31.8.14

6 Persoalan Hidup Menurut Al-Ghazali

Oleh: Yurizal

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu ia bertanya kepada mereka, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi menurut Imam Ghozali yang paling dekat dengan manusia adalah “mati”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Lihat QS. Ali Imran ayat 185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?” Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?” Ada yang menjawab dengan jawaban, baja, besi, dan gajah. “Semua jawaban hampir benar,” kata Imam Ghozali, “tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 72.

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?” Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.

Lantas pertanyaan ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?” Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

yurizal@tm.net.my

Jubir HTI: Walisongo itu Utusan Khilafah

JAKARTA (voa-islam.com) - Hizbut Tahrir yang secara konsisten menyeru dan membina masyarakat agar turut memperjuangkan khilafah, dengan tegas malah menolak pendeklarasian khilafah oleh ISIS. Mengapa? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto. Berikut petikannya.

Bagaimana Hizbut Tahrir melihat pendeklarasian khilafah oleh ISIS?

Sikap Hizbut Tahrir sangatlah jelas. Intinya, HT menolak keabsahan kekhalifahan yang dideklarasikan oleh ISIS dengan khalifahnya bernama Abu Bakar Al Baghdadi, karena tidak memenuhi empat syarat sekaligus.
Yakni,
  • Pertama, khilafah semestinya menguasai satu wilayah otonom, bukan berada di bawah sebuah negara.
  • Kedua, semestinya khilafah mengontrol penuh keamanan dan rasa aman di wilayah itu.
  • Ketiga, khilafah semestinya mampu menerapkan syariah Islam secara adil dan menyeluruh (kaffah).
  • Keempat, pengangkatan khalifah semestinya memenuhi seluruh syarat-syarat pengangkatan (surutul in’iqadz), yaitu Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu, serta ia dibaiat dengan prinsip ridha wal ikhtiyar (kerelaan dan pilihan) oleh umat Islam di wilayah itu setelah opini tentang khilafah berkembang dan menjadi kesadaran umum di tengah masyarakat. Kenyataannya, semuanya tak terpenuhi.
Lagi pula, metode perjuangan yang digunakan ISIS tidaklah sesuai dengan metode Rasulullah SAW. Rasulullah SAW tidak menempuh jalan kekerasan, apalagi menghancurkan tempat ibadah, melakukan pembunuhan tanpa haq dan sebagainya.

Jadi, pasca deklarasi, ISIS sesungguhnya tetaplah sebagai milisi bersenjata, bukan khilafah. Haruslah diingat, bahwa khilafah adalah negara yang punya bobot, proklamasinya akan menjadi peristiwa yang hebat dan mengguncang dunia. Bukan seperti sekarang, yang justru menjadi bahan cemoohan di mana-mana.

Setelah meledaknya soal ISIS, apakah terlihat ada upaya monsterisasi istilah “khilafah” dengan mengaitkannya dengan ISIS?

Ada. Yakni dimanfaatkannya pemberitaan soal ISIS ini untuk menciptakan stigmatisasi negatif, terorisasi, dan kriminalisasi terhadap simbol dan istilah-istilah Islam seperti syariah dan khilafah. Tanda-tanda tanda-tanda ke arah sana sudah ada.

Mengapa monsterisasi istilah “khilafah” bisa terjadi di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini?


Betul, Indonesia adalah mayoritas Muslim. Bahkan disebut-sebut sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Justru karena itulah banyak pihak yang tidak menghendaki umat Islam di negeri ini bangkit. Sebab, bila itu terjadi tentu akan sangat berpengaruh terhadap konstelasi politik dunia, khususnya di dunia Islam.

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah hal itu terjadi. Di antaranya dengan memunculkan kesan buruk dan menakutkan terhadap sejumlah ajaran kunci dalam Islam: syariah dan khilafah. Di situlah terjadi monsterisasi atau kriminalisasi istilah khilafah. Harapannya, bila orang-orang takut dan punya kesan buruk, maka dengan mudah didorong untuk menjauhi dan menolak ajaran Islam yang sesungguhnya sangat mulia itu.

Oleh karena itu, kita harus waspada jangan sampai isu ISIS dijadikan alat untuk menjauhkan Islam dari umat Islam. Juga jangan sampai penolakan terhadap ISIS, berkembang menjadi penolakan terhadap ide khilafah. Harus dibedakan antara tindak kekerasan ISIS dengan ide khilafah sebagai gagasan yang berasal dari Islam.

Bagaimana peran khilafah dalam penyebaran Islam di Indonesia?

Bisa dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peran khilafah. Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin to mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?
Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.
Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara.

Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 7 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).

Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.

Apakah khilafah perlu ditegakkan lagi dalam kondisi kekinian?

Iya, harus. Kita tahu, sejak runtuhnya khilafah Islam pada 3 Maret 1924 M, 92 tahun lalu, umat Islam kehilangan institusi pemersatu umat, penegak syariah dan pelaksana dakwah. Wilayah dunia Islam yang semula sangat luas kemudian dikerat-kerat oleh negara kafir penjajah menjadi negara kecil-kecil yang berdiri atas dasar nasionalisme. Harkat martabat umat dilecehkan, darah umat ditumpahkan, dan pemikiran umat disimpangkan.

Pendek kata, tanpa khilafah, umat mengalami keterpurukan yang luar biasa, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Benarlah, ketika para ulama menyebut tiadanya khilafah itu sebagai ummul jarâim atau pangkal timbulnya aneka penderitaan, keburukan dan kejahatan.

Maka, menegakkan khilafah merupakan kewajiban besar bagi seluruh umat Islam untuk tegakknya kembali izzul Islam wal Muslimin. Para ulama menyebut sebagai min a’dhamil wajibaat. Oleh karena itu, wajib pula bagi kita semua untuk mengerahkan segenap daya dan upaya guna mewujudkan cita-cita mulia ini. Inilah al-qadhiyyatul Muslimin al-mashîriyyah, atau persoalan utama umat Islam di seluruh dunia yang sesungguhnya.

Bagaimana metode penegakan kembali khilafah yang sesuai dengan contoh Nabi?

Ringkasnya, penegakan kembali khilafah sesuai yang dicontohkan Nabi diawali dengan kegiatan pembinaan dan pengkaderan. Ini tahap pertama, yang disebut marhalah tatsqif wa takwin.

Selanjutnya tahap interaksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah) dan perjuangan politik (kifahus-siyasi) melalu usaha pembentukan opini dan kesadaran umat yang dilakukan secara langsung melalui seminar, diskusi, tabligh akbar dan lainnya, ataupun secara tidak langsung melalui media cetak, elektronik maupun online, serta usaha diraihnya dukungan tokoh umat dari kalangan ahlul quwwah melalui kontak dan pendekatan intensif hingga tercapai tahap istilamul hukmi (penyerahterimaan kekuasaan)

Pengirim: Syahrizal Musa - See more at: http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2014/08/31/32582/muhammad-ismail-yusanto-jubir-hti-walisongo-itu-utusan-khilafah/#sthash.WWrtrk1U.dpuf

Syeikh Siti Jenar, Pemutarbalikan Sejarah, Perjalanan Hidup & Ajarannya

Syekh Siti Jenar adalah sosok yang misterius sekaligus kontroversial. Betapa tidak, eksis atau tidaknya di panggung sejarah masih menjadi perdebatan para pakar. Apalagi terkait statusnya yang dilabelkan kepadanya sebagai tokoh pencetus ajaran Manunggaling Kawulo Gusti di tanah jawa. Meskipun juga diragukan apakah Syekh Siti Jenar yang menyebarkannya, yang jelas ajaran itu sendiri telah berkembang dan banyak dianut hingga sekarang.

Nama Syekh Siti Jenar memang terdokumentasi di dalam sejumlah literatur kuno, seperti naskah babad, kropak atau serat. Namun, validitasnya sebagai sumber sejarah dipertanyakan. Karena mesti dipilah-pilah mana yang merupakan fakta riil dan mana yang hanya mitos. Bahkan, berdasarkan hasil risetnya, penulis buku ini telah menyimpulkan adanya distorsi sejarah dan ajaran Syekh Siti Jenar.

Buku ini mencoba untuk menguaknya apakah Syekh Siti Jenar itu ada atau tidak dan sejauh mana kesesatan ajarannya. Keseriusan penulis untuk melakukan studi literatur dan turun ke lapangan pun membuahkan kedalaman analisis. Bukan hanya sebatas deskripsi historis, penulis juga menyajikan kajian yang bersifat normatif-syar’i terkait ajaran yang disandarkan kepada Syekh Siti Jenar. Keberanian penulis untuk mengkritis sosok sekaliber Prof. Dr. Munir Mulkhan, sekaligus menjadikan buku ini sebagai bantahan ‘resmi’ layaka mendapatkan apresiasi tersendiri.

ENSIKLOPEDI SYIRIK DAN BID’AH JAWA

Dulu masyarakat Jawa menganut Hindu dan Budha atau animisme-dinamisme, setelah itu Islam datang. Terjadilah akulturasi budaya antara kepercayaan lokal dan Islam. Masyarakat kadang sulit membedakan apakah ini Islam, Hindu, Budha, ataukah Jawa. Dari sinilah muncul produk turunan berupa cara berislam ala “orang Jawa” (Kejawen).

Banyak pertanyaan muncul tentang berbagai tradisi ritual Jawa. Bukan saja dari orang yang awam terhadap Islam, tetapi juga dari para dai, takmir masjid, dan tokoh masyarakat. Intinya, apakah berbagai amalan atau ritual Kejawen itu bagian dari Islam, atau justru bertentangan dengan Islam?

Nah, buku ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Hadir sebagai sebuah ensiklopedi mini tentang deskripsi dan bagaimana Islam memandang beragam warisan budaya dan tradisi ritual mengenai:
  1. Konsep waktu dan dasar perhitungan Jawa, seperti primbon, weton, hari baik dan hari jelek
  2. Tradisi saat Bayi dalam Kandungan hingga Lahir, seperti mitoni/tingkepan, tata cara membuang ari-ari, serta keyakinan tentang “sedulur alus
  3. Ramalan watak dan nasib, seperti sengkala, ruwatan, dan sukerta
  4. Ritual kematian, seperti sadranan dan tahlilan.
  5. Hal-hal yang terkait dengan prosesi perkawinan, seperti bubakan, cengkir gading, sawatan, suapan, injak telur dan mandi kembang setaman, serta kembar mayang.
  6. Ritual perayaan musiman, seperti tirakatan, sesaji kepala kerbau, kirab pusaka, padusan, sekatenan, hingga grebeg sawal dan grebeg besar.
Melalui buku ini kedua penulis ingin menekankan pentingnya memahami ragam budaya di atas dalam upaya memurnikan akidah. Jangan sampai atas nama nguri-uri kabudayan adi luhung atau mempertahankan “kearifan” lokal ajaran Islam yang universal justru dilanggar. Apalagi fondasi Islam adalah tauhid dan ittiba’, yang tidak menoleransi syirik dan bid’ah.

Judul Buku:
  1. Syeikh Siti Jenar, Pemutarbalikkan Sejarah, Perjalanan Hidupnya, dan Ajarannya
  2. Ensiklopedi Syirik & Bid’ah Jawa
Penerbit: Aqwam


Bagi yang berminat memesannya, silahkan sms ke 085811922988 atau email ke marketing@eramuslim.com dengan menyebutkan judul pesanan, nama lengkap, no Telepon yang bisa dihubungi dan alamat lengkapnya.

Strategi Barat Memecah-belah Dunia Islam

http://hizbut-tahrir.or.id/2014/07/26/strategi-barat-memecah-belah-dunia-islam/

Persatuan Dunia Islam adalah mimpi buruk bagi Barat. Barat terus menggunakan strategi integrasi untuk mengeksploitasi berbagai kepentingan ekonominya dengan berbagai proyek regionalisme seperti Uni Eropa, APEC dll.

Di sisi lain mereka terus melakukan strategi pecah-belah terhadap Dunia Islam. Ketakutan Barat terhadap persatuan Dunia Islam dilatarbelakangi oleh pengalaman sejarah yang ‘menakutkan’ ketika mereka harus menghadapi negara adidaya (super power state) Khilafah Islam sepanjang sejarah peradaban dunia. Umat Islam yang bersatu di bawah Kekhilafahan Islam berhasil menggedor Eropa, bahkan menguasai sebagian wilayahnya seperti Andalusia pada masa Kekhilafahan Ummayah-Abbasiyah dan Balkan pada masa Kekhilafahan Utsmaniyyah.

Setelah Khilafah Islam terakhir Turki Utsmani berhasil mereka tumbangkan, Barat terus berupaya mencegah kemunculan persatuan Dunia Islam, apalagi di bawah naungan Khilafah. Berbagai negeri Muslim yang dianggap memiliki kapabilitas sebagai negara yang kuat dilemahkan, bahkan kalau perlu dipecah-belah lagi menjadi beberapa negara. Inilah yang dialami Sudan; dipecah menjadi Sudan dan Sudan Selatan. Ini juga yang dialami Pakistan, yang kemudian menghasilkan penglepasan Bangladesh dari Pakistan. Bahkan ketika Kekhilafahan Turki Ustmani dalam keadaan lemah, mereka menjebaknya untuk terjun dalam Perang Dunia I. Sebelumnya, mereka merancang pembagian wilayah Khilafah dalam Perjanjian Rahasia Sykes-Picot antara diplomat Inggris dan Prancis. Perjanjian ini kemudian terbongkar karena terjadi Revolusi Bolshevic yang mengubah Kerajaan Rusia menjadi Uni Sovyet.

Upaya pecah-belah ini tidak akan berakhir. Ini adalah bagian dari strategi Barat terhadap Dunia Islam. Ini pula yang saat ini dilakukan Barat terhadap Irak.

Roadmap Pecah-Belah Irak

Irak adalah negeri Muslim yang sangat penting. Irak adalah bekas pusat Kekhilafahan Islam Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Pasca dikuasai Inggris setelah menang Perang Dunia I pada Oktober 1919, Irak awalnya mengadopsi sistem kerajaan dengan menempatkan ‘boneka’ Inggris dari Dinasti Hashemit/Hasyimiyah; dimulai dari Raja Faishal I yang merupakan anak dari Hussein bin Ali penguasa dari Hijaz hingga Raja Faishal II, cucunya.

Amerika Serikat lalu mengambil-alih dominasi Irak dari Inggris dengan men-support kudeta militer yang dilakukan oleh Muhammad Najib ar-Ruba’i pada tahun 1958. Karena Irak adalah negara yang kuat, perlu langkah-langkah yang lebih jitu lagi untuk melemahkan Irak.

Irak adalah negara dengan komposisi penduduk sekitar 75-80% bangsa Arab. Kelompok etnis utama lainnya adalah Kurdi (15-20%), Asiria, Turkmen Irak, dll. (5%). Muslim di Irak menurut Britannica terdiri dari Syiah 60%, Sunni 40%. Menurut CIA World Fact Book, di Irak Syiah 60%-65% dan Sunni 32%-37%. Demografi Irak yang demikian menjadi salah satu potensi untuk memecah-belah Irak.

Upaya melemahkan Irak dimulai bukan ketika Amerika menginvasi Irak dan menjatuhkan Saddam Hussein. Sejak tahun 1991 Amerika Serikat menjatuhkan sanksi zona larangan terbang (no flying zone) di wilayah Irak utara. Sejak itu, wilayah tersebut yang mayoritas penduduknya beretnis Kurdi menjadi mirip sebuah negara.

Saat menduduki Irak pada Maret 2003, awalnya Amerika Serikat menempatkan Letjen Jay Gardner sebagai gubernur jenderal di sana. Namun, karena dianggap gagal-total menangani Irak, Amerika menggantikan dia dengan Paul Bremer. Dialah yang ditugasi melakukan ‘penjarahan’ besar-besaran terhadap Irak. Langkahnya yang paling mendasar adalah menetapkan konstitusi yang isinya mengandung benih perpecahan Irak. Bersama Peter Galbraith, milyarder yang menulis buku The End of Iraq, terbitan 2006, Bremer membuat konstitusi Irak itu dengan memberikan kuota aliran dan sektarian. Undang-Undang Dasar baru Irak menekankan betul betapa pentingnya desentralisasi dan otonomi daerah di Irak.

Melalui UUD baru Irak, pemerintahan daerah termasuk di dalamnya Kurdistan, berhak mendirikan angkatan bersenjatanya sendiri; berhak sepenuhnya atas kepemilikan bumi, air, minyak dan mineral yang terkandung di wilayah Kurdistan. Bahkan Kurdistan berhak untuk mengelola ladang minyak yang ada wilayah kekuasaannya, termasuk dalam mengelola pendapatan hasil minyak mereka meski pemerintahan pusat Baghdad tetap berwenang mengelola produksi komersial ladang minyak tersebut. Konstitusi permanen ini memberikan legitimasi terhadap semua proses invasi Amerika Serikat terhadap Irak.

Perlahan Amerika Serikat mulai memberikan partisipasi yang lebih luas bagi rakyat Irak. Pada bulan Desember 2011 militer Amerika Serikat mulai ditarik dari Irak. Namun, dalam hal keamanan dan politik pengaruh Amerika Serikat masih menancap kuat di Irak.

Amerika Serikat menjaga Irak dengan mendudukkan seorang diktator sektarian tulen, Nuri al-Maliki. Secara sengaja pemerintahan-nya melakukan penindasan di wilayah-wilayah yang secara etnis minoritas di utara dan barat Irak. Jadilah eskalasi berbasiskan sektarian terus meningkat dengan hadirnya berbagai milisi bersenjata Syiah bentukan dari al-Maliki yang juga memiliki latar belakang Syiah yang kuat.

Nuri al-Malaki telah menjadi perdana menteri Irak sejak pemerintahan transisi berakhir pada tahun 2006. Kekuatan politik dan militer di Irak sangat terpusat di kantor Perdana Menteri Nuri al-Maliki. Al-Maliki mendominasi tentara Irak, unit operasi khusus, intelijen dan departemen pemerintah utama. Semuanya telah menjadi kantor pribadinya. Pemerintah Irak kemudian berkonsentrasi untuk menghadapi milisi Kurdi dan Sunni yang membentuk Islamic State of Irak, yang kemudian berubah menjadi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Persoalan yang sangat mendasar di Irak adalah sektarianisme yang semakin menguat, apalagi didukung oleh negara-negara sekitar Irak yang mendorong pihak-pihak yang memiliki kesamaan etnis/mazhab dengan mereka.

Inilah yang terjadi di Irak yang merupakan implementasi politik pecah-belah yang dijalankan oleh Barat. Amerika sebagai aktor utama di Irak di-support oleh Inggris, penguasa Irak sebelumnya. Mereka tidak menginginkan Irak bersatu-padu. Mereka menginginkan Irak terpecah-belah. Setiap pecahannya saling bermusuhan dan bersaing serta saling memerangi satu sama lain.

Warga Irak memiliki latar belakang etnis yang berbeda. Letak geografis Irak juga terpisah. Adapun Konstitusi Irak menekankan pada otonomi daerah. Dengan semua itu jadilah setiap pihak bersikukuh merasa memiliki daerah kekuasaan. Masing-masing menyerukan secara terbuka pemisahan diri berdasarkan kedaerahan masing-masing.

Strategi Barat Memecah-Belah Dunia Islam

Barat sangat memahami bahwa persatuan adalah inti dari kekuatan umat Islam. Khilafah Islam pada masa kegemilangannya telah menunjukkan posisinya sebagai superpower pada masa Abad Pertengahan. Memang, Islam berpotensi melahirkan perbedaan. Namun, dalam Islam ada prinsip “perbedaan adalah rahmat” dan “amrul imam yarfa’ al-khilaf” (perintah imam [khalifah] menghilangkan perbedaan pendapat). Prinsip ini mampu mengembalikan berbagai perbedaan yang muncul di Dunia Islam ke persatuan dan kesatuan umat.

Barat senantiasa mencari celah untuk dapat masuk dan memecah-belah umat Islam. Saat Khilafah terakhir berada di tangan orang-orang Turki (Turki Utsmani), mereka menghembuskan isu Turanisme vs Arabisme. Dengan ide nasionalisme yang berkembang di Eropa pasca Perjanjian Westphalia, Dunia Islam pun dipaksa mengadopsi ide nasionalisme. Jadilah Perang Dunia I momentum untuk menghabisi keberadaan Khilafah Islam terakhir.

Inggris dan Prancis, dua negara superpower saat itu, merancang pembagian wilayah pasca perang melalui Perjanjian Sykes-Picot yang ditandatangani pada tanggal 16 Mei 1916. Perjanjian ini diberi nama sesuai dengan nama diplomat Prancis François Georges-Picot dan diplomat Inggris Sir Mark Sykes. Keduanya merundingkan pemecahan wilayah Khilafah Turki Utsmani tersebut. Khilafah pun dapat diruntuhkan dan jadilah Dunia Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara.

Apa yang dilakukan Barat tidak berhenti di situ. Barat sangat memahami potensi persatuan Islam ini. Karena itu berbagai upaya dilakukan untuk mencegah persatuan kembali umat Islam. Beberapa strategi kontemporer dapat dirujuk dari rekomendasi Rand Corporation, sebuah lembaga think-tank neo konservatif Amerika Serikat yang banyak mendukung berbagai kebijakan Gedung Putih. Dalam rekomendasi yang disampaikan oleh Cheryl Benard yang berjudul “Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies” secara detil diungkapkan upaya untuk memecah-belah umat Islam.

Tulisan dari Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan Direktur CIA yang berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology”, pun menunjukkan bagaimana CIA sampai mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar untuk memecah-belah umat Islam.

Bahkan terkait dengan krisis Irak, Amerika Serikat sudah dalam tahapan pengkondisian legitimasi reinvasi Amerika dan implementasi peta baru Timur Tengah dengan menjadikan Irak menjadi tiga negara: Sunni, Syiah, Kurdi. Sebagaimana yang diungkap oleh Letnan Kolonel Ralph Peters, pensiunan dari National War Academy AS, dalam buku yang diterbitkan Angkatan Bersenjata Journal pada bulan Juni 2006, peta Irak dalam buku ini telah digunakan dalam program pelatihan di NATO Defense College untuk perwira militer senior.

Penegasan hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang mengklaim bahwa perwujudan tiga negara bagian federal (berdasarkan kesepakatan etnis dan suku) telah menjadi opsi penting dalam menyelesaikan krisis di Irak. Joe Biden dalam pertemuannya Sabtu (1/6/14) dengan sekelompok tokoh Irak di Washington mengatakan, “Pembentukan tiga negara bagian terpisah (Syiah-Sunni-Kurdi) adalah untuk menyelesaikan krisis dalam negeri Irak.

Menghadapi Politik Adu-Domba Barat

Barat, khususnya Amerika, telah memiliki pandangan yang khusus terhadap Timur Tengah sejak terjun ke dalam politik dunia pasca melepaskan Doktrin Monroe.

Karena itu umat Islam perlu memiliki kesadaran politik mengenai negara-negara yang memiliki peran penting dalam percaturan politik internasional. Mereka adalah Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis dan Cina. Selain itu penting juga memahami keterkaitan (connections) antara orang-orang yang memiliki hubungan yang erat dan dekat dengan negara-negara berpengaruh tersebut. Menjadikan seseorang menjadi ‘boneka’ negara asing bukanlah proses yang instan; butuh pendalaman, interaksi yang intens yang keterkaitan kepentingan yang saling berkelindan satu sama lain.

Dalam menghadapi politik adu-domba Barat, sekali lagi, penting ditegaskan mengenai kebutuhan akan persatuan dan kesatuan umat Islam di bawah naungan Khilafah Islam. Khilafah Islam yang syar’i dapat menghapus berbagai perbedaan akibat pemahaman asing dengan senantiasa menjadikan akidah Islam sebagai asas kenegaraannya.

Penutup

Alhasil, di sinilah nilai penting seruan kepada rakyat Irak dan umat Islam pada umumnya; lebih khusus kepada bangsa Arab yaitu kalangan Kurdi, Sunni dan Syiah yang ada di Irak untuk waspada terhadap realitas ini. Selama pendudukan Amerika Serikat di Irak masih kokoh, tidak henti-hentinya strategi politik mereka terus dijalankan. Mereka akan terus berupaya mencegah Irak menjadi negara yang kuat, bahkan membuat Irak terpecah-belah menjadi beberapa negara baru.

Irak adalah negeri persatuan umat Islam. Irak pernah menjadi pusat Khilafah Islam yang membentang dari pantai barat Afrika hingga kepulauan Nusantara di timur Asia pada masa Abbasiyah. Karena itu umat Islam harus kembali pada contoh yang ditunjukkan oleh generasi pertama yang dimuliakan Allah SWT, yaitu memutuskan perkara dengan apa yang telah Allah turunkan, berjihad di jalan Allah, memutus hubungan dengan musuh-musuh umat, membuang jauh-jauh sektarianisme dan berpegang teguh hanya dengan Islam.

Semua persoalan ini bisa diselesaikan dengan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah yang mengikuti metode kenabian. Dengan Khilafah inilah kaum Muslim menjadi mulia. [Dari berbagai sumber] [H. Budi Mulyana, S.IP., M.Si.; Lajnah Khusus Intelektual DPP HTI]

Ada Upaya Kriminalisasi Jihad dan Khilafah dalam Isu ISIS

FENOMENA Daulah Islamiyah Iraq wa Syam (DAIS) atau di Indonesia sering disingkat ISIS atau ISIL merebak keman-mana. Semua orang bahkan ikut ‘keranjingan’ sampai apapun berbau ISIS seolah menjadi korban.

Belum lama ini, tepatnya Selasa (19/08/2014) Ade Puji Kusmanto (31), warga Terlangu, Brebes, Jawa Tengah, diamankan aparat Polsek Adiwerna, Tegal, lantaran memakai kaus hitam berlengan panjang ISIS.

Firman Hidayat, penjual es keliling di Kecamatan Beji, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, diamankan aparat Polres Depok di kediamannya, Jumat (22/08/2014) dinihari hanya karena laporan masyarakat memasang bendera ISIS di dinding rumahnya.

Juga kasus yang menimpa Achwan Jema’in takmir masjid Hibbaturrahman dan pengelola Islamic Center Balongbendo digerebek warga dengan tuduhan ISIS. Mantan Pengurus Muhammadiyah Balong Bendo Sidiarjo tahun 2002 ini bahkan tak bisa lagi mengelola masjid dan Islamic Centre karena tekanan warga.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Hidayatullah.com mewawancarai pemerhati Kontra Terorisme, Direktur CIIA (The community Of Ideological Islamic Analyst) dan pengasuh Majelis al Bayan, Harits Abu Ulya [HAU]

Apa yang Anda tentang ketahui dengan fenomena ISIS?

Memahami fenemena ISIS harus runtut, tidak boleh sepotong-sepotong.

Sebelum menjadi ISIS, tahun 2006 organisasi itu bernama Dulah Islam Iraq atau Islamic State for Iraq (ISI), kemudian berkembang menjadi Daulah Islam Iraq wa Syam (DAIS) atau juga disingkat ISIS/ISIL yang wilayahnya membentang dari Iraq dan Syam (Suriah). Belakangan telah memproklamirkan diri menjadi Khilafah Islamiyah pada 29 Juni 2014/1 Ramadlan 1435H.

Fenomena ini kemudian direspon beragam di kawasan wilayah kelahirannya, termasuk bagi dunia Barat begitupun dinegeri Indonesia.

ISIS adalah salah satu tadzim jihad yang hadir dan lahir di tengah imperialisme Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di dunia Islam khususnya Iraq. Basis awalnya di wilayah Iraq, di periode tahun 2004 para mujahidin berfusi dalam sebuah dewan Syuro Mujahidin, kemudian di tahun 2006 berubah menjadi ISI (Islamic State off Iraq /Daulah Islam Iraq), dan di saat revolusi Suriah pecah para mujahidin ISI ini masuk ke Suriah terlibat dalam aksi melawan rezim dukungan Syiah Bashar al Asaad.

Keberhasilan mereka menguasai sebagian wilayah Iraq kemudian di Suriah mengokupasi beberapa kota dan daerah akhirnya di tahun 2013 mereka mengumunkan diri menjadi ISIS (Daulah Islam Iraq wa Syam /Islamic State Off Iraq and Syam).Kemudian di akhir bulan Juni 2014 mereka mendeklarasikan Islamic State (Khilafah). Pengumunan Khilafah oleh ISIS melahirkan sikap pro dan kontra dikalangan para mujahidin, ini tampak diwakili oleh para senior ulama mujahidin di Timur Tengah yang menolak Khilafah Islam ala ISIS. Baik yang pro maupun yang kontra sama-sama memiliki hujah yang menjadi pijakan. Dan ini adalah pekerjaan rumah (PR) bagi para qiyadah tandzim jihad di sana untuk menyelesaikan.

Apa sebenarnya latar belakang lahirnya organisasi ini?

ISIS lahir karena kerinduan umat Islam akan wujudnya Khilafah seperti dalam Nubuwah menjadi stimulan kuat munculnya apresiasi terhadap fenomena ISIS dengan Khilafahnya. Di samping faktor kondisi politik domestik yang carut marut makin membuat Khilafah-ISIS seperti setetes “embun” di musim kering kerontang bagi sebagian muslim.

Menurut saya, kerinduan ini wajar saja dan sunatullah. Cuma fenomena ini menjadi problem baru dalam kehidupan sosial politik umat Islam Indonesia ketika pemerintah resmi melalui Menkopolhukam menyatakan larangannya terhadap paham ISIS.

Apa masalahnya?

Menurut saya ini keputusan prematur yang tidak kuat pijakan yuridisnya dan terlalu dipaksakan hanya dengan delik ISIS adalah kelompok teroris seperti yang di kumandangkan oleh Amerika Serikat (AS). Dengan begitu, WNI yang berafiliasi terhadap ISIS seolah berpotensi melakukan tindakan yang mengancam keamanan Indonesia.

Di samping alasan politik ideologinya adalah, paham ISIS bertentangan dengan Pancasila dan konsep NKRI. Saya berharap umat Islam, khususnya para tokoh dan ulamanya bisa bijak proporsional dan tidak mudah terprovokasi. Karena keputusan pemerintah jelas-jelas melahirkan keresahan di tengah umat Islam dan berpotensi lahirnya benturan di lapangan antar umat Islam sendiri, padahal sejatinya masalah ISIS masih dalam zona perdebatan.

Kita harus belajar bijak, karenanya kebencian seseorang kepada suatu kaum atau kelompok jangan sampai menjadikan dirinya tidak bisa bersikap adil terhadapnya.

Mengapa isu ini tiba-tiba dibesar-besarkan? Adakah agenda tersembunyi?

ISIS hadir di ruang publik Indonesia secara masif sebulan pasca deklarasi Khilafah Islam di Iraq. Semua media menghantam ISIS dengan deskripsi sangat menyudutkan. Intinya ISIS diadili oleh hampir semua media dengan membentuk persepsi publik; ISIS adalah entitas yang berbahaya dan pemahaman yang sesat.

Menariknya, isu ini berkembamg pasca putusan KPU hasil Pilpres Indonesia dan sebelum putusan kisruh Pilpres di MK (Mahkamah Konstitusi). Saya melihat ISIS dimunculkan sebagai usaha pengalihan atas kisruh Pilpres yang berpotensi kuat munculnya ganguan keamanan. Atau bahkan bisa untuk menutupi isu-isu krusial lain yang menyentuh para elit penguasa.

Adakah ini mainan kelompok tertentu?

Banyak kelompok kepentingan bermain di isu ISIS. Baik dari para “suporter” ISIS di Indonesia, institusi dan pejabat politik yang terkait dengan bidang politik keamanan, bahkan dibalik itu semua ada tangan-tangan yang mewakili kepentingan imperialisme global juga ikut nimbrung.

Point yang tidak kalah penting, kita bisa membaca bagaimana Amerika Serikat (AS) punya nafsu untuk membuat konflik Islam di Indonesia. Ini terkait upaya rebalancing power-nya AS di kawasan Asia Timur Jauh. Karena itu Amerika lebih condong dan mendukung salah satu calon presiden yang dianggap flamboyan tapi memiliki potensi konfliknya besar dengan adanya faksi internal pendukungnya dari kalangan nasionalis, Kristen, Sosialis-Komunis yang bisa menekan Islam.

Apa targetnya?

Targetnya umat Islam pecah, dan tidak bisa menjadi pelopor persatuan umat Islam se-dunia. Dan kekuatan politik umat Islam bisa tereduksi karena disibukkan dengan pertarungan antar kelompok mereka sendiri. Lebih dari itu, melalui isu ISIS juga ada upaya kriminalisasi terhadap kewajiban mulia umat Islam bernama jihad dan Khilafah Islam.

Dengan demikian, potensi ancaman dalam perspektif status quo bisa dalam kendali. Dan sangat mungkin, momentum kali ini akan digunakan untuk melarang ideologi apapun berbau Khilafah berkembang di Indonesia. Sebab saya melihat Badan Penanggulangan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus bergerak melakukan penggalangan untuk hal tersebut meski ada resistensi di masyarakat.

Seberapa besar potensi umat Islam Indonesia tertarik kepada ISIS?

Isu ISIS dengan Khilafahnya menurut saya segmented. Artinya, menjadi perhatian serius di kalangan pergerakan Islam lebih dominan, tapi tidak untuk kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia.

Masyarakat menjadi heboh karena media secara massif mengekspos, dan akhirnya mereka tersesat dalam belantara opini dan perdebatan tanpa tahu ujung akar dan pangkalnya.

Dari paparan Anda, munculnya ISIS bukan barang baru, Artinya pemerintah Indonesia (khususnya intelijen) pasti sudah lama tahu?

Kalau pemerintah tidak tahu berarti semua institusi intelijen yang dimiliki tidur. Mereka tahu, dan terus memonitor perkembangan politik di dunia Islam lebih-lebih paska Arab Spring menggeliat. Bahkan mereka mencoba menerka, adakah relevansi Khilafah ISIS dengan kondisi keamanan Indonesia paska Pilpres.

Tokoh-tokoh dibalik ISIS di Indonesia dikenal tokoh yang tak mengakar dalam gerakan Islam di Indonesia, benarkah?

Inilah yang saya heran, terlepas dari perdebatan benar tidaknya ISIS dengan paham yang dimilikinya, pemerintah khususnya BNPT yang membidani urusan terorisme sangat tahu sumber utama berkembangnya para suporter ISIS di Indonesia.

Tapi terkesan ada pembiaran dengan beragam alasan. Tapi sekarang BNPT paling getol melakukan penggalangan untuk mempersoalkan eksistensi suporter ISIS di Indonesia. Saya melihat ada muslihat yang dimainkan di balik isu ISIS oleh orang-orang opurtunis.

Bukankah sebelum ini kita juga pernah mengenal Abdul Haris, orang dekat Ustad Abubakar Ba’asyir yang akhirnya diketahui orang intel yang di “tanam” dan kini keberadaannya tidak jelas setelah ABB di tangkap?

Itulah. Dalam perjuangan Islam tidak cukup hanya bermodal semangat, di luar pemahaman akidah yang lurus, kedalaman memahami syariat juga butuh pemahaman terhadap siyasah agar tidak menjadi obyek mainan pihak-pihak yang ingin hancurkan perjuangan dan gerakan Islam.

Kejahilan dan sikap emosional dalam langkah perjuangan hanya akan menghasilkan kondisi yang kontra produktif bagi kepentingan umat Islam. Ini harus menjadi pelajaran bagi umat Islam.*

Umat Islam... Bersiaplah Songsong Era Baru!

Oleh: M Yusron Mufid 

Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan Dien (Jalan hidup) yang benar untuk dimenangkanNya atas segala Dien, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” (QS At Taubah 33)

Islam hadir berawal dari pinggiran kota Mekkah yang gersang, diturunkan kepada seorang penggembala yang tidak dapat membaca dan menulis. Di tengah suatu bangsa yang gemar menghabiskan energinya untuk berseteru antar sesamanya sendiri. Diapit oleh 2 kekuatan raksasa dunia yaitu peradaban Romawi Timur dan Persia. Namun dengan izinNya, petunjuk hidup yang dibawa penggembala tersebut akhirnya mampu menyatukan bangsa Arab yang tadinya terpecah belah, menaklukkan 2 kekuatan raksasa dan memimpin dunia.

Salah satu keistimewaan Islam adalah kemampuannya bertahan menghadapi situasi sesulit apapun, dihajar oleh makar musuh-musuhnya namun mampu bertahan dan tetap bersemi. Adalah Allah yang telah menjamin penjagaan Islam hingga menjelang akhir zaman. Jika kita mengacu hanya kepada nalar semata, maka jika bukanlah petunjuk dari Penguasa alam sudah tentu melihat perjalanannya Islam sudah luluh lantak dihajar bertubi-tubi. Namun Allah menunjukkan kuasaNya, Islam akan tetap ada dan bangkit sebagai cahaya yang menerangi perikehidupan manusia hingga menjelang akhir zaman.

Islam pernah berada dalam ambang kepunahan ketika perang Ahzab, pasukan sekutu berniat meluluh-lantakkan basis kaum muslimin di madinah ditambah kaum yahudi Bani Quraizhah yang mengkhianati perjanjian dan siap menikam dari belakang. Selama sebulan kaum muslimin terkepung oleh pasukan sekutu, digambarkan oleh AlQur’an saking gentingnya situasi hingga rasa sesak mencapai kerongkongan. Namun, berkat keteguhan iman generasi awal Islam, Allah memenuhi janjiNya dan memberikan pertolongan sehingga umat Islam terselamatkan dan justru semakin bersemi. Tak cukup sampai disitu, bahaya kembali datang, kali ini pasukan terkuat didunia yaitu Romawi dengan kaki tangannya dari kalangan kabilah Arab berhasil menghimpun pasukan super raksasa berjumlah 200.000 bersenjata lengkap akan memusnahkan kaum muslimin. Pasukan kaum muslimin hanya berkekuatan 3000 prajurit dengan peralatan seadanya. Bayangkan saja, 200.000 vs 3000. Namun, sekali lagi, Allah menunjukkan kuasaNya dengan menyelamatkan cahaya Islam dari kehancuran lewat kecemerlangan sosok Khalid bin Walid. Bahkan kelak, serangan balik kaum muslimin mampu meruntuhkan kekaisaran Romawi timur.

Setelah Rasululllah wafat, sebagai suatu sunatullah yang telah ditetapkan. Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya melakukan makar untuk memadamkan cahayaNya. Di abad pertengahan, kerajaan kristen eropa bersekutu untuk melancarkan perang Salib kepada kaum muslimin memenuhi panggilan Paus Urbanus II, tahun 1099 pasukan salib berhasil merebut Yerusalem dan melakukan pembantaian massal terhadap penduduknya. Yerusalem dikuasai selama 88 tahun oleh pasukan salib. Namun, Allah tak akan membiarkan cahaya Islam padam, muncullah sosok Shalahuddin Al Ayyubi sebagai ksatria Islam dan membebaskan Yerusalem dari cengkraman tentara salib. Dan Islam-pun kembali berjaya.

Umat Islam benar-benar nyaris menjadi kenangan sejarah ketika terjadi musibah yang amat memilukan. Pada tahun 1258, Tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan memporak-porandakan lentera peradaban dunia. Ibukota Kekhilafahan Abbasiyah yaitu Baghdad. Terjadinya salah satu pembantaian tersadis dimana rakyat Baghdad disembelih di jalanan-jalanan kota, bahkan dokumentasi sejarah menyatakan sungai Tigris berwarna hitam airnya akibat banyaknya buku, literature dan manuskrip pengetahuan yang dibakar dari perpustakaan al Hikmah. Tentara Mongol bukan hanya memusnahkan penduduk tetapi memusnahkan peradaban. Umat Islam benar-benar luluh lantak. Meskipun pada akhirnya tentara Mongol berhasil mundur, namun umat muslim sudah terlanjur hancur lebur akibat ekspansi brutal pasukan Mongol.

Namun sekali lagi, Allah akan terus menjaga cahayaNya lewat para manusia pilihan. Tahun 1453, muncul-lah sebaik-baik panglima muda bernama Muhammad Al Fatih yang melakukan penaklukkan spektakuler terhadap kota Konstantinopel (Sekarang Istambul-Turki). Umat Islam pun kembali bangkit dan berjaya. Namun setelah itu, umat Islam terus menerus mengalami kemunduran hingga puncaknya adalah runtuhnya pengawal ajaran Islam Kekhilafahan Utsmani pada tahun 1924. Saat itu umat Islam benar-benar seperti anak-anak ayam kehilangan induk. Musuh Islam mengepung dari segenap penjuru sebagaimana yg telah nabi sabdakan bahwa akan tiba suatu masa bangsa-bangsa kafir mengerumuni kaum muslimin sebagaimana orang-orang mengerumuni makanan. Dewasa ini adalah era keterpurukan kaum muslimin di segala bidang.

Musuh-musuh Islam tahu benar, umat muslim begitu tangguh ketika diserbu secara fisik. Mereka paham, bahwa untuk mengalahkan umat Islam maka perlu menghilangkan sumber energi umat Islam yg paling utama yaitu AlQur’an. Perlu diketahui, sesungguhnya hal yang paling ditakuti musuh Islam bukanlah karena kaum muslimin melaksanakan sholat, dzakat, puasa dll. Tetapi penerapan AlQur’an secara menyeluruh dalam setiap sendi perikehidupan sebagaimana yang dikatakan Snouck Hugronje. Bagi Islam, kekuasaan bukanlah milik siapapun kecuali Allah S.W.T. Manusia hanya sebagai makhluk yang dititipkan “Konsep Hidup” agar dilaksanakan di muka bumi. Oleh karena itu, dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari sumber energi utamanya, mereka merumuskan berbagai racun pemikiran kepada umat Islam. Demokrasi, nasionalisme, komunisme, darwinisme, liberalisme dan berbagai racun merusak lainnya sehingga banyak kaum muslimin termakan dan mengikuti jalan hidup mereka. Dan akhirnya, umat Islam berada dalam ketertindasan dibawah cengkraman kaki tangan kaum kafir.

Namun, Allah akan tetap menjaga cahayaNya. Sehebat apapun musuh-musuh Islam melakukan makar dan tipu daya, tidak akan ada yang bisa mengalahkan rencana Allah S.W.T. Rasulullah bersabda di akhir zaman nanti akan tiba masa tegaknya kembali kepemimpinan Islam yang mengikuti jalan kenabian (Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah) setelah sebelumnya umat Islam dirundung nestapa pada fase kekuasaan diktator kaki tangan penjajah. Akhir-akhir ini, tanda-tanda itu kian tampak terasa. Kepemimpinan Islam akan datang yang akan merontokkan sistem dajjal yg mencengkram dunia saat ini. Sabda Rasulullah tersebut seolah dibenarkan oleh National Intellegence Council (NIC) yaitu sebuah lembaga riset yg dibiayai Amerika Serikat untuk meneliti kemungkinan peta kekuatan politik dan ekonomi di masa mendatang. Menurut NIC, ada 4 kemungkinan yang terjadi di tahun 2020 yaitu:
  1. Davod World: India dan China akan menjadi pemegang tampuk kepemimpinan dunia.
  2. Pax Americana: Amerika akan tetap memimpin dunia dengan pedoman hidup demokrasi dan kapitalismenya
  3. The New Islamic Caliphate: Akan tegaknya sebuah kepemimpinan Islam mendunia yang meruntuhkan nilai-nilai dan dominasi barat
  4. Cycle of Fear: Dunia berada di dalam kekacauan dan ketakutan.
Jadi sebagai muslim, Kemenangan Islam di akhir zaman adalah suatu keniscayaan yang telah dijanjikan dan tak perlu diragukan, yg akan diminta laporan pertanggungjawaban adalah sejauh mana kontribusi kita sbg orang yang mengaku muslim utk memperjuangkannya, atau malah ikut menghambat dan memusuhinya? So, are you the real Muslim? Tak akan ada yang sia-sia dalam membela Islam, hanya ada dua kemungkinan, jika gugur ditengah jalan maka sejatinya kita akan tetap hidup di syurga dengan segala kenikmatannya atau kita berhasil memperoleh kemenangan dan mulia hidup di dunia dengan Islam.

Untuk itu saya berpesan untuk diri saya pribadi dan kaum muslimin lainnya, Berbanggalah wahai kaum muslimin dengan Islam yang ada di dada kita, jagalah aset mahal tersebut ditengah deru fitnah akhir zaman. Kenapa kita patut berbangga dengan jalan hidup Islam? Karena Islam tidak seperti pedoman hidup lain (Demokrasi, nasionalime, komunisme, darwinisme dll) yang berasal dari buah pikiran manusia yang terbatas dan penuh kekurangan. Melainkan petunjuk hidup yang digariskan sang Pencipta manusia yang Maha Tahu. Layaknya pabrik elektronik yang menerbitkan buku pedoman pemakaian bagi produknya karena sudah barang tentu sang produsen lebih tahu keadaan produk ciptaannya. Genggamlah kuat-kuat meskipun dengan itu kita harus menjadi generasi terasing, karena kata Rasulullah Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana keadaan awalnya, maka beruntunglah orang terasing itu. Kita lahir dengan fitrah sebagai Islam, hidup dengan Islam, dan menghadapNya tetap dalam keadaan Islam. Itulah satu-satunya jalan keselamatan. Semoga kita selamat sampai tujuan dan Allah berkenan memberi kita kekuatan. Jika orang-orang berpaling dan memilih jalan hidup lain, maka katakanlah kepada mereka. ‘Isyhaduu bi anna Muslimuun” (Saksikanlah bahwa saya seorang yang berserah diri sebagai muslim).

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali ‘Imran 139)

Wallahua’lam

Berbaiat dengan Imam Mahdi

Sebagai bagian dari ummat Islam yang ditaqdirkan Allah ta’aala hidup di babak keempat perjalanan sejarah ummat ini, maka kita harus bersiap siaga mengantisipasi kemunculan Imam Mahdi. Babak keempat merupakan babak mulkan jabriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Inilah babak di mana ummat Islam mengalami giliran kekalahan sedangkan kaum kuffar mendapat giliran memimpin dunia. Allah ta’aala izinkan mereka untuk membangun suatu peradaban penuh fitnah. Peradaban kafir ini akan mencapai puncaknya tatkala fitnah paling dahsyat sepanjang zaman telah hadir, yaitu fitnah Dajjal. Bahkan Godless Civilization ini bakal menobatkan Dajjal sebagai pemimpin dunia ketika ia muncul.

Jadi, bila ummat Islam merasakan begitu banyak kezaliman yang berlangsung di dunia dewasa ini bukanlah perkara yang aneh. Sebab memang keadaan ini telah di-nubuwwah-kan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam lima belas abad yang lalu. Inilah babak di mana kezaliman merajalela. Inilah babak di mana fitnah demi fitnah bermunculan hingga datangnya puncak fitnah, yaitu Dajjal. Sebab semua fitnah yang berlaku di dunia merupakan pengantar menuju puncak fitnah, yaitu Dajjal.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ
ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk fitnah Dajjal.” (HR Ahmad 22215)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ
مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam as hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih dahsyat dari fitnah Dajjal.” (HR Thabrani 1672)

Mengingat bahwa babak mulkan jabriyyan merupakan babak paling kelam dalam sejarah ummat Islam, maka niscaya keluarnya Dajjal akan terjadi pada babak ini. Para pendukung peradaban kafir sampai berani mensosialisasikan isyarat kemunculan calon pemimpin mereka di dalam lembar uang kertas mereka..! Coba perhatikan simbol The Great Seal yang ada dalam lembaran uang kertas satu dollar Amerika Serikat.

Di dalamnya terdapat gambar piramida yang tidak sempurna di mana pucuknya raib laksana nasi tumpeng yang terpotong bagian atasnya. Piramida tersebut merepresentasikan struktur dan sistem dunia dewasa ini. Dunia diarahkan menjadi bak satu struktur dengan sistem piramida. Namun sistem itu belum memiliki pimpinan. Di bawah piramida tertulis Novus Ordo Seclorum, bahasa Latin yang berarti ”New World Order”. Mereka bermaksud membangun sebuah kehidupan berupa satu “Tatanan Dunia Baru”. Inilah yang dikatakan oleh Ahmad Thompson sebagai Sistem Dajjal. Suatu peradaban yang nilai-nilainya secara diameteral bertentangan dengan nilai-nilai Kenabian. Suatu dunia di mana segenap lini kehidupan berjalan dan tunduk kepada nilai-nilai Dajjal.

Di atas piramida tertulis Annuit Coeptis yang berarti “Usaha/persembahan kita direstui si Mata Tunggal”. Mereka sangat yakin bahwa semua upaya mewujudkan Tatanan Dunia Baru mendatangkan keridhaan si Mata Tunggal. Pimpinan piramida digambarkan berupa sebuah ”mata tunggal” dalam segitiga yang diletakkan berjarak sedikit di atas pucuk piramida tersebut, seolah menyatakan bahwa pimpinan belum ada tapi sudah jelas bakal segera datang. Bagi ummat Islam isyarat mata tunggal tidak lain berarti Dajjal.

وَأَنَّ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ
كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ

Dan sesungguhnya Dajjal itu bermata satu; sebelah matanya tidak nampak. Di antara kedua matanya tertulis 'kafir' yang terbaca oleh setiap mu’min yang mengerti baca-tulis ataupun tidak.” (HR Ahmad 26298)

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa syarat untuk sanggup mendeteksi kebatilan Dajjal dan sistemnya bukanlah intelektual atau tidaknya seseorang, melainkan murni atau tidaknya iman di dada. Sistem penuh kezaliman ini akan diizinkan Allah ta’aala berlaku beberapa saat untuk selanjutnya dihancurkan dan digantikan dengan sistem yang Allah ta’aala ridhai di babak kelima, yaitu babak khilafatun ’ala minhaj An-Nubuwwah.

Allah ta’aala tidak akan membiarkan dunia kiamat sebelum kebatilan mengalami kekalahan dan kehancuran serta kebenaran Al-Islam tegak dan dirasakan keadilannya di seantero dunia. Inilah peranan yang akan dimainkan oleh Imam Mahdi beserta kaum muslimin yang berbaiat menjadi pasukannya.

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ
رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي
يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah ta’aala akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud 9435)

Bila Al-Mahdi telah muncul setiap muslim diwajibkan untuk segera ber-baiat kepadanya. Bagaimanapun situasinya, setiap muslim mesti berusaha untuk memastikan dirinya bergabung ke dalam pasukan yang dipimpin oleh Imam Mahdi. Di bawah komando beliaulah ummat Islam akan diajak bersama meninggalkan babak keempat penuh kezaliman ini menuju tegaknya babak kelima penuh keadilan kelak. InsyaAllah.

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

Ketika kalian melihatnya maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah 4074)

Mengapa Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaihi wa sallam mengatakan “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju”? Sebab pada masa itu keadaannya sangat sulit. Bila kondisi dunia masih seperti dewasa ini boleh jadi berbagai media-massa justru menjuluki Imam Mahdi sebagai pimpinan teroris sebagaimana media kuffar 5-10 tahun lalu menjustifikasi Usamah bin Laden sebagai the number one terrorist in the world.

Siapapun yang berfikir untuk ber-baiat dengan Imam Mahdi pastilah berada dalam ancaman dituduh sebagai teroris pula. Hanya muslim-mu’min yang selalu mengharapkan ridho Allah ta’aala semata akan bersegera bergabung dengan Imam Mahdi. Sedangkan muslim yang selama ini sibuk mendahulukan ridho manusia daripada ridho Allah ta’aala dapat dipastikan tidak akan bersegera ber-baiat dengannya. Bahkan sangat mungkin mereka malah akan berfihak kepada barisan yang memerangi Al-Mahdi dan kaum muslimin yang dipimpinnya. Wa na’udzu billahi min dzaalika.-

Gabung ISIS/ISIL Lawan Al-Nusra, Rapper Asal California Tewas di Suriah

Hidayatullah.com–Seorang warga Amerika Serikat yang diduga bergabung dengan ISIS/ISIL telah tewas di Suriah, kata seorang pejabat AS.

Hari Selasa malam (26/8/2014), Gedung Putih mengkonfirmasi kematian Douglas McArthur McCain, 33, seorang pria yang bercita-cita menjadi rapper dan penggemar bola basket dari California.

McCain, yang keluar dari agama Kristen untuk memeluk agam Islam sepuluh tahun silam, tewas saat bertempur melawan Front Al-Nusra, lapor media-media di Amerika dikutip Aljazeera.

Kabar kematian McCain dikonfirmasi oleh Dewan Keamanan Nasional AS lewat pernyataan jurubicaranya Caitlin Hayden.

Seorang pejabat keamanan AS yang minta agar tidak disebutkan namanya kepada Reuters mengatakan bahwa FBI menyelidiki kematian McCain dan seorang jurubicara Departemen Luar Negeri mengatakan sejumlah staf melakukan kontak dengan keluarga McCain guna memberikan “semua bantuan konsuler” yang diperlukan.

Departemen Luar Negeri AS memperkirakan ada sekitar 12.000 orang asing sedikitnya dari 50 negara yang ikut bertempur di Suriah.

Jaksa Agung AS Eric Holder pernah mengatakan bahwa kejaksaan federal melakukan investigasi hampir 100 kasus atas warga Amerika yang bepergian ke Suriah atau Iraq untuk ikut perang.

Pada bulan Mei lalu seorang pria berusia 22 tahun asal Florida melakukan serangan bunuh diri di Provinsi Idlib, Suriah. Selain itu, seorang wanita asal Denver ditahan pada bulan Juli saat berusaha terbang ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok perlawanan di sana.*

26.8.14

Membongkar Kepalsuan 'Injil' (Kristen) yang Penuh Rekayasa

Sahabat Voa-Islam yang Mencintai dan Dicintai Allah SWT...

Nabi Isa adalah Rasululloh yang diutus untuk umat Nasrani, dimana beliau adalah pembawa risalah tauhid, agar umat saat itu terlepas dari belenggu kemusyrikan dan tirani murka thogut laknatullah.

Akan tetapi, risalah Isa 'alaihi salam yang diterimanya wahyu dari Allah berupa kitab Injil, telah dirubah dan didustakan oleh umatnya, sehingga kesalahan syariat dan kebobrokan tauhid pun tak terhindarkan. Rahib dan pendeta bersekongkol untuk memuaskan hawa nafsunya sendiri. Umat ditindas, dengan diiming-imingi surga dengan tebusan yang tak jelas.

Sehinggga manakala Allah menunjuk Nabi besar Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir.Allah menurunkan Al Quran dan membongkar prilaku jahat kaum Rahib dan Pendeta Nasrani yang terus merubah-rubah ajaran Isa 'alaihi salam, sehingga banyak dari kalangan mereka enggan dan menolak risalah yang dibawa Muhammad SAW.

Kebenaran Sebuah Agama Terletak pada Kemurnian Kitabnya

Bila ada sebuah agama mengklaim bahwa agamanya itu adalah agama yang benar dan murni datang dari wahyu Allah, maka kebenaran agama itu tergantung dari kebenaran atau kesucian kitabnya. Apakah kitab tersebut betul-betul dari wahyu Allah atau rekayasa manusia? Atau bisa jadi awalnya benar wahyu dari Allah, akan tetapi dirubah oleh tangan jahat para Rahib dan Pendeta, sesuai keinginan dan nafsu mereka.

Kriteria pertama sebagai tolok ukur kebenaran dan kesucian sebuah kitab, adalah kitab tersebut tidak tercampuri oleh hasil pikiran manusia dan filsafah manusia serta bebas dari kesalahan. Sebab kitab suci yang benar dari wahyu Allah tak mungkin salah, karena Allah adalah sumber kebenaran, dan wahyu Allah tidak mungkin mengalami perubahan, penambahan serta pengurangankarena wahyu Allah itu sifat kebenaranya mutlak dan abadi.

Sehingga apabila ada sebuah agama mengklaim bahwa kitab mereka murni suci dari wahyu Allah, akan tetapi mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan serta rekayasa filsafah manusia, maka dipastikan bahwa itu bukan kitab sucia, kan tetapi sampah yang di persucikan. Sungguh nistalah mereka, karena telah membohongi umat dan mendustakan wahyu Allah.

Kitab Injil Kafir Kristen Penuh Kepalsuan

Setiap orang Kristen pasti tidak akan menyangkal bahwa kitab suci mereka terdapat banyak kesalahan dan kepalsuan, serta pertentangan antara pasal serta ayat dari satu dengan lainya.dan mereka faham betul bahwa kitab Injil mereka penuh manipulasi data. Selain itu, mereka selamanya tidak mampu menunjukan kitab aslinya bahwa kitab itu betul dari Nabi Isa As.

Dan sudah terbukti dengan sangat jelas sekali bahwa Injil yang ada sekarang bukanlah Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa As.melainkan Injil buatan manusia yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan Yesus.

Maka banyak para pakar kristologi maupun lainnya yang jujur dan adil telah meneliti dengan benar, terungkap sudah bahwa Injil yang ada adalah rekayasa Paulus dari Tarsus yang pura-pura mendapatkan mandat dari Yesus untuk menyebarkan agama Kristen, sehingga menimbulkan pertanyaan: "Agama Kritsten sekarang ini apakah agama Yesus ataukah agama Paulus?"

Sebab Saulus sendiri telah menyatakan terus terang bahwa agama Kristen adalah buatannya dan bukan agama Yesus sebagaimana tertulis dalam suratnya.

"Aku yang menanamApolos, yang menyiram, tetapi Tuhan yang membeir pertumbuhan.." (I Korintus 3:6)

"Ingatlah ini, Yesus Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitahukan dalam Injilku" (II Timotius 2:8).

Sebagaimana yang sudah diketahui, bahasa yang di pakai oleh Yesus sehari-hari adalah bahasa Aram. Lalu mengapa Injil bahasa Aram tidak ada (atau dimusnhakan), kemudian berubah menjadi Injil bahasa Yunani. Mengapa Injil Matius, Lukas, dan Markus terdapat banyak kesamaan, sehingga disebut "Injil synopsis" sehingga Injil Yahya (Yohanes) sangat berbeda?

Catatan Proses Terbentuknya Kitab Perjanjian Baru

Kitab Injil kaum kafir Kristen memang aneh bin lucu, dimana proses dalam pencatatn kitab mereka pun penuh dengan kesimpang siuran dan sangatlah jauh dari keontentikan.
  • Tahun ke 30 adalah peristiwa penyaliban
  • Tahun ke 50 adalah surat pertama Paulus
  • Tahun ke 62 adalah surat terakhir Paulus
  • Tahun ke 65-70 Injil Markus
  • Tahun ke 70-? surat Paulus kepada jemaat Ibrani
  • Tahun ke 80 Injil Lukas
  • Tahun ke 85-89 Injil Matius
  • Tahun ke 90 Kisah Rasul
  • Tahun ke 90-100 Injil Yahya
  • Tahun 95-100 Kitab wahyu
  • Tahun 100-? Timotius 1 dan 2 dan Titus
Karena proses terbentuknya Kitab suci perjanjian Baru seperti di atas, maka Al Kitab tidak bisa dijamin keabsahan dan tidak bisa dipertanggung jawabkan

50.000 Kesalahan dalam Injil Kafir Kristen

Sungguh aneh bin ajaib, bagaimana mungkin kitab yang selalu dielu-elukan untuk bisa membawa manusia menuju surga ternyata terdapat kesalahan yang amat banyak.

Saksi Yehovah dalam majalah mereka AWAKE! Tanggal 8 September, muncul judul 50.000 kesalahan dalam Bibel. Dituliskan saat itu "terdapat kira-kira kesalahan dalam Bibel, kesalahan yang telah di sisipkan ke dalam Bibel 50.000 kesalahan yang begitu serius, sebagian besar dari apa yang disebut kesalahan".

Injil Kafir Kristen adalah Buku yang Paling Berbahaya

George Bernard Shaw pernah mengatakan "Bibel merupakan buku yang paling berbahaya di muka bumi, simpan buku itu dalam laci Anda lalu kuncilah! jauhkanlah Bibel dari jangkauan anak-anak kecil."

Otentikah Injil Kafir Kristen? Atau Penuh dengan Rekayasa?

Dari paparan di atas sangatlah jelas,bahwa Injil kaum kafir Kristen sangatlah busuk dan penuh dengan kebohongan, maka sangat tidak layak di dudukkan menjadi kitab suci karena pengklaiman mereka batal dengan data sejarah, dan secara pengakuan para pakar mereka sendiri.

Setiap isi Injil kafir Kristen dari edisi apa saja, hampir semuanya buatan manusia dan tidak bisa dianggap sebagai wahyu. Mengapa begitu? Berikut alasananya:
  1. Karena penukilan kitab suci perjanjian lama (terutama kitab taurat) di lakukan 1000 tahun kemudian setelah kematian Nabi Musa As, sedangkan penulisan kitab Injil selisih satu abad dengan Nabi Isa As. (Yesus).
  2. Al Kitab telah direvisi berulang kali sesuai dengan perkembangan zaman. Terjamahan Al Kitab kedalam bahasa Inggris dilakukan oleh Tyndale tahun 1525, terjemahan kedua di tulis oleh Coverdale tahun 1535, terjemahan ketiga yang terkenal dengan sebutan Great Bimble Translation dilakukan tahun 1539, dan terjemahan keempat ditulis pada tahun 1540. Terjemahan kelima terkenal dengan sebutan "the gneva bible" yang dilakukan pada 1560. Terjemahan keenam terkenal dengan nama "bimshop bile" di tulis oleh Uskup parker.
  3. Ketika RajaJames Inggrisnaik tahta tahun 1603, dia meragukan kemurnian Al Kitab Uskupkarena ayata-yatnya penuh dengan kesalahan geografis, penyelewengan sejarah dan kesalahan-kesalahan fakta.Raja James menunjuk 4 sarjana untuk memperbaiki kesalahan yang terdapat pada Al Kitab Uskup. Mereka menerjemahkan Al Kitab dan menerbitkannya tahun 1611. Terjemahan itu dikenal dengan sebutan "Authorise Version of the holy bibble"
  4. Ternyata Authorised Version Of the holly Bible itu mengandung sekitar 20.000 kesalahan, namun Al Kitab suci yang otentik selama 259 tahun. Tahun 1870, sebuah komisi ditunjukan untuk memperbaiki kesalahan tadi. Tahun 1884 perbaikan tersebut selesaidan terkenal dengan nama ?revised version?.
  5. Tahun 1901 orang-orang Amerika telah menerbitkan Al Kitab menurut versi mereka sendiri. Tahun 1931 telah ditemukan naskah Al Kitab berbahasa Yunani kuno,namun isinya banyak kesalahan, maka Al Kitab ditulis ulang oleh sebuah panitia yang terdiri dari 32 sarjana. Mereka diperkenankan merubah isi Al Kitab jika disetejui oleh 2/3 dari seluruh anggota panitia. Hasil pekerjaan meeka telah diterima dan mendapat penghargaan dari nation council aof churches of chrit (Dewan Gereja Kristen Nasional) dan diterbitkan tahun 1952, serta dianggap sebagai terjemahan standar yang telah diperbaiki.
  6. Kristen Katolik dan Protestan masing-masing memiliki kitab yang berbeda.Kristen mempunyai Bibel yang terdiri dari 72 kitab. Sedangkan Kristen Protestan hanya 66 kitab. Kitab perjanjian lama edisi sekarang hanya ada 29 kitab padahal asalnya ada 56 kitab, 17 sisanya dihapus dan dihilangkan begitu saja.
  7. Kitab ulangan pasal 24 menceritakan kematian penulis kitab Taurat, kuburanya,pemakamannya serta umurnya 120 tahun. Kitab itu juga menceritakan orang-orang Yahudi berkabung karena kematian Nabi Musa As. Jelaslah ayat yang menceritakan peristiwa setelah kematian Nabi Musa As. bukanlah wahyu yang diturunkan pada Nabi Musa As. Dengan demikian jelas bahwa itu buatan manusia dan bukan wahyu Allah.
Sejarah telah mencatat, para pendeta Kristen maupun katolik banyak yang hijrah ke Islam serta mereka menemukan kitab suci abadi yang benar-benar wahyu Allah, dan tidak akan pernah terkotori tangan-tangan manusia yang jahat.

Kebobrokan serta palsunya kitab Injil kafir Kristen menunjukan rusaknya ajaran mereka, serta asas kebohongan yang dibangun atas nama Tuhan. Sungguh kaum kafir Kristen adalah kaum yang bodoh dan terlaknat karena mengubah serta berbohong atas nama Tuhan.

Maka tempat yang paling tepat bagi kaum kafir seperti mereka adalah neraka jahanam, karena mereka tidak lebih manusia yang mempertuhankan keinginan serta hawa nafsu, karena setan dan iblis telah bercokol di dalam ajaran yang mereka sebarkan.

[bbs/syahid/Protonema/voa-islam.com] - See more at: http://www.voa-islam.com/read/christology/2014/08/23/32395/membongkar-kepalsuan-injil-kristen-yang-penuh-rekayasa/#sthash.zkkZttfY.2YWMY5va.dpuf

Kementerian Pertahanan Inggris: Setengah Muslim Inggris yang Bergabung dengan ISIS Berasal dari Kalangan Militer

Kementerian Pertahanan Inggris mengungkapkan bahwa sebagian besar Muslim Inggris yang ikut bergabung dengan Organisasi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) berasal dari Angkatan Darat Inggris.

Dalam keterangan Kementerian Pertahanan Inggris kepada surat kabar USA Today menyatakan “dari sekitar 200 ribu tentara Inggris, ada sekitar 600 orang Muslim Inggris yang ikut bergabung didalamnya. Data statistik pemerintahan menunjukan bahwa jumlah Muslim Inggris yang ikut bergabung dengan ISIS mencapai lebih dari 800 orang.” Sementara itu Kantor Luar Negeri Inggris menyatakan sulit untuk secara akurat memperkirakan berapa jumlah mereka sebenarnya.

Perlu diketahui bahwa penjelasan ini muncul di tengah pengakuan Menteri Luar Negeri Inggris, Philip Hammond, yang menyatakan bahwa militan ISIS yang muncul dalam rekaman video eksekusi wartawan asal Amerika, James Foley, dengan aksen nada Inggris bisa jadi adalah warga negara Britania.

Sementara itu seorang Muslim anggota parlemen Inggris, Khaled Mahmud, menyataka dalam majalah Newsweek Amerika pekan ini “mungkin ada 1.500 ekstrimis Inggris telah direkrut untuk berperang di Irak dan Suriah selama tiga tahun terakhir.“ (Dostor/Ram)

20.8.14

Anggota Knesset Keturunan Arab Tantang Prajurit Israel Face to Face dengan Pejuang Palestina

Aksi berani dilakukan anggota Knesset Israel asal Palestina dengan menantang pejabat pemerintah dalam sebuah acara live talkshow di salah satu saluran televisi Israel.

Dalam acara tersebut, anggota Knesset Israel asal Palestina, Ahmad Tiybi, menantang seorang pejabat tinggi pemerintahan Benjamin Netanyahu, ”kalian semua membunuh anak-anak dan warga sipil di Jalur Gaza, kalau anda memang lelaki maka hadapilah faksi perlawanan Palestina face to face.”

Ungkapan itu dilontarkan Ahmad Tiybi untuk membalas perkataan pejabat tersebut yang menyebut “sebagian besar korban tewas agresi di Jalur Gaza adalah teroris.

Tidak terima dengan ungkapan tersebut, Ahmad Tiybi langsung menantangnya perang face to face dengan pejuang Palestina. (Rassd/Ram)

Berikut video tersebut:
http://www.youtube.com/watch?v=7Xs83Q3RP4M

"Ayo siapa berani... Siapa lagi... Ayo..!"

19.8.14

Komisaris Jenderal UNRWA: Angkat Blokade dan Seret Pejabat Israel ke Pengadilan Internasional!


Komisaris Jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Pierre Lanpol, menyerukan pengadilan internasional melakukan investigasi mendetail atas penyerangan Israel terhadap sekolah milik UNRWA di Jalur Gaza.

Dalam konferensi persnya di Jalur Gaza hari Minggu (17/08) kemarin, Lanpol mengatakan “Israel sengaja membom sekolah yang dipadati oleh pengungsi yang melarikan diri dari rumah mereka akibat agresi mereka di Gaza. Mereka tahu bahwa sekolah tersebut adalah rumah bagi ribuan warga sipil yang dilindungi oleh PBB.”

Lanpol menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi intensif dengan pemerintah Tel Aviv untuk menghindari pemboman terhadap sejumlah sekolah milik PBB yang dibom oleh pesawat tempur Israel.

Selain itu, Komisaris Jenderal UNRWA ini meminta masyarakat dunia untuk segera turun tangan menghentikan agresi militer Israel dan pencabutan blokade di Jalur Gaza.

Tercatat hingga Minggu (17) malam sebanyak 2016 orang tewas, termasuk 541 anak-anak, 250 wanita dan 95 lansia, dan 10.193 lainnya terluka akibat agresi militer Israel ke Jalur Gaza sejak 7 Juli lalu. (Aljazeera/Ram)

"Yang tahu.. yang tahu.. yang tahu..!"

18.8.14

Muslim itu Merdeka dan Bersujud Hanya untuk Allah

Diceritakan oleh Sayyid Quthb dalam bukunya Keadilan sosial Islam (Al Adalah Al ijtimaiyyah fi al Islam), cerita yang didengarnya dari Ahmad Syafik Pasya, ahli sejarah yang terkenal, yang hidup pada masa pemerintahan Ismail di Mesir. Peristiwa ini berkenaan dengan kunjungan Sultan Abdul Azis ke Mesir pada masa pemerintahan Ismail.

Ismail betul-betul menyambut gembira kunjungan ini karena itu termasuk dalam program untuknya mendapatkan gelar “Khadive”, berikut hak-hak istimewa lainnya dalam pemerintahan Mesir. Salah satu acara kunjungan itu adalah temu muka antara ulama Mesir dengan khalifah. Tradisi yang biasa berlangsung setiap orang yang memasuki ruang pertemuan nanti terlebih dahulu harus sujud ke tanah dan memberikan penghormatan ala Turki tiga kali, dan upacara-upacara lainnya yang sama sekali tidak terdapat dalam ajaran Islam. Untuk itulah jauh-jauh hari sebelumnya, kepada para ulama itu diberikan latihan upacara oleh para petugas istana agar tiba saatnya pertemuan itu mereka tidak akan melakukan kesalahan di depan Sultan Turki itu.

Tibalah saat yang dinanti-nantikan itu, dengan tertib para ulama yang mulia itu pun memasuki ruangan, mereka benar-benar mengikuti upacara itu dengan melupakan ajaran agamanya dan menukarnya dengan tatacara duniawi. Satu persatu mereka sujud di depan sesama makhluk, kemudian keluar dengan cara membelakangi pintu, sementar muka tetap menghadap Sultan- persis seperti yang diinstruksikan parap pengawal istana. Hanya satu orang saja yang tidak mau melakukan ketololan itu, yaitu Syekh Hasan al-Adawi. Ia tetap teguh pada ajaran agamanya, dengan mencampakkan kehormatan dunia. Ia tetap memegang prInsip bahwa yang mulia dan pantas untuk dihormati dan sujud kepada hanyalah Allah subhanahu wa Ta’ala.

Ia memasuki ruangan tetap dengan kepala tegak sebagai seorang yang merdeka menghadap sesamanya. Lalu menghadap Sultan dengan menyampaikan salam,”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya Amirul Mukminin”. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan petuah-petuah dan nasihat. Selesai acara tatap muka pun ia menyampaikan salam dan keluar dengan kepala tegak.

Melihat sikap ulama yang satu ini, gemetarlah semua calon Khadive dan pegawai istana, rasanya bumi yang mereka injak sudah terballik. Khalifah pasti murka, demikian anggapan mereka dan kalau betul itu terjadi niscaya lenyaplah sudah harapan memperoleh gelar Khadive yang sudah lama diidam-idamkan.

Akan tetapi, iman terhadap kebenaran tak mungkin sirna begitu saja, selalu ada kalbu yang siap melontarkannya dengan penuh keberanian dan merdeka, sebagaimana tertanamnya iman itu pun dengan kuat dan merdeka pula. Dengan apa yang terjadi kemudian..? Sultan Turki itu bukannya murka malahan berkata : “Kalian sama sekali tak memiliki ulama, selain yang satu ini!” setelah peristiwa itu, Ismail dipecat dari jabatannya dan digantikan orang lain.

***

Kisah berikut ini terjadi di Darul Ulum antara Khadive Taufik Pasya dan Syeikh Hasan Ath-Thawil. Adalah kebiasaan Prof. Hasan Ath-Thawil selalu mengenakan pakaian sederhana. Sekalipun ia guru besar pada perguruan tinggi tersebut. Pada hari wisuda sarjana, inspektur pendidikan mengumumkan bahwa khadive taufiq bermaksud mengunjungi perguruan tinggi yang diasuhnya. Maka dipersiapkanlah acara penyambutan dengan mempercantik madrasah tersebut dan yang termasuk ‘diperbaharui’ adalah penampilan Prof. Hasan ath-Thawil agar menggunakan busana yang lebih necis dan modis.

Untuk maksud tersebut dikirimkan kepadanya seperangkat jubah kebesaran lengkap dengan toganya, sehingga dengan demikian diharapkan penampilannya cukup layak untuk menyambut pembesar negerinya.

Tibalah pada hari yang ditentukan... ternyata sang prorofessor masih tetap dengan penampilannya sehari-hari sambil ditangannya terkepit sapu tangan besar pembungkus pakaian kebesaran itu.

Melihat penampila professor yang seperti tu merah padamlah wajah inspektur pendidikan, lau mendekatinya dan bertanya, ”Dimana anda simpan jubah dan toga itu, Professor?

“Ini dalam bungkusan” jawab Professor dengan tenang, lalu meninggalkan inspektur itu yang masih menduga barangkali pakaian itu akan dikenakannya menjelang datangnya Khadive nanti. Memikirkan sang Professor akan menggunakannya, agak tenanglah hatinya.

Menitpun berlalu, suara gegap gempita mulai terdengar pertanda iringan Khadive sudah mendekati kampus. Pada saat itu terlihatlah pemandangan yang sangat mengagetkan para dosen, khususnya sang inspektur. Ternyata Syeikh Hasan Ath-Thawil menyambut sang Khadive dengan menenteng bungkusan pakaina kebesaran itu.

Ketika berhadapan ia langsung berkata, ”Mereka mengatakan saya harus menyambut Tuan dengan jubah dan toga, itulah sebabnya saya sekarang membawa kedua benda itu. Bila Tuan bermaksud menemui jubah dan toga, maka inilah dia (sembari menyodorkan bungkusan yang sejak tadi dikempitnya). Akan tetapi, bila tuan ingin menemui Hasan Ath-Thawil, sayalah orangnya...

Mendengar alasan sang Professor itu, dengan amat wajar sang Khadive menjawab bahwa ia ingin menemui Hasan Ath-Thawil dan bukan jubah dan toga itu.

Inilah akhlak seorang mukmin, yang tak pernah merasa terhormat selain dengan keagungan islam. Jiwa dan hati nuraninya tetap bebas merdeka dari semua ikatan nilai-nilai lahiriah yang bersifat fana. Islam telah memberikan pemahaman mendalam terhadap hakikat kebenaran dan menanamkan perasaan tersebut di hati pemeluknya. Sehingga tidak lagi menganggap perlu pujian dan imbalan dari manusia. (Lr)

14.8.14

Akibat Kurikulum 2013 Banyak Anak Berhenti Sekolah Diniyah (Agama)

Akibat Kurikulum 2013 Banyak Anak Berhenti Sekolah Diniyah (Agama) yang Biasanya Dimulai Sejak Pukul 14.00 atau 14.00WIB 

SAYA yakin Bapak Dr Muhammad Nuh DEA (Mendiknas kita) tentu saja tak ingin membuat kurikulum yang menyulitkan siswa melaksanakan sholat dengan baik.

Entah siapa yang punya usul sehingga Kurikulum 2013 (K-13) menambah jam belajar anak SMA /MA menjadi sekitar 50 jam pelajaran per minggu, hal mana membuat mereka harus belajar hingga sore (jam 14.00, 14.30 atau jam 15.00 WIB).

Entah apakah Pak Nuh tahu bahwa sebagian besar bangunan sekolah di Negeri ini tidak dirancang untuk menampung anak sholat Dhuhur di sekolah.

Sebagian besar dirancang agar anak sholat di rumah sehingga di hari pertama penerapan K13 di sekolahnya seorang sahabat menulis bahwa K-13 telah sukses membuat ratusan anak tidak sholat dhuhur.

Entah apakah tim perancang K-13 ini sadar bahwa sebagian besar sekolah tak merancang sekolah full day school system, sehingga sekolah hanya menyediakan kantin ala kadarnya dan pasti tak cukup untuk tempat makan seluruh siswa.

Entah apakah orang pusat tahu bahwa di kampung saya, Madura Jawa Timur, banyak anak sekolah diniyah yang biasanya dimulai sejak jam 14.00 WIB atau 14.30 WIB, sehingga dengan menambah jam belajar hingga sore bisa dipastikan mereka akan berhenti sekolah diniyah dan mengutamakan sekolah umum.

Entahlah. kadang saya heran betapa banyak kebijakan yang tujuannya baik di lapangan menghasilkan output tak seperti yang dibayangkan. atau, jangan-jangan, memang implikasinya tak pernah prediksi.

Saya yakin keluhan saya ini tak akan dibaca pak Menteri, namun mungkin ada beberapa teman yang mungkin dekat dengan pak menteri bisa menyampaikan soal ini.

Semoga pendidikan Negeri ini semakin baik.*

Ahmad Halimy Pengasuh Ponpes Raudhatut Thalibin, Kolor Sumenep dan Guru di Madrasah Aliyah Negeri Sumenep, Madura Jawa Timur

DDII: Kehadiran ISIS bisa Mengkaburkan tujuan Khilafah

Hidayatullah.com—Kehadiran gerakan Daulah Islamiyah Iraq wa Syam (ISIS/ISIL) dinilah bisa mengaburkan tujuan sesungguhnya khilafah Islam.

Di sisi lain, kehadirannya bisa menjadi fitnah, apalagi munculnya pernyataan Menlu Amerika Serikat (AS) Hilary Clinton dan Snowden yang sempat mengatakan ISIS bentukan AS, demikian disampaikan Pengurus Biro Luar Negeri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Zubaedi.

Saya membuka setelah Snowden dan Hilary Clinton membukanya, ujar Zubaidi di dalam acara “Mengukur Bahaya ISIS di Indonesia” di DPP Partai Bulan Bintang, Sabtu (16/08/2014), di Jakarta.

Sebelum media massa Indonesia ramai memberitakan masalah ini, Zubaidi mengaku sudah melihat pernyataan ulama-ulama Ahlu Sunnah di Timur Tengah atas masalah ini. Salah satu ulama Ahli Sunnah itu ialah Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi.

Menurut Qaradhawi dikutip Zubaidi, pendirian ISIS adalah ilegal dan tidak sesuai dengan syariat Islam yang sesungguhnya.

Dalam kasus ISIS yang mengklaim telah mendirikan khilafah, banyak ulama-ulama yang berkompeten tidak diikutsertakan. Serta meninggalkan para mujahid yang sesungguhnya.

Pendirian khilafah aneh. Mujahidin di lapangan pun ditinggalkan,” ucapnya.

Sementara itu Direktur An-Nashr Institute Munarman,SH menilai isu ISIS yang gaungnya hanya ramai di Indonesia justru dimanfaatkan dan ditunggangi oleh kepentingan pihak-pihak tertentu.*

11.8.14

Fitnah ISIS: Antara Alihan Isu, Hororisasi Ide Khilafah Serta Blunder Politik Bagi Musuh Islam

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H. Advokat, Aktivis Hizbut Tahrir Kota Bekasi.

Pasca dideklarasikannya Khilafah oleh kelompok milisi bersenjata yang menamakan dirinya ISIS (The Islamic State of Iraq and Sham/ Daulah Islam Irak dan Syam) pada 29 Juni 2014 (bertepatan 01 Ramadhan 1435 H), berbagai kalangan aktivis dakwah dan pejuang Islam diberbagai belahan negeri mengalami dinamika yang luar biasa, terutama di dunia jejaring sosial. Atas pertanyaan berbagai pihak, amir hizb asy Syaikh Ato’ Bin Khalil Abu ar Rusytoh memberikan tanggapan khusus mengenai proklamasi Khilafah tersebut. (www: hizbut tahrir.or.id/2014/08/05/politik-proklamasi-tegaknya-al-khilafah-oleh-isis/)

Hizbut tahrir sendiri memandang bahwa Khilafah yang dideklarasikan ISIS adalah Khilafah yang tidak syar’i karena tidak memenuhi 4 (empat) syarat yang harus wujud pada sebuah Wilayah yang menegakan Daulah Khilafah, yaitu:
  • Pertama, kekuasaan wilayah tersebut bersifat independen, hanya bersandar kepada kaum Muslim, bukan kepada negara Kafir, atau di bawah cengkraman kaum Kafir.
  • Kedua, keamanan kaum Muslim di wilayah itu di tangan Islam, bukan keamanan Kufur, dimana perlindungan terhadap ancaman dari dalam maupun luar, merupakan perlindungan Islam bersumber dari kekuatan kaum Muslim sebagai kekuatan Islam murni.
  • Ketiga, memulai seketika dengan menerapkan Islam secara total, revolusioner dan menyeluruh, serta siap mengemban dakwah Islam.
  • Keempat, Khalifah yang dibai’at harus memenuhi syarat pengangkatan Khilafah (Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu), sekalipun belum memenuhi syarat keutamaan. Sebab, yang menjadi patokan adalah syarat in’iqad (pengangkatan).

ISIS: Penglihan Isu, Dalam dan Luar Negeri

Patut diketahui, isu ISIS sebelumnya isu biasa saja dan hanya ramai menjadi pembicaraan di kalangan terbatas dan media yang terbatas pula. ISIS berubah menjadi isu sentral yang di blow-up seluruh media Nasional, baik cetak dan elektronik hampir bersamaan dengan adanya berbagai isu politik yang melingkupinya. ISIS mendeklarasikan Khilafah setelah sebelumnya menamakan diri sebagai Daulah Islam di Irak dan Suriah pada tanggal pada 29 Juni 2014 (bertepatan 01 Ramadhan 1435 H). Namun media Nasional baru mulai ramai memberitakannya setelah setelah terjadi isu-isu besar yang sebelumnya menyita perhatian publik Indonesia, baik isu nasional maupun internasional. Isu sentral internasional di seantero jagat dunia setelah memasuki Ramadhan sampai Idul Fitri bahkan hingga saat ini adalah isu penyerangan Israel ke Gaza. Termasuk juga isu peperangan antara berbagai kelompok jihadi melawan Rezim Syiah Nushairiyah Bashar Asyad, juga isu nasib kaum muslimin di Irak dan Afganistan yang sedang dirundung malapetakan perang yang tidak berkesudahan.

Adapun isu di dalam negeri yang paling menonjol adalah kebijakan (baca: ketidakbijakan) kenaikan tarif dasar listrik per 1 Juli 2014, kebijakan pengendalian BBM (Baca: pengurangan BBM untuk Rakyat) dan tentu saja peluang terjadinya chaos pasca pengumuman putusan hakim oleh Mahkamah Konstitusi atas adanya Gugatan Capres Prabowo mengenai adanya kecurangan dalam pelaksanaan Pemilu Pilpres 2014.

Pemberitaan deklarasi Khilafah oleh ISIS dengan segala pernak-perniknya praktis menenggelamkan pemberitaan tentang serangan Israel ke Gaza, kebiadaban Rezim Bashar Asyad, penderitaan kaum muslimin di berbagai belahan Dunia termasuk di dalam negeri seperti isu kenaikan TDL, pengendalian BBM bersubsidi dan gonjang-ganjing sengketa Pemilu. Penenggelaman semua pemberitaan tersebut memberikan dampak pada konteks agitasi dan arus utama perhatian umat. Sebelumnya, isu Gaza menjadi isu yang menyatukan kaum muslimin, memperjelas watak barat yang ambigu, mengkonfirmasi hakekat penguasa-penguasa negeri islam sebagai penguasa antek (Mesir, Arab Saudi, Iran, Turki, Indonesia) yang tidak melakukan tindakan apapun yang berarti selain kecaman demi kecaman.

Adapun untuk konteks nasional, praktis isu ISIS mengalihkan perhatian umat terhadap aktivitas pendzaliman secara terstruktur dan masif yang dilakukan oleh penguasa yang secara sadar dan sengaja menambah beban hidup rakyatnya dengan kebijakan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), pengurangan konsumsi BBM untuk rakyat bahkan rencana melakukan penyesuaian harga BBM (baca: Kenaikan harga BBM).

Kubu Prabowo-hatta juga tidak ketinggalan ketiban getahnya, pemberitaan ISIS nyaris menenggelamkan pemberitaan proses hukum adanya dugaan pelanggaran pemilu yang sedang disidangkan di Mahkamah Konstitusi. Hal ini jelas akan menghambat maksimalisasi penguatan kohesi internal bagi pendukung Prabowo-Hatta sekaligus menghambat upaya agitasi kepada publik untuk ikut bersama berempati dan memberikan dukungan politik kepada kubu Prabowo-Hatta. Tentu saja hal yang demikian sangat menguntungkan bagi rival politik Prabowo-Hatta.

ISIS: Hororisasi Khilafah dan Para Pengembannya

Hanya saja yang patut untuk dijadikan perhatian utama dan serius bagi setiap pengemban dakwah adalah dampak dari pemberitaan ISIS yang berimplikasi pada upaya Kriminalisasi dan Monsterisasi ide-ide Islam (syariah dan Khilafah) serta simbol-simbol islam (bendera Tauhid, al Liwa dan Ar Roya). Narasi yang hendak dibentuk oleh “orang-orang dibalik isu ISIS” adalah upaya-upaya yang terstruktur dan masif untuk merusak islam dan umatnya dengan cara mengarahkan opini publik untuk menjauhkan umat islam dari ide-ide islam dan symbol-simbolnya. Upaya-upaya mengasosiasikan aktivitas berbagai gerakan islam yang berjuang menegakan Khilafah dengan ISIS nampak jelas, meskipun metodenya tidak sama dengan metode perjuangan ISIS.

Opini yang hendak dibentuk adalah bahwa ISIS adalah gerakan Teroris, setiap gerakan yang memiliki kesamaan tujuan perjuangan dengan ISIS juga gerakan Teroris. Dampak dari “Generalisasi Isu Teroris” tersebut mengajak umat untuk menjauhi setiap gerakan atau kelompok yang membawa ide-ide dan simbol-simbol yang menyerupai atau sama dengan ide-ide dan simbol-simbol yang diusung ISIS. Ini adalah pisau bermata dua untuk mengiris ISIS disatu sisi dan mencincang setiap gerakan atau kelompok yang memperjuangkan tegaknya Khilafah di sisi yang lain. Dalah bahasa yang lain, satu kali tepuk dua lalat mati, satu kali kayuh dua tiga pulau terlewati.

Dampak dari pemberitaan Fitnah ISIS ini lagi-lagi juga memakan korban. Belum lama ini di bekasi, ketua harian Jamaah Anshoru Tauhid (JAT) ditangkap di Bekasi oleh Densus88 (www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/08/10/32134/teroristainment-isis-ustadz-afif-abdul-majid-ditangkap-densus88-di-bekasi/). Tidak menutup kemungkinan diduga akan terjadi tindakan pengulangan berupa penyalahgunaan wewenang atau tindakan yang melampaui kewenangan dengan adanya pembunuhan diluar proses hukum (Ekstra Yudisial Killing) oleh Densus88 kepada terduga Teroris saat penangkapan atau penggerebekan sebagaimana kasus yang lainnya. Densus88 yang merupakan bagian dari Penyelidik dan Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia telah mengambil kewenangan Jaksa selaku penuntut umum yang memiliki kewenangan eksekutorial berdasarkan putusan hakim. BNPT sendiri dengan Narasi dan Opini publik yang dibentuk dengan dukungan penuh media-media sekuler disinyalir seolah telah beralih profesi menjadi Hakim yang memegang Palu Vonis Keadilan. Apa yang disampaikan BNPT ke Media seolah-olah menjadi putusan yang memiliki kekuatan eksekutorial sehingga dapat dijadikan dalil (Baca: Dalih) bagi Densus88 yang telah berubah fungsi dari Penyelidik dan Penyidik menjadi Jaksa Eksekusi untuk melakukan pembunuhan (baca: pembantaian) kepada para Terduga Teroris.

Target akhirnya adalah hendak menjauhkan aktivis pengemban dakwah dari islam dan umat. Umat selaku pemegang kekuasaan riil digiring opininya untuk menjauhi bahkan takut kepada pejuang penegak Khilafah. Umat juga diajak menjauhi dan membenci simbol-simbol islam, padahal simbol tersebut merupakan manifestasi akidah seorang muslim. Pada saat yang sama, perjuangan politik untuk menegakan Khilafah pengembannya juga berusaha untuk ditarik dan dicabut dari akar perjuangannya, yaitu syariah dan Khilafah. Hambatan, tantangan dan gangguan bahkan fitnah-fitnah keji terhadap syariah dan Khilafah -jika pengemban dakwah tidak istiqomah dan kokoh dalam mengemban amanah- akan tercerabut dan terlempar jauh dari islam, sementara “Jurang yang menganga dalam politik sekuler demokrasi” telah disediakan untuk kanalisasi yang akan menjadi lubang ancaman untuk mengubur semangat dan cita-cita perjuangan penegakan Khilafah.

Blunder Politik

Allah SWT telah menurunkan Agama ini Allah pula –dengan segala kekuasaannya- yang akan menjaganya. Makar dan tipu daya yang dibuat oleh orang-orang kafir dan munafik tidak akan merubah sedikitpun melainkan menambah keikhlasan dan keistiqomahan pejuang penegak Khilafah serta mengantarkannya pada pertolongan Allah dan kemenangan. Setelah isu ISIS digulirkan, khalayak banyak yang memperbincangkan Khilafah terlepas dengan berbagai dinamikanya, baik yang pro dan yang kontra. Opini umum tentang Khilafah semakin menguat, bahkan seluruh komponen umat termasuk ulama rujukan umat yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia bahu membahu turun tangan untuk membela syariah dan khilafah dari proses kriminalisasi dan monsterisasi.

Para pengemban dakwah syariah dan Khilafah semakin dekat dengan umat karena banyaknya umat yang menginginkan penjelasan yang menyeluruh atau setidakya penjelasan yang cukup seputar isu ISIS dan Khilafah. Berbagai diskusi dengan Metode Bil Hikmah wal Maidhoh Hasanah mampu memberikan pencerahan kepada umat untuk melakukan pemilahan antara ISIS disatu sisi dan Khilafah disisi yang lain. Jika ada seorang muslim yang mencuri yang salah adalah individunya, bukan islamnya. Termasuk terjadinya kesalahan, penyelewengan bahkan penyimpangan proses perjuangan penegakan Khilafah oleh ISIS tidak serta merta meruntuhkan ide Khilafah yang agung yang merupakan tujuan, harapan, cita-cita serta solusi bagi seluruh problematika yang dihadapi umat islam bahkan Khilafah akan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Tentu saja kondisi ini harus disambut oleh segenap komponen aktivis pejuang penegak syariah dan khilafah dengan cara meningkatkan amal dan melipat gandakan keikhlasan untuk semakin massif mendatangi pintu-pintu umat sampai umat benar-benar membukakan pintu atau aktivis pejuang penegak syariah dan khilafah harus membukanya dengan paksa, sampai tidak ada satupun rumah setiap muslim ketika dibuka melainkan didalamnya telah ada syariah dan Khilafah. Allahu Akbar! 


Silahkan baca...

6.8.14

ISIS, Intelijen dan Perang antar Jenderal

Pemerintah RI memanfaatkannya untuk kepentingan proyek War on Terrorism melalui BNPT dengan landasan filosofis yang sama sebagaimana yang dianut Barat!

Oleh: Abu Nisa  

SUNGGUH luar biasa opini tentang menyoroti DAIS (Daulah Islamiyah Iraq wa Syam) atau  ISIS/ISIL. Entah apa yang menyebabkan kasus ISIS ini memunculkan tanggapan statemen dari berbagai pihak.

Mulai dari SBY, Panglima TNI, Kapolri, Kemenko Polhukam, Kemenkum HAM, Kemenkominfo, Kemenag, BNPT,  Dirjen Pemasyarakatan, Deputi Bidang Kerjasama Internasional, tokoh masyarakat, akademisi, pengamat, dan lain-lain. Hingga SBY mengadakan sidang kabinet dengan agenda secara khusus menyikapi masifnya dukungan atas ISIS di Indonesia. Dan sidang kabinet itu menghasilkan keputusan politik yang disampaikan melalui Menko Polhukam bahwa ideologi ISIS dinyatakan dilarang.

Tidak bisa dipungkiri, opini tentang ISIS seolah mengalihkan sementara opini tentang kebiadaban Israel di Gaza Palestina dan laporan dugaan manipulasi data secara sistematis atas hasil Pilpres oleh kubu Prabowo-Hatta.

Opini ISIS yang tiba-tiba ditanggapi berbagai kalangan dalam kurun beberapa hari ini  setidaknya menyisakan pertanyaan besar;

Pertama, ada momentum besar yang memicu kriminalisasi terhadap mereka yang mendukung ISIS justru terjadi di dalam penjara.

Adalah Ustadz Abubakar Ba’asyir yang selamanya ini didorong sebagai ikon “teroris” di Indonesia melakukan baiat atas ISIS di penjara pasir putih Nusakambangan. Belakangan tiba-tiba semuanya merasa kebakaran jenggot. Statement Amir Syamsuddin sebagai Menkum HAM untuk memecat kepala penjara. Termasuk pengakuan Dirjen Kemasyarakatan bahwa telah terjadi pembaiatan Ustadz ABB konon di bawah tekanan di dalam penjara. Tentu ini sesuatu yang naif.

Pertanyaan besarnya, kenapa peristiwa pembaiatan itu tetap berlangsung dan berjalan lancar? Dan seolah-olah peristiwa itu menjadi momentum legitimasi untuk membenarkan keberadaan dukungan atas ISIS berjalan masif di negeri ini.

Termasuk juga peristiwa pembaiatan sejumlah aktivis islam dengan acara yang khas di sebuah hotel kawasan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta tempat yang lain seperti di Bima, Solo, Makassar. Serta beberapa rencana baiat di beberapa tempat yang lain di Malang dan Sidoarjo.

Semuanya menunjukkan bahwa terlalu lugu untuk mengatakan bahwa tidak mungkin intelijen Indonesia tidak mengetahui peristiwa ini.

Anehnya belakangan fenomena dukungan atas ISIS itu justru diblow-up dengan skala besar oleh berbagai media seperti layaknya infotainment.

Hari Rabu, 6 Agustus 2014 ini di Makassar, tepatnya di Studio Mini Harian Fajar, Graha Pena Fajar lantai 4, bahkan ada acara terkait masalah ini dengan menghadirkan pembicara antara lain: Ansyaad Mbai (Ketua BNPT), Prof Dr H Abd Rahim Yunus, MA, (MUI dan FKUB Sulsel), Prof. Dr H M Arifin Hamid, SH, MH (FKPT BNPT Sulsel), dan Ir Moh Kemal Shodiq (Ketua DPD Hizbut Tahrir Indonesia Sulsel) dengan moderator Drs. H. Waspada Santing, M.Sos.I, M.HI dengan tema: “Double Warning Antisipasi ISIS”, jam 13.00-15.00 WITA.

Padahal deklarasi dukungannya telah dilakukan sejak tanggal 29 Juni atau sebulan yang lalu.

Kedua, jika benar yang disampaikan oleh Snowden seorang mantan pegawai di National Inteligent AS yang menyatakan bahwa AS dan Inggris ada di belakang ISIS, maka hal ini membuktikan bahwa target opini internasional terhadap kemunculan ISIS adalah untuk menciptakan black-campaign terhadap para mujahidin sekaligus terhadap syariat dan khilafah yang diperjuangkannya.

Dengan kata lain, inilah strategi radikalisasi terhadap kelompok Islam sekaligus deradikalisasi. Setelah diradikalisasi maka kemudian distigmatisasi. Sedangkan deradikalisasinya dalam bentuk upaya adu domba dan islamophobia yang berujung pada krisis keyakinan kaum Muslimin terhadap ajarannya sendiri terutama tentang jihad.

Dalam konteks Indonesia, maka pemerintah RI memanfaatkannya untuk kepentingan proyek war on terrorism melalui BNPT dengan landasan filosofis yang sama sebagaimana yang dianut Barat.

Lebih aneh lagi, mengapa kasus ini di blow-up saat penetapan presiden wakil presiden beserta kabinet yang disusun pasca keputusan gugatan hasil Pilpres ke MK oleh kubu Prabowo-Hatta? Ada apa gerangan?

Ketiga, atribut-atribut ISIS tidak luput dianggap sebagai barang bukti kasus terorisme.

Padahal, atribut bendera dengan kalimat “Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasullullah” adalah atribut milik semua kaum Muslim, yang siapa saja berhak menggunakan dan mengklaim, tak hanya ISIS yang hanya segelintir.

Sejak blow-up mendadak ISIS, rupanya ada rencana untuk membreidel sekaligus melarang keberadaan bendera  berkalimat “Laa Ilaha Illallah” seolah itu  sebagai representasi ISIS.

Momentum ini bisa ditengarai sebagai titik tolak “kriminalisasi” terhadap simbol-simbol perjuangan pada kelompok-kelompok Islam secara keseluruhan.

Keempat, setelah gagal menjerat kelompok-kelompok Islam yang dianggap radikal terutama yang memilih menggunakan jalan jihad melalui pintu legislasi secara langsung misalnya UU Ormas, rupanya dukungan atas ISIS adalah momentum untuk menjerat, membubarkan, mengkriminalisasi sekaligus mem “black campaign” nya.

Kelima, momentum dukungan atas ISIS menjadi peristiwa yang memperkuat legal aspect untuk apa yang dianggap sebagai tindak terorisme.

Implementasi UU Kewarganegaraan No 12 tahun 2006 dan wacana amandemen/revisi terhadap UU Terorisme yang disampaikan oleh Deputi Kerjasama Internasional Harry Purwanto tidak saja mengandung substansi penindakan hukum atas aksi teror fisik namun juga pada aksi teror lisan.

Dengan dalih agar mencakup secara menyeluruh mengenai aktivitas terorisme. Diantaranya tindakan menyebar kebencian (hate speech) termasuk mengikuti pelatihan militer di Indonesia  maupun luar negeri. Atau menjadikan digital evidence sebagai barang bukti, karena selama ini dianggap baru menjadi petunjuk untuk pembuktian. Nampaknya UU Terorisme No 15/1973 dikehendaki bukan saja mampu menjerat tindakan teror fisik namun juga mampu menindak apa yang dianggap sebagai bentuk teror lisan. Kita membayangkan betapa banyak klaim penindakan hukum atas syiar Islam karena termasuk dalam kategori menyebar kebencian (hate speech) jika amandemen UU Terorisme ini berhasil dilakukan. Bahkan bisa juga dijerat dengan UU Intelijen dan UU Darurat berkaitan dengan ancaman terhadap keamanan nasional.

Keenam, momentum ISIS mengaburkan Perang antar Jenderal

Beberapa pertanyaan besar seputar fenomena opini masif dukungan atas ISIS menyiratkan sebuah ganjalan pertanyaan lebih besar lagi ada apa sebenarnya di balik fenomena opini dukungan atas ISIS?

Di tengah mulai tergambarnya adanya indikasi rekayasa permainan manipulasi suara Pilpres secara sistemik, tak bisa ditutup di balik ini antara “peperangan konflik kepentingan” antar jendral dan antar elit dengan melibatkan tim rekayasa politik –bahkan tim cyber—dalam pelaksanaan Pilpres yang dituding penuh kecurangan.

Tak bisa ditutupi, sesungguhnya perang kepentingan Pilpres tahun 2014 adalah “perang intelijen” dan “perang antar jenderal” ambisius yang ingin berpolitik. Tak perlu disebut satu-persatu mereka. Tinggal baca kliping koran, akan nampak siapa lawan siapa, antara Timses Capres Jokowi dan Prabowo. Ujungnya adalah para “jenderal-jenderal ambisius”.

Sesungguhnya ISIS sendiri tak mungkin begitu berpengaruh besar bagi umat Islam di Indonesia. Mengingat mayoritas ormas-ormas Islam di Indonesia memiliki akar kuat yang tak mudah goyah. Hanya saja, mencari sasaran korban pada ISIS adalah cara mudah mengkaburkan pandangan masyarakat, atas keterlibatan dan intrik-intrik politik yang semrawut di Indonesia.

Akhirnya fenomena opini ISIS yang ujungnya bisa dibaca pada “kriminalisasi” segala hal berbau syariah, tak bisa serta-merta dibaca benar-benar murni sebagai peristiwa alamiah semata.  Terlalu sederhana jika kasus ini dilepas begitu saja dari peran intelijen  yang dalam banyak kasus dalam sejarah di negeri ini kaya dengan intrik politik dan rekayasa dalam usaha-usaha melemahkan gerakan Islam. Wallahu a’lam bis showab.*

Pemerhati kontra intelijen


Silahkan baca...