dan Poso, tidak disebut terorisme, dan pelakunya tidak dikejar serta tidak ditangkap, bahkan hingga saat ini mereka tidak tersentuh hukum sama sekali.
  14. Ketika Osamah mengancam untuk membunuh Obama maka dunia termasuk Indonesia menyebutnya sebagai KEJAHATAN, namun ketika Obama mengancam untuk membunuh Osamah disebut KEBIJAKAN.
  15. Ketika HAMAS lakukan perlawanan membela Islam dan Palestina makan dunia termasuk Liberal Indonesia menyebutnya sebagai TERORIS, namun ketika ISRAEL membombardir dan membantai warga Palestina disebut BELA NEGARA.
  16. Ketika ada pelarangan pembangunan rumah ibadah kafir, apalagi pembunuhan terhadap SEORANG kafir saja di negeri atau wilayah muslim, langsung para pendekar HAM berteriak keras dan menyerang ISLAM, namun sebaliknya ketika ada pembakaran masjid dan pembantaian RIBUAN umat Islam di wilayah kafir, para pendekar HAM bungkam seribu bahasa.
  17. Ketika ada kyai atau da'i seperti AA Gym yang menikah resmi dan berpoligami secara HALAL, semua media Liberal mem-BULly-nya habis-habisan, namun ketika ada Artis yang berzina dan bernarkoba hingga divonis penjara, berbagai media Liberal membelanya habis-habisan, bahkan saat si Artis keluar penjara disambut media dengan gegap gempita bak pahlawan hingga dijadikan pembawa acara unggulan di TV mereka.
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun.

Penulis: Ichsanuddin Noorsy
http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2014/11/18/33929/indonesia-negeri-yang-ironis/

Erdogan: Benua Amerika Ditemukan oleh Umat Islam

Turki ingin bangun masjid di bukit di Kuba, sebagaimana pernah dilihat Christopher Columbus.

Hidayatullah.com–Amerika ditemukan oleh umat Islam, bukan oleh Christopher Columbus, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia bersumpah akan membangun masjid “di bukit” di Kuba jika pemerintah di negara Karibia itu memberikan izin.

Berbicara pada upacara penutupan KTT pertama Pemimpin Muslim Amerika Latin di Istanbul hari Sabtu (15/11/2014), Erdogan juga mengecam kolonialisme, sebelum mengacu pada klaim kontroversialnya tentang penemuan Amerika.

“Pelaut Muslim telah tiba di pantai Amerika pada 1178. Dalam buku hariannya, Christopher Columbus menyebut adanya masjid di atas satu gunung di Kuba,” kata Erdogan, diberitakan Hurriyet Daily News.

Ia mengklaim, buku harian itu merupakan bukti bahwa agama Islam telah menyebar luas ketika penjelajah Eropa pertama kali menemukan Dunia Baru pada tahun 1492.

Dr Youssef Mroueh dari Yayasan As-Sunnah Amerika telah mempublikasikan klaim tentang satu masjid pra-Columbus di Kuba. Pada tahun 1996, ia menulis bahwa “Columbus mengakui dalam surat-suratnya bahwa pada Senin, 21 Oktober 1492 saat kapalnya berlayar dekat Gibara di pantai utara-timur dari Kuba, ia melihat satu masjid di atas gunung yang indah”.

Beberapa cendekiawan Muslim masih mengesampingkan hal ini. Penyampaian yang ada di catatan harian itu masih dipahami sebagai bentuk tonjolan pada puncak gunung yang menyerupai kubah masjid atau menara. Selain itu, reruntuhan pra-Columbus dari struktur Islam tersebut belum ditemukan.

Terlepas dari perdebatan seputar buku harian Columbus tersebut, Erdogan mengisyaratkan, Ankara tertarik untuk membangun sebuah masjid di Kuba. “Sekarang saya akan berbicara dengan saudara saya dari Kuba [mewakili negaranya di KTT], masjid sebagaimana digambarkan itu dapat kami bangun saat ini juga. Cukup berbekal izin dari Kuba [kami yang akan membangunnya],” tambahnya saat pidato pada KTT para pemimpin Islam Amerika Latin itu.

Pada bulan April, Direktorat Jenderal Urusan Agama (Diyanet) Turki mengirim delegasi ke Kuba untuk pengerjaan proyek pembangunan sebuah masjid di Istanbul, dengan meniru apa yang ada di pusat bersejarah Havana. Pemerintah Kuba tidak mengeluarkan pernyataan publik mengenai proyek tersebut.

“Mengubah agama orang secara paksa, dengan pedang, tidak pernah menjadi bagian dari Islam. Agama kita tidak pernah menjadi alat eksploitasi,” kata Erdogan melanjutkan.

“Orang-orang menjajah Amerika untuk emas dan menjajah Afrika untuk berlian, kini melakukan hal itu di Timur Tengah untuk minyak dengan rencana kotor yang sama,” katanya.*

Malaysia Turunkan Harga Minyak, Indonesia Justru Menaikkan BBM

Fadli menduga, dinaikkan harga BBM tidak lebih seperti perilaku anak kecil. Tidak kreatif dalam memberikan solusi

Hidayatullah.com–Kenaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai Senin (17/11/2014) telah memicu antrean di SPBU hampir di berbagai daerah, salah satunya di Jakarta.

Sebagaimana terpantau dari akun twitter resmi Polda Metro Jaya @TMCPoldaMetro, bahkan ada warga di daerah Cikini yang menolak keras dengan membakar ban bekas.

Kenaikkan harga BBM yang mencapai Rp. 2000 ini disesali oleh politisi Gerindra, Fadli Zon. Ia mengatakan, di saat minyak dunia jatuh, mengapa BBM justru dinaikkan.

Menurutnya, dalam sejarah baru kali ini terjadi dan hanya terjadi dalam pemerintahan Indonesia.

“Ini pemerintah pertama dalam sejarah yang menaikkan harga BBM ketika harga minyak dunia jatuh (USD 75). Di APBN dianggarkan USD 105,” demikian kicau Fadli dalam akun twitter @fadlizon beberapa saat diumumkannya kenaikan BBM.

Fadli menduga, bahwa dinaikkan harga BBM ini tidak lebih seperti perilaku anak kecil. Tidak kreatif dalam memberikan solusi terbaik.

Dan bagi pihak-pihak yang menyetujui kenaikkan, serta dengan berbagai macam argumen, Fadli menganggap argumentasi mereka klasik dan dangkal. Bagaikan anak lulusan SD (sekolah dasar).

“Kalau cuma naikkan harga BBM, tak perlu mikir. Anak lulusan SD pun bisa. Tak ada kreatifitas. Argumentasi klasik dan dangkal,” lanjut ia berkicau.

Seharusnya, Fadli memberikan masukkan dalam kicauannya, pemerintah Indonesia dapat mencontoh Negera-negara maju yang menurunkan harga BBM. Bukan justru menaikkannya.

“RRC sudah tujuh kali turunkan harga BBM sejak Juni. AS juga. Malaysia hari ini juga turunkan harga minyaknya. Kenapa justru RI naikkan harga BBM?” tutupnya.*

Beralasan Mencari Teroris, Dua Masjid di Kenya Diserbu Polisi

Hidayatullah.com–Satu orang pria terbunuh dan lebih dari 200 orang ditahan saat polisi Kenya menyerbu dua masjid di kota Mombasa, yang dituduh polisi memiliki keterkaitan dengan Al-Shabab, kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaidah.

Polisi memulai operasinya pagi dini hari Senin (17/11/2014) atas masjid Musa dan Sakinah yang berada di kota pelabuhan itu.

Seorang pemuda berusia 20 tahun ditembak mati polisi saat penyerbuan ke Masjid Musa, setelah dia berusaha melempar sebuah granat ke aparat, kata Kepala Kepolisian Mombasa Geoffrey Mayek.

“Kami memiliki informasi bahwa kelompok itu sedang merencakan sebuah serangan, dan itu mengapa penggerebekan ini dilakukan,” kata Mayek dikutip AFP, seraya menambahkan bahwa 201 orang telah ditangkap, lansir Aljazeera.

Sementara Reuters yang mengutip keterangan para pejabat kepolisian menyebut angka 251 orang yang ditangkap.

Mayek mengatakan ada 8 granat, sebuah pistol, 6 peluru, sejumlah kapak dan belati, serta buku-buku tentang perang ditemukan di kedua masjid tersebut.

Polisi juga mengatakan bahwa mereka menyita sejumlah telepon genggam dan laptop, bersama buku-buku dan video yang mereka sebut berkaitan dengan mendiang pemimpin Al-Qaidah Usamah bin Ladin dan para da’i Kenya yang dituduh menyulut tindak kekerasan.

“Masjid-masjid ini dikenal (sebagai tempat) yang menjadikan para pemuda kami radikal dan merekrut mereka masuk Al-Shabab,” kata Nelson Marwa, komisioner yang bertanggungjawab mengurus wilayah Mombasa, kepada Reuters.

Kegiatan usaha di daerah Majengo, di mana kedua masjid tersebut berada, dikawal ketat polisi bersenjata lengkap yang melakukan patroli atas daerah itu dan juga truk yang melintas.

Penyerbuan atas kedua masjid itu menimbulkan protes warga.

Kelompok pembela HAM mengutuk serangan polisi itu, dengan mengatakan bahwa aparat keamanan menarget Muslim secara tidak adil, menambah ketidakpercayaan warga Muslim kepada pemerintah Kenya –negara mayoritas Kristen– yang selama ini telah mengesampingkan mereka.

“Polisi lagi-lagi menodai masjid dan menjadikannya sebagai kamp kekerasan dan menangkapi banyak orang tak bersalah dan bahkan membunuh satu orang dengan semena-mena,” kata Hussein Khalid direktur Haki Africa, sebuah kelompok peduli HAM lokal, kepada Reuters.

Sejak Kenya ikut ambil bagian memerangi kelompok Al-Shabab di Somalia mulai tahun 2011dan memasuki wilayah negara tetangganya, Kenya mengalami sejumlah serangan bom.*

Kemenag: Antara Alat Negara dan Syiah

Kemenag harus menjadi alat negara yang melindungi umatnya dari ancaman asing yang akan mengancam eksistensi NKRI

Oleh: Kholili Hasib

BEBERAPA hari yang lalu, tepatnya 14 November 2014, ormas Syiah ABI (Ahlul Bait Indonesia) mengadakan Muktamar II, bertempat di Auditorium Prof. Dr. Rasjidi lingkungan Kementrian Agama (Kemenag). Yang patut disayangkan, acara tersebut diadakan di kantor lingkungan Kemenag.

Padahal, Kemenag adalah lembaga pemerintah dan salah satu alat negara yang berkewajiban menjaga hal-hal yang membahayakan NKRI. Selain itu, sebagai alat negara yang mengurus keagamaan, maka wajib hukumnya Kemenag melindungi stabilitas umat mayoritas dari gangguan paham-paham asing yang tidak sesuai nilai-nilai NKRI dan Pancasila.

Pada 21 September 1997, pernah diadakan Seminar Nasional tentang Syiah di Masjid Istiqlal Jakarta. Seminar yang diadakan MUI dan LPPI mengungkap hakikat Syiah itu disambut baik oleh Departemen Agama (sekarang bernama Kemenag). Drs. H. Subagjo, direktur Direktorat Penerangan Agama Islam Departemen Agama hadir dalam seminar tersebut mengaku bahwa Depag cenderung memilih agar Syiah dilarang di Indonesia. Sebagaimana Malaysia dan Brunei Darussalam yang lebih dulu melarang aliran yang dikenal mengajarkan mencela Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam itu.

Sementara, Menteri Agama, yang ketika itu dijabat oleh dr. Tarmizi Taher, juga sepakat bahwa ulama perlu membentengi generasi muda yang agamanya masih kurang dan mudah dirayu hawa nafsu. Menurutnya, berbeda pendapat itu tidak mengganggu ukhuwah (wawancara Majalah Panji Masyarakat 6 Oktober 1997).

Ketika hawa revolusi Syiah di Iran masih hangat, Depag dengan cepat merespon, untuk membendung pengaruhnya sampai ke Indonesia. Pada 5 Desember 1983 Depag mengeluarkan surat edaran bertajuk “Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syih’ah”. surat edaran bernomor D/BA.01/4865/1983 itu ditulis, “Syiah Imamiah tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam sesungguhnya”. Surat edaran tersebut juga menjelaskan sekte-sekte Syiah, termasuk ditulis di salah satu poinnya Syiah ekstrim. Dijelaskan dalam poin enam, bahwa sekte ekstrim ini telah keluar dan menyimpang dari akidah Islam. Kelompok ini disebut al-Ghulat.

Surat edaran Depag tersebut tentunya didasarkan oleh pengamatan dalam konteks keindonesiaan. Berdasarkan itu, dapat diambil kesimpulan, bahwa memang terdapat ekstrimisme Syiah di Indonesia yang mengancam NKRI dengan cita-cita revolusinya sebagaimana di Iran.

Inilah sikap Depag dahulu sebagai peringatan kewaspadaan. Potensi-potensi yang mengancam NKRI segera dipelajari mendalam untuk diambil sikapnya. Pejabat Depag menerima fatwa MUI tentang peringatan kewaspadaan terhadap Syiah. Depag dan MUI juga kompak dengan ormas besar Islam.

Pada tahun itu, gerak ormas-ormas seirama dengan MUI dan Depag. Suasana ukhuwah menjaga NKRI dari pahama yang mengancam sangat dirasakan. Kita lihat misalnya, PBNU pada tahun 1997 menerbitkan surat edaran tentang kewaspadaan terhadap aliran Syiah. Surat edaran bernomor 724/A.II.03/10/1997 menyeru kepada umat nadhliyyin untuk memahami secara jelas perbedaan prinsip antara Ahlus Sunnah dengan aliran Syiah. Atas upaya penolakan-penolakan tersebut, Syiah tiarap. Namun, ‘tidur-nya’ Syiah, bukanlah matinya. Umat Syiah ‘tidur’ untuk melakukan strategi baru.

Kemenag yang memberi izin Munas II ABI yang diadakan di Auditorium Prof. Dr. Rasjidi merupakan kebijakan yang menyakiti Prof. Dr. Rasjidi. Dan tidak patut dilakukan Kemenag. Dalam karyanya berjudul Apa itu Syi’ah, Prof. Rasjidi mengatakan: “Bahwa hak menjadi khalifah atau penguasa terbatas kepada anak cucu Nabi sampai 12 orang, bahwa semuanya itu ma’shum, bahwa mereka mengetahui yang ghaib, semuanya itu adalah akidah yang tidak benar. Bahwa nabi Muhammad Saw telah berwasiat agar nanti jabatannya sebagai kepala negara hendaknya diteruskan oleh Ali adalah asumsi sepihak. Jika asumsi itu benar, niscaya para Sahabat mengetahuinya” (H.M. Rasjidi, Apa itu Syi’ah, hal. 46).

Secara khusus tentang Syiah Imamiyah – yaitu sekte Syiah yang dianut oleh kaum Syiah di Indonesia – Prof. Rasjidi tidak ragu menyatakan bertentangan dengan ajaran Islam. Beliau mengatakan: “Semua itu (Syiah Imamiyah, pen) tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syiah Imamiyah pikiran tidak dapat berkembang ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan imam ada gab atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan tahayyul yang menyimpang dari ajaran Islam” (Apa itu Syiah, hal. 55). Menurut Prof. Rasjidi, umat Islam Indonesia adalah dari golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang memiliki pandangan berbeda dengan aliran Syiah.

Siapa Prof. Rasjidi? Beliau salah satu orang penting dalam sejarah Indonesia dan kementrian agama. Prof. Rasjidi adalah Menteri Agama pertama Indonesia pada Kabinet Sjahrir I dan Kabinet Sjahrir II. Ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain. Ia juga pernah aktif sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Dosen tamu di McGill University Canada. Sumbangsih jasa-jasa Prof. Rasjidi buat negara ini tidak ternilai harganya.

Ia juga seorang yang memiliki prestasi akademik membanggakan negeri. Beliaulah Sarjana Cairo pertama dari Mahasiswa Indonesia dengan Nilai Mumtaz (cumlaude) ini dalam hidupnya sangat sederhana, jujur dan amanah.

Kemenang harusnya lebih paham tentang kewaspadaan ini. Jika pada tahun 80-an banyak dijumpai aksi-aksi radikalisme Syiah terutama dilakukan oleh pemudanya. Maka, kini Syiah memakai pendekatan lobi-lobi politik secara halus. Pada tahun 1980 Ayatullah Khomeini pernah berpidato dengan menekankan agar pemimpin negara-negara Muslim mengadakan revolusi seperti yang ia lakukan menggulingkan Syah Reza.

Syiah Indonesia sudah pasti berkiblat ke Iran. Ribuan pelajar sedang belajar di pusat-pusat studi di Iran. Nasionalisme kaum Syiah juga diperkirakan hanyalah nasionalisme pura-pura. Mereka lebih taat marja’ Syiah Iran dari pada Pancasila. Ingatlah kejadian-kajian kerusuhan sosial di Madura dan Jember beberapa waktu lalu. Pemicunya adalah kaum Syiah. Kemenag harus menjadi alat negara yang melindungi umatnya dari ancaman konspirasi halus paham asing yang akan mengancam eksistensi NKRI.*

Penulis adalah anggota MIUMI Jawa Timur, penulis buku ‘Menghadang Ekspansi Syiah di Nusantara

16.11.14

Dukung Syiah, Kemenag Dinilai Legalkan Aliran Sesat

Muktamar organisasi Syiah dengan menggunakan fasilitas Kemenag adalah bagian dari legitimasi ajaran sesat Syiah, sebagaimana difatwakan MUI 

Hidayatullah.com—Kepala Litbang dan Diklat Kemenag RI Prof. H. Abd. Rahman Mas’ud, Ph.D, Abdurahman Mas’ud mengatakan bahwa Syiah bukanlah sebuah perbedaan yang harus dipertentangkan.

Pernyataan ini ia sampaikan saat menjadi pembicara di acara Muktamar II Ahlu Bait Indonesia (ABI) dan Seminar yang diadakan di Auditorium KH. M. Rasjidi lingkungan Kemenag RI, Thamrin, Jakarta.

Lebih jauh ia bahkan mengatakan bahwa masyarakat mengenal Syiah tidak mendalam.

“Masyarakat kurang memahami ajaran Syiah,” ujarnya di acara organisasi Syiah tersebut.

Profesor yang mengakui hobi makan di restoran Iran ini pun memberikan masukan agar saling belajar, agar tidak terjadinya gesekan antara satu dengan yang lainnya. Sebab, menurutnya, pemerintah melihat Syiah tetaplah sama sebagai umat Islam.

“Untuk saling belajar bukan bergesekan. Maka dari itu pemerintah pun netral melihat ini,” tambahnya sebagaimana yang diperlihatkan melalui slide.

Sementara Sekjen ABI, Ahmad Hidayat menyatakan penyelenggaraan acara di Kemenag sebagai pesan Syiah diakusi.

“Kita ingin menyampaikan dan memberi pesan bahwa dengan pembukaan muktamar ke-2 ormas Ahlulbait Indonesia di kantor Kementerian Agama dan dibuka dengan sambutan dari menteri agama, hal itu untuk memberi pesan bahwa keberadaan masyarakat muslim Syiah adalah bagian yang tidak terpisahkan dan Muslim, ujar Ahmad kepada wartawan.

Legalkan Aliran Sesat

Sementara itu, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUI) mengatakan, Muktamar ABI Ke-II di atas, dengan menggunakan fasilitas Kemenag adalah bagian dari legitimasi ajaran sesat Syiah, sebagaimana telah difatwakan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Kita tau, KH. M. Rasjidi adalah seorang ulama besar Indonesia yang telah lebih dulu menyadarkan umat akan kesesatan Syiah dengan bukunya yang terkenal, “Apa itu Syiah”. Karena itu, gedung yang dipakai ABI dengan menggunakan nama KH. M. Rasjidi sangat tidak rasional. Selain itu, acara di atas sangat tidak lpatut disenggarakan selain bertentangan dengan Edaran Depag di atas, juga bertentangan dengan fatwa MUI Jatim, No.Kep-01/SKF-MUI/JTM/1/2/2012,” ujar MIUMI dalam rilisnya hari Jumat.

Sebagai tanggung jawab akidah, MUI Pusat tahun 2013 menerbitkan buku penyimpangan Syiah dengan judul engeluarkan buku panduan berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”

Acara ormas Syiah ini dihadiri kurang lebih 200 ratusan jamaah utusan se Indonesia, hadir diantaranya Dr Umar Shihab, dari Profesor Dr Quraisy Shihab, Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Ketua BNPT yang baru, sedang Ketua MUI Pusat Dr Din Syamsuddin dan Menteri Agama yang dijadwalkan hadir berhalangan datang.*