27.7.19

Menimba Pelajaran dari Revolusi Arab

MENIMBA PELAJARAN DARI REVOLUSI ARAB

Oleh: Ustadz Anas Burhanudin, MA

APA ITU REVOLUSI ARAB?
Revolusi Arab yang juga dikenal sebagai Arab Spring[1] adalah gerakan protes besar-besaran yang mulai terjadi di berbagai negara Arab pada akhir tahun 2010. Pemicunya adalah maraknya KKN, kezhaliman penguasa, krisis ekonomi, kehidupan yang susah dan pemilu yang dinilai tidak bersih. Gerakan ini telah berhasil menggulingkan empat rezim pemerintahan; yaitu di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. Gerakan ini juga merembet ke banyak negara lain dan sebagian masih bergejolak hingga hari ini.

Sebagian gerakan ini berubah menjadi revolusi bersenjata yang menelan banyak korban jiwa. Di Libya saja, lebih dari 50.000 nyawa melayang. Sampai Juni 2013, jumlah korban jiwa yang tercatat dalam konflik Suriah sudah di atas 70.000. Korban luka, kerugian materi dan non materi juga sangat banyak bahkan tidak bisa dihitung lagi. Saat Libya masih bergolak, kerugian material atas rusaknya fasilitas dan infrastruktur umum diperkirakan mencapai lebih dari 240 milyar dollar. Sementara saat ini beberapa negara masih bergejolak. Suriah masih membara dan Mesir kembali memanas.[2]

Luasnya cakupan dan dampak gerakan ini ditambah besarnya perhatian dunia kepadanya membuat revolusi ini menjadi salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah modern. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik darinya, sebagaimana kisah sejarah umat-umat terdahulu. Tentang kisah Nabi Yûsuf Alaihissallam misalnya, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Dalam kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” [Yûsuf /12:111]

DI ANTARA PELAJARAN YANG BISA DIPETIK DARI REVOLUSI ARAB ADALAH:

Pertama: Kebenaran sabda-sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits-hadits ini telah diucapkan belasan abad yang lalu dan perjalanan sejarah hingga kini membuktikan bahwa ucapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan wahyu ilahi. Coba simak beberapa hadits berikut:

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

"Sepeninggalku akan ada pemimpin-pemimpin yang tidak mengikuti petunjuk dan sunnahku. Dan akan memerintah orang-orang yang berhati setan dan bertubuh manusia.” Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, “Saya bertanya, “ Apa yang harus saya lakukan jika saya mendapati hal itu wahai Rasûlullâh?” Beliau menjawab, “Engkau harus tetap taat dan patuh meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil. Dengar dan taati mereka!”". [HR Muslim no. 1847]

إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ

"Sungguh sepeninggalku nanti kalian akan menemui pemimpin-pemimpin yang mementingkan diri mereka sendiri, maka sabarlah sampai kalian berjumpa denganku di telaga." [HR Al-Bukhâri, no. 2377 dan Muslim, no. 1061]

Di zaman ini, sangat mudah mendapati pemimpin yang memiliki sifat demikian. Sebagian pemimpin Arab juga demikian. Namun untuk pemimpin berhati setan sekalipun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan agar umat Islam bersabar menghadapi mereka. Itulah jalan keselamatan yang telah beliau tunjukkan, namun diabaikan oleh banyak orang. Adakah perumpamaan yang lebih dalam lagi dari berhati setan?

Kedua: Dampak Buruk Korupsi dan Kezhaliman.
Korupsi dan kezhaliman telah menyebabkan rakyat hidup miskin dan susah. Saat kesabaran mereka habis, terjadilah revolusi ini. Dampak buruk kezhalimanpun menjadi senjata makan tuan. Para penguasa kehilangan jabatan dan kemewahan mereka yang selama ini membelai mereka. Itu semua adalah akibat buruk dosa yang Allâh Azza wa Jalla segerakan di dunia. Pertanggungjawaban di akhirat jelas akan lebih sulit. Bayangkan jika jutaan rakyat yang dizhalimi menuntut keadilan di pengadilan Allâh Azza wa Jalla?

Ketiga: Raja Dunia Berubah Menjadi Pesakitan.
Revolusi Arab telah merubah kehidupan orang dengan begitu drastis. Para tiran yang sebelumnya memiliki kekuasaan begitu absolut, tiba-tiba berubah menjadi buron atau pesakitan. Ada yang diseret ke pengadilan dalam keadaan sakit. Ada yang disiksa oleh rakyatnya sendiri sebelum akhirnya dibunuh. Kawan-kawan terdekat tiba-tiba menjadi musuh yang menikam. Demikianlah Allâh Azza wa Jalla dengan mudah membolak-balikkan keadaan hamba-Nya. Orang yang nampak kuat di mata manusia ternyata begitu lemah di sisinya.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah, “Wahai Allâh Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.Di tangan Engkaulah segala kebajikan.Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Ali Imrân/3:26]

Begitu juga dengan diri kita, kita juga tidak aman dari musibah-musibah seperti ini. Juga tidak ada jaminan bahwa kita akan terus berada di atas jalan iman dan sunnah. Alangkah butuhnya kita akan bimbingan dan perlindungan Allâh Azza wa Jalla. Salah satu doa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجْأَةِ نِقْمَتِكَ وجَمِيْعِ سَخَطِكَ

"Ya Allâh, aku berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmatMu, berubahnya keselamatan yang Engkau berikan, hukumanMu yang tiba-tiba dan seluruh murkaMu.” [Shahih Sunan Abi Dawud no. 1382]

Keempat: Sistem Kerajaan (Monarki) Lebih Stabil dari Sistem Presidensial.
Semua Negara yang bersistem kerajaan sejauh ini berhasil meredam gelombang revolusi, yaitu delapan Negara dari total 22 anggota Liga Arab: Arab Saudi, Oman, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Jordania dan Maroko. Sedangkan pemerintahan yang berhasil digulingkan, semua bersistem Presidensial.

Kelima: Kudeta Biasanya Membawa Kerusakan Lebih Besar daripada Kerusakan yang Ingin Dihilangkan.
Dalam Revolusi Arab, korban yang luar biasa besar sudah jatuh. Kerugiannya tidak bisa dihitung lagi. Keamanan berganti menjadi rasa takut dan kekacauan. Sementara kebaikan yang diharapkan belum tentu terwujud. Korupsi tetap jalan, yang berubah hanya pelakunya. Kezhaliman masih merajalela dan ekonomi justru semakin terpuruk. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Barangkali hampir tidak diketahui ada sekelompok orang yang melakukan kudeta terhadap pemimpin, melainkan dalam kudeta tersebut terdapat kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang ingin dihilangkan.”[3]

Keberhasilan kudeta membuat rakyat tidak lagi hormat kepada penguasa. Jika sudah demikian, tinggal kekacauan yang ditunggu.

Keenam: Demonstrasi Damai Berubah Menjadi Kekacauan Bahkan Pertumpahan Darah.
Sebab para demonstran belum tentu satu tujuan, dan tidak memiliki satu komando. Mereka juga tidak bisa menolak orang lain yang hendak bergabung, dan bahkan mungkin tidak saling mengenal satu sama lain. Dalam kondisi seperti ini, provokator sangat mudah menyusup untuk menyulut fitnah. Apalagi jika mereka keluar dengan emosi lalu mendapat perlakuan dan sikap yang tak sesuai keinginan, maka bukan saja kekacauan yang terjadi, namun perang saudara dan pertumpahan darah.[4] Apa yang terjadi dalam revolusi Arab adalah bukti paling aktual akan hal ini. Semua kekacauan dan pertumpahan darah yang terjadi berawal dari aksi damai.

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Kamu hendaknya mengikuti para salaf. Kalau memang demonstrasi ada di zaman salaf, berarti baik. Namun jika tidak ada di zaman mereka, berarti jelek. Tidak diragukan sedikitpun bahwa demonstrasi itu jelek, sebab ia menimbulkan kekacauan, baik dari pihak demonstran maupun yang lain. Bahkan terkadang menimbulkan tindak aniaya terhadap kehormatan, harta benda, dan jiwa. Karena mereka yang tenggelam dalam kekacauan tadi, seperti pemabuk yang tidak sadar terhadap ucapan dan perbuatannya. Jadi, demonstrasi itu jelek semua, baik diizinkan oleh penguasa maupun tidak. Adanya sebagian penguasa yang mengizinkan demonstrasi sebenarnya hanyalah basa-basi, sebab jika hati kecilnya ditanya ia pasti sangat membencinya. Namun ia berusaha menampakkan dirinya sebagai orang yang ‘demokrat’, dan memberi kebebasan bagi rakyat… ini semuanya bukanlah sikap para salaf”.[5]

Ketujuh: Sunnah Sayyi`ah Muhammad al-Bou’azizi.
Pemicu revolusi Arab adalah tindakan bakar diri yang dilakukan oleh pemuda Tunisia bernama Muhammad al-Bou’azizi yang tertekan oleh kehidupannya yang sulit. Saat polisi merazia dan mengambil gerobak yang dipakainya berdagang, ia membakar diri. Aksi ini membakar semangat warga Tunisia untuk mendukungnya dan melakukan demo besar-besaran menuntut reformasi dan berhasil menggulingkan pemerintahan Zainal Abidin bin Ali. Keberhasilan warga Tunis memicu revolusi di Mesir, lalu Libya, Yaman dan Negara-negara lain.

Mungkin al-Bou’azizi tidak pernah menyangka bahwa aksi spontannya akan berdampak sedemikian besar. Dia dikhawatirkan akan menghadapi pertanggungjawaban besar di hadapan Allâh Azza wa Jalla; karena memelopori kerusakan sedemikian luas. Demikian juga para pelopor revolusi di setiap Negara, seperti Wa`il Ghanim di Mesir.

Kedelapan: Revolusi Digerakkan oleh Anak Muda.
Seperti umumnya gerakan revolusi, Revolusi Arab juga digerakkan oleh anak-anak muda salah asuhan. Mereka dengan semangat menyala-nyala yang tidak diimbangi dengan ilmu yang cukup. Akibatnya adalah berbagai kerusakan yang sudah disebutkan. Karakter seperti ini mirip dengan kelompok yang disinggung oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salla:

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ، حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ البَرِيَّةِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ

Di akhir zaman akan datang suatu kaum yang masih muda, lemah akal, dan mengucapkan perkataan yang terbaik.Mereka terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari binatang buruan dan iman mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Di manapun kalian bertemu mereka, perangilah; karena itu berpahala bagi pelakunya pada hari kiamat. [6]

Kesembilan: Pemerintah Adalah Cermin Rakyat
Rakyat yang baik akan melahirkan pemimpin yang baik, dan sebaliknya, pemimpin yang buruk adalah cermin dari keburukan rakyatnya. Jika demikian, hendaknya rakyat tidak hanya menyalahkan pemimpin, tapi juga memperbaiki diri. Jika pemimpin yang adil tidak bisa dihasilkan jika rakyat masih zhalim, hendaknya usaha membangun pemerintahan yang Islami dimulai dengan mendakwahi rakyat.

Kesepuluh: Jangan Hadapi Kezhaliman Penguasa dengan Pedang
Al-Hasan al-Bashri berkata, “Ketahuilah –Semoga Allâh Menyelamatkanmu- bahwa kezhaliman penguasa adalah salah satu hukuman dari Allâh, dan hukuman Allâh tidak boleh dilawan dengan pedang, melainkan dihindarkan dengan doa, taubat dan meninggalkan dosa. Jika hukuman Allâh bertemu pedang, hukuman Allâh yang akan menang.”

Kesebelas: Bid’ah yang Samar Menjadi Jelas.
Ada sebagian bid’ah yang tidak nampak kecuali pada zaman fitnah. Sebelum terjadinya Perang Teluk di tahun 1991, pemuda-pemuda pengusung pemikiran sururi adalah para juru dakwah yang direkomendasikan oleh para ulama senior. Bahkan kesamaran akan perkara mereka juga terjadi pada para ulama besar. Orang yang awam tentu lebih sulit mendeteksi penyimpangan mereka. Namun fitnah Perang Teluk menyibak tabir hakekat mereka.

Demikian pula, banyak orang yang menisbatkan diri kepada manhaj salaf dan berpenampilan sesuai sunnah. Namun pada hakekatnya mereka menyimpan pemikiran yang menyimpang. Revolusi Arab telah menyibak tabir hakekat mereka. Gelombang revolusi membuat mereka terseret ikut mencaci pemerintah di atas mimbar dan berunjuk rasa di jalan dan lapangan. Oo, anda ketahuan! Posisi mereka sungguh jauh dari manhaj ahlussunnah dalam bab ini.

Yang menggelikan, bagi sebagian orang, kesesatan Hizbullah dan al-Buthi baru mereka sadari dengan adanya Revolusi Arab. Walhamdulillah ‘ala kulli hal.

Kedua Belas: Kontradiksi Kaum Haraki
Saat sebagian Ulama memfatwakan bolehnya mendatangkan bala bantuan dari Negara kafir dalam Perang Teluk, mereka dicela habis oleh kaum haraki. Namun di revolusi Arab ini, giliran mereka yang jatuh dalam perkara yang mereka caci. Revolusi di Libya –misalnya– sangat jelas dibantu oleh NATO, Prancis dan Mahkamah Pidana Internasional. Herannya, kali ini nyaris tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Apakah isti’anah bil kuffar haram bagi Arab Saudi dan halal untuk kalian?

Kudeta yang dilakukan militer terhadap Mursi di Mesir dianggap batil, sementara kudeta yang mereka lakukan terhadap Husni Mubarak dianggap sah. Bedanya apa? Karena Mursi adalah bagian dari jama’ah anda.

Ketiga Belas: Anomali Arab Saudi dan Aljazair.
Dalam revolusi Arab ini terjadi pengecualian di beberapa Negara, di antaranya Arab Saudi dan Aljazair. Saat kawasan Timur Tengah dilanda gelombang kudeta, Arab Saudi relatif adem ayem. Hanya ada riak-riak kecil di kota-kota Syiah yang bisa dengan mudah dikontrol. Ketika ‘ulama’ di negara-negara tetangga ikut mengompori revolusi, para ulama dan juru dakwah di Saudi membela dan menjelaskan hak besar Raja Abdullah atas rakyatnya. Dalam khutbah Jumat selalu terselip doa kebaikan untuk Sang Raja yang diamini oleh jutaan rakyatnya plus jutaan orang asing yang mengais rejeki di negeri penegak bendera tauhid ini. Begitulah jika ilmu dan sunnah menyinari suatu negeri. Hanya orang bodoh yang ingin mengganti kemakmuran dan keamanan negeri ini dengan prahara. Kondisi Negara-negara yang ‘berhasil’ dalam revolusi sungguh tidak pantas untuk dijadikan sasaran iri hati.

Revolusi juga tidak laku di Aljazair. Aljazair telah mengalami berbagai gejolak beberapa waktu yang lalu. Pegalaman pahit mengalami gejolak itu ditambah suburnya dakwah sunnah di negeri ini telah membuat rakyat Aljazair lebih dewasa . Ajakan melakukan aksi protes besar-besaranpun tidak berhasil.

Keempat Belas: Sejarah Terulang, Syariat Islam Tidak Bisa Dibangun dengan Jalan Demokrasi.
Apa yang terjadi di Mesir akhir-akhir ini, di mana militer membatalkan pemerintahan presiden Mursi sangat mirip dengan yang terjadi di Aljazair pada tahun 1992. Partai a-Ikhwan al-Muslimin (FJP) unggul dalam pemilu Mesir dengan 48 % suara. Selanjutnya Muhammad Mursi terpilih menjadi presiden. Setelah setahun memerintah, banyak pihak yang menuntutnya mundur, dan kemudian militer mengumumkan peralihan kekuasaan dari tangan Mursi. Pada tahun 1991,bahkan Partai FIS (Front Islamique du Salut/Front Penyelamatan Islam) memenangkan pemilu Aljazair dengan 82 % suara. Namun sebulan berselang, Majlis Tertinggi Negara yang dikuasai oleh militer mengumumkan pembatalan hasil pemilu yang diikuti pemberlakuan keadaan darurat dan pembubaran FIS. Dalihnya sama, yaitu penyelamatan demokrasi dari upaya islamisasi.

Perlawanan terhadap keputusan militer Aljazair menyeret rakyat ke dalam fitnah berkepanjangan yang menelan korban jiwa lebih dari 200.000 orang. Demikian juga kemenangan Partai Refah di Turki dalam pemilu 1995 tidak lantas membuat Islam tegak di sana.

Dalam sejarah modern, hanya Arab Saudi yang berhasil mendirikan Negara dan pemerintahan Islam. Usaha tak kenal lelah oleh para juru dakwah yang dipelopori Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab akhirnya mendapat dukungan dari Raja Muhammad bin Saud. Dengan taufik dari Allâh, sinergi ulama dan umara ini berhasil mendirikan negara yang konsisten menjadikan Islam sebagai dasar Negara hingga saat ini.

Naiknya seorang pemimpin dan kedaulatan yang sudah di tangan ternyata tidak berarti apa-apa dalam upaya penegakan Islam. Apalagi jika itu didahului dengan kudeta yang merupakan pelanggaran agama.

Berkompromi dengan demokrasi semestinya dilakukan untuk mengecilkan kerusakan saja. Membentuk partai dan masuk dalam pemilu semestinya tidak dijadikan sarana utama. Sarana penegakan Islam adalah dakwah dengan tauhid sebagai prioritasnya. Sayangnya mereka yang memilih jalur politik sebagai medan juang justru lebih asyik dengan dunia politik dan sedikit banyak mengabaikan dakwah. Bahkan mereka yang ingin memperbaiki keadaan justru sebagian ikut terseret dalam arus kerusakan. Bahkan sebagian mengorbankan akidahnya demi memperoleh suara dukungan. Padahal, rakyat yang buruk tidak akan menghasilkan pemimpin yang baik. Kemenangan dan kekuasaan tanpa perbaikan agama rakyat hanyalah fatamorgana.

PENUTUP
Itulah beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari Revolusi Arab. Peristiwa yang dialami negara-negara Arab ini adalah cermin bagi umat Islam yang lain. Hendaknya kita menjadikannya sebagai pelajaran agar kita selamat di dunia dan akhirat. Orang bijak mengatakan,

السَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ

Orang berbahagia adalah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain.”[7]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Media barat menggambarkan revolusi ini sebagai musim semi yang indah, padahal isinya adalah kekacauan dan pertumpahan darah. Barangkali penamaan itu memang mencerminkan perasaan mereka. Mereka bertepuk tangan menyemangati umat Islam untuk saling tikam, sementara mereka hidup dengan tenang di negeri mereka. Adapun bagi umat Islam, revolusi ini bukanlah musim semi. Tidak pula memberi harapan datangnya musim semi; karena dalam sejarahnya kudeta hanya mendatangkan kerusakan yang lebih besar.
[2] Lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/ الثورات العربية
[3] Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 3/391.
[4] Artikel “Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah” 3 (http://basweidan.com)
[5] Lihat: Liqa` al-Bâb al-Maftuh, no 179.
[6] Shahîh al-Bukhâri no. 3611
[7] Tafsir al-Qurthubi 18/5.

Read more https://almanhaj.or.id/6113-menimba-pelajaran-dari-revolusi-arab.html