4.3.14

Pantun Malaysia di Panggung Nusantara

Islamic Book Fair 2014
RIBUAN orang berjubel di kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Dari atas tribun, mereka menyaksikan sebuah penampilan di arena segi empat Istana Olahraga (Istora). Sorak-sorai memenuhi segenap penjuru gedung. Yang tampil adalah duta dari negeri jiran.

Siang jelang petang itu, seorang pria Malaysia berdiri gagah di depan 5000-an pasang mata. Di tangan kanannya tergenggam erat tongkat kecil. Di tangan kirinya, menyembul secarik kertas putih.

Reaksi yang pertama bagi saya ialah melafazkan syukur Alhamdulillah. Kesyukuran yang tidak ada tandingnya,” ujar pria tersebut yang tak lain adalah YBhg Tan Sri DR Rais Yatim, Penasihat Perdana Menteri Malaysia.

Rais Yatim bertandang ke Indonesia upaya menghadiri pembukaan 13th Islamic Book Fair (IBF) 2014/1435 di Istora Senayan pada Jumat, 28 Rabiul Akhir (28/2/2014) lalu. Dia berduet dengan istrinya, Tan Sri Makna, yang sama-sama ber-”kostum” kuning keemasan.

Dalam sambutannya di atas panggung utama IBF 2014, Rais Yatim menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas IBF. Dia memuji pameran buku Islam ini sebagai pencapaian yang harus digaungkan ke dunia.

Untuk itu kita katakan ‘Alhamdulillah’ kepada umat yang ada di Indonesia dan Nusantara,” ujarnya disambut sorakan apresiasi oleh ribuan hadirin pengunjung IBF.

Dengan alat pengeras suara, Rais Yatim lantas membawakan dua pantun dalam sambutannya. Lewat pantun pertamanya, dia menanyakan kabar rakyat Indonesia.

Di depan tikar sebelah sana, disimpan tilam sebelah-sebelah. Apa kabar saudara-saudari semua? Semoga dalam peliharaan Allah,” lantunnya dengan logat Melayu yang diaminkan para hadirin.

Pada kesempatan itu, Rais Yatim menyampaikan pesan-pesan persatuan Indonesia-Malaysia. Katanya, buku merupakan perantara dan penyambung lidah perjuangan antar-kedua negara serumpun itu.

Dan perjuangan yang saya maksudkan ialah perjuangan seagama. Satu perjuangan yang paling tinggi, yang martabatnya tidak dapat disaingi perjuangan-perjuangan yang lain,” jelasnya di depan awak Hidayatullah.com, para wartawan, dan puluhan tokoh agama dan negara.

Dengan buku, menurutnya, dapat menyingkirkan perbedaan-perbedaan yang ada. Juga dapat menanamkan kebajikan dalam sanubari setiap insan.

Rais Yatim juga mengucapkan tahniah, selamat kepada panitia IBF dan para pemimpin Indonesia. Atas nama dirinya, istrinya, dan wakil dari kedutaan Malaysia, Rais mengaku berutang budi akan undangan pada acara tersebut.

Untuk itu sekiranya nanti dilakukan pula Book Fair atau pesta buku di Kuala Lumpur, sekalian yang hadir, ayolah kita sebrangi Selat Malaka, bersama kita di Kuala Lumpur pula,” ujar Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia ini disambut apresiasi hadirin.

Rais Yatim pun mengaku sangat terkesiap dengan pelantunan ayat al-Qur’an surat al-Alaq ayat 1-5 di awal acara tersebut.

Di majelis yang sangat permai ini, setinggi-tinggi tahniah gerangan mengingatkan kita kepada ayat ‘Iqra’ bismirobbikalladzi kholaq’ tadi. Sayu hati kami, sayu hati kita mendengarkan,” ujarnya.

Duet Batik di IBF 2014
Di akhir sambutannya, Rais Yatim mengungkapkan utang budinya kepada Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia HM Jusuf Kalla (JK) serta para hadirin.

Kerana mengizinkan buku kecil pantun saya mendapat tempat sedikit dalam satu majelis yang begini permai dan hebat. Buku (berjudul) Pantun & Bahasa Indah, Jendela Budaya Melayu itu membawa kita ke Bukit Siguntang. Membawa kita kepada drama Korea,” ujarnya dengan bahasa puitis.

Dan dengan itu, apa-apa kata yang tertulis di dalamnya, saya pohon maaf kalau tidak menepati cita rasa kita. Ada serangkap yang seharusnya saya katakan pada petang ini,” lanjutnya.

Serangkap yang dimaksud adalah pantun lainnya yang saat itu akan dia bawakan kembali. Melalui pantun keduanya, dia meminta maaf jika ada kesalahan selama berada di Indonesia.

Kalau berdentum di Gunung Daik, itulah tanda orang memurun, berhukumlah kita anak beranak. Kalau tersinggung semakin naik, atau tersentuh semakin turun, berilah ampun banyak-banyak,” lantunnya menutup sambutannya.

Jelang akhir pembukaan IBF 2014, giliran JK menyampaikan sambutan. Usai sambutan itu, Rais kembali naik ke panggung membawakan pantunnya ditemani JK. “Sebagai isyarat cantuman persahabatan,” demikian alasan Rais akan tujuannya berpantun.

Terang bulan kapal berlayar, kilatnya sampai ke tanjung. Berjuang tak minta dibayar, berkhidmat tak minta disanjung,” lantun Rais, lalu meminta JK membacakan pantun lain dalam bukunya.

JK memulai baris pertama. “Pokok rancak di ujung dahan,” lantunya dengan logat asli Makassar.

Belum tuntas membacanya, tahu-tahu mantan Wakil Presiden RI ini nyeletuk, “Kalau bahasa Indonesianya ‘pohon’, bukan ‘pokok’ ya."

Kontan saja para hadirin termasuk Rais Yatim tertawa mendengarnya. JK lanjut membacakan pantun.

Hilang terbang ke pengkalan. Tepat di ujung jalan, pulanglah ke pangkal jalan…

Usai berpantun ria, JK dan Rais Yatim berjabat tangan. Kedua sahabat lama ini tampak akrab di depan sorotan “supporter” Indonesia-Malaysia.

Sekilas, senyuman keduanya ada kesamaan. Selain sama-sama berkacamata, dan sama-sama berkemeja. JK dengan kemeja khas Indonesia, Rais dengan kemeja khas Malaysia. Kedua kemeja itu sama-sama bermotif batik.*

No comments:

Post a Comment